Sunday, March 23, 2014

Argeza ~7

Title      :               Argeza
Genre  :               fantasy,action,comedy,life, nano-nano dah pokoknya XDDD
Cast      :              utamanya Gajet yang lain numfang hehehehe..
Eps        :               7 *cieeee sok anime

---------------------------------------------------------------------------------------------//



。゚.(*♡ Soulmate  *) °



Uruha berjalan santai dengan seperti biasa wajahnya yang dingin tidak senyum dan memandang lurus ke depan meski ia tahu sepanjang koridor itu semua orang membicarakan sikapnya yang benar-benar dingin. Uruha tidak peduli omongan siswa lain. Yang penting dia tidak membuat onar di sekolah seperti Aoi. Kemudian dia masuk ke kelasnya sambil menghela nafasnya. Namun sesaat, langkahnya terhenti, Uruha lupa kalau hari ini adalah pelajaran mantra sihir dan Uruha tidak membawa tongkat pendek sihirnya. Uruha menepok(?) jidatnya dan kembali keluar kelas dan menuju loker siswa.

Menuju loker siswa sepertinya akan membuat dia teringat masa lalunya yang sangat menyedihkan. Dia bertemu dengan Kai di loker itu. dan Kai sedang berjalan ke arahnya dari kejauhan. Mereka berpapasan seakan tidak mengenal satu sama lain dengan pandangan yang saling membuang(?). Loker ini terdiri dua dengan saling berhadapan seperti kebanyakan di dorama atau anime yang kalian tonton *plak!*. rak loker Uruha terdapat di ujung, sementara loker Kai ada di tengah-tengah loker yang berhadapan dengan loker Uruha. Uruha membuka rak lokernya kemudian tidak sengaja melihat sesuatu yang membuat dia terpaku memandangi benda itu. dia menoleh ke kiri melihat apa yang Kai lakukan. Nyatanya Kai mengambil buku sihir dari dalam rak lokernya. Setelah menutup lokernya dia berjalan ke arah sana(?) dan membuat Uruha merasa sedih Kai benar-benar cuek padanya. Pandangan Uruha pun beralih ke suatu benda yang membuatnya terpaku.

Cincin keabadian, adalah dua pasang cincin bundar yang Uruha lihat di dalam rak lokernya. Dia sangat terpaku setiap kali menatap cincin itu di sebuah kotak cincin yang terbuka di samping tongkat pendek sihirnya. Cincin itu adalah yang ia buat bersama Kai dua tahun lalu ketika mereka masih bersama dan masih ‘berteman’ dengan baik. Uruha terdiam menatap cincin itu. cincin yang menjadi saksi biksu putusnya persahabatan Uruha dengan Kai..

-Flashback-

Uruha dan Kai masuk Mahou Gakuen dan mereka satu kelas sejak kelas level 1. Kedekatan sudah tidak di ragukan lagi karena mereka selalu kompak setiap kali mengerjakan tugas dalam satu kelompok maupun individual. Uruha dan Kai sudah merasa seperti kakak adik semenjak kedekatan itu. kemudian saat mereka naik ke kelas level 2 sebuah tragedi yang memilukan menjadikan pelajaran untuk semua para siswa Mahou Gakuen..

---------------------------------------------------------------------------------------------//



“Kai, lihat ini..” kata Uruha menunjukkan sebuah api biru yang berbentuk naga kecil dari atas telapak tangan kanannya saat Uruha menuju taman sekolah dan menemukan mahluk ini.

“kawaii! Dia kenapa?” Kai ikutan jongkok di sebelahnya Uruha dan melihat si naga api biru itu melingkar tubuhnya seperti tidur. Uruha senyum memperhatikan mahluk ini.

“sepertinya ada yang membuangnya, pasca pelajaran sihir..tapi siapa ya?” kira Uruha sambil melihat-lihat mahluk menggemaskan ini.

“mau kasih makan juga bagaimana, bingung..” kata Kai. Keduanya saling pandang dan menghela nafas.

Kemudian mereka berdua sepakat membuat kandang burung bersangkar putih dan memasukkan si naga api biru itu ke dalam. Kandang itu mereka gantungkan di salah satu dahan pohon yang pendek. Dan kemudian Uruha dan Kai kembali ke kelasnya.

“baiklah semuanya, harap tenang sebentar. Aku akan mengumumkan sesuatu pada kalian..” kata Amano-sensei yang masuk kelas usai Uruha dan Kai berdiri bersampingan di tengah kelas bersama yang lainnya. Semua siswa bertanya-tanya tugas apalagi yang akan di berikan Amano-sensei.

