Sunday, May 4, 2014

Argeza ~14

Title      :               Argeza
Genre  :               fantasy,action,comedy,life, nano-nano dah pokoknya XDDD
Cast      :              utamanya Gajet yang lain numfang hehehehe..
Eps        :               14 *cieeee sok anime

---------------------------------------------------------------------------------------------//



。゚.(* Mission *) °




“baik, rapat sudah beres. Semuanya bisa kembali ke kelas..” kata Kamijo yang menyelesaikan rapat guru dan semuanya yang sedang berkumpul di meja rapat di ruangan kamijo langsung bangkit dari duduknya dan segera bergegas untuk ke kelasnya masing-masing untuk mengajar. Namun, ketika Koichi hendak membuka pintu, dia melihat Ruki sedang menatapnya dengan segudang pikiran yang menghantui otaknya.

“Ruki? Ada apa?” tanya Koichi.

“aku ingin bicara dengan Kamijo-sama..” ucap Ruki seakan dia menahan perasaan yang menggebu-gebu yang terlihat dari tangannya yang meremat mengepal.

“tapi Kamijo-“

“ada apa nak?”

Belum beres bicara, Kamijo memotong pembicaraan antara Ruki dan Koichi. Keduanya memandang Kamijo yang berwajah bijaksana itu dengan kalem. Kamijo menghela nafas seakan dia mengerti apa yang di inginkan Ruki. Kamijo melirik pada Koichi dan sepertinya Koichi mengerti, dia mengangguk sekali dan pergi dari situ. Ruki dan Kamijo memandang Koichi yang pergi. Lalu Kamijo berpandangan dengan Ruki.

“ada yang mau kau bicarakan denganku?” Kamijo seakan sudah tahu maksud Ruki.

“bisakah kita tidak bicara di sini? Aku rasa rapat sudah selesai di dalam sana..” pikir Ruki.

“masuklah..” Kamijo mengajak Ruki untuk masuk ke dalam dan menutup rapat kembali pintu ruangannya.

“anda kenal Yoshiki, kan?” Ruki langsung pada pokok permasalahannya.

“kau bertemu dengannya?” jawab Kamijo dengan antusias.

“dia meninggal kemarin sore saat aku pulang sekolah..ada apa ini? Aku masih bingung..” kira Ruki yang pada kenyataannya dia itu masih bingung dengan semua situasi yang sudah memasuki darurat.

“aku sudah menyuruh ke empat lainnya menunggu di ruang bawah tanah, ikut aku..” Kamijo beranjak pergi dan Ruki mengikuti langkahnya dengan masih berpikir siapa ke empat lain yang di maksud Kamijo.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Kai, Uruha, Aoi dan juga Reita sedang menunggu di ruang bawah tanah sambil melihat-lihat beberapa benda seperti pot bunga yang dimana bunganya bergoyang sendiri. Aoi mencoba memegang pot bunga itu namun si bunga menyemburkan sebuah serbuk ke wajah Aoi sehingga seperti ketombe(?). aoi menaruh pot itu dengan spontan dan membersihkan wajahnya dan gelak tawa dari teman-temannya memenuhi ruangan tersebut.

“hahaha! Dia membencimu Aoi!” seru Uruha sepertinya dia yang paling puas di antara yang lain. Aoi membersihkan wajahnya dengan sapuan tangannya dan melirik Uruha dengan kesal karena sudah di tertawakan.

“diam kau..” kesal Aoi yang masih mendengar tawa Kai yang benar-benar lepas.

Braak...

Pintu ruang tanah bawah terbuka dengan sendirinya dan semua tertuju pada pintu itu. mereka melihat Kamijo dan Ruki sedang berdiri berdampingan seakan-akan mereka mau masuk ke dalam ruangan tersebut. Ruki memicingkan matanya, kenapa teman-teman se-grupnya ikutan gabung di ruang bawah tanah ini. Dengan diam seribu bahasa, Ruki melangkah masuk dan ikut berkumpul dengan yang lainnya.

“aku mengumpulkan kalian saat jam pelajaran yang sangat penting ini, karena kalian yang memang berhubungan dengan Argeza saat ini..” jelas Kamijo memulai pembicaraan.

“maksudnya?” kata Reita yang menyipitkan matanya.

“Ruki adalah titisan Wataru, remaja yang telah membentuk Argeza 1500 tahun yang lalu..” ucap Kamijo memandang ke lima anak tersebut. Sontak bukan main, yang lain memandang Ruki dengan tidak percaya. Tinggal Ruki yang menelan ludah dan terus menatap Kamijo.

“lalu?” Ruki ingin tahu kelanjutannya.

“dari awal kau masuk sekolah, saat kau di netralisirkan sebuah penghalang di tubuhmu oleh Gackt karena kau tidak punya kekuatan sihir pada umumnya, aku sudah curiga kau adalah titisannya. Tapi aku butuh banyak bukti dan aku terus berpikir bagaimana caranya..pertengkaran awal antara kau dan Aoi sebenarnya aku menyaksikannya dan berpura-pura tidak tahu. Itu adalah awal kekuatan sesungguhnya dimana kau memang titisannya Wataru..” ungkap Kamijo dengan mata berkaca-kaca. Semuanya kaget dan benar-benar kaget.

“apa?!” Kai kaget sekali dan memandang Ruki seakan dia tidak percaya sama sekali.

