Title : Argeza
Genre : fantasy,action,comedy,life,
nano-nano dah pokoknya XDDD
Cast : utamanya
Gajet yang lain numfang hehehehe..
Eps : 12
*cieeee sok anime
---------------------------------------------------------------------------------------------//
♡。゚.(*♡ Rescue ♡*)゚♡ °・
Malam
hari itu, angin semilir dingin dan desiran daun-daun terdengar sayup-sayup.
Jendela kamar rawat inap Uruha yang terbuat dari kaca pertama berwarna bening
ini, memperlihatkan keadaan Uruha yang saat ini sedang dalam keadaan koma. Dia
terbaring lemah di atas ranjangnya dengan mata terpejam seakan entah kapan
matanya bisa membuka lagi..
Pintu
kamar inap Uruha terbuka sedikit dan terlihat wajah Kai yang setengah menengok
ke arah Uruha yang tertidur. Terbesit dalam hatinya untuk bisa masuk ke dalam
dan menjaga Uruha semalaman sampai dia sadar dari komanya. Namun sepertinya itu
tidak mungkin, Kai seakan berat untuk bisa menjaga Uruha. Kai merasa berlaku
tidak adil pada Uruha, sudah menyakiti bahkan mempertaruhkan pertemanan dan
ketika Uruha dalam keadaan begini Kai baru tergerak hatinya untuk menolong.
Sungguh, apa ini di sebut pecundang?
Kai
menggigit bibir bawahnya dengan sangat pelan. Namun tiba-tiba saja seseorang
memegang pundak Kai.
“Kai..”
Kai
menengok dan melihat itu adalah Ruki yang sedang menatapnya penuh kekhawatiran.
Kai berbalik memandang Ruki yang berpandangan tidak biasanya.
“ada
apa?” tanya Kai.
“ada
yang mau aku bicarakan denganmu, tapi jangan di sini..” ucap Ruki dengan
pandangan yang melirik kanan-kiri memastikan tidak ada yang mendengarkan
semuanya.
“koridor
sana saja..”
Kai
dan Ruki melangkah menuju koridor yang di tunjuk oleh Kai. Sepi dan sunyi dari
hilir mudik orang-orang. Hanya beberapa perawat yang bolak-balik membawa
peralatan kedokteran dengan hati-hati.
“katakan..”
Kai penasaran.
“kau
mau melakukan hal itu?” kata Ruki memulai.
“melakukan
apa?”
“menolong
Uruha, kau harus bisa mengeluarkan virus itu dari tubuh Uruha..”
“kenapa
menyuruhku?”
“Kamijo-sensei
sebenarnya yang menyuruhku karena aku selalu mendapatkan kekuatan tidak terduga
ketika di saat-saat yang tidak di inginkan. tapi jujur, aku masih kelas level 1
dan tidak tahu menggunakan cara sihir yang tingkat tinggi seperti ini. Daripada
aku gagal menolong Uruha, lebih baik kau yang melakukannya karena mungkin Uruha
akan berterima kasih padamu telah menolongnya..anggap saja aku membantu
hubungan kalian..”
“penawarnya?”
Dengan
segera Ruki meraih tangan Aoi dan memberikannya sebuah obat penawar tanpa harus
mengalihkan matanya memandang Aoi dengan keyakinan tinggi
“aku
percaya kau ingin menebus kesalahanmu di masa lalu terhadap Uruha dan memulai
kehidupan yang lebih baik dengan sahabatmu itu..” kata Ruki dengan bijak.
Kai
melihat botol kecil dengan cairan berwarna merah keunguan dan berpikir dengan
yang di katakan Ruki.
“percaya
pada dirimu, bahwa kau bisa merubah semuanya menjadi indah..” pikir Ruki
memegang lengan Kai. Kai dan Ruki berpandangan cukup lama. dan dengan yakin,
Kai berbalik badan menggenggam obat penawar itu kemudian berlari menuju kamar
inap Uruha dengan pasti. Ruki menghela nafasnya melihat itu. ia hanya berharap
semuanya akan baik-baik saja.
Saat
Kai kembali ke kamar inapnya Uruha, dia tidak menemukan Uruha dimanapun. Bahkan
pandangan Kai begitu panik melihat ke kanan dan ke kiri mencari sosok yang
keadaan sedang lemah itu.
“URU!”
Kai
melihat dari balik jendela Uruha sedang berjalan dengan pelan seperti sleepwalker. Mata Uruha terbuka dan
setengah sayu dengan bibir pucat terdiam tanpa berkata. Lengan Uruha tiba-tiba
di tahan seseorang dan langsung di tarik sehingga berbalik badan menghadap
seseorang yang menarik tangannya itu. dengan nafas terengah-engah dan keringat
yang mulai membasahi dahinya, Kai memandang yakin Uruha. Ia mencoba perlahan
memegang leher Uruha dan perlahan pula dia mengigit, menghisap virus itu segera
mungkin.
