Monday, March 31, 2014

Argeza ~8

Title      :               Argeza
Genre  :               fantasy,action,comedy,life, nano-nano dah pokoknya XDDD
Cast      :              utamanya Gajet yang lain numfang hehehehe..
Eps        :               8 *cieeee sok anime

---------------------------------------------------------------------------------------------//



。゚.(*♡ The Chaos  *) °



“coba sekali lagi!”

“Varura de peursm!!”

BRUSSSSSSS!!!!!!!!

Ruki mengalunkan tongkat sihirnya seraya mengatakan mantra itu dengan konsentrasi penuh. Dan saat tongkat itu di arahkan ke depan muncullah sebuah pusaran api yang lumayan cukup besar dari ujung tongkat kemudian menembakkan ke arah depan ke sebuah papan bulat dengan satu titik di tengahnya. Tembakan api Ruki mengenai sasaran yaitu satu titik dalam papan bulat itu. kemudian Ruki menghela nafas dan Amano-sensei mencatat berapa poin untuk hasil tembakan api Ruki tadi di sebuah lembaran kertas di papan berjalan yang ia pegang.

“gabungan yang lainnya?” tanya Amano-sensei dengan santai. Dan ini membuat Ruki terdiam cukup lama seakan dia memikirkan apa yang d katakan Amano tadi. Amano melihat raut wajah Ruki menjadi sedih dan seakan menyimpan sesuatu dari balik rautnya itu.

“ada apa? Ada yang mau kau ceritakan?” pikir Amano memegang pundak Ruki dengan lembut.

“gomen, aku belum menguasai gabungan sihir, gabungan api dan anginnya baru 30% aku kuasai, mungkin aku kurang konsentrasi.. tapi aku akan mencoba kembali sampai sempurna..”

“daijyobu.. yang penting di lain tes kau harus menguasainya ya..” Amano mengacak-ngacak rambut Ruki kemudian dia beralih menghampiri Shou yang sudah menguasai teknik gabungan sihir antara Api dan angin. Dan Ruki melihat itu sangat sempurna di matanya. Bahkan Shou sudah mempelajari gabungan air dan angin dan kekuatannya lumayan sangat kuat sampai papan itu jatuh begitu saja saking kuatnya tembakan Shou dari tongkat itu.

Ada rasa kecewa dari hati Ruki ketika melihat teman-teman sekelasnya sudah bisa melaksanakan tes gabungan sihir hari ini. Dia mengepalkan tangannya, dan sebelah tangannya tiba-tiba melepaskan tongkat sihirnya ke lantai dan Ruki seakan menahan tangisnya. Da kemudian pergi entah kemana sambil menunduk, bahkan beberapa siswa keanehan melihat tingkah Ruki yang tidak biasanya.

Saat Ruki belok ke kiri, Aoi mengambil tongkat sihir Ruki yang terjatuh dan memandang Ruki yang sudah belok dengan berjalan cepat. Aoi memandang tongkat itu dan kemudian menyusul kemana Ruki pergi.

Ruki kemudian menutup pintu kelasnya dan bersandar di belakang pintu itu. airmatanya jatuh dan tubuhnya merosot hingga kedua kakinya menekuk dan Ruki menunduk di atas kedua tumit kakinya. Dia menangis, dan sepertinya ada rasa kecewa, kesal dan bingung dalam tangisan itu..

Kenapa aku tidak bisa menguasai pelajaran sihir yang mudah di lakukan oleh yang lain?
Kenapa aku begitu bodoh..kekuatan sihirku hanya standar dan tidak ada peningkatan sama sekali selama 3 minggu ini..nilai tes sihirku tidak akan lebih dari 7..sedangkan yang lain mendapatkan nilai di atas 7..bagaimana aku ini? Apa sebaiknya aku drop out dari sekolah ini? Untuk apa aku di sini kalau aku tidak bisa menguasai satu pun. Bagaimana aku mau melindungi keluargaku jika mereka dalam kesulitan jika aku sendiri tidak bisa melindungi diri sendiri dengan kekuatanku?