“beberapa kali kejadian seperti mengamuknya karasu dan yang lainnya, kau memunculkan kekuatan yang dimana tidak bisa di miliki seorang anak manusia pada umumnya. Dan saat itu aku yakin kau adalah titisannya. Aku dan semua petinggi sihir menyusun strategi. Kau masih ingat tentang pengelompokkan? Dimana kau akhirnya berkumpul berlima menjadi The Gazette? Aku yang merencanakan semua itu. ke empat ketua kelas level masing-masing mempunyai kekuatan yang melebihi dari siswa lainnya. Ku pikir kalau kau bergabung dengan mereka, kekuatanmu dan mereka akan bersatu. Dan kekuatan kalian sangat di butuhkan saat ini. Hanya penyatuan kekuatan kalian dan saling kerjasama, Argeza bisa di selamatkan. Hanya kalian berlima, Argeza di ujung tanduk, kalian yang bisa menyelamatkannya..” ucap Kamijo dengan menggebu-gebu membuat ke limanya mendengar dan merenung.

“separah itukah Argeza hingga di katakan di ujung tanduk?” kata Aoi.

“kristal sudah menipis, seluruh mahluk bisa masuk dengan mudah dari luar sana. Dan satu-satunya cara adalah..” Kamijo memandang kelima muridnya bergantian.

“adalah apa?” Uruha penasaran.

“kalian harus keluar dari benua ini dan kalahkan ketua dan juga ajudannya..” jelas Kamijo.

“ketua? Siapa?” Kai bingung.

“mahluk yang menyerang Argeza 1500 tahun yang lalu adalah hasil ciptaan seorang ketua kegelapan bernama Byou. Ajudannya, Rui, Kazuki, Manabu dan juga Jin di ciptakan dari kekuatan Byou. Mereka terpecah di 3 wilayah..3 wilayah itu yang harus kalian datangi dan bunuh mereka. Jika mereka mati, kalian akan mendapatkan 4 buah kristal yang jika di gabungkan dapat mengembalikan kristal Argeza..” tutur Kamijo menjelaskannya.

“kami harus melawan ke empat ajudan itu? kemudian mengembalikan kristal yang retak ini?” singkat Aoi. Kamijo mengangguk.

“Byou sangat ingin menguasai Argeza dan menundukkan semua penduduk agar taat pada perinta kejinya..untuk itu..aku mengutus kalian untuk pergi ke tiga wilayah itu, apa kalian siap?” pikir Kamijo. Semuanya terdiam seakan berpikir matang untuk masalah yang benar-benar serius ini.


“aku siap..” kata Ruki yang matanya melihat ubin lantai dan tangannya mengepal seakan dia dendam terhadap yang namanya Byou. Tatapannya di alihkan pada Kamijo dan bola matanya berubah menjadi merah. Yang lainnya melihat mata Ruki. Setengah terkejut melihat itu dan mereka meyakini kalau Ruki memang titisannya Wataru. 

Argeza ~13

Title      :               Argeza
Genre  :               fantasy,action,comedy,life, nano-nano dah pokoknya XDDD
Cast      :              utamanya Gajet yang lain numfang hehehehe..
Eps        :               13 *cieeee sok anime

---------------------------------------------------------------------------------------------//



。゚.(* The Fact *) °



“pemirsa, kerusakan yang di sebabkan oleh mahluk bernama Seizen kemarin mengakibatkan beberapa gedung pencakar langit, jembatan penyebrangan dan juga taman kota rusak. Mahluk yang tiba-tiba datang ini langsung di tangani par penyihir handal yang tidak di ketahui siapa..pemerintah saat ini sedang menghitung biaya kerugian tersebut..” ucap MiA, seorang reporter televisi yang sudah terkenal dengan profesional. Semua yang menyaksikan terutama keluarga Ruki. Hyde menonton itu sambil minum kopi di depan TV dengan perasaan setenang mungkin. Sementara Mika, menutup mulutnya dengan kaget karena dia tahu siapa yang berhasil menaklukan mahluk itu. dan Ruki, yang sudah siap-siap pun terhenti di anak tangga menuju meja makan. Mpon, sepupunya yang semalam menginap di rumahnya langsung menoleh ke Ruki. Ruki turun dengan tenang tanpa memperlihatkan wajahnya ke arah mereka. Mengolesi roti dengan mentega dan beberapa selai rasa dan mengabaikan berita itu. Mpon menghampirinya dengan bingung kenapa Ruki bersikap begini.

“kau yang melakukannya?” tanya Mpon dengan tenang. Ruki hanya menoleh menatap sebentar sepupunya yang sedang menanti jawabannya. Kemudian mengolesi kembali rotinya yang belum rata.

“ya..” singkat Ruki dengan nada malas.

“bagaimana bisa kau melakukannya?” tanya Hyde yang penasarannya.

“perlu kalian ketahui, setiap ada masalah dadakan aku bisa mengeluarkan kekuatan yang di luar batas penyihir. Dan terkadang aku berpikir aku ini seperti bukan Ruki yang remaja kebanyakan. Aku seperti orang lain~” jelas Ruki kemudian dia melahap Roti sampai mulutnya penuh dan dia mengunyah sambil berpikir tentang perkataannya.

“santailah makannya, nanti tersedak..” ucap Mpon. Ruki menghela nafasnya.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Kamijo dan beberapa staff menteri keuangan mendatangi tempat kejadian yang di hancurkan oleh mahluk itu. staff menteri beserta asistennya sedang sibuk mencatat apa saja yang harus di tanggung biayanya. Dan berapa santunan dana yang harus bayarkan pada tiap-tiap karyawan gedung,warga dan juga semua pihak yang ikut kena dampak mahluk tersebut yang mengalami kecelakaan akibat mahluk ini. Menteri keuangan, Sujk yang berdiri di samping Juri memperlihatkan sebuah layar kecil yang muncul tiba-tiba di hadapannya dengan transparan. Kekuatannya yang terkenal dengan menghitung dengan cepat dan memiliki layar sentuh di udara menjadikannya sebagai menteri keuangan yang handal. Sujk memperlihatkan data yang harus di ganti kerugiannya. Juri menelan ludahnya pelan-pelan melihat angka yen yang membengkakkan gara-gara insiden kemarin. Tapi Juri akhirnya menghela nafas dan menekan layar itu pada tombol OK.

