Sunday, April 6, 2014

Argeza ~11

Title      :               Argeza
Genre  :               fantasy,action,comedy,life, nano-nano dah pokoknya XDDD
Cast      :              utamanya Gajet yang lain numfang hehehehe..
Eps        :               11 *cieeee sok anime

---------------------------------------------------------------------------------------------//



。゚.(*♡ Virus DIS ♡*) °



Mungkin, kehidupan Uruha tidak banyak ada yang tahu. Termasuk teman-teman sekolahnya, hanya beberapa. Kai, yang dia jadikan sahabat bahkan seseorang yang menjadi penting dalam hidupnya pernah singgah di sini. Tapi itu adalah masa lalu, Uruha kemas menjadi suatu kenangan manis yang berakhir buruk. Dia juga tidak pernah akan menyangka, wajah manis Kai menyimpan suatu fakta yang membuat dirinya dan Kai sekarang jauh. Mungkin kasarnya mereka seperti tidak kenal satu sama lain~

Di apartemen yang sederhana ini, Uruha sebenarnya tinggal dengan kakaknya, Ibuki. Namun kakaknya memilih bekerja sebagai karyawan perusahaan biasa ketimbang mengikuti sekolah sihir yang di jalani adiknya sekarang. Ibuki selalu pergi di pagi hari dan pulang di larut malam. Sementara orangtuanya sudah cerai dan mereka memilih untuk hidup berdua di sini. Tapi semenjak kejadian dia di khianati oleh Kai, Aoi lah yang selalu menemaninya dan Uruha hanya bisa percaya padanya sampai sekarang. Aoi sudah dua kali mengunjungi apartemen ini hanya untuk menemani(?) Uruha dalam kesepiannya.

Dan di hari ini pun, Aoi sengaja duduk manis di sofa merapatkan kedua kakinya. Bersiul santai sambil memandang langit-langit ruang tengah apartemen Uruha. Suara ketukan langkah kaki yang terdengar terburu-buru seperti berasal dari lantai dua. Dan Aoi melihat ke arah sudut kiri di tangga menuju lantai dua, Uruha sedang turun terburu-buru.

“ah, gomen lama menunggu!” Uruha merasa bersalah saat menghampiri Aoi memandangnya polos dan menghentikannya siulannya. Uruha sudah siap dengan seragam sekolah sihirnya dan tatanan rambut semenarik mungkin.

“ah tidak apa. Kita pergi sekarang?” kata Aoi sambil berdiri di hadapan Uruha. Uruha mengangguk, kemudian mereka pun menuju luar apartemen. Aoi menjetikkan jari dan memunculkan karpet terbangnya sementara Uruha diam di belakang Aoi. Aoi melirik bingung ke arah Uruha.

“nebeng ya? sapu terbangku belum di cuci..” kata Uruha sembari memegang kedua pundak Aoi dari belakang dan sedikitmemajukan kepalanya dan matanya melirik mata Aoi dengan setengah memohon.

“bayarlah dengan memeluk pinggangku. Ok?” kata Aoi dengan santai naik karpet terbangnya. Uruha mendengus mendengar perkataan Aoi. Lalu Uruha duduk di belakang Aoi dan tangannya melingkar di pinggang Aoi. Persis seperti sedang naik motor. Kepala Uruha tertahan di pundak kiri Aoi dan memejamkan matanya

“biarkan aku tidur sebentar, semalam begadang..” kata Uruha dalam memejamkan matanya.

“makanya kalau memikirkan aku jangan sampe begadang..” pikir Aoi cuek melihat ke depan.

PLAK!

“ittai!” seru Aoi yang merasakan jitakan tangan Uruha mendarat di kepalanya walaupun Uruha tetap dalam keadaan tertidur di pundak.

Dan saat itu Uruha tidak sadar, mahluk sebesar bola kelereng berwarna hitam dengan duri-duri kecil di sekujur tubuh mahluk tersebut masuk ke dalam leher sebelah kiri Uruha dengan mudah dan tidak terasa sama sekali seperti hembusan angin biasa..

---------------------------------------------------------------------------------------------//



“Ohayou!!” seru Amano-sensei datang ke aula dan melihat semua siswa berkumpul dengan kelompoknya.

“Ohayou sensei!!” kompak para siswa menyambut guru tamvan yang satu ini *plak.

Amano langsung menuju tempat meja yang berada di tengah hadapan semua siswa. Di meja itu terdapat 3 tumpukan buku tebal berwarna coklat tua, jingga dan coklat muda. Amano memakai kacamata andalannya dengan menyentuhkan jarinya di sisi mata kanannya dengan jari telunjuk. Secara ajaib, Sensei sudah memakai kacamata tersebut lalu mengambil buku paling atas berwarna coklat muda dan membuka halaman 285.