“perhatian, tidak lama lagi kita akan menuju ujian akhir kelas level 2. Untuk itu, sebagai kisi-kisinya akan aku beritahu dari sekarang supaya kalian bisa belajar dengan baik..” jelas Amano-sensei.

“baik sensei!” seru anak-anak kompak.

“ujian kali ini, kalian akan menghadapi burung elang yang susah di jinakkan dan sangat berbahaya. Untuk itu, pelajari semua mantra sihir dan penggabungan sihir untuk menaklukan burung elang ini..seusai rule­-nya, mereka yang berhasil akan naik kelas sementara yang belum bisa mengulang di tahun depan bersamaan dengan ujian akhir kelas level 3..” kata Amano-sensei dengan lantang. Semuanya saling berbisik-bisik membicarakan hal ini. Kecuali Kai yang sedikit terdiam mendengar itu. dan Uruha yang ada di sebelahnya menyenggol lengan Kai sambil tersenyum penuh arti dan sekali menaikkan alisnya. Kai pun balas senyum menutupi sesuatu dari Uruha yang sebenarnya.

“kalau begitu, kita bisa belajar bersama bagaimana?” kata Uruha merangkul Kai dengan hangat dan senyum.

“siapa takut?” Kai pun merangkul Uruha yang sudah dia anggap sebagai kakaknya sendiri. Uruha dan Kai pun tertawa kecil dan Amano melihatnya senang mereka berdua sangat dekat sekali.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Selepas jam pulang sekolah, Uruha mengajak Kai untuk mengunjungi apartemennya. Dengan sapu terbangnya masing-masing mereka segera meluncur di langit sambil tertawa lepas entah membicarakan apa yang jelas mereka memang sering menceritakan hal konyol dan sering tertawa bersama.

Apartemen Uruha tidaklah begitu besar, namun cukup rapi dan bersih. Nilai plus untuk apartemen ini lah minimalis dan tata letak barang-barangnya yang cukup efisien. Kai melihat-lihat isinya dan duduk di sofa berwarna ungu cerah, warna kesukaan Uruha. Uruha menuju dapurnya untuk mengambil botol minuman ukuran besar kemudian membawa dua gelas ke meja ruang tengah yang sekarang di tempati Kai.

“nyaman juga tempatmu..” pikir Kai tersenyum saat Uruha membawakan minuman.

“kau bisa menginap di sini kok..” kata Uruha menuangkan minuman itu ke kedua gelas.

“serius??” Kai antusias.

“iya serius, serius akan menaruhmu di lantai untuk tidur,hahahaha..” Uruha mencoba bercanda dengan Kai. Dan Kai langsung ngerasa gondok di katakan begitu.

“bercanda kok! Malam ini menginap mau ya? sambil main P.S!” kata Uruha duduk di sebelahnya Kai.

“ayok, main bola?” Kai juga menyeruput minumannya.

“ngga, mainin hatimu..” jawab Uruha ngaco.

“ohok! ohookkK!!” Kai langsung tersedak mendengar itu. dan kembali Uruha ketawa guling-guling. Uruha paling senang mengerjai Kai *aduh!*.

“tenang-tenang aku bercanda kok, piss hehehehe..” Uruha langsung mengacungkan jarinya dan kemudian Kai memukul Uruha dengan bantalan sofa empuk ke kepalanya Uruha. Uruha merasa kesakitan tapi tetap menjaga tawanya.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Malam itu, mereka main P.S dan main bola. Kegaduhan pun terjadi ketika Uruha dan Kai saling menyerang tanpa ampun dalam permainan itu. makanan berserakan seperti kacang-kacangan atau chiki-chikian tapi rasanya tidak cabe-cabean *ealah apa ini?* dan juga beberapa minuman kaleng yang sudah tinggal kalengnya saja atau hanya setengah di buka tutup kalengnya. Dan ketika Kai menang, Kai mengacungkan kedua tangannya ke atas sambil masih memegang stick P.S, dan Uruha merasa kecewa..

“yang kalah tidur di lantai~ yang kalah tidur di lantai~” ejek Kai dengan senang menari-nari kecil di sebelahnya Uruha yang masih gondok.

“makanya jangan suka tanding bola, kalah kan? huahahaha..” Kai puas sekali mengatakan itu karena balasan Uruha ngebully dia tadi siang.

