Title : Argeza
Genre : fantasy,action,comedy,life,
nano-nano dah pokoknya XDDD
Cast : utamanya
Gajet yang lain numfang hehehehe..
Eps : 2
*cieeee sok anime
---------------------------------------------------------------------------------------------//
♡。゚.(*♡ First Life ♡*)゚♡ °・
Ruki
terbangun di pagi hari yang cerah. Yah, dia melihat matahari sudah mulai
menyinari dunia ini. Itu terlihat dari balik gorden berwarna jingga di
kamarnya. Sambil mengucek matanya, dia turun dari kasurnya dan membuka gorden
itu. nampaknya silau bagi Ruki untuk bisa memandang sinar matahari itu dengan
mata terbuka. Ruki juga membuka jendela dan menikmati angin semilir sejuk. Dia
tersenyum karena dia ingat betul hari ini adalah hari pertama dia masuk sekolah
ke Mahou Gakuen. Namun sekilas Ruki melihat beberapa benda sedang terbang
gerombolan di langit dan membuat cahaya matahari itu sedikit terhalangi. Ruki
membuka matanya lebar-lebar karena benda-benda yang sedang terbang itu ternyata
bukan benda. Melainkan gerombolan itu adalah sepertinya siswa-siswa dari
sekolah sihir Mahou Gakuen. Ruki tidak mengerti baru kali ini dia melihat
begitu banyak yang pergi ke sekolah dengan gerombolan seperti burung yang
hendak hijrah(?) karena pergantian musim.
“eh?”
Ruki masih melihat gerombolan itu yang nyatanya tambah banyak.
BRUK!!
“itte!!!!”
Ruki kesakitan karena dia di timpuk buku setengah tebal lumayan oleh Ayahnya
yang sudah ada di belakangnya.
“mau
sampai kapan diam di situ? Mandi sana..hari ini ada upacara pelantikan
pergantian kepala sekolah..” ujar Hyde.
“pelantikan?”
Ruki masih bingung.dia pun langsung melihat keluar jendela. Ruki berpikir
karena mungkin pelantikan jadi mereka datang bergerombolan menuju sekolahnya.
Dan secepatnya Ruki mandi..
---------------------------------------------------------------------------------------------//
Ruki
tidak tahu harus memakai seragam yang bagaimana, jadinya dia memakai jas
panjang selutut, celana panjang dan kemeja dengan serba hitam. Mungkin karena
sekolahnya identik dengan warna hitam, Ruki jadi tidak kesulitan untuk memilih
baju untuk masuk ke sekolah itu.
Dia
sarapan dengan Mika dan Hyde di meja makan keluarga. Ruki seperti biasa, tidak
ada suasana kegirangan akan masuk sekolah seperti umumnya. Dia bahkan tenang
seakan tidak akan melakukan apa-apa. Hyde dan Mika jadi kebingungan sambil
sarapan bersama..
“kau
tidak senang mau masuk sekolah sihir?” tanya Mika takut-takut.
“buat
apa heboh, aku kan sudah dewasa..” kata Ruki sambil melahap makanannya. Hyde
tersenyum melihat anaknya begitu kalem.
“semoga
hari pertamamu menyenangkan ya..” ucap Hyde seperti memberi semangat pula. Ruki
tersenyum mendengar itu.
---------------------------------------------------------------------------------------------//
Ruki
berjalan dengan santai menuju sekolah barunya, dia melihat banyak siswa yang berterbangan
di atas kepalanya menggunakan sapu terbang. Dia tidak menghiraukannya dan
memilih untuk berjalan menuju gerbang sekolah yang tinggal sebentar lagi..
“hey,
kau anak baru ya?”
Suara
itu membuat Ruki terdiam dan menoleh ke samping, Aoi si rambut hitam pekat ini
mengapung dengan sapu terbangnya dan senyum sinis pada Ruki.
“Oh!
Ohayou!” Ruki langsung menyapa Aoi meskipun dia tidak tahu namanya.