Ruki menghapus tangisnya dengan lengannya. Dan ini membuat wajahnya basah dengan airmata yang berserakan(?) *lucuuuu >.<*. Tangannya melipat di atas tumit kemudian setengah menenggelamkan kepalanya di atas tumit itu sambil sesegukan menangis. Saat itu Aoi muncul dari pintu yang ujung. Aoi melihat Ruki masih sesegukan menangis sepertinya dia menyesak sekali dan kebingungan. Aoi mendatanginya dengan perlahan kemudian dia duduk di samping Ruki sambil menekuk kedua kakinya. Sama dengan yang Ruki lakukan sekarang..

“tumben menangis sendirian, ada masalah ya?” kata Aoi mencoba menyapa Ruki. Ruki menoleh dalam keadaan mata bengkak karena menangis dan bibir tertutup rapat dan bergetar.

“Aoi...” suara parau Ruki saat menangis itu membuat Aoi menoleh sangat dalam ke arah Ruki.

“apa aku bisa membantumu?” tanya Aoi dengan kalem.

“aku tidak pantas punya kekuatan sihir yang hebat ya? tidak pantas di sekolah ini?” ujar Ruki dengan sedih.

“kenapa bilang begitu? Kekuatan sihir itu milik semua orang.. tidak ada yang tidak pantas untuk sekolah di sini..mereka sekolah sihir pasti punya tujuan tersendiri yang mungkin kita tidak ketahui..” jelas Ruki.

“lalu kenapa aku tidak bisa menggabungkan teknik sihir? Apa salahku? Padahal sudah berusaha keras~” isak tangis Ruki sedikit mereda.

“belajar sihir tidak mudah, butuh proses yang panjang. Di sini kau akan belajar untuk sabar, tekun dan selalu mencoba ketika gagal..kau jangan pesimis tidak bisa mendapatkan nilai tes gabungan sihir dengan bagus..” kira Aoi. Ruki terpaku dengan ucapannya Aoi

“aku juga sepertimu, pernah tidak bisa melakukan suatu tes sihir, tapi aku tidak menyerah dan aku yakin aku bisa bahkan jauh lebih baik dari semua siswa..” jelas Aoi seraya menghapus airmatanya Ruki dengan jempolnya yang besar *plak~*

“Aoi~ Aoi mau kan ajari aku?” kata Ruki dengan memelas dan meremat lengan baju Aoi.

“kau tidak usah sungkan, nanti akan aku ajarkan padamu..” kata Aoi senyum manis dan membuat Ruki menjadi lebih baik setelah mendengar itu.

BRAAAAAAAAAAAAKKKK!!

Suara hantaman keras terdengar dari luar sana. Semburan api yang menjulang ke atas terlihat dari balik jendela kelasnya. Ruki dan Aoi kaget dengan  kejadian itu.

“apa itu!” seru Aoi. Kemudian Aoi dan Ruki segera keluar kelas dan menuju sumber berasal.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Uruha bernafas dengan tidak teratur sambil memegang dadanya yang sakit dan bertatapan dengan sebuah mahluk besar yang Uruha kenali di hadapannya. Iya, itu adalah Karasu, anjing berkepala dua milik Ruki yang sekarang mendadak mengamuk tidak karuan dan berubah wujud dengan ganasnya menyemburkan api dari dalam mulutnya ke manapun sesuai keinginannya Karasu.

“sial! Hyaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!”

Uruha kemudian melompat dengan tinggi dan kemudian mengeluarkan cahaya dari telapak tangannya dan menembakkannya ke mata Karasu. Namun dengan cepat Karasu menghalau kekuatan Uruha itu dengan menggerakkan tangannya sehingga kekuatan tembakan cahaya Uruha terlempar ke arah sembarangan. Dan Uruha kemudian melompat seperti akrobat(?) ke belakang dan kemudian dirinya ada di atas genteng sekolah seraya mengatur nafasnya kembali.

“kenapa Karasu ini!?” bingung Uruha. Kemudian Karasu menyemburkan tembakan apinya dari mulutnya ke arah Uruha, dan seketika juga Uruha melompat dengan sekejap ke bawah dengan mendarat kaki terbuka lebar, tangan kanan menyentuh tanah dan tangan kirinya memegang dadanya. Dan tatapannya melihat Karasu yang semakin mengamuk. Kemudian Uruha terbatuk dan mengeluarkan darah. Sepertinya tubuh Uruha terlalu memaksakan diri untuk mengerahkan segala tenaganya untuk  menjinakkan Karasu.