“tolong buka halaman 285..” kata Amano masih fokus pada materi yang ia sebutkan tadi. Tiap-tiap kelompok yang duduk satu meja di beri buku tebal itu satu dan di simpan di tengah supaya adil dan merata(?). Kai mengulurkan tangannya dan membuka halaman itu dengan segera.

”pertahanan?” Ruki bingung membaca judul materi itu yang tertera cukup besar.

“maksudnya kita di latih pertahanan, begitu?” ucap Uruha menebak. Dan otomatis ke empat member lainnya menatap Uruha. Namun mereka setengah mati kaget tanpa bersuara ketika kulit Uruha berubah menjadi putih pucat seperti mayat.

“Uruha!” kata Reita dengan suara pelan tapi tetap saja kaget.

“hey, kalian! Bisakah tidak berisik?” kata Amano risih dengan suaranya Reita yang ternyata terdengar dan membuat pandangannya Amano serta yang lainnya ke arah meja kelompok tersebut.

“Ah! Uruha!” Amano juga menyadari kulit Uruha menjadi pucat sementara Uruha sendiri bingung kenapa kulitnya menjadi begini dan melihat-lihat terus bagian tangannya. Amano langsung menghampiri Uruha dengan langkah cepat dan panik. Amano memegang kening Uruha dan mendeteksi suhu tubuhnya. Uruha terdiam bingung dengan kejadian ini. Siswa yang lain berbisik membicarakan tentang kejadian ini.

“kau demam Uruha! Ikut aku ke ruang kesehatan!” seru Amano setelah fix menyatakan Uruha demam hanya lewat memegang keningnya.

“demam? Demam bagaimana aku merasa sehat begini?!” Uruha jelas menolak pernyataan itu karena dia memang merasakan dirinya baik-baik saja dan langsung mencoba memegang lehernya dengan punggung tangan kanannya benar, suhu tubuhnya meningkat tidak biasanya.

“ikutlah!” Amano kemudian merangkul Uruha. Dan otomatis Uruha berdiri dan mengikuti Amano sambil masih di rangkul Amano.

“tidak biasanya Uruha sakit begitu..” ujar Kai yang memang dia tahu siapa Uruha. Semua mata tertuju melihat Amano dan Uruha menuju pintu keluar. Amano memandang pintu keluar dan dengan sorot matanya dia membuka pintu tersebut. Pintu terbuka dan saat Amano sudah keluar, pintu menutup sendiri dan membuat aula kegaduhan karena Uruha yang mendadak sakit dengan tidak wajar.

“ada apa ini? Tidak biasanya sekali..” kata Shin menyadari suasana ini.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Kamijo berjalan cepat di dampingi Koichi menuju ruang kesehatan. Pintu terbuka sendiri ketika Kamijo masuk ke dalam dan melihat Uruha sedang duduk di atas ranjang dengan keadaan baik-baik saja. Uruha dan Amano melihat Kamijo yang panik menghampiri mereka berdua yang sedang berhadapan.

“Uruha!” Kamijo melihat wajah bahkan kulitnya semakin pucat seperti mayat. Kamijo memeriksa kening Uruha dengan perlahan dan mendeteksinya.

“dia tidak demam..apa jangan-jangan..” Amano berpikir ada sesuatu yang terjadi pada Uruha saat ini. Kamijo, Amano dan Koichi saling berpandangan bergantian.

“ada apa sih? Jelaskan donk!?” Uruha mulai kesal.

Sementara itu gedung Des Fleur sekarang dalam keadaan panik. Sebuah grafik yang menunjukkan tingkat sistem Argeza, sekarang menurun dari 11 menjadi 70. Tim pemantau mencari-cari benda ataupun mahluk yang telah menembus pertahanan Argeza. Gakuto sendiri sibuk menghubungi  kepolisian negara untuk menyuruh mereka segera beraksi untuk maju ke medan perang setelah semua sudah terlihat, kalau Argeza sudah tidak dapat bertahan kembali.

“presdir, aku meminta kerahkan seluruh kepolisian udara untuk menebarkan vaksin berupa serbuk bunga yang sudah di rancang khusus..kemungkinan beberapa mahluk kecil yang kasat mata sudah berada di wilayah kita..” ucap Gakuto dengan tenang meski pikirannya sedang panik.

baiklah, aku segera laksanakan..” ucap presdir pertahanan negara di telpon itu kemudian Gakuto menutup telponnya dan menghela nafasnya.

Teru, masuk ke dalam ruangan Gakuto dan membawa dua buah kertas print-an yang berisikan grafik dan juga penggambaran Argeza saat ini.

“Kamijo-sama! Ini!” Teru segera menyerahkan itu dan Gakuto melihatnya.

“mahluk DIS itu sudah memasuki wilayah pertahanan kita yang sudah memburuk. Ini ancaman awal bahwa warga bisa terkena dampaknya..” kata Teru. Gakuto terdiam dan berpikirkan sesuatu..

