Title :: Caffeine -苦い、甘い恋-
Author :: Ikki
Kamiya -Ruru-
Genre ::
rumit (?) *plak!
Chapter:: 3/?
**********************
Festival sekolah pun semakin dekat, jadwal latihan
theater pun semakin padat. Bukan hanya anak theater saja, seluruh kelas pun ikut
berpatisipasi untuk melakukan suatu kegiatan untuk meramaikan festival nanti.
Mereka sangat antusias dengan festival sekolah tahun ini. Aoi juga semakin
sibuk mengurusi denah panggung yang akan di rancang nantinya. Mereka saling
bekerja sama dengan baik kali ini..
Hubungan Ruki dan Uruha pun semakin menjauh dengan
sendirinya. Tak ada pesan, telepon atau apapun untuk berkomunikasi. Mereka
sibuk dengan diri mereka masing2 dan menjalaninya dengan tenang. Terlebih Ruki
dan Reita sedang menghadapi masalah yang tidak biasanya mereka atasi dengan
kepala dingin kemudian mereka kembali akur lagi. Posisi mereka sedang kacau,
Ruki sudah kesal tidak pernah di ke depankan karena Reita terlalu memforsir
waktunya untuk latihan drama. Aoi yang sebagai sahabat Reita mencoba memberi
solusi agar hubungan mereka berjalan harmonis kembali..
“harusnya kau ingat, bulan ini adalah bulan ke delapan
kau berpacaran dengan Ruki.. apa kau tidak ingin masa2 bahagiamu itu di nikmati
kembali?” kata Aoi di depan Reita sedang duduk selonjoran di tengah panggung
theater sambil meneguk air botol di tangan mereka usai latihan.
“bagaimana aku mau? Dia sendiri tidak mengerti Aoi..
entah kenapa dia jadi sangat mengekangku. Latihan drama pun dia ingin aku ada
di sampingnya. Bukannya aku semangat, yang ada aku risih melihatnya dengan
tatapan cemburu..” jelas Reita. Aoi hanya bisa terdam mendengar perkataan
Reita. Memang ada benar juga, namun sepertinya ini semua salah paham dan kurang
komunikasi antara mereka. Aoi jadi pusing sendiri, di sisi lain dia ingin
membantu hubungan mereka di sisi lain dia seperti ikut campur hubungan
temannya.
“ah, aku jadi bingung nih!” kata Aoi sambil menggaruk
kepalanya.
“kau yang memberi saran saja sudah bingung, apalagi aku
yang menjalaninya..” ucap Reita sembari bangkit dan meninggalkan Aoi sendirian.
**********************
Uru sedang membuka loker pribadinya dan mendapati sebuah
coklat entah dari mana dan siapa. Saat dia menutup pintu lokernya, dia melihat
Aoi sudah menyandar di sebelahnya seperti mahluk gaib.
“ah kau! Mengagetiku saja!” kata Uru memegang dadanya dan
berusaha menenangkan dirinya.
“aku ingin pulang sekolah bersamamu, boleh?” kata Aoi to
the point.
Uru terdiam menatapnya.
**********************
“aku pesan strawberry juice..” kata Uru kemudian dia
menutup buku menu itu. Tinggal Aoi yang masih memilih2. Mereka mampir sebentar
di cafe tempat fave Uru.
“kau sudah tahu kabar Reita dan Ruki?” kata Aoi sambil
mengaduk minumannya dan menatap Uru.
“ah, memang ada apa?” kata Uru dengan tenang menyeruput
minumannya.
“katanya mereka putus tadi siang..” kata Aoi dengan
kalem. Mendadak Uru menelan minumannya dengan cepat.
“masa??”
“entahlah masalahnya apa, yang jelas beberapa minggu ini
mereka banyak bertengkar di banding jalan bersama..” jelas Aoi. Uru hanya
terdiam, kemudian dia melihat ponselnya. Tak ada pesan dari Ruki. Ruki benar2
melupakannya sebagai teman. Biasanya ketika Ruki sedang kebingungan, Ruki akan
merengek minta bertemu dan membahas masalahnya. Uru kembali menutup ponselnya
dan kembali menyeruput minumannya. Tidak menghiraukan yang terjadi pada
sahabatnya itu..
