Title : Argeza
Genre : fantasy,action,comedy,life,
nano-nano dah pokoknya XDDD
Cast : utamanya
Gajet yang lain numfang hehehehe..
Eps : 9
*cieeee sok anime
---------------------------------------------------------------------------------------------//
♡。゚.(*♡ New Friend ♡*)゚♡ °・
Tidak
seindah pagi biasanya, di pagi ini semua siswa sibuk berhamburan keluar kelas
dengan karpet terbangnya dengan rasa penasaran,panik dan cemas. Tidak ada satu
pun siswa yang tidak membicarakan sesuatu yang telah terjadi di pagi ini.
Mereka terlihat saling berkumpul, berbisik dan memberitahu satu sama lain
tentang kejadian di pagi hari ini. Terkecuali Reita, ketua siswa yang satu ini
datang ke sekolah dan memarkirkan sapu terbangnya seraya merasakan keganjalan
yang tidak biasanya ia rasakan. Usai parkir, dia langsung memunculkan karpet
terbangnya dan menaikinya menuju kelasnya.
Reita
melihat semua siswa berhamburan di luar dengan bingung. Reita melihat arloji
yang ia kenakan sudah menunjukkan jam untuk pelajaran sihir. Tapi, ini kenapa?
Ada apa?
“Rei!”
Seseorang
memanggilnya dari belakang.
“kenapa
kau di sini? Bagaimana dengan Ruki??” tanya Kai dengan khawatir menghampiri
Reita dengan karpet terbangnya.
“Ruki?
Ada apa dengannya?” bingung Reita dengan penjelasan Kai tadi.
“kau
tidak tahu?? Ruki menghadap Kamijo-sama dan kabarnya dia akan mengundurkan diri
dari sekolah ini gara-gara kejadian kemarin!” seru Kai dengan setengah panik.
Mata Reita yang memang sipit terpaksa membuka lebar(?) karena dia kaget dengan
perkataan Kai tadi. Tidak banyak memandang Kai, Reita langsung pergi menuju
ruangan Kamijo-sama dan memastikan apa yang Kai katakan itu tidak benar hanya
isu semata.
Di
depan ruang Kamijo-sama, seluruh siswa nampaknya sedang antusias menunggu
sesuatu. Walaupun Reita bersikukuh dalam hatinya tidak ingin ini terjadi, tapi
tetap saja kekuatannya membaca pikiran itu sangat kuat. Dia melihat para siswa
itu sedang saling membicarakan dan berkumpul seperti menunggu suatu keputusan.
Reita menelan ludahnya dengan sangat takut kalau benar Ruki akan mengundurkan
diri dari sini.
Dalam
ruangan Kamijo-sama, Ruki berdiri berjarak 25 langkah(?) dari meja kerjanya
Kamijo-sama. Dengan jantung yang berpacu
cepat, keringat dingin, tangan mengepalkan dan buliran airmata yang masih
menggantung mencirikan Ruki sedang menghadapi hal sulit. Kamijo-sama yang diam
duduk di meja kerjanya, memandang Ruki dengan kasihan.
“bagaimana
kalau aku menolaknya?” kata Kamijo-sama dengan kalem. Ruki menatap tidak
percaya pada kepseknya yang satu ini. Dan genggaman kepalan tangannya pun
semakin.
“aku
tidak pantas sekolah di sini! Aku hanya bisa membuat keributan dan keonaran!”
Ruki tertunduk, menjatuhkan buliran airmatanya seraya memejamkan mata yang
mengerut itu.
“aku
tidak bisa menjadi siswa yang baik yang bisa kau harapkan..” ucap Ruki
menambahkan. Derasnya tangisan itu menjadi pilu bagi Kamijo-sama. Kamijo-sama
pun dengan perlahan mendekati Ruki yang terdengar isak tangisnya seperti di
tahan.
“Ruki..”