Tak lama, Aoi dan Ruki datang dan melihat Karasu sedang mengaung keras seakan dia marah. Aoi melihat Saga di pojokan ruangan sedang mengalami luka-luka di tubuh bahkan dia mengeluarkan darah dari mulutnya dan berceceran ke seragamnya.

“Saga!” Aoi kaget.

“kenapa Karasu berubah begini??” Ruki bingung. Sementara Uruha mencoba bangkit dengan tegak tubuhnya meskipun nafasnya sulit di atur dan ceceran darah dari mulutnya itu kemana-mana.

“Ka-Karasu kerasukan roh jahat, hentikan dia Ruki! Hentikan!” seru Saga dengan tenaga yang ia punya. Ruki dan Aoi menoleh ke Saga dan Aoi saat itu langsung menolong Saga. Dan Ruki tak sadar kalau Karasu akan menyerangnya

“AWAS!!”

Sebelum Karasu mengeluarkan semburan api dari mulutnya, Reita cekatan untuk menarik tubuh Ruki dan kemudian berguling-guling ke sisi sampai pakaian mereka kotor karena debu tanah. Ruki dan Reita sedikit terduduk dan Reita memegang tubuh Ruki seakan ia ingin melindunginya.

“Karasu kemasukan roh apa? Aku tidak mengerti..” ucap Ruki masih kaget dan tidak percaya Karasu dapat berubah dengan sekejap.

“Saga tidak sengaja menyenggol sebuah guci yang tersegel di gudang, dan itu berisi roh jahat yang akan memasuki hewan yang masih suci seperti Karasu..maka dari itu dia mengamuk saat ini.” Jelas Reita. kemudian Ruki malah memberanikan diri mendekati Karasu yang sedang tenang entah kenapa tiba-tiba.

“Karasu..” panggil Ruki dengan lembut dan merasa sedih, hewan ciptaannya berubah menjadi jahat dan menyakiti banyak orang. Seluruh siswa yang menyaksikannya bersorak pada Ruki untuk menjauhinya namun Ruki tidak menggubris. Dia ingin tahu kenapa Karasu melakukan ini dan tidak mencoba melawan roh yang ada di tubuhnya itu.

“RUKI!!” seru Uruha. Namun Ruki tak menggubris ucapan Uruha yang cukup jelas sekali. Aoi yang usai memberikan transfer energi ke tubuh Saga, melihat Karasu mendekati Ruki dan keduanya saling bertatapan.

“Karasu ini aku Ruki! Kau ingat bagaimana aku pertama kali menciptakanmu? Bagaimana aku menyayangimu?” ucap Ruki seakan ingin menakluki hewan yang ia sayangi ini. Karasu terdiam memandang Ruki.

“ingat aku Karasu! Aku Ruki!’ teriak Ruki dengan setengah emosi ingin Karasu-nya kembali menjadi biasa dengan tangisan yang mengalir kembali.

“Ruki!!” seru Tetsu-sensei usai berlari lalu terhenti sejenak yang mengetahui kejadian ini. Ruki menoleh dan melihat Tetsu sedang memandangnya dari kejauhan.

“lupakan dia sebagai Karasu! Buang pikiranmu kalau Karasu adalah hewan kesayanganmu! Semakin kau bersikukuh menaklukkannya, dia tidak akan kembali kecuali kau menghancurkan roh yang ada di dalamnya!” seru Tetsu-sensei dengan setengah berteriak emosi, karena Ruki terlalu baik pada Karasu yang sudah berubah ini. Ruki memandang kembali ke Karasu yang mengaung kembali dengan menggema membuat seluruhnya menutup telinga saking kesakitan mendengarkan auman suara Karasu.

“aku tidak mungkin bunuh Karasu! Karasu tidak bersalah!” seru Ruki sambil memandang Karasu dengan tangisan nya yang deras.

 Dan bagaimana caranya aku membunuh roh yang ada di tubuhnya Karasu saat ini?
Aku bingung aku tidak punya kekuatan lebih untuk menaklukkannya..

