Monday, March 31, 2014

Argeza ~9

Title      :               Argeza
Genre  :               fantasy,action,comedy,life, nano-nano dah pokoknya XDDD
Cast      :              utamanya Gajet yang lain numfang hehehehe..
Eps        :               9 *cieeee sok anime

---------------------------------------------------------------------------------------------//



。゚.(*♡ New Friend  *) °



Tidak seindah pagi biasanya, di pagi ini semua siswa sibuk berhamburan keluar kelas dengan karpet terbangnya dengan rasa penasaran,panik dan cemas. Tidak ada satu pun siswa yang tidak membicarakan sesuatu yang telah terjadi di pagi ini. Mereka terlihat saling berkumpul, berbisik dan memberitahu satu sama lain tentang kejadian di pagi hari ini. Terkecuali Reita, ketua siswa yang satu ini datang ke sekolah dan memarkirkan sapu terbangnya seraya merasakan keganjalan yang tidak biasanya ia rasakan. Usai parkir, dia langsung memunculkan karpet terbangnya dan menaikinya menuju kelasnya.

Reita melihat semua siswa berhamburan di luar dengan bingung. Reita melihat arloji yang ia kenakan sudah menunjukkan jam untuk pelajaran sihir. Tapi, ini kenapa? Ada apa?

“Rei!”

Seseorang memanggilnya dari belakang.

“kenapa kau di sini? Bagaimana dengan Ruki??” tanya Kai dengan khawatir menghampiri Reita dengan karpet terbangnya.

“Ruki? Ada apa dengannya?” bingung Reita dengan penjelasan Kai tadi.

“kau tidak tahu?? Ruki menghadap Kamijo-sama dan kabarnya dia akan mengundurkan diri dari sekolah ini gara-gara kejadian kemarin!” seru Kai dengan setengah panik. Mata Reita yang memang sipit terpaksa membuka lebar(?) karena dia kaget dengan perkataan Kai tadi. Tidak banyak memandang Kai, Reita langsung pergi menuju ruangan Kamijo-sama dan memastikan apa yang Kai katakan itu tidak benar hanya isu semata.

Di depan ruang Kamijo-sama, seluruh siswa nampaknya sedang antusias menunggu sesuatu. Walaupun Reita bersikukuh dalam hatinya tidak ingin ini terjadi, tapi tetap saja kekuatannya membaca pikiran itu sangat kuat. Dia melihat para siswa itu sedang saling membicarakan dan berkumpul seperti menunggu suatu keputusan. Reita menelan ludahnya dengan sangat takut kalau benar Ruki akan mengundurkan diri dari sini.

Dalam ruangan Kamijo-sama, Ruki berdiri berjarak 25 langkah(?) dari meja kerjanya Kamijo-sama. Dengan jantung  yang berpacu cepat, keringat dingin, tangan mengepalkan dan buliran airmata yang masih menggantung mencirikan Ruki sedang menghadapi hal sulit. Kamijo-sama yang diam duduk di meja kerjanya, memandang Ruki dengan kasihan.

“bagaimana kalau aku menolaknya?” kata Kamijo-sama dengan kalem. Ruki menatap tidak percaya pada kepseknya yang satu ini. Dan genggaman kepalan tangannya pun semakin.

“aku tidak pantas sekolah di sini! Aku hanya bisa membuat keributan dan keonaran!” Ruki tertunduk, menjatuhkan buliran airmatanya seraya memejamkan mata yang mengerut itu.

“aku tidak bisa menjadi siswa yang baik yang bisa kau harapkan..” ucap Ruki menambahkan. Derasnya tangisan itu menjadi pilu bagi Kamijo-sama. Kamijo-sama pun dengan perlahan mendekati Ruki yang terdengar isak tangisnya seperti di tahan.

“Ruki..” Kamijo-sama memegang kedua pundak Ruki yang mbul *plak*. Ruki mendongak dengan wajah yang sembab akibat menangis.

“seorang manusia yang melakukan kesalahan seharusnya bukan mundur, tetapi mencoba untuk memperbaiki kesalahannya dan menggantikannya dengan hal yang baik..namun kesalahan kemarin itu bukan kesalahan murnimu..sekarang apa kau berpikir, mereka teman-temanmu habis-habisan membelamu karena Karasu karena kesalahanmu? Tidak, kan? Mana ada kesalahan di bela..” ucap Kamijo-sama menasehati Ruki dengan lengkungan bibir yang manis. Ruki tertegun mendengar itu.

“aku tidak pernah mengijinkanmu untuk drop out dari sekolah ini..kau adalah tanggung jawabku sampai nanti lulus..kalau kau drop out, artinya aku gagal mendidikmu dan aku yang tidak pantas menjadi kepala sekolah di Mahou..” ucap Kamijo-sama kalem.

“dan hanya kau sedang aku lindungi sampai semuanya berkata benar kalau kau-“ Kamijo menghentikan pembicaraannya dan memilih untuk diam.

“kalau apa?” Ruki bingung.

“lupakan..” Kamijo berdalih. Dia takut sesuatu yang ia rahasiakan dari sekarang malah terbongkar dengan konyolnya.

“maafkan aku...” Ruki kembali menangis dan Kamijo-sama memeluknya seperti anaknya sendiri.

“kau ini cengeng ya, dan perasa sekali orangnya..” pikir Kamijo sambil mengelus rambut halus Ruki yang sedang tenggelam menangis dalam pelukan Kamijo-sama.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Ruang Kamijo-sama terbuka saat Ruki akan pergi dari situ. Sebagian siswa terdiam yang sedang menunggui Ruki keluar dari situ. Mata Ruki dan para siswa itu saling berpandangan. Ruki tidak mengerti kenapa mereka bisa berkumpul di sini seakan khawatir dengan keadaannya. Ruki menutup mulutnya rapat-rapat dan lebih memandangi mereka.

“Rukiii!!!” seru teman-temannya cemas. Kamijo-sama yang ada di belakangnya tersenyum melihat teman-temannya begitu panik dan cemas dengan keadaan Ruki saat ini. Kamijo tahu, kalau teman-temannya ini sangat menyayangi Ruki dan tidak akan melepaskan Ruki begitu saja dari sekolah ini.

“aku sudah bilang,kan? Mereka membelamu bukan karena kesalahan..” ucap Kamijo-sama. Dan Reita saat itu ada paling di depan dengan wajah setengah cemas melihat Ruki.

“percayalah kau tidak bersalah apa-apa atas kemarin! Jangan drop out dari sini Ruki!” Reita benar-benar kehilangan kalau seandainya Ruki jadi drop out.

“Ruki!” Uruha datang berlarian dengan ngos-ngosan bersama Aoi dari belakang. dan semuanya melihat ke arah pasangan(?) ini.

“gosip kau akan drop out dari sini bohong,kan?” kata Uruha yang sekarang ikut mengkhawatirkan Ruki.

“ayo lah jangan buat sensasi terus!” tambah Aoi yang sama cemasnya.

“dalam keadaan sulit, semua temanmu di sini akan membantumu. Percayalah..” Reita meyakini Ruki. Kai yang datang dari lorong sebelah langsung terhenti melihat semua berkumpul dalam keadaan begini.

“minna~” bisik Kai yang terharu dengan keadaan ini.

“kau pikir menangani Karasu itu mudah? Kemarin aku hampir mati tau! Tapi karena itu bukan kesalahanmu aku berjuang untuk mengembalikan Karasu kesayanganmu! percuma aku berjuang kemarin mati-matian kalau kau drop out hari ini! Aku merasa tidak di hargai!” seru Uruha.

“maka dari itu kau jangan drop out Ruki..” kata Aoi dengan memohon.

Ruki merasa tidak enak dengan perkataannya Uruha. Benar, Uruha yang dingin dan egois itu membantunya yang tidak salah. Tapi kenapa Ruki bisa-bisanya berpikir untuk drop out dari sekolah ini?

“aku merasa bersalah karena sebagian siswa mengalami luka-luka gara-gara Karasu. Aku juga bingung kenapa aku tidak bisa menguasai kekuatan standar yang menggabungkan api dan angin. Aku Cuma merasa tidak pantas sekolah di sini..” kata Ruki dengan sedih.

“jadi kau pikir yang masuk Mahou Gakuen itu orang-orang yang memiliki sihir sempurna sejak pertama kali masuk dan duduk di bangku kelas level 1, iya?” Uruha setengah emosi mendengar perkataan Ruki yang selalu menyudutkan dirinya sendiri.

