Title : Argeza
Genre : fantasy,action,comedy,life,
nano-nano dah pokoknya XDDD
Cast : utamanya
Gajet yang lain numfang hehehehe..
Eps : 8
*cieeee sok anime
---------------------------------------------------------------------------------------------//
♡。゚.(*♡ The Chaos ♡*)゚♡ °・
“coba
sekali lagi!”
“Varura
de peursm!!”
BRUSSSSSSS!!!!!!!!
Ruki
mengalunkan tongkat sihirnya seraya mengatakan mantra itu dengan konsentrasi
penuh. Dan saat tongkat itu di arahkan ke depan muncullah sebuah pusaran api yang
lumayan cukup besar dari ujung tongkat kemudian menembakkan ke arah depan ke
sebuah papan bulat dengan satu titik di tengahnya. Tembakan api Ruki mengenai
sasaran yaitu satu titik dalam papan bulat itu. kemudian Ruki menghela nafas
dan Amano-sensei mencatat berapa poin untuk hasil tembakan api Ruki tadi di
sebuah lembaran kertas di papan berjalan yang ia pegang.
“gabungan
yang lainnya?” tanya Amano-sensei dengan santai. Dan ini membuat Ruki terdiam
cukup lama seakan dia memikirkan apa yang d katakan Amano tadi. Amano melihat
raut wajah Ruki menjadi sedih dan seakan menyimpan sesuatu dari balik rautnya
itu.
“ada
apa? Ada yang mau kau ceritakan?” pikir Amano memegang pundak Ruki dengan
lembut.
“gomen,
aku belum menguasai gabungan sihir, gabungan api dan anginnya baru 30% aku
kuasai, mungkin aku kurang konsentrasi.. tapi aku akan mencoba kembali sampai
sempurna..”
“daijyobu..
yang penting di lain tes kau harus menguasainya ya..” Amano mengacak-ngacak
rambut Ruki kemudian dia beralih menghampiri Shou yang sudah menguasai teknik
gabungan sihir antara Api dan angin. Dan Ruki melihat itu sangat sempurna di
matanya. Bahkan Shou sudah mempelajari gabungan air dan angin dan kekuatannya
lumayan sangat kuat sampai papan itu jatuh begitu saja saking kuatnya tembakan
Shou dari tongkat itu.
Ada
rasa kecewa dari hati Ruki ketika melihat teman-teman sekelasnya sudah bisa
melaksanakan tes gabungan sihir hari ini. Dia mengepalkan tangannya, dan
sebelah tangannya tiba-tiba melepaskan tongkat sihirnya ke lantai dan Ruki seakan
menahan tangisnya. Da kemudian pergi entah kemana sambil menunduk, bahkan
beberapa siswa keanehan melihat tingkah Ruki yang tidak biasanya.
Saat
Ruki belok ke kiri, Aoi mengambil tongkat sihir Ruki yang terjatuh dan
memandang Ruki yang sudah belok dengan berjalan cepat. Aoi memandang tongkat
itu dan kemudian menyusul kemana Ruki pergi.
Ruki
kemudian menutup pintu kelasnya dan bersandar di belakang pintu itu. airmatanya
jatuh dan tubuhnya merosot hingga kedua kakinya menekuk dan Ruki menunduk di
atas kedua tumit kakinya. Dia menangis, dan sepertinya ada rasa kecewa, kesal
dan bingung dalam tangisan itu..
Kenapa aku tidak
bisa menguasai pelajaran sihir yang mudah di lakukan oleh yang lain?
Kenapa aku begitu
bodoh..kekuatan sihirku hanya standar dan tidak ada peningkatan sama sekali
selama 3 minggu ini..nilai tes sihirku tidak akan lebih dari 7..sedangkan yang
lain mendapatkan nilai di atas 7..bagaimana aku ini? Apa sebaiknya aku drop out
dari sekolah ini? Untuk apa aku di sini kalau aku tidak bisa menguasai satu
pun. Bagaimana aku mau melindungi keluargaku jika mereka dalam kesulitan jika
aku sendiri tidak bisa melindungi diri sendiri dengan kekuatanku?
Ruki
menghapus tangisnya dengan lengannya. Dan ini membuat wajahnya basah dengan
airmata yang berserakan(?) *lucuuuu >.<*. Tangannya melipat di atas tumit
kemudian setengah menenggelamkan kepalanya di atas tumit itu sambil sesegukan
menangis. Saat itu Aoi muncul dari pintu yang ujung. Aoi melihat Ruki masih
sesegukan menangis sepertinya dia menyesak sekali dan kebingungan. Aoi
mendatanginya dengan perlahan kemudian dia duduk di samping Ruki sambil menekuk
kedua kakinya. Sama dengan yang Ruki lakukan sekarang..