“siapkan dananya~ agar semuanya bisa kembali seperti semula..” ujar Juri mensetujui apa yang Sujk rencanakan di layar sentuh udara itu. kemudian Sujk menghilangkan layar sentuh udara itu dengan melambaikan tangan sekali ke kiri dan hilanglah layar itu dari hadapannya.

“selanjutnya apa yang akan anda rencanakan Juri-sama?” tanya Koichi dengan sopan. Juri terdiam, dia menatap bergantian Sujk dan Koichi. Kemudian dia memanggil Leda yang sedang berbicara dengan staff lain.

“iya tuan?” Leda berhadapan dengan Juri.

“dokumen untuk persiapan nanti sudah selesai?”

“sudah tuan..”

Juri mengangguk kembali dan mengajak Leda menuju mobil canggih yang kecepatannya di atas rata-rata. Pintu mobil itu membuka ke atas dengan sendirinya. Juri dan Leda duduk di belakang. dan driver-nya sudah siap untuk menekan gas. Membawa mereka kembali ke istana presiden.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Ruki dan yang lainnya sedang makan di kafe sekolah bersama ke empat ketua kelas level di satu meja yang sudah menjadi tempat langganan mereka. Uruha menatap Ruki yang seharian ini diam tidak tahu kenapa. Mungkin, ada alasan lain kenapa Ruki diam. Uruha tak dapat menanyakan hal ini karena akan percuma Ruki mungkin tidak ingin mengatakannya. Reita juga merasakan seperti Uruha. Dia yang duduk dekat Ruki langsung memegang punggung telapa tangan Ruki yang berada di atas pahanya Ruki. Ruki menoleh dan melihat Reita seakan matanya bertanya ‘doshita?’. Ruki membalas itu dengan tersenyum seakan bilang aku rapopo *plak XD*.

“Ruki kok murung? Kenapa?” Aoi bingung setelah dia melahap spageti kesukaannya. Ruki menoleh dan Reita segera melepaskan pegangannya dengan kaget.

“daijyoubu...” Ruki tersenyum menyembunyikan sesuatu.

“gak mungkin daijyoubu. Kau menyimpan sesuatu ya?” kata Uruha dengan memicingkan matanya dengan curiga ke arah Ruki.

“mau tahu aja apa mau tahu banget?” jawab Ruki dengan wajah polosnya.

GUBRAK!!

Semuanya jatuh ke atas meja karena Ruki masih bisa bercandaan. Kai menghembuskan nafasnya dengan sabar menghadapi Ruki, adik kelasnya.

“anak manis, tapi lebih manisan aku~ kalau ada sesuatu yang menyangkut di hatimu, ceritalah..kita bukan orang asing yang pertama kali kau temui, tapi kita sudah seperti sodara..” kata Kai.

“gak juga..” Uruha menimpal dengan cuek sambil menjilat belakang sendok yang masih ada sisa saus pasta spageti.

“perumpaan Uruuuuuuuu!!!” Kai menahan kesalnya. Sementara Uruha Cuma  mengeluarkan lidahnya  dengan konyol. Aoi Cuma geleng-geleng melihat tingkah Uruha dan Kai.

“aku hanya merasa tidak enak hati semenjak bangun tidur..entah kenapa..” jawab Ruki membuat pandangan mereka ke arah Ruki dengan penuh tanda tanya.

“bad dream?” tanya Uruha. Ruki menggeleng kembali. Dan semuanya kompak menghela nafas membiarkan Ruki begitu saja karena mereka menyerah dengan menanyakan hal yang tidak bisa di jawab Ruki detik ini juga.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Seorang kakek bernama Yoshiki yang tinggi badannya persis seperti Uruha dan dia masih terlihat segar dan muda karena minum ramuan awet muda sihir (?) sejak usia 20 tahun. Meski usianya sudah menginjak 1520 tahun *bisa jadi karena hanya di ff lah XD*. Yoshiki hidup sederhana(?) di sebuah gedung mewah yang nyaman bersama para pekerja nya yang selalu bergonta-ganti setiap tahunnya. Yoshiki sedang duduk di kursi roda dan menatap keluar jendela. Dia melihat bingkai foto yang ada di atas meja. Foto Wataru berumur 17 tahun yang mirip sekali dengan Ruki yang sekarang. Yoshiki menggerakkan kursi rodanya dengan memutar kedua roda tersebut dan mendekati meja tersebut. Di raihnya foto itu dan dia memandangi Wataru kecil yang sedang berpose memegang anjing kesayangannya sambil tersenyum bahagia. Yoshiki tersenyum dengan membendung sebuah airmata di kantung matanya. Yoshiki mencoba menyentuh foto itu seakan dia ingin menyentuh Wataru kecil yang polos dan berhati baik itu. lalu dua asistennya yang sudah setia beberapa tahun ini, datang dengan pakaian rapi ber-jas menghadap sang tuan majikan.

“Yoshiki-sama, apa sekarang saya membawa anak itu kemari?” tanya asistennya dengan sopan.

“ya,,bawalah ke sini, sebelum ramuan ini akan habis dan aku akan mati hari ini..” kata Yoshiki menjatuhkan airmata itu dan menetes pada foto tepat di wajah Wataru yang tersenyum ceria. Asisten itu juga merasa sedih mengatakan hal itu. sambil menahan sedih, asistennya segera membungkukkan badannya dan permisi dari situ untuk melaksanakan perintah yang di tujukan Yoshiki padanya.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



“otsukaresama!!!”

Usai pelajaran sihir, semuanya bubaran kecuali Kai yang sekarang mepet-mepet pada Uruha untuk bisa merayunya bermain P.S malam ini di rumahnya.

