Title : Argeza
Genre : fantasy,action,comedy,life,
nano-nano dah pokoknya XDDD
Cast : utamanya
Gajet yang lain numfang hehehehe..
Eps : 10
*cieeee sok anime
---------------------------------------------------------------------------------------------//
♡。゚.(*♡ Emergency Of Argeza ♡*)゚♡ °・
Bukan
pertama kalinya seluruh siswa Mahou Gakuen di kumpulkan di aula utama di
sekolah ini yang luasnya dua kali lipat dari luas lapangan olahraga di luar
sana. Hari ini di hari senin, seluruh siswa di kumpulkan kembali di aula ini
karena perintah Hizaki yang sudah mengumumkannya lewat sebuah speaker aktif
yang di pasang di tiap-tiap kelas di atas pintu kelas. tak ada satu pun siswa
yang tidak berbisik atau mengomentari tentang pemanggilan ini. Mereka yang
berbondong-bondong menuju aula tidak terlihat buru-buru namun tenang.
Reita,
ketua siswa yang sudah menjalankan amanat Kamijo untuk mengendalikan siswanya,
berjalan dengan tenang sambil sedikit menundukkan kepalanya untuk
menyembunyikan raut wajahnya yang sedang sangat khawatir atas pengumuman ini. Langkahnya
yang tidak terlalu cepat, namun entah kenapa Reita sempat-sempatnya melamun
saat berjalan begitu sampai-sampai dia menabrak salah satu siswa yang sedang berjalan
di depannya
“ah!!”
siswa itu menoleh melihat Reita menabrak pundak siswa itu.
“eh,
Aoi!” Reita menyadari dia telah menabrak Aoi dari belakang dan mereka saling
pandang sebentaran.
“apa
yang terjadi?” tanya Aoi dengan pelan. Reita menggeleng cepat dan berjalan
mendahului Aoi yang sedang terbengong melihat tingkah Reita yang tidak
biasanya..
Ke
tiga ketua kelas level, Uruha, Aoi dan Kai berdiri di depan barisan kelasnya
masing-masing. Mereka diam tidak banyak bicara hanya bisa menunggu kedatangannya
Kamijo dan menjelaskan ada apa mereka di kumpulkan seperti ini. Ruki yang
berdiri di belakang Aoi, mengintipkan(?) kepalanya dari sisi tubuh kanan Aoi
dan melihat para petinggi sihir berkumpul. Ruki tak mengenal semuanya, kecuali
Amano, Tetsu, Hizaki dan Kamijo yang ia tahu. Para petinggi itu berjajar di
sebelah podium. Dan Reita sekarang kembali ke barisannya di depan anak-anak
kelas level 2. Sejajar dengan ketua lainnya yang sedang menatap ke depan dengan
wajah tenang. Siswa yang lainnya masih ada yang mengobrol namun tetap dengan
tertib tidak menggaduh dalam aula ini.
“Aoi,
itu siapa yang mengenakan eyepatch
hitam di mata sebelah kanan?” bisik Ruki yang sedikit jinjit agar dia bisa
menyampaikan itu lewat telinga Aoi.
“dia
Koichi, pengajar kelas level 5. Tapi karena level 5 belum di tempati siswa
manapun, Koichi di liburkan mengajarkannya oleh Kamijo dan menyuruhnya untuk
belajar kekuatan sihir yang lainnya..” kata Aoi yangmemundurkan kepalanya dan
sedikit miring ke kanan menjelaskan pada Ruki dan tatapannya tetap fokus ke
depan. Ruki membulatkan bibirnya yang imut itu setelah dia tahu siapa petinggi
yang satu itu. Ruki pun penasaran, kenapa Koichi memakai eyepatch dan terlihat sedikit misterius.
“cewek,kan?”
pikir Ruki kembali berbisik pada Ruki.
“cowok!!”
jawab Aoi menegaskan dengan berbisik pula dengan geramannya karena Ruki sudah
salah menduga siapa Koichi itu. Ruki mengerutkan dahinya melihat Koichi yang
tidak pantas menjadi seorang lelaki sejati karena parasnya cantik sekali dengan
rambut pink terikat namun di sembunyikan di balik topi sihir yang menjuntai ke
atas. Ruki kemudian melihat Uruha yang berwajah dingin –seperti biasanya- ke
arah depan entah memandangi siapa. Ruki melirik antara Koichi dan Uruha seperti
sedang menentukan sesuatu.