“Uru!” Aoi menyenggol lengan Uruha agar Uruha tidak emosian

“dengar, aku juga punya proses untuk bisa memiliki sihir sampai naik kelas level 3 sekarang..meski aku di tipu karena pertemanan dan di khianati, aku masih bisa berjuang kok sampai detik ini..masa iya kau tidak bisa berjuang seperti aku? Dan membuktikan kalau kau sangat bisa di antara siswa yang lainnya..” jelas Uruha. Mendengar itu Kai tercengang seakan dia merasa tersindir dengan perkataannya dan lebih baik diam.

“kau tidak akan drop out kan?” Reita bertanya untuk yang terakhir kalinya.

“tidak..” Ruki mengatakan itu dengan lesuh dan pelan. Semuanya hening mengatakan itu. lama setelah itu Ruki terdiam seakan dia sedang berpikir memilih satu keputusan antara dia kembali pada teman-temannya yang selalu percaya, atau mundur karena dirinya tidak percaya diri.

“aku tidak akan drop out sampai aku menunjukkan sihirku paling hebat di antara kalian!” seru Ruki seraya menunduk. Dan semuanya bersorak bahagia karena Ruki mengambil keputusan yang benar. Uruha hanya menghela nafas, sementara Aoi tersenyum dan menggesturkan jempolnya seraya bilang oke XDDDv. Kai hanya bisa berbalik badan dengan bibir datar tanpa senyum apapun. Seakan dia menahan sakit hati atas perkataan Uruha tadi. Kemudian dia pergi meninggalkan euforia kembalinya Ruki ke sekolah ini.

“apa kau lupa dengan kata-katamu kemarin?” kata Uruha membuatnya semua mendadak hening lagi.

“apa?” Ruki tidak ingat.

“kita bisa berteman yang benar-benar berteman, kan?” ucap Uruha dengan nada datar. Mendengar itu semua siswa saling berbisik karena Uruha jarang-jarang mengatakan itu.

“sial, Ruki peletnya mantep juga..ngga Aoi ngga Uruha takluk di depannya..” Shou geleng-geleng bingung dengan keadaan sekarang.

“Ho’oh..” Shin menambahkan itu sambil geleng-geleng juga.

“tapi tidak mudah berteman denganku..” kata Ruki dengan senyum dan membuat Uruha bingung.

“bertemanlah denganku tanpa keangkuhan dan selalu senyum, itu akan terlihat manis sepertinya..” ucap Ruki. Uruha terdiam mendengar itu. dan Ruki maju ke hadapan Uruha dan meskipun harus mendongak sedikit ke atas karena Uruha lebih tinggi darinya *plak* dan memandang Uruha dengan yakin.

“senyumlah dan high five denganku..” kata Ruki. Perlahan, bibir Uruha yang tidak pernah melengkungkan senyum ini, pertama kalinya di publik melengkung senyum walaupun terlihat samar-samar dan tidak full(?). dan kemudian dengan kompaknya mereka berdua high five  dan membuat sorakan itu kembali riuh dan membuat Kamijo menghela nafas lega karena usahanya sekarang tidak sia-sia..

aku yakin kalian semua akan bersatu, tujuanku dari awal akan segera terlihat hasilnya..tidak ada yang tahu tentang hal ini semenjak Ruki masuk sekolah dan bertemu dengan ke empat ketua level ini..”

 Ucap Kamijo-sama dalam hatinya.

Ruki pun kembali di bully dengan di acak-acak rambutnya atau sekedar pukulan kecil mengenai perut gendutnya *plak*. Ruki bahagia teman-temannya bisa percaya padanya dan membelanya.

Teman itu sangat berharga sekali, dan Ruki sekarang menyadari pentingnya mereka dalam kehidupannya di sekolah ini~

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Juri, kepala presiden benua Argeza ini sedang berada di ruang operator yang isinya penuh dengan layar LCD untuk memantau keadaan Argeza. Juri nampaknya tegang dengan pantauan keadaan Argeza yang terlihat dari setiap layar LCD itu. Juri mendekati layar LCD itu dengan perlahan dan matanya tetap fokus pada satu arah. Layar itu hampir sama seperti di Des Fleur. Menunjukkan sebagian besar isi Argeza seperti daratan dan lautan. Juri melihat beberapa titik yang sepertinya terhalang sesuatu seperti kabut dan Juri segera menelpon ke bagian pemantau.

juri? Baru saja aku ingin menelponmu balik, sepertinya beberapa mahluk sudah memasuki wilayah Argeza. Retakan kristalnya semakin melebar dan ini membahayakan seluruh warga Argeza saat in..” kata seorang pemantau di telpon itu.

“hah? Jadi kabut itu-“

benar, itu semacam mahluk DIS yang berbentuk seperti bintang laut berwarna putih, mereka dapat terbang melayang dan ukurannya sebesar bola kelereng. Mereka tidak bisa di tangkap sembarang kecuali di tabur dengan sebuah serbuk bunga kematian yang sangat langka. Mahluk yang satu ini menyerang manusia dengan cara masuk ke dalam tubuh manusia lewat sisi pada leher kiri manusia dan dapat menembus langsung masuk. Korban tidak akan mengalami rasa nyeri apapun. Namun terlihat pucat dan dua jam kemudian akan pingsan mendadak dengan mimisan dan sulit bernafas. Jika tidak tertolong, nyawanya akan melayang..

Cukup jelas dengan yang di ucapkan sang pemantau dan ini membuat Juri perlahan menutup telponnya. Dan dia mengambil gagang telpon yang lain dan menghubungkannya ke pusat.

Saat itu Kamijo sedang berada di ruang perpustakaan sihir yang menyimpan berbagai macam buku sihir. Dengan memakai anak tangga, Kamijo menelusuri rak buku atas mencari buku yang ia inginkan. Namun, arloji yang umumnya di gunakan untuk menunjukkan jam, di sekolah ini bermanfaat sebagai ponsel. Arloji kamijo berdentang seperti lonceng gereja dengan pelan dan bersinar. Kemudian Kamijo menekan tombol kecil di tengah arloji itu dan mendekatkannya ke mulutnya.

“moshi-moshi?” kata Kamijo dengan lembut.

ah Kamijo, Argeza dalam darurat. Sore ini rapat global seluruh menteri, staff Velvera, petinggi sihir dan  para petinggi pemerintah. Aku menunggumu di gedung [XI].jya..

Itu adalah telpon dari Gakuto yang sepertinya sedang mengatasi kepanikannya dengan tenang untuk menghubungi Kamijo. Nyatanya tidak, Kamijo bisa mendeteksi itu dari suaranya yang bergetar dan suara yang berbeda dari biasanya. Kamijo menekan tombol tengah itu kemudian sinar itu meredup dan Kamijo langsung turun tangga dan meninggalkan perpustakaan sihir itu. saat Kamijo keluar pun, pintu perpustakaan menutup dan mengunci dengan sendirinya dan langkah Kamijo agak cepat menuju ruangannya kembali.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Ruangan aula di sulap menjadi pesta makan besar dan semua siswa sedang menikmatinya dengan suka cita sambil bercanda. Meja bertata dengan rapi dan banyak menyediakan makanan yang tinggal di pilih sesuai selera. Sementara itu, Reita tidak biasanya tidak nafsu makan. Padahal kit-kat sudah ada di depannya di sebuah meja yang menampung ratusan berbagai macam coklat. Reita sebenarnya gelisah dan dia menutupi itu dengan meminum soda seteguk demi seteguk. Kekuatan Reita bekerja kembali, dia membaca situasi sedang buruk. Tapi Reita tidak menunjukkan itu supaya seluruh siswa dapat menikmati pesta makan ini yang di adakan sebulan sekali.

“Rei, coklatnya enak lho!” Ruki memakan coklat sampai belepotan ke bibirnya. Reita hanya membalasnya dengan senyum datar dan membiarkan Ruki makan coklat sampai lumer ke seluruh jemarinya dan mengecap manis seperti anak kecil. Pandangannya Reita pun tak sengaja mengarah ke pintu belakang aula ini. Kamijo membukanya dengan wajah panik dan seperti sedang mengamati keadaan di dalam ruangan aula ini. Dan beberapa saat kemudian Kamijo menutup kembali pintu itu dan membuat Reita menaruh gelas bersodanya di atas meja dekat Ruki dan setengah berlari menuju pintu belakang aula itu.

“kenapa dia?” bingung Aoi yang melihatnya.

Reita membuka pintu itu dan menengok ke kanan tidak ada orang. Tapi ketika dengan cepat menoleh ke kiri dia mendapati Kamijo sedang berjalan cepat yang belum jauh dari jaraknya Reita

“Kamijo-sama!” seru Reita menghentikan langkahnya Kamijo dan menengok ke belakang melihat Reita sedang menghampirinya.