Kamijo-sama memegang kedua pundak Ruki yang mbul *plak*. Ruki mendongak dengan
wajah yang sembab akibat menangis.
“seorang
manusia yang melakukan kesalahan seharusnya bukan mundur, tetapi mencoba untuk
memperbaiki kesalahannya dan menggantikannya dengan hal yang baik..namun
kesalahan kemarin itu bukan kesalahan murnimu..sekarang apa kau berpikir,
mereka teman-temanmu habis-habisan membelamu karena Karasu karena kesalahanmu?
Tidak, kan? Mana ada kesalahan di bela..” ucap Kamijo-sama menasehati Ruki
dengan lengkungan bibir yang manis. Ruki tertegun mendengar itu.
“aku
tidak pernah mengijinkanmu untuk drop out dari sekolah ini..kau adalah tanggung
jawabku sampai nanti lulus..kalau kau drop out, artinya aku gagal mendidikmu
dan aku yang tidak pantas menjadi kepala sekolah di Mahou..” ucap Kamijo-sama
kalem.
“dan
hanya kau sedang aku lindungi sampai semuanya berkata benar kalau kau-“ Kamijo
menghentikan pembicaraannya dan memilih untuk diam.
“kalau
apa?” Ruki bingung.
“lupakan..”
Kamijo berdalih. Dia takut sesuatu yang ia rahasiakan dari sekarang malah
terbongkar dengan konyolnya.
“maafkan
aku...” Ruki kembali menangis dan Kamijo-sama memeluknya seperti anaknya
sendiri.
“kau
ini cengeng ya, dan perasa sekali orangnya..” pikir Kamijo sambil mengelus
rambut halus Ruki yang sedang tenggelam menangis dalam pelukan Kamijo-sama.
---------------------------------------------------------------------------------------------//
Ruang
Kamijo-sama terbuka saat Ruki akan pergi dari situ. Sebagian siswa terdiam yang
sedang menunggui Ruki keluar dari situ. Mata Ruki dan para siswa itu saling
berpandangan. Ruki tidak mengerti kenapa mereka bisa berkumpul di sini seakan
khawatir dengan keadaannya. Ruki menutup mulutnya rapat-rapat dan lebih
memandangi mereka.
“Rukiii!!!”
seru teman-temannya cemas. Kamijo-sama yang ada di belakangnya tersenyum
melihat teman-temannya begitu panik dan cemas dengan keadaan Ruki saat ini.
Kamijo tahu, kalau teman-temannya ini sangat menyayangi Ruki dan tidak akan
melepaskan Ruki begitu saja dari sekolah ini.
“aku
sudah bilang,kan? Mereka membelamu bukan karena kesalahan..” ucap Kamijo-sama.
Dan Reita saat itu ada paling di depan dengan wajah setengah cemas melihat Ruki.
“percayalah
kau tidak bersalah apa-apa atas kemarin! Jangan drop out dari sini Ruki!” Reita
benar-benar kehilangan kalau seandainya Ruki jadi drop out.
“Ruki!”
Uruha datang berlarian dengan ngos-ngosan bersama Aoi dari belakang. dan
semuanya melihat ke arah pasangan(?) ini.
“gosip
kau akan drop out dari sini bohong,kan?” kata Uruha yang sekarang ikut mengkhawatirkan
Ruki.
“ayo
lah jangan buat sensasi terus!” tambah Aoi yang sama cemasnya.
“dalam
keadaan sulit, semua temanmu di sini akan membantumu. Percayalah..” Reita
meyakini Ruki. Kai yang datang dari lorong sebelah langsung terhenti melihat
semua berkumpul dalam keadaan begini.
“minna~”
bisik Kai yang terharu dengan keadaan ini.
“kau
pikir menangani Karasu itu mudah? Kemarin aku hampir mati tau! Tapi karena itu
bukan kesalahanmu aku berjuang untuk mengembalikan Karasu kesayanganmu! percuma
aku berjuang kemarin mati-matian kalau kau drop out hari ini! Aku merasa tidak
di hargai!” seru Uruha.
