Sunday, May 4, 2014

Argeza ~13

Title      :               Argeza
Genre  :               fantasy,action,comedy,life, nano-nano dah pokoknya XDDD
Cast      :              utamanya Gajet yang lain numfang hehehehe..
Eps        :               13 *cieeee sok anime

---------------------------------------------------------------------------------------------//



。゚.(* The Fact *) °



“pemirsa, kerusakan yang di sebabkan oleh mahluk bernama Seizen kemarin mengakibatkan beberapa gedung pencakar langit, jembatan penyebrangan dan juga taman kota rusak. Mahluk yang tiba-tiba datang ini langsung di tangani par penyihir handal yang tidak di ketahui siapa..pemerintah saat ini sedang menghitung biaya kerugian tersebut..” ucap MiA, seorang reporter televisi yang sudah terkenal dengan profesional. Semua yang menyaksikan terutama keluarga Ruki. Hyde menonton itu sambil minum kopi di depan TV dengan perasaan setenang mungkin. Sementara Mika, menutup mulutnya dengan kaget karena dia tahu siapa yang berhasil menaklukan mahluk itu. dan Ruki, yang sudah siap-siap pun terhenti di anak tangga menuju meja makan. Mpon, sepupunya yang semalam menginap di rumahnya langsung menoleh ke Ruki. Ruki turun dengan tenang tanpa memperlihatkan wajahnya ke arah mereka. Mengolesi roti dengan mentega dan beberapa selai rasa dan mengabaikan berita itu. Mpon menghampirinya dengan bingung kenapa Ruki bersikap begini.

“kau yang melakukannya?” tanya Mpon dengan tenang. Ruki hanya menoleh menatap sebentar sepupunya yang sedang menanti jawabannya. Kemudian mengolesi kembali rotinya yang belum rata.

“ya..” singkat Ruki dengan nada malas.

“bagaimana bisa kau melakukannya?” tanya Hyde yang penasarannya.

“perlu kalian ketahui, setiap ada masalah dadakan aku bisa mengeluarkan kekuatan yang di luar batas penyihir. Dan terkadang aku berpikir aku ini seperti bukan Ruki yang remaja kebanyakan. Aku seperti orang lain~” jelas Ruki kemudian dia melahap Roti sampai mulutnya penuh dan dia mengunyah sambil berpikir tentang perkataannya.

“santailah makannya, nanti tersedak..” ucap Mpon. Ruki menghela nafasnya.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Kamijo dan beberapa staff menteri keuangan mendatangi tempat kejadian yang di hancurkan oleh mahluk itu. staff menteri beserta asistennya sedang sibuk mencatat apa saja yang harus di tanggung biayanya. Dan berapa santunan dana yang harus bayarkan pada tiap-tiap karyawan gedung,warga dan juga semua pihak yang ikut kena dampak mahluk tersebut yang mengalami kecelakaan akibat mahluk ini. Menteri keuangan, Sujk yang berdiri di samping Juri memperlihatkan sebuah layar kecil yang muncul tiba-tiba di hadapannya dengan transparan. Kekuatannya yang terkenal dengan menghitung dengan cepat dan memiliki layar sentuh di udara menjadikannya sebagai menteri keuangan yang handal. Sujk memperlihatkan data yang harus di ganti kerugiannya. Juri menelan ludahnya pelan-pelan melihat angka yen yang membengkakkan gara-gara insiden kemarin. Tapi Juri akhirnya menghela nafas dan menekan layar itu pada tombol OK.

“siapkan dananya~ agar semuanya bisa kembali seperti semula..” ujar Juri mensetujui apa yang Sujk rencanakan di layar sentuh udara itu. kemudian Sujk menghilangkan layar sentuh udara itu dengan melambaikan tangan sekali ke kiri dan hilanglah layar itu dari hadapannya.

“selanjutnya apa yang akan anda rencanakan Juri-sama?” tanya Koichi dengan sopan. Juri terdiam, dia menatap bergantian Sujk dan Koichi. Kemudian dia memanggil Leda yang sedang berbicara dengan staff lain.