 Ruki kebingungan hingga buntut Karasu mengibaskan ke arah Ruki dan Ruki terpental jauh akibat kibasan buntutnya yang menciptakan sebuah hembusan angin yang sangat kuat. Ruki terpental hingga punggungnya menabrak dinding dan sampai retak. Ruki terbatuk-batuk dan mengeluarkan darah.

“RUKI!” seru yang lainnya melihat Ruki langsung tidak berdaya.

“lawanlah dia Ruki! Jangan kau biarkan Karasu menyakiti orang lain! Kau harus bisa membunuh roh yang ada di dalam tubuh Karasu! Hanya kau yang bisa melakukannya!” kata Uruha dengan emosi karena Ruki malah diam tidak melakukan apa-apa ketika di serang Karasu yang berbeda ini.

“Ruki lakukan!” seru Reita yang ada di kejauhan.

Apa aku bisa mengeluarkan kekuatan untuk menaklukkan Karasu yang liar ini?

“cepat lakukan bodoh! Kalau tidak kekuatannya semakin kuat!” Uruha semakin emosi melihat Ruki tidak berbuat apa-apa.

“Karasu akan baik-baik saja meski kau menyakitinya atau menyerangnya! Roh itu harus kau bunuh Ruki!” Kai yang baru datang dan menyaksikan itu pun langsung berseru agar Ruki segera bergerak menyelamatkan Karasu yang suci.

“maafkan aku, ini salahku..” ucap Saga berlinang airmata karena dia merasa ini salahnya dan dia tidak bisa berbuat apa-apa.

“kau suka Karasu menyakiti siswa lain yang tidak tahu apa-apa?! Kau suka lebih baik diam begini! Heh buntelan jawab aku!” Uruha benar-benar emosi sampai urat lehernya terlihat.

Tangis Ruki benar-benar deras dia bingung dengan bagaimana ia harus melakukannya. Karasu kembali mengamuk dengan mengaung terus. Dan kemudian dia mengeluarkan cahaya api merah dari mulutnya dan dengan hitungan ketiga, cahaya itu di tembakkan ke arah Ruki dengan sangat dahsyat..

“RUUKIIIIIIII!!!!!!!!!!”

Semuanya berteriak ketika Karasu menyemburkan cahaya api itu. namun apa yang terjadi, ada sebuah cahaya yang menyegel tubuh Ruki sehingga cahaya api tidak menembus padanya. Setelah cahaya api itu meredup, Ruki yang terdiam dengan menunduk dan mengepalkan kedua tangannya pun perlahan membuka matanya dan memandang Karasu.

“aku mohon~ KEMBALILAH PADA SEMULA!!” seru Ruki kemudian Karasu seperti di lilit pusaran air dan susah bergerak. Semuanya takjub dan mereka bahkan tidak tahu kalau Ruki bisa melakukan hal itu. seakan mustahil bagi seorang Ruki yang baru kelas level 1.

Dengan mantap dan yakin, Ruki melompat tinggi ke udara dan menuju ke arah dahinya Karasu yang berlambang kanji ‘setan’ dan kemudian dengan telapak tangannya dia memukul lambang itu dengan keras dan Karasu mengaum semakin keras seakan roh yang mendiami tubuh Karasu panik dengan kekuatan dalam yang Ruki lakukan saat ini.
Karasu pun di selimuti cahaya yang menyilaukan sampai semua yang melihatnya tidak sanggup dan lebih baik tidak melihatnya sama sekali.

Beberapa saat kemudian semuanya seperti semula. Ruki kembali menapaki tanah dan melihat Karasu kembali ke ukuran biasa dan sedang tergeletak dengan lemah dengan suara seperti kesakitan.

“Karasu..KARASU!!” Ruki berlari cepat dan memangku Karasu yang lemah. Dia melihat tatapan Karasu yang lesuh dan benar-benar kehilangan sebagian kekuatannya. Tubuhnya lemah dan Ruki merasa sangat terpukul dengan keadaan Karasu saat ini.

“KARASUU!!!” teriak Ruki sambil memeluknya.

