Wednesday, March 5, 2014

Caffeine ~4

Title       ::  Caffeine -苦い、甘い-
Author  ::  Ikki Kamiya -Ruru-
Genre   ::  rumit (?) *plak!
Chapter::  4/?


**********************



Kalian tahu? Kalau cuaca langit sedang cerah. Bulan itu bersinar terang dan bintang2nya dengan senantiasa mendampingi cahaya bulan. Pemandangan indah itu tidak luput di saksikan Uru dari balik jendela kamarnya.

Dia tersenyum melihat indahnya sinar itu. Di lain tempat, Reita sedang berjalan menelusuri sebuah jalan. Matanya tidak sengaja menangkap indahnya langit. Dia berhenti sejenak, kemudian dia mengirim pesan pada seseorang..
 “kau lihat pemandangan di langit malam ini? Indah sekali..

Uru membuka pesan ponselnya. Di lihat Reita yang mengirim pesan. Uru kembali berfikir apa dia salah kirim. Kemudian dia mengirim pesan pada Reita..

kau salah kirim pesan?”

tidak, ini memang untukmu. Andaikan bisa menikmati bersama.haha..

Uru langsung menutup ponsel flipnya dengan kasar. Dia melempar ponselnya ke ranjangnya dan mengerutkan keningnya memandang ponsel yang kembali bergetar karena pesan, mungkin dari Reita kembali.

“ada apa dengan dia? Dua kali mengirim pesan seperti mengajak. Pertama yang pergi ke rumah kaca, sekarang mengatakan ingin menikmati malam indah bersama..” keluhnya. Dia menghela nafasnya dan mencoba berpikir tenang.

“aku harus tahu kebenaran ini, ada apa dengan mereka? Dan sikap Reita yang berubah padaku menjadi menjijikkan seperti itu..”

Dia melipatkan tangannya sebentar berfikir. Kemudian dia berjalan menuju keluar pintu kamar.

**********************



Uru berjalan menuju kelas dengan tenang dan bersiul2 seperti biasanya. Namun persis di dekat parkiran motor, Uru menjadi diam sekaligus. Dia melihat Ruki dan Reita datang sambil berboncengan motor. Ruki turun dari motor Reita dan melepaskan helmnya. Reita juga melepaskan helmnya dan bermuka kusut entah kenapa. Karena merasa tidak penting untuk di lihat lagi, Uru meneruskan menuju kelasnya.

“pulang sekolah kau mau kemana?” tanya Ruki.

“entahlah.” Reita sedikit jutek kemudian menaruh helm di atas spion kaca. Dan meninggalkan Ruki begitu saja. Ruki buru2 menaruh helm di atas motor dan meraih tangan Reita. Mereka bergandengan tangan. Reita tak menoleh melihat tangannya di pegang oleh Ruki, hanya diam menahan kesal tiada tara.

“kita melangkah bersama..” kata Ruki berjalan di samping Reita dengan kalem.

**********************



Di saat jam istirahat, Reita datang ke theater dan berlatih drama dengan yang lainnya. Reita segera masuk ke area panggung dan berakting menahan tangan Kai yang hendak pergi. Setelah tangannya dapat di raih Reita,  Kai berbalik dan menatap sendu pada Reita. Dan Reita pun memandang Kai. Mereka saling berpandangan cukup lama, sayangnya Reita lupa akan dialognya.

“cut! Ada apa ini?” kata Reika yang menjadi pemandu drama ini. Reita melepas tangan Kai dan menunduk. Kai menghela nafas pendek dan memegang keningnya.

“kau kenapa? Akhir2 ini kau tidak fokus?” tanya Kai. Reita mendongak dan melihat ke arah Kai. Kemudian mata Reita melihat ke sebelah kiri Kai. Di sana Ruki sedang duduk santai sambil memandang Reita. Kai juga ikut melihat apa yang Reita lihat. Kai mengerti dan kembali memandang Reita..

“kita bisa bicara di belakang?” tanya Kai.

Di luar theater mereka duduk bersampingan. Sambil menikmati sebotol minuman air putih, mereka terdiam dulu sebentar.

“kau tidak beri dia penjelasan?” kata Kai memulai pembicaraan.