“iya tuan?” Leda berhadapan dengan Juri.

“dokumen untuk persiapan nanti sudah selesai?”

“sudah tuan..”

Juri mengangguk kembali dan mengajak Leda menuju mobil canggih yang kecepatannya di atas rata-rata. Pintu mobil itu membuka ke atas dengan sendirinya. Juri dan Leda duduk di belakang. dan driver-nya sudah siap untuk menekan gas. Membawa mereka kembali ke istana presiden.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Ruki dan yang lainnya sedang makan di kafe sekolah bersama ke empat ketua kelas level di satu meja yang sudah menjadi tempat langganan mereka. Uruha menatap Ruki yang seharian ini diam tidak tahu kenapa. Mungkin, ada alasan lain kenapa Ruki diam. Uruha tak dapat menanyakan hal ini karena akan percuma Ruki mungkin tidak ingin mengatakannya. Reita juga merasakan seperti Uruha. Dia yang duduk dekat Ruki langsung memegang punggung telapa tangan Ruki yang berada di atas pahanya Ruki. Ruki menoleh dan melihat Reita seakan matanya bertanya ‘doshita?’. Ruki membalas itu dengan tersenyum seakan bilang aku rapopo *plak XD*.

“Ruki kok murung? Kenapa?” Aoi bingung setelah dia melahap spageti kesukaannya. Ruki menoleh dan Reita segera melepaskan pegangannya dengan kaget.

“daijyoubu...” Ruki tersenyum menyembunyikan sesuatu.

“gak mungkin daijyoubu. Kau menyimpan sesuatu ya?” kata Uruha dengan memicingkan matanya dengan curiga ke arah Ruki.

“mau tahu aja apa mau tahu banget?” jawab Ruki dengan wajah polosnya.

GUBRAK!!

Semuanya jatuh ke atas meja karena Ruki masih bisa bercandaan. Kai menghembuskan nafasnya dengan sabar menghadapi Ruki, adik kelasnya.

“anak manis, tapi lebih manisan aku~ kalau ada sesuatu yang menyangkut di hatimu, ceritalah..kita bukan orang asing yang pertama kali kau temui, tapi kita sudah seperti sodara..” kata Kai.

“gak juga..” Uruha menimpal dengan cuek sambil menjilat belakang sendok yang masih ada sisa saus pasta spageti.

“perumpaan Uruuuuuuuu!!!” Kai menahan kesalnya. Sementara Uruha Cuma  mengeluarkan lidahnya  dengan konyol. Aoi Cuma geleng-geleng melihat tingkah Uruha dan Kai.

“aku hanya merasa tidak enak hati semenjak bangun tidur..entah kenapa..” jawab Ruki membuat pandangan mereka ke arah Ruki dengan penuh tanda tanya.

“bad dream?” tanya Uruha. Ruki menggeleng kembali. Dan semuanya kompak menghela nafas membiarkan Ruki begitu saja karena mereka menyerah dengan menanyakan hal yang tidak bisa di jawab Ruki detik ini juga.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Seorang kakek bernama Yoshiki yang tinggi badannya persis seperti Uruha dan dia masih terlihat segar dan muda karena minum ramuan awet muda sihir (?) sejak usia 20 tahun. Meski usianya sudah menginjak 1520 tahun *bisa jadi karena hanya di ff lah XD*. Yoshiki hidup sederhana(?) di sebuah gedung mewah yang nyaman bersama para pekerja nya yang selalu bergonta-ganti setiap tahunnya. Yoshiki sedang duduk di kursi roda dan menatap keluar jendela. Dia melihat bingkai foto yang ada di atas meja. Foto Wataru berumur 17 tahun yang mirip sekali dengan Ruki yang sekarang. Yoshiki menggerakkan kursi rodanya dengan memutar kedua roda tersebut dan mendekati meja tersebut. Di raihnya foto itu dan dia memandangi Wataru kecil yang sedang berpose memegang anjing kesayangannya sambil tersenyum bahagia. Yoshiki tersenyum dengan membendung sebuah airmata di kantung matanya. Yoshiki mencoba menyentuh foto itu seakan dia ingin menyentuh Wataru kecil yang polos dan berhati baik itu. lalu dua asistennya yang sudah setia beberapa tahun ini, datang dengan pakaian rapi ber-jas menghadap sang tuan majikan.