Setelah bermain bola pun mereka menuju kamar Uruha dan Kai langsung menjatuhkan dirinya di kasur empuk Uruha yang sangat rapi sekali.

“mana gulingnya!” Uruha ketus karena dia kesal mesti tidur di lantai. Kemudian Kai menengok dan duduk di kasur itu. dia menepuk-nepuk di pinggir bermaksud mengajak Uruha duduk di sebelahnya.

“sini..” ajak Kai. Kemudian Uruha dengan cemberut duduk di sebelah Kai. Kai merangkul Uruha dengan hangat dan memandang Uruha dengan bersahabat.

“aku tidak akan membiarkanmu tidur di lantai. Sebagai teman baik, aku akan merangkul temanku yang kesusahan dan bersama-sama merasakan kesulitan juga saling membantu..jadi tidur berdua saja ya di ranjang ini..lumayan cukup kok..” kata Kai senyum mengeluarkan dimplenya. Uruha memandang Kai dengan sangat tersentuh karena dia punya sahabat yang sangat baik sekali. kemudian Uruha menjatuhkan punggungnya langsung ke kasur itu dan melihat langit-langit dan Kai mengikuti Uruha juga.

“aku tidak tahu harus bagaimana kalau aku akan kehilangan teman sejatiku yang satu ini, apa akan ada yang bisa membantuku dalam kesulitan?” tanya Uruha masih melihat langit-langit kamarnya.

“dia tidak akan meninggalkanmu, dia akan setia mendampingimu dalam susah dan senang..”

“sankyuu..” Uruha menoleh dan mereka bertatapan dan tangan mereka high five dan kemudian menutup mata..terlelap dalam mimpi..

Tapi aku hanya memanfaatkan ini semua, maafkan aku Uruha..

---------------------------------------------------------------------------------------------//




Masuk sekolah seperti biasanya dan saling tegur sapa adalah aktifitas rutin di sekolah ini. Pagi itu, Uruha teringat dengan naga api biru yang mereka masukkan ke kandang di belakang sekolah. Uruha melihat naga itu sedang terdiam tenang dan Uruha mengambil naga itu dari dalam kandang dan melihat naga ini sepertinya tumbuh dengan pesat karena ukuran tubuhnya sekarang lumayan membesar.

“naga api biru ini sayang kalau tidak terurus..” kata Kai menghampiri Uruha.

“hm, aku juga sedang memikirkannya, lalu kau ada ide?” tanya Uruha dengan santai. Kai melepaskan tas selempangnya dan menaruh di rerumputan dan mendekati Uruha mengamati naga api biru ini.

“bagaimana kalau kita buat cincin keabadian dari naga api biru ini?” kata Kai. Uruha mengerutkan dahinya bingung dengan perkataannya Kai.

“maksudmu?”

“jadi, naga api biru ini kita segel di dalam sebuah cincin, dengan begitu naga api biru ini bisa dekat dengan kita..dan kita bisa menjaganya dengan baik..” kata Kai tersenyum.

“ide bagus!” kata Uruha.

Kemudian Uruha meletakkan naga api biru itu di sebuah rerumputan. Naga itu terdiam celingukan karena tidak terbang. Kemudian Uruha mundur dan membiarkan Kai membacakan mantranya. Kai memejamkan matanya membaca mantra, kemudian lingkaran berwarna biru cerah pun mengitari Kai dan naga kecil itu. dari lingkaran itu muncul sebuah pusaran angin yang mengitari pula Kai dan naga itu. Kai mengangkat sebelah tangannya dan dia membuka telapak tangannya dan muncul sebuah cahaya yang sama berwarna biru cerah. Dan kemudian mengarahkan pada burung naga itu. Kai menembakkan cahaya dari telapak tangannya itu ke arah naga kecil yang tidak tahu apa-apa tersebut. Karena cahaya sangat menyilaukan, Uruha tak dapat melihatnya. Dan setelah cahaya dari naga itu redup dan pusaran angin dari lingkaran itu juga perlahan menghilang, muncul lah dua buah cincin yang tergeletak begitu saja. Uruha melihat cincin itu biasa saja. Hanya cincin berbentuk lingkaran. Namun samar-samar seperti ada api birunya. Kai meraih cincin itu dan memakainya. Kemudian Uruha menghampiri Kai..