“ayolaahhh~~~” kira Kai sambil menyenggol lengan Uruha dengan lengannya saat berjalan menuju kelas masing-masing dari aula.

“jangan hari ini, soalnya..” Uruha lalu melirik Aoi yang sepertinya tidak ingin melihat keadaan dua orang itu.

“soalnya apa?” bingung Kai.

“pokoknya jangan hari ini ya?pleaseee...” Uruha memohon dan mendengar suara deheman Aoi yang seakan dia mengetahui apa yang di katakan Uruha.

“huh..” akhirnya Kai kecewa dengan jawaban Uruha dan berjalan cepat meninggalkan mereka menuju kelasnya. Menaiki lift dengn wajah manyun khasnya. Tinggal Uruha yang bingung menjelaskan pada Aoi

“aku sudah menolaknya, jadi tenang ya?” kata Uruha merasa takut-takut pada Aoi.

“ok..aku boking dirimu seharian ini!” ucap Aoi dengan tegas.

“ya kali gue jabgay(jablay gay) yang di boking om-om~heu..” ucap Uruha kesal dengan nada cueknya. Aoi tertawa kecil mendengar itu. dan dia langsung merangkul gemas Uruha sampai Uruha kesakitan. Sementara Reita sedang membantu Kamijo mempersiapkan beberapa materi pelajaran untuk hari esok di ruangannya.

“bisa kau ambil data ini? Simpan di laci no 4 itu..” kata Kamijo memberikan sebuah map berisi data. Reita mengangguk dan mengambil map itu dan menyimpannya di laci no 4. Tapi Reita tiba-tiba teringat perkataan Ruki saat ada di kafe. Mungkin kalau bertanya pada Kamijo setidaknya rasa penasarannya hilang perlahan.

“ano Kamijo-sama~” kata Reita berbalik badan dengan perasaan campur aduk.

“ada apa?” tanya Kamijo dengan santai.

“Ruki mengatakan dirinya tidak enak hati hari ini semenjak dia bangun tidur..tidakkah merasa aneh melihat Ruki seharian murung seakan menutupi sesuatu?”kata Reita sambil berjalan mendekati kepala sekolahnya yang bijak itu. Kamijo diam seakan berpikir sesuatu sebelum dia berkata pada Reita.

“lalu mengatakan apa lagi?” kata Kamijo dengan hati-hati.

“dia hanya mengatakan itu. apa ada sesuatu? Kamijo-sama?” kata Reita duduk di hadapan meja kerjanya Kamijo. Kamijo merapatkan ke sepuluh jarinya dengan menghela nafas lalu menatap Reita dengan mantap (?).

“aku minta besok kalian berlima untuk berkumpul di ruang bawah tanah, ini private antara aku dan kalian berlima. Mengerti?” ucap Kamijo dengan nada pelan tapi tetap jelas terdengar Reita. Reita menyimpulkan kalau Kamijo akan mengatakan sesuatu yang sangat serius. Pasalnya Kamijo jarang-jarang mengundang mereka berlma ke ruang bawah tanah yang sangat rahasia.

“ah, baiklah..” Reita mengiyakan kata Kamijo.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Pengawal pribadi Yoshiki, Sugizo yang memakai pakaian serba hitam terbang dengan karpet berwarna merah keemasan dan mengikuti langkah Ruki yang sedang berjalan menuju rumahnya. Ruki tidak menggunakan sapu terbangnya karena Coda sedang di cuci hari ini(?). lalu Sugizo menurunkan karpetnya dan mensejajarkan dengan Ruki di samping. Ruki yang berjalan terhenti dan menyipitkan matanya melihat Sugizo tersenyum padanya.

“Ruki..” kata Sugizo yang sudah mengenali.

“darimana anda tahu nama saya? Saya tidak pakai name tag sekolah..” ucap Ruki bingung.

“bisa ikut denganku? Kakek Yoshiki ingin bertemu denganmu..”

“siapa dia? saya tidak kenal..”

“dia yang akan menjelaskan siapa kau sebenarnya yang bisa memiliki kekuatan besar selama ini..”

Mendengar itu, bukanlah hal yang mudah bagi Ruki mencerna. Dia antara bingung,khawatir dan merasa tidak yakin dengan perkataan orang yang sedang berhadapan dengannya. Dan dengan pemikiran yang matang, Ruki mengangguk seakan ia mengiyakan apa yang orang tersebut minta darinya.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Sebuah gedung yang mewah, arsiktektur eropa kuno dan beberapa pagar gerbang yang sepertinya unik dan megah itu membuat Ruki seakan tidak bisa mengedipkan matanya sekalipun. Sugizo merangkul tubuh kecil nan mungil Ruki dan mengajaknya ke dalam gedung mewah itu. mata Ruki terus melihat-lihat di sekitarnya sampai di hampir memutarkan kepalanya saat melihat patung burung elang yang gagah di depan sebuah pintu masuk ke dalam gedung.

Ruki menyadari, bahwa saat dia menapaki kakinya ke karpet merah, karpet itu ternyata bergerak layaknya eskalator namun bedanya ini flat. Karpet itu mengiringi mereka berdua menuju suatu ruangan megah juga yang membuat Ruki kembali menganga melihatnya.

Pintu itu terbuka sendirinya dan Ruki melihat seorang lelaki sedang duduk di kursi roda membelakangi dia. cahaya dari jendela itu menyinari lelaki itu dan terlihat bayangan di lantai. Ruki menyipitkan matanya dan melihat ke arah lelaki yang sedikit lebih sedikit membalikkan kursi rodanya dan mengarah pada Ruki. Yah, Yoshiki telah menghadap pada seorang anak muda bernama Ruki yang sangat polos dan memancarkan aura yang berbeda di mata Yoshiki. Yoshiki tersenyum dan membuat Ruki bingung, dia sama sekali tidak mengenal sosok yang sedang tersenyum padanya.