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Presdir sudah mengeluarkan perintah kalau seluruh kepolisian udara sekarang waktunya untuk melindungi masyarakat Argeza dari dampak mahluk DIS yang berbahaya itu. di langit yang tidak begitu cerah, ratusan polisi menaiki elang untuk menyebarkan serbuk bunga di langit. Mereka melayang-melayang dan membuat semua masyarakat terpana dengan fenomena alam yang tidak biasanya. Mpon, sepupunya Ruki pun memandangi fenomena ini dengan berdiri di jendela kamar Ruki. Mpon melihat polisi yang mengenakan seragam putih biru seperti militer itu menaiki elang yang gagah dan menaburkan serbuk bunga berwarna putih dari dalam sebuah kantong plastik khusus. Lama kelamaan, langit ini berubah. Warna putih efek serbuk tersebut seperti kabut di langit.

Kamijo yang ada di ruang kerjanya itu setelah menengok Uruha, melihat warna langit yang tidak biasanya lewat jendela yang ia buka lebar. Kamijo penasaran dengan apa yang melayang di langit itu dan mencoba untuk mencari tahu dengan mendekatkan ke jendela tersebut. Kamijo kaget melihat itu dan Kamijo bisa merasakan kalau Argeza nampaknya sudah mencapai tingkat ‘bahaya’ saat ini.

“lihat itu!” seru Saga menunjuk langit saat ia berada di koridor. Semua siswa yang selesai jam makan, mendadak berhenti dan melihat fenomena alam ini yang tidak biasanya. Termasuk Reita yang ada di belakang Saga.

“sistem pertahanan Argeza sebegitu darurat kah? Hingga menurunkan seluruh pasukan kepolisian udara?” ucap Saga dengan berpikir.

Uruha melihat pula kejadian ini dari balik jendela ruang kesehatan. Dia juga nampak bingung dengan keadaan seperti ini. Kemudian dia melihat kulit tangannya semakin pucat sekali dan dia jadi sedikit khawatir dengan keadaannya. Uruha pun keluar dari ruang kesehatan padahal Kamijo melarang keras dia untuk kemana-mana karena Kamijo sedang mengambil buku mantra menetralisir apa yang terjadi di dalam tubuh Uruha. Ketika Uruha keluar dari pintu ruang kesehatan yang membuka sendiri itu, Uruha belok ke kiri dengan langkah cepat, tepat saat itu Kai baru muncul dari sebuah koridor kanan dan melihat punggung Uruha yang belok ke kiri.

“URUHA!!” seru Kai mengejar Uruha dengan panik.

kemungkinan Uruha terkena virus DIS, kita harus secepatnya menolong. Kalau tidak, nyawanya akan melayang..

Kai mendengar percakapan tidak sengaja itu ketika dia melewati ruang kepala sekolah dan mengira itu percakapan Amano dan Kamijo di dalam ruangan tersebut. Kai sedikit tahu tentang mahluk DIS yang memang membahayakan itu. maka dari itu, dia langsung menuju tempat Uruha di ruang kesehatan.

Uruha yang hendak turun tangga, terhenti sejenak karena mendadak dirinya sulit bernafas. Uruha memegang dadanya dan sedikit meremat seragamnya dan entah kenapa jadi semakin sulit bernafas. Uruha menjatuhkan dirinya seperti berlutut dengan cucuran mimisan dari hidungnya yang menetes ke lantai. Uruha kaget kenapa dia mengalami ini. Kesulitan bernafasnya membuat dia kesakitan. Dan ketika Kai sudah menemukan Uruha dalam keadaan begitu, Uruha langsung pingsan di tempat dengan ceceran darah dari hidungnya.

“URUHA!!!”

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Semua siswa berbondong-bondong ke depan gerbang utama sekolah ini. Satu ambulance sudah membunyikan sirine nya yang membuat semua siswa khawatir apa yang terjadi. Kamijo, Amano, Kai, Reita, Aoi dan Ruki ikut menemani Uruha ke rumah sakit pusat untuk menolong Uruha. Koichi hanya bisa menenangkan keadaan dengan melarang siswanya untuk mendekati ambulance tersebut.

“Koichi-sensei, ada apa dengan Uruha??” tanya Shin dengan khawatir.

“Uruha terkena dampak virus DIS, tanda-tandanya adalah kulit pucat, sulit bernafas, mimisan dan pingsan. Jika dia tidak tertolong selama dua jam, nyawa Uruh akan melayang dengan sangat konyol hanya gara-gara sebuah virus bodoh itu..” kata Koichi sambil melihat ambulance-nya sudah pergi sedikit menjauh dari mereka.

“berarti yang di langit itu-“

“bukan, kepolisian sedang menebarkan serbuk bunga supaya DIS bisa musnah..dan  tidak akan ada korban lain selain Uruha..” ucap Koichi dengan jelas.

