Title : Argeza
Genre : fantasy,action,comedy,life,
nano-nano dah pokoknya XDDD
Cast : utamanya
Gajet yang lain numfang hehehehe..
Eps : 7
*cieeee sok anime
---------------------------------------------------------------------------------------------//
♡。゚.(*♡ Soulmate ♡*)゚♡ °・
Uruha
berjalan santai dengan seperti biasa wajahnya yang dingin tidak senyum dan
memandang lurus ke depan meski ia tahu sepanjang koridor itu semua orang
membicarakan sikapnya yang benar-benar dingin. Uruha tidak peduli omongan siswa
lain. Yang penting dia tidak membuat onar di sekolah seperti Aoi. Kemudian dia
masuk ke kelasnya sambil menghela nafasnya. Namun sesaat, langkahnya terhenti,
Uruha lupa kalau hari ini adalah pelajaran mantra sihir dan Uruha tidak membawa
tongkat pendek sihirnya. Uruha menepok(?) jidatnya dan kembali keluar kelas dan
menuju loker siswa.
Menuju
loker siswa sepertinya akan membuat dia teringat masa lalunya yang sangat
menyedihkan. Dia bertemu dengan Kai di loker itu. dan Kai sedang berjalan ke arahnya
dari kejauhan. Mereka berpapasan seakan tidak mengenal satu sama lain dengan
pandangan yang saling membuang(?). Loker ini terdiri dua dengan saling
berhadapan seperti kebanyakan di dorama atau anime yang kalian tonton *plak!*.
rak loker Uruha terdapat di ujung, sementara loker Kai ada di tengah-tengah
loker yang berhadapan dengan loker Uruha. Uruha membuka rak lokernya kemudian
tidak sengaja melihat sesuatu yang membuat dia terpaku memandangi benda itu.
dia menoleh ke kiri melihat apa yang Kai lakukan. Nyatanya Kai mengambil buku
sihir dari dalam rak lokernya. Setelah menutup lokernya dia berjalan ke arah
sana(?) dan membuat Uruha merasa sedih Kai benar-benar cuek padanya. Pandangan
Uruha pun beralih ke suatu benda yang membuatnya terpaku.
Cincin
keabadian, adalah dua pasang cincin bundar yang Uruha lihat di dalam rak
lokernya. Dia sangat terpaku setiap kali menatap cincin itu di sebuah kotak
cincin yang terbuka di samping tongkat pendek sihirnya. Cincin itu adalah yang
ia buat bersama Kai dua tahun lalu ketika mereka masih bersama dan masih
‘berteman’ dengan baik. Uruha terdiam menatap cincin itu. cincin yang menjadi
saksi biksu putusnya persahabatan Uruha dengan Kai..
-Flashback-
Uruha
dan Kai masuk Mahou Gakuen dan mereka satu kelas sejak kelas level 1. Kedekatan
sudah tidak di ragukan lagi karena mereka selalu kompak setiap kali mengerjakan
tugas dalam satu kelompok maupun individual. Uruha dan Kai sudah merasa seperti
kakak adik semenjak kedekatan itu. kemudian saat mereka naik ke kelas level 2
sebuah tragedi yang memilukan menjadikan pelajaran untuk semua para siswa Mahou
Gakuen..
---------------------------------------------------------------------------------------------//
“Kai,
lihat ini..” kata Uruha menunjukkan sebuah api biru yang berbentuk naga kecil
dari atas telapak tangan kanannya saat Uruha menuju taman sekolah dan menemukan
mahluk ini.
“kawaii!
Dia kenapa?” Kai ikutan jongkok di sebelahnya Uruha dan melihat si naga api
biru itu melingkar tubuhnya seperti tidur. Uruha senyum memperhatikan mahluk
ini.
“sepertinya
ada yang membuangnya, pasca pelajaran sihir..tapi siapa ya?” kira Uruha sambil
melihat-lihat mahluk menggemaskan ini.
