Sunday, April 6, 2014

Argeza ~10

Title      :               Argeza
Genre  :               fantasy,action,comedy,life, nano-nano dah pokoknya XDDD
Cast      :              utamanya Gajet yang lain numfang hehehehe..
Eps        :               10 *cieeee sok anime

---------------------------------------------------------------------------------------------//



。゚.(*♡ Emergency Of Argeza ♡*) °



Bukan pertama kalinya seluruh siswa Mahou Gakuen di kumpulkan di aula utama di sekolah ini yang luasnya dua kali lipat dari luas lapangan olahraga di luar sana. Hari ini di hari senin, seluruh siswa di kumpulkan kembali di aula ini karena perintah Hizaki yang sudah mengumumkannya lewat sebuah speaker aktif yang di pasang di tiap-tiap kelas di atas pintu kelas. tak ada satu pun siswa yang tidak berbisik atau mengomentari tentang pemanggilan ini. Mereka yang berbondong-bondong menuju aula tidak terlihat buru-buru namun tenang.

Reita, ketua siswa yang sudah menjalankan amanat Kamijo untuk mengendalikan siswanya, berjalan dengan tenang sambil sedikit menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan raut wajahnya yang sedang sangat khawatir atas pengumuman ini. Langkahnya yang tidak terlalu cepat, namun entah kenapa Reita sempat-sempatnya melamun saat berjalan begitu sampai-sampai dia menabrak salah satu siswa yang sedang berjalan di depannya

“ah!!” siswa itu menoleh melihat Reita menabrak pundak siswa itu.

“eh, Aoi!” Reita menyadari dia telah menabrak Aoi dari belakang dan mereka saling pandang sebentaran.

“apa yang terjadi?” tanya Aoi dengan pelan. Reita menggeleng cepat dan berjalan mendahului Aoi yang sedang terbengong melihat tingkah Reita yang tidak biasanya..

Ke tiga ketua kelas level, Uruha, Aoi dan Kai berdiri di depan barisan kelasnya masing-masing. Mereka diam tidak banyak bicara hanya bisa menunggu kedatangannya Kamijo dan menjelaskan ada apa mereka di kumpulkan seperti ini. Ruki yang berdiri di belakang Aoi, mengintipkan(?) kepalanya dari sisi tubuh kanan Aoi dan melihat para petinggi sihir berkumpul. Ruki tak mengenal semuanya, kecuali Amano, Tetsu, Hizaki dan Kamijo yang ia tahu. Para petinggi itu berjajar di sebelah podium. Dan Reita sekarang kembali ke barisannya di depan anak-anak kelas level 2. Sejajar dengan ketua lainnya yang sedang menatap ke depan dengan wajah tenang. Siswa yang lainnya masih ada yang mengobrol namun tetap dengan tertib tidak menggaduh dalam aula ini.

“Aoi, itu siapa yang mengenakan eyepatch hitam di mata sebelah kanan?” bisik Ruki yang sedikit jinjit agar dia bisa menyampaikan itu lewat telinga Aoi.

“dia Koichi, pengajar kelas level 5. Tapi karena level 5 belum di tempati siswa manapun, Koichi di liburkan mengajarkannya oleh Kamijo dan menyuruhnya untuk belajar kekuatan sihir yang lainnya..” kata Aoi yangmemundurkan kepalanya dan sedikit miring ke kanan menjelaskan pada Ruki dan tatapannya tetap fokus ke depan. Ruki membulatkan bibirnya yang imut itu setelah dia tahu siapa petinggi yang satu itu. Ruki pun penasaran, kenapa Koichi memakai eyepatch dan terlihat sedikit misterius.

“cewek,kan?” pikir Ruki kembali berbisik pada Ruki.

“cowok!!” jawab Aoi menegaskan dengan berbisik pula dengan geramannya karena Ruki sudah salah menduga siapa Koichi itu. Ruki mengerutkan dahinya melihat Koichi yang tidak pantas menjadi seorang lelaki sejati karena parasnya cantik sekali dengan rambut pink terikat namun di sembunyikan di balik topi sihir yang menjuntai ke atas. Ruki kemudian melihat Uruha yang berwajah dingin –seperti biasanya- ke arah depan entah memandangi siapa. Ruki melirik antara Koichi dan Uruha seperti sedang menentukan sesuatu.

