Sunday, March 16, 2014

Argeza ~2

Title      :               Argeza
Genre  :               fantasy,action,comedy,life, nano-nano dah pokoknya XDDD
Cast      :              utamanya Gajet yang lain numfang hehehehe..
Eps        :               2 *cieeee sok anime

---------------------------------------------------------------------------------------------//



。゚.(*First Life *) °


Ruki terbangun di pagi hari yang cerah. Yah, dia melihat matahari sudah mulai menyinari dunia ini. Itu terlihat dari balik gorden berwarna jingga di kamarnya. Sambil mengucek matanya, dia turun dari kasurnya dan membuka gorden itu. nampaknya silau bagi Ruki untuk bisa memandang sinar matahari itu dengan mata terbuka. Ruki juga membuka jendela dan menikmati angin semilir sejuk. Dia tersenyum karena dia ingat betul hari ini adalah hari pertama dia masuk sekolah ke Mahou Gakuen. Namun sekilas Ruki melihat beberapa benda sedang terbang gerombolan di langit dan membuat cahaya matahari itu sedikit terhalangi. Ruki membuka matanya lebar-lebar karena benda-benda yang sedang terbang itu ternyata bukan benda. Melainkan gerombolan itu adalah sepertinya siswa-siswa dari sekolah sihir Mahou Gakuen. Ruki tidak mengerti baru kali ini dia melihat begitu banyak yang pergi ke sekolah dengan gerombolan seperti burung yang hendak hijrah(?) karena pergantian musim.

“eh?” Ruki masih melihat gerombolan itu yang nyatanya tambah banyak.

BRUK!!

“itte!!!!” Ruki kesakitan karena dia di timpuk buku setengah tebal lumayan oleh Ayahnya yang sudah ada di belakangnya.

“mau sampai kapan diam di situ? Mandi sana..hari ini ada upacara pelantikan pergantian kepala sekolah..” ujar Hyde.

“pelantikan?” Ruki masih bingung.dia pun langsung melihat keluar jendela. Ruki berpikir karena mungkin pelantikan jadi mereka datang bergerombolan menuju sekolahnya. Dan secepatnya Ruki mandi..

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Ruki tidak tahu harus memakai seragam yang bagaimana, jadinya dia memakai jas panjang selutut, celana panjang dan kemeja dengan serba hitam. Mungkin karena sekolahnya identik dengan warna hitam, Ruki jadi tidak kesulitan untuk memilih baju untuk masuk ke sekolah itu.

Dia sarapan dengan Mika dan Hyde di meja makan keluarga. Ruki seperti biasa, tidak ada suasana kegirangan akan masuk sekolah seperti umumnya. Dia bahkan tenang seakan tidak akan melakukan apa-apa. Hyde dan Mika jadi kebingungan sambil sarapan bersama..

“kau tidak senang mau masuk sekolah sihir?” tanya Mika takut-takut.

“buat apa heboh, aku kan sudah dewasa..” kata Ruki sambil melahap makanannya. Hyde tersenyum melihat anaknya begitu kalem.

“semoga hari pertamamu menyenangkan ya..” ucap Hyde seperti memberi semangat pula. Ruki tersenyum mendengar itu.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Ruki berjalan dengan santai menuju sekolah barunya, dia melihat banyak siswa yang berterbangan di atas kepalanya menggunakan sapu terbang. Dia tidak menghiraukannya dan memilih untuk berjalan menuju gerbang sekolah yang tinggal sebentar lagi..

“hey, kau anak baru ya?”

Suara itu membuat Ruki terdiam dan menoleh ke samping, Aoi si rambut hitam pekat ini mengapung dengan sapu terbangnya dan senyum sinis pada Ruki.

“Oh! Ohayou!” Ruki langsung menyapa Aoi meskipun dia tidak tahu namanya.

“selamat datang ya..” ucap Aoi dengan senyum sinis itu membuat Ruki sedikit curiga ada apa dengan sekolah tersebut. Aoi pun segera meninggalkan Ruki dengan menambah kecepatan sapu terbangnya. Ruki hanya memandang Aoi pergi jauh dari hadapannya. Ruki mengangkat bahunya dan berjalan kembali sekolahnya.