“semoga cepat selesai masalahnya.” Ucap Uru dingin.
“kau sendiri tidak pernah berkomunikasi dengan Ruki?”
“tidak.sibuk masing2.”
“o-oh..”
Aoi meneguk kembali minumannya dan melihat Uru yang
menjadi diam tanpa sebab.
**********************
Aoi dan Uru berjalan berdampingan di pinggir kota dalam
suasana malam yang indah. Masih mengenakan seragam, mereka berjalan santai.
Kemudian di saat mereka berhenti di sebuah gang yang sepi. Aoi menghentikan
langkahnya, dan Uru juga ikut berhenti.
“ada apa?” tanya Uru bingung. Aoi menoleh dan menatapa
Uru dalam.
“aku mau bicara denganmu, boleh?”
“ka-katakan saja..”
“kau menganggapku apa?”
Pertanyaan itu sontak membuat Uru kaget dan dia membuang
wajah. Uru bingung dengan jawabannya.
“katakan saja, aku tidak akan marah..” kata Aoi mendekati
wajah Uru. Ketika Uru menoleh, bibirnya hampir menyentuh bibir Aoi. Uru
berjalan mundur, namun sayang ada dinding yang menahan punggungnya. Mata Uru
yang masih terbuka lebar itu melihat jelas Aoi menghimpit tubuh Uru. Tangan
kiri Aoi menahan di dinding. Mata mereka benar2 saling menatap dengan intens..
“masa pendekatanku ingin aku akhiri malam ini, apa kau
mau jadi pacarku?” kata Aoi dengan jelas dan tersenyum. Kembali, jantung Uru
berdegup cepat.
“tap-“ belum sempat mengatakan, bibir Uru di bungkam Aoi.
Mereka berciuman di bawah sinar bulan yang hanya menerangi jalan gang tersebut.
**********************
Ruki duduk di ranjangnya dengan pandangan kosong. Tak
sengaja, matanya melihat bingkai foto yang ia simpan di atas meja belajarnya.
Foto ketika dia ultah. Ruki meraihnya karena jaraknya dekat. Dia memandangnya,
air matanya kembali mengalir. Dan dia membanting bingkai tersebut sampai pecah.
Tangisan Ruki pun semakin menjadi..
“aku tidak mau berpisah Reita!!” serunya di iringi
tangisan.
Selang dua bulan pasca mereka putus, Ruki lebih sering
jalan sendiri. Memang, Ruki akui dia belum bisa melupakan Reita dengan begitu
saja. Karena mereka masih satu sekolah. Ruki menjalani harinya dengan teman2nya
ketimbang dengan Uru sahabatnya. Ruki dan Uru sudah jarang bertemu bahkan tidak
sama sekali. Mereka sudah sibuk masing2 dengan festival sekolah nantinya..
Aoi dan Uru pun sudah sering bersamaan, baik pulang
sekolah atau istirahat. Semua berjalan di luar dugaan mereka. Karena memang,
hidup ke depannya tidak akan pernah ada yang tahu.
“huft...” Uru langsung membaringkan tubuhnya dan matanya
memejam sebentar untuk melepas semua lelahnya. Sebuah pesan singkat masuk ke
ponselnya dan membuat Uru membuka matanya dan segera merogoh ponsel itu dari
saku celananya. Di lihatnya, Aoi mengucapkan oyasumi dan di beri emoji kecupan
lembut. Uru tidak bereaksi sama sekali, tidak seperti kebanyakan orang ketika
berpacaran..
“kenapa kau menganggapku sebagai pacar?” tanya Uru sambil
menatap langit2 dan ponselnya ia letakan sembarangan di samping tubuhnya.
Dua bulan ini pula, Uru memang tidak pernah mengatakan
suka atau apapun. Dia menjalani harinya dengan Aoi seperti orang pacaran
kebanyakan. Namun, dia melamun sebentar..