“selamat
datang ya..” ucap Aoi dengan senyum sinis itu membuat Ruki sedikit curiga ada
apa dengan sekolah tersebut. Aoi pun segera meninggalkan Ruki dengan menambah
kecepatan sapu terbangnya. Ruki hanya memandang Aoi pergi jauh dari hadapannya.
Ruki mengangkat bahunya dan berjalan kembali sekolahnya.
Sesampainya
Ruki di depan gerbang utama, dia takjub kalau gerbang ini terbuat dari batu
safir yang terkenal sangat indah dan mahal. Ukirannya yang sangat artistik
semakin membuat matanya tidak ingin lepas memandang. Sampai dia tersadarkan dengan
seorang siswa yang memakai seragam sekolah berjalan dengan santai mendahului
dirinya. Rambutnya pirang juga, tubuhnya sedikit lebih tinggi dari Ruki. Ruki
keanehan kenapa ada siswa yang tidak memakai sapu terbang.
Dia
masuk ke sebuah koridor lurus memanjang seperti sekolah umumnya. Namun yang
berbeda di sini, tidak ada siswa satu pun yang berjalan. Hanya dia sendiri,
Ruki takut terlambat ke pelantikan makanya sekarang langkah kakinya di percepat
dan mencari tahu dimana letak kelasnya. Tapi yang ada dia hanya menemukan
beberapa lift yang berjajar sepanjang koridor itu. Ruki tambah bingung dan dia
menghela nafasnya.
“kenapa?
Anak baru ya?” kata seseorang. Ruki menoleh dan melihat si rambut pirang yang
mendahuluinya masuk ke sekolah ini.
“ah
iya, mohon bantuannya senpai!” Ruki membungkuk tanda dia memberi hormat
sekaligus meminta bantuannya. Si pirang tersenyum dan menghampirinya.
“namamu?”
“Ruki,
senpai?”
“Reita..”
Perkenalan
singkat itu membuat Ruki merasa segan dengan yang bernama Reita ini. Entahlah
di seragam sekolahnya tersematkan sebuah lencana silver bertulisan level 2.
Ruki memperhatikan itu sampai menyipitkan matanya. Reita jadi ikut melihat apa
yang di lihat Ruki..
“aku
antar ke kelasmu ya..” kata Reita. Kemudian Reita menekan tombol lift naik.
Ruki keheranan dengan lelaki satu ini.
“kenapa
senpai pakai kain gitu?” aneh Ruki.
“ini
karena ujian sihir tingkat level 2..” jelas Reita. Sumpahnya Ruki tidak
mengerti dengan sistem sekolah ini. Dan mereka pun masuk ke dalam lift
bersamaan.
“kok
tahu kelas baruku?” Ruki bertanya polos.
“ya
tahu donk, aku kan ketua seluruh murid di sekolah ini..” ucap Reita dan
kemudian lift terbuka. Ruki membuka mulutnya dengan lebar, kaget maksudnya.
Ruki
melihat kelas yang berbeda dari kebanyakan kelas pada umumnya. Luas kelas ini
mungkin dua kali lipat dari lapangan basket yang di dalam ruangan. Kelas ini
berwarna krem terang dan di sana tidak ada bangku ataupun meja untuk belajar.
Dia melihat para siswa nya terbang dengan karpet terbang berwarna putih. Saling
ke sana-sini dengan menggunakan karpet terbang. Ruki takjub dengan sekolah ini.
Sekolah yang sempurna dengan sihirnya..
“ngomong-ngomong
kau simpan dimana sapu terbangnya?” kata Reita bertanya dengan halus.
“A-Aku
tidak pakai, soalnya aku mengalami kecelakaan kaki kemarin, aku harus banyak
berjalan supaya cepat sembuh, begitu..” jelas Ruki yang sedikit was-was. Dia
merapatkan mulutnya untuk mengatakan bahwa dia satu-satunya yang tidak memiliki
sihir. Dia sudah memastikan resiko jika dia kedapatan tidak memiliki sihir
sedikit pun. Mungkin Ruki akan sering berbohong demi menutupi kelemahannya ini
daripada akan jadi fatal nantinya.