Sesampainya Ruki di depan gerbang utama, dia takjub kalau gerbang ini terbuat dari batu safir yang terkenal sangat indah dan mahal. Ukirannya yang sangat artistik semakin membuat matanya tidak ingin lepas memandang. Sampai dia tersadarkan dengan seorang siswa yang memakai seragam sekolah berjalan dengan santai mendahului dirinya. Rambutnya pirang juga, tubuhnya sedikit lebih tinggi dari Ruki. Ruki keanehan kenapa ada siswa yang tidak memakai sapu terbang.

Dia masuk ke sebuah koridor lurus memanjang seperti sekolah umumnya. Namun yang berbeda di sini, tidak ada siswa satu pun yang berjalan. Hanya dia sendiri, Ruki takut terlambat ke pelantikan makanya sekarang langkah kakinya di percepat dan mencari tahu dimana letak kelasnya. Tapi yang ada dia hanya menemukan beberapa lift yang berjajar sepanjang koridor itu. Ruki tambah bingung dan dia menghela nafasnya.

“kenapa? Anak baru ya?” kata seseorang. Ruki menoleh dan melihat si rambut pirang yang mendahuluinya masuk ke sekolah ini.

“ah iya, mohon bantuannya senpai!” Ruki membungkuk tanda dia memberi hormat sekaligus meminta bantuannya. Si pirang tersenyum dan menghampirinya.

“namamu?”

“Ruki, senpai?”

“Reita..”

Perkenalan singkat itu membuat Ruki merasa segan dengan yang bernama Reita ini. Entahlah di seragam sekolahnya tersematkan sebuah lencana silver bertulisan level 2. Ruki memperhatikan itu sampai menyipitkan matanya. Reita jadi ikut melihat apa yang di lihat Ruki..

“aku antar ke kelasmu ya..” kata Reita. Kemudian Reita menekan tombol lift naik. Ruki keheranan dengan lelaki satu ini.

“kenapa senpai pakai kain gitu?” aneh Ruki.

“ini karena ujian sihir tingkat level 2..” jelas Reita. Sumpahnya Ruki tidak mengerti dengan sistem sekolah ini. Dan mereka pun masuk ke dalam lift bersamaan.

“kok tahu kelas baruku?” Ruki bertanya polos.

“ya tahu donk, aku kan ketua seluruh murid di sekolah ini..” ucap Reita dan kemudian lift terbuka. Ruki membuka mulutnya dengan lebar, kaget maksudnya.

Ruki melihat kelas yang berbeda dari kebanyakan kelas pada umumnya. Luas kelas ini mungkin dua kali lipat dari lapangan basket yang di dalam ruangan. Kelas ini berwarna krem terang dan di sana tidak ada bangku ataupun meja untuk belajar. Dia melihat para siswa nya terbang dengan karpet terbang berwarna putih. Saling ke sana-sini dengan menggunakan karpet terbang. Ruki takjub dengan sekolah ini. Sekolah yang sempurna dengan sihirnya..

“ngomong-ngomong kau simpan dimana sapu terbangnya?” kata Reita bertanya dengan halus.

“A-Aku tidak pakai, soalnya aku mengalami kecelakaan kaki kemarin, aku harus banyak berjalan supaya cepat sembuh, begitu..” jelas Ruki yang sedikit was-was. Dia merapatkan mulutnya untuk mengatakan bahwa dia satu-satunya yang tidak memiliki sihir. Dia sudah memastikan resiko jika dia kedapatan tidak memiliki sihir sedikit pun. Mungkin Ruki akan sering berbohong demi menutupi kelemahannya ini daripada akan jadi fatal nantinya.

“oh..jangan lupa beri nama sapu terbangnya ya!” kata Reita tersenyum dan Ruki hanya mengangguk. Dia kemudian mengajak Ruki masuk ke dalam dan menyita perhatian dari seluruh siswa yang sedang berada di atas karpet terbang.

“mohon perhatiannya..” Reita mengalihkan seluruh isi ruangan kelas ini.

“kenalkan dia adalah Ruki, siswa baru di sini..kerja sama baik dengannya..ok?” kata Reita merangkul hangat Ruki yang memang tubuhnya kecil dan mungil.

“halo Ruki!!!” satu kelas menyapanya dengan ramah dan ini membuat Ruki lega. Tidak akan ada penindasan atau bully yang sering terjadi di persekolahan(?). ruki pun tersenyum dengan lebar.