“Yoshiki-sama, apa sekarang saya membawa anak itu kemari?” tanya asistennya dengan sopan.

“ya,,bawalah ke sini, sebelum ramuan ini akan habis dan aku akan mati hari ini..” kata Yoshiki menjatuhkan airmata itu dan menetes pada foto tepat di wajah Wataru yang tersenyum ceria. Asisten itu juga merasa sedih mengatakan hal itu. sambil menahan sedih, asistennya segera membungkukkan badannya dan permisi dari situ untuk melaksanakan perintah yang di tujukan Yoshiki padanya.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



“otsukaresama!!!”

Usai pelajaran sihir, semuanya bubaran kecuali Kai yang sekarang mepet-mepet pada Uruha untuk bisa merayunya bermain P.S malam ini di rumahnya.

“ayolaahhh~~~” kira Kai sambil menyenggol lengan Uruha dengan lengannya saat berjalan menuju kelas masing-masing dari aula.

“jangan hari ini, soalnya..” Uruha lalu melirik Aoi yang sepertinya tidak ingin melihat keadaan dua orang itu.

“soalnya apa?” bingung Kai.

“pokoknya jangan hari ini ya?pleaseee...” Uruha memohon dan mendengar suara deheman Aoi yang seakan dia mengetahui apa yang di katakan Uruha.

“huh..” akhirnya Kai kecewa dengan jawaban Uruha dan berjalan cepat meninggalkan mereka menuju kelasnya. Menaiki lift dengn wajah manyun khasnya. Tinggal Uruha yang bingung menjelaskan pada Aoi

“aku sudah menolaknya, jadi tenang ya?” kata Uruha merasa takut-takut pada Aoi.

“ok..aku boking dirimu seharian ini!” ucap Aoi dengan tegas.

“ya kali gue jabgay(jablay gay) yang di boking om-om~heu..” ucap Uruha kesal dengan nada cueknya. Aoi tertawa kecil mendengar itu. dan dia langsung merangkul gemas Uruha sampai Uruha kesakitan. Sementara Reita sedang membantu Kamijo mempersiapkan beberapa materi pelajaran untuk hari esok di ruangannya.

“bisa kau ambil data ini? Simpan di laci no 4 itu..” kata Kamijo memberikan sebuah map berisi data. Reita mengangguk dan mengambil map itu dan menyimpannya di laci no 4. Tapi Reita tiba-tiba teringat perkataan Ruki saat ada di kafe. Mungkin kalau bertanya pada Kamijo setidaknya rasa penasarannya hilang perlahan.

“ano Kamijo-sama~” kata Reita berbalik badan dengan perasaan campur aduk.

“ada apa?” tanya Kamijo dengan santai.

“Ruki mengatakan dirinya tidak enak hati hari ini semenjak dia bangun tidur..tidakkah merasa aneh melihat Ruki seharian murung seakan menutupi sesuatu?”kata Reita sambil berjalan mendekati kepala sekolahnya yang bijak itu. Kamijo diam seakan berpikir sesuatu sebelum dia berkata pada Reita.

“lalu mengatakan apa lagi?” kata Kamijo dengan hati-hati.

“dia hanya mengatakan itu. apa ada sesuatu? Kamijo-sama?” kata Reita duduk di hadapan meja kerjanya Kamijo. Kamijo merapatkan ke sepuluh jarinya dengan menghela nafas lalu menatap Reita dengan mantap (?).

