Wednesday, March 5, 2014

Caffeine ~6

Title       ::  Caffeine -苦い、甘い-
Author  ::  Ikki Kamiya -Ruru-
Genre   ::  rumit (?) *plak!
Chapter::  6/?

**********************



Tiba lah hari festival sekolah yang sudah di nanti2 semua siswa. Pengunjung festival in bukan hanya dari dalam, namun dari luar sekolah pun berbondong2. Mereka bisa melihat tingkat kreativitas sekolah  ini dengn berbagai macam pertunjukan yang akan mereka nikmati nantinya..

Club theater pun sudah mulai bersiap-siap. Reita, Aoi dan Kai sudah memakai kostum pangeran. Namun ada yang beda dari sudut mata Reita. Dia seperti tidak menikmati hari ini. Padahal dia yang paling semangat untuk bisa ikut partisipasi festival ini khususnya dalam theater. Wajah Reita walaupun di make up dengan segar, tetap saja terlihat lesuh dan pucat.

“Rei, kau sakit?” kata Kai memegang dahi Reita yang sedang duduk di depan meja rias.

“tidak hanya kelelahan, uhukk..uhukk..” Reita kembali batuk.

“kau yakin?” Kai khawatir Reita tersenyum kemudian dia berdiri dan mengambil air botol di meja lain dan meminumnya. Kai yang melihatnya sedikit jadi khawatir.


Sementara itu, Ruki berjalan kalem mencari seseorang. Dan tepat, di depannya walau jaraknya lumayan jauh, dia melihat orang yang a cari2. Orang itu seperti berjalan menuju ke belakang halaman sekolah. Dengan sigap dia segera menghampiri orang itu yaitu Uruha. Langkahnya di percepat agar segera menghampiri,

“Uru..” panggil Ruki. Uru segera menoleh. Namun tamparan keras itu membekas di pipinya. Uru kaget kalau Ruki menamparnya keras.

“Ruki? Apa-apaan ini?!” kesal Uru memegani pipinya.

“kau bilang apa-apaan? Apa kau tidak ingat kemarin sore kau ciuman dengan Reitaku,hah!?” kesal Ruki.

“kau-“

“aku tidak menyangka, kau itu sahabat yang menusuk dari belakang!! Ku kira Reita memang tidak ada hubungan denganmu!! Ternyata kau diam2 selingkuh bersama dia! Keterlaluan!!”

“tutup mulutmu! Jika aku selingkuh dengannya apa kau punya hubungan dengan Rei?! Tidak ada, kan?”

“tapi harusnya kau tahu Reita itu mantanku! Mantan sahabatmu sendiri Uru!”

“sahabat katamu? Sahabat macam apa kau?? aku sudah malas mengakuimu sahabatku!!”

“kau benar2-“

“dengar, sebelum jauh kau menyukai Reita, aku diam2 selalu memerhatikan dia! Setelah kau banyak curhat, aku mundur agar kau mendapatkannya dan aku ingin kau melihat kau bahagia. Tapi, kau membalasnya dengan menyakitiku. Kau melupakan aku dan asyik bersama Reita berduaan. Aku ingat persis ketika ulang tahunmu, aku sudah menyediakan kue ultah stroberi dan mengerjaimu untuk memakannya. Tapi kenyataannya apa?! Kau melupakan aku seakan aku boneka jelek yang sudah layak masuk tong sampah. Kau melupakanku, saat aku sakit aku berharap kau ada di sampingku seperti dulu memberi cerita konyol agar aku cepat sembuh dan tersenyum lagi. Nyatanya? Kau malah memilih Reita!” seru Uru benar2 memuncak membuat Ruki terdiam tidak percaya dengan perkataan Uru.

“bahkan walau kau menyakitiku dan melupakanku aku masih berdoa untukmu di ultah agar kau tetap di beri kesehatan dan kebahagiaan selamanya. Apa kau mendoakan untuk persahabatan kita agar awet sampai tua? Aku rasa tidak. Kau akan sibuk mendoakan Reita..dalam pikiranmu Reita dan Reita..” lanjut Uru mulai menahan air matanya.