“maka
dari itu kau jangan drop out Ruki..” kata Aoi dengan memohon.
Ruki
merasa tidak enak dengan perkataannya Uruha. Benar, Uruha yang dingin dan egois
itu membantunya yang tidak salah. Tapi kenapa Ruki bisa-bisanya berpikir untuk
drop out dari sekolah ini?
“aku
merasa bersalah karena sebagian siswa mengalami luka-luka gara-gara Karasu. Aku
juga bingung kenapa aku tidak bisa menguasai kekuatan standar yang
menggabungkan api dan angin. Aku Cuma merasa tidak pantas sekolah di sini..”
kata Ruki dengan sedih.
“jadi
kau pikir yang masuk Mahou Gakuen itu orang-orang yang memiliki sihir sempurna
sejak pertama kali masuk dan duduk di bangku kelas level 1, iya?” Uruha
setengah emosi mendengar perkataan Ruki yang selalu menyudutkan dirinya
sendiri.
“Uru!”
Aoi menyenggol lengan Uruha agar Uruha tidak emosian
“dengar,
aku juga punya proses untuk bisa memiliki sihir sampai naik kelas level 3
sekarang..meski aku di tipu karena pertemanan dan di khianati, aku masih bisa
berjuang kok sampai detik ini..masa iya kau tidak bisa berjuang seperti aku?
Dan membuktikan kalau kau sangat bisa di antara siswa yang lainnya..” jelas
Uruha. Mendengar itu Kai tercengang seakan dia merasa tersindir dengan
perkataannya dan lebih baik diam.
“kau
tidak akan drop out kan?” Reita bertanya untuk yang terakhir kalinya.
“tidak..”
Ruki mengatakan itu dengan lesuh dan pelan. Semuanya hening mengatakan itu.
lama setelah itu Ruki terdiam seakan dia sedang berpikir memilih satu keputusan
antara dia kembali pada teman-temannya yang selalu percaya, atau mundur karena
dirinya tidak percaya diri.
“aku
tidak akan drop out sampai aku menunjukkan sihirku paling hebat di antara
kalian!” seru Ruki seraya menunduk. Dan semuanya bersorak bahagia karena Ruki
mengambil keputusan yang benar. Uruha hanya menghela nafas, sementara Aoi
tersenyum dan menggesturkan jempolnya seraya bilang oke XDDDv. Kai hanya bisa
berbalik badan dengan bibir datar tanpa senyum apapun. Seakan dia menahan sakit
hati atas perkataan Uruha tadi. Kemudian dia pergi meninggalkan euforia
kembalinya Ruki ke sekolah ini.
“apa
kau lupa dengan kata-katamu kemarin?” kata Uruha membuatnya semua mendadak
hening lagi.
“apa?”
Ruki tidak ingat.
“kita
bisa berteman yang benar-benar berteman, kan?” ucap Uruha dengan nada datar.
Mendengar itu semua siswa saling berbisik karena Uruha jarang-jarang mengatakan
itu.
“sial,
Ruki peletnya mantep juga..ngga Aoi ngga Uruha takluk di depannya..” Shou
geleng-geleng bingung dengan keadaan sekarang.
“Ho’oh..”
Shin menambahkan itu sambil geleng-geleng juga.
“tapi
tidak mudah berteman denganku..” kata Ruki dengan senyum dan membuat Uruha
bingung.
“bertemanlah
denganku tanpa keangkuhan dan selalu senyum, itu akan terlihat manis
sepertinya..” ucap Ruki. Uruha terdiam mendengar itu. dan Ruki maju ke hadapan
Uruha dan meskipun harus mendongak sedikit ke atas karena Uruha lebih tinggi
darinya *plak* dan memandang Uruha dengan yakin.