“aku
tetap memilih Uruha. Cantik, tapi galak.” Pikir Ruki kemudian menegakkan
tubuhnya sejajar dengan Aoi dan melihat Kamijo dengan 3 petinggi sihir lainnya,
Mana, Kaya dan Juka. Ruki bengong kembali, kenapa para petinggi di sini hobinya
crossgender dan crossdress???
“bukan
Mahou Gakuen, tapi harusnya Bishie Gakuen..” pikir Ruki nyeletuk begitu saja
dan membuat sikut Aoi mendorong ke belakang dengan cepat dan mengenai dada Ruki
yang terkena pelan dan tetap saja Ruki merasa sakit.
“baik
semuanya, terima kasih sudah berkumpul. Dan maaf, dan lagi-lagi aku
mengumpulkan kalian di sini. Ini mungkin kali terakhirnya kalian semua akan
berkumpul di aula ini setelah pengumuman yang akan aku sampaikan detik ini.
Para siswa Mahou Gakuen yang sangat aku cintai dan aku banggakan, mungkin media
sudah memberitahu kalau Argeza sedang mengalami tingkat penurunan drastis. Dua
hari yang lalu, rapat global seluruh petinggi benua termasuk petinggi dari
Mahou Gakuen berkumpul di gedung [XI] untuk merencanakan pertahanan agar Argeza
bisa pulih kembali..aku meminta pada seluruh siswa Mahou Gakuen untuk ikut
berpatisipasi melindungi Argeza dengan seluruh kemampuan yang kalian miliki..”
Kamijo memulai pidatonya dengan tenang dan mengheningkan aula ini. Ke tiga
ketua level itu seperti sedang memikirkan apa yang harus mereka lakukan dengan
keadaan seperti.
“kurikulum
Mahou Gakuen juga akan di berhentikan sementara dan ujiannya pun di tunda
sampai Argeza kembali menjadi tenang. Petinggi-petinggi yang ada di sini adalah
yang akan mengajarkan kalian ilmu sihir untuk menyerang mahluk yang akan datang
ke Argeza tanpa di undang. Untuk itu, mohon kerjasamanya dan aku meminta siapa
yang berani maju ke medan perang demi Argeza?” Kamijo menekankan suaranya di
akhir pembicaraannya.
Semuany
terdiam dan saling berpandangan. Dan Kamijo melihat Aoi dengan wajah seriusnya
dia menempelkan telapak tangan kanannya ke dadanya. Kamijo terdiam melihat itu.
seluruh siswa yang berjajar dengan Aoi sedikit melirik dengan apa yang di
lakukan dengan Aoi. Begitu juga dengan Kai, dia juga akhirnya mengikuti jejak
Aoi. Sambil menghela nafas, Uruha juga melakukan hal yang sama. Reita yang
melihatnya pun terharu dan sama-sama melakukan hal itu.
“KAMI
SIAP!”
Mereka
berempat kompak mengatakan itu dengan tatapan lurus ke depan. Tidak hanya
mereka, melainkan yang lainnya mengikuti gaya tersebut termasuk Ruki yang
ternyata menjadi sangat bertekad. Terlihat dari sorot matanya yang menajam dan
menjadi merah seperti pertama kali dia marah terhadap Aoi. Dan anehnya Ruki
langsung tersadarkan dan bola warna merah itu menghilang secara mendadak.
Apakah Ruki seperti kerasukan roh seseorang?
“KAMI
SIAP!” seru siswa yang lainnya kompakan dan Kamijo merasa lega bahwa siswanya
berani mempertaruhkan nyawanya demi melindungi Argeza.
“terima
kasih kepada siswaku, kalian berani mempertaruhkannya. Untuk hari ini, semua
jadwal di rubah..aku khusus kan kembali pada kelompok yang dulu sudah bersatu.
Bertujuan supaya berkelompok ini kalian bisa gabungkan kekuatan..atau saling
melengkapi..” tambah Kamijo dengan bijaksananya.
“kelompok? Berarti,
the GazettE kumpul kembali?”ucap Ruki dalam hatinya sambi melirik Kai
dan Uruha bergantian.
“lalu bagaimana dengan hubungan mereka?”
Ruki terfikirkan bagaimana dengan Uruha dan Kai yang masih belum baikan.
---------------------------------------------------------------------------------------------//
Ruki
duduk tegak dengan menumpukkan tangan kanan di atas tangan kiri. Matanya
melirik ke kanan dan ke kiri bergantian. Dan helaan nafas itu pun tak dapat di
sembunyikan..