“aku tetap memilih Uruha. Cantik, tapi galak.” Pikir Ruki kemudian menegakkan tubuhnya sejajar dengan Aoi dan melihat Kamijo dengan 3 petinggi sihir lainnya, Mana, Kaya dan Juka. Ruki bengong kembali, kenapa para petinggi di sini hobinya crossgender dan crossdress???

“bukan Mahou Gakuen, tapi harusnya Bishie Gakuen..” pikir Ruki nyeletuk begitu saja dan membuat sikut Aoi mendorong ke belakang dengan cepat dan mengenai dada Ruki yang terkena pelan dan tetap saja Ruki merasa sakit.

“baik semuanya, terima kasih sudah berkumpul. Dan maaf, dan lagi-lagi aku mengumpulkan kalian di sini. Ini mungkin kali terakhirnya kalian semua akan berkumpul di aula ini setelah pengumuman yang akan aku sampaikan detik ini. Para siswa Mahou Gakuen yang sangat aku cintai dan aku banggakan, mungkin media sudah memberitahu kalau Argeza sedang mengalami tingkat penurunan drastis. Dua hari yang lalu, rapat global seluruh petinggi benua termasuk petinggi dari Mahou Gakuen berkumpul di gedung [XI] untuk merencanakan pertahanan agar Argeza bisa pulih kembali..aku meminta pada seluruh siswa Mahou Gakuen untuk ikut berpatisipasi melindungi Argeza dengan seluruh kemampuan yang kalian miliki..” Kamijo memulai pidatonya dengan tenang dan mengheningkan aula ini. Ke tiga ketua level itu seperti sedang memikirkan apa yang harus mereka lakukan dengan keadaan seperti.

“kurikulum Mahou Gakuen juga akan di berhentikan sementara dan ujiannya pun di tunda sampai Argeza kembali menjadi tenang. Petinggi-petinggi yang ada di sini adalah yang akan mengajarkan kalian ilmu sihir untuk menyerang mahluk yang akan datang ke Argeza tanpa di undang. Untuk itu, mohon kerjasamanya dan aku meminta siapa yang berani maju ke medan perang demi Argeza?” Kamijo menekankan suaranya di akhir pembicaraannya.

Semuany terdiam dan saling berpandangan. Dan Kamijo melihat Aoi dengan wajah seriusnya dia menempelkan telapak tangan kanannya ke dadanya. Kamijo terdiam melihat itu. seluruh siswa yang berjajar dengan Aoi sedikit melirik dengan apa yang di lakukan dengan Aoi. Begitu juga dengan Kai, dia juga akhirnya mengikuti jejak Aoi. Sambil menghela nafas, Uruha juga melakukan hal yang sama. Reita yang melihatnya pun terharu dan sama-sama melakukan hal itu.

“KAMI SIAP!”

Mereka berempat kompak mengatakan itu dengan tatapan lurus ke depan. Tidak hanya mereka, melainkan yang lainnya mengikuti gaya tersebut termasuk Ruki yang ternyata menjadi sangat bertekad. Terlihat dari sorot matanya yang menajam dan menjadi merah seperti pertama kali dia marah terhadap Aoi. Dan anehnya Ruki langsung tersadarkan dan bola warna merah itu menghilang secara mendadak. Apakah Ruki seperti kerasukan roh seseorang?

“KAMI SIAP!” seru siswa yang lainnya kompakan dan Kamijo merasa lega bahwa siswanya berani mempertaruhkan nyawanya demi melindungi Argeza.

“terima kasih kepada siswaku, kalian berani mempertaruhkannya. Untuk hari ini, semua jadwal di rubah..aku khusus kan kembali pada kelompok yang dulu sudah bersatu. Bertujuan supaya berkelompok ini kalian bisa gabungkan kekuatan..atau saling melengkapi..” tambah Kamijo dengan bijaksananya.

“kelompok? Berarti, the GazettE kumpul kembali?”ucap Ruki dalam hatinya sambi melirik Kai dan Uruha bergantian.

lalu bagaimana dengan hubungan mereka?” Ruki terfikirkan bagaimana dengan Uruha dan Kai yang masih belum baikan.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Ruki duduk tegak dengan menumpukkan tangan kanan di atas tangan kiri. Matanya melirik ke kanan dan ke kiri bergantian. Dan helaan nafas itu pun tak dapat di sembunyikan..

Ruki satu meja dengan kelompoknya siapa lagi kalau bukan ke empat ketua level yang berbeda karakter dan beda cerita saat ini. Uruha yang duduk di sebelah kiri dan Kai di sebelah kanan membuat Ruki terus melirik-lirik keduanya.

