Title : Argeza
Genre : fantasy,action,comedy,life,
nano-nano dah pokoknya XDDD
Cast : utamanya
Gajet yang lain numfang hehehehe..
Eps : 11
*cieeee sok anime
---------------------------------------------------------------------------------------------//
♡。゚.(*♡ Virus DIS ♡*)゚♡ °・
Mungkin,
kehidupan Uruha tidak banyak ada yang tahu. Termasuk teman-teman sekolahnya,
hanya beberapa. Kai, yang dia jadikan sahabat bahkan seseorang yang menjadi
penting dalam hidupnya pernah singgah di sini. Tapi itu adalah masa lalu, Uruha
kemas menjadi suatu kenangan manis yang berakhir buruk. Dia juga tidak pernah
akan menyangka, wajah manis Kai menyimpan suatu fakta yang membuat dirinya dan
Kai sekarang jauh. Mungkin kasarnya mereka seperti tidak kenal satu sama lain~
Di
apartemen yang sederhana ini, Uruha sebenarnya tinggal dengan kakaknya, Ibuki.
Namun kakaknya memilih bekerja sebagai karyawan perusahaan biasa ketimbang
mengikuti sekolah sihir yang di jalani adiknya sekarang. Ibuki selalu pergi di
pagi hari dan pulang di larut malam. Sementara orangtuanya sudah cerai dan
mereka memilih untuk hidup berdua di sini. Tapi semenjak kejadian dia di
khianati oleh Kai, Aoi lah yang selalu menemaninya dan Uruha hanya bisa percaya
padanya sampai sekarang. Aoi sudah dua kali mengunjungi apartemen ini hanya
untuk menemani(?) Uruha dalam kesepiannya.
Dan
di hari ini pun, Aoi sengaja duduk manis di sofa merapatkan kedua kakinya.
Bersiul santai sambil memandang langit-langit ruang tengah apartemen Uruha.
Suara ketukan langkah kaki yang terdengar terburu-buru seperti berasal dari
lantai dua. Dan Aoi melihat ke arah sudut kiri di tangga menuju lantai dua,
Uruha sedang turun terburu-buru.
“ah,
gomen lama menunggu!” Uruha merasa bersalah saat menghampiri Aoi memandangnya
polos dan menghentikannya siulannya. Uruha sudah siap dengan seragam sekolah
sihirnya dan tatanan rambut semenarik mungkin.
“ah
tidak apa. Kita pergi sekarang?” kata Aoi sambil berdiri di hadapan Uruha.
Uruha mengangguk, kemudian mereka pun menuju luar apartemen. Aoi menjetikkan
jari dan memunculkan karpet terbangnya sementara Uruha diam di belakang Aoi.
Aoi melirik bingung ke arah Uruha.
“nebeng
ya? sapu terbangku belum di cuci..” kata Uruha sembari memegang kedua pundak
Aoi dari belakang dan sedikitmemajukan kepalanya dan matanya melirik mata Aoi
dengan setengah memohon.
“bayarlah
dengan memeluk pinggangku. Ok?” kata Aoi dengan santai naik karpet terbangnya.
Uruha mendengus mendengar perkataan Aoi. Lalu Uruha duduk di belakang Aoi dan
tangannya melingkar di pinggang Aoi. Persis seperti sedang naik motor. Kepala
Uruha tertahan di pundak kiri Aoi dan memejamkan matanya
“biarkan
aku tidur sebentar, semalam begadang..” kata Uruha dalam memejamkan matanya.
“makanya
kalau memikirkan aku jangan sampe begadang..” pikir Aoi cuek melihat ke depan.
PLAK!
“ittai!” seru Aoi yang merasakan jitakan tangan Uruha mendarat di kepalanya
walaupun Uruha tetap dalam keadaan tertidur di pundak.
Dan
saat itu Uruha tidak sadar, mahluk sebesar bola kelereng berwarna hitam dengan
duri-duri kecil di sekujur tubuh mahluk tersebut masuk ke dalam leher sebelah
kiri Uruha dengan mudah dan tidak terasa sama sekali seperti hembusan angin
biasa..
---------------------------------------------------------------------------------------------//
“Ohayou!!”
seru Amano-sensei datang ke aula dan melihat semua siswa berkumpul dengan
kelompoknya.
“Ohayou
sensei!!” kompak para siswa menyambut guru tamvan yang satu ini *plak.