“malang sekali Uruha..” ucap Ryouga.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Rumah sakit dengan teknologi tinggi ini gedungnya klasik berwarna krem dengan ukiran-ukiran eropa yang menjadikan bangunan ini sedikit artistik. Uruha langsung di beri alat bantuan pernafasan dan membawanya ke ruang UGD dengan segera. Sementara yang lainnya menunggu di ruang tunggu dengan sangat khawatir tinggi.

“semoga dia bisa di selamatkan..” ucap Kamijo berharap sekali.

Selama dua jam, Uruha menjalani pemeriksaan. Dan selama dua jam itu, Kai bolak-balik dengan khawatir. Ruki tidak biasanya memperhatikan Kai sedekat ini. Ruki melihat Kai yang begitu cemas bahkan mungkin bisa saja mengeluarkan airmata secara tidak sadarkan diri. Ruki berdiri dan memegang tangan Kai untuk menghentikan dirinya yang bolak-balik terus.

“aku tahu kau sedang cemas sekali terhadap Uruha..bisakah kau tenangkan diri?” kata Ruki dengan bijak.

“DIS itu berbahaya Ruki! Taruhan nyawa!” seru Kai dengan raut wajah cemas dan ketakutan.

“lalu kalau taruhan nyawa, apa urusannya denganmu? Bukankah kau tidak peduli dengan Uruha? Kalaupun Uruha mati, bukankah kau merasa tidak punya saingan? Ups, maaf.. kata-kataku frontal..maaf sekali~” Ruki sedikit menyindir hubungan Kai dan Uruha yang sampai saat ini tidak baik.

“jauh di lubuk hatimu, kau menginginkan hubungan itu kembali,kan?” tebak Reita yang menatap Kai. Kamijo dan Amano saling pandang dan melihat ke arah Reita. Kai terdiam, matanya kosong memandang ubin lantai dan mengepalkan tangan kanannya.

“kalau kau benar-benar ingin hubungan itu kembali, ini saatnya kau harus menolongnya..dan selamatkan dia..” ujar Aoi menambahkan. Kai memandang bergantian Reita, Kai, Aoi dan Ruki.

“good luck!” ucap Amano tersenyum pada Kai. Dan Kai melihat senyum Kamijo dan Amano adalah dorongan untuk dirinya bisa memperbaiki hubungan itu.

“siapa yang mewakili Uruha di sini? Ada yang ingin aku bicarakan..” kata dokter yang tiba-tiba muncul. Dan saat itu, Kamijo maju ke depan.

“saya..”

“baiklah, ikut saya keruangan..”

Kamijo pun mengikuti langkah dokter yang bertubuh tinggi dan berbadan proposional. Ruangan yang jaraknya tidak jauh itu menjadikan keduanya berbicara privat mengenai keadaan Uruha..

“Uruha saat ini positif terkena virus DIS. Tapi dia sudah di beri obat penetralisir nya yang sudah pemerintah sediakan.. tapi, Uruha akan membutuhkan waktu yang lama untuk pulih. Bahkan untuk bangun dari pingsannya bisa sekitar dua minggu. Ini sama dengan koma..” jelas dokter itu duduk di tempat kerjanya. Kamijo duduk berhadapan dengan dokter dengan berpikir.

“jalan apa yang bisa menyelamatkan Uruha dengan cepat?” tanya Kamijo.

“virus DIS itu harus di keluarkan dari lehernya dengan cara di hisap dari leher seperti vampir. Tapi orang yang melakukan itu, kemungkinan terkena resiko akan mengalami sakit badan yang hebat..kecuali orang itu sudah minum penawar DIS jadi saat di hisap, DIS akan terhisap dan kemudian di muntahkan dalam keadaan mati total..” jelas dokter tersebut. Kamijo sedikit memikirkan tentang hal ini. Dia harus bisa menemukan orang yang bisa melakukan cara ini, tapi siapa?

“baiklah, akan aku pertimbangkan semuanya..terima kasih..saya akan menengok Uruha dengan anak-anak yang lain..” Kamijo berdiri dari duduknya, memberi salam hormat membungkuk kemudian balik badan kembali menuju teman-teman Uruha yang sedang mencemaskan keadaan genting ini.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



“hah?! Kenapa harus aku yang melakukannya?” kata Ruki kaget saat bicara berdua dengan Kamijo di taman rumah sakit yang sangat sejuk dengan banyak pepohonan dan daun berguguran.

“hanya kau yang bisa..kau selalu mempunyai kekuatan yang tidak terduga saat keadaan genting begini, tidakkah kau ingin membantu teman sendiri?” ujar Kamijo menatap Ruki yang mini(?) itu di hadapannya dengan memohon dengan lembut.

“bukannya aku tidak mau menolong, aku tidak tahu bagaimana mengeluarkan kekuatan yang selalu tiba-tiba tanpa aba-aba terlebih dahulu..lagipula aku manusia biasa, tidak selalu sempurna dalam sebuah kekuatan..” kata Ruki dengan matang. Kamijo langsung memegang kedua pundak Ruki dan membungkuk sedikit mensejajarkan tubuhnya dengan Ruki yang kecil itu.

