Monday, March 31, 2014

Argeza ~9

Title      :               Argeza
Genre  :               fantasy,action,comedy,life, nano-nano dah pokoknya XDDD
Cast      :              utamanya Gajet yang lain numfang hehehehe..
Eps        :               9 *cieeee sok anime

---------------------------------------------------------------------------------------------//



。゚.(*♡ New Friend  *) °



Tidak seindah pagi biasanya, di pagi ini semua siswa sibuk berhamburan keluar kelas dengan karpet terbangnya dengan rasa penasaran,panik dan cemas. Tidak ada satu pun siswa yang tidak membicarakan sesuatu yang telah terjadi di pagi ini. Mereka terlihat saling berkumpul, berbisik dan memberitahu satu sama lain tentang kejadian di pagi hari ini. Terkecuali Reita, ketua siswa yang satu ini datang ke sekolah dan memarkirkan sapu terbangnya seraya merasakan keganjalan yang tidak biasanya ia rasakan. Usai parkir, dia langsung memunculkan karpet terbangnya dan menaikinya menuju kelasnya.

Reita melihat semua siswa berhamburan di luar dengan bingung. Reita melihat arloji yang ia kenakan sudah menunjukkan jam untuk pelajaran sihir. Tapi, ini kenapa? Ada apa?

“Rei!”

Seseorang memanggilnya dari belakang.

“kenapa kau di sini? Bagaimana dengan Ruki??” tanya Kai dengan khawatir menghampiri Reita dengan karpet terbangnya.

“Ruki? Ada apa dengannya?” bingung Reita dengan penjelasan Kai tadi.

“kau tidak tahu?? Ruki menghadap Kamijo-sama dan kabarnya dia akan mengundurkan diri dari sekolah ini gara-gara kejadian kemarin!” seru Kai dengan setengah panik. Mata Reita yang memang sipit terpaksa membuka lebar(?) karena dia kaget dengan perkataan Kai tadi. Tidak banyak memandang Kai, Reita langsung pergi menuju ruangan Kamijo-sama dan memastikan apa yang Kai katakan itu tidak benar hanya isu semata.

Di depan ruang Kamijo-sama, seluruh siswa nampaknya sedang antusias menunggu sesuatu. Walaupun Reita bersikukuh dalam hatinya tidak ingin ini terjadi, tapi tetap saja kekuatannya membaca pikiran itu sangat kuat. Dia melihat para siswa itu sedang saling membicarakan dan berkumpul seperti menunggu suatu keputusan. Reita menelan ludahnya dengan sangat takut kalau benar Ruki akan mengundurkan diri dari sini.

Dalam ruangan Kamijo-sama, Ruki berdiri berjarak 25 langkah(?) dari meja kerjanya Kamijo-sama. Dengan jantung  yang berpacu cepat, keringat dingin, tangan mengepalkan dan buliran airmata yang masih menggantung mencirikan Ruki sedang menghadapi hal sulit. Kamijo-sama yang diam duduk di meja kerjanya, memandang Ruki dengan kasihan.

“bagaimana kalau aku menolaknya?” kata Kamijo-sama dengan kalem. Ruki menatap tidak percaya pada kepseknya yang satu ini. Dan genggaman kepalan tangannya pun semakin.

“aku tidak pantas sekolah di sini! Aku hanya bisa membuat keributan dan keonaran!” Ruki tertunduk, menjatuhkan buliran airmatanya seraya memejamkan mata yang mengerut itu.

“aku tidak bisa menjadi siswa yang baik yang bisa kau harapkan..” ucap Ruki menambahkan. Derasnya tangisan itu menjadi pilu bagi Kamijo-sama. Kamijo-sama pun dengan perlahan mendekati Ruki yang terdengar isak tangisnya seperti di tahan.

“Ruki..” Kamijo-sama memegang kedua pundak Ruki yang mbul *plak*. Ruki mendongak dengan wajah yang sembab akibat menangis.

“seorang manusia yang melakukan kesalahan seharusnya bukan mundur, tetapi mencoba untuk memperbaiki kesalahannya dan menggantikannya dengan hal yang baik..namun kesalahan kemarin itu bukan kesalahan murnimu..sekarang apa kau berpikir, mereka teman-temanmu habis-habisan membelamu karena Karasu karena kesalahanmu? Tidak, kan? Mana ada kesalahan di bela..” ucap Kamijo-sama menasehati Ruki dengan lengkungan bibir yang manis. Ruki tertegun mendengar itu.