“mau mulutku sampai berbusa pun dia tidak akan mengerti keadaan ini..” jawab Reita pesimis.

“hah... kenapa kau begitu malang sekali mendapatkan penderitaan seperti ini..” kira Kai kembali meneguk air minumnya.

“entahlah..” kata Kai pasrah sambil melihat botol minumannya.

Dengan pikiran yang penat, Reita mencoba untuk menghubungi Uruha. Dia mengirim pesan padanya.

sepertinya cuaca bagus sore hari ini, kita pergi bersama ke taman kota kau mau?

Reita menutup kembali ponselnya dan segera menuju loker untuk mengambil sesuatu.

“mau kemana?” tanya Kai.

“menuju surga.” Jawab Reita jutek. Kai hanya mengangkat kedua bahunya.

**********************



Uru sedang berduaan dengan Aoi di kafetaria. Mereka sedang menikmati makan mereka. Namun, Uru melihat Ruki sedang menuju tempat penjualan minuman dan sepertinya ia memesan. Di saat itu, Uru bergegas untuk menuju toilet tanpa pamit pada Aoi yang ada di hadapannya. Aoi hanya memandang bingung. Sementara itu di toilet yang untungnya sepi. Uru menarik nafasnya dan kemudian menghubungi Ruki dengan nomor lain..

“dare?” sahut Ruki.

“a-aku Kei..ini Ruki kan?” kata Uruha menyamar dan membedakan suaranya.

“Kei? Ada apa ya?” jawab Ruki yang sedang duduk di bangku kelasnya menikmati segelas minuman jus alpukat.

“a-ano aku.. hanya ingin menanyakan kedekatanmu dengan Reita saat ini..” kata Uru memberanikan dirinya. Ini membuat Ruki berhenti untuk menikmati jus dan sedikit ada yang aneh.

“kau siapa? Kenapa menanyakan hal ini?”

“aku sudah bilang, aku Kei.. belakangan ini Reita selalu mengirim email dan mengajakku pergi dan aku tidak tahu maksudnya apa.. makanya aku bertanya padamu, apa kau masih berpacaran dengan Reita? Aku hanya tidak ingn menjadi perusak di antara kalian..” jelas Uru.

“kau punya hubungan apa dengan Reita?” Ruki berdiri dengan amarahnya.

“aku tidak punya hubungan, hanya saja aku tidak mau merusak kalian..”

“tidak mungkin kau tidak punya hubungan dengan Reita! Jawab aku, kau siapanya Reita!?”

“sudah ku bilang aku baru di dekatinya! Makanya aku minta penjelasan darimu tentang hubunganmu, supaya aku tidak keterlaluan..”

“aku masih bersama Reita, dan aku tidak yakin Reita selingkuh di belakangku. Dia memang baik ke semua orang.”

“baguslah, kalau kau masih bersamanya aku minta maaf, dan aku berharap kau langgeng dengan Reita..”

“tapi kau- halo? Halooo?!” Ruki mendengar telpon di tutup dari sananya. Mendadak Ruki menjadi kesal. Dia menendang meja dan wajahnya menahan amarah yang amat sangat.

Sementara Uru bersandar di tembok dan dia menatap layar ponselnya. Dia telah melakukan sesuatu yang membuatnya bingung antara benar dan salah. Tapi setidaknya jawaban tadi melegakan.

“maafkan aku Ruki, aku berbohong demi kebaikan walaupun caranya salah...” kata Uruha menggigit bibirnya dengan rasa bersalah meremat ponsel yang ia lihat.

**********************



Ruki diam di depan pintu kelas Reita, menyender sambil melipatkan tangannya. Gelisah akan telpon yang ia dapatkan tadi. Saat jam keluaran, pintu kelas terbuka dan Reita lah yang pertama kalinya yang membuka dan bengong Ruki ada di depannya. Ruki langsung menyeret Reita ke suatu lorong yang hanya ada mereka berdua.

“ada apa sih? Menarik tanganku?” kata Reita bingung.

“kau sedang dekat siapa hah? Kenapa ada telpon yang mengaku2 bernama Kei sedang dekat denganmu! Siapa dia! Katakan!” Ruki marah dan emosinya tidak terhentikan.