Ruki
satu meja dengan kelompoknya siapa lagi kalau bukan ke empat ketua level yang
berbeda karakter dan beda cerita saat ini. Uruha yang duduk di sebelah kiri dan
Kai di sebelah kanan membuat Ruki terus melirik-lirik keduanya.
“kalian
belum baikan juga?” ujar Reita memancing pembicaraan. Bukannya saling pandang,
Uruha dan Kai malah memandang Reita yang seakan mengintimidasinya. Reita
cengengesan antara takut dan bingung bagaimana dengan mereka saat ini.
“daripada
memikirkan itu, lebih baik bagaimana caranya kita menggabungkan kekuatan untuk
Argeza..” sela Aoi sambil menopang dagunya di atas meja dengan wajah
malasnya(?).
“ada
satu hal yang ingin aku tanyakan..” kata Uruha memandang Ruki tajam.
“ada
yang salah denganku?” Ruki merasa Uruha ingin menerkamnya.
“bukan,
tapi tentang kekuatan hikari no naka,
itu setara dengan kekuatan level 5. Aku sekarang berpikir tentangmu..” ujar
Uruha. Ruki malah mendadak terharu(?).
“so
sweet mikirin aku, padahal Uruha kan jaim..” kata Ruki sambil merapatkan
kesepuluh jarinya dan mata berkaca-kaca kagum.
“BUKAN
ITU DUDUL! Maksudku, sekarang aku berpikir kau itu siapa? Dari pertama aku
bersentuhan denganmu dan sampai kau bertarung mengeluarkan kekuatan itu..” kata
Uruha.
Ruki
terdiam sejenak, dia juga bingung kenapa bisa padahal pada kenyataannya dia
selalu bodoh dalam tes sihir. Tapi setiap mendadak ada kejadian dia bisa
mengeluarkan kekuatan yang bahkan berbeda.
“aku
merasa kau bukanlah dirimu saat kau marah karena aku mematahkan Coda
kesayanganmu waktu itu~” pikir Aoi.
“itu-“
sebelum Ruki beres mengungkapkan, Koichi datang dari samping dan Ruki
menatapnya dengan bengong.
“bisa
ikut aku?” ucap Koichi. Ruki mengangguk dan kemudian mengikuti langkahnya
Koichi. Sementara Aoi bersiul genit melihat Koichi yang aduhay(?).
“prikitiw!”
seru Aoi yang cengengesan genit. Dan entah darimana, Uruha langsung menggeplak
kepala Aoi dengan kipas lipat hitam andalannya.
“di
sihir jadi gurame mau?” Uruha langsung mengibaskan kipas itu ke mukanya dengan
wajah jutek memandang Aoi. Aoi menggeleng cepat. Tinggal Kai yang cekikikan
pelan melihat Aoha sedang berantem..
---------------------------------------------------------------------------------------------//
“ku
dengar kau bisa mengeluarkan kekuatan hikari
no naka?” tanya Koichi melipatkan tangannya di depan Ruki yang menatapnya
polos.
Tepat
di ruangan kosong tanpa barang apapun hanya dinding cat putih bersih dan suhu
udara yang dingin tanpa memakai AC atau apapun mereka sedang berbicara empat
mata.
“kekuatan
apa sih itu sebenarnya? Uruha dan kau yang paling penasaran..sementara aku
benar-benar tidak tahu apa itu..bahkan untuk bertanya pada diri sendiri pun aku
tidak bisa menjawabnya..” pikir Ruki yang pada kenyataannya memang tidak habis
pikir dengan kekuatan yang di ucapkan sama oleh Uruha dan Koichi.
“yakin
kau benar-benar tidak tahu?” Koichi juga merasa bingung. Ruki menggeleng cepat
dengan yakin. Koichi melempar pandangannya ke atas sambil membolak-balikkan
matanya ke kanan ke kiri.
“baiklah,
aku mau pinjam tubuhmu sebentar..” kata Koichi kemudian memandang Ruki.
“eh
pinjam tu-“ belum sempat mengatakan, Koichi dengan kekuatannya mengeluarkan
sengatan listrik bercahaya merah dari matanya menuju mata Ruki dengan kilat.
Seketika Ruki terdiam. Tatapannya kosong, dan gerakan mengedipnya sedikit agak
pelan. Ruki sedang di hipnotis oleh Koichi.
Dengan
menyentuh kedua pundak Ruki, Koichi mulai menatap Ruki dalam-dalam. Kemudian
dengan menghela nafas, Koichi memulai ritualnya dalam menghipnotis.
“kau
tahu siapa ajudannya Byou?” kata Koichi dengan mantap.