Amano
langsung menuju tempat meja yang berada di tengah hadapan semua siswa. Di meja
itu terdapat 3 tumpukan buku tebal berwarna coklat tua, jingga dan coklat muda.
Amano memakai kacamata andalannya dengan menyentuhkan jarinya di sisi mata
kanannya dengan jari telunjuk. Secara ajaib, Sensei sudah memakai kacamata
tersebut lalu mengambil buku paling atas berwarna coklat muda dan membuka
halaman 285.
“tolong
buka halaman 285..” kata Amano masih fokus pada materi yang ia sebutkan tadi.
Tiap-tiap kelompok yang duduk satu meja di beri buku tebal itu satu dan di
simpan di tengah supaya adil dan merata(?). Kai mengulurkan tangannya dan
membuka halaman itu dengan segera.
”pertahanan?”
Ruki bingung membaca judul materi itu yang tertera cukup besar.
“maksudnya
kita di latih pertahanan, begitu?” ucap Uruha menebak. Dan otomatis ke empat
member lainnya menatap Uruha. Namun mereka setengah mati kaget tanpa bersuara
ketika kulit Uruha berubah menjadi putih pucat seperti mayat.
“Uruha!”
kata Reita dengan suara pelan tapi tetap saja kaget.
“hey,
kalian! Bisakah tidak berisik?” kata Amano risih dengan suaranya Reita yang
ternyata terdengar dan membuat pandangannya Amano serta yang lainnya ke arah
meja kelompok tersebut.
“Ah!
Uruha!” Amano juga menyadari kulit Uruha menjadi pucat sementara Uruha sendiri
bingung kenapa kulitnya menjadi begini dan melihat-lihat terus bagian
tangannya. Amano langsung menghampiri Uruha dengan langkah cepat dan panik.
Amano memegang kening Uruha dan mendeteksi suhu tubuhnya. Uruha terdiam bingung
dengan kejadian ini. Siswa yang lain berbisik membicarakan tentang kejadian
ini.
“kau
demam Uruha! Ikut aku ke ruang kesehatan!” seru Amano setelah fix menyatakan
Uruha demam hanya lewat memegang keningnya.
“demam?
Demam bagaimana aku merasa sehat begini?!” Uruha jelas menolak pernyataan itu
karena dia memang merasakan dirinya baik-baik saja dan langsung mencoba
memegang lehernya dengan punggung tangan kanannya benar, suhu tubuhnya
meningkat tidak biasanya.
“ikutlah!”
Amano kemudian merangkul Uruha. Dan otomatis Uruha berdiri dan mengikuti Amano
sambil masih di rangkul Amano.
“tidak
biasanya Uruha sakit begitu..” ujar Kai yang memang dia tahu siapa Uruha. Semua
mata tertuju melihat Amano dan Uruha menuju pintu keluar. Amano memandang pintu
keluar dan dengan sorot matanya dia membuka pintu tersebut. Pintu terbuka dan
saat Amano sudah keluar, pintu menutup sendiri dan membuat aula kegaduhan
karena Uruha yang mendadak sakit dengan tidak wajar.
“ada
apa ini? Tidak biasanya sekali..” kata Shin menyadari suasana ini.
---------------------------------------------------------------------------------------------//
Kamijo
berjalan cepat di dampingi Koichi menuju ruang kesehatan. Pintu terbuka sendiri
ketika Kamijo masuk ke dalam dan melihat Uruha sedang duduk di atas ranjang
dengan keadaan baik-baik saja. Uruha dan Amano melihat Kamijo yang panik
menghampiri mereka berdua yang sedang berhadapan.
“Uruha!”
Kamijo melihat wajah bahkan kulitnya semakin pucat seperti mayat. Kamijo
memeriksa kening Uruha dengan perlahan dan mendeteksinya.
“dia
tidak demam..apa jangan-jangan..” Amano berpikir ada sesuatu yang terjadi pada
Uruha saat ini. Kamijo, Amano dan Koichi saling berpandangan bergantian.
“ada
apa sih? Jelaskan donk!?” Uruha mulai kesal.
Sementara
itu gedung Des Fleur sekarang dalam keadaan panik. Sebuah grafik yang menunjukkan
tingkat sistem Argeza, sekarang menurun dari 11 menjadi 70. Tim pemantau
mencari-cari benda ataupun mahluk yang telah menembus pertahanan Argeza. Gakuto
sendiri sibuk menghubungi kepolisian
negara untuk menyuruh mereka segera beraksi untuk maju ke medan perang setelah
semua sudah terlihat, kalau Argeza sudah tidak dapat bertahan kembali.