“Kei?” jelas Reita bingung. Seingatnya dia hanya mengirim pesan pada Uruha.

“aku tak mengenalnya..” jawab Reita.

“BOHONG! Kau mau mempermainkan aku Reita?!” Ruki hampir menangis.

“aku memang tidak tahu siapa dia Ruki! Lagipula kau sudah tidak ada hubungannya denganku!” bentak Reita kesal.

“aku tidak pernah menganggap kita putus! TIDAK AKAN!” Ruki menangis membuat Reita kehabisan kata2nya.

“kenyataan aku memang memutuskanmu Ruki! Apa kau tidak bisa menjaga perasaanmu!?”

“aku hanya ingin Reita hanya milikku..” Ruki menangis. Reita menghela nafasnya dan mengalihkan pandangannya dari Ruki.

“aku tidak mau berpisah denganmu Reita, aku mau mati saja kalau aku tidak memilikimu!” kata Ruki menangis dengan keras. Reita memandang Ruki dengan sejuta pertanyaan, kenapa Ruki sampai begini terhadapnya.

“kau harus bisa relakan aku Ruki!” kata Reita.

“tidak akan!” bentak Ruki.

“terserah!” Reita langsung meninggalkan Ruki begitu saja.

**********************



Aoi mengantarkan Uru pulang dan dirinya sedang berboncengan dengan Aoi di motor. Uru masih memikirkan hal tadi. Apa Ruki akan baik2 saja tentang semua ini..

“bisa berhenti di sini?” ucap Uruha tiba2 membuat Aoi meminggirkan motornya ke pinggir jalan dan tepatnya di taman kota.

“ada apa?” Aoi menoleh ke belakang.

“aku mau bicara denganmu..” kata Uru. Kemudian mereka berdua turun dari motor.

“ada apa kau ini? Seharian beda sekali.” Kata Aoi memegang kedua bahu  Uru. Namun Uru menurunkan tangan Aoi dan mulai memandang mata Aoi.

“kau bisa jauhi aku mulai detik ini?” kata Uru tiba2 membuat Aoi tercengang.

“ke-kenapa? Aku buat kesalahan? Apa aku bisa perbaiki?!” Aoi mulai ketakutan Uru.

“bukan kau yang salah! Tetapi aku, aku membuatmu lebih berharap..” kata Uru.

Aoi memandang Uru dengan wajah sedih dan tidak tahu mau berkata apa,

“aku bukan pasangan idealmu, aku juga tidak pernah mengatakan ‘iya’ untuk berpacaran denganmu..tapi, aku mau tidak mau menjalani denganmu karena kau tidak memberikan kesempatan padaku untuk menjelaskannya.. sekarang, mungkin di tempat ini di pinggir jalan, aku mengatakan semua hal yang menyakitkan untukmu..parahnya secara mendadak.. aku tahu, setelah ini kau akan membenciku karena merasa di permainkan.. tapi, aku lebih baik jujur daripada terlambat sama sekali..” jelas Uru hampir menangis.

“tapi, apa aku punya kesempatan lagi?” tanya Aoi memelas.

“aku tidak mau memberikan kesempatan padamu Aoi. Aku tidak sama sekali mencintaimu..” kata Uru dengan kuat hati mengatakannya.

“jadi tolong, hindari aku mulai hari ini..” lanjut Uru.

“arigatou..” Uru pergi melangkah sambil menjatuhkan air matanya. Pedih rasanya Aoi di tinggal sakit dalam hal begini. Dia mematung melihat Uru menjauh darinya...

“U..ru..ha..” Aoi berlinang air mata

**********************



Reita tidak bisa tidur sepulang sekolah. Di ranjangnya dia membalik-balikkan tubuhnya dengan gelisah. Dia mengingat perkataan Ruki yang ingin bunuh diri.

“apa dia se-nekat itu?” kata Reita bingung. Dia menatap langit2 kemudian dia membayangkan hal2 yang tidak2 terjadi pada diri Ruki. Tiba2 ponselnya bergetar dan dia melihat pesan masuk.

Reita langsung bangun dari tidurnya dan menatap ponsel dengan jelas2. Matanya membulat, dia kaget dan langsung bergegas dari ranjangnya.