“Wataru~~” seru Yoshiki dengan pelan. Ruki membelalakkan matanya ketika Yoshiki mengatakan itu padanya. Ruki tidak sadar kalau kakinya sedikit memundurkan ke belakang. Yoshiki mendatanginya dengan menggerakkan roda tersebut mendekati Ruki.

“kau..benar-benar ada..” ucap Yoshiki yang membingungkan Ruki.

“kakek Yoshiki?” ucap Ruki mengira-ngira orang yang sedang ada di hadapannya. Yoshiki tersenyum seperti bahagia mendengar itu langsung dari Ruki. Yoshiki membentangkan tangannya seakan ia mengajak Ruki untuk memeluknya. Ruki menaikkan sebelah alisnya seakan bingung.

“peluk aku..” Yoshiki menyuruh dengan tatapan rindu yang mendalam pada Ruki. Ruki mendekat dengan masih bingung. Dan dengan sadar, Ruki memeluk Yoshiki dan matanya langsung berubah warna menjadi merah dan teringat masa lalu.

hiduplah kembali..

bentuk Argeza kembali..

semuanya tergantung padamu..

Mengingat kata-kata itu dan bayangan seseorang yang mirip dengannya, membuat Ruki langsung melepaskan pelukan itu mendadak dan matanya kembali hitam saat menatap Yoshiki.

“kau ingat sesuatu?” tanya Yoshiki dengan lembut. Ruki mengangguk cepat dengan helaan nafas yang tidak beraturan.

“kau titisannya Wataru..” kata Yoshiki mengungkap suatu fakta tentang Ruki. Ruki membelalakkan mata dan benar-benar berpikir kerasa bahwa yang di katakannya itu hanya bercanda semata.

“jangan bercanda denganku..siapa anda ini?” pikir Ruki. Yoshiki mendekatkan kembali dirinya dengan menggerakkan kursi rodanya.

“aku kakeknya Wataru yang mengasuh ketika masih kecil..” jelas Yoshiki dengan suara yang sedikit lantang.

“hah?? Kakek?? Bagaimana mungkin?! Masih hidup di jaman begini?!” Ruki tak habis pikir.

“aku meminum suatu ramuan khusus sehingga bisa awet sampai sekarang..” jawab Yoshiki dengan memegang tangan Ruki.

“lalu?” nada bicara Ruki melembut(?) seakan dia ingin tahu ada apa sebenarnya.

“sebelum ramuan ini habis dan aku meninggal, aku ingin berpesan padamu..kembalikan Argeza seperti semula dari tangan Byou..” Yoshiki menampung airmatanya seakan sebentar lagi akan menangis deras.

“a-apa..aku yang harus kembalikan?!” Ruki belum mengerti apa yang di ucapkan Yoshiki.

“hanya titisan Wataru yang mempunyai kekuatan besar untuk bisa mengembalikan Argeza ke semula..kekuatan yang selama ini kau miliki adalah wujud pembentukan dirimu sesungguhnya menjadi Wataru di masa lalu..maaf, aku baru bisa sampaikan ini pada hari ini saat aku akan pergi selamanya..aku ingin kau sudah cukup bisa mematangkan kekuatanmu yang selalu tiba-tiba muncul..maaf, aku tidak bisa membantumu..” jelas Yoshiki dengan menumpahkan airmatanya seakan dia menyesal baru bisa bertemu dengan Ruki detik ini juga. Ruki juga menangis melihat Yoshiki sedikit demi sedikit berubah kulitnya menjadi pucat pasi seperti mayat. Ruki langsung memegang kedua bahu Yoshiki seakan dia merasa iba melihat Yoshiki akan meninggalkannya sebentar lagi.

“peluk aku untuk yang terakhir kalinya..” kata Yoshiki dengan senyum sedihnya. Ruki memeluk lebih erat bahkan dia menangis dalam pelukan itu. Yoshiki menutup mata dan tersenyum. Linangan airmata itu adalah terakhir kalinya Yoshiki menangis. Ruki pun merasa tubuhnya berat menahan Yoshiki. Sugizo yang sudah tahu kalau ramuan itu sudah habis masa pakainya(?). Dan Ruki melepaskan pelukan itu dan melihat Yoshiki meninggal dalam keadaan tersenyum menutup mata dan melinangkan airmata bahagianya. Sugizo dan beberapa pelayan yang lain langsung membantu Yoshiki untuk di bawa ke kamar dan di urus jenazahnya. Ruki menutup mulutnya dan menangis sesegukan kenapa dia bisa mengetahui semua ini ketika orang yang berperan penting harus meninggalkannya dalam keadaan masih bingung.

---------------------------------------------------------------------------------------------//





Argeza ~12

Title      :               Argeza
Genre  :               fantasy,action,comedy,life, nano-nano dah pokoknya XDDD
Cast      :              utamanya Gajet yang lain numfang hehehehe..
Eps        :               12 *cieeee sok anime

---------------------------------------------------------------------------------------------//



。゚.(*♡ Rescue ♡*) °



Malam hari itu, angin semilir dingin dan desiran daun-daun terdengar sayup-sayup. Jendela kamar rawat inap Uruha yang terbuat dari kaca pertama berwarna bening ini, memperlihatkan keadaan Uruha yang saat ini sedang dalam keadaan koma. Dia terbaring lemah di atas ranjangnya dengan mata terpejam seakan entah kapan matanya bisa membuka lagi..