“aku tidak pernah mengijinkanmu untuk drop out dari sekolah ini..kau adalah tanggung jawabku sampai nanti lulus..kalau kau drop out, artinya aku gagal mendidikmu dan aku yang tidak pantas menjadi kepala sekolah di Mahou..” ucap Kamijo-sama kalem.

“dan hanya kau sedang aku lindungi sampai semuanya berkata benar kalau kau-“ Kamijo menghentikan pembicaraannya dan memilih untuk diam.

“kalau apa?” Ruki bingung.

“lupakan..” Kamijo berdalih. Dia takut sesuatu yang ia rahasiakan dari sekarang malah terbongkar dengan konyolnya.

“maafkan aku...” Ruki kembali menangis dan Kamijo-sama memeluknya seperti anaknya sendiri.

“kau ini cengeng ya, dan perasa sekali orangnya..” pikir Kamijo sambil mengelus rambut halus Ruki yang sedang tenggelam menangis dalam pelukan Kamijo-sama.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Ruang Kamijo-sama terbuka saat Ruki akan pergi dari situ. Sebagian siswa terdiam yang sedang menunggui Ruki keluar dari situ. Mata Ruki dan para siswa itu saling berpandangan. Ruki tidak mengerti kenapa mereka bisa berkumpul di sini seakan khawatir dengan keadaannya. Ruki menutup mulutnya rapat-rapat dan lebih memandangi mereka.

“Rukiii!!!” seru teman-temannya cemas. Kamijo-sama yang ada di belakangnya tersenyum melihat teman-temannya begitu panik dan cemas dengan keadaan Ruki saat ini. Kamijo tahu, kalau teman-temannya ini sangat menyayangi Ruki dan tidak akan melepaskan Ruki begitu saja dari sekolah ini.

“aku sudah bilang,kan? Mereka membelamu bukan karena kesalahan..” ucap Kamijo-sama. Dan Reita saat itu ada paling di depan dengan wajah setengah cemas melihat Ruki.

“percayalah kau tidak bersalah apa-apa atas kemarin! Jangan drop out dari sini Ruki!” Reita benar-benar kehilangan kalau seandainya Ruki jadi drop out.

“Ruki!” Uruha datang berlarian dengan ngos-ngosan bersama Aoi dari belakang. dan semuanya melihat ke arah pasangan(?) ini.

“gosip kau akan drop out dari sini bohong,kan?” kata Uruha yang sekarang ikut mengkhawatirkan Ruki.

“ayo lah jangan buat sensasi terus!” tambah Aoi yang sama cemasnya.

“dalam keadaan sulit, semua temanmu di sini akan membantumu. Percayalah..” Reita meyakini Ruki. Kai yang datang dari lorong sebelah langsung terhenti melihat semua berkumpul dalam keadaan begini.

“minna~” bisik Kai yang terharu dengan keadaan ini.

“kau pikir menangani Karasu itu mudah? Kemarin aku hampir mati tau! Tapi karena itu bukan kesalahanmu aku berjuang untuk mengembalikan Karasu kesayanganmu! percuma aku berjuang kemarin mati-matian kalau kau drop out hari ini! Aku merasa tidak di hargai!” seru Uruha.

“maka dari itu kau jangan drop out Ruki..” kata Aoi dengan memohon.

Ruki merasa tidak enak dengan perkataannya Uruha. Benar, Uruha yang dingin dan egois itu membantunya yang tidak salah. Tapi kenapa Ruki bisa-bisanya berpikir untuk drop out dari sekolah ini?

“aku merasa bersalah karena sebagian siswa mengalami luka-luka gara-gara Karasu. Aku juga bingung kenapa aku tidak bisa menguasai kekuatan standar yang menggabungkan api dan angin. Aku Cuma merasa tidak pantas sekolah di sini..” kata Ruki dengan sedih.

“jadi kau pikir yang masuk Mahou Gakuen itu orang-orang yang memiliki sihir sempurna sejak pertama kali masuk dan duduk di bangku kelas level 1, iya?” Uruha setengah emosi mendengar perkataan Ruki yang selalu menyudutkan dirinya sendiri.

“Uru!” Aoi menyenggol lengan Uruha agar Uruha tidak emosian

“dengar, aku juga punya proses untuk bisa memiliki sihir sampai naik kelas level 3 sekarang..meski aku di tipu karena pertemanan dan di khianati, aku masih bisa berjuang kok sampai detik ini..masa iya kau tidak bisa berjuang seperti aku? Dan membuktikan kalau kau sangat bisa di antara siswa yang lainnya..” jelas Uruha. Mendengar itu Kai tercengang seakan dia merasa tersindir dengan perkataannya dan lebih baik diam.