“mau
kasih makan juga bagaimana, bingung..” kata Kai. Keduanya saling pandang dan
menghela nafas.
Kemudian
mereka berdua sepakat membuat kandang burung bersangkar putih dan memasukkan si
naga api biru itu ke dalam. Kandang itu mereka gantungkan di salah satu dahan
pohon yang pendek. Dan kemudian Uruha dan Kai kembali ke kelasnya.
“baiklah
semuanya, harap tenang sebentar. Aku akan mengumumkan sesuatu pada kalian..”
kata Amano-sensei yang masuk kelas usai Uruha dan Kai berdiri bersampingan di
tengah kelas bersama yang lainnya. Semua siswa bertanya-tanya tugas apalagi
yang akan di berikan Amano-sensei.
“perhatian,
tidak lama lagi kita akan menuju ujian akhir kelas level 2. Untuk itu, sebagai
kisi-kisinya akan aku beritahu dari sekarang supaya kalian bisa belajar dengan
baik..” jelas Amano-sensei.
“baik
sensei!” seru anak-anak kompak.
“ujian
kali ini, kalian akan menghadapi burung elang yang susah di jinakkan dan sangat
berbahaya. Untuk itu, pelajari semua mantra sihir dan penggabungan sihir untuk
menaklukan burung elang ini..seusai rule-nya,
mereka yang berhasil akan naik kelas sementara yang belum bisa mengulang di
tahun depan bersamaan dengan ujian akhir kelas level 3..” kata Amano-sensei
dengan lantang. Semuanya saling berbisik-bisik membicarakan hal ini. Kecuali
Kai yang sedikit terdiam mendengar itu. dan Uruha yang ada di sebelahnya
menyenggol lengan Kai sambil tersenyum penuh arti dan sekali menaikkan alisnya.
Kai pun balas senyum menutupi sesuatu dari Uruha yang sebenarnya.
“kalau
begitu, kita bisa belajar bersama bagaimana?” kata Uruha merangkul Kai dengan
hangat dan senyum.
“siapa
takut?” Kai pun merangkul Uruha yang sudah dia anggap sebagai kakaknya sendiri.
Uruha dan Kai pun tertawa kecil dan Amano melihatnya senang mereka berdua
sangat dekat sekali.
---------------------------------------------------------------------------------------------//
Selepas
jam pulang sekolah, Uruha mengajak Kai untuk mengunjungi apartemennya. Dengan
sapu terbangnya masing-masing mereka segera meluncur di langit sambil tertawa
lepas entah membicarakan apa yang jelas mereka memang sering menceritakan hal
konyol dan sering tertawa bersama.
Apartemen
Uruha tidaklah begitu besar, namun cukup rapi dan bersih. Nilai plus untuk apartemen
ini lah minimalis dan tata letak barang-barangnya yang cukup efisien. Kai
melihat-lihat isinya dan duduk di sofa berwarna ungu cerah, warna kesukaan
Uruha. Uruha menuju dapurnya untuk mengambil botol minuman ukuran besar
kemudian membawa dua gelas ke meja ruang tengah yang sekarang di tempati Kai.
“nyaman
juga tempatmu..” pikir Kai tersenyum saat Uruha membawakan minuman.
“kau
bisa menginap di sini kok..” kata Uruha menuangkan minuman itu ke kedua gelas.
“serius??”
Kai antusias.
“iya
serius, serius akan menaruhmu di lantai untuk tidur,hahahaha..” Uruha mencoba
bercanda dengan Kai. Dan Kai langsung ngerasa gondok di katakan begitu.
“bercanda
kok! Malam ini menginap mau ya? sambil main P.S!” kata Uruha duduk di
sebelahnya Kai.
“ayok,
main bola?” Kai juga menyeruput minumannya.
“ngga,
mainin hatimu..” jawab Uruha ngaco.