Pintu kamar inap Uruha terbuka sedikit dan terlihat wajah Kai yang setengah menengok ke arah Uruha yang tertidur. Terbesit dalam hatinya untuk bisa masuk ke dalam dan menjaga Uruha semalaman sampai dia sadar dari komanya. Namun sepertinya itu tidak mungkin, Kai seakan berat untuk bisa menjaga Uruha. Kai merasa berlaku tidak adil pada Uruha, sudah menyakiti bahkan mempertaruhkan pertemanan dan ketika Uruha dalam keadaan begini Kai baru tergerak hatinya untuk menolong. Sungguh, apa ini di sebut pecundang?

Kai menggigit bibir bawahnya dengan sangat pelan. Namun tiba-tiba saja seseorang memegang pundak Kai.

“Kai..”

Kai menengok dan melihat itu adalah Ruki yang sedang menatapnya penuh kekhawatiran. Kai berbalik memandang Ruki yang berpandangan tidak biasanya.

“ada apa?” tanya Kai.

“ada yang mau aku bicarakan denganmu, tapi jangan di sini..” ucap Ruki dengan pandangan yang melirik kanan-kiri memastikan tidak ada yang mendengarkan semuanya.

“koridor sana saja..”

Kai dan Ruki melangkah menuju koridor yang di tunjuk oleh Kai. Sepi dan sunyi dari hilir mudik orang-orang. Hanya beberapa perawat yang bolak-balik membawa peralatan kedokteran dengan hati-hati.

“katakan..” Kai penasaran.

“kau mau melakukan hal itu?” kata Ruki memulai.

“melakukan apa?”

“menolong Uruha, kau harus bisa mengeluarkan virus itu dari tubuh Uruha..”

“kenapa menyuruhku?”

“Kamijo-sensei sebenarnya yang menyuruhku karena aku selalu mendapatkan kekuatan tidak terduga ketika di saat-saat yang tidak di inginkan. tapi jujur, aku masih kelas level 1 dan tidak tahu menggunakan cara sihir yang tingkat tinggi seperti ini. Daripada aku gagal menolong Uruha, lebih baik kau yang melakukannya karena mungkin Uruha akan berterima kasih padamu telah menolongnya..anggap saja aku membantu hubungan kalian..”

“penawarnya?”

Dengan segera Ruki meraih tangan Aoi dan memberikannya sebuah obat penawar tanpa harus mengalihkan matanya memandang Aoi dengan keyakinan tinggi

“aku percaya kau ingin menebus kesalahanmu di masa lalu terhadap Uruha dan memulai kehidupan yang lebih baik dengan sahabatmu itu..” kata Ruki dengan bijak.

Kai melihat botol kecil dengan cairan berwarna merah keunguan dan berpikir dengan yang di katakan Ruki.

“percaya pada dirimu, bahwa kau bisa merubah semuanya menjadi indah..” pikir Ruki memegang lengan Kai. Kai dan Ruki berpandangan cukup lama. dan dengan yakin, Kai berbalik badan menggenggam obat penawar itu kemudian berlari menuju kamar inap Uruha dengan pasti. Ruki menghela nafasnya melihat itu. ia hanya berharap semuanya akan baik-baik saja.

Saat Kai kembali ke kamar inapnya Uruha, dia tidak menemukan Uruha dimanapun. Bahkan pandangan Kai begitu panik melihat ke kanan dan ke kiri mencari sosok yang keadaan sedang lemah itu.

“URU!”

Kai melihat dari balik jendela Uruha sedang berjalan dengan pelan seperti sleepwalker. Mata Uruha terbuka dan setengah sayu dengan bibir pucat terdiam tanpa berkata. Lengan Uruha tiba-tiba di tahan seseorang dan langsung di tarik sehingga berbalik badan menghadap seseorang yang menarik tangannya itu. dengan nafas terengah-engah dan keringat yang mulai membasahi dahinya, Kai memandang yakin Uruha. Ia mencoba perlahan memegang leher Uruha dan perlahan pula dia mengigit, menghisap virus itu segera mungkin.

“ahh...” Uruha merintih dan menutup matanya seakan ia merasakan nyeri karena hisapan Kai. Kai memperdalam gigitannya dan  kemudian dia melempar virus DIS berbentuk bola kelereng itu ke sembarang arah. Dan terlihat virus itu sudah mati dan tidak bergerak sama sekali. kini Uruha tersadarkan dari sleepwalker-nya dan menatap Kai dengan bingung.

“Kai?” sesaat memanggil itu, Uruha langsung pingsan dan Kai menahan tubuhnya.

---------------------------------------------------------------------------------------------//


Beberapa hari kemudian, para siswa sibuk memarkirkan sapu terbangnya di area parkir yang tersedia. Reita mengalungkan name card ke sapu terbangnya yang bernama Chizuru*ngasal*. Reita menghela nafasnya, kemudian dia berbalik dan melihat Uruha sedang berjalan menjinjing buku sihir yang tebal. Reita segera menghampirinya supaya Uruha tidak cepat pergi dari hadapannya.

“Uru!”. Dengen segera Uruha melihat ke belakang dan Reita suda berada di hadapannya.

“doshita?” Uruha cuek seperti biasanya. Tanpa berbicara, Reita merogoh saku celananya dan mengambil sebuah kotak cincin berwarna biru tua dan menunjukkannya pada Uruha dengan tersenyum manis.

“kembalikan ini pada Kai..kau tahu maksudku,kan?” kata Reita. Uruha meraih kotak itu dan membukanya, cincin keabadian yang pernah Reita ambil tanpa sepengetahuannya untuk mengembalikan keadaan Uruha dan Kai namun saat itu tidak berhasil. Perasaan Uruha kembali sakit melihat cincin ini, matanya mulai berkaca-kaca dan mencoba menahannya.

“pergilah..” suruh Reita. Uruha memandang Reita dengan tidak yakin.