“senyumlah
dan high five denganku..” kata Ruki.
Perlahan, bibir Uruha yang tidak pernah melengkungkan senyum ini, pertama
kalinya di publik melengkung senyum walaupun terlihat samar-samar dan tidak
full(?). dan kemudian dengan kompaknya mereka berdua high five dan membuat
sorakan itu kembali riuh dan membuat Kamijo menghela nafas lega karena usahanya
sekarang tidak sia-sia..
“aku yakin kalian semua akan bersatu,
tujuanku dari awal akan segera terlihat hasilnya..tidak ada yang tahu tentang
hal ini semenjak Ruki masuk sekolah dan bertemu dengan ke empat ketua level
ini..”
Ucap Kamijo-sama dalam hatinya.
Ruki
pun kembali di bully dengan di acak-acak rambutnya atau sekedar pukulan kecil
mengenai perut gendutnya *plak*. Ruki bahagia teman-temannya bisa percaya
padanya dan membelanya.
Teman
itu sangat berharga sekali, dan Ruki sekarang menyadari pentingnya mereka dalam
kehidupannya di sekolah ini~
---------------------------------------------------------------------------------------------//
Juri,
kepala presiden benua Argeza ini sedang berada di ruang operator yang isinya
penuh dengan layar LCD untuk memantau keadaan Argeza. Juri nampaknya tegang
dengan pantauan keadaan Argeza yang terlihat dari setiap layar LCD itu. Juri
mendekati layar LCD itu dengan perlahan dan matanya tetap fokus pada satu arah.
Layar itu hampir sama seperti di Des Fleur. Menunjukkan sebagian besar isi
Argeza seperti daratan dan lautan. Juri melihat beberapa titik yang sepertinya
terhalang sesuatu seperti kabut dan Juri segera menelpon ke bagian pemantau.
”juri? Baru saja aku ingin menelponmu balik,
sepertinya beberapa mahluk sudah memasuki wilayah Argeza. Retakan kristalnya
semakin melebar dan ini membahayakan seluruh warga Argeza saat in..” kata seorang
pemantau di telpon itu.
“hah?
Jadi kabut itu-“
“benar, itu semacam mahluk DIS yang berbentuk
seperti bintang laut berwarna putih, mereka dapat terbang melayang dan
ukurannya sebesar bola kelereng. Mereka tidak bisa di tangkap sembarang kecuali
di tabur dengan sebuah serbuk bunga kematian yang sangat langka. Mahluk yang
satu ini menyerang manusia dengan cara masuk ke dalam tubuh manusia lewat sisi
pada leher kiri manusia dan dapat menembus langsung masuk. Korban tidak akan
mengalami rasa nyeri apapun. Namun terlihat pucat dan dua jam kemudian akan
pingsan mendadak dengan mimisan dan sulit bernafas. Jika tidak tertolong,
nyawanya akan melayang..”
Cukup
jelas dengan yang di ucapkan sang pemantau dan ini membuat Juri perlahan
menutup telponnya. Dan dia mengambil gagang telpon yang lain dan
menghubungkannya ke pusat.
Saat
itu Kamijo sedang berada di ruang perpustakaan sihir yang menyimpan berbagai
macam buku sihir. Dengan memakai anak tangga, Kamijo menelusuri rak buku atas
mencari buku yang ia inginkan. Namun, arloji yang umumnya di gunakan untuk
menunjukkan jam, di sekolah ini bermanfaat sebagai ponsel. Arloji kamijo
berdentang seperti lonceng gereja dengan pelan dan bersinar. Kemudian Kamijo
menekan tombol kecil di tengah arloji itu dan mendekatkannya ke mulutnya.
“moshi-moshi?”
kata Kamijo dengan lembut.
“ah Kamijo, Argeza dalam darurat. Sore ini
rapat global seluruh menteri, staff Velvera, petinggi sihir dan para petinggi pemerintah. Aku menunggumu di
gedung [XI].jya..”