“ohok!
ohookkK!!” Kai langsung tersedak mendengar itu. dan kembali Uruha ketawa
guling-guling. Uruha paling senang mengerjai Kai *aduh!*.
“tenang-tenang
aku bercanda kok, piss hehehehe..” Uruha langsung mengacungkan jarinya dan
kemudian Kai memukul Uruha dengan bantalan sofa empuk ke kepalanya Uruha. Uruha
merasa kesakitan tapi tetap menjaga tawanya.
---------------------------------------------------------------------------------------------//
Malam
itu, mereka main P.S dan main bola. Kegaduhan pun terjadi ketika Uruha dan Kai
saling menyerang tanpa ampun dalam permainan itu. makanan berserakan seperti
kacang-kacangan atau chiki-chikian tapi rasanya tidak cabe-cabean *ealah apa
ini?* dan juga beberapa minuman kaleng yang sudah tinggal kalengnya saja atau
hanya setengah di buka tutup kalengnya. Dan ketika Kai menang, Kai mengacungkan
kedua tangannya ke atas sambil masih memegang stick P.S, dan Uruha merasa
kecewa..
“yang
kalah tidur di lantai~ yang kalah tidur di lantai~” ejek Kai dengan senang
menari-nari kecil di sebelahnya Uruha yang masih gondok.
“makanya
jangan suka tanding bola, kalah kan? huahahaha..” Kai puas sekali mengatakan
itu karena balasan Uruha ngebully dia tadi siang.
Setelah
bermain bola pun mereka menuju kamar Uruha dan Kai langsung menjatuhkan dirinya
di kasur empuk Uruha yang sangat rapi sekali.
“mana
gulingnya!” Uruha ketus karena dia kesal mesti tidur di lantai. Kemudian Kai
menengok dan duduk di kasur itu. dia menepuk-nepuk di pinggir bermaksud
mengajak Uruha duduk di sebelahnya.
“sini..”
ajak Kai. Kemudian Uruha dengan cemberut duduk di sebelah Kai. Kai merangkul
Uruha dengan hangat dan memandang Uruha dengan bersahabat.
“aku
tidak akan membiarkanmu tidur di lantai. Sebagai teman baik, aku akan merangkul
temanku yang kesusahan dan bersama-sama merasakan kesulitan juga saling
membantu..jadi tidur berdua saja ya di ranjang ini..lumayan cukup kok..” kata
Kai senyum mengeluarkan dimplenya. Uruha memandang Kai dengan sangat tersentuh
karena dia punya sahabat yang sangat baik sekali. kemudian Uruha menjatuhkan
punggungnya langsung ke kasur itu dan melihat langit-langit dan Kai mengikuti
Uruha juga.
“aku
tidak tahu harus bagaimana kalau aku akan kehilangan teman sejatiku yang satu
ini, apa akan ada yang bisa membantuku dalam kesulitan?” tanya Uruha masih
melihat langit-langit kamarnya.
“dia
tidak akan meninggalkanmu, dia akan setia mendampingimu dalam susah dan
senang..”
“sankyuu..”
Uruha menoleh dan mereka bertatapan dan tangan mereka high five dan kemudian
menutup mata..terlelap dalam mimpi..
Tapi aku hanya
memanfaatkan ini semua, maafkan aku Uruha..
---------------------------------------------------------------------------------------------//
Masuk
sekolah seperti biasanya dan saling tegur sapa adalah aktifitas rutin di
sekolah ini. Pagi itu, Uruha teringat dengan naga api biru yang mereka masukkan
ke kandang di belakang sekolah. Uruha melihat naga itu sedang terdiam tenang
dan Uruha mengambil naga itu dari dalam kandang dan melihat naga ini sepertinya
tumbuh dengan pesat karena ukuran tubuhnya sekarang lumayan membesar.
“naga
api biru ini sayang kalau tidak terurus..” kata Kai menghampiri Uruha.
“hm,
aku juga sedang memikirkannya, lalu kau ada ide?” tanya Uruha dengan santai.