“bukankah kalau aku sekarang berpacaran dengan Reita dan tidak mementingkan perasaanmu itu adil? Kau sudah tidak punya hubungan apa2... aku mencoba menghalangi perasaanku demi kau tapi nyatanya kau masih saja egois dan menyalahkan aku kalau aku main belakang dengan Rei? Aku sakit Ruki di perlakukan begini.. dan kau juga tidak tahu bagaimana tersiksanya bathin Reita di kekang olehmu yang tidak punya kuasa memilikinya!” seru Uru menjatuhkan airmatanya.

“Uru..” Ruki melunak mendengar itu.

“dengar, aku tidak mau menutupinya lagi. Aku memiliki Reita saat ini. Aku akan egois seperti kau egois memikirkan Reita dan melupakan persahabatan kita. Camkan baik2.” Kata Uru kemudian melabrak bahu Ruki dan pergi begitu saja. Ruki mematung dan menjatuhkan air matanya.

**********************



Theater di mulai, Aoi mulai berakting dan di sambut riuh oleh semuanya. Semua berjalan dengan lancar hingga pada akhirnya Reita mencium bibir Kai dengan hangat. Sorak penonton itu sangat riuh sekali pertanda drama kali ini sangat sukses memukau penonton yang ada hingga menitikkan air matanya..

Dari kejauhan, Uru melihat itu dari lantai dua balkon kelasnya. Dia melamun atas pertengkarannya dengan Ruki. Dengan cepat dia menyeka airmatanya sebelum jatuh ke pipinya.

Reita dan teman2 satu theaternya segera beristirahat di ruang ganti. Reita mulai kelelahan, kepalanya pusing. Dia menunduk sebentar sambil menahan dahinya  di atas meja. Aoi yang memerhatikannya langsung mendekatinya.

“kau kenapa??” tanya Aoi.

“tidak apa2 hanya kecapekan saja..” jawab Reita sambil tersenyum.

“minumlah obat di kotak obat itu..” suruh Aoi. Reita mengangguk dan Aoi pun pergi untuk ganti baju. Ponsel Reita bergetar pertanda email masuk. Saat ia merogoh saku celananya dia lihat tertera di layar ponsel kalau itu pesan dari Ruki.

aku tunggu di taman sekolah!

Mendapat pesan dengan tanda seru seperti itu Reita yakin dia akan membahas masalah yang kemarin. Dia menyimpan kembali ponselnya di saku celananya dan dia mencoba berdiri dan ganti pakaiannya.

Ruki menunggu di taman sekolah yang di sulap untuk bon odori nanti malam. Sehingga sekarang sepi. Dia menunggu dengan perasaan kesal sekali. Tangannya ia lipat dan wajahnya tidak tenang seperti memendam amarah. Ketika Reita datang, dia batuk2. Ruki langsung menoleh pada Reita dan melihat Reita yang sedikit pucat.

“kau bisa jelaskan padaku tentang kemarin sore?!” kata Ruki seperti menahan marah.

“kau tidak usah ikut campur..” kalem Reita menatap Ruki.

“aku harus ikut campur!! Dia sudah mengambilmu dariku!”

“mengambil? Bukankah aku dan kau sudah putus? Dan apa salah kalau aku mencintai Uru?”

“Rei! Kau tahu kan aku tidak ingin kehilangan dirimu dan aku tidak mau kau berhubungan dengan Uru?”

“aku cukup muak Ruki!! kau mengatakan itu mungkin sudah ribuan kali dan aku menjawab ribuan kali bawa aku tidak akan pernah bersamamu lagi! Cukup jadi masa lalu saja Ruki! Hentikan perilakumu yang mengekangku! Aku sudah muak dengan semuanya!!” Reita benar2 kesal. Ruki menangis kembali

“aku ingin kau kembali Rei, aku mohon jangan bersama Uru..” pinta Ruki sambil memegang lengan Reita.

“kau tahu? Uru jauh menderita. Dia mengalah demimu dan melakukan apapun agar kau bahagia denganku. Dan kau malah membalasnya dengan begini? Kau tidak bisa di maafkan Ruki!” kesal Reita.

“aku mau mati saja! Kalau aku tidak bersamamu!” teriak Ruki sudah marah.

“terserah!” Reita melepaskan tangan Ruki dengan kasar dan segera pergi meninggalkannya.

Ruki sendiri menangis sejadi-jadinya. Dia benar2 bingung tidak mau kehilangan Reita apalagi bersama sahabatnya..