“kau tidak akan drop out kan?” Reita bertanya untuk yang terakhir kalinya.

“tidak..” Ruki mengatakan itu dengan lesuh dan pelan. Semuanya hening mengatakan itu. lama setelah itu Ruki terdiam seakan dia sedang berpikir memilih satu keputusan antara dia kembali pada teman-temannya yang selalu percaya, atau mundur karena dirinya tidak percaya diri.

“aku tidak akan drop out sampai aku menunjukkan sihirku paling hebat di antara kalian!” seru Ruki seraya menunduk. Dan semuanya bersorak bahagia karena Ruki mengambil keputusan yang benar. Uruha hanya menghela nafas, sementara Aoi tersenyum dan menggesturkan jempolnya seraya bilang oke XDDDv. Kai hanya bisa berbalik badan dengan bibir datar tanpa senyum apapun. Seakan dia menahan sakit hati atas perkataan Uruha tadi. Kemudian dia pergi meninggalkan euforia kembalinya Ruki ke sekolah ini.

“apa kau lupa dengan kata-katamu kemarin?” kata Uruha membuatnya semua mendadak hening lagi.

“apa?” Ruki tidak ingat.

“kita bisa berteman yang benar-benar berteman, kan?” ucap Uruha dengan nada datar. Mendengar itu semua siswa saling berbisik karena Uruha jarang-jarang mengatakan itu.

“sial, Ruki peletnya mantep juga..ngga Aoi ngga Uruha takluk di depannya..” Shou geleng-geleng bingung dengan keadaan sekarang.

“Ho’oh..” Shin menambahkan itu sambil geleng-geleng juga.

“tapi tidak mudah berteman denganku..” kata Ruki dengan senyum dan membuat Uruha bingung.

“bertemanlah denganku tanpa keangkuhan dan selalu senyum, itu akan terlihat manis sepertinya..” ucap Ruki. Uruha terdiam mendengar itu. dan Ruki maju ke hadapan Uruha dan meskipun harus mendongak sedikit ke atas karena Uruha lebih tinggi darinya *plak* dan memandang Uruha dengan yakin.

“senyumlah dan high five denganku..” kata Ruki. Perlahan, bibir Uruha yang tidak pernah melengkungkan senyum ini, pertama kalinya di publik melengkung senyum walaupun terlihat samar-samar dan tidak full(?). dan kemudian dengan kompaknya mereka berdua high five  dan membuat sorakan itu kembali riuh dan membuat Kamijo menghela nafas lega karena usahanya sekarang tidak sia-sia..

aku yakin kalian semua akan bersatu, tujuanku dari awal akan segera terlihat hasilnya..tidak ada yang tahu tentang hal ini semenjak Ruki masuk sekolah dan bertemu dengan ke empat ketua level ini..”

 Ucap Kamijo-sama dalam hatinya.

Ruki pun kembali di bully dengan di acak-acak rambutnya atau sekedar pukulan kecil mengenai perut gendutnya *plak*. Ruki bahagia teman-temannya bisa percaya padanya dan membelanya.

Teman itu sangat berharga sekali, dan Ruki sekarang menyadari pentingnya mereka dalam kehidupannya di sekolah ini~

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Juri, kepala presiden benua Argeza ini sedang berada di ruang operator yang isinya penuh dengan layar LCD untuk memantau keadaan Argeza. Juri nampaknya tegang dengan pantauan keadaan Argeza yang terlihat dari setiap layar LCD itu. Juri mendekati layar LCD itu dengan perlahan dan matanya tetap fokus pada satu arah. Layar itu hampir sama seperti di Des Fleur. Menunjukkan sebagian besar isi Argeza seperti daratan dan lautan. Juri melihat beberapa titik yang sepertinya terhalang sesuatu seperti kabut dan Juri segera menelpon ke bagian pemantau.

juri? Baru saja aku ingin menelponmu balik, sepertinya beberapa mahluk sudah memasuki wilayah Argeza. Retakan kristalnya semakin melebar dan ini membahayakan seluruh warga Argeza saat in..” kata seorang pemantau di telpon itu.