Kai melepaskan tas selempangnya dan menaruh di rerumputan dan mendekati Uruha
mengamati naga api biru ini.
“bagaimana
kalau kita buat cincin keabadian dari naga api biru ini?” kata Kai. Uruha
mengerutkan dahinya bingung dengan perkataannya Kai.
“maksudmu?”
“jadi,
naga api biru ini kita segel di dalam sebuah cincin, dengan begitu naga api
biru ini bisa dekat dengan kita..dan kita bisa menjaganya dengan baik..” kata
Kai tersenyum.
“ide
bagus!” kata Uruha.
Kemudian
Uruha meletakkan naga api biru itu di sebuah rerumputan. Naga itu terdiam
celingukan karena tidak terbang. Kemudian Uruha mundur dan membiarkan Kai
membacakan mantranya. Kai memejamkan matanya membaca mantra, kemudian lingkaran
berwarna biru cerah pun mengitari Kai dan naga kecil itu. dari lingkaran itu
muncul sebuah pusaran angin yang mengitari pula Kai dan naga itu. Kai
mengangkat sebelah tangannya dan dia membuka telapak tangannya dan muncul
sebuah cahaya yang sama berwarna biru cerah. Dan kemudian mengarahkan pada
burung naga itu. Kai menembakkan cahaya dari telapak tangannya itu ke arah naga
kecil yang tidak tahu apa-apa tersebut. Karena cahaya sangat menyilaukan, Uruha
tak dapat melihatnya. Dan setelah cahaya dari naga itu redup dan pusaran angin
dari lingkaran itu juga perlahan menghilang, muncul lah dua buah cincin yang
tergeletak begitu saja. Uruha melihat cincin itu biasa saja. Hanya cincin
berbentuk lingkaran. Namun samar-samar seperti ada api birunya. Kai meraih
cincin itu dan memakainya. Kemudian Uruha menghampiri Kai..
Kai
memakaikan cincin itu ke jari manisnya tangan kiri Uruha. Kemudian mereka
menunjukkan cincin yang sama yang samar-samar ada api birunya. Keduanya tertawa..
“dengan
ini, ikatan sebagai sahabat kita akan terjalin selamanya..” pikir Kai. Dan
kemudian mereka mendengar suara bel jam pelajaran akan di mulai. Dan mereka
berdua pun segera ke kelas dengan cincin yang sama melingkar di jari manis
mereka masing-masing *yakali kaya nikah XDa*
---------------------------------------------------------------------------------------------//
Seminggu
sudah mereka latihan bersama untuk menghapal mantra untuk ujian kenaikan kelas
level 2. Uruha dan Kai sering berlatih di belakang taman sekolah. Reita
kadang-kadang menengok dengan apa yang mereka lakukan saat itu. senyum Reita
melengkung di saat dia melihat Uruha dan Kai saling mengajari cara bertarung
dengan elang liar nantinya yang akan di jadikan ujian. Uruha dan Kai saling
berlatih menyerang dan menyempurnakan bela diri mereka.
“harusnya
punggungmu kurang ke bawah, kalau begini caranya kau bisa terkena semburan
apinya si elang..” kata Uruha sambil menepuk punggung Uruha dari belakang. Kai
terdiam, seakan dia menyimpan sesuatu dan kemudian Kai mengepalkan tangan
sebelahnya tanpa sepengetahuan Uruha yang kembali berlatih ilmu sihirnya. Kai
melihat Uruha dengan tatapan benci dan seakan-akan ada sesuatu yang Kai selama
ini sembunyikan dari Uruha entah apa.
Dan
kemudian tibalah saatnya ujian kenaikan kelas level 2 yang di adakan hari ini..