Kai memakaikan cincin itu ke jari manisnya tangan kiri Uruha. Kemudian mereka menunjukkan cincin yang sama yang samar-samar ada api birunya. Keduanya tertawa..

“dengan ini, ikatan sebagai sahabat kita akan terjalin selamanya..” pikir Kai. Dan kemudian mereka mendengar suara bel jam pelajaran akan di mulai. Dan mereka berdua pun segera ke kelas dengan cincin yang sama melingkar di jari manis mereka masing-masing *yakali kaya nikah XDa*

---------------------------------------------------------------------------------------------//




Seminggu sudah mereka latihan bersama untuk menghapal mantra untuk ujian kenaikan kelas level 2. Uruha dan Kai sering berlatih di belakang taman sekolah. Reita kadang-kadang menengok dengan apa yang mereka lakukan saat itu. senyum Reita melengkung di saat dia melihat Uruha dan Kai saling mengajari cara bertarung dengan elang liar nantinya yang akan di jadikan ujian. Uruha dan Kai saling berlatih menyerang dan menyempurnakan bela diri mereka.

“harusnya punggungmu kurang ke bawah, kalau begini caranya kau bisa terkena semburan apinya si elang..” kata Uruha sambil menepuk punggung Uruha dari belakang. Kai terdiam, seakan dia menyimpan sesuatu dan kemudian Kai mengepalkan tangan sebelahnya tanpa sepengetahuan Uruha yang kembali berlatih ilmu sihirnya. Kai melihat Uruha dengan tatapan benci dan seakan-akan ada sesuatu yang Kai selama ini sembunyikan dari Uruha entah apa.

Dan kemudian tibalah saatnya ujian kenaikan kelas level 2 yang di adakan hari ini..

Sekolah ini selain mempunyai lapangan yang luas, mereka mempunyai satu stadium luas yang di jadikan area untuk ujian kenaikan kelas level. Stadium ini hanya di buka setiap mengadakan ujian. Stadium ini mirip seperti stadium lapangan bola dengan jumlah kursi penonton yang banyak. Saat ujian level, semua siswa menonton dan duduk di kursi sdi stadium yang melingkar itu. saat itu, Reita dan Aoi yang masih junior memasuki stadium megah yang baru pertama kali mereka lihat. Mereka terkagum-kagum melihat isi stadium ini kemudian duduk di barisan tengah agar dia bisa melihat ujian ini. Sementara seluruh siswa kelas level 2 sedang berada di barisan paling depan. Setiap per orang akan di panggil dan mereka akan menaklukan elang raksasa yang liar.

“baiklah, sebagai kepala sekolah Mahou Gakuen aku akan memberikan semangat untuk kalian, ingat bahwa ujian ini menentukan siapa-siapa yang naik kelas level dan membuktikan dirinya sudah mampu menguasai sihir sebelumnya. Dan aku berhak mendiskualifikasi jika terdapat kesamaan ilmu sihir dalam menaklukan elang raksasa nanti..” sambutan hangat dari Gakuto yang masih menjabat sebagai kepala sekolah itu berada di podium. Podiumnya di sebelah kanan dari lapangan stadium itu. kemudian semuanya bersorak termasuk Kai yang tepuk tangan dengan senyum liciknya.

“baik untuk siswa pertama, kita panggil Kai Yutaka!” kata Amano-sensei memanggil nama itu ke podiu milik Gakuto dan semua bersorak menyemangati Kai yang maju ke tengah lapangan. Uruha juga memberi dukungan dengan tepuk tangan meriah untuk sahabatnya ini.

Kemudian mereka di kejutkan dengan sebuah cahaya dadakan di langit-langit dan kemudian membentuk sebuah elang raksasa yang sedang terbang di atas kepala Kai. Elang itu bersuara nyaring sampai semua siswa yang menyaksikannya tutup telinga. Kai memandang elang itu dengan senyum menyepelekan bahwa Kai yakin dia bisa menaklukan elang ini. Dengan segera, Kai pun membuat perlawanan terhadap elang ini..

Gerakan bela dirinya, cara mengayunkan tongkat sihir saat mengeluarkan jurus sihir untuk melumpuhkn elang itu dan juga cara Kai menghembuskan kekuatan besar dari kedua telapak tangannya mirip hame-hameka *plak* membuat Uruha membulat matanya dan berdiri dengan sangat terkejut melihat itu semua.