“bukankah aku jahat?” kata Uru bangun dari tidurnya
sambil melamun. Kemudian dia mencoba menelpon Aoi,
“iya, ada apa? Apa
terjadi sesuatu?!” Aoi menyaut dengan khawatir.
“hm, tidak.. aku baik2 saja, aku hanya ingin menanyakan
sesuatu padamu..”
“tanya apa?”
“kenapa kau mengirim pesan dengan emoji kecupan?”
“karena aku
mencintai dan menyayangimu Uru..”
Airmata Uru jatuh, dan meremat celananya seakan ia
menyesali sesuatu yang menyakitkan dadanya. Uru bingung mesti mengatakan apa..
“kenapa diam? Apa
kau gugup aku mengatakan begitu?hehe..”
“tidak, aku malah ingin berterima kasih..” Uru menahan
isak tangisnya dan berusaha untuk tersenyum, walaupun ia tahu kalau Aoi tidak
akan mengetahui keadaan dia saat ini.
“cepat tidur ya,
oyasumi baby..”
Uru menutup telponnya dan kembali menangis. Kali ini,
dadanya seakan sesak dan dia kebingungan dengan perasaannya saat ini. Dia
meringkuk dan menenggelamkan kepalanya di antara kedua lututnya. Menangis
dengan perlahan..
**********************
Keesokan harinya Ruki datang ke sekolah sambil memegang
kedua tali tas gandongnya. Tak sengaja, dia melihat Uru dari kejauhan yang
sedang membaca sesuatu. Langkah Ruki terhenti, kemudian dia melihat Uru belok
ke kanan dan membuat Ruki menghela nafasnya.
Sementara itu Uru sampai di kelasnya dan segera merogoh
saku tasnya dan mengambil ponselnya yang tadi lupa terbawa olehnya. Dia melihat
pesan, dan Uru membulatkan matanya ketika ia tahu kalau pesan itu datangnya
dari Reita.
“hai, apa kabarnya?
Bagaimana persiapan kelasmu untuk festival nanti?”
Jelas, ini membuat Uru terlonjak hatinya karena mereka
hanya berhubungan ketika Ruki ultah dan Reita memintanya untuk pergi menemani
membeli kado. Dan kejadian itu hampir beberapa bulan yg lalu. Uru tak
membalasnya, dia berlari ke beranda kelasnya dan melihat ke bawah, tepatnya
lapangan sekolah. Dia tidak melihat siapapun, namun saat dia melihat ada
seseorang sedang di bawah pohon duduk santai di sebuah kursi kayu panjang,
matanya mulai fokus memandang. Uru tersenyum melihat seseorang itu sedang duduk
di bawah pohon memegang ponselnya.
“kita bisa pergi
seperti saat membeli kado? Ke rumah kaca? Ku dengar akan ada cahaya bulan penuh
dan terlihat indah..aku ingin mengajakmu ke sana..”
Uru kembali melihat ponselnya, membaca pesan singkat itu.
“ada apa dengan Reita yang mendadak begini?” ucap Uru
dalam hatinya lalu memandang Reita kembali dari jarak jauh sana.
“apa dia kesepian setelah putus dengan Ruki?” kata Uru
dalam hatinya.
**********************
“ok, latihan kali ini selesai.. besok kita akan coba
dengan kostumnya, jangan terlambat ya..” Aoi mengumumkan itu di panggung
theater usai latihan. Reita hanya diam melamun melihat ponselnya. Tak ada
balasan dari Uru. Dia kembali mengantongi ponselnya dan meninggalkan ruang
theater tersebut.
Bel pulang sekolah sudah berdering. Uru segera
membereskan tasnya dan menuju perpustakaan untuk mengembalikan buku yang ia
pinjam. Dan tidak sengaja, dalam lorong dari kejauhan dia melihat Ruki keluar
kelas. Lalu Reita menghampirinya dan mereka berpegangan tangan.
“hah? Bukannya sudah putus? Kenapa dia berpegangan
tangan??” tanya Uru bingung. Langkah Reita dan Ruki pun menuju ke arahnya.
Cepat2 Uru mengumpat di balik tembok dan membiarkan mereka melewati tembok yang
menjadi tempat persembuyian Uru.