“oh..jangan
lupa beri nama sapu terbangnya ya!” kata Reita tersenyum dan Ruki hanya
mengangguk. Dia kemudian mengajak Ruki masuk ke dalam dan menyita perhatian
dari seluruh siswa yang sedang berada di atas karpet terbang.
“mohon
perhatiannya..” Reita mengalihkan seluruh isi ruangan kelas ini.
“kenalkan
dia adalah Ruki, siswa baru di sini..kerja sama baik dengannya..ok?” kata Reita
merangkul hangat Ruki yang memang tubuhnya kecil dan mungil.
“halo
Ruki!!!” satu kelas menyapanya dengan ramah dan ini membuat Ruki lega. Tidak
akan ada penindasan atau bully yang sering terjadi di persekolahan(?). ruki pun
tersenyum dengan lebar.
Sekolah
ini, Mahou Gakuen tidak seperti kelas pada umumnya yang tingkatannya tahun
pertama, kedua atau ketiga. Di sini sistemnya antara level 1 sampai level 5.
Siapapun yang baru masuk akan di masukkan ke dalam kelas level 1 yang letaknya
di lantai dua. Begitu pun kelas level 2 berada di lantai 3 dan seterusnya sampai
kelas level 5 paling di atas. Sementara lantai pertama itu di gunakan untuk
koridor biasa. Atau parkir(?) sapu terbang yang ada di belakang koridor
tersebut. Kemudian siswa baru akan di beri pengarahan pelajaran sihir lalu
mengikuti ujian semester dan akhir sihir seperti mengalahkan monster atau
apapun supaya naik ke kelas level 2 dan seterusnya hingga kelas level 5.
Tingkatan kelas level 5 artinya dia sudah menguasai berbagai sihir dan malah
menciptakan sihir sendiri. Setelah lulus, mereka yang sudah level 5 ini di
kirim ke suatu kota di ujung benua ini yang bernama Velvera untuk di pekerjaan
agar benua ini terus maju dan sejahtera untuk seluruh masyarakat Argeza.
“naiklah..”
Reita duduk di atas karpet terbangnya dan mengajak Ruki untuk naik. Tanpa
bertanya, Ruki naik dan duduk di belakangnya Ruki. Reita dan karpet terbangnya
itu pergi ke lantai bawah. Reita memperlihatkan tempat parkir sapu terbangnya
berjajar dengan rapi dan di beri kartu identitas yang di gantung di sapu
terbang yang di posisikan berdiri tegak menyandar di dinding. Ruki takjub
melihat itu benar-benar rapi si sapu terbang.
“parkir
dimanapun bebas yang penting di beri kartu identitas..baiklah selanjutnya aku
akan mengenalkan ketua di kelas level 1 padamu..” kata Reita kemudian dia
terbang ke lantai dua tidak melewati lift melainkan lewat luar bangunan sekolah
dan mereka berhenti di sebuah pintu kaca yang tertutup rapat. Kemudian Reita
mengeluarkan cahaya dari telapak tangannya dan di arahkan ke pintu itu, dan
pintu telah terbuka. Mereka masuk ke dalam dan kemudian Reita dan Ruki turun
dari karpet terbangnya. Ruki hanya celingukan melihat koridor memanjang ini.
Sementara Reita sedang menjetikkan jarinya dan menghilangkan karpetnya.
“ikou..”
kata Reita mengajak.
Reita
curiga dengan suara tembakan-tembakan yang ada di ujung koridor ini. Berbagai
cahaya terlihat dari luar jendela kelas yang terlihat dari mereka. Reita
menghembuskan nafasnya. Dan mereka berjalan sampai di kelas level 1.
“Ohay-ou..gozaimasu..”