“kau masih belum mengenal dirimu sendiri?” Kamijo menatap dalam mata Ruki yang berwarna coklat hazel kecil.

“mengenal? Maksudnya?” Ruki yang polos bingung dengan perkataan Kamijo. Kamijo melepaskan tangannya dan menghela nafas sedikit menjauh dari Ruki dan berbalik badan membelakangi Ruki.

“kau ada hubungan dengan Wataru..” kata Kamijo. Mata Ruki membelalak kaget dengan ucapan itu. Ruki kembali mencerna perkataan itu. barangkali dia salah mendengar.

“haha! Jangan kau jadikan ini alibi supaya aku bisa membantu Uruha! Dan siapa Wataru? Aku tidak kenal!” Ruki menolak ucapan Kamijo karena tidak masuk akal.

“kau memang tidak mengenal siapa Wataru, tapi darahmu adalah sebagian darinya..apakah kau tidak sadar memiliki kekuatan yang tidak di sangka-sangka seperti saat itu?” ungkap Kamijo menatap Ruki. Ruki terdiam. Benar katanya, Ruki selalu mendadak mendapatkan kekuatan itu entah darimana. Tapi kenapa harus di hubungkan dengan Wataru? Si pemuda di masa lalu yang membuat kristal Argeza?

“aku tidak mau tahu dan tidak mau dengar kata-kata itu lagi!” Ruki seakan kesal, dia berlari meninggalkan Kamijo yang diam menatap Ruki yang menjauh.

“tapi suatu saat kau akan mengetahui semuanya..aku hanya butuh kebenaran bukti dari dirimu yang memperkuat bahwa kau ada hubungan dengan Wataru..” jelas Kamijo mengepalkan tangan kanan.

---------------------------------------------------------------------------------------------//





Argeza ~10

Title      :               Argeza
Genre  :               fantasy,action,comedy,life, nano-nano dah pokoknya XDDD
Cast      :              utamanya Gajet yang lain numfang hehehehe..
Eps        :               10 *cieeee sok anime

---------------------------------------------------------------------------------------------//



。゚.(*♡ Emergency Of Argeza ♡*) °



Bukan pertama kalinya seluruh siswa Mahou Gakuen di kumpulkan di aula utama di sekolah ini yang luasnya dua kali lipat dari luas lapangan olahraga di luar sana. Hari ini di hari senin, seluruh siswa di kumpulkan kembali di aula ini karena perintah Hizaki yang sudah mengumumkannya lewat sebuah speaker aktif yang di pasang di tiap-tiap kelas di atas pintu kelas. tak ada satu pun siswa yang tidak berbisik atau mengomentari tentang pemanggilan ini. Mereka yang berbondong-bondong menuju aula tidak terlihat buru-buru namun tenang.

Reita, ketua siswa yang sudah menjalankan amanat Kamijo untuk mengendalikan siswanya, berjalan dengan tenang sambil sedikit menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan raut wajahnya yang sedang sangat khawatir atas pengumuman ini. Langkahnya yang tidak terlalu cepat, namun entah kenapa Reita sempat-sempatnya melamun saat berjalan begitu sampai-sampai dia menabrak salah satu siswa yang sedang berjalan di depannya

“ah!!” siswa itu menoleh melihat Reita menabrak pundak siswa itu.

“eh, Aoi!” Reita menyadari dia telah menabrak Aoi dari belakang dan mereka saling pandang sebentaran.

“apa yang terjadi?” tanya Aoi dengan pelan. Reita menggeleng cepat dan berjalan mendahului Aoi yang sedang terbengong melihat tingkah Reita yang tidak biasanya..

Ke tiga ketua kelas level, Uruha, Aoi dan Kai berdiri di depan barisan kelasnya masing-masing. Mereka diam tidak banyak bicara hanya bisa menunggu kedatangannya Kamijo dan menjelaskan ada apa mereka di kumpulkan seperti ini. Ruki yang berdiri di belakang Aoi, mengintipkan(?) kepalanya dari sisi tubuh kanan Aoi dan melihat para petinggi sihir berkumpul. Ruki tak mengenal semuanya, kecuali Amano, Tetsu, Hizaki dan Kamijo yang ia tahu. Para petinggi itu berjajar di sebelah podium. Dan Reita sekarang kembali ke barisannya di depan anak-anak kelas level 2. Sejajar dengan ketua lainnya yang sedang menatap ke depan dengan wajah tenang. Siswa yang lainnya masih ada yang mengobrol namun tetap dengan tertib tidak menggaduh dalam aula ini.

“Aoi, itu siapa yang mengenakan eyepatch hitam di mata sebelah kanan?” bisik Ruki yang sedikit jinjit agar dia bisa menyampaikan itu lewat telinga Aoi.