Sekolah ini, Mahou Gakuen tidak seperti kelas pada umumnya yang tingkatannya tahun pertama, kedua atau ketiga. Di sini sistemnya antara level 1 sampai level 5. Siapapun yang baru masuk akan di masukkan ke dalam kelas level 1 yang letaknya di lantai dua. Begitu pun kelas level 2 berada di lantai 3 dan seterusnya sampai kelas level 5 paling di atas. Sementara lantai pertama itu di gunakan untuk koridor biasa. Atau parkir(?) sapu terbang yang ada di belakang koridor tersebut. Kemudian siswa baru akan di beri pengarahan pelajaran sihir lalu mengikuti ujian semester dan akhir sihir seperti mengalahkan monster atau apapun supaya naik ke kelas level 2 dan seterusnya hingga kelas level 5. Tingkatan kelas level 5 artinya dia sudah menguasai berbagai sihir dan malah menciptakan sihir sendiri. Setelah lulus, mereka yang sudah level 5 ini di kirim ke suatu kota di ujung benua ini yang bernama Velvera untuk di pekerjaan agar benua ini terus maju dan sejahtera untuk seluruh masyarakat Argeza.

“naiklah..” Reita duduk di atas karpet terbangnya dan mengajak Ruki untuk naik. Tanpa bertanya, Ruki naik dan duduk di belakangnya Ruki. Reita dan karpet terbangnya itu pergi ke lantai bawah. Reita memperlihatkan tempat parkir sapu terbangnya berjajar dengan rapi dan di beri kartu identitas yang di gantung di sapu terbang yang di posisikan berdiri tegak menyandar di dinding. Ruki takjub melihat itu benar-benar rapi si sapu terbang.

“parkir dimanapun bebas yang penting di beri kartu identitas..baiklah selanjutnya aku akan mengenalkan ketua di kelas level 1 padamu..” kata Reita kemudian dia terbang ke lantai dua tidak melewati lift melainkan lewat luar bangunan sekolah dan mereka berhenti di sebuah pintu kaca yang tertutup rapat. Kemudian Reita mengeluarkan cahaya dari telapak tangannya dan di arahkan ke pintu itu, dan pintu telah terbuka. Mereka masuk ke dalam dan kemudian Reita dan Ruki turun dari karpet terbangnya. Ruki hanya celingukan melihat koridor memanjang ini. Sementara Reita sedang menjetikkan jarinya dan menghilangkan karpetnya.

“ikou..” kata Reita mengajak.

Reita curiga dengan suara tembakan-tembakan yang ada di ujung koridor ini. Berbagai cahaya terlihat dari luar jendela kelas yang terlihat dari mereka. Reita menghembuskan nafasnya. Dan mereka berjalan sampai di kelas level 1.

“Ohay-ou..gozaimasu..”

Saat Reita membuka pintu dan mengatakan “ohay-ou” Reita terkena sebuah tembakan cahaya kilat yang langsung menyambar ke dirinya. Dan Reita kaget melihat di kelasnya anak-anaknya sedang bermain perang tembakan sihir. Kelas level 1 ini paling bandel di banding yang lain, bagaimana tidak? Lelaki berambut hitam pekat bernama Aoi ini adalah biang dari semua ini. Dia sedang berdiri di atas karpet terbang dengan posisi kaki terbuka lebar dan dia sedang memegang tongkat pendek ala penyihir.

“heeheee...” Aoi hanya bisa cengengesan. Sementara Ruki menelan ludahnya kaget akan cahaya tembakan sihir yang secepat kilat yang membuat jantungnya berpacu dengan cepat.

“kembali lah kalian ke semula, pelantikan sebentar lagi..jangan main-main nanti malah terluka beneran lagi..” ujar Reita membuat seluruh siswa berbaris dengan rapi sejajar dengan Reita dengan karpet terbangnya masing-masing yang menjadi alas duduk dan meja belajar bagi mereka.

Ruki kaget, bukannya siswa-siswa ini sangat rapi ya waktu Ruki jumpai pertama kali? Kenapa di tinggal sebentar hanya untuk melihat parkiran sapu terbang mendadak menjadi liar dan terlihat sangat arogan sekali. tambahkan Aoi yang sedang menatap Ruki dengan tatapan tajam. Ruki lebih memandang kemana saja ke timbang menatap Aoi.