Saat
Reita membuka pintu dan mengatakan “ohay-ou” Reita terkena sebuah tembakan
cahaya kilat yang langsung menyambar ke dirinya. Dan Reita kaget melihat di
kelasnya anak-anaknya sedang bermain perang tembakan sihir. Kelas level 1 ini
paling bandel di banding yang lain, bagaimana tidak? Lelaki berambut hitam
pekat bernama Aoi ini adalah biang dari semua ini. Dia sedang berdiri di atas
karpet terbang dengan posisi kaki terbuka lebar dan dia sedang memegang tongkat
pendek ala penyihir.
“heeheee...”
Aoi hanya bisa cengengesan. Sementara Ruki menelan ludahnya kaget akan cahaya
tembakan sihir yang secepat kilat yang membuat jantungnya berpacu dengan cepat.
“kembali
lah kalian ke semula, pelantikan sebentar lagi..jangan main-main nanti malah
terluka beneran lagi..” ujar Reita membuat seluruh siswa berbaris dengan rapi
sejajar dengan Reita dengan karpet terbangnya masing-masing yang menjadi alas
duduk dan meja belajar bagi mereka.
Ruki
kaget, bukannya siswa-siswa ini sangat rapi ya waktu Ruki jumpai pertama kali?
Kenapa di tinggal sebentar hanya untuk melihat parkiran sapu terbang mendadak
menjadi liar dan terlihat sangat arogan sekali. tambahkan Aoi yang sedang
menatap Ruki dengan tatapan tajam. Ruki lebih memandang kemana saja ke timbang
menatap Aoi.
“Aoi,
kemari..” kata Reita. Dengan karpet terbangnya Aoi mendekati Ruki yang
tertunduk malu.
“baik-baiklah
dengan anak ini ya..jangan sampai kau melakukan hal itu lagi..” kata Reita
memberi aba-aba pada Aoi.
“hah?lagi? berarti Aoi pernah melakukan suatu
perbuatan pada siswa baru donk?” kira Ruki dalam hatinya.
“huh..”
Aoi mendelik jutek setelah melihat Ruki.
“baiklah
kita ke kelas level 2 tempatku..” kata Reita kemudian menarik tangan Ruki dan
Ruki merasa keanehan.
“eh?!”
---------------------------------------------------------------------------------------------//
Ruki
dan Reita sedang berjalan menuju kelas level 2. Entahlah Ruki tidak bertanya kenapa
mereka berjalan kaki tidak memakai karpet terbang milik Reita. Mereka sudah
berada di depan pintu kelas. suasananya aneh karena mereka berkerumun tanpa
meja dan bangku dan mereka tidak menggunakan karpet terbang. Dan Reita melihat
mereka seperti berkerumun melihat sesuatu.
“apa
sih?” Reita mendekatinya.
Ternyata
saat Reita lihat mereka sedang membaca sebuah list di sebuah kertas.
“Reita-senpai!”
seseorang mengetahui keberadaan Reita di belakang kerumunan, sementara Ruki
masih tetap diam di pintu kelas.
“kalian
buat jadwal nyuci karpet ya?” kata Reita. Semuanya mengangguk dan ini membuat
Ruki bingung.
“baiklah
aku hanya ingin memperkenalkan Ruki anak baru di sekolah ini mohon kerjasamanya
ya..” kata Reita sambil menunjuk Ruki dan Ruki pun membungkukkan badannya.
“yoroshiku..”
sapa anak-anak pada Ruki. Semuanya tersenyum dan Ruki pun tersenyum.
“hawanya beda dengan kelas level 1..aduh apa
yang akan terjadi ya? apalagi yang bernama Aoi itu seakan menjadi ancaman
beratku saat ini..”
---------------------------------------------------------------------------------------------//
Uruha
yang pernah bertabrakan dengan Ruki ini, sedang diam di kelasnya mengapung
dengan karpet terbangnya. Uruha sedang memakai kacamata dan membaca buku di pojokan
sambil di dekat kaca jendela. Entah apa yang di bacanya ini membuat dia
terlihat serius dan tidak sadar kalau teman-temannya sedang menggosipkan
sesuatu..