Saga,Ryouga,Reita,Uruha,Kai,Tetsu-sensei dan Aoi terharu dengan penyelamatan Karasu sampai mereka menitikkan airmata. Saat itu Amano-sensei yang terlambat datang mendadak terhenti langkahnya melihat semua siswa berkumpul di tengah lapangan kemudian dengan bangunan yang rusak entah kenapa dia tidak tahu. Dan melihat Ruki sedang bersujud memangku Karasu sambil menangis.

“doshita?” Amano benar-benar bingung dengan keadaan saat ini.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Ruang kesehatan Mahou Gakuen sekarang ramai. Orang-orang yang berusaha mengendalikan Karasu sekarang sedang memulihkan luka-lukanya. Penanganan medis pun segera di laksanakan demi kelangsungan kesehatan siswa-siswanya.

Amano sensei yang sedang ada di pintu melipatkan tangannya setelah Tetsu-sensei menceritakan kronologi yang sebenarnya. Yang Amano bingungkan bukan masalah Karasu kerasukan roh jahat, namun ia berpikir darimana Ruki mendapatkan kekuatan dalam itu yang semestinya hanya di miliki orang-orang yang sudah lulus kelas level 5.

“aku tidak bisa berkata itu benar atau tidak, namun setidaknya kecurigaan pasti ada~ Kamijo-sama juga merasakannya..” ucap Tetsu di samping Amano yang masih berpikir.

Ruki sedang mentransferkan energi tubuhnya ke Uruha yang sedang terduduk di ranjang ruang kesehatan sementara Ruki sedang berdiri memegang dahi Uruha. Uruha yang tadinya lemah kemudian berangsur membaik setelah Ruki menyumbangkan energinya pada Uruha. Sementara Saga sedang minum obat yang di suapkan Shin.

Usai memberikan energi, mata Uruha yang tadinya tertutup, perlahan terbuka dengan pelan dan memandang Ruki yang sedang tersenyum padanya.

“sumimasen! Aku sudah tidak mendengarkan perkataanmu!” Ruki langsung membungkuk meminta maaf pada Uruha dengan segala rasa penyesalan yang ada dalam hatinya. Uruha hanya diam memandang itu.

“aku salah menilaimu selama ini, aku mengira kau dingin, angkuh dan egois mementingkan apa yang kau mau dan kau suka. Tapi tadi teriakan bodohmu itu membuatku bisa melawan Karasu dengan kekuatan yang tiba-tiba muncul dari dalam diri ini..aku berterima kasih padamu..” ucap Ruki sambil menegakkan badannya. Uruha memandang dengan berkedip pelan memandang Ruki yang senyum penuh ketulusan.

“aku rasa tidak ada salahnya, kita berteman yang benar-benar berteman..saling mengingatkan..dan meskipun kata-katamu cukup keterlaluan..hehe..” Ruki benar-benar tersenyum apa adanya dan terkekeh kecil di hadapan Uruha yang benar-benar diam.

“kalau begitu aku pamit dulu, aku mau menemui Reita..jya..lekas sembuh ya..” ujar Ruki kemudian dia melangkah meninggalkan Uruha. Namun tangan Uruha menahan pergelangan tangan kanan Ruki yang hendak meninggalkan diri dari hadapannya.

“chotto..” kata Uruha dengan lembut. Ruki langsung menoleh ketika Uruha masih melamun dengan pandangan ke depan.

“darimana kau mendapatkan kekuatan itu?” tanya Uruha sambil memandang Ruki akhirnya.

“itu muncul ketika aku benar-benar fokus untuk membunuh roh jahat di dalam Karasu..kenapa?” pikir Ruki.

“kekuatan itu setara dengan lulusan kelas level 5..” ucap Uruha menatap Ruki dengan serius. Ruki tidak percaya dengan kekuatan itu dan membalasnya dengan lengkungan bibir yang sedikit tertawa.

“ngaco, aku ini masih kelas satu, gak mungkin..” kata Ruki. Kemudian Uruha melepaskan tangannya dan membiarkan Ruki pergi. Uruha kembali melamun ke depan dan memikirkan kejadian ini.

“kekuatan hikari no naka..” ucap Uruha masih tidak percaya.

---------------------------------------------------------------------------------------------//





No comments:

Post a Comment