“tumben
menangis sendirian, ada masalah ya?” kata Aoi mencoba menyapa Ruki. Ruki
menoleh dalam keadaan mata bengkak karena menangis dan bibir tertutup rapat dan
bergetar.
“Aoi...”
suara parau Ruki saat menangis itu membuat Aoi menoleh sangat dalam ke arah
Ruki.
“apa
aku bisa membantumu?” tanya Aoi dengan kalem.
“aku
tidak pantas punya kekuatan sihir yang hebat ya? tidak pantas di sekolah ini?”
ujar Ruki dengan sedih.
“kenapa
bilang begitu? Kekuatan sihir itu milik semua orang.. tidak ada yang tidak
pantas untuk sekolah di sini..mereka sekolah sihir pasti punya tujuan
tersendiri yang mungkin kita tidak ketahui..” jelas Ruki.
“lalu
kenapa aku tidak bisa menggabungkan teknik sihir? Apa salahku? Padahal sudah
berusaha keras~” isak tangis Ruki sedikit mereda.
“belajar
sihir tidak mudah, butuh proses yang panjang. Di sini kau akan belajar untuk
sabar, tekun dan selalu mencoba ketika gagal..kau jangan pesimis tidak bisa
mendapatkan nilai tes gabungan sihir dengan bagus..” kira Aoi. Ruki terpaku
dengan ucapannya Aoi
“aku
juga sepertimu, pernah tidak bisa melakukan suatu tes sihir, tapi aku tidak
menyerah dan aku yakin aku bisa bahkan jauh lebih baik dari semua siswa..”
jelas Aoi seraya menghapus airmatanya Ruki dengan jempolnya yang besar *plak~*
“Aoi~
Aoi mau kan ajari aku?” kata Ruki dengan memelas dan meremat lengan baju Aoi.
“kau
tidak usah sungkan, nanti akan aku ajarkan padamu..” kata Aoi senyum manis dan
membuat Ruki menjadi lebih baik setelah mendengar itu.
BRAAAAAAAAAAAAKKKK!!
Suara
hantaman keras terdengar dari luar sana. Semburan api yang menjulang ke atas
terlihat dari balik jendela kelasnya. Ruki dan Aoi kaget dengan kejadian itu.
“apa
itu!” seru Aoi. Kemudian Aoi dan Ruki segera keluar kelas dan menuju sumber
berasal.
---------------------------------------------------------------------------------------------//
Uruha
bernafas dengan tidak teratur sambil memegang dadanya yang sakit dan bertatapan
dengan sebuah mahluk besar yang Uruha kenali di hadapannya. Iya, itu adalah
Karasu, anjing berkepala dua milik Ruki yang sekarang mendadak mengamuk tidak
karuan dan berubah wujud dengan ganasnya menyemburkan api dari dalam mulutnya
ke manapun sesuai keinginannya Karasu.
“sial!
Hyaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!”
Uruha kemudian melompat dengan tinggi dan kemudian mengeluarkan cahaya dari telapak tangannya dan menembakkannya ke mata Karasu. Namun dengan cepat Karasu menghalau kekuatan Uruha itu dengan menggerakkan tangannya sehingga kekuatan tembakan cahaya Uruha terlempar ke arah sembarangan. Dan Uruha kemudian melompat seperti akrobat(?) ke belakang dan kemudian dirinya ada di atas genteng sekolah seraya mengatur nafasnya kembali.
Uruha kemudian melompat dengan tinggi dan kemudian mengeluarkan cahaya dari telapak tangannya dan menembakkannya ke mata Karasu. Namun dengan cepat Karasu menghalau kekuatan Uruha itu dengan menggerakkan tangannya sehingga kekuatan tembakan cahaya Uruha terlempar ke arah sembarangan. Dan Uruha kemudian melompat seperti akrobat(?) ke belakang dan kemudian dirinya ada di atas genteng sekolah seraya mengatur nafasnya kembali.