“ada apa? Aku merasakan sesuatu buruk akan terjadi..” kira Reita. Kamijo memandang Reita dengan tidak tahu harus berkata apa kalau semua siswa tahu kalau keadaan Argeza sudah gawat. Kamijo memegang kedua pundak Reita dengan mantap,

“retakan Argeza semakin meluas, mahluk DIS sudah menembus pertahanan. Sore ini semua rapat global..kau atur Mahou Gakuen dengan baik. Aku menyerahkannya padamu..” ucap Kamijo seakan mempercayai Reita untuk mewakili kepemimpinannya Kamijo. Reita sontak kaget mendengar itu. dan mereka tidak sadar, kalau ada Uruha yang sedang menguntit mereka dengan cara berdiri di dinding dekat mereka seraya melipatkan tangannya. Dan tangannya memegang kipas dan menutupi setengah wajahnya yang bertatap dingin. Uruha mendengar semua percakapan itu.

“apa..baiklah, serahkan padaku..” Reita mau tak mau harus mengatur ratusan siswa yang mungkin akan kaget mendengar berita ini. Uruha langsung menutup kipas itu dan berjalan ke lorong kiri dengan langkah tenang dan wajahnya yang dingin.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Juri membuka aula [XI] dengan perlahan. Ruangan ini lima kali lipat luas dari aula ruangan Mahou Gakuen yang luasnya itu dua kali lapangan olahraga. Aula [XI] dapat menampung dua ribu orang di dalamnya. Dan ruangan ini terdiri dua meja memanjang di sebelah kanan dan kiri. Langit-langitnya di gantungi lampu kristal yang megah dan tiang-tiang besar dan kokoh. Juri yang mengenakan jas hitam, menghela nafas melihat ruangan ini kosong. Juri tahu, ruangan ni di gunakan rapat pada saat yang genting. Ia menjadi sedih karena sebenarnya dia tidak ingin menggunakan ruangan ini karena menurutnya mengancam keselamatan Argeza. Kemudian, asistennya Leda membawakan beberapa map besar dan menyerahkan pada Juri. Keduanya masuk ke dalam dan menuju sebuah podium yang cukup untuk dua orang. Leda berdiri di samping Juri lalu para petinggi memasuki ruangan dengan tertib dan duduk dengan tenang di bangkunya masing-masing. Juri tidak tahu harus mengawali perkataannya dari mana. Juri sebagai presiden di Argeza ini pun bersikap profesional dalam hal genting seperti ini.

“sebelumnya aku minta maaf, meminta kalian semua untuk berkumpul dalam ruangan yang tidak aku hendaki sebenarnya..tapi, ini mengenai benua yang sedang mengalami permasalahan yang sulit. Aku yakin semuanya sudah tahu apa yang akan kita bahas saat ini..retakan Argeza semakin membesar, beberapa mahluk sudah masuk ke dalam benua. Kalau kita perhatikan mahluk ini kasat mata karena sangat kecil ukurannya. Aku berharap kita semua bisa berjaga-jaga diri..” Juri mengawali pembukaan itu dengan kata-kata yang tenang dan tidak terburu-buru.

“selanjutnya, aku akan membagikan tugas pada setiap petinggi maupun menteri yang hadir di sini..” kata Juri membuka map nya yang tadi Leda berikan padanya.

“untuk menteri keuangan, siapkan anggaran dana 1,2 milyar untuk obat-obatan vaksin dan lain-lain. Menteri pertahanan, kerahkan seluruh pasukan untuk memberantas mahluk-mahluk. Lalu menteri perhubungan, siapkan beberapa alat komunikasi dari ilmu sihir agar memudahkan dalam bekerja sama. Dan untuk para petinggi sihir, aku meminta hentikan sementara kurikulum pelajaran yang sedang berjalan saat ini. Umumkan pada mereka bahwa ini dalam keadaan genting. Dan, aku meminta Kamijo untuk cepat menemukan kelompok terbaik untuk planning berikutnya untuk melindungi Argeza..” Juri sudah menjelaskannya secara detail mengenai pembagian tugas. Dan ini di sambut dengan suara kompak menjawab ‘hai’ kepada sang presiden yang masih muda ini.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



“lalu apa yang kita lakukan sekarang?”

Ryouga bertanya dengan bingung ketika Reita sudah mengumumkan sesuatu di tengah-tengah pesta makan yang sedang berlangsung dengan meriah dan hening seketika mendengar pernyataannya Reita.

“kita tunggu hasil rapat globalnya.” Pikir Reita. Ini membuat Ruki terdiam seperti berpikir sesuatu.

aku tidak bisa membayangkan Argeza hancur dan manusia tidak dapat bertahan hidup. Apa yang harus ku lakukan dengan kekuatan yang pas-pasan begini?

---------------------------------------------------------------------------------------------//





Argeza ~8

Title      :               Argeza
Genre  :               fantasy,action,comedy,life, nano-nano dah pokoknya XDDD
Cast      :              utamanya Gajet yang lain numfang hehehehe..
Eps        :               8 *cieeee sok anime

---------------------------------------------------------------------------------------------//



。゚.(*♡ The Chaos  *) °



“coba sekali lagi!”

“Varura de peursm!!”

BRUSSSSSSS!!!!!!!!

Ruki mengalunkan tongkat sihirnya seraya mengatakan mantra itu dengan konsentrasi penuh. Dan saat tongkat itu di arahkan ke depan muncullah sebuah pusaran api yang lumayan cukup besar dari ujung tongkat kemudian menembakkan ke arah depan ke sebuah papan bulat dengan satu titik di tengahnya. Tembakan api Ruki mengenai sasaran yaitu satu titik dalam papan bulat itu. kemudian Ruki menghela nafas dan Amano-sensei mencatat berapa poin untuk hasil tembakan api Ruki tadi di sebuah lembaran kertas di papan berjalan yang ia pegang.

“gabungan yang lainnya?” tanya Amano-sensei dengan santai. Dan ini membuat Ruki terdiam cukup lama seakan dia memikirkan apa yang d katakan Amano tadi. Amano melihat raut wajah Ruki menjadi sedih dan seakan menyimpan sesuatu dari balik rautnya itu.

“ada apa? Ada yang mau kau ceritakan?” pikir Amano memegang pundak Ruki dengan lembut.

“gomen, aku belum menguasai gabungan sihir, gabungan api dan anginnya baru 30% aku kuasai, mungkin aku kurang konsentrasi.. tapi aku akan mencoba kembali sampai sempurna..”

“daijyobu.. yang penting di lain tes kau harus menguasainya ya..” Amano mengacak-ngacak rambut Ruki kemudian dia beralih menghampiri Shou yang sudah menguasai teknik gabungan sihir antara Api dan angin. Dan Ruki melihat itu sangat sempurna di matanya. Bahkan Shou sudah mempelajari gabungan air dan angin dan kekuatannya lumayan sangat kuat sampai papan itu jatuh begitu saja saking kuatnya tembakan Shou dari tongkat itu.

Ada rasa kecewa dari hati Ruki ketika melihat teman-teman sekelasnya sudah bisa melaksanakan tes gabungan sihir hari ini. Dia mengepalkan tangannya, dan sebelah tangannya tiba-tiba melepaskan tongkat sihirnya ke lantai dan Ruki seakan menahan tangisnya. Da kemudian pergi entah kemana sambil menunduk, bahkan beberapa siswa keanehan melihat tingkah Ruki yang tidak biasanya.

Saat Ruki belok ke kiri, Aoi mengambil tongkat sihir Ruki yang terjatuh dan memandang Ruki yang sudah belok dengan berjalan cepat. Aoi memandang tongkat itu dan kemudian menyusul kemana Ruki pergi.

Ruki kemudian menutup pintu kelasnya dan bersandar di belakang pintu itu. airmatanya jatuh dan tubuhnya merosot hingga kedua kakinya menekuk dan Ruki menunduk di atas kedua tumit kakinya. Dia menangis, dan sepertinya ada rasa kecewa, kesal dan bingung dalam tangisan itu..

Kenapa aku tidak bisa menguasai pelajaran sihir yang mudah di lakukan oleh yang lain?
Kenapa aku begitu bodoh..kekuatan sihirku hanya standar dan tidak ada peningkatan sama sekali selama 3 minggu ini..nilai tes sihirku tidak akan lebih dari 7..sedangkan yang lain mendapatkan nilai di atas 7..bagaimana aku ini? Apa sebaiknya aku drop out dari sekolah ini? Untuk apa aku di sini kalau aku tidak bisa menguasai satu pun. Bagaimana aku mau melindungi keluargaku jika mereka dalam kesulitan jika aku sendiri tidak bisa melindungi diri sendiri dengan kekuatanku?