“ada
empat, Kazuki, Manabu,Jin dan Rui..” jawab Ruki dengan pelan tapi pasti.
Mendengar itu, Koichi melepaskan kedua
tangannya yang ada di pundak Ruki. Dia menghela nafas..
“kau
itu..........” Koichi tidak bisa mengungkapkannya. Ruki menutup mata dan
kemudian di pingsan dan tubuhnya jatuh ke hadapan Koichi sehingga Koichi
menahan tubuh Ruki dan meliriknya dengan pandangan sesuatu(?)
“Kamijo-sama benar, pembuktian ini sudah
jelas..” ucap Koichi dalam hatinya.
---------------------------------------------------------------------------------------------//
Kai
dan Uruha saling berhadapan saat mereka ada di lapangan sekolah. Kecocokan di
antara mereka putus(?) setelah terjadi sebuah insiden pengkhianatan. Maka pandangan
mereka pun benar-benar tidak bisa menentukan kalau mereka sedang dalam keadaan
baik-baik. Sorot mata yang saling serang memaknai kebencian terlihat dari Reita
yang ada di kejauhan dari hadapan mereka. Reita menghela nafas melihat itu, ada
kalanya Reita juga bingung bagaimana untuk mempersatukan mereka. Tapi Reita
juga mengerti kalau di posisinya Uruha saat itu, betapa sakitnya di khianati
seorang teman yang sudah benar-benar di anggap bagian kehidupannya (?).
Langkah
Reita yang sebenarnya berat itu terpaksa menghampiri mereka dengan perlahan.
Ketika sampai di hadapan keduanya, Reita mengambil sesuatu dari saku jas
seragamnya. Dia memperlihatkan cincin keabadian yang mereka buat untuk saling
percaya satu sama lain d telapak tangannya yang tidak terlalu besar. Kai dan
Uruha melihat itu dan kaget darimana Reita mendapatkannya. Yang paling
ngenes(?) itu adalah Uruha. Dia hanya bisa memandang sebentar dan kemudian
mengalihkan pandangannya seakan menguati dirinya untuk tidak menjatuhkan
airmatanya *oh no!*
“kalian
bisa kan kembali seperti pasangan cincin ini? Saling berdekatan?” kata Reita
dengan sedih memandang cincin tersebut.
“dapat
darimana cincin itu?” tanya Kai dengan pandangan sinis terhadap Reita.
“bagaimana
aku mendapatkannya itu tidak penting. Dan harusnya aku yang mengajukan sebuah
pertanyaan ‘dari sudut mana aku bisa menyatukan kalian seperti dulu?’ ” ucap
Reita dengan sangat sedih.
Kai
mengepalkan tangannya dan membuang pandangannya ke samping seakan dia tidak
ingin melihat cincin itu ada di hadapannya kembali.
“kalian
jangan membohongiku karena kekuatanku ada yang kalian tidak punya. aku bisa
membaca pikiran seseorang, dan kalian sudah tahu,kan?” ujar Reita mulai
mengakurkan keduanya.
“tidak
ada yang bisa di harapkan..” ucap Uruha kembali memandang cincin itu dengan
dingin namun dengan perasaan sedih.
“dalam
hati kecil kalian, kalian saling memikirkan, saling merindukan, saling merasa
kehilangan. Tapi kalian berdua selalu menepis itu jika teringat masa lalu. Hey,
hentikan untuk mengingat masa lalu..kalian di beri masa lalu bukan untuk di
sembunyikan dalam hati dan di kenang buruk..jadikan itu sebuah pembelajaran
hidup dan kalian bisa mengulangi persahabatan kalian satu kali lagi dan
berjanji saling menghargai untuk selamanya..” ujar Reita dengan bijak.
“kau
berbicara begitu mudah, tapi kau jika jadi aku pada waktu itu, kau tidak akan
mudah mengatakannya pada saat ini..” kata Uruha berbalik badan sedikit menunduk
menutupi wajahnya dengan poninya yang sudah panjang sebibir dengan sibakan
angin pelan. Kemudian berjalan. Terlihat dari rahang pipi kirinya Uruha
menumpahkan air matanya. Sakit juga perasaannya kembali kacau.
“aku
memang tidak bisa merasakan sakitnya kau pada masa lalu, tapi memaafkan akan
membuat hatimu sedikit lega..” kata Reita menatap Uruha yang sedang berjalan
menjauh darinya. Uruha tak menggubrisnya, lebih memilih diam menderaskan(?)
jatuhan airmatanya.
Gomen~
---------------------------------------------------------------------------------------------//
No comments:
Post a Comment