“dia Koichi, pengajar kelas level 5. Tapi karena level 5 belum di tempati siswa manapun, Koichi di liburkan mengajarkannya oleh Kamijo dan menyuruhnya untuk belajar kekuatan sihir yang lainnya..” kata Aoi yangmemundurkan kepalanya dan sedikit miring ke kanan menjelaskan pada Ruki dan tatapannya tetap fokus ke depan. Ruki membulatkan bibirnya yang imut itu setelah dia tahu siapa petinggi yang satu itu. Ruki pun penasaran, kenapa Koichi memakai eyepatch dan terlihat sedikit misterius.

“cewek,kan?” pikir Ruki kembali berbisik pada Ruki.

“cowok!!” jawab Aoi menegaskan dengan berbisik pula dengan geramannya karena Ruki sudah salah menduga siapa Koichi itu. Ruki mengerutkan dahinya melihat Koichi yang tidak pantas menjadi seorang lelaki sejati karena parasnya cantik sekali dengan rambut pink terikat namun di sembunyikan di balik topi sihir yang menjuntai ke atas. Ruki kemudian melihat Uruha yang berwajah dingin –seperti biasanya- ke arah depan entah memandangi siapa. Ruki melirik antara Koichi dan Uruha seperti sedang menentukan sesuatu.

“aku tetap memilih Uruha. Cantik, tapi galak.” Pikir Ruki kemudian menegakkan tubuhnya sejajar dengan Aoi dan melihat Kamijo dengan 3 petinggi sihir lainnya, Mana, Kaya dan Juka. Ruki bengong kembali, kenapa para petinggi di sini hobinya crossgender dan crossdress???

“bukan Mahou Gakuen, tapi harusnya Bishie Gakuen..” pikir Ruki nyeletuk begitu saja dan membuat sikut Aoi mendorong ke belakang dengan cepat dan mengenai dada Ruki yang terkena pelan dan tetap saja Ruki merasa sakit.

“baik semuanya, terima kasih sudah berkumpul. Dan maaf, dan lagi-lagi aku mengumpulkan kalian di sini. Ini mungkin kali terakhirnya kalian semua akan berkumpul di aula ini setelah pengumuman yang akan aku sampaikan detik ini. Para siswa Mahou Gakuen yang sangat aku cintai dan aku banggakan, mungkin media sudah memberitahu kalau Argeza sedang mengalami tingkat penurunan drastis. Dua hari yang lalu, rapat global seluruh petinggi benua termasuk petinggi dari Mahou Gakuen berkumpul di gedung [XI] untuk merencanakan pertahanan agar Argeza bisa pulih kembali..aku meminta pada seluruh siswa Mahou Gakuen untuk ikut berpatisipasi melindungi Argeza dengan seluruh kemampuan yang kalian miliki..” Kamijo memulai pidatonya dengan tenang dan mengheningkan aula ini. Ke tiga ketua level itu seperti sedang memikirkan apa yang harus mereka lakukan dengan keadaan seperti.

“kurikulum Mahou Gakuen juga akan di berhentikan sementara dan ujiannya pun di tunda sampai Argeza kembali menjadi tenang. Petinggi-petinggi yang ada di sini adalah yang akan mengajarkan kalian ilmu sihir untuk menyerang mahluk yang akan datang ke Argeza tanpa di undang. Untuk itu, mohon kerjasamanya dan aku meminta siapa yang berani maju ke medan perang demi Argeza?” Kamijo menekankan suaranya di akhir pembicaraannya.

Semuany terdiam dan saling berpandangan. Dan Kamijo melihat Aoi dengan wajah seriusnya dia menempelkan telapak tangan kanannya ke dadanya. Kamijo terdiam melihat itu. seluruh siswa yang berjajar dengan Aoi sedikit melirik dengan apa yang di lakukan dengan Aoi. Begitu juga dengan Kai, dia juga akhirnya mengikuti jejak Aoi. Sambil menghela nafas, Uruha juga melakukan hal yang sama. Reita yang melihatnya pun terharu dan sama-sama melakukan hal itu.

“KAMI SIAP!”

Mereka berempat kompak mengatakan itu dengan tatapan lurus ke depan. Tidak hanya mereka, melainkan yang lainnya mengikuti gaya tersebut termasuk Ruki yang ternyata menjadi sangat bertekad. Terlihat dari sorot matanya yang menajam dan menjadi merah seperti pertama kali dia marah terhadap Aoi. Dan anehnya Ruki langsung tersadarkan dan bola warna merah itu menghilang secara mendadak. Apakah Ruki seperti kerasukan roh seseorang?

“KAMI SIAP!” seru siswa yang lainnya kompakan dan Kamijo merasa lega bahwa siswanya berani mempertaruhkan nyawanya demi melindungi Argeza.