“Aoi, kemari..” kata Reita. Dengan karpet terbangnya Aoi mendekati Ruki yang tertunduk malu.

“baik-baiklah dengan anak ini ya..jangan sampai kau melakukan hal itu lagi..” kata Reita memberi aba-aba pada Aoi.

hah?lagi? berarti Aoi pernah melakukan suatu perbuatan pada siswa baru donk?” kira Ruki dalam hatinya.

“huh..” Aoi mendelik jutek setelah melihat Ruki.

“baiklah kita ke kelas level 2 tempatku..” kata Reita kemudian menarik tangan Ruki dan Ruki merasa keanehan.

“eh?!”

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Ruki dan Reita sedang berjalan menuju kelas level 2. Entahlah Ruki tidak bertanya kenapa mereka berjalan kaki tidak memakai karpet terbang milik Reita. Mereka sudah berada di depan pintu kelas. suasananya aneh karena mereka berkerumun tanpa meja dan bangku dan mereka tidak menggunakan karpet terbang. Dan Reita melihat mereka seperti berkerumun melihat sesuatu.

“apa sih?” Reita mendekatinya.

Ternyata saat Reita lihat mereka sedang membaca sebuah list di sebuah kertas.

“Reita-senpai!” seseorang mengetahui keberadaan Reita di belakang kerumunan, sementara Ruki masih tetap diam di pintu kelas.

kalian buat jadwal nyuci karpet ya?” kata Reita. Semuanya mengangguk dan ini membuat Ruki bingung.

“baiklah aku hanya ingin memperkenalkan Ruki anak baru di sekolah ini mohon kerjasamanya ya..” kata Reita sambil menunjuk Ruki dan Ruki pun membungkukkan badannya.

“yoroshiku..” sapa anak-anak pada Ruki. Semuanya tersenyum dan Ruki pun tersenyum.

hawanya beda dengan kelas level 1..aduh apa yang akan terjadi ya? apalagi yang bernama Aoi itu seakan menjadi ancaman beratku saat ini..

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Uruha yang pernah bertabrakan dengan Ruki ini, sedang diam di kelasnya mengapung dengan karpet terbangnya. Uruha sedang memakai kacamata dan membaca buku di pojokan sambil di dekat kaca jendela. Entah apa yang di bacanya ini membuat dia terlihat serius dan tidak sadar kalau teman-temannya sedang menggosipkan sesuatu..

“benarkah? Anak baru itu ya? polos banget..” kata siswa yang lain. Kuping Uruha bergerak seperti mendengar perkataan itu. kemudian dia menoleh dan melihat teman-temannya sedang berkumpul membicarakan seseorang.

“ada apa sih?” Uruha merasa kepo *plak*

“ada siswa baru kelas level 1, kau sudah tahu dia?” kata siswa itu. Uruha menggeleng dan kemudian dia menutup bukunya dan mendekati ke tempat teman-temannya itu.

“siapa?” tanya Uruha makin kepo *LOL*

“anak kecil kalau tidak salah..” ucap yang lain. Uruha menyipitkan matanya dan sepertinya dia mengira-ngira siapa yang menjadi anak baru itu. Uruha pun segera menurunkan karpet terbangnya kemudian dia turun dari karpet itu dan menjentikkan jarinya untuk menghilangkan si karpet tersebut.

“mau kemana?” tanya yang lain. Uruha tidak menggubris perkataan itu dan dia menuju pintu kelas kemudian membukanya.

“Oh?” Uruha kaget ketika berhadapan dengan Reita dan Ruki langsung membelalakkan matanya ketika dia berpandangan dengan Uruha. Uruha juga kaget, kenapa anak ini bisa di sini. Dan ini menjadi pandangan aneh bagi Reita dengan pandangan mereka yang tidak biasanya..

“kalian sudah kenal?” tanya Reita.

“tidak!”

“iya!”

Ternyata kompak Uruha dan Ruki menjawab yang berbeda. Uruha tidak mau mengakui mereka sudah bertemu dan Ruki tidak segan mengatakan dia pernah bertemu dengannya kemarin.