Sekolah
ini selain mempunyai lapangan yang luas, mereka mempunyai satu stadium luas
yang di jadikan area untuk ujian kenaikan kelas level. Stadium ini hanya di
buka setiap mengadakan ujian. Stadium ini mirip seperti stadium lapangan bola
dengan jumlah kursi penonton yang banyak. Saat ujian level, semua siswa
menonton dan duduk di kursi sdi stadium yang melingkar itu. saat itu, Reita dan
Aoi yang masih junior memasuki stadium megah yang baru pertama kali mereka
lihat. Mereka terkagum-kagum melihat isi stadium ini kemudian duduk di barisan
tengah agar dia bisa melihat ujian ini. Sementara seluruh siswa kelas level 2
sedang berada di barisan paling depan. Setiap per orang akan di panggil dan
mereka akan menaklukan elang raksasa yang liar.
“baiklah,
sebagai kepala sekolah Mahou Gakuen aku akan memberikan semangat untuk kalian,
ingat bahwa ujian ini menentukan siapa-siapa yang naik kelas level dan
membuktikan dirinya sudah mampu menguasai sihir sebelumnya. Dan aku berhak
mendiskualifikasi jika terdapat kesamaan ilmu sihir dalam menaklukan elang
raksasa nanti..” sambutan hangat dari Gakuto yang masih menjabat sebagai kepala
sekolah itu berada di podium. Podiumnya di sebelah kanan dari lapangan stadium
itu. kemudian semuanya bersorak termasuk Kai yang tepuk tangan dengan senyum
liciknya.
“baik
untuk siswa pertama, kita panggil Kai Yutaka!” kata Amano-sensei memanggil nama
itu ke podiu milik Gakuto dan semua bersorak menyemangati Kai yang maju ke
tengah lapangan. Uruha juga memberi dukungan dengan tepuk tangan meriah untuk
sahabatnya ini.
Kemudian
mereka di kejutkan dengan sebuah cahaya dadakan di langit-langit dan kemudian
membentuk sebuah elang raksasa yang sedang terbang di atas kepala Kai. Elang
itu bersuara nyaring sampai semua siswa yang menyaksikannya tutup telinga. Kai
memandang elang itu dengan senyum menyepelekan bahwa Kai yakin dia bisa
menaklukan elang ini. Dengan segera, Kai pun membuat perlawanan terhadap elang
ini..
Gerakan
bela dirinya, cara mengayunkan tongkat sihir saat mengeluarkan jurus sihir
untuk melumpuhkn elang itu dan juga cara Kai menghembuskan kekuatan besar dari
kedua telapak tangannya mirip hame-hameka *plak* membuat Uruha membulat matanya
dan berdiri dengan sangat terkejut melihat itu semua.
“kenapaa...”
Uruha seakan tidak percaya, jurus yang Uruha latih selama ini di copy paste
oleh Kai, sahabatnya sendiri. Uruha mengingat saat mereka belajar bersama untuk
menghadapi ujian saat ini. Lalu jika Kai sudah menghafal gerakan Uruha,
bagaimana Uruha bisa menghadapi elang ini? Bisa-bisa Uruha di diskualifikasi
karena di anggap sama dengan gerakan Kai. Uruha tidak habis percaya kenapa Kai tega
melakukan ini.
“dan
akhirnya Kai berhasil menaklukan elang ini dengn terkapar tidak berdaya di
lapangan!” seru Amano bagai komentator di podium menyaksikan pertarungan Kai
yan sangat amazing sekali. sorak riuh pun kembali memenuhi stadium ini untuk Kai
yang tersenyum penuh kemenangan. Dan Uruha duduk lemas melihat semua ini.
“dan
selanjutnya, Uruha Takashima!” seru Amano memanggil nama itu. tubuh Uruha
seakan bergetar dia bingung harus bagaimana di lapangan nanti. Semuanya sudah
di ambil Kai dan Uruha berjalan seakan terus memikirkan hal itu. tak peduli
sorakan semangat untuknya. Dan dia melewati Kai yang duduk di barisan depan
sambil tersenyum manis seakan dia tidak bersalah sama sekali. Uruha memandang
itu dan mengepalkan tangannya sebelah dan menuju tengah lapangan. Kesal yang
menimbun hatinya seakan ingin meluap namun Uruha sabar menahannya.