Reita menuju apartemen Ruki, di bukanya kamar Ruki. Ruki sudah tergeletak penuh darah di pergelangan tangannya.

“astaga! Ruki!”

Dengan segera Reita membawanya ke rumah sakit terdekat..



@rumah sakit

Reita menunggu hasil pemeriksaan dokter. Dirinya benar2 kaget dengan pesan yang di kirim Ruki. Bahwa dirinya mencoba untuk memutuskan urat nadinya sebagai tanda ia tidak ingin kehilangan Reita. Reita terdiam, ingin menangis namun dadanya sesak hingga tidak bisa menangis. Dia menunduk dan bingung dengan perbuatan Ruki..

Reita tidak habis pikir dengan pikirannya saat ini, ada apa dengannya? Terlalu over..

“bagaimana dok?!” Reita mendekati dokter yang keluar dari kamar inap Ruki.

“masih tertolong, dia butuh banyak istirahat..” kata Dokter tersenyum kemudian dia pergi. Reita menuju kamar inap Ruki. Di sana Ruki terbaring lemah. Reita hampir2 saja menangis melihat Ruki yang pucatnya seperti mayat hidup. Di tangan kirinya terbungkus perban dengan bercak darah. Miris hati Reita melihat semua ini...

**********************


Keesokan harinya,

“Ruki tidak masuk, katanya sakit..” kata teman sekelas Ruki. Uru hanya bisa tersenyum dan mengucapkan terima kasih dan kembali ke kelasnya. Uru berpikir kenapa dengan Ruki. Dia jadi khawatir sendiri.

“Uru, ada yang mencarimu..” kata teman sekelas Uru. Uru melihat ke arah pintu kelas dan melihat Reita sedang menungguinya sambil menyandar pada pintu kelas. Detak jantung Uru bukan main, dia seperti ketakutan sekali dan dia takut terjadi sesuatu buruk menimpanya. Dia menelan ludahnya dan segera menghampiri Reita.

“a-ada apa?” Uru takut2. “aku ingin bicara denganmu..” kata Reita sambil menuju suatu tempat.

Reita memilih loteng sekolah karena sangat sejuk dan tenang. Di sana ia dan Uru merasakan sejuknya angin sepoi.

“apa yang mau kau bicarakan?” kata Uru.

“kau mengaku sebagai Kei pada Ruki?” kata Reita. Sontak jantung Uru sangatlah berdebar sekali. Dia benar2 kehabisan kata2 untuk menghadapi kenyataan ini..

“gomen..aku yang salah..” kata Reita menunduk sambil menyandar pada tembok.

“ke-kenapa minta maaf, aku yang salah kenapa-“

“bukan salahmu, itu salahku..” Reita memotong perkataannya.

“aku tahu, aku selalu menghubungimu seperti mengajak pergi. Pada kenyataannya yang kau tahu aku masih berhubungan dengan Ruki. Tapi itu dulu, aku sudah putus dengan Ruki sampai sekarang... namun Ruki tidak rela melepaskan diriku. Dan aku mau tidak mau menjalani beban untuk bisa bersama dengan Ruki..aku mencoba menghubungimu karena ku pikir suatu saat aku bisa curhat padamu tentang Ruki dan memberi solusi, nyatanya kau menganggapku ingin selingkuh di belakang Ruki..wajar kau mencari tahu tentangku dengannya..” jelas Reita membuat Uru tercengang. Kesalahpahaman yang berujung fatal.

“kalau kau sudah putus dengan Ruki untuk apa masih bersamanya?” tanya Uruha jutek.

“dia selalu mengancamku dengan cara bunuh diri atau apapun yang bisa melukai dirinya..” jelas Reita.

“a-apa??Ruki berniat melakukan hal itu??” Uru kaget.

“telponmu yang mengaku2 nama Kei membuat dia marah besar, dan kembali mengancam ingin mati jika aku tidak bersamanya lagi.. ku pikir itu hanya bualan saja, Ruki ternyata melakukan hal bodoh..” kata Reita.

“hal bodoh apa?” Uru semakin takut.