“iya, aku ingin makan itu sudah lama,haha..” kata Ruki
dengan riang, Reita pun tersenyum.
Mendengar itu, Uru mengerutkan keningnya. Dia jadi
bingung dengan hubungan pada mereka berdua.
“masa bodohlah, bukan urusanku!” ketus Uru kemudian dia
menuju perpustakaan. Di sana ia bertemu dengan Aoi. Uru terdiam, bingung mau
menghampiri atau tidak.
“hey, Uru.. tumben kau ke sini..” ucap Kai. Uru bangun
dari sadarnya dan hanya bisa tersenyum aneh.
“ah, ini ada buku yang harus ku kembalikan..” jawab Uru.
Mendengar itu Aoi mengalihkan pandangannya ke arah pintu masuk. Senyumnya
menjadi lebar dan dia buru2 menghampirinya.
“bagaimana tidurmu semalam?” Aoi mengacak2 lembut kepala
Uru. Uru hanya terdiam.
**********************
“tadaima..” Aoi membuka pintu apartemennya. Dan Uru baru
pertama kalinya datang ke apartemen Aoi. Uru memperhatikan tiap desain
apartemen Aoi. Cukup menarik dan minimalis juga bersih.
“masuklah ke dalam, duduklah aku buatkan minuman..” kata
Aoi masuk ke dalam menyalakan lampu ruang tengah. Uru masuk dan duduk di sofa
yang menghadap pada TV.
“orangtuamu kemana?” kata Uru bingung.
“ini apartemen pribadiku..mereka jarang berkunjung,
karena sibuk bekerja..” kata Aoi.
“kau kesepian?” pikir Uru.
“kan ada kau...” Aoi langsung ke dapur meninggal Uru yang
sedang berwajah memerah. Dia duduk di sofa dan melamun. Matanya kemudian
melihat ke arah dapur..
“aku harus mengatakannya, sebelum semua menyakitkan..”
kata Uru dalam hatinya.
“ini minumannya, maaf apartemennya minimalis, aku tidak
suka banyak barang..” kata Aoi memberikan orange juice pada Uru. Uru memegang
gelas itu lalu meneguk sedikit dan menaruhnya ke atas meja. Dia kembali diam,
ingin mengatakan sesuatu tapi Uru takut.
“hm, kau suka nonton apa?aku banyak film..” kata Aoi sambil
lesehan menuju kotak penyimpanan kaset dvd, dan Aoi memilih2. Uru menghela
nafasnya melihat Aoi dari belakang.
“aku yang pilih..” kata Uru kemudian ikut turun lesehan
dan mencari dvd film kesukaannya. Uru tak sengaja menjatuhkan tumpukan dvd dan
membuat berceceran di lantai. Niatnya, Aoi membantu membereskan. Namun, tangan
mereka saling menyentuh dvd yang sama. Mereka bertatapn lama, membuat Aoi
mendekati dan juga menarik tangan Uru. Bibir itu kembali bersentuhan kali ini
berbeda. Aoi mencoba untuk menguasai di dalam mulut Uru. Tangannya pun bergerak
untuk memegang wajah Uru dan memperdalam kecupan itu. Namun sayang Uru
menghentikannya.
“Un,” kata Uru langsung menutup mulutnya dengan punggung
tangan dan mengalihkan pandangannya.
“kenapa? Bukankah ini kesempatan berdua kita? Di luar
sana kita tidak bisa sebebas ini..” kata Aoi.
“tapi-“ belum selesai bicara Aoi sudah memeluk Uru dan
kepalanya menahan di bahu kanan Uru. Aoi mengecup bahu Uru dan Uru berusaha
mendorong tubuh Aoi.
“Aoi hentikan..hm...” Uru menahan rintihannya dan Aoi
terus melakukan aksinya. Lidah Aoi mulai menjiat leher Uru. Dan air mata Uru
tertahan, dia mencoba menghentikan nafsu Aoi.
“jangan Aoi! Aku mohon! Hentikan!” kata Uru. Air mata itu
jatuh ketika Uru memejamkan matanya untuk tidak melihat perlakuan Aoi padanya.