<= flashback

Uruha membuka matanya dan tersadarkan dirinya ada di rumah sakit elit. Berbaring sambl melihat langit-langit dan mengingat apa yang terjadi padanya. Lalu dia merasakan tangannya seperti sedang di pegang seseorang. Uruha sedikit mengangkat kepalanya dan melihat ke samping. Nyatanya Kai yang memegang tangannya sambil tertidur di samping ranjang Uruha. Uruha langsung menarik tangannya dan Uruha setengah bangun dan menyandarkan diri ke punggung ranjang. Kai pun bangun dari tidurnya dan melihat Uruha sedang menatapnya dengan horor.

“kau sudah baikan?” tanya Kai dengan suara paraunya. Lama-lama Uruha bingung dengan perkataannya Kai dan mengkerutkan keningnya

“baikan apanya?”

“kau terkena virus DIS, lalu pingsan..dan sekarang kau sudah sembuh dari mahluk kecil jelek itu.” jelas Kai. Uruha kembali mengingat, yah benar Uruha tiba-tiba pingsan ketika dia mau turun tangga. Dan Uruha mengira Kai menolongnya.

“kau..menolongku?” tanya Uruha dengan takut-takut.

“hm..” Kai mengangguk samar tanpa menatap Uruha karena dia merasa tidak pantas menolong Uruha. Uruha benar-benar tidak percaya seorang Kai menolongnya. Dan keheningan pun membuat keduany saling berpikir.

“aku bukan tipe yang mudah mengatakan kesalahan. Tapi, dengan cara ini ku pikir kau akan mengerti..” ucap Kai dengan jelas.

Sayang, sebelum Uruha menanggapi kata-kata Kai, teman-temannya serta Amano juga Kamijo memasuki ruang inap Uruha dengan cemas.

“bagaimana keadaanmu?” tanya Kamijo.

“aku permisi dulu, ada urusan di luar sana.” Kai lalu pergi dari situ dengan wajah kecewa. Reita yang peka dengan situasi ini, hanya melihat Kai keluar ruangan dan semuanya kembali fokus ke Uruha.

Kai berada di belakang pintu kamar inap Uruha. Dia mengatur nafasnya dengan perasaan yang bergemuruh. Maksud Kai hanyalah sederhana, dia ingin menolong dengan tulus dan mendapat maaf dari Uruha. Tapi Uruha tidak peka sama sekali, mungkin juga karena dia sudah terlalu sakit hati. Airmata itupun jatuh begitu saja tanpa di sadari Kai dengan bibir bergetar tidak seperti biasanya.

ð  Flashback End



Uruha sekarang sedang memandang Kai dari gerbang menuju loker sekolah. Kai sedang mengambil beberapa buku sihir dari balik lokernya dan sepertinya dia sedang melihati sesuatu yang membuat Uruha mencuri kesempatan mumpung Kai di situ dan loker lama-lama sepi karena suara bel masuk sudah berdering.

Kai menutup lokernya dan dia melihat Uruha sudah ada di belakangnya berkat kaca yang ia pasang di pintu loker itu. langsung saja Kai berbalik badan dan menatap Uruha tidak percaya bahwa ia akan menghampiri Kai dengan pandangan sendu seakan ingin mengatakan sesuatu.

Uruha mengulurkan tangannya dan membuka telapak tangannya perlahan memperlihatkan cincin keabadian yang mereka buat dua tahun yang lalu. Perasaan Kai serasa terkoyak melihat cincin itu yang samar-samar ada api biru menyala. Kai menatap Uruha dan cincin bergantian. Dia tidak mengerti ada apa~

“ambil satu.” Kata Uruha memandang cincin itu. dengan perasaan sakit hati dan menahannya, Kai meraih cincin itu kemudian memperhatikan cincin berapi biru ini.

“kalau kita pakai bersama, apa kita akan kembali ke masa dulu?” pikir Uruha tanpa memandang Kai malahan menatap cincin itu dengan dengan raut wajah sedih.

“aku juga bukan tipe yang bisa mengatakan bahwa aku sudah memaafkan semuanya. Tapi rasa sakit itu terus mengusik pikiran dan hatiku. Sampai saat kemarin kau menolongku, aku mengerti bahwa itu adalah ungkapan permintaan maaf darimu untukku..sekarang, apa yang harus kita tunda lagi? Kita bisa menjalin dari awal, kan? Dan jangan biarkan aku menjadi jutek begini ke semua orang gara-gara trauma untuk mempercayai orang lain..” ungkap Uruha dengan tenang namun kantung matanya sudah menampung bendungan airmata. Kai melihat itupun sama membendung airmata.

“dan semoga airmata ini awal kebahagiaan kita..” kata Kai dengan senyum manis dan di sambut Uruha dengan senyum manis juga. Mereka saling malu-malu untuk tersenyum. Kemudian mereka berdua pun berpelukan hangat dan menjatuhkan airmatanya masing-masing. Membiarkan perasaan yang terpendam dua tahun itu mengalir begitu saja..

“niichan..” Uruha memanggil itu dengan nada manja ke Kai. Kai tertawa kecil dan benar-benar senang mendengar itu.

“maafkan aku, aku akan memperbaiki kesalahanku..” Kai melepaskan pelukan itu. Uruha menggeleng seakan dia tidak setuju.

“lebih baik, jadilah niichan ku yang bisa melindungiku yang lemah ini.” Ucap Uruha berharap. Kai mengacak-ngacak rambut coklat halus milik Uruha itu. dan Uruha tertawa untuk pertama kali yang terlihat lebar dan wajahnya manis.

“kita tanding PS lagi yuk! Aku punya jurus sendiri lho..” kata Kai.