“dia memotong urat nadinya, dan sekarang dia sedang istirahat di rumah sakit..” jelas Reita dengan sedih.

Mendengar itu, Uru bahkan tidak bisa berkata apalagi. Dia menutup mulutnya menahan kaget yang luar biasa. Dan dia bingung mesti melakukan apa..

“aku sekarang bingung, aku di kekang Ruki. Ruki menghantui hidupku.. dia menginginkanku dengan segala cara..aku bingung benar2 bingung, dia tidak ingin melepaskanku..” kata Reita sambil berlinang airmata. Uru mendekati Reita, kemudian dia memeluk Reita dengan iba..

“maafkan aku Reita..aku juga bersalah..”

**********************



Ruki duduk lemah di atas ranjang sambil matanya melihat lantai dengan tatapan kosong. Dia bingung atas apa yang dia lakukan. Dia melihat tubuhnya penuh dengan alat kedokteran. Dia menangis karena orang yang ia cintai tidak ada di sampingnya. Dia meremat kepalanya, kemudian tiba2 dia mencabut semua alat2 yang menancap di tubuhnya sambil menangis. Kebetulan, Reita dan Uru menuju kamar inap, Reita mendengar suara aneh dari kamar sebelah sana. Dia langsung masuk ke dalam dan berlari. Sementara Uruha berada di luar tidak bisa berbuat apa-apa karena permintaan Reita. Reita menahan perbuatan Ruki dan menenangkannya dengan memeluknya dengan erat.

“aku di sini Ruki...” kata Reita dengan tenang. Ruki pun perlahan memeluk Reita dan menangis..

“jangang tinggalkan aku Rei... jangan bersama Uru.. aku mohon...” Ruki dengan wajah pucat memohon sambil menangis membuat hati Uru miris ingin menangis. Dia tidak tahu kalau Ruki begitu mencintai Ruki sampai seperti ini..

“tenanglah aku ada di sini..” Reita perlahan membaringkan tubuh Ruki dan menekan tombol agar suster datang menangani semua ini. Usai berbaring, suster datang dengan buru2 dan membenarkan semua alat kedokteran yang sudah di rusak Ruki.

“maaf.. anda boleh keluar sebentar.” Suster itu menyuruh Reita keluar. Reita keluar dan melihat Uru sedang menangis di kursi menunggu. Reita duduk di sebelahnya dan mengusap-ngusap punggung Uru yang sedih.

“aku juga bingung Uru.. apa yang harus ku lakukan..” ucapnya.

“dia sudah tau Kei itu aku?” tanya Uru.

“ya aku menjelaskannya lewat telpon saat aku di apartemen, kemudian dia mengirim pesan bahwa dia tidak ingin kau memilikiku dan nekat akan mengiris pergelangan tangannya.. dan ku sangka itu bohong ternyata benar...” jelas Reita.

“lalu apa yang harus ku lakukan?” Uru tambah bingung.

“aku akan bertanggung jawab kalau semua ini menjadi masalah besar..” kata Reita dengan hati lapangnya.

“aku tidak bermaksud,tapi kenapa jadi begini..” kata Uru memegang kepalanya sambil menangis. Reita menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Antara bingung dan pasrah..

**********************



Beberapa hari setelah kejadian itu, Ruki masuk sekolah seperti biasanya. Semua keadaan tenang seperti biasanya. Namun, Uru merasa tidak enak hati atas kejadian ini. Dia sudah berfikir kalau Ruki telah membencinya.. Uru yang sampai sekolah pun menjadi bingung. Tidak sengaja dia melihat Reita sedang berduaan bicara dengan Ruki. Uru segera masuk ke kelas dan tidak ingin melihat mereka lagi..

Ruki sekarang membencimu dengan tuduhan kau main api denganku di belakang, ini semua salahku yang menghubungimu secara tidak jelas..gomen, aku akan bertanggung jawab..

Reita mengirim pesan ketika Uru sudah sampai di bangkunya.

aku ingin bicara banyak denganmu lagi, siang ini boleh? Mumpung Ruki pergi ada keperluan, usai aku antar dia kita bertemu di cafe biasa bagaimana?” Reita mengirim pesan kembali,

baiklah, aku tunggu. Tapi jangan sampai ketahuan Ruki..” kata Uru dalam pesan itu.