Itu
adalah telpon dari Gakuto yang sepertinya sedang mengatasi kepanikannya dengan
tenang untuk menghubungi Kamijo. Nyatanya tidak, Kamijo bisa mendeteksi itu
dari suaranya yang bergetar dan suara yang berbeda dari biasanya. Kamijo
menekan tombol tengah itu kemudian sinar itu meredup dan Kamijo langsung turun
tangga dan meninggalkan perpustakaan sihir itu. saat Kamijo keluar pun, pintu
perpustakaan menutup dan mengunci dengan sendirinya dan langkah Kamijo agak
cepat menuju ruangannya kembali.
---------------------------------------------------------------------------------------------//
Ruangan
aula di sulap menjadi pesta makan besar dan semua siswa sedang menikmatinya
dengan suka cita sambil bercanda. Meja bertata dengan rapi dan banyak
menyediakan makanan yang tinggal di pilih sesuai selera. Sementara itu, Reita
tidak biasanya tidak nafsu makan. Padahal kit-kat sudah ada di depannya di
sebuah meja yang menampung ratusan berbagai macam coklat. Reita sebenarnya
gelisah dan dia menutupi itu dengan meminum soda seteguk demi seteguk. Kekuatan
Reita bekerja kembali, dia membaca situasi sedang buruk. Tapi Reita tidak
menunjukkan itu supaya seluruh siswa dapat menikmati pesta makan ini yang di
adakan sebulan sekali.
“Rei,
coklatnya enak lho!” Ruki memakan coklat sampai belepotan ke bibirnya. Reita
hanya membalasnya dengan senyum datar dan membiarkan Ruki makan coklat sampai
lumer ke seluruh jemarinya dan mengecap manis seperti anak kecil. Pandangannya
Reita pun tak sengaja mengarah ke pintu belakang aula ini. Kamijo membukanya
dengan wajah panik dan seperti sedang mengamati keadaan di dalam ruangan aula
ini. Dan beberapa saat kemudian Kamijo menutup kembali pintu itu dan membuat
Reita menaruh gelas bersodanya di atas meja dekat Ruki dan setengah berlari
menuju pintu belakang aula itu.
“kenapa
dia?” bingung Aoi yang melihatnya.
Reita
membuka pintu itu dan menengok ke kanan tidak ada orang. Tapi ketika dengan
cepat menoleh ke kiri dia mendapati Kamijo sedang berjalan cepat yang belum
jauh dari jaraknya Reita
“Kamijo-sama!”
seru Reita menghentikan langkahnya Kamijo dan menengok ke belakang melihat
Reita sedang menghampirinya.
“ada
apa? Aku merasakan sesuatu buruk akan terjadi..” kira Reita. Kamijo memandang
Reita dengan tidak tahu harus berkata apa kalau semua siswa tahu kalau keadaan
Argeza sudah gawat. Kamijo memegang kedua pundak Reita dengan mantap,
“retakan
Argeza semakin meluas, mahluk DIS sudah menembus pertahanan. Sore ini semua
rapat global..kau atur Mahou Gakuen dengan baik. Aku menyerahkannya padamu..”
ucap Kamijo seakan mempercayai Reita untuk mewakili kepemimpinannya Kamijo.
Reita sontak kaget mendengar itu. dan mereka tidak sadar, kalau ada Uruha yang
sedang menguntit mereka dengan cara berdiri di dinding dekat mereka seraya
melipatkan tangannya. Dan tangannya memegang kipas dan menutupi setengah
wajahnya yang bertatap dingin. Uruha mendengar semua percakapan itu.
“apa..baiklah,
serahkan padaku..” Reita mau tak mau harus mengatur ratusan siswa yang mungkin
akan kaget mendengar berita ini. Uruha langsung menutup kipas itu dan berjalan
ke lorong kiri dengan langkah tenang dan wajahnya yang dingin.
