Title : Argeza
Genre : fantasy,action,comedy,life,
nano-nano dah pokoknya XDDD
Cast : utamanya
Gajet yang lain numfang hehehehe..
Eps : 13
*cieeee sok anime
---------------------------------------------------------------------------------------------//
♡。゚.(*♡ The Fact ♡*)゚♡ °・
“pemirsa,
kerusakan yang di sebabkan oleh mahluk bernama Seizen kemarin mengakibatkan beberapa
gedung pencakar langit, jembatan penyebrangan dan juga taman kota rusak. Mahluk
yang tiba-tiba datang ini langsung di tangani par penyihir handal yang tidak di
ketahui siapa..pemerintah saat ini sedang menghitung biaya kerugian tersebut..”
ucap MiA, seorang reporter televisi yang sudah terkenal dengan profesional.
Semua yang menyaksikan terutama keluarga Ruki. Hyde menonton itu sambil minum
kopi di depan TV dengan perasaan setenang mungkin. Sementara Mika, menutup
mulutnya dengan kaget karena dia tahu siapa yang berhasil menaklukan mahluk
itu. dan Ruki, yang sudah siap-siap pun terhenti di anak tangga menuju meja
makan. Mpon, sepupunya yang semalam menginap di rumahnya langsung menoleh ke
Ruki. Ruki turun dengan tenang tanpa memperlihatkan wajahnya ke arah mereka.
Mengolesi roti dengan mentega dan beberapa selai rasa dan mengabaikan berita
itu. Mpon menghampirinya dengan bingung kenapa Ruki bersikap begini.
“kau
yang melakukannya?” tanya Mpon dengan tenang. Ruki hanya menoleh menatap
sebentar sepupunya yang sedang menanti jawabannya. Kemudian mengolesi kembali
rotinya yang belum rata.
“ya..”
singkat Ruki dengan nada malas.
“bagaimana
bisa kau melakukannya?” tanya Hyde yang penasarannya.
“perlu
kalian ketahui, setiap ada masalah dadakan aku bisa mengeluarkan kekuatan yang
di luar batas penyihir. Dan terkadang aku berpikir aku ini seperti bukan Ruki
yang remaja kebanyakan. Aku seperti orang lain~” jelas Ruki kemudian dia
melahap Roti sampai mulutnya penuh dan dia mengunyah sambil berpikir tentang
perkataannya.
“santailah
makannya, nanti tersedak..” ucap Mpon. Ruki menghela nafasnya.
---------------------------------------------------------------------------------------------//
Kamijo
dan beberapa staff menteri keuangan mendatangi tempat kejadian yang di
hancurkan oleh mahluk itu. staff menteri beserta asistennya sedang sibuk
mencatat apa saja yang harus di tanggung biayanya. Dan berapa santunan dana
yang harus bayarkan pada tiap-tiap karyawan gedung,warga dan juga semua pihak
yang ikut kena dampak mahluk tersebut yang mengalami kecelakaan akibat mahluk
ini. Menteri keuangan, Sujk yang berdiri di samping Juri memperlihatkan sebuah
layar kecil yang muncul tiba-tiba di hadapannya dengan transparan. Kekuatannya
yang terkenal dengan menghitung dengan cepat dan memiliki layar sentuh di udara
menjadikannya sebagai menteri keuangan yang handal. Sujk memperlihatkan data
yang harus di ganti kerugiannya. Juri menelan ludahnya pelan-pelan melihat
angka yen yang membengkakkan gara-gara insiden kemarin. Tapi Juri akhirnya menghela
nafas dan menekan layar itu pada tombol OK.
“siapkan
dananya~ agar semuanya bisa kembali seperti semula..” ujar Juri mensetujui apa
yang Sujk rencanakan di layar sentuh udara itu. kemudian Sujk menghilangkan
layar sentuh udara itu dengan melambaikan tangan sekali ke kiri dan hilanglah
layar itu dari hadapannya.
“selanjutnya
apa yang akan anda rencanakan Juri-sama?” tanya Koichi dengan sopan. Juri
terdiam, dia menatap bergantian Sujk dan Koichi. Kemudian dia memanggil Leda
yang sedang berbicara dengan staff lain.