**********************



irrashaimase~” seorang pelayan cafe membukakan pintu dan Uru pun masuk ke dalam duduk di tempat yang kosong. Dia membuka menu dan memilih sebuah kopi hangat.

“aku pesan yg ini saja..” kata Uru pada pelayan yang berdiri di dekat Uru. Pelayan itu mencatat kemudian dia pergi. Uru melamun sebentar dia melihat2 keluar jendela. Beberapa di sana ada yang sedang pegangan tangan dan berjalan dengan berdampingan. Mereka terlihat bahagia..

“ini pesanannya..” pelayan itu menyerahkan minumannya.

Uru tersenyum dan segera mendekatkan kopinya itu. Dia memandang sekilas minuman itu,

“kopi ini mengandung kafeine..semua orang yang meminumnya akan ketagihan, mungkin jantungnya akan selalu berdebar, terlebih membuat orang insomnia..hah, kafein ini menggambarkan perasaan Ruki terhadap Reita, sangat mencintai hingga tidak bisa melupakan..” ujar Uru dalam hatinya.

“maaf terlambat..” Reita tersenyum dan duduk di depan Uru.

“dan orang ini lah yang jadi cafeine nya..” kata Uru secara spontan dalam hatinya menatap Reita.

“pesan apa tuan?” seorang pelayan datang.

“milkshake saja.” Pesan Reita dan pelayan itu pergi.

“apa Ruki baik2 saja?” kata Uru sambil meneguk kopinya.

“hm, yang mau aku bicarakan itu, aku mau minta maaf..karena kesalahanku semuanya jadi salah paham..Ruki benar2 marah padaku juga padamu..aku sudah jelaskan beberapa kali dia tetap tidak percaya bahkan mengancam akan loncat dari apartemennya jika benar2 ini terjadi antara kita..” kata Reita dengan sedih. Uru jadi terdiam mendengar ini. Dan pelayan itu datang mengantarkan minuman Reita.

“sial, kalau saja aku tidak menelpon dia waktu, semua ini tidak akan terjadi..” sesal Uru meremat rambutnya.

“jangan salahkan dirimu, ini memang salahku dari awal..aku sekarang bingung, aku sudah berbagai cara untuk bisa putus dan berhubungan seperti biasanya..” kata Reita.

“mau aku ganti no telp dia tetap mendatangi apartemenku dengan menggebrak2 pintu.. aku seperti di intimidasi..” lanjut Reita. Kemudian Reita mendapatkan pesan, dia lihat dari Ruki.

kau tidak bersama Uru,kan?!” kata Ruki dalam pesan itu.

“tuh, kan dia sudah mengirim pesan seperti ini..aku benar2 bingung..” Reita menunjukkan ponselnya ke Uru, Uru melihat dan dia menjadi bingung.

“dia ketakutan kalau aku bersamamu..” pikir Reita.

“lalu aku harus berbuat bagaimana? Jika aku mencoba untuk bicara baik2, maka ini akan terlihat seperti nyata bahwa aku dan dirimu ada hubungan khusus..kalau di biarkan, aku tidak mau kau tersiksa seperti ini dan aku juga..” jelas Uru.

Keduanya terdiam berpikir keras, bagaimana caranya..

“kalau aku membantumu untuk putus baik2 dan berkomunikasi layaknya seperti biasa, apa tidak apa2?” sela Uru.

“eh?? I-itu.. sepertinya tidak apa2..aku memang ingin menjauh dan merasakan kebebasan..”

“kalau aku di posisimu, aku bisa rasakan sulitnya di kekang..”

Reita menatap Uru dan tersenyum.

“Arigatou! Lalu rencananya bagaimana?” seru Reita.

“kalau kau akting membenciku bagaimana? Dan kau seperti biasa saja bersama Ruki, biar aku mencari couple supaya dia percaya kita tidak ada apa2 nya. Nanti ke depannya kita atur kembali kalau kita sudah di anggap tidak ada hubungan oleh Ruki.” Pikir Uru spontan.

“uhm, bagus juga..” keduanya pun tersenyum lega.

************************


No comments:

Post a Comment