“benarkah?
Anak baru itu ya? polos banget..” kata siswa yang lain. Kuping Uruha bergerak
seperti mendengar perkataan itu. kemudian dia menoleh dan melihat
teman-temannya sedang berkumpul membicarakan seseorang.
“ada
apa sih?” Uruha merasa kepo *plak*
“ada
siswa baru kelas level 1, kau sudah tahu dia?” kata siswa itu. Uruha menggeleng
dan kemudian dia menutup bukunya dan mendekati ke tempat teman-temannya itu.
“siapa?”
tanya Uruha makin kepo *LOL*
“anak kecil kalau tidak salah..” ucap yang lain. Uruha menyipitkan matanya dan sepertinya dia mengira-ngira siapa yang menjadi anak baru itu. Uruha pun segera menurunkan karpet terbangnya kemudian dia turun dari karpet itu dan menjentikkan jarinya untuk menghilangkan si karpet tersebut.
“anak kecil kalau tidak salah..” ucap yang lain. Uruha menyipitkan matanya dan sepertinya dia mengira-ngira siapa yang menjadi anak baru itu. Uruha pun segera menurunkan karpet terbangnya kemudian dia turun dari karpet itu dan menjentikkan jarinya untuk menghilangkan si karpet tersebut.
“mau
kemana?” tanya yang lain. Uruha tidak menggubris perkataan itu dan dia menuju
pintu kelas kemudian membukanya.
“Oh?”
Uruha kaget ketika berhadapan dengan Reita dan Ruki langsung membelalakkan
matanya ketika dia berpandangan dengan Uruha. Uruha juga kaget, kenapa anak ini
bisa di sini. Dan ini menjadi pandangan aneh bagi Reita dengan pandangan mereka
yang tidak biasanya..
“kalian
sudah kenal?” tanya Reita.
“tidak!”
“iya!”
Ternyata
kompak Uruha dan Ruki menjawab yang berbeda. Uruha tidak mau mengakui mereka
sudah bertemu dan Ruki tidak segan mengatakan dia pernah bertemu dengannya
kemarin.
“lho?”
Reita bergantian memandang Uruha dan Ruki. Namun Uruha langsung keluar dari
situ dengan melewati Ruki dengan sinis dan seakan Uruha tidak suka dengannya.
Ruki hanya menghela nafasnya. Dia semakin berat kalau Uruha akan samaan dengan
Aoi yang memandangnya sebelah mata. Dia juga khawatir kalau Uruha atau Aoi
sudah tahu kalau Ruki tidak punya sihir sedikitpun.
“maklumi
dia, dia baru naik kelas level 3..dan dia memang agak sombong selalu
merendahkan yang lain..” kata Reita.
“termasuk
senpai?” kata Ruki.
“walau
aku adik kelasnya, tapi selama aku menjabat menjadi ketua siswa di sini, dia
tidak bisa apa-apa..bahkan aku bisa menurunkan kelas levelnya kalau dia
macam-macam seperti Aoi..” jelas Reita dengan kalemnya..
“hah?
Aoi turun kelas? kenapa memangnya?” Ruki merasa terkejut mendengar itu.
“saat
kenaikan kelas level 2, Aoi berulah dengan sihirnya sampai dia tidak bisa
mengikuti ujian sihir, dan aku dengan kekuasaanku atas sekolah ini,
menjatuhkannya untuk kembali ke kelas level 1..” jelas Reita.
“sugee..
Reita-senpai sangat bijaksana ya..” ucap Ruki dengan mata berbinar-binar. Reita
hanya tersenyum.
“sebagai
ketua siswa aku akan melindungi semua siswa di sini termasuk kau anak baru..aku
akan selalu ada untukmu kapanpun kau membutuhkanku..” kata Reita memandang Ruki. Ruki semakin
berbinar-binar matanya kagum dengan ketua siswa berkain di hidung ini. Ruki
mengangguk sekali dan membuat Reita tersenyum.