**********************



“uhukk..uhukk..” Reita kembali batuk2 dan dia segera ke toilet dia kembali batuk2 dan melihat telapak tangannya berdarah. Batuknya berdarah dan membuat Reita segera mencuci mulutnya. Dia terdiam melihat darah yang ada di tangannya. Dia ketakutan..

Tradisi unik dalam festival sekolah ini ketika malam hari semua pengunjung harus berpasangan dan memakai kimono ataupun hakama. Saat itu Uru memakai kimono ungu dengan cantiknya dan menghampiri Aoi yang sedang duduk di pinggir pohon sekolah memakai hakama.

“Aoi..” panggil Uru.

“Uru..!?” Aoi kaget melihat Uru begitu sempurna dengan kimono tersebut.

“dulu kau memintaku untuk menjadi pasangan di festival,kan?” kata Uru dengan sedih

“tapi, itu dulu ketika aku dan kau bersama. Sekarang.. kita sudah masing2..dan aku tahu itu permintaan bodoh yang harusnya tidak aku ajukan padamu..”

“tidak! Aku harusnya yang meminta maaf. Dan, biarkan aku menjadi pasanganmu malam ini sesuai dengan permintaanmu waktu itu..” kata Uru sambil menunduk. Aoi berdiri..

“sejujurnya aku masih mencintaimu, tapi itu sudah tidak mungkin. Aku akan gunakan malam ini sebagai hari bersamamu..” kata Aoi dengan sedih dan tersenyum. Uru menoleh dan Aoi sudah memegang tangannya dan mengajaknya entah kemana..

Ruki dan Reita pun berpasangan walaupun mereka tahu keadaannya tidak semanis pasangan yang lain. Reita menuruti keinginan Ruki agar Ruki tidak melakukan hal nekat jika dia tidak menuruti.

Mereka berjalan dengn berpasangan, Ruki dan Reita pun berpegangan tangan meski sebenarnya Reita malas. Ruki mengajak Reita ke sebuah pohon permohonan. Ruki menuliskan bahwa dirinya ingin selalu Reita selamanya. Reita tidak ikut menulis karena itu hanya buang2 waktu..

“aku berharap, kertas ini dapat mewujudkan kata2ku..” pikir Ruki. Reita hanya terdiam. Kemudian Ruki kembali menarik Reita untuk pergi ke tempat lain. Sayangnya, mereka berpapasan dengan Uru dan Aoi yang sedang berpegangan tangan. Reita melihat tangan itu memegang dengan erat. Kemudian membawa Ruki pergi. Ruki keanehan, sementara Aoi dan Uru meneruskan perjalanannya.

“aku harus paham situasi ini..” ujar Reita dalam hatinya.

**********************



Di akhir festival, semua menyalakan hanabi dan bon odori. Festival berakhir dengan berkesan sekali. Namun sayang, Ruki dan Reita kembali bertengkar di belakang taman sekolah.

“sudahlah! Hentikan! Kau jangan mengomporiku terus!” kata Reita.

“kau sendiri lihatkan Aoi dan Uru ada hubungan? Kau itu pantasnya denganku bukan Uru yang mempermainkanmu!” kata Ruki.

“kau memang bodoh Ruki! TOLOL!” seru Reita. Ruki terdiam di sentak begitu.

“mulai sekarang aku tidak akan peduli padamu!! Kau mau bilang bunuh diri! SILAHKAN!! Aku akan- uhuuk uhukk!!” ketika sedang marah, Reita kembali batuk dan semakin parah. Banyak darah yang keluar dari mulutnya. Ruki panik dan dia mulai kebingungan.

“Reita! Kau kenapa?? REITA!!” Ruki menangkap tubuh Reita yang lemas dan hampir terjatuh tersungkur. Reita tetap batuk2 dan mengeluarkan darah.

“Rei?!” Uru yang tidak sengaja melihat Reita dalam keadaan pingsan dan banyak darah dari mulutnya langsung cepat2 menghubungi ambulance. Dia kemudian menghampiri Reita dan memegang keningnya.

“jangan sentuh Reitaku!” kata Ruki sambil menangis.

**********************



Reita di rawat intensif di rumah sakit terdekat. Aoi, Ruki dan Uruha benar2 panik dan menunggu dokter keluar untuk memberitahu hasilnya bagaimana..

“biar aku yang beli makanan untuk kalian..” kata Aoi kemudian dia pamit untuk pergi.