“iya
tuan?” Leda berhadapan dengan Juri.
“dokumen
untuk persiapan nanti sudah selesai?”
“sudah
tuan..”
Juri
mengangguk kembali dan mengajak Leda menuju mobil canggih yang kecepatannya di
atas rata-rata. Pintu mobil itu membuka ke atas dengan sendirinya. Juri dan
Leda duduk di belakang. dan driver-nya sudah siap untuk menekan gas. Membawa
mereka kembali ke istana presiden.
---------------------------------------------------------------------------------------------//
Ruki
dan yang lainnya sedang makan di kafe sekolah bersama ke empat ketua kelas
level di satu meja yang sudah menjadi tempat langganan mereka. Uruha menatap
Ruki yang seharian ini diam tidak tahu kenapa. Mungkin, ada alasan lain kenapa
Ruki diam. Uruha tak dapat menanyakan hal ini karena akan percuma Ruki mungkin
tidak ingin mengatakannya. Reita juga merasakan seperti Uruha. Dia yang duduk
dekat Ruki langsung memegang punggung telapa tangan Ruki yang berada di atas
pahanya Ruki. Ruki menoleh dan melihat Reita seakan matanya bertanya ‘doshita?’. Ruki membalas itu dengan
tersenyum seakan bilang aku rapopo *plak XD*.
“Ruki
kok murung? Kenapa?” Aoi bingung setelah dia melahap spageti kesukaannya. Ruki
menoleh dan Reita segera melepaskan pegangannya dengan kaget.
“daijyoubu...”
Ruki tersenyum menyembunyikan sesuatu.
“gak
mungkin daijyoubu. Kau menyimpan sesuatu ya?” kata Uruha dengan memicingkan
matanya dengan curiga ke arah Ruki.
“mau
tahu aja apa mau tahu banget?” jawab Ruki dengan wajah polosnya.
GUBRAK!!
Semuanya
jatuh ke atas meja karena Ruki masih bisa bercandaan. Kai menghembuskan
nafasnya dengan sabar menghadapi Ruki, adik kelasnya.
“anak
manis, tapi lebih manisan aku~ kalau ada sesuatu yang menyangkut di hatimu,
ceritalah..kita bukan orang asing yang pertama kali kau temui, tapi kita sudah
seperti sodara..” kata Kai.
“gak
juga..” Uruha menimpal dengan cuek sambil menjilat belakang sendok yang masih
ada sisa saus pasta spageti.
“perumpaan
Uruuuuuuuu!!!” Kai menahan kesalnya. Sementara Uruha Cuma mengeluarkan lidahnya dengan konyol. Aoi Cuma geleng-geleng melihat
tingkah Uruha dan Kai.
“aku
hanya merasa tidak enak hati semenjak bangun tidur..entah kenapa..” jawab Ruki
membuat pandangan mereka ke arah Ruki dengan penuh tanda tanya.
“bad
dream?” tanya Uruha. Ruki menggeleng kembali. Dan semuanya kompak menghela
nafas membiarkan Ruki begitu saja karena mereka menyerah dengan menanyakan hal
yang tidak bisa di jawab Ruki detik ini juga.
---------------------------------------------------------------------------------------------//
Seorang
kakek bernama Yoshiki yang tinggi badannya persis seperti Uruha dan dia masih
terlihat segar dan muda karena minum ramuan awet muda sihir (?) sejak usia 20
tahun. Meski usianya sudah menginjak 1520 tahun *bisa jadi karena hanya di ff
lah XD*. Yoshiki hidup sederhana(?) di sebuah gedung mewah yang nyaman bersama
para pekerja nya yang selalu bergonta-ganti setiap tahunnya. Yoshiki sedang
duduk di kursi roda dan menatap keluar jendela. Dia melihat bingkai foto yang
ada di atas meja. Foto Wataru berumur 17 tahun yang mirip sekali dengan Ruki yang
sekarang. Yoshiki menggerakkan kursi rodanya dengan memutar kedua roda tersebut
dan mendekati meja tersebut. Di raihnya foto itu dan dia memandangi Wataru
kecil yang sedang berpose memegang anjing kesayangannya sambil tersenyum
bahagia. Yoshiki tersenyum dengan membendung sebuah airmata di kantung matanya.