---------------------------------------------------------------------------------------------//
Pintu
lift terbuka, Ruki dan Reita menuju kelas level 4 yang koridor utamanya
memanjang sama dengan yang lainnya. Namun seorang siswa berkacamata bingkai
hitam dengan wajah manisnya berjalan ke arah Reita dan Ruki sedikit melambatkan
jalannya dan berjalan di belakang Reita seakan dia takut bertemu dengan siswa
kacamata itu.
“baru
saja aku ingin bertemu denganmu..” kata Reita berhadapan dengan siswa manis itu
bernama Kai.
“Oh!
Ada apa memangnya?” kata Kai bingung. Reita menoleh ke kiri namun tak menemukan
Ruki ada di sampingnya. Kai sendiri sedikit jinjit dan melihat rambut hitam
dengan highlight merah di belakang punggung Reita.
“dia
siapa?” tanya Kai sambil menunjuk ke belakang punggung Reita. Reita menoleh ke
belakang dan melihat Ruki yang sedikit meringkuk menunduk seperti takut.
“oh,
ini..ini yang mau kenalkan padamu..dia anak baru..” kata Reita seraya menggeret
Ruki ke hadapannya Kai. Ruki malu-malu dan Kai cenderung memiringkan kepalanya
melihat Ruki.
“KAWAIIIIIIIIIIII!!!!!!!!!!!!!!!”
Kai langsung menguyel-nguyel pipi Ruki yang mbulet itu dan memeluk seenaknya seperti boneka. Ruki keanehan dan sempat susah nafas karena Kai memeluknya begitu erat dan juga mencubit pipi Ruki dengan gemas. Reita langsung menepok jidatnya melihat kelakuannya Kai.
Kai langsung menguyel-nguyel pipi Ruki yang mbulet itu dan memeluk seenaknya seperti boneka. Ruki keanehan dan sempat susah nafas karena Kai memeluknya begitu erat dan juga mencubit pipi Ruki dengan gemas. Reita langsung menepok jidatnya melihat kelakuannya Kai.
“menyebalkan,
sifatmu pedopil sekali..” kata Reita.
“urusai!
Ruki sangat kawaii, oh ya boleh kah aku berteman denganmu?” kata Kai melepaskan
pelukan dan berdiri di hadapan Ruki dengan tenang tidak seperti tadi yang
kemasukan roh(?) pedopil. Ruki memandang Kai dengan setengah tidak percaya
dengan ucapan Kai yang begitu manis..
“itu
akan lebih baik..” kata Reita memegang pundaknya Ruki. Dan mereka pun berjabat
tangan.
“apa ini!?” seru Kai dalam hatinya ketika
dia bersalaman dengan Ruki dan tetap senyumnya terjaga walau hatinya kaget
ketika dia menyentuh tangan Ruki.
“aku
ketua kelas level 4.. semoga kau bisa menyusulku secepatnya..” kata Kai dengan
manis. Ruki pun akhirnya tersenyum meskit senyumnya datar, masih ragu dengan
perkenalannya dengan Kai saat ini.
“baiklah..kau
ada tugas untuk menghadap kepala sekolah..aku hanya mengantarkan ke ruangannya.
Selanjutnya kau bicara dengan beliau..barangkali ada yang mau di pertanyakan..”
ujar Reita. Ruki mengangguk, kemudian Ruki dan Reita berbalik badan
meninggalkan Kai yang sedang melambaikan tangannya usai mereka pergi dari
hadapannya.
“sampai
ketemu nanti..” kata Kai dengan senyum di hiasi dimple-nya. Kai menoleh dan
tersenyum dan Reita memperhatikan itu.
“apa iya? Tangannya berbeda dengan penyihir
lain..” seru Kai dalam hatinya. Kemudian senyum manis itu hilang pudar di
gantikan dengan raut wajah curiga pada Ruki. Dia menaikkan kacamatanya kemudian
berbalik badan menuju kelasnya dengan wajah sinis.