“ahh...”
Uruha merintih dan menutup matanya seakan ia merasakan nyeri karena hisapan
Kai. Kai memperdalam gigitannya dan
kemudian dia melempar virus DIS berbentuk bola kelereng itu ke sembarang
arah. Dan terlihat virus itu sudah mati dan tidak bergerak sama sekali. kini
Uruha tersadarkan dari sleepwalker-nya
dan menatap Kai dengan bingung.
“Kai?”
sesaat memanggil itu, Uruha langsung pingsan dan Kai menahan tubuhnya.
---------------------------------------------------------------------------------------------//
Beberapa
hari kemudian, para siswa sibuk memarkirkan sapu terbangnya di area parkir yang
tersedia. Reita mengalungkan name card
ke sapu terbangnya yang bernama Chizuru*ngasal*.
Reita menghela nafasnya, kemudian dia berbalik dan melihat Uruha sedang
berjalan menjinjing buku sihir yang tebal. Reita segera menghampirinya supaya
Uruha tidak cepat pergi dari hadapannya.
“Uru!”.
Dengen segera Uruha melihat ke belakang dan Reita suda berada di hadapannya.
“doshita?”
Uruha cuek seperti biasanya. Tanpa berbicara, Reita merogoh saku celananya dan
mengambil sebuah kotak cincin berwarna biru tua dan menunjukkannya pada Uruha
dengan tersenyum manis.
“kembalikan
ini pada Kai..kau tahu maksudku,kan?” kata Reita. Uruha meraih kotak itu dan
membukanya, cincin keabadian yang pernah Reita ambil tanpa sepengetahuannya
untuk mengembalikan keadaan Uruha dan Kai namun saat itu tidak berhasil.
Perasaan Uruha kembali sakit melihat cincin ini, matanya mulai berkaca-kaca dan
mencoba menahannya.
“pergilah..”
suruh Reita. Uruha memandang Reita dengan tidak yakin.
<=
flashback
Uruha
membuka matanya dan tersadarkan dirinya ada di rumah sakit elit. Berbaring
sambl melihat langit-langit dan mengingat apa yang terjadi padanya. Lalu dia
merasakan tangannya seperti sedang di pegang seseorang. Uruha sedikit
mengangkat kepalanya dan melihat ke samping. Nyatanya Kai yang memegang
tangannya sambil tertidur di samping ranjang Uruha. Uruha langsung menarik
tangannya dan Uruha setengah bangun dan menyandarkan diri ke punggung ranjang.
Kai pun bangun dari tidurnya dan melihat Uruha sedang menatapnya dengan horor.
“kau
sudah baikan?” tanya Kai dengan suara paraunya. Lama-lama Uruha bingung dengan
perkataannya Kai dan mengkerutkan keningnya
“baikan
apanya?”
“kau
terkena virus DIS, lalu pingsan..dan sekarang kau sudah sembuh dari mahluk
kecil jelek itu.” jelas Kai. Uruha kembali mengingat, yah benar Uruha tiba-tiba
pingsan ketika dia mau turun tangga. Dan Uruha mengira Kai menolongnya.
“kau..menolongku?”
tanya Uruha dengan takut-takut.
“hm..”
Kai mengangguk samar tanpa menatap Uruha karena dia merasa tidak pantas
menolong Uruha. Uruha benar-benar tidak percaya seorang Kai menolongnya. Dan
keheningan pun membuat keduany saling berpikir.
“aku
bukan tipe yang mudah mengatakan kesalahan. Tapi, dengan cara ini ku pikir kau
akan mengerti..” ucap Kai dengan jelas.
Sayang,
sebelum Uruha menanggapi kata-kata Kai, teman-temannya serta Amano juga Kamijo
memasuki ruang inap Uruha dengan cemas.
“bagaimana
keadaanmu?” tanya Kamijo.
“aku
permisi dulu, ada urusan di luar sana.” Kai lalu pergi dari situ dengan wajah
kecewa. Reita yang peka dengan situasi ini, hanya melihat Kai keluar ruangan
dan semuanya kembali fokus ke Uruha.
Kai
berada di belakang pintu kamar inap Uruha. Dia mengatur nafasnya dengan
perasaan yang bergemuruh. Maksud Kai hanyalah sederhana, dia ingin menolong
dengan tulus dan mendapat maaf dari Uruha. Tapi Uruha tidak peka sama sekali,
mungkin juga karena dia sudah terlalu sakit hati. Airmata itupun jatuh begitu
saja tanpa di sadari Kai dengan bibir bergetar tidak seperti biasanya.