“presdir,
aku meminta kerahkan seluruh kepolisian udara untuk menebarkan vaksin berupa
serbuk bunga yang sudah di rancang khusus..kemungkinan beberapa mahluk kecil
yang kasat mata sudah berada di wilayah kita..” ucap Gakuto dengan tenang meski
pikirannya sedang panik.
“baiklah, aku segera laksanakan..” ucap
presdir pertahanan negara di telpon itu kemudian Gakuto menutup telponnya dan
menghela nafasnya.
Teru,
masuk ke dalam ruangan Gakuto dan membawa dua buah kertas print-an yang
berisikan grafik dan juga penggambaran Argeza saat ini.
“Kamijo-sama!
Ini!” Teru segera menyerahkan itu dan Gakuto melihatnya.
“mahluk
DIS itu sudah memasuki wilayah pertahanan kita yang sudah memburuk. Ini ancaman
awal bahwa warga bisa terkena dampaknya..” kata Teru. Gakuto terdiam dan
berpikirkan sesuatu..
---------------------------------------------------------------------------------------------//
Presdir
sudah mengeluarkan perintah kalau seluruh kepolisian udara sekarang waktunya
untuk melindungi masyarakat Argeza dari dampak mahluk DIS yang berbahaya itu.
di langit yang tidak begitu cerah, ratusan polisi menaiki elang untuk
menyebarkan serbuk bunga di langit. Mereka melayang-melayang dan membuat semua
masyarakat terpana dengan fenomena alam yang tidak biasanya. Mpon, sepupunya
Ruki pun memandangi fenomena ini dengan berdiri di jendela kamar Ruki. Mpon
melihat polisi yang mengenakan seragam putih biru seperti militer itu menaiki
elang yang gagah dan menaburkan serbuk bunga berwarna putih dari dalam sebuah
kantong plastik khusus. Lama kelamaan, langit ini berubah. Warna putih efek
serbuk tersebut seperti kabut di langit.
Kamijo
yang ada di ruang kerjanya itu setelah menengok Uruha, melihat warna langit
yang tidak biasanya lewat jendela yang ia buka lebar. Kamijo penasaran dengan
apa yang melayang di langit itu dan mencoba untuk mencari tahu dengan
mendekatkan ke jendela tersebut. Kamijo kaget melihat itu dan Kamijo bisa
merasakan kalau Argeza nampaknya sudah mencapai tingkat ‘bahaya’ saat ini.
“lihat
itu!” seru Saga menunjuk langit saat ia berada di koridor. Semua siswa yang
selesai jam makan, mendadak berhenti dan melihat fenomena alam ini yang tidak
biasanya. Termasuk Reita yang ada di belakang Saga.
“sistem
pertahanan Argeza sebegitu darurat kah? Hingga menurunkan seluruh pasukan
kepolisian udara?” ucap Saga dengan berpikir.
Uruha
melihat pula kejadian ini dari balik jendela ruang kesehatan. Dia juga nampak
bingung dengan keadaan seperti ini. Kemudian dia melihat kulit tangannya
semakin pucat sekali dan dia jadi sedikit khawatir dengan keadaannya. Uruha pun
keluar dari ruang kesehatan padahal Kamijo melarang keras dia untuk kemana-mana
karena Kamijo sedang mengambil buku mantra menetralisir apa yang terjadi di
dalam tubuh Uruha. Ketika Uruha keluar dari pintu ruang kesehatan yang membuka
sendiri itu, Uruha belok ke kiri dengan langkah cepat, tepat saat itu Kai baru
muncul dari sebuah koridor kanan dan melihat punggung Uruha yang belok ke kiri.
“URUHA!!”
seru Kai mengejar Uruha dengan panik.
“kemungkinan Uruha terkena virus DIS, kita
harus secepatnya menolong. Kalau tidak, nyawanya akan melayang..”
Kai
mendengar percakapan tidak sengaja itu ketika dia melewati ruang kepala sekolah
dan mengira itu percakapan Amano dan Kamijo di dalam ruangan tersebut. Kai
sedikit tahu tentang mahluk DIS yang memang membahayakan itu. maka dari itu,
dia langsung menuju tempat Uruha di ruang kesehatan.