“lho?” Reita bergantian memandang Uruha dan Ruki. Namun Uruha langsung keluar dari situ dengan melewati Ruki dengan sinis dan seakan Uruha tidak suka dengannya. Ruki hanya menghela nafasnya. Dia semakin berat kalau Uruha akan samaan dengan Aoi yang memandangnya sebelah mata. Dia juga khawatir kalau Uruha atau Aoi sudah tahu kalau Ruki tidak punya sihir sedikitpun.

“maklumi dia, dia baru naik kelas level 3..dan dia memang agak sombong selalu merendahkan yang lain..” kata Reita.

“termasuk senpai?” kata Ruki.

“walau aku adik kelasnya, tapi selama aku menjabat menjadi ketua siswa di sini, dia tidak bisa apa-apa..bahkan aku bisa menurunkan kelas levelnya kalau dia macam-macam seperti Aoi..” jelas Reita dengan kalemnya..

“hah? Aoi turun kelas? kenapa memangnya?” Ruki merasa terkejut mendengar itu.

“saat kenaikan kelas level 2, Aoi berulah dengan sihirnya sampai dia tidak bisa mengikuti ujian sihir, dan aku dengan kekuasaanku atas sekolah ini, menjatuhkannya untuk kembali ke kelas level 1..” jelas Reita.

“sugee.. Reita-senpai sangat bijaksana ya..” ucap Ruki dengan mata berbinar-binar. Reita hanya tersenyum.

“sebagai ketua siswa aku akan melindungi semua siswa di sini termasuk kau anak baru..aku akan selalu ada untukmu kapanpun kau membutuhkanku..”  kata Reita memandang Ruki. Ruki semakin berbinar-binar matanya kagum dengan ketua siswa berkain di hidung ini. Ruki mengangguk sekali dan membuat Reita tersenyum.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Pintu lift terbuka, Ruki dan Reita menuju kelas level 4 yang koridor utamanya memanjang sama dengan yang lainnya. Namun seorang siswa berkacamata bingkai hitam dengan wajah manisnya berjalan ke arah Reita dan Ruki sedikit melambatkan jalannya dan berjalan di belakang Reita seakan dia takut bertemu dengan siswa kacamata itu.

“baru saja aku ingin bertemu denganmu..” kata Reita berhadapan dengan siswa manis itu bernama Kai.

“Oh! Ada apa memangnya?” kata Kai bingung. Reita menoleh ke kiri namun tak menemukan Ruki ada di sampingnya. Kai sendiri sedikit jinjit dan melihat rambut hitam dengan highlight merah di belakang punggung Reita.

“dia siapa?” tanya Kai sambil menunjuk ke belakang punggung Reita. Reita menoleh ke belakang dan melihat Ruki yang sedikit meringkuk menunduk seperti takut.

“oh, ini..ini yang mau kenalkan padamu..dia anak baru..” kata Reita seraya menggeret Ruki ke hadapannya Kai. Ruki malu-malu dan Kai cenderung memiringkan kepalanya melihat Ruki.

“KAWAIIIIIIIIIIII!!!!!!!!!!!!!!!”

Kai langsung menguyel-nguyel pipi Ruki yang mbulet itu dan memeluk seenaknya seperti boneka. Ruki keanehan dan sempat susah nafas karena Kai memeluknya begitu erat dan juga mencubit pipi Ruki dengan gemas. Reita langsung menepok jidatnya melihat kelakuannya Kai.

“menyebalkan, sifatmu pedopil sekali..” kata Reita.

“urusai! Ruki sangat kawaii, oh ya boleh kah aku berteman denganmu?” kata Kai melepaskan pelukan dan berdiri di hadapan Ruki dengan tenang tidak seperti tadi yang kemasukan roh(?) pedopil. Ruki memandang Kai dengan setengah tidak percaya dengan ucapan Kai yang begitu manis..

“itu akan lebih baik..” kata Reita memegang pundaknya Ruki. Dan mereka pun berjabat tangan.

apa ini!?” seru Kai dalam hatinya ketika dia bersalaman dengan Ruki dan tetap senyumnya terjaga walau hatinya kaget ketika dia menyentuh tangan Ruki.