Ruki menghapus tangisnya dengan lengannya. Dan ini membuat wajahnya basah dengan airmata yang berserakan(?) *lucuuuu >.<*. Tangannya melipat di atas tumit kemudian setengah menenggelamkan kepalanya di atas tumit itu sambil sesegukan menangis. Saat itu Aoi muncul dari pintu yang ujung. Aoi melihat Ruki masih sesegukan menangis sepertinya dia menyesak sekali dan kebingungan. Aoi mendatanginya dengan perlahan kemudian dia duduk di samping Ruki sambil menekuk kedua kakinya. Sama dengan yang Ruki lakukan sekarang..

“tumben menangis sendirian, ada masalah ya?” kata Aoi mencoba menyapa Ruki. Ruki menoleh dalam keadaan mata bengkak karena menangis dan bibir tertutup rapat dan bergetar.

“Aoi...” suara parau Ruki saat menangis itu membuat Aoi menoleh sangat dalam ke arah Ruki.

“apa aku bisa membantumu?” tanya Aoi dengan kalem.

“aku tidak pantas punya kekuatan sihir yang hebat ya? tidak pantas di sekolah ini?” ujar Ruki dengan sedih.

“kenapa bilang begitu? Kekuatan sihir itu milik semua orang.. tidak ada yang tidak pantas untuk sekolah di sini..mereka sekolah sihir pasti punya tujuan tersendiri yang mungkin kita tidak ketahui..” jelas Ruki.

“lalu kenapa aku tidak bisa menggabungkan teknik sihir? Apa salahku? Padahal sudah berusaha keras~” isak tangis Ruki sedikit mereda.

“belajar sihir tidak mudah, butuh proses yang panjang. Di sini kau akan belajar untuk sabar, tekun dan selalu mencoba ketika gagal..kau jangan pesimis tidak bisa mendapatkan nilai tes gabungan sihir dengan bagus..” kira Aoi. Ruki terpaku dengan ucapannya Aoi

“aku juga sepertimu, pernah tidak bisa melakukan suatu tes sihir, tapi aku tidak menyerah dan aku yakin aku bisa bahkan jauh lebih baik dari semua siswa..” jelas Aoi seraya menghapus airmatanya Ruki dengan jempolnya yang besar *plak~*

“Aoi~ Aoi mau kan ajari aku?” kata Ruki dengan memelas dan meremat lengan baju Aoi.

“kau tidak usah sungkan, nanti akan aku ajarkan padamu..” kata Aoi senyum manis dan membuat Ruki menjadi lebih baik setelah mendengar itu.

BRAAAAAAAAAAAAKKKK!!

Suara hantaman keras terdengar dari luar sana. Semburan api yang menjulang ke atas terlihat dari balik jendela kelasnya. Ruki dan Aoi kaget dengan  kejadian itu.

“apa itu!” seru Aoi. Kemudian Aoi dan Ruki segera keluar kelas dan menuju sumber berasal.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Uruha bernafas dengan tidak teratur sambil memegang dadanya yang sakit dan bertatapan dengan sebuah mahluk besar yang Uruha kenali di hadapannya. Iya, itu adalah Karasu, anjing berkepala dua milik Ruki yang sekarang mendadak mengamuk tidak karuan dan berubah wujud dengan ganasnya menyemburkan api dari dalam mulutnya ke manapun sesuai keinginannya Karasu.

“sial! Hyaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!”

Uruha kemudian melompat dengan tinggi dan kemudian mengeluarkan cahaya dari telapak tangannya dan menembakkannya ke mata Karasu. Namun dengan cepat Karasu menghalau kekuatan Uruha itu dengan menggerakkan tangannya sehingga kekuatan tembakan cahaya Uruha terlempar ke arah sembarangan. Dan Uruha kemudian melompat seperti akrobat(?) ke belakang dan kemudian dirinya ada di atas genteng sekolah seraya mengatur nafasnya kembali.

“kenapa Karasu ini!?” bingung Uruha. Kemudian Karasu menyemburkan tembakan apinya dari mulutnya ke arah Uruha, dan seketika juga Uruha melompat dengan sekejap ke bawah dengan mendarat kaki terbuka lebar, tangan kanan menyentuh tanah dan tangan kirinya memegang dadanya. Dan tatapannya melihat Karasu yang semakin mengamuk. Kemudian Uruha terbatuk dan mengeluarkan darah. Sepertinya tubuh Uruha terlalu memaksakan diri untuk mengerahkan segala tenaganya untuk  menjinakkan Karasu.

Tak lama, Aoi dan Ruki datang dan melihat Karasu sedang mengaung keras seakan dia marah. Aoi melihat Saga di pojokan ruangan sedang mengalami luka-luka di tubuh bahkan dia mengeluarkan darah dari mulutnya dan berceceran ke seragamnya.

“Saga!” Aoi kaget.

“kenapa Karasu berubah begini??” Ruki bingung. Sementara Uruha mencoba bangkit dengan tegak tubuhnya meskipun nafasnya sulit di atur dan ceceran darah dari mulutnya itu kemana-mana.

“Ka-Karasu kerasukan roh jahat, hentikan dia Ruki! Hentikan!” seru Saga dengan tenaga yang ia punya. Ruki dan Aoi menoleh ke Saga dan Aoi saat itu langsung menolong Saga. Dan Ruki tak sadar kalau Karasu akan menyerangnya

“AWAS!!”

Sebelum Karasu mengeluarkan semburan api dari mulutnya, Reita cekatan untuk menarik tubuh Ruki dan kemudian berguling-guling ke sisi sampai pakaian mereka kotor karena debu tanah. Ruki dan Reita sedikit terduduk dan Reita memegang tubuh Ruki seakan ia ingin melindunginya.

“Karasu kemasukan roh apa? Aku tidak mengerti..” ucap Ruki masih kaget dan tidak percaya Karasu dapat berubah dengan sekejap.

“Saga tidak sengaja menyenggol sebuah guci yang tersegel di gudang, dan itu berisi roh jahat yang akan memasuki hewan yang masih suci seperti Karasu..maka dari itu dia mengamuk saat ini.” Jelas Reita. kemudian Ruki malah memberanikan diri mendekati Karasu yang sedang tenang entah kenapa tiba-tiba.

“Karasu..” panggil Ruki dengan lembut dan merasa sedih, hewan ciptaannya berubah menjadi jahat dan menyakiti banyak orang. Seluruh siswa yang menyaksikannya bersorak pada Ruki untuk menjauhinya namun Ruki tidak menggubris. Dia ingin tahu kenapa Karasu melakukan ini dan tidak mencoba melawan roh yang ada di tubuhnya itu.

“RUKI!!” seru Uruha. Namun Ruki tak menggubris ucapan Uruha yang cukup jelas sekali. Aoi yang usai memberikan transfer energi ke tubuh Saga, melihat Karasu mendekati Ruki dan keduanya saling bertatapan.

“Karasu ini aku Ruki! Kau ingat bagaimana aku pertama kali menciptakanmu? Bagaimana aku menyayangimu?” ucap Ruki seakan ingin menakluki hewan yang ia sayangi ini. Karasu terdiam memandang Ruki.

“ingat aku Karasu! Aku Ruki!’ teriak Ruki dengan setengah emosi ingin Karasu-nya kembali menjadi biasa dengan tangisan yang mengalir kembali.

“Ruki!!” seru Tetsu-sensei usai berlari lalu terhenti sejenak yang mengetahui kejadian ini. Ruki menoleh dan melihat Tetsu sedang memandangnya dari kejauhan.

“lupakan dia sebagai Karasu! Buang pikiranmu kalau Karasu adalah hewan kesayanganmu! Semakin kau bersikukuh menaklukkannya, dia tidak akan kembali kecuali kau menghancurkan roh yang ada di dalamnya!” seru Tetsu-sensei dengan setengah berteriak emosi, karena Ruki terlalu baik pada Karasu yang sudah berubah ini. Ruki memandang kembali ke Karasu yang mengaung kembali dengan menggema membuat seluruhnya menutup telinga saking kesakitan mendengarkan auman suara Karasu.

“aku tidak mungkin bunuh Karasu! Karasu tidak bersalah!” seru Ruki sambil memandang Karasu dengan tangisan nya yang deras.

 Dan bagaimana caranya aku membunuh roh yang ada di tubuhnya Karasu saat ini?
Aku bingung aku tidak punya kekuatan lebih untuk menaklukkannya..

