Sunday, May 4, 2014

Argeza ~12

Title      :               Argeza
Genre  :               fantasy,action,comedy,life, nano-nano dah pokoknya XDDD
Cast      :              utamanya Gajet yang lain numfang hehehehe..
Eps        :               12 *cieeee sok anime

---------------------------------------------------------------------------------------------//



。゚.(*♡ Rescue ♡*) °



Malam hari itu, angin semilir dingin dan desiran daun-daun terdengar sayup-sayup. Jendela kamar rawat inap Uruha yang terbuat dari kaca pertama berwarna bening ini, memperlihatkan keadaan Uruha yang saat ini sedang dalam keadaan koma. Dia terbaring lemah di atas ranjangnya dengan mata terpejam seakan entah kapan matanya bisa membuka lagi..

Pintu kamar inap Uruha terbuka sedikit dan terlihat wajah Kai yang setengah menengok ke arah Uruha yang tertidur. Terbesit dalam hatinya untuk bisa masuk ke dalam dan menjaga Uruha semalaman sampai dia sadar dari komanya. Namun sepertinya itu tidak mungkin, Kai seakan berat untuk bisa menjaga Uruha. Kai merasa berlaku tidak adil pada Uruha, sudah menyakiti bahkan mempertaruhkan pertemanan dan ketika Uruha dalam keadaan begini Kai baru tergerak hatinya untuk menolong. Sungguh, apa ini di sebut pecundang?

Kai menggigit bibir bawahnya dengan sangat pelan. Namun tiba-tiba saja seseorang memegang pundak Kai.

“Kai..”

Kai menengok dan melihat itu adalah Ruki yang sedang menatapnya penuh kekhawatiran. Kai berbalik memandang Ruki yang berpandangan tidak biasanya.

“ada apa?” tanya Kai.

“ada yang mau aku bicarakan denganmu, tapi jangan di sini..” ucap Ruki dengan pandangan yang melirik kanan-kiri memastikan tidak ada yang mendengarkan semuanya.

“koridor sana saja..”

Kai dan Ruki melangkah menuju koridor yang di tunjuk oleh Kai. Sepi dan sunyi dari hilir mudik orang-orang. Hanya beberapa perawat yang bolak-balik membawa peralatan kedokteran dengan hati-hati.

“katakan..” Kai penasaran.

“kau mau melakukan hal itu?” kata Ruki memulai.

“melakukan apa?”

“menolong Uruha, kau harus bisa mengeluarkan virus itu dari tubuh Uruha..”

“kenapa menyuruhku?”

“Kamijo-sensei sebenarnya yang menyuruhku karena aku selalu mendapatkan kekuatan tidak terduga ketika di saat-saat yang tidak di inginkan. tapi jujur, aku masih kelas level 1 dan tidak tahu menggunakan cara sihir yang tingkat tinggi seperti ini. Daripada aku gagal menolong Uruha, lebih baik kau yang melakukannya karena mungkin Uruha akan berterima kasih padamu telah menolongnya..anggap saja aku membantu hubungan kalian..”

“penawarnya?”

Dengan segera Ruki meraih tangan Aoi dan memberikannya sebuah obat penawar tanpa harus mengalihkan matanya memandang Aoi dengan keyakinan tinggi

“aku percaya kau ingin menebus kesalahanmu di masa lalu terhadap Uruha dan memulai kehidupan yang lebih baik dengan sahabatmu itu..” kata Ruki dengan bijak.

Kai melihat botol kecil dengan cairan berwarna merah keunguan dan berpikir dengan yang di katakan Ruki.

“percaya pada dirimu, bahwa kau bisa merubah semuanya menjadi indah..” pikir Ruki memegang lengan Kai. Kai dan Ruki berpandangan cukup lama. dan dengan yakin, Kai berbalik badan menggenggam obat penawar itu kemudian berlari menuju kamar inap Uruha dengan pasti. Ruki menghela nafasnya melihat itu. ia hanya berharap semuanya akan baik-baik saja.

Saat Kai kembali ke kamar inapnya Uruha, dia tidak menemukan Uruha dimanapun. Bahkan pandangan Kai begitu panik melihat ke kanan dan ke kiri mencari sosok yang keadaan sedang lemah itu.

“URU!”

Kai melihat dari balik jendela Uruha sedang berjalan dengan pelan seperti sleepwalker. Mata Uruha terbuka dan setengah sayu dengan bibir pucat terdiam tanpa berkata. Lengan Uruha tiba-tiba di tahan seseorang dan langsung di tarik sehingga berbalik badan menghadap seseorang yang menarik tangannya itu. dengan nafas terengah-engah dan keringat yang mulai membasahi dahinya, Kai memandang yakin Uruha. Ia mencoba perlahan memegang leher Uruha dan perlahan pula dia mengigit, menghisap virus itu segera mungkin.