“kalian belum baikan juga?” ujar Reita memancing pembicaraan. Bukannya saling pandang, Uruha dan Kai malah memandang Reita yang seakan mengintimidasinya. Reita cengengesan antara takut dan bingung bagaimana dengan mereka saat ini.

“daripada memikirkan itu, lebih baik bagaimana caranya kita menggabungkan kekuatan untuk Argeza..” sela Aoi sambil menopang dagunya di atas meja dengan wajah malasnya(?).

“ada satu hal yang ingin aku tanyakan..” kata Uruha memandang Ruki tajam.

“ada yang salah denganku?” Ruki merasa Uruha ingin menerkamnya.

“bukan, tapi tentang kekuatan hikari no naka, itu setara dengan kekuatan level 5. Aku sekarang berpikir tentangmu..” ujar Uruha. Ruki malah mendadak terharu(?).

“so sweet mikirin aku, padahal Uruha kan jaim..” kata Ruki sambil merapatkan kesepuluh jarinya dan mata berkaca-kaca kagum.

“BUKAN ITU DUDUL! Maksudku, sekarang aku berpikir kau itu siapa? Dari pertama aku bersentuhan denganmu dan sampai kau bertarung mengeluarkan kekuatan itu..” kata Uruha.

Ruki terdiam sejenak, dia juga bingung kenapa bisa padahal pada kenyataannya dia selalu bodoh dalam tes sihir. Tapi setiap mendadak ada kejadian dia bisa mengeluarkan kekuatan yang bahkan berbeda.

“aku merasa kau bukanlah dirimu saat kau marah karena aku mematahkan Coda kesayanganmu waktu itu~” pikir Aoi.

“itu-“ sebelum Ruki beres mengungkapkan, Koichi datang dari samping dan Ruki menatapnya dengan bengong.

“bisa ikut aku?” ucap Koichi. Ruki mengangguk dan kemudian mengikuti langkahnya Koichi. Sementara Aoi bersiul genit melihat Koichi yang aduhay(?).

“prikitiw!” seru Aoi yang cengengesan genit. Dan entah darimana, Uruha langsung menggeplak kepala Aoi dengan kipas lipat hitam andalannya.

“di sihir jadi gurame mau?” Uruha langsung mengibaskan kipas itu ke mukanya dengan wajah jutek memandang Aoi. Aoi menggeleng cepat. Tinggal Kai yang cekikikan pelan melihat Aoha sedang berantem..

---------------------------------------------------------------------------------------------//



“ku dengar kau bisa mengeluarkan kekuatan hikari no naka?” tanya Koichi melipatkan tangannya di depan Ruki yang menatapnya polos.

Tepat di ruangan kosong tanpa barang apapun hanya dinding cat putih bersih dan suhu udara yang dingin tanpa memakai AC atau apapun mereka sedang berbicara empat mata.

“kekuatan apa sih itu sebenarnya? Uruha dan kau yang paling penasaran..sementara aku benar-benar tidak tahu apa itu..bahkan untuk bertanya pada diri sendiri pun aku tidak bisa menjawabnya..” pikir Ruki yang pada kenyataannya memang tidak habis pikir dengan kekuatan yang di ucapkan sama oleh Uruha dan Koichi.

“yakin kau benar-benar tidak tahu?” Koichi juga merasa bingung. Ruki menggeleng cepat dengan yakin. Koichi melempar pandangannya ke atas sambil membolak-balikkan matanya ke kanan ke kiri.

“baiklah, aku mau pinjam tubuhmu sebentar..” kata Koichi kemudian memandang Ruki.

“eh pinjam tu-“ belum sempat mengatakan, Koichi dengan kekuatannya mengeluarkan sengatan listrik bercahaya merah dari matanya menuju mata Ruki dengan kilat. Seketika Ruki terdiam. Tatapannya kosong, dan gerakan mengedipnya sedikit agak pelan. Ruki sedang di hipnotis oleh Koichi.

Dengan menyentuh kedua pundak Ruki, Koichi mulai menatap Ruki dalam-dalam. Kemudian dengan menghela nafas, Koichi memulai ritualnya dalam menghipnotis.

“kau tahu siapa ajudannya Byou?” kata Koichi dengan mantap.