“hah? Jadi kabut itu-“

benar, itu semacam mahluk DIS yang berbentuk seperti bintang laut berwarna putih, mereka dapat terbang melayang dan ukurannya sebesar bola kelereng. Mereka tidak bisa di tangkap sembarang kecuali di tabur dengan sebuah serbuk bunga kematian yang sangat langka. Mahluk yang satu ini menyerang manusia dengan cara masuk ke dalam tubuh manusia lewat sisi pada leher kiri manusia dan dapat menembus langsung masuk. Korban tidak akan mengalami rasa nyeri apapun. Namun terlihat pucat dan dua jam kemudian akan pingsan mendadak dengan mimisan dan sulit bernafas. Jika tidak tertolong, nyawanya akan melayang..

Cukup jelas dengan yang di ucapkan sang pemantau dan ini membuat Juri perlahan menutup telponnya. Dan dia mengambil gagang telpon yang lain dan menghubungkannya ke pusat.

Saat itu Kamijo sedang berada di ruang perpustakaan sihir yang menyimpan berbagai macam buku sihir. Dengan memakai anak tangga, Kamijo menelusuri rak buku atas mencari buku yang ia inginkan. Namun, arloji yang umumnya di gunakan untuk menunjukkan jam, di sekolah ini bermanfaat sebagai ponsel. Arloji kamijo berdentang seperti lonceng gereja dengan pelan dan bersinar. Kemudian Kamijo menekan tombol kecil di tengah arloji itu dan mendekatkannya ke mulutnya.

“moshi-moshi?” kata Kamijo dengan lembut.

ah Kamijo, Argeza dalam darurat. Sore ini rapat global seluruh menteri, staff Velvera, petinggi sihir dan  para petinggi pemerintah. Aku menunggumu di gedung [XI].jya..

Itu adalah telpon dari Gakuto yang sepertinya sedang mengatasi kepanikannya dengan tenang untuk menghubungi Kamijo. Nyatanya tidak, Kamijo bisa mendeteksi itu dari suaranya yang bergetar dan suara yang berbeda dari biasanya. Kamijo menekan tombol tengah itu kemudian sinar itu meredup dan Kamijo langsung turun tangga dan meninggalkan perpustakaan sihir itu. saat Kamijo keluar pun, pintu perpustakaan menutup dan mengunci dengan sendirinya dan langkah Kamijo agak cepat menuju ruangannya kembali.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Ruangan aula di sulap menjadi pesta makan besar dan semua siswa sedang menikmatinya dengan suka cita sambil bercanda. Meja bertata dengan rapi dan banyak menyediakan makanan yang tinggal di pilih sesuai selera. Sementara itu, Reita tidak biasanya tidak nafsu makan. Padahal kit-kat sudah ada di depannya di sebuah meja yang menampung ratusan berbagai macam coklat. Reita sebenarnya gelisah dan dia menutupi itu dengan meminum soda seteguk demi seteguk. Kekuatan Reita bekerja kembali, dia membaca situasi sedang buruk. Tapi Reita tidak menunjukkan itu supaya seluruh siswa dapat menikmati pesta makan ini yang di adakan sebulan sekali.

“Rei, coklatnya enak lho!” Ruki memakan coklat sampai belepotan ke bibirnya. Reita hanya membalasnya dengan senyum datar dan membiarkan Ruki makan coklat sampai lumer ke seluruh jemarinya dan mengecap manis seperti anak kecil. Pandangannya Reita pun tak sengaja mengarah ke pintu belakang aula ini. Kamijo membukanya dengan wajah panik dan seperti sedang mengamati keadaan di dalam ruangan aula ini. Dan beberapa saat kemudian Kamijo menutup kembali pintu itu dan membuat Reita menaruh gelas bersodanya di atas meja dekat Ruki dan setengah berlari menuju pintu belakang aula itu.

“kenapa dia?” bingung Aoi yang melihatnya.

Reita membuka pintu itu dan menengok ke kanan tidak ada orang. Tapi ketika dengan cepat menoleh ke kiri dia mendapati Kamijo sedang berjalan cepat yang belum jauh dari jaraknya Reita

“Kamijo-sama!” seru Reita menghentikan langkahnya Kamijo dan menengok ke belakang melihat Reita sedang menghampirinya.