“kenapa
Karasu ini!?” bingung Uruha. Kemudian Karasu menyemburkan tembakan apinya dari
mulutnya ke arah Uruha, dan seketika juga Uruha melompat dengan sekejap ke
bawah dengan mendarat kaki terbuka lebar, tangan kanan menyentuh tanah dan
tangan kirinya memegang dadanya. Dan tatapannya melihat Karasu yang semakin
mengamuk. Kemudian Uruha terbatuk dan mengeluarkan darah. Sepertinya tubuh
Uruha terlalu memaksakan diri untuk mengerahkan segala tenaganya untuk menjinakkan Karasu.
Tak
lama, Aoi dan Ruki datang dan melihat Karasu sedang mengaung keras seakan dia
marah. Aoi melihat Saga di pojokan ruangan sedang mengalami luka-luka di tubuh
bahkan dia mengeluarkan darah dari mulutnya dan berceceran ke seragamnya.
“Saga!”
Aoi kaget.
“kenapa
Karasu berubah begini??” Ruki bingung. Sementara Uruha mencoba bangkit dengan
tegak tubuhnya meskipun nafasnya sulit di atur dan ceceran darah dari mulutnya
itu kemana-mana.
“Ka-Karasu
kerasukan roh jahat, hentikan dia Ruki! Hentikan!” seru Saga dengan tenaga yang
ia punya. Ruki dan Aoi menoleh ke Saga dan Aoi saat itu langsung menolong Saga.
Dan Ruki tak sadar kalau Karasu akan menyerangnya
“AWAS!!”
Sebelum
Karasu mengeluarkan semburan api dari mulutnya, Reita cekatan untuk menarik tubuh
Ruki dan kemudian berguling-guling ke sisi sampai pakaian mereka kotor karena
debu tanah. Ruki dan Reita sedikit terduduk dan Reita memegang tubuh Ruki
seakan ia ingin melindunginya.
“Karasu
kemasukan roh apa? Aku tidak mengerti..” ucap Ruki masih kaget dan tidak
percaya Karasu dapat berubah dengan sekejap.
“Saga
tidak sengaja menyenggol sebuah guci yang tersegel di gudang, dan itu berisi
roh jahat yang akan memasuki hewan yang masih suci seperti Karasu..maka dari
itu dia mengamuk saat ini.” Jelas Reita. kemudian Ruki malah memberanikan diri
mendekati Karasu yang sedang tenang entah kenapa tiba-tiba.
“Karasu..”
panggil Ruki dengan lembut dan merasa sedih, hewan ciptaannya berubah menjadi
jahat dan menyakiti banyak orang. Seluruh siswa yang menyaksikannya bersorak
pada Ruki untuk menjauhinya namun Ruki tidak menggubris. Dia ingin tahu kenapa
Karasu melakukan ini dan tidak mencoba melawan roh yang ada di tubuhnya itu.
“RUKI!!”
seru Uruha. Namun Ruki tak menggubris ucapan Uruha yang cukup jelas sekali. Aoi
yang usai memberikan transfer energi ke tubuh Saga, melihat Karasu mendekati
Ruki dan keduanya saling bertatapan.
“Karasu
ini aku Ruki! Kau ingat bagaimana aku pertama kali menciptakanmu? Bagaimana aku
menyayangimu?” ucap Ruki seakan ingin menakluki hewan yang ia sayangi ini.
Karasu terdiam memandang Ruki.
“ingat
aku Karasu! Aku Ruki!’ teriak Ruki dengan setengah emosi ingin Karasu-nya
kembali menjadi biasa dengan tangisan yang mengalir kembali.
“Ruki!!”
seru Tetsu-sensei usai berlari lalu terhenti sejenak yang mengetahui kejadian
ini. Ruki menoleh dan melihat Tetsu sedang memandangnya dari kejauhan.
“lupakan
dia sebagai Karasu! Buang pikiranmu kalau Karasu adalah hewan kesayanganmu!
Semakin kau bersikukuh menaklukkannya, dia tidak akan kembali kecuali kau
menghancurkan roh yang ada di dalamnya!” seru Tetsu-sensei dengan setengah
berteriak emosi, karena Ruki terlalu baik pada Karasu yang sudah berubah ini.
Ruki memandang kembali ke Karasu yang mengaung kembali dengan menggema membuat
seluruhnya menutup telinga saking kesakitan mendengarkan auman suara Karasu.
“aku
tidak mungkin bunuh Karasu! Karasu tidak bersalah!” seru Ruki sambil memandang
Karasu dengan tangisan nya yang deras.
Dan bagaimana caranya aku membunuh roh yang
ada di tubuhnya Karasu saat ini?
Aku bingung aku
tidak punya kekuatan lebih untuk menaklukkannya..