“ahh...” Uruha merintih dan menutup matanya seakan ia merasakan nyeri karena hisapan Kai. Kai memperdalam gigitannya dan  kemudian dia melempar virus DIS berbentuk bola kelereng itu ke sembarang arah. Dan terlihat virus itu sudah mati dan tidak bergerak sama sekali. kini Uruha tersadarkan dari sleepwalker-nya dan menatap Kai dengan bingung.

“Kai?” sesaat memanggil itu, Uruha langsung pingsan dan Kai menahan tubuhnya.

---------------------------------------------------------------------------------------------//


Beberapa hari kemudian, para siswa sibuk memarkirkan sapu terbangnya di area parkir yang tersedia. Reita mengalungkan name card ke sapu terbangnya yang bernama Chizuru*ngasal*. Reita menghela nafasnya, kemudian dia berbalik dan melihat Uruha sedang berjalan menjinjing buku sihir yang tebal. Reita segera menghampirinya supaya Uruha tidak cepat pergi dari hadapannya.

“Uru!”. Dengen segera Uruha melihat ke belakang dan Reita suda berada di hadapannya.

“doshita?” Uruha cuek seperti biasanya. Tanpa berbicara, Reita merogoh saku celananya dan mengambil sebuah kotak cincin berwarna biru tua dan menunjukkannya pada Uruha dengan tersenyum manis.

“kembalikan ini pada Kai..kau tahu maksudku,kan?” kata Reita. Uruha meraih kotak itu dan membukanya, cincin keabadian yang pernah Reita ambil tanpa sepengetahuannya untuk mengembalikan keadaan Uruha dan Kai namun saat itu tidak berhasil. Perasaan Uruha kembali sakit melihat cincin ini, matanya mulai berkaca-kaca dan mencoba menahannya.

“pergilah..” suruh Reita. Uruha memandang Reita dengan tidak yakin.


<= flashback

Uruha membuka matanya dan tersadarkan dirinya ada di rumah sakit elit. Berbaring sambl melihat langit-langit dan mengingat apa yang terjadi padanya. Lalu dia merasakan tangannya seperti sedang di pegang seseorang. Uruha sedikit mengangkat kepalanya dan melihat ke samping. Nyatanya Kai yang memegang tangannya sambil tertidur di samping ranjang Uruha. Uruha langsung menarik tangannya dan Uruha setengah bangun dan menyandarkan diri ke punggung ranjang. Kai pun bangun dari tidurnya dan melihat Uruha sedang menatapnya dengan horor.

“kau sudah baikan?” tanya Kai dengan suara paraunya. Lama-lama Uruha bingung dengan perkataannya Kai dan mengkerutkan keningnya

“baikan apanya?”

“kau terkena virus DIS, lalu pingsan..dan sekarang kau sudah sembuh dari mahluk kecil jelek itu.” jelas Kai. Uruha kembali mengingat, yah benar Uruha tiba-tiba pingsan ketika dia mau turun tangga. Dan Uruha mengira Kai menolongnya.

“kau..menolongku?” tanya Uruha dengan takut-takut.

“hm..” Kai mengangguk samar tanpa menatap Uruha karena dia merasa tidak pantas menolong Uruha. Uruha benar-benar tidak percaya seorang Kai menolongnya. Dan keheningan pun membuat keduany saling berpikir.

“aku bukan tipe yang mudah mengatakan kesalahan. Tapi, dengan cara ini ku pikir kau akan mengerti..” ucap Kai dengan jelas.

Sayang, sebelum Uruha menanggapi kata-kata Kai, teman-temannya serta Amano juga Kamijo memasuki ruang inap Uruha dengan cemas.

“bagaimana keadaanmu?” tanya Kamijo.

“aku permisi dulu, ada urusan di luar sana.” Kai lalu pergi dari situ dengan wajah kecewa. Reita yang peka dengan situasi ini, hanya melihat Kai keluar ruangan dan semuanya kembali fokus ke Uruha.

Kai berada di belakang pintu kamar inap Uruha. Dia mengatur nafasnya dengan perasaan yang bergemuruh. Maksud Kai hanyalah sederhana, dia ingin menolong dengan tulus dan mendapat maaf dari Uruha. Tapi Uruha tidak peka sama sekali, mungkin juga karena dia sudah terlalu sakit hati. Airmata itupun jatuh begitu saja tanpa di sadari Kai dengan bibir bergetar tidak seperti biasanya.