Uruha
yang hendak turun tangga, terhenti sejenak karena mendadak dirinya sulit
bernafas. Uruha memegang dadanya dan sedikit meremat seragamnya dan entah
kenapa jadi semakin sulit bernafas. Uruha menjatuhkan dirinya seperti berlutut
dengan cucuran mimisan dari hidungnya yang menetes ke lantai. Uruha kaget kenapa
dia mengalami ini. Kesulitan bernafasnya membuat dia kesakitan. Dan ketika Kai
sudah menemukan Uruha dalam keadaan begitu, Uruha langsung pingsan di tempat
dengan ceceran darah dari hidungnya.
“URUHA!!!”
---------------------------------------------------------------------------------------------//
Semua
siswa berbondong-bondong ke depan gerbang utama sekolah ini. Satu ambulance
sudah membunyikan sirine nya yang membuat semua siswa khawatir apa yang terjadi.
Kamijo, Amano, Kai, Reita, Aoi dan Ruki ikut menemani Uruha ke rumah sakit
pusat untuk menolong Uruha. Koichi hanya bisa menenangkan keadaan dengan
melarang siswanya untuk mendekati ambulance tersebut.
“Koichi-sensei,
ada apa dengan Uruha??” tanya Shin dengan khawatir.
“Uruha
terkena dampak virus DIS, tanda-tandanya adalah kulit pucat, sulit bernafas,
mimisan dan pingsan. Jika dia tidak tertolong selama dua jam, nyawa Uruh akan
melayang dengan sangat konyol hanya gara-gara sebuah virus bodoh itu..” kata
Koichi sambil melihat ambulance-nya sudah pergi sedikit menjauh dari mereka.
“berarti
yang di langit itu-“
“bukan,
kepolisian sedang menebarkan serbuk bunga supaya DIS bisa musnah..dan tidak akan ada korban lain selain Uruha..”
ucap Koichi dengan jelas.
“malang
sekali Uruha..” ucap Ryouga.
---------------------------------------------------------------------------------------------//
Rumah
sakit dengan teknologi tinggi ini gedungnya klasik berwarna krem dengan
ukiran-ukiran eropa yang menjadikan bangunan ini sedikit artistik. Uruha
langsung di beri alat bantuan pernafasan dan membawanya ke ruang UGD dengan
segera. Sementara yang lainnya menunggu di ruang tunggu dengan sangat khawatir
tinggi.
“semoga
dia bisa di selamatkan..” ucap Kamijo berharap sekali.
Selama
dua jam, Uruha menjalani pemeriksaan. Dan selama dua jam itu, Kai bolak-balik
dengan khawatir. Ruki tidak biasanya memperhatikan Kai sedekat ini. Ruki
melihat Kai yang begitu cemas bahkan mungkin bisa saja mengeluarkan airmata
secara tidak sadarkan diri. Ruki berdiri dan memegang tangan Kai untuk
menghentikan dirinya yang bolak-balik terus.
“aku
tahu kau sedang cemas sekali terhadap Uruha..bisakah kau tenangkan diri?” kata
Ruki dengan bijak.
“DIS
itu berbahaya Ruki! Taruhan nyawa!” seru Kai dengan raut wajah cemas dan
ketakutan.
“lalu
kalau taruhan nyawa, apa urusannya denganmu? Bukankah kau tidak peduli dengan
Uruha? Kalaupun Uruha mati, bukankah kau merasa tidak punya saingan? Ups,
maaf.. kata-kataku frontal..maaf sekali~” Ruki sedikit menyindir hubungan Kai
dan Uruha yang sampai saat ini tidak baik.
“jauh
di lubuk hatimu, kau menginginkan hubungan itu kembali,kan?” tebak Reita yang
menatap Kai. Kamijo dan Amano saling pandang dan melihat ke arah Reita. Kai
terdiam, matanya kosong memandang ubin lantai dan mengepalkan tangan kanannya.
“kalau
kau benar-benar ingin hubungan itu kembali, ini saatnya kau harus
menolongnya..dan selamatkan dia..” ujar Aoi menambahkan. Kai memandang
bergantian Reita, Kai, Aoi dan Ruki.
“good
luck!” ucap Amano tersenyum pada Kai. Dan Kai melihat senyum Kamijo dan Amano
adalah dorongan untuk dirinya bisa memperbaiki hubungan itu.
“siapa
yang mewakili Uruha di sini? Ada yang ingin aku bicarakan..” kata dokter yang
tiba-tiba muncul. Dan saat itu, Kamijo maju ke depan.
“saya..”
“baiklah,
ikut saya keruangan..”
Kamijo
pun mengikuti langkah dokter yang bertubuh tinggi dan berbadan proposional.