“aku harus hati-hati dengan Uruha..” kata
Kai dalam hati.
---------------------------------------------------------------------------------------------//
“Douzo..”
kepala sekolah, Gakuto mempersilahkan Ruki masuk ke dalam ruangannya yang
memang mewah. Gakuto duduk di meja kerjanya dan memandang Ruki dengan seksama saat
Ruki menghampirinya. Setelah berdiri di hadapan Gakuto, Ruki tidak tahu harus
bagaimana. Dia hanya diam dan senyum sedikit.
“jadi
kau tidak punya sihir sama sekali?” tanya Gakuto dan ini membuat Ruki terkejut
sekali mendengarnya.
“siapa
yang memberitahu!?” Ruki menaikkan suaranya.
“ayahmu
sendiri..” jawab Gakuto dengan kalem. Ruki tidak mengerti kenapa Hyde bisa
kenal dengan Gakuto tanpa sepengetahuannya selama ini..
“sokka..”
Ruki melunak suaranya dan pasrah di tangan Gakuto.
“tenanglah,
aku sebagai kepala sekolah tidak akan memberitahu siapapun..tapi kurasa aura mu
harus di bersihkan..kemungkinan ada aura jelek yang menyelimuti dirimu sehingga
tidak dapat sihir sedikitpun..” kata Gakuto kemudian dia bangkit dari duduknya
dan menghampiri Ruki yang mematung. Gakuto menyentuh pundak Ruki dan seketika
pula Ruki baju Ruki berubah menjadi seragam sekolah di sini lengkap dengan
lencana kelas level 1 seperti yang Reita pakai. Gakuto merubah pakaian Ruki
dengan kekuatannya sendiri.
“jadilah
murid yang ku harapkan Ruki..” kata Gakuto tersenyum pada Ruki usai memegang
pundaknya Ruki.
“kalau
aku boleh bertanya, apa yang akan di lakukan semua siswa di sini jika tahu aku
tidak punya sihir sama sekali? aku memikirkan ancaman itu, sekalipun aku sudah
berkenalan dengan beberapa orang aku belum sepenuhnya mempercayai mereka bahwa
mereka murni baik kepadaku..” ujar Ruki menunduk.
“mungkin
istilah bully akan ada..tapi aku tidak akan membiarkanmu..aku janji..” kata
Gakuto dengan serius. Ruki menghela nafasnya. Ruki mengangguk sekali seakan
Ruki hanya bisa percaya pada Gakuto.
---------------------------------------------------------------------------------------------//
Masa
jabatan Gakuto sudah berakhir, dia harus pergi ke Velvera untuk membantu para
penyihir yang bekerja di sana. Dan semua siswa berbondong-bondong berjalan
untuk menuju lapangannya dan dilarang memakai karpet terbang. Di antara siswa
itu terlihat ada Uruha yang berjalan dengan wajah dinginnya, ada juga Aoi yang
mengunyah permen karet dan terkesan cuek berjalannya. Reita berjalan dengan
beberapa temannya sambil tertawa kecil menceritakan sesuatu yang konyol.
Berbeda dengan Kai yang berjalan dengan santai tanpa berbarengan dengan
teman-temannya.
Kemudian
semua siswa berbaris di lapangan dengan tertib dengan siswa paling terdepan
adalah ketua masing-masing kelas level. Aoi, Reita, Uruha dan Kai berada di
paling depan. Dan membuat suasana atmosfir berbeda sekali. ini di rasakan Ruki
ketika dia baris paling belakang. Dia terlalu pemalu untuk berada di depan dan
dia hanya bisa diam melihati sekelilingnya.
“kalau
semua ketua berdiri di depan,atmosfirnya berbeda ya~”
“sou
desu ne! Lihat saja Aoi tidak memandang Reita sama sekali..Uruha juga
sepertinya belum terima dengan semua yang di lakukan Kai..benar-benar atmosfir
hitam yang membuat suasana menjadi tegang..”