Uruha
berhadapan dengan elang raksasa yang sekujur tubuhnya di penuhi api merah
menyala dan mungkin panasnya lebih dari 60`c *ngarang XDv*. Elang itu langsung
menyambar Uruha dengan semburan api yang dahsyat dan Uruha secepat mungkin
menghindari dengan melompat ke kanan dan ke kiri. Uruha sedikit terpojokan
dengan kondisi ini dan dia bingung harus melakukan apa. Reita juga bingung ada
apa dengan Uruha kenapa tidka melakukan penyerangan. Sambil berlinang airmata,
Uruha pun mengeluarkan semua jurus yang di lakukan tadi oleh Kai dan semuanya
terkejut. Gakuto yang melihatnya pun seakan ada yang tidak beres. Setelah elang
itu terkapar tidak berdaya, Uruha menjatuhkan dirinya seakan dia bersujud dan
kepalanya menunduk menutupi wajahnya yang sedang menangis sakit hati yang
mendalam. Uruha teringat saat bermain
P.S bersama kemudian belajar di belakang taman sekolah..
“Uruha,
diskualifikasi..” Gakuto menyatakan itu dan semua terkejut dan langsung
bergantian memandang Kai dan juga Uruha.
“ada
apa ini?”
“iya
kenapa bisa?”
“apa
yang terjadi di antara mereka?”
Semua
siswa saling bertanya ada apa dengan mereka. Sementara Uruha dengan keadaan
menunduk meninggalkan lapangan dan keluar dari stadium ini. Kai yang melihatnya
pun hanya diam, seakan dia membiarkan sahabatnya terpukul sendirian.
---------------------------------------------------------------------------------------------//
Kai
berjalan di koridor dengan diam dan wajahnya seakan bukan menunjukkan dia.
berubah menjadi seorang yang picik dan tidak memperdulikan perasaan orang lain.
Namun terdengar langkah cepat dari belakang yang seakan menghampirinya,
“Kai!”
seru seseorang dari belakang. namun saat Kai melihat ke belakang, sebuah
pukulan keras melayang ke pipinya sampai Kai jatuh tersungkur dan punggungnya
menabrak dinding yang menjadi retak karena kekuatan pukulan itu. Kai melihat
itu adalah Uruha yang melakukannya dengan keemosian dan nafas tidak beraturan memandang
Kai.
“apa
maksudmu?” Uruha bicara melunak pada Kai. Karena Uruha ingin mendapatkan
jawaban dari Kai dengan cara bicaranya. Kai bangkit dan menyeka pipinya yang
terluka dan berdarah sedikit. Dia memandang Uruha seakan Uruha bukan sahabatnya
melainkan musuhnya.
“aku
tidak ingin kau melebihi diriku, aku ingin aku melampauimu..aku tidak terima
selama ini kau sangat hebat dalam ilmu sihir dan memiliki nilai bagus sementara
aku menjadi kedua di bawahmu, aku iri kau bisa menguasai segala sihir dan
mempunyai kekuatan sihir yang unik ketika belajar bersama menghadapi ujian.
Kenapa aku tidak bisa menjadi dirimu? Kenapa aku harus selalu di bawah dirimu?”
jelas Kai dengan tatapan sinis dan sangat menyedihkan. Uruha tidak menyangka
selama ini Kai selalu iri terhadapnya padahal sikapnya tidak menunjukkan
sedikitpun keirian terhadapnya.