Ruki kebingungan hingga buntut Karasu
mengibaskan ke arah Ruki dan Ruki terpental jauh akibat kibasan buntutnya yang
menciptakan sebuah hembusan angin yang sangat kuat. Ruki terpental hingga
punggungnya menabrak dinding dan sampai retak. Ruki terbatuk-batuk dan
mengeluarkan darah.
“RUKI!”
seru yang lainnya melihat Ruki langsung tidak berdaya.
“lawanlah
dia Ruki! Jangan kau biarkan Karasu menyakiti orang lain! Kau harus bisa
membunuh roh yang ada di dalam tubuh Karasu! Hanya kau yang bisa melakukannya!”
kata Uruha dengan emosi karena Ruki malah diam tidak melakukan apa-apa ketika
di serang Karasu yang berbeda ini.
“Ruki
lakukan!” seru Reita yang ada di kejauhan.
Apa aku bisa
mengeluarkan kekuatan untuk menaklukkan Karasu yang liar ini?
“cepat
lakukan bodoh! Kalau tidak kekuatannya semakin kuat!” Uruha semakin emosi
melihat Ruki tidak berbuat apa-apa.
“Karasu
akan baik-baik saja meski kau menyakitinya atau menyerangnya! Roh itu harus kau
bunuh Ruki!” Kai yang baru datang dan menyaksikan itu pun langsung berseru agar
Ruki segera bergerak menyelamatkan Karasu yang suci.
“maafkan
aku, ini salahku..” ucap Saga berlinang airmata karena dia merasa ini salahnya
dan dia tidak bisa berbuat apa-apa.
“kau
suka Karasu menyakiti siswa lain yang tidak tahu apa-apa?! Kau suka lebih baik
diam begini! Heh buntelan jawab aku!” Uruha benar-benar emosi sampai urat
lehernya terlihat.
Tangis
Ruki benar-benar deras dia bingung dengan bagaimana ia harus melakukannya.
Karasu kembali mengamuk dengan mengaung terus. Dan kemudian dia mengeluarkan
cahaya api merah dari mulutnya dan dengan hitungan ketiga, cahaya itu di
tembakkan ke arah Ruki dengan sangat dahsyat..
“RUUKIIIIIIII!!!!!!!!!!”
Semuanya berteriak ketika Karasu menyemburkan cahaya api itu. namun apa yang terjadi, ada sebuah cahaya yang menyegel tubuh Ruki sehingga cahaya api tidak menembus padanya. Setelah cahaya api itu meredup, Ruki yang terdiam dengan menunduk dan mengepalkan kedua tangannya pun perlahan membuka matanya dan memandang Karasu.
Semuanya berteriak ketika Karasu menyemburkan cahaya api itu. namun apa yang terjadi, ada sebuah cahaya yang menyegel tubuh Ruki sehingga cahaya api tidak menembus padanya. Setelah cahaya api itu meredup, Ruki yang terdiam dengan menunduk dan mengepalkan kedua tangannya pun perlahan membuka matanya dan memandang Karasu.
“aku
mohon~ KEMBALILAH PADA SEMULA!!” seru Ruki kemudian Karasu seperti di lilit
pusaran air dan susah bergerak. Semuanya takjub dan mereka bahkan tidak tahu
kalau Ruki bisa melakukan hal itu. seakan mustahil bagi seorang Ruki yang baru
kelas level 1.
Dengan
mantap dan yakin, Ruki melompat tinggi ke udara dan menuju ke arah dahinya
Karasu yang berlambang kanji ‘setan’ dan kemudian dengan telapak tangannya dia
memukul lambang itu dengan keras dan Karasu mengaum semakin keras seakan roh
yang mendiami tubuh Karasu panik dengan kekuatan dalam yang Ruki lakukan saat
ini.
Karasu
pun di selimuti cahaya yang menyilaukan sampai semua yang melihatnya tidak
sanggup dan lebih baik tidak melihatnya sama sekali.
Beberapa
saat kemudian semuanya seperti semula. Ruki kembali menapaki tanah dan melihat
Karasu kembali ke ukuran biasa dan sedang tergeletak dengan lemah dengan suara
seperti kesakitan.
“Karasu..KARASU!!”
Ruki berlari cepat dan memangku Karasu yang lemah. Dia melihat tatapan Karasu
yang lesuh dan benar-benar kehilangan sebagian kekuatannya. Tubuhnya lemah dan
Ruki merasa sangat terpukul dengan keadaan Karasu saat ini.