Selang beberapa menit kemudian, dokter keluar. Ruki dan Uru menghampirinya dengan cepat.

“bagaimana dok?!” resah Ruki.

“apa anda orang terdekat Reita?” tanya dokter pada Ruki.

“aku yang terdekat dengannya.  Ada apa dok?!” kata Uru langsung maju ke depan membuat Ruki terdiam sontak.

“ada yang mau aku bicarakan,ikutlah denganku..” Uruha pun mengikuti jejak dokter tersebut. Dan Ruki masih mematung mendengar itu.

“Reita terkena virus, namun ini bisa d obati dan tidak parah. Aku hanya meminta ada seseorang yang menemaninya karena dia butuh penenangan diri. Aku periksa dia sedang banyak pikiran dan butuh ketenangan. Untuk malam ini aku memintamu untuk menginap di sini..sampai dia tenang pikirannya aku akan lanjut cek lagi karena ini berpengaruh dengan tes nantinya..” kata dokter saat di ruang kerjanya berbicara bertatap mata dengan Uruha. Uruha mengangguk.

“apa dia akan mengalaminya lagi setelah sembuh?” tanya Uru.

“tidak, aku akan berusaha untuk menghilangkan virus ini supaya dia tidak terbatuk darah tiba2. Yang penting rohaninya dia tenang. Aku takut dia akan mengalami sakit parah kalau di banyak pikiran terus..” jelas dokternya.

“baiklah dokter, terima kasih. Aku mau ke kamar Reita..” Uru pamit dan membuka pintu. Namun saat menutup pintu, Ruki menyentuh tangan Uru. Ternyata dia berdiri di samping pintu mendengarkan semuanya.

“aku mau bicara denganmu..” kata Ruki.

Mereka pun segera keluar rumah sakit dan berbicara empat mata..

“apa Reita sakit parah?” tanya Ruki dengan sedih.

“kau bisa merasakannya? Jangan tanyakan padaku kalau kau memang punya perasaan padanya dan menganggap dia itu milikmu dan semaumu mengekang..” sinis Uru.

“aku hanya meminta satu padamu Uru..” kata Ruki kemudian meraih tangan Uru.

“kau bisa,kan kembalikan Reita padaku? Aku janji akan merawatnya dan akan berubah deminya..” kata Ruki mengucurkan air mata kembali. Uru melepaskan tangan Ruki dengan kasar.

“aku tidak akan mengasihinimu karena alasan sahabat. Aku tidak akan melepaskan Reita dan menderita karena ulahmu! Kau sadar?? Reita sakit karena kau! jauh sebelum dia perform dia sudah pucat dan tidak sehat, bahkan Aoi mengatakan itu padaku! Tapi kau masih saja egois meminta dia untuk pergi jalan2 di festival malam. Kau gila Ruki, mengekang Reita sampai dia mau kehilangan nyawa!” kata Uru kemudian dia pergi meninggalkan Ruki tanpa kasihan. Uru menuju kamar Reita dan ia lihat, Reita sedang menatap langit2.

“Rei..” sapa Uru perlahan mendekati.

“Uru? Kenapa aku di sini?” kata Reita bingung.

“kau pingsan saat- ah lupakan! Bagaimana perasaanmu sekarang? Apa yang kau butuhkan? Aku siap merawatmu..” kata Uru duduk di kursi menghadap Reita.

“Ruki.. dimana Ruki..” tanya Reita lesuh.

“kau jangan pikirkan dia dulu, dia tidak akan berbuat macam2..tenanglah..dia tau aku yang menjagamu malam ini..” kata Uru sambil memegang tangan Reita. Melihat itu, Ruki yang dari pintu kamar inap Reita, dia merasa iri dan sakit hati melihat itu semuanya.

“kau mau duduk di ranjang?” kata Uru. Reita menangguk. Uru membantunya untuk duduk di ranjang. Reita terlihat pucat dan sangat lesuh. Uru kembali duduk di hadapan Reita yang sedang duduk di atas ranjang. Uru memegang tangan Reita dengan erat.

“dulu aku memang menahan diri untuk tidak mencintaimu dan melarang diriku untuk memikirkanmu.. aku berkorban demi Ruki. Tapi aku salah, Ruki tidak seperti yang aku inginkan. Aku menyesal setelah kejadian semua ini..aku sekarang benar2 mencintaimu dan tidak ingin melihatmu begini.. aku ingin membantumu lepas dari Ruki dan bahagia denganku. Apa itu egois dan menusuk sahabat Rei? Aku bingung...” kata Uru berlinang airmata. Reita menyeka airmata Uru dengan tersenyum lesuh.