ð  Flashback End



Uruha sekarang sedang memandang Kai dari gerbang menuju loker sekolah. Kai sedang mengambil beberapa buku sihir dari balik lokernya dan sepertinya dia sedang melihati sesuatu yang membuat Uruha mencuri kesempatan mumpung Kai di situ dan loker lama-lama sepi karena suara bel masuk sudah berdering.

Kai menutup lokernya dan dia melihat Uruha sudah ada di belakangnya berkat kaca yang ia pasang di pintu loker itu. langsung saja Kai berbalik badan dan menatap Uruha tidak percaya bahwa ia akan menghampiri Kai dengan pandangan sendu seakan ingin mengatakan sesuatu.

Uruha mengulurkan tangannya dan membuka telapak tangannya perlahan memperlihatkan cincin keabadian yang mereka buat dua tahun yang lalu. Perasaan Kai serasa terkoyak melihat cincin itu yang samar-samar ada api biru menyala. Kai menatap Uruha dan cincin bergantian. Dia tidak mengerti ada apa~

“ambil satu.” Kata Uruha memandang cincin itu. dengan perasaan sakit hati dan menahannya, Kai meraih cincin itu kemudian memperhatikan cincin berapi biru ini.

“kalau kita pakai bersama, apa kita akan kembali ke masa dulu?” pikir Uruha tanpa memandang Kai malahan menatap cincin itu dengan dengan raut wajah sedih.

“aku juga bukan tipe yang bisa mengatakan bahwa aku sudah memaafkan semuanya. Tapi rasa sakit itu terus mengusik pikiran dan hatiku. Sampai saat kemarin kau menolongku, aku mengerti bahwa itu adalah ungkapan permintaan maaf darimu untukku..sekarang, apa yang harus kita tunda lagi? Kita bisa menjalin dari awal, kan? Dan jangan biarkan aku menjadi jutek begini ke semua orang gara-gara trauma untuk mempercayai orang lain..” ungkap Uruha dengan tenang namun kantung matanya sudah menampung bendungan airmata. Kai melihat itupun sama membendung airmata.

“dan semoga airmata ini awal kebahagiaan kita..” kata Kai dengan senyum manis dan di sambut Uruha dengan senyum manis juga. Mereka saling malu-malu untuk tersenyum. Kemudian mereka berdua pun berpelukan hangat dan menjatuhkan airmatanya masing-masing. Membiarkan perasaan yang terpendam dua tahun itu mengalir begitu saja..

“niichan..” Uruha memanggil itu dengan nada manja ke Kai. Kai tertawa kecil dan benar-benar senang mendengar itu.

“maafkan aku, aku akan memperbaiki kesalahanku..” Kai melepaskan pelukan itu. Uruha menggeleng seakan dia tidak setuju.

“lebih baik, jadilah niichan ku yang bisa melindungiku yang lemah ini.” Ucap Uruha berharap. Kai mengacak-ngacak rambut coklat halus milik Uruha itu. dan Uruha tertawa untuk pertama kali yang terlihat lebar dan wajahnya manis.

“kita tanding PS lagi yuk! Aku punya jurus sendiri lho..” kata Kai.

“boleh, yang kalah keliling Mahou Gakuen pake kolor doank..haha..” Uruha iseng dan membuat keduanya tertawa lepas dan menggaduhkan ruang loker itu

Ternyata Kamijo menyaksikan itu dari kejauhan dan ikut terharu dengan tersenyum dan menyeka airmatanya yang ternyata jatuh secara murni dari hatinya.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Des Fleur menemukan beberapa mahluk asing yang sedang keluyuran(?) di langit. Beberapa staff peneliti langsung fokus ke layar lebar dan mengarahkan pandangannya ke sebuah benda yang bergerak di atas awan di layar itu. dengan tombol ‘UP’ staff itu memperbesar gambar dan terlihat sepert seekor naga api kecil yang sedang terbang dengan membabi buta membunuh burung yang sedang terbang di hadapannya.

“Gakuto-sama!” seru staff itu langsung menghampiri Gakuto di ruangannya. Gakuto juga sedang memperhatikan mahluk itu dan segera menelpon ke bagian pusat kepolisian untuk menugaskan polisi udara untuk membasmi mahluk ini.

“ada mahluk naga api di langit, kemungkinan masuk satu malah akan masuk banyak nantinya kalau tidak cepat-cepat di basmi..” kata Gakuto kemudian dia mengangguk setelah yang di sebrang(?) sana mengatakan iya di telpon itu. Gakuto menutup telponnya dan mengajak staff itu ke sebuah ruangan.