 Ruki kebingungan hingga buntut Karasu mengibaskan ke arah Ruki dan Ruki terpental jauh akibat kibasan buntutnya yang menciptakan sebuah hembusan angin yang sangat kuat. Ruki terpental hingga punggungnya menabrak dinding dan sampai retak. Ruki terbatuk-batuk dan mengeluarkan darah.

“RUKI!” seru yang lainnya melihat Ruki langsung tidak berdaya.

“lawanlah dia Ruki! Jangan kau biarkan Karasu menyakiti orang lain! Kau harus bisa membunuh roh yang ada di dalam tubuh Karasu! Hanya kau yang bisa melakukannya!” kata Uruha dengan emosi karena Ruki malah diam tidak melakukan apa-apa ketika di serang Karasu yang berbeda ini.

“Ruki lakukan!” seru Reita yang ada di kejauhan.

Apa aku bisa mengeluarkan kekuatan untuk menaklukkan Karasu yang liar ini?

“cepat lakukan bodoh! Kalau tidak kekuatannya semakin kuat!” Uruha semakin emosi melihat Ruki tidak berbuat apa-apa.

“Karasu akan baik-baik saja meski kau menyakitinya atau menyerangnya! Roh itu harus kau bunuh Ruki!” Kai yang baru datang dan menyaksikan itu pun langsung berseru agar Ruki segera bergerak menyelamatkan Karasu yang suci.

“maafkan aku, ini salahku..” ucap Saga berlinang airmata karena dia merasa ini salahnya dan dia tidak bisa berbuat apa-apa.

“kau suka Karasu menyakiti siswa lain yang tidak tahu apa-apa?! Kau suka lebih baik diam begini! Heh buntelan jawab aku!” Uruha benar-benar emosi sampai urat lehernya terlihat.

Tangis Ruki benar-benar deras dia bingung dengan bagaimana ia harus melakukannya. Karasu kembali mengamuk dengan mengaung terus. Dan kemudian dia mengeluarkan cahaya api merah dari mulutnya dan dengan hitungan ketiga, cahaya itu di tembakkan ke arah Ruki dengan sangat dahsyat..

“RUUKIIIIIIII!!!!!!!!!!”

Semuanya berteriak ketika Karasu menyemburkan cahaya api itu. namun apa yang terjadi, ada sebuah cahaya yang menyegel tubuh Ruki sehingga cahaya api tidak menembus padanya. Setelah cahaya api itu meredup, Ruki yang terdiam dengan menunduk dan mengepalkan kedua tangannya pun perlahan membuka matanya dan memandang Karasu.

“aku mohon~ KEMBALILAH PADA SEMULA!!” seru Ruki kemudian Karasu seperti di lilit pusaran air dan susah bergerak. Semuanya takjub dan mereka bahkan tidak tahu kalau Ruki bisa melakukan hal itu. seakan mustahil bagi seorang Ruki yang baru kelas level 1.

Dengan mantap dan yakin, Ruki melompat tinggi ke udara dan menuju ke arah dahinya Karasu yang berlambang kanji ‘setan’ dan kemudian dengan telapak tangannya dia memukul lambang itu dengan keras dan Karasu mengaum semakin keras seakan roh yang mendiami tubuh Karasu panik dengan kekuatan dalam yang Ruki lakukan saat ini.
Karasu pun di selimuti cahaya yang menyilaukan sampai semua yang melihatnya tidak sanggup dan lebih baik tidak melihatnya sama sekali.

Beberapa saat kemudian semuanya seperti semula. Ruki kembali menapaki tanah dan melihat Karasu kembali ke ukuran biasa dan sedang tergeletak dengan lemah dengan suara seperti kesakitan.

“Karasu..KARASU!!” Ruki berlari cepat dan memangku Karasu yang lemah. Dia melihat tatapan Karasu yang lesuh dan benar-benar kehilangan sebagian kekuatannya. Tubuhnya lemah dan Ruki merasa sangat terpukul dengan keadaan Karasu saat ini.

“KARASUU!!!” teriak Ruki sambil memeluknya.

Saga,Ryouga,Reita,Uruha,Kai,Tetsu-sensei dan Aoi terharu dengan penyelamatan Karasu sampai mereka menitikkan airmata. Saat itu Amano-sensei yang terlambat datang mendadak terhenti langkahnya melihat semua siswa berkumpul di tengah lapangan kemudian dengan bangunan yang rusak entah kenapa dia tidak tahu. Dan melihat Ruki sedang bersujud memangku Karasu sambil menangis.

“doshita?” Amano benar-benar bingung dengan keadaan saat ini.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Ruang kesehatan Mahou Gakuen sekarang ramai. Orang-orang yang berusaha mengendalikan Karasu sekarang sedang memulihkan luka-lukanya. Penanganan medis pun segera di laksanakan demi kelangsungan kesehatan siswa-siswanya.

Amano sensei yang sedang ada di pintu melipatkan tangannya setelah Tetsu-sensei menceritakan kronologi yang sebenarnya. Yang Amano bingungkan bukan masalah Karasu kerasukan roh jahat, namun ia berpikir darimana Ruki mendapatkan kekuatan dalam itu yang semestinya hanya di miliki orang-orang yang sudah lulus kelas level 5.

“aku tidak bisa berkata itu benar atau tidak, namun setidaknya kecurigaan pasti ada~ Kamijo-sama juga merasakannya..” ucap Tetsu di samping Amano yang masih berpikir.

Ruki sedang mentransferkan energi tubuhnya ke Uruha yang sedang terduduk di ranjang ruang kesehatan sementara Ruki sedang berdiri memegang dahi Uruha. Uruha yang tadinya lemah kemudian berangsur membaik setelah Ruki menyumbangkan energinya pada Uruha. Sementara Saga sedang minum obat yang di suapkan Shin.

Usai memberikan energi, mata Uruha yang tadinya tertutup, perlahan terbuka dengan pelan dan memandang Ruki yang sedang tersenyum padanya.

“sumimasen! Aku sudah tidak mendengarkan perkataanmu!” Ruki langsung membungkuk meminta maaf pada Uruha dengan segala rasa penyesalan yang ada dalam hatinya. Uruha hanya diam memandang itu.

“aku salah menilaimu selama ini, aku mengira kau dingin, angkuh dan egois mementingkan apa yang kau mau dan kau suka. Tapi tadi teriakan bodohmu itu membuatku bisa melawan Karasu dengan kekuatan yang tiba-tiba muncul dari dalam diri ini..aku berterima kasih padamu..” ucap Ruki sambil menegakkan badannya. Uruha memandang dengan berkedip pelan memandang Ruki yang senyum penuh ketulusan.

“aku rasa tidak ada salahnya, kita berteman yang benar-benar berteman..saling mengingatkan..dan meskipun kata-katamu cukup keterlaluan..hehe..” Ruki benar-benar tersenyum apa adanya dan terkekeh kecil di hadapan Uruha yang benar-benar diam.

“kalau begitu aku pamit dulu, aku mau menemui Reita..jya..lekas sembuh ya..” ujar Ruki kemudian dia melangkah meninggalkan Uruha. Namun tangan Uruha menahan pergelangan tangan kanan Ruki yang hendak meninggalkan diri dari hadapannya.

“chotto..” kata Uruha dengan lembut. Ruki langsung menoleh ketika Uruha masih melamun dengan pandangan ke depan.

“darimana kau mendapatkan kekuatan itu?” tanya Uruha sambil memandang Ruki akhirnya.

“itu muncul ketika aku benar-benar fokus untuk membunuh roh jahat di dalam Karasu..kenapa?” pikir Ruki.

“kekuatan itu setara dengan lulusan kelas level 5..” ucap Uruha menatap Ruki dengan serius. Ruki tidak percaya dengan kekuatan itu dan membalasnya dengan lengkungan bibir yang sedikit tertawa.

“ngaco, aku ini masih kelas satu, gak mungkin..” kata Ruki. Kemudian Uruha melepaskan tangannya dan membiarkan Ruki pergi. Uruha kembali melamun ke depan dan memikirkan kejadian ini.

“kekuatan hikari no naka..” ucap Uruha masih tidak percaya.