Yoshiki mencoba menyentuh foto itu seakan dia ingin menyentuh Wataru kecil yang
polos dan berhati baik itu. lalu dua asistennya yang sudah setia beberapa tahun
ini, datang dengan pakaian rapi ber-jas menghadap sang tuan majikan.
“Yoshiki-sama,
apa sekarang saya membawa anak itu kemari?” tanya asistennya dengan sopan.
“ya,,bawalah
ke sini, sebelum ramuan ini akan habis dan aku akan mati hari ini..” kata
Yoshiki menjatuhkan airmata itu dan menetes pada foto tepat di wajah Wataru
yang tersenyum ceria. Asisten itu juga merasa sedih mengatakan hal itu. sambil
menahan sedih, asistennya segera membungkukkan badannya dan permisi dari situ
untuk melaksanakan perintah yang di tujukan Yoshiki padanya.
---------------------------------------------------------------------------------------------//
“otsukaresama!!!”
Usai
pelajaran sihir, semuanya bubaran kecuali Kai yang sekarang mepet-mepet pada
Uruha untuk bisa merayunya bermain P.S malam ini di rumahnya.
“ayolaahhh~~~”
kira Kai sambil menyenggol lengan Uruha dengan lengannya saat berjalan menuju
kelas masing-masing dari aula.
“jangan
hari ini, soalnya..” Uruha lalu melirik Aoi yang sepertinya tidak ingin melihat
keadaan dua orang itu.
“soalnya
apa?” bingung Kai.
“pokoknya
jangan hari ini ya?pleaseee...” Uruha memohon dan mendengar suara deheman Aoi
yang seakan dia mengetahui apa yang di katakan Uruha.
“huh..”
akhirnya Kai kecewa dengan jawaban Uruha dan berjalan cepat meninggalkan mereka
menuju kelasnya. Menaiki lift dengn wajah manyun khasnya. Tinggal Uruha yang
bingung menjelaskan pada Aoi
“aku
sudah menolaknya, jadi tenang ya?” kata Uruha merasa takut-takut pada Aoi.
“ok..aku
boking dirimu seharian ini!” ucap Aoi dengan tegas.
“ya
kali gue jabgay(jablay gay) yang di boking om-om~heu..” ucap Uruha kesal dengan
nada cueknya. Aoi tertawa kecil mendengar itu. dan dia langsung merangkul gemas
Uruha sampai Uruha kesakitan. Sementara Reita sedang membantu Kamijo
mempersiapkan beberapa materi pelajaran untuk hari esok di ruangannya.
“bisa
kau ambil data ini? Simpan di laci no 4 itu..” kata Kamijo memberikan sebuah
map berisi data. Reita mengangguk dan mengambil map itu dan menyimpannya di
laci no 4. Tapi Reita tiba-tiba teringat perkataan Ruki saat ada di kafe.
Mungkin kalau bertanya pada Kamijo setidaknya rasa penasarannya hilang
perlahan.
“ano
Kamijo-sama~” kata Reita berbalik badan dengan perasaan campur aduk.
“ada
apa?” tanya Kamijo dengan santai.
“Ruki
mengatakan dirinya tidak enak hati hari ini semenjak dia bangun tidur..tidakkah
merasa aneh melihat Ruki seharian murung seakan menutupi sesuatu?”kata Reita
sambil berjalan mendekati kepala sekolahnya yang bijak itu. Kamijo diam seakan
berpikir sesuatu sebelum dia berkata pada Reita.
“lalu
mengatakan apa lagi?” kata Kamijo dengan hati-hati.
“dia
hanya mengatakan itu. apa ada sesuatu? Kamijo-sama?” kata Reita duduk di
hadapan meja kerjanya Kamijo. Kamijo merapatkan ke sepuluh jarinya dengan
menghela nafas lalu menatap Reita dengan mantap (?).