“ada empat, Kazuki, Manabu,Jin dan Rui..” jawab Ruki dengan pelan tapi pasti. Mendengar itu, Koichi melepaskan kedua  tangannya yang ada di pundak Ruki. Dia menghela nafas..

“kau itu..........” Koichi tidak bisa mengungkapkannya. Ruki menutup mata dan kemudian di pingsan dan tubuhnya jatuh ke hadapan Koichi sehingga Koichi menahan tubuh Ruki dan meliriknya dengan pandangan sesuatu(?)

Kamijo-sama benar, pembuktian ini sudah jelas..” ucap Koichi dalam hatinya.

---------------------------------------------------------------------------------------------//

Kai dan Uruha saling berhadapan saat mereka ada di lapangan sekolah. Kecocokan di antara mereka putus(?) setelah terjadi sebuah insiden pengkhianatan. Maka pandangan mereka pun benar-benar tidak bisa menentukan kalau mereka sedang dalam keadaan baik-baik. Sorot mata yang saling serang memaknai kebencian terlihat dari Reita yang ada di kejauhan dari hadapan mereka. Reita menghela nafas melihat itu, ada kalanya Reita juga bingung bagaimana untuk mempersatukan mereka. Tapi Reita juga mengerti kalau di posisinya Uruha saat itu, betapa sakitnya di khianati seorang teman yang sudah benar-benar di anggap bagian kehidupannya (?).

Langkah Reita yang sebenarnya berat itu terpaksa menghampiri mereka dengan perlahan. Ketika sampai di hadapan keduanya, Reita mengambil sesuatu dari saku jas seragamnya. Dia memperlihatkan cincin keabadian yang mereka buat untuk saling percaya satu sama lain d telapak tangannya yang tidak terlalu besar. Kai dan Uruha melihat itu dan kaget darimana Reita mendapatkannya. Yang paling ngenes(?) itu adalah Uruha. Dia hanya bisa memandang sebentar dan kemudian mengalihkan pandangannya seakan menguati dirinya untuk tidak menjatuhkan airmatanya *oh no!*

“kalian bisa kan kembali seperti pasangan cincin ini? Saling berdekatan?” kata Reita dengan sedih memandang cincin tersebut.

“dapat darimana cincin itu?” tanya Kai dengan pandangan sinis terhadap Reita.

“bagaimana aku mendapatkannya itu tidak penting. Dan harusnya aku yang mengajukan sebuah pertanyaan ‘dari sudut mana aku bisa menyatukan kalian seperti dulu?’ ” ucap Reita dengan sangat sedih.

Kai mengepalkan tangannya dan membuang pandangannya ke samping seakan dia tidak ingin melihat cincin itu ada di hadapannya kembali.

“kalian jangan membohongiku karena kekuatanku ada yang kalian tidak punya. aku bisa membaca pikiran seseorang, dan kalian sudah tahu,kan?” ujar Reita mulai mengakurkan keduanya.

“tidak ada yang bisa di harapkan..” ucap Uruha kembali memandang cincin itu dengan dingin namun dengan perasaan sedih.

“dalam hati kecil kalian, kalian saling memikirkan, saling merindukan, saling merasa kehilangan. Tapi kalian berdua selalu menepis itu jika teringat masa lalu. Hey, hentikan untuk mengingat masa lalu..kalian di beri masa lalu bukan untuk di sembunyikan dalam hati dan di kenang buruk..jadikan itu sebuah pembelajaran hidup dan kalian bisa mengulangi persahabatan kalian satu kali lagi dan berjanji saling menghargai untuk selamanya..” ujar Reita dengan bijak.

“kau berbicara begitu mudah, tapi kau jika jadi aku pada waktu itu, kau tidak akan mudah mengatakannya pada saat ini..” kata Uruha berbalik badan sedikit menunduk menutupi wajahnya dengan poninya yang sudah panjang sebibir dengan sibakan angin pelan. Kemudian berjalan. Terlihat dari rahang pipi kirinya Uruha menumpahkan air matanya. Sakit juga perasaannya kembali kacau.

“aku memang tidak bisa merasakan sakitnya kau pada masa lalu, tapi memaafkan akan membuat hatimu sedikit lega..” kata Reita menatap Uruha yang sedang berjalan menjauh darinya. Uruha tak menggubrisnya, lebih memilih diam menderaskan(?) jatuhan airmatanya.

Gomen~

---------------------------------------------------------------------------------------------//





No comments:

Post a Comment