---------------------------------------------------------------------------------------------//





Sunday, March 23, 2014

Argeza ~7

Title      :               Argeza
Genre  :               fantasy,action,comedy,life, nano-nano dah pokoknya XDDD
Cast      :              utamanya Gajet yang lain numfang hehehehe..
Eps        :               7 *cieeee sok anime

---------------------------------------------------------------------------------------------//



。゚.(*♡ Soulmate  *) °



Uruha berjalan santai dengan seperti biasa wajahnya yang dingin tidak senyum dan memandang lurus ke depan meski ia tahu sepanjang koridor itu semua orang membicarakan sikapnya yang benar-benar dingin. Uruha tidak peduli omongan siswa lain. Yang penting dia tidak membuat onar di sekolah seperti Aoi. Kemudian dia masuk ke kelasnya sambil menghela nafasnya. Namun sesaat, langkahnya terhenti, Uruha lupa kalau hari ini adalah pelajaran mantra sihir dan Uruha tidak membawa tongkat pendek sihirnya. Uruha menepok(?) jidatnya dan kembali keluar kelas dan menuju loker siswa.

Menuju loker siswa sepertinya akan membuat dia teringat masa lalunya yang sangat menyedihkan. Dia bertemu dengan Kai di loker itu. dan Kai sedang berjalan ke arahnya dari kejauhan. Mereka berpapasan seakan tidak mengenal satu sama lain dengan pandangan yang saling membuang(?). Loker ini terdiri dua dengan saling berhadapan seperti kebanyakan di dorama atau anime yang kalian tonton *plak!*. rak loker Uruha terdapat di ujung, sementara loker Kai ada di tengah-tengah loker yang berhadapan dengan loker Uruha. Uruha membuka rak lokernya kemudian tidak sengaja melihat sesuatu yang membuat dia terpaku memandangi benda itu. dia menoleh ke kiri melihat apa yang Kai lakukan. Nyatanya Kai mengambil buku sihir dari dalam rak lokernya. Setelah menutup lokernya dia berjalan ke arah sana(?) dan membuat Uruha merasa sedih Kai benar-benar cuek padanya. Pandangan Uruha pun beralih ke suatu benda yang membuatnya terpaku.

Cincin keabadian, adalah dua pasang cincin bundar yang Uruha lihat di dalam rak lokernya. Dia sangat terpaku setiap kali menatap cincin itu di sebuah kotak cincin yang terbuka di samping tongkat pendek sihirnya. Cincin itu adalah yang ia buat bersama Kai dua tahun lalu ketika mereka masih bersama dan masih ‘berteman’ dengan baik. Uruha terdiam menatap cincin itu. cincin yang menjadi saksi biksu putusnya persahabatan Uruha dengan Kai..

-Flashback-

Uruha dan Kai masuk Mahou Gakuen dan mereka satu kelas sejak kelas level 1. Kedekatan sudah tidak di ragukan lagi karena mereka selalu kompak setiap kali mengerjakan tugas dalam satu kelompok maupun individual. Uruha dan Kai sudah merasa seperti kakak adik semenjak kedekatan itu. kemudian saat mereka naik ke kelas level 2 sebuah tragedi yang memilukan menjadikan pelajaran untuk semua para siswa Mahou Gakuen..

---------------------------------------------------------------------------------------------//



“Kai, lihat ini..” kata Uruha menunjukkan sebuah api biru yang berbentuk naga kecil dari atas telapak tangan kanannya saat Uruha menuju taman sekolah dan menemukan mahluk ini.

“kawaii! Dia kenapa?” Kai ikutan jongkok di sebelahnya Uruha dan melihat si naga api biru itu melingkar tubuhnya seperti tidur. Uruha senyum memperhatikan mahluk ini.

“sepertinya ada yang membuangnya, pasca pelajaran sihir..tapi siapa ya?” kira Uruha sambil melihat-lihat mahluk menggemaskan ini.

“mau kasih makan juga bagaimana, bingung..” kata Kai. Keduanya saling pandang dan menghela nafas.

Kemudian mereka berdua sepakat membuat kandang burung bersangkar putih dan memasukkan si naga api biru itu ke dalam. Kandang itu mereka gantungkan di salah satu dahan pohon yang pendek. Dan kemudian Uruha dan Kai kembali ke kelasnya.

“baiklah semuanya, harap tenang sebentar. Aku akan mengumumkan sesuatu pada kalian..” kata Amano-sensei yang masuk kelas usai Uruha dan Kai berdiri bersampingan di tengah kelas bersama yang lainnya. Semua siswa bertanya-tanya tugas apalagi yang akan di berikan Amano-sensei.

“perhatian, tidak lama lagi kita akan menuju ujian akhir kelas level 2. Untuk itu, sebagai kisi-kisinya akan aku beritahu dari sekarang supaya kalian bisa belajar dengan baik..” jelas Amano-sensei.

“baik sensei!” seru anak-anak kompak.

“ujian kali ini, kalian akan menghadapi burung elang yang susah di jinakkan dan sangat berbahaya. Untuk itu, pelajari semua mantra sihir dan penggabungan sihir untuk menaklukan burung elang ini..seusai rule­-nya, mereka yang berhasil akan naik kelas sementara yang belum bisa mengulang di tahun depan bersamaan dengan ujian akhir kelas level 3..” kata Amano-sensei dengan lantang. Semuanya saling berbisik-bisik membicarakan hal ini. Kecuali Kai yang sedikit terdiam mendengar itu. dan Uruha yang ada di sebelahnya menyenggol lengan Kai sambil tersenyum penuh arti dan sekali menaikkan alisnya. Kai pun balas senyum menutupi sesuatu dari Uruha yang sebenarnya.

“kalau begitu, kita bisa belajar bersama bagaimana?” kata Uruha merangkul Kai dengan hangat dan senyum.

“siapa takut?” Kai pun merangkul Uruha yang sudah dia anggap sebagai kakaknya sendiri. Uruha dan Kai pun tertawa kecil dan Amano melihatnya senang mereka berdua sangat dekat sekali.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Selepas jam pulang sekolah, Uruha mengajak Kai untuk mengunjungi apartemennya. Dengan sapu terbangnya masing-masing mereka segera meluncur di langit sambil tertawa lepas entah membicarakan apa yang jelas mereka memang sering menceritakan hal konyol dan sering tertawa bersama.

Apartemen Uruha tidaklah begitu besar, namun cukup rapi dan bersih. Nilai plus untuk apartemen ini lah minimalis dan tata letak barang-barangnya yang cukup efisien. Kai melihat-lihat isinya dan duduk di sofa berwarna ungu cerah, warna kesukaan Uruha. Uruha menuju dapurnya untuk mengambil botol minuman ukuran besar kemudian membawa dua gelas ke meja ruang tengah yang sekarang di tempati Kai.

“nyaman juga tempatmu..” pikir Kai tersenyum saat Uruha membawakan minuman.

“kau bisa menginap di sini kok..” kata Uruha menuangkan minuman itu ke kedua gelas.

“serius??” Kai antusias.

“iya serius, serius akan menaruhmu di lantai untuk tidur,hahahaha..” Uruha mencoba bercanda dengan Kai. Dan Kai langsung ngerasa gondok di katakan begitu.

“bercanda kok! Malam ini menginap mau ya? sambil main P.S!” kata Uruha duduk di sebelahnya Kai.

“ayok, main bola?” Kai juga menyeruput minumannya.

“ngga, mainin hatimu..” jawab Uruha ngaco.

“ohok! ohookkK!!” Kai langsung tersedak mendengar itu. dan kembali Uruha ketawa guling-guling. Uruha paling senang mengerjai Kai *aduh!*.

“tenang-tenang aku bercanda kok, piss hehehehe..” Uruha langsung mengacungkan jarinya dan kemudian Kai memukul Uruha dengan bantalan sofa empuk ke kepalanya Uruha. Uruha merasa kesakitan tapi tetap menjaga tawanya.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Malam itu, mereka main P.S dan main bola. Kegaduhan pun terjadi ketika Uruha dan Kai saling menyerang tanpa ampun dalam permainan itu. makanan berserakan seperti kacang-kacangan atau chiki-chikian tapi rasanya tidak cabe-cabean *ealah apa ini?* dan juga beberapa minuman kaleng yang sudah tinggal kalengnya saja atau hanya setengah di buka tutup kalengnya. Dan ketika Kai menang, Kai mengacungkan kedua tangannya ke atas sambil masih memegang stick P.S, dan Uruha merasa kecewa..

“yang kalah tidur di lantai~ yang kalah tidur di lantai~” ejek Kai dengan senang menari-nari kecil di sebelahnya Uruha yang masih gondok.

“makanya jangan suka tanding bola, kalah kan? huahahaha..” Kai puas sekali mengatakan itu karena balasan Uruha ngebully dia tadi siang.

Setelah bermain bola pun mereka menuju kamar Uruha dan Kai langsung menjatuhkan dirinya di kasur empuk Uruha yang sangat rapi sekali.