“aku
memanfaatkan kebaikanmu untuk berteman denganku, aku memanfaatkan segalanya
agar aku menguasai apa yang kau kuasai. Aku tidak butuh teman! Aku hanya butuh
kekuatan sihir yang hebat makanya aku mendekatimu dan mencuri ilmu darimu..maaf
ini aku yang sebenarnya tidak ingin di saingi siapapun sejak kecil. Dan cincin
ini..ini hanya palsu semata supaya kau semakin yakin bisa berteman denganku dan
aku bisa semakin mencuri ilmu darimu..” kata Kai kemudian di akhir kalimatnya
memperlihatkan cincin yang ia pakai. Kai melepasnya dengan paksa dan kemudian
dia membuang keluar jendela dengan sembarang dan cincin itu jatuh ke sebuah
kolam air yang luas. Uruha melihat itu dan semakin sakit hati terhadap Kai.
“selamat
tinggal kelas, aku akan berusaha sebaik mungkin setelah naik kelas level 3 dan
menunjukkan padamu bahwa aku bisa sejajar dengan ilmu sihirmu..” kata Kai
dengan sinis kemudian dia membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan Uruha
yang mematung atas ucapan Kai yang membuat dia harus bisa menerima kenyataan
bahwa Kai bukan sahabat baiknya. Dan Uruha melihat keluar jendela.
Di
sebuah kolam yang luas, sambil menangis-nangis Uruha mencari cincin yang Kai
lempar ke kolam ini. Uruha tidak peduli bajunya basah dan tubuhnya menggigil
kedinginan demi mencari cincin keabadian yang ia buat dengan Kai. Sampai pada
akhirnya dia menemukan dan kembali menangis.
“aku
mohon Kai, berubahlah..” Uruha seakan berdoa sambil memejamkan matanya menunduk
menangis. Dan cincin itu bercahaya api biru entah apa maksudnya.
---------------------------------------------------------------------------------------------//
Flashback itu membuat Uruha
menangis di depan rak lokernya dengan sejadi-jadinya tanpa bersuara. Ruki yang
ada di kejauhan melihat itu dengan iba. Seorang Uruha yang dingin bisa menangis
kesakitan begitu. Kemudian dengan memberanikan dirinya untuk mendekati Uruha
dia berjalan dengan pelan.
“apa
kau teringat masa lalumu?” Ruki memegang pundak Uruha. Dan Uruha terhenti
menangis dan menoleh pada Ruki. Ruki tersenyum melihat wajah Uruha di penuhi
basah airmatanya dan bibir keritingnya yang habis menangis *lucu ya inget
konser nameless six guns XDD*
“aku
bisa baca pikiranmu, kenangan bersama Kai?” tebak Ruki dan membuat Uruha
menjadi menatap Ruki.
“apa
kau membutuhkan teman untuk curhat? Aku siap kok membantumu..” pikir Ruki.
“kau
tahu apa tentangku, masa laluku, tentang Kai? Kau belum tentu bisa menjadi di
posisiku saat ini! Kau tidak tahu rasanya di khianati teman yang sudah ku
anggap bagian hidupku sendiri!” amarah Uruha meledak dan seketika meninggalkan
Ruki dengan berjalan penuh keemosian. Ruki melihat ada dua cincin di rak itu
dan cincin itu samar-samar ada cahaya api biru. Dan melihat ke depan bahwa
Uruha sudah cepat menghilang entah kemana dia.
“aku
memang tidak bisa merasakan apa yang kau rasakan saat itu dan saat ini, tapi
aku tahu kau butuh seseorang untuk bisa meluapkan semua isi hatimu..tapi kau
terlalu angkuh dan sok kuat di hadapan banyak orang, padahal kau ini sangat
rapuh..” ujar Ruki memandang cincin itu. dan setelah mengatakan itu, cincin itu
bercahaya biru tiba-tiba dan langsung menghilang. Ruki tidak mengerti ada apa
dengan cincin itu yang jelas Ruki menutup rak loker Uruha dan berjalan
meninggalkan loker yang menjadi saksi bisu dimana Uruha menangis sendirian dan
menahan segala kekesalan dan penyesalan dalam hatinya
---------------------------------------------------------------------------------------------//
No comments:
Post a Comment