“aku minta besok kalian berlima untuk berkumpul di ruang bawah tanah, ini private antara aku dan kalian berlima. Mengerti?” ucap Kamijo dengan nada pelan tapi tetap jelas terdengar Reita. Reita menyimpulkan kalau Kamijo akan mengatakan sesuatu yang sangat serius. Pasalnya Kamijo jarang-jarang mengundang mereka berlma ke ruang bawah tanah yang sangat rahasia.

“ah, baiklah..” Reita mengiyakan kata Kamijo.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Pengawal pribadi Yoshiki, Sugizo yang memakai pakaian serba hitam terbang dengan karpet berwarna merah keemasan dan mengikuti langkah Ruki yang sedang berjalan menuju rumahnya. Ruki tidak menggunakan sapu terbangnya karena Coda sedang di cuci hari ini(?). lalu Sugizo menurunkan karpetnya dan mensejajarkan dengan Ruki di samping. Ruki yang berjalan terhenti dan menyipitkan matanya melihat Sugizo tersenyum padanya.

“Ruki..” kata Sugizo yang sudah mengenali.

“darimana anda tahu nama saya? Saya tidak pakai name tag sekolah..” ucap Ruki bingung.

“bisa ikut denganku? Kakek Yoshiki ingin bertemu denganmu..”

“siapa dia? saya tidak kenal..”

“dia yang akan menjelaskan siapa kau sebenarnya yang bisa memiliki kekuatan besar selama ini..”

Mendengar itu, bukanlah hal yang mudah bagi Ruki mencerna. Dia antara bingung,khawatir dan merasa tidak yakin dengan perkataan orang yang sedang berhadapan dengannya. Dan dengan pemikiran yang matang, Ruki mengangguk seakan ia mengiyakan apa yang orang tersebut minta darinya.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Sebuah gedung yang mewah, arsiktektur eropa kuno dan beberapa pagar gerbang yang sepertinya unik dan megah itu membuat Ruki seakan tidak bisa mengedipkan matanya sekalipun. Sugizo merangkul tubuh kecil nan mungil Ruki dan mengajaknya ke dalam gedung mewah itu. mata Ruki terus melihat-lihat di sekitarnya sampai di hampir memutarkan kepalanya saat melihat patung burung elang yang gagah di depan sebuah pintu masuk ke dalam gedung.

Ruki menyadari, bahwa saat dia menapaki kakinya ke karpet merah, karpet itu ternyata bergerak layaknya eskalator namun bedanya ini flat. Karpet itu mengiringi mereka berdua menuju suatu ruangan megah juga yang membuat Ruki kembali menganga melihatnya.

Pintu itu terbuka sendirinya dan Ruki melihat seorang lelaki sedang duduk di kursi roda membelakangi dia. cahaya dari jendela itu menyinari lelaki itu dan terlihat bayangan di lantai. Ruki menyipitkan matanya dan melihat ke arah lelaki yang sedikit lebih sedikit membalikkan kursi rodanya dan mengarah pada Ruki. Yah, Yoshiki telah menghadap pada seorang anak muda bernama Ruki yang sangat polos dan memancarkan aura yang berbeda di mata Yoshiki. Yoshiki tersenyum dan membuat Ruki bingung, dia sama sekali tidak mengenal sosok yang sedang tersenyum padanya.

“Wataru~~” seru Yoshiki dengan pelan. Ruki membelalakkan matanya ketika Yoshiki mengatakan itu padanya. Ruki tidak sadar kalau kakinya sedikit memundurkan ke belakang. Yoshiki mendatanginya dengan menggerakkan roda tersebut mendekati Ruki.

“kau..benar-benar ada..” ucap Yoshiki yang membingungkan Ruki.

“kakek Yoshiki?” ucap Ruki mengira-ngira orang yang sedang ada di hadapannya. Yoshiki tersenyum seperti bahagia mendengar itu langsung dari Ruki. Yoshiki membentangkan tangannya seakan ia mengajak Ruki untuk memeluknya. Ruki menaikkan sebelah alisnya seakan bingung.