“mana gulingnya!” Uruha ketus karena dia kesal mesti tidur di lantai. Kemudian Kai menengok dan duduk di kasur itu. dia menepuk-nepuk di pinggir bermaksud mengajak Uruha duduk di sebelahnya.

“sini..” ajak Kai. Kemudian Uruha dengan cemberut duduk di sebelah Kai. Kai merangkul Uruha dengan hangat dan memandang Uruha dengan bersahabat.

“aku tidak akan membiarkanmu tidur di lantai. Sebagai teman baik, aku akan merangkul temanku yang kesusahan dan bersama-sama merasakan kesulitan juga saling membantu..jadi tidur berdua saja ya di ranjang ini..lumayan cukup kok..” kata Kai senyum mengeluarkan dimplenya. Uruha memandang Kai dengan sangat tersentuh karena dia punya sahabat yang sangat baik sekali. kemudian Uruha menjatuhkan punggungnya langsung ke kasur itu dan melihat langit-langit dan Kai mengikuti Uruha juga.

“aku tidak tahu harus bagaimana kalau aku akan kehilangan teman sejatiku yang satu ini, apa akan ada yang bisa membantuku dalam kesulitan?” tanya Uruha masih melihat langit-langit kamarnya.

“dia tidak akan meninggalkanmu, dia akan setia mendampingimu dalam susah dan senang..”

“sankyuu..” Uruha menoleh dan mereka bertatapan dan tangan mereka high five dan kemudian menutup mata..terlelap dalam mimpi..

Tapi aku hanya memanfaatkan ini semua, maafkan aku Uruha..

---------------------------------------------------------------------------------------------//




Masuk sekolah seperti biasanya dan saling tegur sapa adalah aktifitas rutin di sekolah ini. Pagi itu, Uruha teringat dengan naga api biru yang mereka masukkan ke kandang di belakang sekolah. Uruha melihat naga itu sedang terdiam tenang dan Uruha mengambil naga itu dari dalam kandang dan melihat naga ini sepertinya tumbuh dengan pesat karena ukuran tubuhnya sekarang lumayan membesar.

“naga api biru ini sayang kalau tidak terurus..” kata Kai menghampiri Uruha.

“hm, aku juga sedang memikirkannya, lalu kau ada ide?” tanya Uruha dengan santai. Kai melepaskan tas selempangnya dan menaruh di rerumputan dan mendekati Uruha mengamati naga api biru ini.

“bagaimana kalau kita buat cincin keabadian dari naga api biru ini?” kata Kai. Uruha mengerutkan dahinya bingung dengan perkataannya Kai.

“maksudmu?”

“jadi, naga api biru ini kita segel di dalam sebuah cincin, dengan begitu naga api biru ini bisa dekat dengan kita..dan kita bisa menjaganya dengan baik..” kata Kai tersenyum.

“ide bagus!” kata Uruha.

Kemudian Uruha meletakkan naga api biru itu di sebuah rerumputan. Naga itu terdiam celingukan karena tidak terbang. Kemudian Uruha mundur dan membiarkan Kai membacakan mantranya. Kai memejamkan matanya membaca mantra, kemudian lingkaran berwarna biru cerah pun mengitari Kai dan naga kecil itu. dari lingkaran itu muncul sebuah pusaran angin yang mengitari pula Kai dan naga itu. Kai mengangkat sebelah tangannya dan dia membuka telapak tangannya dan muncul sebuah cahaya yang sama berwarna biru cerah. Dan kemudian mengarahkan pada burung naga itu. Kai menembakkan cahaya dari telapak tangannya itu ke arah naga kecil yang tidak tahu apa-apa tersebut. Karena cahaya sangat menyilaukan, Uruha tak dapat melihatnya. Dan setelah cahaya dari naga itu redup dan pusaran angin dari lingkaran itu juga perlahan menghilang, muncul lah dua buah cincin yang tergeletak begitu saja. Uruha melihat cincin itu biasa saja. Hanya cincin berbentuk lingkaran. Namun samar-samar seperti ada api birunya. Kai meraih cincin itu dan memakainya. Kemudian Uruha menghampiri Kai..

Kai memakaikan cincin itu ke jari manisnya tangan kiri Uruha. Kemudian mereka menunjukkan cincin yang sama yang samar-samar ada api birunya. Keduanya tertawa..

“dengan ini, ikatan sebagai sahabat kita akan terjalin selamanya..” pikir Kai. Dan kemudian mereka mendengar suara bel jam pelajaran akan di mulai. Dan mereka berdua pun segera ke kelas dengan cincin yang sama melingkar di jari manis mereka masing-masing *yakali kaya nikah XDa*

---------------------------------------------------------------------------------------------//




Seminggu sudah mereka latihan bersama untuk menghapal mantra untuk ujian kenaikan kelas level 2. Uruha dan Kai sering berlatih di belakang taman sekolah. Reita kadang-kadang menengok dengan apa yang mereka lakukan saat itu. senyum Reita melengkung di saat dia melihat Uruha dan Kai saling mengajari cara bertarung dengan elang liar nantinya yang akan di jadikan ujian. Uruha dan Kai saling berlatih menyerang dan menyempurnakan bela diri mereka.

“harusnya punggungmu kurang ke bawah, kalau begini caranya kau bisa terkena semburan apinya si elang..” kata Uruha sambil menepuk punggung Uruha dari belakang. Kai terdiam, seakan dia menyimpan sesuatu dan kemudian Kai mengepalkan tangan sebelahnya tanpa sepengetahuan Uruha yang kembali berlatih ilmu sihirnya. Kai melihat Uruha dengan tatapan benci dan seakan-akan ada sesuatu yang Kai selama ini sembunyikan dari Uruha entah apa.

Dan kemudian tibalah saatnya ujian kenaikan kelas level 2 yang di adakan hari ini..

Sekolah ini selain mempunyai lapangan yang luas, mereka mempunyai satu stadium luas yang di jadikan area untuk ujian kenaikan kelas level. Stadium ini hanya di buka setiap mengadakan ujian. Stadium ini mirip seperti stadium lapangan bola dengan jumlah kursi penonton yang banyak. Saat ujian level, semua siswa menonton dan duduk di kursi sdi stadium yang melingkar itu. saat itu, Reita dan Aoi yang masih junior memasuki stadium megah yang baru pertama kali mereka lihat. Mereka terkagum-kagum melihat isi stadium ini kemudian duduk di barisan tengah agar dia bisa melihat ujian ini. Sementara seluruh siswa kelas level 2 sedang berada di barisan paling depan. Setiap per orang akan di panggil dan mereka akan menaklukan elang raksasa yang liar.

“baiklah, sebagai kepala sekolah Mahou Gakuen aku akan memberikan semangat untuk kalian, ingat bahwa ujian ini menentukan siapa-siapa yang naik kelas level dan membuktikan dirinya sudah mampu menguasai sihir sebelumnya. Dan aku berhak mendiskualifikasi jika terdapat kesamaan ilmu sihir dalam menaklukan elang raksasa nanti..” sambutan hangat dari Gakuto yang masih menjabat sebagai kepala sekolah itu berada di podium. Podiumnya di sebelah kanan dari lapangan stadium itu. kemudian semuanya bersorak termasuk Kai yang tepuk tangan dengan senyum liciknya.

“baik untuk siswa pertama, kita panggil Kai Yutaka!” kata Amano-sensei memanggil nama itu ke podiu milik Gakuto dan semua bersorak menyemangati Kai yang maju ke tengah lapangan. Uruha juga memberi dukungan dengan tepuk tangan meriah untuk sahabatnya ini.

Kemudian mereka di kejutkan dengan sebuah cahaya dadakan di langit-langit dan kemudian membentuk sebuah elang raksasa yang sedang terbang di atas kepala Kai. Elang itu bersuara nyaring sampai semua siswa yang menyaksikannya tutup telinga. Kai memandang elang itu dengan senyum menyepelekan bahwa Kai yakin dia bisa menaklukan elang ini. Dengan segera, Kai pun membuat perlawanan terhadap elang ini..

Gerakan bela dirinya, cara mengayunkan tongkat sihir saat mengeluarkan jurus sihir untuk melumpuhkn elang itu dan juga cara Kai menghembuskan kekuatan besar dari kedua telapak tangannya mirip hame-hameka *plak* membuat Uruha membulat matanya dan berdiri dengan sangat terkejut melihat itu semua.