ð
Flashback
End
Uruha
sekarang sedang memandang Kai dari gerbang menuju loker sekolah. Kai sedang
mengambil beberapa buku sihir dari balik lokernya dan sepertinya dia sedang
melihati sesuatu yang membuat Uruha mencuri kesempatan mumpung Kai di situ dan
loker lama-lama sepi karena suara bel masuk sudah berdering.
Kai
menutup lokernya dan dia melihat Uruha sudah ada di belakangnya berkat kaca
yang ia pasang di pintu loker itu. langsung saja Kai berbalik badan dan menatap
Uruha tidak percaya bahwa ia akan menghampiri Kai dengan pandangan sendu seakan
ingin mengatakan sesuatu.
Uruha
mengulurkan tangannya dan membuka telapak tangannya perlahan memperlihatkan
cincin keabadian yang mereka buat dua tahun yang lalu. Perasaan Kai serasa
terkoyak melihat cincin itu yang samar-samar ada api biru menyala. Kai menatap
Uruha dan cincin bergantian. Dia tidak mengerti ada apa~
“ambil
satu.” Kata Uruha memandang cincin itu. dengan perasaan sakit hati dan
menahannya, Kai meraih cincin itu kemudian memperhatikan cincin berapi biru
ini.
“kalau
kita pakai bersama, apa kita akan kembali ke masa dulu?” pikir Uruha tanpa
memandang Kai malahan menatap cincin itu dengan dengan raut wajah sedih.
“aku
juga bukan tipe yang bisa mengatakan bahwa aku sudah memaafkan semuanya. Tapi
rasa sakit itu terus mengusik pikiran dan hatiku. Sampai saat kemarin kau
menolongku, aku mengerti bahwa itu adalah ungkapan permintaan maaf darimu
untukku..sekarang, apa yang harus kita tunda lagi? Kita bisa menjalin dari
awal, kan? Dan jangan biarkan aku menjadi jutek begini ke semua orang gara-gara
trauma untuk mempercayai orang lain..” ungkap Uruha dengan tenang namun kantung
matanya sudah menampung bendungan airmata. Kai melihat itupun sama membendung
airmata.
“dan
semoga airmata ini awal kebahagiaan kita..” kata Kai dengan senyum manis dan di
sambut Uruha dengan senyum manis juga. Mereka saling malu-malu untuk tersenyum.
Kemudian mereka berdua pun berpelukan hangat dan menjatuhkan airmatanya
masing-masing. Membiarkan perasaan yang terpendam dua tahun itu mengalir begitu
saja..
“niichan..”
Uruha memanggil itu dengan nada manja ke Kai. Kai tertawa kecil dan benar-benar
senang mendengar itu.
“maafkan
aku, aku akan memperbaiki kesalahanku..” Kai melepaskan pelukan itu. Uruha
menggeleng seakan dia tidak setuju.
“lebih
baik, jadilah niichan ku yang bisa melindungiku yang lemah ini.” Ucap Uruha
berharap. Kai mengacak-ngacak rambut coklat halus milik Uruha itu. dan Uruha
tertawa untuk pertama kali yang terlihat lebar dan wajahnya manis.
“kita
tanding PS lagi yuk! Aku punya jurus sendiri lho..” kata Kai.
“boleh,
yang kalah keliling Mahou Gakuen pake kolor doank..haha..” Uruha iseng dan
membuat keduanya tertawa lepas dan menggaduhkan ruang loker itu
Ternyata
Kamijo menyaksikan itu dari kejauhan dan ikut terharu dengan tersenyum dan
menyeka airmatanya yang ternyata jatuh secara murni dari hatinya.
---------------------------------------------------------------------------------------------//
Des
Fleur menemukan beberapa mahluk asing yang sedang keluyuran(?) di langit.
Beberapa staff peneliti langsung fokus ke layar lebar dan mengarahkan
pandangannya ke sebuah benda yang bergerak di atas awan di layar itu. dengan
tombol ‘UP’ staff itu memperbesar gambar dan terlihat sepert seekor naga api
kecil yang sedang terbang dengan membabi buta membunuh burung yang sedang
terbang di hadapannya.
“Gakuto-sama!”
seru staff itu langsung menghampiri Gakuto di ruangannya. Gakuto juga sedang
memperhatikan mahluk itu dan segera menelpon ke bagian pusat kepolisian untuk
menugaskan polisi udara untuk membasmi mahluk ini.
“ada
mahluk naga api di langit, kemungkinan masuk satu malah akan masuk banyak
nantinya kalau tidak cepat-cepat di basmi..” kata Gakuto kemudian dia
mengangguk setelah yang di sebrang(?) sana mengatakan iya di telpon itu. Gakuto
menutup telponnya dan mengajak staff itu ke sebuah ruangan.