“aku
minta besok kalian berlima untuk berkumpul di ruang bawah tanah, ini private
antara aku dan kalian berlima. Mengerti?” ucap Kamijo dengan nada pelan tapi
tetap jelas terdengar Reita. Reita menyimpulkan kalau Kamijo akan mengatakan
sesuatu yang sangat serius. Pasalnya Kamijo jarang-jarang mengundang mereka
berlma ke ruang bawah tanah yang sangat rahasia.
“ah,
baiklah..” Reita mengiyakan kata Kamijo.
---------------------------------------------------------------------------------------------//
Pengawal
pribadi Yoshiki, Sugizo yang memakai pakaian serba hitam terbang dengan karpet
berwarna merah keemasan dan mengikuti langkah Ruki yang sedang berjalan menuju
rumahnya. Ruki tidak menggunakan sapu terbangnya karena Coda sedang di cuci
hari ini(?). lalu Sugizo menurunkan karpetnya dan mensejajarkan dengan Ruki di
samping. Ruki yang berjalan terhenti dan menyipitkan matanya melihat Sugizo
tersenyum padanya.
“Ruki..”
kata Sugizo yang sudah mengenali.
“darimana
anda tahu nama saya? Saya tidak pakai name tag sekolah..” ucap Ruki bingung.
“bisa
ikut denganku? Kakek Yoshiki ingin bertemu denganmu..”
“siapa dia? saya tidak kenal..”
“siapa dia? saya tidak kenal..”
“dia
yang akan menjelaskan siapa kau sebenarnya yang bisa memiliki kekuatan besar
selama ini..”
Mendengar
itu, bukanlah hal yang mudah bagi Ruki mencerna. Dia antara bingung,khawatir
dan merasa tidak yakin dengan perkataan orang yang sedang berhadapan dengannya.
Dan dengan pemikiran yang matang, Ruki mengangguk seakan ia mengiyakan apa yang
orang tersebut minta darinya.
---------------------------------------------------------------------------------------------//
Sebuah
gedung yang mewah, arsiktektur eropa kuno dan beberapa pagar gerbang yang
sepertinya unik dan megah itu membuat Ruki seakan tidak bisa mengedipkan
matanya sekalipun. Sugizo merangkul tubuh kecil nan mungil Ruki dan mengajaknya
ke dalam gedung mewah itu. mata Ruki terus melihat-lihat di sekitarnya sampai
di hampir memutarkan kepalanya saat melihat patung burung elang yang gagah di
depan sebuah pintu masuk ke dalam gedung.
Ruki
menyadari, bahwa saat dia menapaki kakinya ke karpet merah, karpet itu ternyata
bergerak layaknya eskalator namun bedanya ini flat. Karpet itu mengiringi mereka berdua menuju suatu ruangan
megah juga yang membuat Ruki kembali menganga melihatnya.
Pintu
itu terbuka sendirinya dan Ruki melihat seorang lelaki sedang duduk di kursi
roda membelakangi dia. cahaya dari jendela itu menyinari lelaki itu dan
terlihat bayangan di lantai. Ruki menyipitkan matanya dan melihat ke arah
lelaki yang sedikit lebih sedikit membalikkan kursi rodanya dan mengarah pada
Ruki. Yah, Yoshiki telah menghadap pada seorang anak muda bernama Ruki yang
sangat polos dan memancarkan aura yang berbeda di mata Yoshiki. Yoshiki
tersenyum dan membuat Ruki bingung, dia sama sekali tidak mengenal sosok yang
sedang tersenyum padanya.
“Wataru~~”
seru Yoshiki dengan pelan. Ruki membelalakkan matanya ketika Yoshiki mengatakan
itu padanya. Ruki tidak sadar kalau kakinya sedikit memundurkan ke belakang.
Yoshiki mendatanginya dengan menggerakkan roda tersebut mendekati Ruki.
“kau..benar-benar
ada..” ucap Yoshiki yang membingungkan Ruki.
“kakek
Yoshiki?” ucap Ruki mengira-ngira orang yang sedang ada di hadapannya. Yoshiki
tersenyum seperti bahagia mendengar itu langsung dari Ruki. Yoshiki
membentangkan tangannya seakan ia mengajak Ruki untuk memeluknya. Ruki
menaikkan sebelah alisnya seakan bingung.