“kenapaa...” Uruha seakan tidak percaya, jurus yang Uruha latih selama ini di copy paste oleh Kai, sahabatnya sendiri. Uruha mengingat saat mereka belajar bersama untuk menghadapi ujian saat ini. Lalu jika Kai sudah menghafal gerakan Uruha, bagaimana Uruha bisa menghadapi elang ini? Bisa-bisa Uruha di diskualifikasi karena di anggap sama dengan gerakan Kai. Uruha tidak habis percaya kenapa Kai tega melakukan ini.

“dan akhirnya Kai berhasil menaklukan elang ini dengn terkapar tidak berdaya di lapangan!” seru Amano bagai komentator di podium menyaksikan pertarungan Kai yan sangat amazing sekali. sorak riuh pun kembali memenuhi stadium ini untuk Kai yang tersenyum penuh kemenangan. Dan Uruha duduk lemas melihat semua ini.

“dan selanjutnya, Uruha Takashima!” seru Amano memanggil nama itu. tubuh Uruha seakan bergetar dia bingung harus bagaimana di lapangan nanti. Semuanya sudah di ambil Kai dan Uruha berjalan seakan terus memikirkan hal itu. tak peduli sorakan semangat untuknya. Dan dia melewati Kai yang duduk di barisan depan sambil tersenyum manis seakan dia tidak bersalah sama sekali. Uruha memandang itu dan mengepalkan tangannya sebelah dan menuju tengah lapangan. Kesal yang menimbun hatinya seakan ingin meluap namun Uruha sabar menahannya.

Uruha berhadapan dengan elang raksasa yang sekujur tubuhnya di penuhi api merah menyala dan mungkin panasnya lebih dari 60`c *ngarang XDv*. Elang itu langsung menyambar Uruha dengan semburan api yang dahsyat dan Uruha secepat mungkin menghindari dengan melompat ke kanan dan ke kiri. Uruha sedikit terpojokan dengan kondisi ini dan dia bingung harus melakukan apa. Reita juga bingung ada apa dengan Uruha kenapa tidka melakukan penyerangan. Sambil berlinang airmata, Uruha pun mengeluarkan semua jurus yang di lakukan tadi oleh Kai dan semuanya terkejut. Gakuto yang melihatnya pun seakan ada yang tidak beres. Setelah elang itu terkapar tidak berdaya, Uruha menjatuhkan dirinya seakan dia bersujud dan kepalanya menunduk menutupi wajahnya yang sedang menangis sakit hati yang mendalam. Uruha teringat saat  bermain P.S bersama kemudian belajar di belakang taman sekolah..

“Uruha, diskualifikasi..” Gakuto menyatakan itu dan semua terkejut dan langsung bergantian memandang Kai dan juga Uruha.

“ada apa ini?”

“iya kenapa bisa?”

“apa yang terjadi di antara mereka?”

Semua siswa saling bertanya ada apa dengan mereka. Sementara Uruha dengan keadaan menunduk meninggalkan lapangan dan keluar dari stadium ini. Kai yang melihatnya pun hanya diam, seakan dia membiarkan sahabatnya terpukul sendirian.

---------------------------------------------------------------------------------------------//




Kai berjalan di koridor dengan diam dan wajahnya seakan bukan menunjukkan dia. berubah menjadi seorang yang picik dan tidak memperdulikan perasaan orang lain. Namun terdengar langkah cepat dari belakang yang seakan menghampirinya,

“Kai!” seru seseorang dari belakang. namun saat Kai melihat ke belakang, sebuah pukulan keras melayang ke pipinya sampai Kai jatuh tersungkur dan punggungnya menabrak dinding yang menjadi retak karena kekuatan pukulan itu. Kai melihat itu adalah Uruha yang melakukannya dengan keemosian dan nafas tidak beraturan memandang Kai.

“apa maksudmu?” Uruha bicara melunak pada Kai. Karena Uruha ingin mendapatkan jawaban dari Kai dengan cara bicaranya. Kai bangkit dan menyeka pipinya yang terluka dan berdarah sedikit. Dia memandang Uruha seakan Uruha bukan sahabatnya melainkan musuhnya.

“aku tidak ingin kau melebihi diriku, aku ingin aku melampauimu..aku tidak terima selama ini kau sangat hebat dalam ilmu sihir dan memiliki nilai bagus sementara aku menjadi kedua di bawahmu, aku iri kau bisa menguasai segala sihir dan mempunyai kekuatan sihir yang unik ketika belajar bersama menghadapi ujian. Kenapa aku tidak bisa menjadi dirimu? Kenapa aku harus selalu di bawah dirimu?” jelas Kai dengan tatapan sinis dan sangat menyedihkan. Uruha tidak menyangka selama ini Kai selalu iri terhadapnya padahal sikapnya tidak menunjukkan sedikitpun keirian terhadapnya.

“aku memanfaatkan kebaikanmu untuk berteman denganku, aku memanfaatkan segalanya agar aku menguasai apa yang kau kuasai. Aku tidak butuh teman! Aku hanya butuh kekuatan sihir yang hebat makanya aku mendekatimu dan mencuri ilmu darimu..maaf ini aku yang sebenarnya tidak ingin di saingi siapapun sejak kecil. Dan cincin ini..ini hanya palsu semata supaya kau semakin yakin bisa berteman denganku dan aku bisa semakin mencuri ilmu darimu..” kata Kai kemudian di akhir kalimatnya memperlihatkan cincin yang ia pakai. Kai melepasnya dengan paksa dan kemudian dia membuang keluar jendela dengan sembarang dan cincin itu jatuh ke sebuah kolam air yang luas. Uruha melihat itu dan semakin sakit hati terhadap Kai.

“selamat tinggal kelas, aku akan berusaha sebaik mungkin setelah naik kelas level 3 dan menunjukkan padamu bahwa aku bisa sejajar dengan ilmu sihirmu..” kata Kai dengan sinis kemudian dia membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan Uruha yang mematung atas ucapan Kai yang membuat dia harus bisa menerima kenyataan bahwa Kai bukan sahabat baiknya. Dan Uruha melihat keluar jendela.

Di sebuah kolam yang luas, sambil menangis-nangis Uruha mencari cincin yang Kai lempar ke kolam ini. Uruha tidak peduli bajunya basah dan tubuhnya menggigil kedinginan demi mencari cincin keabadian yang ia buat dengan Kai. Sampai pada akhirnya dia menemukan dan kembali menangis.

“aku mohon Kai, berubahlah..” Uruha seakan berdoa sambil memejamkan matanya menunduk menangis. Dan cincin itu bercahaya api biru entah apa maksudnya.

---------------------------------------------------------------------------------------------//




Flashback itu membuat Uruha menangis di depan rak lokernya dengan sejadi-jadinya tanpa bersuara. Ruki yang ada di kejauhan melihat itu dengan iba. Seorang Uruha yang dingin bisa menangis kesakitan begitu. Kemudian dengan memberanikan dirinya untuk mendekati Uruha dia berjalan dengan pelan.

“apa kau teringat masa lalumu?” Ruki memegang pundak Uruha. Dan Uruha terhenti menangis dan menoleh pada Ruki. Ruki tersenyum melihat wajah Uruha di penuhi basah airmatanya dan bibir keritingnya yang habis menangis *lucu ya inget konser nameless six guns XDD*

“aku bisa baca pikiranmu, kenangan bersama Kai?” tebak Ruki dan membuat Uruha menjadi menatap Ruki.

“apa kau membutuhkan teman untuk curhat? Aku siap kok membantumu..” pikir Ruki.

“kau tahu apa tentangku, masa laluku, tentang Kai? Kau belum tentu bisa menjadi di posisiku saat ini! Kau tidak tahu rasanya di khianati teman yang sudah ku anggap bagian hidupku sendiri!” amarah Uruha meledak dan seketika meninggalkan Ruki dengan berjalan penuh keemosian. Ruki melihat ada dua cincin di rak itu dan cincin itu samar-samar ada cahaya api biru. Dan melihat ke depan bahwa Uruha sudah cepat menghilang entah kemana dia.

“aku memang tidak bisa merasakan apa yang kau rasakan saat itu dan saat ini, tapi aku tahu kau butuh seseorang untuk bisa meluapkan semua isi hatimu..tapi kau terlalu angkuh dan sok kuat di hadapan banyak orang, padahal kau ini sangat rapuh..” ujar Ruki memandang cincin itu. dan setelah mengatakan itu, cincin itu bercahaya biru tiba-tiba dan langsung menghilang. Ruki tidak mengerti ada apa dengan cincin itu yang jelas Ruki menutup rak loker Uruha dan berjalan meninggalkan loker yang menjadi saksi bisu dimana Uruha menangis sendirian dan menahan segala kekesalan dan penyesalan dalam hatinya



---------------------------------------------------------------------------------------------//