“tidak ada yang salah, kau tidak egois. Kau mempertaruhkan perasaanmu untuk sahabat. Aku salut.. jangan berpikir kau menusuk. Semua ini sudah ada jalannya. Aku akan bersamamu Uru..selalu..” kata Reita. Uru menangis. Perlahan, Reita mendekatkan wajahnya. Dia memegang pundak Uru dan kemudian mencium hangat Uruha, kekasih hatinya. Mereka memejamkan matanya dan membiarkan bibir mereka saling menyentuh.

**********************



Ruki meringkuk di belakang pintu kamarnya. Dia menangis menyesali semuanya. Dia menyadari kesalahannya. Dia bingung, dan tidak tahu harus berbuat apa atas kejadian ini.. dia meremat kepalanya seakan dia ingin keluar cepat dari masalah ini..

Tapi apa daya? Ruki lemah tidak bisa berbuat apa2. Matanya sembab dan airmatanya terus berjatuhan..

“tuhan, kenapa aku kejam pada Reita?? Apa yang harus ku lakukan...” Ruki benar2 menyesali perbuatannya dan dia menenggelamkan kepalanya pada kedua lututnya yang menekuk.

**********************



Keesokan harinya Aoi datang ke sekolah dan melihat selembaran bertebaran di ruang dewan murid. Aoi lupa, kalau pihak penyelenggara festival sekolah menyuruh siswanya untuk mem-vote pasangan serasi tadi malam. Kebanyakan dari mereka, mereka memilih pasangan Aoi dan Uruha. Aoi tersenyum melihat kertas2 itu menuliskan dirinya dan Uruha adalah yang paling cocok.

“bagaimana keadaan Reita?” tanya Kai yang masuk ke dalam ruangan

“katanya sudah mendingan. Dia belum vote pasangan terbaik saat festival malam...”

“boleh aku yang memberikan kertas pollingnya pada Reita?” kata Ruki yang ada di depan pintu ruang dewan murid. Aoi dan kai tercengang melihat expresinya.

“ah, ba-baiklah.. ini.. jangan lupa salamkan kami padanya. Setelah beres semuanya kami akan menengoknya..” pesan Aoi. Ruki mengangguk setelah mendapatkan kertas polling itu. Dan dia segera pergi. Kai dan Aoi saling  bertatap mata tidak mengerti dengan sikap Ruki tadi.

satu sekolah ini  hanya sedikit yang tahu hubungan cinta segitiga antara aku uruha dan Reita.. kertas polling ini adalah penyampaian maafku pada Reita..aku harap dia menerimanya..dan menjadi semuanya baik2 saja..”

Ruki berjalan saat di lorong rumah sakit dan perlahan masuk ke dalam ruangan Reita yang sedang duduk di ranjang smbil memegangi tangannya.

“Ru-ruki?!” Reita kaget Ruki datang sambil membawakan sebuah kotak makanan pada Reita. Dia menyimpannya di atas meja. Kemudian dia membuka tasnya dan mengambil kertas yang ia lipat.

“ini, ada polling untuk mem-vote pasangan serasi dari festival malam.. ku dengar banyak yang memilih Uru dan Aoi yang serasi. Kau belum memberikan polling, makanya ku bawakan.. ah iya itu makanan untukmu..” kata Ruki dengan kalemnya dan tidak seperti biasanya. Membuat Reita bengong.

“oh,iya kalau Uru datang, tolong beritahu aku. Aku ingin bicara lagi dengannya mungkin yang terakhir kalinya..ponselnya sulit ku hubungi..” kata Ruki tersenyum datar.

“kau kenapa? Tidak biasanya..” kata Reita.

“Un, daijyoubu. Cepat sembuh ya..” Ruki memegang pipi Reita dengan lembut. Reita memegang tangan Ruki itu dan memandang pada Ruki.

“cepat sembuh aku ingin melihatmu bahagia setelah ini..” katanya senyum menahan nangis. Kemudian dia pergi begitu saja tanpa mengatakan ada apa dengannya..

******************************





No comments:

Post a Comment