Sementara itu, Aoi yang sengaja pulang memakai Zetsu tiba-tiba melihat naga api kecil yang sedang terbang dan menyemburkan beberapa api kecil dari mulutnya. Aoi juga melihat ke bawah banyak orang yang sedang berhamburan lari kemana-mana. Aoi mencari sumbernya dengan terbang bersama dengan Zetsu. Dan Aoi pun menemukan kalau di sebelah utara da mahluk besar seperti manusia setengah monster berwarna  merah, tapi matanya ada tiga yang satu terletak di dahi. Wajahnya menyeramkan dengan  telinga memanjang dan mata menyorot penuh kebencian. Mahluk itu mengeluarkan suara yang memekakkan telinga sampai orang-orang berlarian sambil menutupi telinganya. Ada juga yang tidak kuat sampai jatuh dan tidak sadarkan diri. Melihat kejadian miris ini, Aoi langsung kekuatannya lewat telapak tangan berupa bola gabungan pusaran angin dan air dan kemudian dia melemparnya ke arah mahluk itu. Tepat, mengenai dada sebelah kirinya. Dengan berani Aoi mendekati bersama Zetsu, tapi beberapa detik kemudian dari arah samping Ruki menghadangnya dengan Karasu yang ternyata punya sayap untuk terbang. Aoi kaget kalau itu adalah Ruki yang sedang menaiki Karasu.

“hentikan Aoi! Jika dia di serang, dia akan semakin frontal mengeluarkan suara yang menyakitkan!” teriak Ruki. Aoi terdiam dan melihat mahluk itu seperti akan mengeluarkan kekuatan dari mata ketiganya berupa pusaran angin kecil.

“AWAS!”

Beberapa detik mengatakan itu, Ruki yang mengerti atas seruan Aoi langsung menunduk bersamaan Aoi dan juga binatang peliharaannya. Kemudian mahluk itu seperti berjalan ke arah mereka.

Dia bawah, Koichi melihat warganya banyak berjatuhan dan tidak sadarkan diri dan berlarian tidak jelas entah kemana sambil menutup telinga.

“ini bahaya..tolong keluarkan kekuatanmu,Koichi..” kata Kamijo memohon yang ada di samping Koichi. Kemudian dengan mengangguk, Koichi loncat ke udara dan melayang sejenak. Tangannya menggesturkn menangkup keatas dan dia mengumpulkan energi kekuatannya berupa bola cahaya berwarna putih ke merah mudaan dan bola itu semakin membesar dan Koichi menembakkan itu ke langit dan bola cahaya itu meledak menjadi serpihan dan membuat waktu menjadi lambat.

“kekuatan cahaya waktu nya sekarang semakin sempurna..” ungkap Kamijo bangga melihat semuanya bergerak dengan lambat. Kecuali Koichi, Kamijo, Aoi dan Ruki.

“Koichi?” Aoi kebingungan. Dan saat itu Ruki merenggangkan telapak tangannya dan muncul lah sebuah pedang panjang *ambigu* yang berselimutkan aura membunuh. Dengan bantuan Karasu, Ruki pun siap untuk menusuk mata ketiga sang mahluk itu dengan segera.

“Ruki..” Kamijo melihat dahi Ruki bersinar membentuk sebuah garis mirip bintang segi enam(?). Kamijo membuka matanya lebar dan bersamaan itu, Reita, Uruha dan Kai datang dengan sapu terbang mereka dan juga melihat cahaya dahi itu yang begitu jelas.

Dan saat itu, dengan mudah Ruki menusukkan pedangnya ke mata ketiga si mahluk tersebut. Erangan kesakitan yang amat dahsyat membuat semuanya menutup telinga. Dan mahluk itu pun akhirnya bisa kalah dan menjatuhkan tubuhnya dan merusak beberapa gedung pencakar langit, jembatan penyebrangan dan juga merusak beberapa taman di sekitarnya.

Ke empat teman Ruki mendekati Ruki yang turun mendarat ke tanah dan Karasu berubah menjadi anjing biasa dengan menghilangkan sayapnya. Mereka melihat cahaya di dahinya Ruki itu meredup dan ini membuat Ruki sedikit kebingungan dengan wajah mereka yang seperti bengong.

“kalian kenapa melihat aku begitu?” pikir Ruki. Semuany kompak menggeleng. Kamijo datang dari tengah dan membuat Uruha dan Kai sedikit minggir setelah Kamijo sudah berhadapan dengan Ruki.

“kau..”

Ruki hanya bisa diam polos tidak mengerti kenapa Kamijo memandangnya berbeda seakan Ruki punya sesuatu yang tidak biasanya.

---------------------------------------------------------------------------------------------//





No comments:

Post a Comment