Ruangan yang jaraknya tidak jauh itu menjadikan keduanya berbicara privat
mengenai keadaan Uruha..
“Uruha
saat ini positif terkena virus DIS. Tapi dia sudah di beri obat penetralisir
nya yang sudah pemerintah sediakan.. tapi, Uruha akan membutuhkan waktu yang
lama untuk pulih. Bahkan untuk bangun dari pingsannya bisa sekitar dua minggu.
Ini sama dengan koma..” jelas dokter itu duduk di tempat kerjanya. Kamijo duduk
berhadapan dengan dokter dengan berpikir.
“jalan
apa yang bisa menyelamatkan Uruha dengan cepat?” tanya Kamijo.
“virus
DIS itu harus di keluarkan dari lehernya dengan cara di hisap dari leher
seperti vampir. Tapi orang yang melakukan itu, kemungkinan terkena resiko akan
mengalami sakit badan yang hebat..kecuali orang itu sudah minum penawar DIS
jadi saat di hisap, DIS akan terhisap dan kemudian di muntahkan dalam keadaan
mati total..” jelas dokter tersebut. Kamijo sedikit memikirkan tentang hal ini.
Dia harus bisa menemukan orang yang bisa melakukan cara ini, tapi siapa?
“baiklah,
akan aku pertimbangkan semuanya..terima kasih..saya akan menengok Uruha dengan
anak-anak yang lain..” Kamijo berdiri dari duduknya, memberi salam hormat
membungkuk kemudian balik badan kembali menuju teman-teman Uruha yang sedang
mencemaskan keadaan genting ini.
---------------------------------------------------------------------------------------------//
“hah?!
Kenapa harus aku yang melakukannya?” kata Ruki kaget saat bicara berdua dengan
Kamijo di taman rumah sakit yang sangat sejuk dengan banyak pepohonan dan daun
berguguran.
“hanya
kau yang bisa..kau selalu mempunyai kekuatan yang tidak terduga saat keadaan
genting begini, tidakkah kau ingin membantu teman sendiri?” ujar Kamijo menatap
Ruki yang mini(?) itu di hadapannya dengan memohon dengan lembut.
“bukannya
aku tidak mau menolong, aku tidak tahu bagaimana mengeluarkan kekuatan yang
selalu tiba-tiba tanpa aba-aba terlebih dahulu..lagipula aku manusia biasa,
tidak selalu sempurna dalam sebuah kekuatan..” kata Ruki dengan matang. Kamijo
langsung memegang kedua pundak Ruki dan membungkuk sedikit mensejajarkan
tubuhnya dengan Ruki yang kecil itu.
“kau
masih belum mengenal dirimu sendiri?” Kamijo menatap dalam mata Ruki yang
berwarna coklat hazel kecil.
“mengenal?
Maksudnya?” Ruki yang polos bingung dengan perkataan Kamijo. Kamijo melepaskan
tangannya dan menghela nafas sedikit menjauh dari Ruki dan berbalik badan
membelakangi Ruki.
“kau
ada hubungan dengan Wataru..” kata Kamijo. Mata Ruki membelalak kaget dengan
ucapan itu. Ruki kembali mencerna perkataan itu. barangkali dia salah
mendengar.
“haha!
Jangan kau jadikan ini alibi supaya aku bisa membantu Uruha! Dan siapa Wataru?
Aku tidak kenal!” Ruki menolak ucapan Kamijo karena tidak masuk akal.
“kau
memang tidak mengenal siapa Wataru, tapi darahmu adalah sebagian
darinya..apakah kau tidak sadar memiliki kekuatan yang tidak di sangka-sangka
seperti saat itu?” ungkap Kamijo menatap Ruki. Ruki terdiam. Benar katanya,
Ruki selalu mendadak mendapatkan kekuatan itu entah darimana. Tapi kenapa harus
di hubungkan dengan Wataru? Si pemuda di masa lalu yang membuat kristal Argeza?
“aku
tidak mau tahu dan tidak mau dengar kata-kata itu lagi!” Ruki seakan kesal, dia
berlari meninggalkan Kamijo yang diam menatap Ruki yang menjauh.
“tapi
suatu saat kau akan mengetahui semuanya..aku hanya butuh kebenaran bukti dari
dirimu yang memperkuat bahwa kau ada hubungan dengan Wataru..” jelas Kamijo
mengepalkan tangan kanan.
---------------------------------------------------------------------------------------------//