“aku ketua kelas level 4.. semoga kau bisa menyusulku secepatnya..” kata Kai dengan manis. Ruki pun akhirnya tersenyum meskit senyumnya datar, masih ragu dengan perkenalannya dengan Kai saat ini.

“baiklah..kau ada tugas untuk menghadap kepala sekolah..aku hanya mengantarkan ke ruangannya. Selanjutnya kau bicara dengan beliau..barangkali ada yang mau di pertanyakan..” ujar Reita. Ruki mengangguk, kemudian Ruki dan Reita berbalik badan meninggalkan Kai yang sedang melambaikan tangannya usai mereka pergi dari hadapannya.

“sampai ketemu nanti..” kata Kai dengan senyum di hiasi dimple-nya. Kai menoleh dan tersenyum dan Reita memperhatikan itu.

apa iya? Tangannya berbeda dengan penyihir lain..” seru Kai dalam hatinya. Kemudian senyum manis itu hilang pudar di gantikan dengan raut wajah curiga pada Ruki. Dia menaikkan kacamatanya kemudian berbalik badan menuju kelasnya dengan wajah sinis.

aku harus hati-hati dengan Uruha..” kata Kai dalam hati.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



“Douzo..” kepala sekolah, Gakuto mempersilahkan Ruki masuk ke dalam ruangannya yang memang mewah. Gakuto duduk di meja kerjanya dan memandang Ruki dengan seksama saat Ruki menghampirinya. Setelah berdiri di hadapan Gakuto, Ruki tidak tahu harus bagaimana. Dia hanya diam dan senyum sedikit.

“jadi kau tidak punya sihir sama sekali?” tanya Gakuto dan ini membuat Ruki terkejut sekali mendengarnya.

“siapa yang memberitahu!?” Ruki menaikkan suaranya.

“ayahmu sendiri..” jawab Gakuto dengan kalem. Ruki tidak mengerti kenapa Hyde bisa kenal dengan Gakuto tanpa sepengetahuannya selama ini..

“sokka..” Ruki melunak suaranya dan pasrah di tangan Gakuto.

“tenanglah, aku sebagai kepala sekolah tidak akan memberitahu siapapun..tapi kurasa aura mu harus di bersihkan..kemungkinan ada aura jelek yang menyelimuti dirimu sehingga tidak dapat sihir sedikitpun..” kata Gakuto kemudian dia bangkit dari duduknya dan menghampiri Ruki yang mematung. Gakuto menyentuh pundak Ruki dan seketika pula Ruki baju Ruki berubah menjadi seragam sekolah di sini lengkap dengan lencana kelas level 1 seperti yang Reita pakai. Gakuto merubah pakaian Ruki dengan kekuatannya sendiri.

“jadilah murid yang ku harapkan Ruki..” kata Gakuto tersenyum pada Ruki usai memegang pundaknya Ruki.

“kalau aku boleh bertanya, apa yang akan di lakukan semua siswa di sini jika tahu aku tidak punya sihir sama sekali? aku memikirkan ancaman itu, sekalipun aku sudah berkenalan dengan beberapa orang aku belum sepenuhnya mempercayai mereka bahwa mereka murni baik kepadaku..” ujar Ruki menunduk.

“mungkin istilah bully akan ada..tapi aku tidak akan membiarkanmu..aku janji..” kata Gakuto dengan serius. Ruki menghela nafasnya. Ruki mengangguk sekali seakan Ruki hanya bisa percaya pada Gakuto.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Masa jabatan Gakuto sudah berakhir, dia harus pergi ke Velvera untuk membantu para penyihir yang bekerja di sana. Dan semua siswa berbondong-bondong berjalan untuk menuju lapangannya dan dilarang memakai karpet terbang. Di antara siswa itu terlihat ada Uruha yang berjalan dengan wajah dinginnya, ada juga Aoi yang mengunyah permen karet dan terkesan cuek berjalannya. Reita berjalan dengan beberapa temannya sambil tertawa kecil menceritakan sesuatu yang konyol. Berbeda dengan Kai yang berjalan dengan santai tanpa berbarengan dengan teman-temannya.

Kemudian semua siswa berbaris di lapangan dengan tertib dengan siswa paling terdepan adalah ketua masing-masing kelas level. Aoi, Reita, Uruha dan Kai berada di paling depan. Dan membuat suasana atmosfir berbeda sekali. ini di rasakan Ruki ketika dia baris paling belakang. Dia terlalu pemalu untuk berada di depan dan dia hanya bisa diam melihati sekelilingnya.