“ada apa? Aku merasakan sesuatu buruk akan terjadi..” kira Reita. Kamijo memandang Reita dengan tidak tahu harus berkata apa kalau semua siswa tahu kalau keadaan Argeza sudah gawat. Kamijo memegang kedua pundak Reita dengan mantap,

“retakan Argeza semakin meluas, mahluk DIS sudah menembus pertahanan. Sore ini semua rapat global..kau atur Mahou Gakuen dengan baik. Aku menyerahkannya padamu..” ucap Kamijo seakan mempercayai Reita untuk mewakili kepemimpinannya Kamijo. Reita sontak kaget mendengar itu. dan mereka tidak sadar, kalau ada Uruha yang sedang menguntit mereka dengan cara berdiri di dinding dekat mereka seraya melipatkan tangannya. Dan tangannya memegang kipas dan menutupi setengah wajahnya yang bertatap dingin. Uruha mendengar semua percakapan itu.

“apa..baiklah, serahkan padaku..” Reita mau tak mau harus mengatur ratusan siswa yang mungkin akan kaget mendengar berita ini. Uruha langsung menutup kipas itu dan berjalan ke lorong kiri dengan langkah tenang dan wajahnya yang dingin.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Juri membuka aula [XI] dengan perlahan. Ruangan ini lima kali lipat luas dari aula ruangan Mahou Gakuen yang luasnya itu dua kali lapangan olahraga. Aula [XI] dapat menampung dua ribu orang di dalamnya. Dan ruangan ini terdiri dua meja memanjang di sebelah kanan dan kiri. Langit-langitnya di gantungi lampu kristal yang megah dan tiang-tiang besar dan kokoh. Juri yang mengenakan jas hitam, menghela nafas melihat ruangan ini kosong. Juri tahu, ruangan ni di gunakan rapat pada saat yang genting. Ia menjadi sedih karena sebenarnya dia tidak ingin menggunakan ruangan ini karena menurutnya mengancam keselamatan Argeza. Kemudian, asistennya Leda membawakan beberapa map besar dan menyerahkan pada Juri. Keduanya masuk ke dalam dan menuju sebuah podium yang cukup untuk dua orang. Leda berdiri di samping Juri lalu para petinggi memasuki ruangan dengan tertib dan duduk dengan tenang di bangkunya masing-masing. Juri tidak tahu harus mengawali perkataannya dari mana. Juri sebagai presiden di Argeza ini pun bersikap profesional dalam hal genting seperti ini.

“sebelumnya aku minta maaf, meminta kalian semua untuk berkumpul dalam ruangan yang tidak aku hendaki sebenarnya..tapi, ini mengenai benua yang sedang mengalami permasalahan yang sulit. Aku yakin semuanya sudah tahu apa yang akan kita bahas saat ini..retakan Argeza semakin membesar, beberapa mahluk sudah masuk ke dalam benua. Kalau kita perhatikan mahluk ini kasat mata karena sangat kecil ukurannya. Aku berharap kita semua bisa berjaga-jaga diri..” Juri mengawali pembukaan itu dengan kata-kata yang tenang dan tidak terburu-buru.

“selanjutnya, aku akan membagikan tugas pada setiap petinggi maupun menteri yang hadir di sini..” kata Juri membuka map nya yang tadi Leda berikan padanya.

“untuk menteri keuangan, siapkan anggaran dana 1,2 milyar untuk obat-obatan vaksin dan lain-lain. Menteri pertahanan, kerahkan seluruh pasukan untuk memberantas mahluk-mahluk. Lalu menteri perhubungan, siapkan beberapa alat komunikasi dari ilmu sihir agar memudahkan dalam bekerja sama. Dan untuk para petinggi sihir, aku meminta hentikan sementara kurikulum pelajaran yang sedang berjalan saat ini. Umumkan pada mereka bahwa ini dalam keadaan genting. Dan, aku meminta Kamijo untuk cepat menemukan kelompok terbaik untuk planning berikutnya untuk melindungi Argeza..” Juri sudah menjelaskannya secara detail mengenai pembagian tugas. Dan ini di sambut dengan suara kompak menjawab ‘hai’ kepada sang presiden yang masih muda ini.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



“lalu apa yang kita lakukan sekarang?”

Ryouga bertanya dengan bingung ketika Reita sudah mengumumkan sesuatu di tengah-tengah pesta makan yang sedang berlangsung dengan meriah dan hening seketika mendengar pernyataannya Reita.

“kita tunggu hasil rapat globalnya.” Pikir Reita. Ini membuat Ruki terdiam seperti berpikir sesuatu.

aku tidak bisa membayangkan Argeza hancur dan manusia tidak dapat bertahan hidup. Apa yang harus ku lakukan dengan kekuatan yang pas-pasan begini?

---------------------------------------------------------------------------------------------//





No comments:

Post a Comment