“peluk aku..” Yoshiki menyuruh dengan tatapan rindu yang mendalam pada Ruki. Ruki mendekat dengan masih bingung. Dan dengan sadar, Ruki memeluk Yoshiki dan matanya langsung berubah warna menjadi merah dan teringat masa lalu.

hiduplah kembali..

bentuk Argeza kembali..

semuanya tergantung padamu..

Mengingat kata-kata itu dan bayangan seseorang yang mirip dengannya, membuat Ruki langsung melepaskan pelukan itu mendadak dan matanya kembali hitam saat menatap Yoshiki.

“kau ingat sesuatu?” tanya Yoshiki dengan lembut. Ruki mengangguk cepat dengan helaan nafas yang tidak beraturan.

“kau titisannya Wataru..” kata Yoshiki mengungkap suatu fakta tentang Ruki. Ruki membelalakkan mata dan benar-benar berpikir kerasa bahwa yang di katakannya itu hanya bercanda semata.

“jangan bercanda denganku..siapa anda ini?” pikir Ruki. Yoshiki mendekatkan kembali dirinya dengan menggerakkan kursi rodanya.

“aku kakeknya Wataru yang mengasuh ketika masih kecil..” jelas Yoshiki dengan suara yang sedikit lantang.

“hah?? Kakek?? Bagaimana mungkin?! Masih hidup di jaman begini?!” Ruki tak habis pikir.

“aku meminum suatu ramuan khusus sehingga bisa awet sampai sekarang..” jawab Yoshiki dengan memegang tangan Ruki.

“lalu?” nada bicara Ruki melembut(?) seakan dia ingin tahu ada apa sebenarnya.

“sebelum ramuan ini habis dan aku meninggal, aku ingin berpesan padamu..kembalikan Argeza seperti semula dari tangan Byou..” Yoshiki menampung airmatanya seakan sebentar lagi akan menangis deras.

“a-apa..aku yang harus kembalikan?!” Ruki belum mengerti apa yang di ucapkan Yoshiki.

“hanya titisan Wataru yang mempunyai kekuatan besar untuk bisa mengembalikan Argeza ke semula..kekuatan yang selama ini kau miliki adalah wujud pembentukan dirimu sesungguhnya menjadi Wataru di masa lalu..maaf, aku baru bisa sampaikan ini pada hari ini saat aku akan pergi selamanya..aku ingin kau sudah cukup bisa mematangkan kekuatanmu yang selalu tiba-tiba muncul..maaf, aku tidak bisa membantumu..” jelas Yoshiki dengan menumpahkan airmatanya seakan dia menyesal baru bisa bertemu dengan Ruki detik ini juga. Ruki juga menangis melihat Yoshiki sedikit demi sedikit berubah kulitnya menjadi pucat pasi seperti mayat. Ruki langsung memegang kedua bahu Yoshiki seakan dia merasa iba melihat Yoshiki akan meninggalkannya sebentar lagi.

“peluk aku untuk yang terakhir kalinya..” kata Yoshiki dengan senyum sedihnya. Ruki memeluk lebih erat bahkan dia menangis dalam pelukan itu. Yoshiki menutup mata dan tersenyum. Linangan airmata itu adalah terakhir kalinya Yoshiki menangis. Ruki pun merasa tubuhnya berat menahan Yoshiki. Sugizo yang sudah tahu kalau ramuan itu sudah habis masa pakainya(?). Dan Ruki melepaskan pelukan itu dan melihat Yoshiki meninggal dalam keadaan tersenyum menutup mata dan melinangkan airmata bahagianya. Sugizo dan beberapa pelayan yang lain langsung membantu Yoshiki untuk di bawa ke kamar dan di urus jenazahnya. Ruki menutup mulutnya dan menangis sesegukan kenapa dia bisa mengetahui semua ini ketika orang yang berperan penting harus meninggalkannya dalam keadaan masih bingung.

---------------------------------------------------------------------------------------------//





No comments:

Post a Comment