“tidak
tahu jadinya kalau suatu saat mereka satu kelompok, entah sihir apa yang akan
saling menyerang, sepertinya menyeramkan..”
Percakapan
menarik itu tidak sengaja terdengar oleh Ruki dan membuat dia semakin penasaran
dengan apa yang terjadi di sekolah ini. Ruki juga bisa menafsirkan kalau di
antara mereka berempat ada masalah yang belum ia ketahui saat ini. Ruki hanya
menghela nafasnya dan membiarkan siswa-siswa itu membicarakan ke empat ketua
itu. dan tak lama kemudian datanglah Kamijo, kepala sekolah baru yang wajahnya
sedikit seperti vampir*plak*. Kamijo berdiri di podium dan semua siswa dengan
tertib untuk hening sejenak.
“hari
ini, adalah hari bersejarah..Gakuto-sama akan berhenti menjadi kepala sekolah
dan mengurusi kota Velvera. Dan aku, Kamijo yang akan menggantikan kepala
sekolah di sini. Tidak ada akan ada perubahan rule atau membuat rule baru..semua
akan sama.. aku dan beliau sudah sepakat hanya melanjutkan yang sudah ada..dengan
begitu, mohon kerjasamanya..” kata Kamijo sambil membungkuk tanda dia ingin
bekerja sama dengan murid-murid barunya.
“yoroshiku..”
kompak semua siswa dengan membungkuk. Kemudian Kamijo melihat Ruki yang sudah
menegakkan tubuhnya dan Ruki jadi diam bingung di pandangi Kamijo dari
kejauhan.
“Ah,
anak baru kemarilah!” seru Kamijo dan membuat semua mata tertuju pada Ruki yang
ada di belakang, termasuk ke empat ketua kelas level itu. Ruki pun maju ke
depan dengan perasaan sok tenang *plak* padahal dia sangat grogi..
Ruki
melewati Aoi kemudian Reita dan berdiri tepat di samping podium Kamijo. Gakuto
yang melihatnya dari balik jendela ruangannya dari atas, tersenyum melihat Ruki
sekarang di perkenalkan di umum dengan seragam barunya.
“kalian
semua sudah berkenalan dengannya, kan? Ini Matsumoto Ruki yang akan menjadi
murid baru, janganlah kalian meremehkan setiap anak baru karena kita tidak tahu
kemampuan apa yang dia bawa dari luar sana..bekerja sama lah dengan baik dengan
Ruki..” kata Kamijo dengan bijaksana.
“YOROSHIKU!!”
suara Ruki lantang sampai penjuru lapangan ini dan membungkuk meminta kerja
samanya dengan semua murid di sini. Dan setelah membungkuk yang pertama kali
Ruki lihat adalah ekspresi ke empat ketua yang ada di hadapannya. Aoi tersenyum
sinis seakan dia memang merencanakan sesuatu pada Ruki. Reita mengangguk seakan
dia meyakinkan bahwa Ruki akan baik-baik saja. Dan Uruha memandang sebentar
Ruki kemudian dia membuang wajahnya dengan jutek dan terakhir Kai yang
tersenyum dengan manis padanya.
“ke empat ketua ini punya karakter yang
berbeda, aku harus tahu ada apa di antara mereka..kenapa mereka meskipun ketua
tidak terlihat dekat? Ada apa? Apa ada yang di sembunyikan dari sikap tubuh
mereka?”
Dan
itu lah hari pertama Ruki yang menurutnya sangat bermacam-macam suasananya.
Ruki sedikit demi sedikit mengerti bagaimana rule sekolah ini dan karakter
tiap-tiap siswa yang ia temui. Ruki akan berjuang untuk mendapatkan sihir
terbaiknya dan naik ke level 5 melewati ke empat ketua itu..
---------------------------------------------------------------------------------------------//
No comments:
Post a Comment