“boleh, yang kalah keliling Mahou Gakuen pake kolor doank..haha..” Uruha iseng dan membuat keduanya tertawa lepas dan menggaduhkan ruang loker itu

Ternyata Kamijo menyaksikan itu dari kejauhan dan ikut terharu dengan tersenyum dan menyeka airmatanya yang ternyata jatuh secara murni dari hatinya.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Des Fleur menemukan beberapa mahluk asing yang sedang keluyuran(?) di langit. Beberapa staff peneliti langsung fokus ke layar lebar dan mengarahkan pandangannya ke sebuah benda yang bergerak di atas awan di layar itu. dengan tombol ‘UP’ staff itu memperbesar gambar dan terlihat sepert seekor naga api kecil yang sedang terbang dengan membabi buta membunuh burung yang sedang terbang di hadapannya.

“Gakuto-sama!” seru staff itu langsung menghampiri Gakuto di ruangannya. Gakuto juga sedang memperhatikan mahluk itu dan segera menelpon ke bagian pusat kepolisian untuk menugaskan polisi udara untuk membasmi mahluk ini.

“ada mahluk naga api di langit, kemungkinan masuk satu malah akan masuk banyak nantinya kalau tidak cepat-cepat di basmi..” kata Gakuto kemudian dia mengangguk setelah yang di sebrang(?) sana mengatakan iya di telpon itu. Gakuto menutup telponnya dan mengajak staff itu ke sebuah ruangan.

Sementara itu, Aoi yang sengaja pulang memakai Zetsu tiba-tiba melihat naga api kecil yang sedang terbang dan menyemburkan beberapa api kecil dari mulutnya. Aoi juga melihat ke bawah banyak orang yang sedang berhamburan lari kemana-mana. Aoi mencari sumbernya dengan terbang bersama dengan Zetsu. Dan Aoi pun menemukan kalau di sebelah utara da mahluk besar seperti manusia setengah monster berwarna  merah, tapi matanya ada tiga yang satu terletak di dahi. Wajahnya menyeramkan dengan  telinga memanjang dan mata menyorot penuh kebencian. Mahluk itu mengeluarkan suara yang memekakkan telinga sampai orang-orang berlarian sambil menutupi telinganya. Ada juga yang tidak kuat sampai jatuh dan tidak sadarkan diri. Melihat kejadian miris ini, Aoi langsung kekuatannya lewat telapak tangan berupa bola gabungan pusaran angin dan air dan kemudian dia melemparnya ke arah mahluk itu. Tepat, mengenai dada sebelah kirinya. Dengan berani Aoi mendekati bersama Zetsu, tapi beberapa detik kemudian dari arah samping Ruki menghadangnya dengan Karasu yang ternyata punya sayap untuk terbang. Aoi kaget kalau itu adalah Ruki yang sedang menaiki Karasu.

“hentikan Aoi! Jika dia di serang, dia akan semakin frontal mengeluarkan suara yang menyakitkan!” teriak Ruki. Aoi terdiam dan melihat mahluk itu seperti akan mengeluarkan kekuatan dari mata ketiganya berupa pusaran angin kecil.

“AWAS!”

Beberapa detik mengatakan itu, Ruki yang mengerti atas seruan Aoi langsung menunduk bersamaan Aoi dan juga binatang peliharaannya. Kemudian mahluk itu seperti berjalan ke arah mereka.

Dia bawah, Koichi melihat warganya banyak berjatuhan dan tidak sadarkan diri dan berlarian tidak jelas entah kemana sambil menutup telinga.

“ini bahaya..tolong keluarkan kekuatanmu,Koichi..” kata Kamijo memohon yang ada di samping Koichi. Kemudian dengan mengangguk, Koichi loncat ke udara dan melayang sejenak. Tangannya menggesturkn menangkup keatas dan dia mengumpulkan energi kekuatannya berupa bola cahaya berwarna putih ke merah mudaan dan bola itu semakin membesar dan Koichi menembakkan itu ke langit dan bola cahaya itu meledak menjadi serpihan dan membuat waktu menjadi lambat.

“kekuatan cahaya waktu nya sekarang semakin sempurna..” ungkap Kamijo bangga melihat semuanya bergerak dengan lambat. Kecuali Koichi, Kamijo, Aoi dan Ruki.

“Koichi?” Aoi kebingungan. Dan saat itu Ruki merenggangkan telapak tangannya dan muncul lah sebuah pedang panjang *ambigu* yang berselimutkan aura membunuh. Dengan bantuan Karasu, Ruki pun siap untuk menusuk mata ketiga sang mahluk itu dengan segera.

“Ruki..” Kamijo melihat dahi Ruki bersinar membentuk sebuah garis mirip bintang segi enam(?). Kamijo membuka matanya lebar dan bersamaan itu, Reita, Uruha dan Kai datang dengan sapu terbang mereka dan juga melihat cahaya dahi itu yang begitu jelas.

Dan saat itu, dengan mudah Ruki menusukkan pedangnya ke mata ketiga si mahluk tersebut. Erangan kesakitan yang amat dahsyat membuat semuanya menutup telinga. Dan mahluk itu pun akhirnya bisa kalah dan menjatuhkan tubuhnya dan merusak beberapa gedung pencakar langit, jembatan penyebrangan dan juga merusak beberapa taman di sekitarnya.

Ke empat teman Ruki mendekati Ruki yang turun mendarat ke tanah dan Karasu berubah menjadi anjing biasa dengan menghilangkan sayapnya. Mereka melihat cahaya di dahinya Ruki itu meredup dan ini membuat Ruki sedikit kebingungan dengan wajah mereka yang seperti bengong.

“kalian kenapa melihat aku begitu?” pikir Ruki. Semuany kompak menggeleng. Kamijo datang dari tengah dan membuat Uruha dan Kai sedikit minggir setelah Kamijo sudah berhadapan dengan Ruki.

“kau..”

Ruki hanya bisa diam polos tidak mengerti kenapa Kamijo memandangnya berbeda seakan Ruki punya sesuatu yang tidak biasanya.

---------------------------------------------------------------------------------------------//