---------------------------------------------------------------------------------------------//
Juri
membuka aula [XI] dengan perlahan. Ruangan ini lima kali lipat luas dari aula
ruangan Mahou Gakuen yang luasnya itu dua kali lapangan olahraga. Aula [XI] dapat
menampung dua ribu orang di dalamnya. Dan ruangan ini terdiri dua meja
memanjang di sebelah kanan dan kiri. Langit-langitnya di gantungi lampu kristal
yang megah dan tiang-tiang besar dan kokoh. Juri yang mengenakan jas hitam,
menghela nafas melihat ruangan ini kosong. Juri tahu, ruangan ni di gunakan
rapat pada saat yang genting. Ia menjadi sedih karena sebenarnya dia tidak
ingin menggunakan ruangan ini karena menurutnya mengancam keselamatan Argeza.
Kemudian, asistennya Leda membawakan beberapa map besar dan menyerahkan pada
Juri. Keduanya masuk ke dalam dan menuju sebuah podium yang cukup untuk dua
orang. Leda berdiri di samping Juri lalu para petinggi memasuki ruangan dengan
tertib dan duduk dengan tenang di bangkunya masing-masing. Juri tidak tahu harus
mengawali perkataannya dari mana. Juri sebagai presiden di Argeza ini pun
bersikap profesional dalam hal genting seperti ini.
“sebelumnya
aku minta maaf, meminta kalian semua untuk berkumpul dalam ruangan yang tidak
aku hendaki sebenarnya..tapi, ini mengenai benua yang sedang mengalami
permasalahan yang sulit. Aku yakin semuanya sudah tahu apa yang akan kita bahas
saat ini..retakan Argeza semakin membesar, beberapa mahluk sudah masuk ke dalam
benua. Kalau kita perhatikan mahluk ini kasat mata karena sangat kecil
ukurannya. Aku berharap kita semua bisa berjaga-jaga diri..” Juri mengawali
pembukaan itu dengan kata-kata yang tenang dan tidak terburu-buru.
“selanjutnya,
aku akan membagikan tugas pada setiap petinggi maupun menteri yang hadir di
sini..” kata Juri membuka map nya yang tadi Leda berikan padanya.
“untuk
menteri keuangan, siapkan anggaran dana 1,2 milyar untuk obat-obatan vaksin dan
lain-lain. Menteri pertahanan, kerahkan seluruh pasukan untuk memberantas
mahluk-mahluk. Lalu menteri perhubungan, siapkan beberapa alat komunikasi dari
ilmu sihir agar memudahkan dalam bekerja sama. Dan untuk para petinggi sihir,
aku meminta hentikan sementara kurikulum pelajaran yang sedang berjalan saat
ini. Umumkan pada mereka bahwa ini dalam keadaan genting. Dan, aku meminta
Kamijo untuk cepat menemukan kelompok terbaik untuk planning berikutnya untuk
melindungi Argeza..” Juri sudah menjelaskannya secara detail mengenai pembagian
tugas. Dan ini di sambut dengan suara kompak menjawab ‘hai’ kepada sang presiden
yang masih muda ini.
---------------------------------------------------------------------------------------------//
“lalu
apa yang kita lakukan sekarang?”
Ryouga
bertanya dengan bingung ketika Reita sudah mengumumkan sesuatu di tengah-tengah
pesta makan yang sedang berlangsung dengan meriah dan hening seketika mendengar
pernyataannya Reita.
“kita
tunggu hasil rapat globalnya.” Pikir Reita. Ini membuat Ruki terdiam seperti
berpikir sesuatu.
“aku tidak bisa membayangkan Argeza hancur
dan manusia tidak dapat bertahan hidup. Apa yang harus ku lakukan dengan
kekuatan yang pas-pasan begini?”
---------------------------------------------------------------------------------------------//