“peluk
aku..” Yoshiki menyuruh dengan tatapan rindu yang mendalam pada Ruki. Ruki
mendekat dengan masih bingung. Dan dengan sadar, Ruki memeluk Yoshiki dan
matanya langsung berubah warna menjadi merah dan teringat masa lalu.
“hiduplah kembali..”
“bentuk Argeza kembali..”
“semuanya tergantung padamu..”
Mengingat
kata-kata itu dan bayangan seseorang yang mirip dengannya, membuat Ruki langsung
melepaskan pelukan itu mendadak dan matanya kembali hitam saat menatap Yoshiki.
“kau
ingat sesuatu?” tanya Yoshiki dengan lembut. Ruki mengangguk cepat dengan
helaan nafas yang tidak beraturan.
“kau
titisannya Wataru..” kata Yoshiki mengungkap suatu fakta tentang Ruki. Ruki
membelalakkan mata dan benar-benar berpikir kerasa bahwa yang di katakannya itu
hanya bercanda semata.
“jangan
bercanda denganku..siapa anda ini?” pikir Ruki. Yoshiki mendekatkan kembali
dirinya dengan menggerakkan kursi rodanya.
“aku
kakeknya Wataru yang mengasuh ketika masih kecil..” jelas Yoshiki dengan suara
yang sedikit lantang.
“hah??
Kakek?? Bagaimana mungkin?! Masih hidup di jaman begini?!” Ruki tak habis
pikir.
“aku
meminum suatu ramuan khusus sehingga bisa awet sampai sekarang..” jawab Yoshiki
dengan memegang tangan Ruki.
“lalu?”
nada bicara Ruki melembut(?) seakan dia ingin tahu ada apa sebenarnya.
“sebelum
ramuan ini habis dan aku meninggal, aku ingin berpesan padamu..kembalikan
Argeza seperti semula dari tangan Byou..” Yoshiki menampung airmatanya seakan
sebentar lagi akan menangis deras.
“a-apa..aku
yang harus kembalikan?!” Ruki belum mengerti apa yang di ucapkan Yoshiki.
“hanya
titisan Wataru yang mempunyai kekuatan besar untuk bisa mengembalikan Argeza ke
semula..kekuatan yang selama ini kau miliki adalah wujud pembentukan dirimu
sesungguhnya menjadi Wataru di masa lalu..maaf, aku baru bisa sampaikan ini
pada hari ini saat aku akan pergi selamanya..aku ingin kau sudah cukup bisa mematangkan
kekuatanmu yang selalu tiba-tiba muncul..maaf, aku tidak bisa membantumu..”
jelas Yoshiki dengan menumpahkan airmatanya seakan dia menyesal baru bisa
bertemu dengan Ruki detik ini juga. Ruki juga menangis melihat Yoshiki sedikit
demi sedikit berubah kulitnya menjadi pucat pasi seperti mayat. Ruki langsung
memegang kedua bahu Yoshiki seakan dia merasa iba melihat Yoshiki akan
meninggalkannya sebentar lagi.
“peluk
aku untuk yang terakhir kalinya..” kata Yoshiki dengan senyum sedihnya. Ruki
memeluk lebih erat bahkan dia menangis dalam pelukan itu. Yoshiki menutup mata
dan tersenyum. Linangan airmata itu adalah terakhir kalinya Yoshiki menangis.
Ruki pun merasa tubuhnya berat menahan Yoshiki. Sugizo yang sudah tahu kalau
ramuan itu sudah habis masa pakainya(?). Dan Ruki melepaskan pelukan itu dan
melihat Yoshiki meninggal dalam keadaan tersenyum menutup mata dan melinangkan
airmata bahagianya. Sugizo dan beberapa pelayan yang lain langsung membantu
Yoshiki untuk di bawa ke kamar dan di urus jenazahnya. Ruki menutup mulutnya
dan menangis sesegukan kenapa dia bisa mengetahui semua ini ketika orang yang
berperan penting harus meninggalkannya dalam keadaan masih bingung.
---------------------------------------------------------------------------------------------//
No comments:
Post a Comment