“kenapaa...” Uruha seakan tidak percaya, jurus yang Uruha latih selama ini di copy paste oleh Kai, sahabatnya sendiri. Uruha mengingat saat mereka belajar bersama untuk menghadapi ujian saat ini. Lalu jika Kai sudah menghafal gerakan Uruha, bagaimana Uruha bisa menghadapi elang ini? Bisa-bisa Uruha di diskualifikasi karena di anggap sama dengan gerakan Kai. Uruha tidak habis percaya kenapa Kai tega melakukan ini.

“dan akhirnya Kai berhasil menaklukan elang ini dengn terkapar tidak berdaya di lapangan!” seru Amano bagai komentator di podium menyaksikan pertarungan Kai yan sangat amazing sekali. sorak riuh pun kembali memenuhi stadium ini untuk Kai yang tersenyum penuh kemenangan. Dan Uruha duduk lemas melihat semua ini.

“dan selanjutnya, Uruha Takashima!” seru Amano memanggil nama itu. tubuh Uruha seakan bergetar dia bingung harus bagaimana di lapangan nanti. Semuanya sudah di ambil Kai dan Uruha berjalan seakan terus memikirkan hal itu. tak peduli sorakan semangat untuknya. Dan dia melewati Kai yang duduk di barisan depan sambil tersenyum manis seakan dia tidak bersalah sama sekali. Uruha memandang itu dan mengepalkan tangannya sebelah dan menuju tengah lapangan. Kesal yang menimbun hatinya seakan ingin meluap namun Uruha sabar menahannya.

Uruha berhadapan dengan elang raksasa yang sekujur tubuhnya di penuhi api merah menyala dan mungkin panasnya lebih dari 60`c *ngarang XDv*. Elang itu langsung menyambar Uruha dengan semburan api yang dahsyat dan Uruha secepat mungkin menghindari dengan melompat ke kanan dan ke kiri. Uruha sedikit terpojokan dengan kondisi ini dan dia bingung harus melakukan apa. Reita juga bingung ada apa dengan Uruha kenapa tidka melakukan penyerangan. Sambil berlinang airmata, Uruha pun mengeluarkan semua jurus yang di lakukan tadi oleh Kai dan semuanya terkejut. Gakuto yang melihatnya pun seakan ada yang tidak beres. Setelah elang itu terkapar tidak berdaya, Uruha menjatuhkan dirinya seakan dia bersujud dan kepalanya menunduk menutupi wajahnya yang sedang menangis sakit hati yang mendalam. Uruha teringat saat  bermain P.S bersama kemudian belajar di belakang taman sekolah..

“Uruha, diskualifikasi..” Gakuto menyatakan itu dan semua terkejut dan langsung bergantian memandang Kai dan juga Uruha.

“ada apa ini?”

“iya kenapa bisa?”

“apa yang terjadi di antara mereka?”

Semua siswa saling bertanya ada apa dengan mereka. Sementara Uruha dengan keadaan menunduk meninggalkan lapangan dan keluar dari stadium ini. Kai yang melihatnya pun hanya diam, seakan dia membiarkan sahabatnya terpukul sendirian.

---------------------------------------------------------------------------------------------//




Kai berjalan di koridor dengan diam dan wajahnya seakan bukan menunjukkan dia. berubah menjadi seorang yang picik dan tidak memperdulikan perasaan orang lain. Namun terdengar langkah cepat dari belakang yang seakan menghampirinya,

“Kai!” seru seseorang dari belakang. namun saat Kai melihat ke belakang, sebuah pukulan keras melayang ke pipinya sampai Kai jatuh tersungkur dan punggungnya menabrak dinding yang menjadi retak karena kekuatan pukulan itu. Kai melihat itu adalah Uruha yang melakukannya dengan keemosian dan nafas tidak beraturan memandang Kai.

“apa maksudmu?” Uruha bicara melunak pada Kai. Karena Uruha ingin mendapatkan jawaban dari Kai dengan cara bicaranya. Kai bangkit dan menyeka pipinya yang terluka dan berdarah sedikit. Dia memandang Uruha seakan Uruha bukan sahabatnya melainkan musuhnya.

“aku tidak ingin kau melebihi diriku, aku ingin aku melampauimu..aku tidak terima selama ini kau sangat hebat dalam ilmu sihir dan memiliki nilai bagus sementara aku menjadi kedua di bawahmu, aku iri kau bisa menguasai segala sihir dan mempunyai kekuatan sihir yang unik ketika belajar bersama menghadapi ujian. Kenapa aku tidak bisa menjadi dirimu? Kenapa aku harus selalu di bawah dirimu?” jelas Kai dengan tatapan sinis dan sangat menyedihkan. Uruha tidak menyangka selama ini Kai selalu iri terhadapnya padahal sikapnya tidak menunjukkan sedikitpun keirian terhadapnya.