Sementara
itu, Aoi yang sengaja pulang memakai Zetsu tiba-tiba melihat naga api kecil
yang sedang terbang dan menyemburkan beberapa api kecil dari mulutnya. Aoi juga
melihat ke bawah banyak orang yang sedang berhamburan lari kemana-mana. Aoi
mencari sumbernya dengan terbang bersama dengan Zetsu. Dan Aoi pun menemukan
kalau di sebelah utara da mahluk besar seperti manusia setengah monster
berwarna merah, tapi matanya ada tiga
yang satu terletak di dahi. Wajahnya menyeramkan dengan telinga memanjang dan mata menyorot penuh
kebencian. Mahluk itu mengeluarkan suara yang memekakkan telinga sampai
orang-orang berlarian sambil menutupi telinganya. Ada juga yang tidak kuat
sampai jatuh dan tidak sadarkan diri. Melihat kejadian miris ini, Aoi langsung
kekuatannya lewat telapak tangan berupa bola gabungan pusaran angin dan air dan
kemudian dia melemparnya ke arah mahluk itu. Tepat, mengenai dada sebelah
kirinya. Dengan berani Aoi mendekati bersama Zetsu, tapi beberapa detik
kemudian dari arah samping Ruki menghadangnya dengan Karasu yang ternyata punya
sayap untuk terbang. Aoi kaget kalau itu adalah Ruki yang sedang menaiki
Karasu.
“hentikan
Aoi! Jika dia di serang, dia akan semakin frontal mengeluarkan suara yang
menyakitkan!” teriak Ruki. Aoi terdiam dan melihat mahluk itu seperti akan
mengeluarkan kekuatan dari mata ketiganya berupa pusaran angin kecil.
“AWAS!”
Beberapa
detik mengatakan itu, Ruki yang mengerti atas seruan Aoi langsung menunduk
bersamaan Aoi dan juga binatang peliharaannya. Kemudian mahluk itu seperti
berjalan ke arah mereka.
Dia
bawah, Koichi melihat warganya banyak berjatuhan dan tidak sadarkan diri dan
berlarian tidak jelas entah kemana sambil menutup telinga.
“ini
bahaya..tolong keluarkan kekuatanmu,Koichi..” kata Kamijo memohon yang ada di
samping Koichi. Kemudian dengan mengangguk, Koichi loncat ke udara dan melayang
sejenak. Tangannya menggesturkn menangkup keatas dan dia mengumpulkan energi
kekuatannya berupa bola cahaya berwarna putih ke merah mudaan dan bola itu
semakin membesar dan Koichi menembakkan itu ke langit dan bola cahaya itu
meledak menjadi serpihan dan membuat waktu menjadi lambat.
“kekuatan
cahaya waktu nya sekarang semakin
sempurna..” ungkap Kamijo bangga melihat semuanya bergerak dengan lambat.
Kecuali Koichi, Kamijo, Aoi dan Ruki.
“Koichi?”
Aoi kebingungan. Dan saat itu Ruki merenggangkan telapak tangannya dan muncul
lah sebuah pedang panjang *ambigu* yang berselimutkan aura membunuh. Dengan
bantuan Karasu, Ruki pun siap untuk menusuk mata ketiga sang mahluk itu dengan
segera.
“Ruki..”
Kamijo melihat dahi Ruki bersinar membentuk sebuah garis mirip bintang segi
enam(?). Kamijo membuka matanya lebar dan bersamaan itu, Reita, Uruha dan Kai
datang dengan sapu terbang mereka dan juga melihat cahaya dahi itu yang begitu
jelas.
Dan
saat itu, dengan mudah Ruki menusukkan pedangnya ke mata ketiga si mahluk
tersebut. Erangan kesakitan yang amat dahsyat membuat semuanya menutup telinga.
Dan mahluk itu pun akhirnya bisa kalah dan menjatuhkan tubuhnya dan merusak
beberapa gedung pencakar langit, jembatan penyebrangan dan juga merusak
beberapa taman di sekitarnya.
Ke
empat teman Ruki mendekati Ruki yang turun mendarat ke tanah dan Karasu berubah
menjadi anjing biasa dengan menghilangkan sayapnya. Mereka melihat cahaya di
dahinya Ruki itu meredup dan ini membuat Ruki sedikit kebingungan dengan wajah
mereka yang seperti bengong.
“kalian
kenapa melihat aku begitu?” pikir Ruki. Semuany kompak menggeleng. Kamijo
datang dari tengah dan membuat Uruha dan Kai sedikit minggir setelah Kamijo
sudah berhadapan dengan Ruki.
“kau..”
Ruki
hanya bisa diam polos tidak mengerti kenapa Kamijo memandangnya berbeda seakan
Ruki punya sesuatu yang tidak biasanya.
---------------------------------------------------------------------------------------------//
No comments:
Post a Comment