“terima kasih kepada siswaku, kalian berani mempertaruhkannya. Untuk hari ini, semua jadwal di rubah..aku khusus kan kembali pada kelompok yang dulu sudah bersatu. Bertujuan supaya berkelompok ini kalian bisa gabungkan kekuatan..atau saling melengkapi..” tambah Kamijo dengan bijaksananya.

“kelompok? Berarti, the GazettE kumpul kembali?”ucap Ruki dalam hatinya sambi melirik Kai dan Uruha bergantian.

lalu bagaimana dengan hubungan mereka?” Ruki terfikirkan bagaimana dengan Uruha dan Kai yang masih belum baikan.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Ruki duduk tegak dengan menumpukkan tangan kanan di atas tangan kiri. Matanya melirik ke kanan dan ke kiri bergantian. Dan helaan nafas itu pun tak dapat di sembunyikan..

Ruki satu meja dengan kelompoknya siapa lagi kalau bukan ke empat ketua level yang berbeda karakter dan beda cerita saat ini. Uruha yang duduk di sebelah kiri dan Kai di sebelah kanan membuat Ruki terus melirik-lirik keduanya.

“kalian belum baikan juga?” ujar Reita memancing pembicaraan. Bukannya saling pandang, Uruha dan Kai malah memandang Reita yang seakan mengintimidasinya. Reita cengengesan antara takut dan bingung bagaimana dengan mereka saat ini.

“daripada memikirkan itu, lebih baik bagaimana caranya kita menggabungkan kekuatan untuk Argeza..” sela Aoi sambil menopang dagunya di atas meja dengan wajah malasnya(?).

“ada satu hal yang ingin aku tanyakan..” kata Uruha memandang Ruki tajam.

“ada yang salah denganku?” Ruki merasa Uruha ingin menerkamnya.

“bukan, tapi tentang kekuatan hikari no naka, itu setara dengan kekuatan level 5. Aku sekarang berpikir tentangmu..” ujar Uruha. Ruki malah mendadak terharu(?).

“so sweet mikirin aku, padahal Uruha kan jaim..” kata Ruki sambil merapatkan kesepuluh jarinya dan mata berkaca-kaca kagum.

“BUKAN ITU DUDUL! Maksudku, sekarang aku berpikir kau itu siapa? Dari pertama aku bersentuhan denganmu dan sampai kau bertarung mengeluarkan kekuatan itu..” kata Uruha.

Ruki terdiam sejenak, dia juga bingung kenapa bisa padahal pada kenyataannya dia selalu bodoh dalam tes sihir. Tapi setiap mendadak ada kejadian dia bisa mengeluarkan kekuatan yang bahkan berbeda.

“aku merasa kau bukanlah dirimu saat kau marah karena aku mematahkan Coda kesayanganmu waktu itu~” pikir Aoi.

“itu-“ sebelum Ruki beres mengungkapkan, Koichi datang dari samping dan Ruki menatapnya dengan bengong.

“bisa ikut aku?” ucap Koichi. Ruki mengangguk dan kemudian mengikuti langkahnya Koichi. Sementara Aoi bersiul genit melihat Koichi yang aduhay(?).

“prikitiw!” seru Aoi yang cengengesan genit. Dan entah darimana, Uruha langsung menggeplak kepala Aoi dengan kipas lipat hitam andalannya.

“di sihir jadi gurame mau?” Uruha langsung mengibaskan kipas itu ke mukanya dengan wajah jutek memandang Aoi. Aoi menggeleng cepat. Tinggal Kai yang cekikikan pelan melihat Aoha sedang berantem..

---------------------------------------------------------------------------------------------//



“ku dengar kau bisa mengeluarkan kekuatan hikari no naka?” tanya Koichi melipatkan tangannya di depan Ruki yang menatapnya polos.

Tepat di ruangan kosong tanpa barang apapun hanya dinding cat putih bersih dan suhu udara yang dingin tanpa memakai AC atau apapun mereka sedang berbicara empat mata.

“kekuatan apa sih itu sebenarnya? Uruha dan kau yang paling penasaran..sementara aku benar-benar tidak tahu apa itu..bahkan untuk bertanya pada diri sendiri pun aku tidak bisa menjawabnya..” pikir Ruki yang pada kenyataannya memang tidak habis pikir dengan kekuatan yang di ucapkan sama oleh Uruha dan Koichi.

“yakin kau benar-benar tidak tahu?” Koichi juga merasa bingung. Ruki menggeleng cepat dengan yakin. Koichi melempar pandangannya ke atas sambil membolak-balikkan matanya ke kanan ke kiri.

“baiklah, aku mau pinjam tubuhmu sebentar..” kata Koichi kemudian memandang Ruki.

“eh pinjam tu-“ belum sempat mengatakan, Koichi dengan kekuatannya mengeluarkan sengatan listrik bercahaya merah dari matanya menuju mata Ruki dengan kilat. Seketika Ruki terdiam. Tatapannya kosong, dan gerakan mengedipnya sedikit agak pelan. Ruki sedang di hipnotis oleh Koichi.