“aku memanfaatkan kebaikanmu untuk berteman denganku, aku memanfaatkan segalanya agar aku menguasai apa yang kau kuasai. Aku tidak butuh teman! Aku hanya butuh kekuatan sihir yang hebat makanya aku mendekatimu dan mencuri ilmu darimu..maaf ini aku yang sebenarnya tidak ingin di saingi siapapun sejak kecil. Dan cincin ini..ini hanya palsu semata supaya kau semakin yakin bisa berteman denganku dan aku bisa semakin mencuri ilmu darimu..” kata Kai kemudian di akhir kalimatnya memperlihatkan cincin yang ia pakai. Kai melepasnya dengan paksa dan kemudian dia membuang keluar jendela dengan sembarang dan cincin itu jatuh ke sebuah kolam air yang luas. Uruha melihat itu dan semakin sakit hati terhadap Kai.

“selamat tinggal kelas, aku akan berusaha sebaik mungkin setelah naik kelas level 3 dan menunjukkan padamu bahwa aku bisa sejajar dengan ilmu sihirmu..” kata Kai dengan sinis kemudian dia membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan Uruha yang mematung atas ucapan Kai yang membuat dia harus bisa menerima kenyataan bahwa Kai bukan sahabat baiknya. Dan Uruha melihat keluar jendela.

Di sebuah kolam yang luas, sambil menangis-nangis Uruha mencari cincin yang Kai lempar ke kolam ini. Uruha tidak peduli bajunya basah dan tubuhnya menggigil kedinginan demi mencari cincin keabadian yang ia buat dengan Kai. Sampai pada akhirnya dia menemukan dan kembali menangis.

“aku mohon Kai, berubahlah..” Uruha seakan berdoa sambil memejamkan matanya menunduk menangis. Dan cincin itu bercahaya api biru entah apa maksudnya.

---------------------------------------------------------------------------------------------//




Flashback itu membuat Uruha menangis di depan rak lokernya dengan sejadi-jadinya tanpa bersuara. Ruki yang ada di kejauhan melihat itu dengan iba. Seorang Uruha yang dingin bisa menangis kesakitan begitu. Kemudian dengan memberanikan dirinya untuk mendekati Uruha dia berjalan dengan pelan.

“apa kau teringat masa lalumu?” Ruki memegang pundak Uruha. Dan Uruha terhenti menangis dan menoleh pada Ruki. Ruki tersenyum melihat wajah Uruha di penuhi basah airmatanya dan bibir keritingnya yang habis menangis *lucu ya inget konser nameless six guns XDD*

“aku bisa baca pikiranmu, kenangan bersama Kai?” tebak Ruki dan membuat Uruha menjadi menatap Ruki.

“apa kau membutuhkan teman untuk curhat? Aku siap kok membantumu..” pikir Ruki.

“kau tahu apa tentangku, masa laluku, tentang Kai? Kau belum tentu bisa menjadi di posisiku saat ini! Kau tidak tahu rasanya di khianati teman yang sudah ku anggap bagian hidupku sendiri!” amarah Uruha meledak dan seketika meninggalkan Ruki dengan berjalan penuh keemosian. Ruki melihat ada dua cincin di rak itu dan cincin itu samar-samar ada cahaya api biru. Dan melihat ke depan bahwa Uruha sudah cepat menghilang entah kemana dia.

“aku memang tidak bisa merasakan apa yang kau rasakan saat itu dan saat ini, tapi aku tahu kau butuh seseorang untuk bisa meluapkan semua isi hatimu..tapi kau terlalu angkuh dan sok kuat di hadapan banyak orang, padahal kau ini sangat rapuh..” ujar Ruki memandang cincin itu. dan setelah mengatakan itu, cincin itu bercahaya biru tiba-tiba dan langsung menghilang. Ruki tidak mengerti ada apa dengan cincin itu yang jelas Ruki menutup rak loker Uruha dan berjalan meninggalkan loker yang menjadi saksi bisu dimana Uruha menangis sendirian dan menahan segala kekesalan dan penyesalan dalam hatinya



---------------------------------------------------------------------------------------------//






No comments:

Post a Comment