“kalau semua ketua berdiri di depan,atmosfirnya berbeda ya~”

“sou desu ne! Lihat saja Aoi tidak memandang Reita sama sekali..Uruha juga sepertinya belum terima dengan semua yang di lakukan Kai..benar-benar atmosfir hitam yang membuat suasana menjadi tegang..”

“tidak tahu jadinya kalau suatu saat mereka satu kelompok, entah sihir apa yang akan saling menyerang, sepertinya menyeramkan..”

Percakapan menarik itu tidak sengaja terdengar oleh Ruki dan membuat dia semakin penasaran dengan apa yang terjadi di sekolah ini. Ruki juga bisa menafsirkan kalau di antara mereka berempat ada masalah yang belum ia ketahui saat ini. Ruki hanya menghela nafasnya dan membiarkan siswa-siswa itu membicarakan ke empat ketua itu. dan tak lama kemudian datanglah Kamijo, kepala sekolah baru yang wajahnya sedikit seperti vampir*plak*. Kamijo berdiri di podium dan semua siswa dengan tertib untuk hening sejenak.

“hari ini, adalah hari bersejarah..Gakuto-sama akan berhenti menjadi kepala sekolah dan mengurusi kota Velvera. Dan aku, Kamijo yang akan menggantikan kepala sekolah di sini. Tidak ada akan ada perubahan rule atau membuat rule baru..semua akan sama.. aku dan beliau sudah sepakat hanya melanjutkan yang sudah ada..dengan begitu, mohon kerjasamanya..” kata Kamijo sambil membungkuk tanda dia ingin bekerja sama dengan murid-murid barunya.

“yoroshiku..” kompak semua siswa dengan membungkuk. Kemudian Kamijo melihat Ruki yang sudah menegakkan tubuhnya dan Ruki jadi diam bingung di pandangi Kamijo dari kejauhan.

“Ah, anak baru kemarilah!” seru Kamijo dan membuat semua mata tertuju pada Ruki yang ada di belakang, termasuk ke empat ketua kelas level itu. Ruki pun maju ke depan dengan perasaan sok tenang *plak* padahal dia sangat grogi..

Ruki melewati Aoi kemudian Reita dan berdiri tepat di samping podium Kamijo. Gakuto yang melihatnya dari balik jendela ruangannya dari atas, tersenyum melihat Ruki sekarang di perkenalkan di umum dengan seragam barunya.

“kalian semua sudah berkenalan dengannya, kan? Ini Matsumoto Ruki yang akan menjadi murid baru, janganlah kalian meremehkan setiap anak baru karena kita tidak tahu kemampuan apa yang dia bawa dari luar sana..bekerja sama lah dengan baik dengan Ruki..” kata Kamijo dengan bijaksana.

“YOROSHIKU!!” suara Ruki lantang sampai penjuru lapangan ini dan membungkuk meminta kerja samanya dengan semua murid di sini. Dan setelah membungkuk yang pertama kali Ruki lihat adalah ekspresi ke empat ketua yang ada di hadapannya. Aoi tersenyum sinis seakan dia memang merencanakan sesuatu pada Ruki. Reita mengangguk seakan dia meyakinkan bahwa Ruki akan baik-baik saja. Dan Uruha memandang sebentar Ruki kemudian dia membuang wajahnya dengan jutek dan terakhir Kai yang tersenyum dengan manis padanya.

ke empat ketua ini punya karakter yang berbeda, aku harus tahu ada apa di antara mereka..kenapa mereka meskipun ketua tidak terlihat dekat? Ada apa? Apa ada yang di sembunyikan dari sikap tubuh mereka?

Dan itu lah hari pertama Ruki yang menurutnya sangat bermacam-macam suasananya. Ruki sedikit demi sedikit mengerti bagaimana rule sekolah ini dan karakter tiap-tiap siswa yang ia temui. Ruki akan berjuang untuk mendapatkan sihir terbaiknya dan naik ke level 5 melewati ke empat ketua itu..

---------------------------------------------------------------------------------------------//





No comments:

Post a Comment