Dengan menyentuh kedua pundak Ruki, Koichi mulai menatap Ruki dalam-dalam. Kemudian dengan menghela nafas, Koichi memulai ritualnya dalam menghipnotis.

“kau tahu siapa ajudannya Byou?” kata Koichi dengan mantap.

“ada empat, Kazuki, Manabu,Jin dan Rui..” jawab Ruki dengan pelan tapi pasti. Mendengar itu, Koichi melepaskan kedua  tangannya yang ada di pundak Ruki. Dia menghela nafas..

“kau itu..........” Koichi tidak bisa mengungkapkannya. Ruki menutup mata dan kemudian di pingsan dan tubuhnya jatuh ke hadapan Koichi sehingga Koichi menahan tubuh Ruki dan meliriknya dengan pandangan sesuatu(?)

Kamijo-sama benar, pembuktian ini sudah jelas..” ucap Koichi dalam hatinya.

---------------------------------------------------------------------------------------------//

Kai dan Uruha saling berhadapan saat mereka ada di lapangan sekolah. Kecocokan di antara mereka putus(?) setelah terjadi sebuah insiden pengkhianatan. Maka pandangan mereka pun benar-benar tidak bisa menentukan kalau mereka sedang dalam keadaan baik-baik. Sorot mata yang saling serang memaknai kebencian terlihat dari Reita yang ada di kejauhan dari hadapan mereka. Reita menghela nafas melihat itu, ada kalanya Reita juga bingung bagaimana untuk mempersatukan mereka. Tapi Reita juga mengerti kalau di posisinya Uruha saat itu, betapa sakitnya di khianati seorang teman yang sudah benar-benar di anggap bagian kehidupannya (?).

Langkah Reita yang sebenarnya berat itu terpaksa menghampiri mereka dengan perlahan. Ketika sampai di hadapan keduanya, Reita mengambil sesuatu dari saku jas seragamnya. Dia memperlihatkan cincin keabadian yang mereka buat untuk saling percaya satu sama lain d telapak tangannya yang tidak terlalu besar. Kai dan Uruha melihat itu dan kaget darimana Reita mendapatkannya. Yang paling ngenes(?) itu adalah Uruha. Dia hanya bisa memandang sebentar dan kemudian mengalihkan pandangannya seakan menguati dirinya untuk tidak menjatuhkan airmatanya *oh no!*

“kalian bisa kan kembali seperti pasangan cincin ini? Saling berdekatan?” kata Reita dengan sedih memandang cincin tersebut.

“dapat darimana cincin itu?” tanya Kai dengan pandangan sinis terhadap Reita.

“bagaimana aku mendapatkannya itu tidak penting. Dan harusnya aku yang mengajukan sebuah pertanyaan ‘dari sudut mana aku bisa menyatukan kalian seperti dulu?’ ” ucap Reita dengan sangat sedih.

Kai mengepalkan tangannya dan membuang pandangannya ke samping seakan dia tidak ingin melihat cincin itu ada di hadapannya kembali.

“kalian jangan membohongiku karena kekuatanku ada yang kalian tidak punya. aku bisa membaca pikiran seseorang, dan kalian sudah tahu,kan?” ujar Reita mulai mengakurkan keduanya.

“tidak ada yang bisa di harapkan..” ucap Uruha kembali memandang cincin itu dengan dingin namun dengan perasaan sedih.

“dalam hati kecil kalian, kalian saling memikirkan, saling merindukan, saling merasa kehilangan. Tapi kalian berdua selalu menepis itu jika teringat masa lalu. Hey, hentikan untuk mengingat masa lalu..kalian di beri masa lalu bukan untuk di sembunyikan dalam hati dan di kenang buruk..jadikan itu sebuah pembelajaran hidup dan kalian bisa mengulangi persahabatan kalian satu kali lagi dan berjanji saling menghargai untuk selamanya..” ujar Reita dengan bijak.

“kau berbicara begitu mudah, tapi kau jika jadi aku pada waktu itu, kau tidak akan mudah mengatakannya pada saat ini..” kata Uruha berbalik badan sedikit menunduk menutupi wajahnya dengan poninya yang sudah panjang sebibir dengan sibakan angin pelan. Kemudian berjalan. Terlihat dari rahang pipi kirinya Uruha menumpahkan air matanya. Sakit juga perasaannya kembali kacau.

“aku memang tidak bisa merasakan sakitnya kau pada masa lalu, tapi memaafkan akan membuat hatimu sedikit lega..” kata Reita menatap Uruha yang sedang berjalan menjauh darinya. Uruha tak menggubrisnya, lebih memilih diam menderaskan(?) jatuhan airmatanya.

Gomen~

---------------------------------------------------------------------------------------------//