“KARASUU!!!”
teriak Ruki sambil memeluknya.
Saga,Ryouga,Reita,Uruha,Kai,Tetsu-sensei
dan Aoi terharu dengan penyelamatan Karasu sampai mereka menitikkan airmata.
Saat itu Amano-sensei yang terlambat datang mendadak terhenti langkahnya
melihat semua siswa berkumpul di tengah lapangan kemudian dengan bangunan yang
rusak entah kenapa dia tidak tahu. Dan melihat Ruki sedang bersujud memangku
Karasu sambil menangis.
“doshita?”
Amano benar-benar bingung dengan keadaan saat ini.
---------------------------------------------------------------------------------------------//
Ruang
kesehatan Mahou Gakuen sekarang ramai. Orang-orang yang berusaha mengendalikan
Karasu sekarang sedang memulihkan luka-lukanya. Penanganan medis pun segera di
laksanakan demi kelangsungan kesehatan siswa-siswanya.
Amano
sensei yang sedang ada di pintu melipatkan tangannya setelah Tetsu-sensei
menceritakan kronologi yang sebenarnya. Yang Amano bingungkan bukan masalah
Karasu kerasukan roh jahat, namun ia berpikir darimana Ruki mendapatkan
kekuatan dalam itu yang semestinya hanya di miliki orang-orang yang sudah lulus
kelas level 5.
“aku
tidak bisa berkata itu benar atau tidak, namun setidaknya kecurigaan pasti ada~
Kamijo-sama juga merasakannya..” ucap Tetsu di samping Amano yang masih
berpikir.
Ruki
sedang mentransferkan energi tubuhnya ke Uruha yang sedang terduduk di ranjang
ruang kesehatan sementara Ruki sedang berdiri memegang dahi Uruha. Uruha yang
tadinya lemah kemudian berangsur membaik setelah Ruki menyumbangkan energinya
pada Uruha. Sementara Saga sedang minum obat yang di suapkan Shin.
Usai
memberikan energi, mata Uruha yang tadinya tertutup, perlahan terbuka dengan
pelan dan memandang Ruki yang sedang tersenyum padanya.
“sumimasen!
Aku sudah tidak mendengarkan perkataanmu!” Ruki langsung membungkuk meminta
maaf pada Uruha dengan segala rasa penyesalan yang ada dalam hatinya. Uruha
hanya diam memandang itu.
“aku
salah menilaimu selama ini, aku mengira kau dingin, angkuh dan egois
mementingkan apa yang kau mau dan kau suka. Tapi tadi teriakan bodohmu itu
membuatku bisa melawan Karasu dengan kekuatan yang tiba-tiba muncul dari dalam
diri ini..aku berterima kasih padamu..” ucap Ruki sambil menegakkan badannya.
Uruha memandang dengan berkedip pelan memandang Ruki yang senyum penuh
ketulusan.
“aku
rasa tidak ada salahnya, kita berteman yang benar-benar berteman..saling
mengingatkan..dan meskipun kata-katamu cukup keterlaluan..hehe..” Ruki
benar-benar tersenyum apa adanya dan terkekeh kecil di hadapan Uruha yang
benar-benar diam.
“kalau
begitu aku pamit dulu, aku mau menemui Reita..jya..lekas sembuh ya..” ujar Ruki
kemudian dia melangkah meninggalkan Uruha. Namun tangan Uruha menahan
pergelangan tangan kanan Ruki yang hendak meninggalkan diri dari hadapannya.
“chotto..”
kata Uruha dengan lembut. Ruki langsung menoleh ketika Uruha masih melamun
dengan pandangan ke depan.
“darimana
kau mendapatkan kekuatan itu?” tanya Uruha sambil memandang Ruki akhirnya.
“itu
muncul ketika aku benar-benar fokus untuk membunuh roh jahat di dalam
Karasu..kenapa?” pikir Ruki.
“kekuatan
itu setara dengan lulusan kelas level 5..” ucap Uruha menatap Ruki dengan
serius. Ruki tidak percaya dengan kekuatan itu dan membalasnya dengan
lengkungan bibir yang sedikit tertawa.
“ngaco,
aku ini masih kelas satu, gak mungkin..” kata Ruki. Kemudian Uruha melepaskan
tangannya dan membiarkan Ruki pergi. Uruha kembali melamun ke depan dan
memikirkan kejadian ini.
“kekuatan
hikari no naka..” ucap Uruha masih
tidak percaya.
---------------------------------------------------------------------------------------------//
No comments:
Post a Comment