Aoi menghentikan dan melihat Uru menangis sambil menutupi wajahnya dengan
punggung tangan kanannya.
“U-Uru..??” Aoi sontak kaget. Cepat2 Aoi memeluk Uru dan
menyadari kesalahannya.
“ma-maafkan aku, aku janji tidak akan mengulanginya lagi!
Apa kau ketakutan??” Aoi menjadi cemas setengah mati mendengar tangisan Uru
semakin keras.
“maafkan aku Uru, maafkan...” Aoi memeluknya semakin
erat.
**********************
Malam ini cukup indah. Bintang yang berserakan di langit
membuat hamparan langit sangat indah. Semua mata memandang, tidak terkecuali
Ruki yang sedang duduk di taman kota memandang langit sambil tersenyum.
“indah ya..” kata Ruki. Saat itu Reita sedang ada di
sampingnya. Dia ikut melihat langit dan tersenyum sedih.
“tapi tidak seindah waktu kita berdua..” kata Reita. Ruki
langsung menoleh pada Reita.
“kau masih ingat saat2 kita bersama?” tanya Ruki.
“bukan hal mudah melupakan kenangan 8 bulan yang
lalu..bukan tulisan pensil yg bisa di hapus dengan penghapus karet sampai
bersih...” kata Reita memandang langit. Ruki tersenyum sedih dan menunduk
sebentar. Ruki melihat ke sekitar banyak orang yang sedang pacaran. Lama2
airmatanya menumpuk melihat semua pasangan saling bercanda ria.
“apa kau tidak menginginkan seperti itu lagi?” kata Ruki
sambil melihat ke sebelah kiri. Melihat sepasang kekasih sedang makan takoyaki
dengan romantisnya. Reita mengalihkan pandangannya dan melihat apa yang Ruki
lihat. Reita menyadari Ruki sedang menangis. Reita ingin meraih bahu itu dengan
tangan kanannya, namun tangannya terhenti. Dia meremat tangannya dan
mengurungkan niat untuk meraih bahu Ruki. Reita memilih mengalihkan
pandangannya. Menahan air mata yang menurutnya tidak mengesankan.
“itu tidak sama seperti sekarang..” kata Reita dengan
menguatkan hatinya. Ruki kembali menangis tanpa bersuara agar Reita tidak
mengetahui.
“suatu saat aku ingin seperti itu lagi, walaupun tuhan
belum berkenan..” ucap Ruki. Membuat Reita memejamkan matanya kembali
menjatuhkan air matanya.
**********************
Reita mengantarkan Ruki pulang ke apartemennya. Mereka
berhenti di sebuah perempatan jalan yang berbeda. Ruki menghentikan langkahnya
dan kemudian Reita menoleh.
“sampai di sini saja kau mengantarkanku..” kata Ruki
menatap mata Reita dengan senyum ringan.
“oh, baiklah..” Reita mengangguk pelan.
“arigatou..” tubuh Ruki menghadap pada Reita. Reita pun
menghadap padanya.
“aku berharap kita masih bisa bersama jalan2 seperti
tadi.. walaupun aku tahu, kita sudah berpisah..” kata Ruki menahan sesak di
hatinya. Reita menatap Ruki dengan sedih.
“hati2 di jalan ya..” kata Ruki kemudian dia meninggalkan
Reita yang masih mematung memandang tubuh mungil Ruki yang menjauh darinya.
**********************
Uru datang ke sekolah dengan pandangan kosong. Masih
teringat jelas ketika Aoi hampir hilang kendali terhadap dirinya. Uru berhenti
sejenak dan menoleh pada mading di sebelah kanannya. Dia melihat ada poster,
berjudul ‘namida,surprise!’ sebuah acara valentine day untuk mengungkapkan
perasaan pada seseorang. Semua siswa di wajibkan.. dan Uru mulai berpikir,
“suatu saat hubunganku dengan Aoi akan terbongkar..” kata
Uru dalam hatinya.
“secepatnya aku harus mengatakan yang sebenarnya..” pikir
Uruha kemudian dia pergi menuju kelasnya.
**********************
No comments:
Post a Comment