Wednesday, March 5, 2014

Caffeine ~7 (end)

Title       ::  Caffeine -苦い、甘い-
Author  ::  Ikki Kamiya -Ruru-
Genre   ::  rumit (?) *plak!
Chapter::  7/ end

**********************



Reita kembali ke sekolah dengan sehat. Dia memberi banyak senyum pada semua teman2nya. Dia kemudian masuk ke kelasnya dan duduk dengan tenang. Dua minggu sudah pasca dia ke rumah sakit dia tidak sekolah. Dan terlebih Ruki semakin berbeda... dia lebih kalem dan tenang tidak mengekang seperti dulu. Reita juga keanehan pada Uruha yang tidak pernah memberitahu ada apa dengannya dengan Ruki selama dia sakit..

“teman2 hari ini adalah pengumuman di mana pasangan serasi akan di umumkan...untuk itu tolong datang ke theater dan dengarkanlah siapa pemenangnya..hadiahnya adalah liburan selama seminggu di tempat yang di inginkan..”

Pengumuman itu dari speaker yang berada tepat di atas kepala Reita. Yang memberi pengumuman tersebut adalah Kai dengan ciri khasnya. Kemudian, reita beranjak dari situ dan menuju ruang theater..

Ruang theater itu di penuhi semua siswa yang menantikan siapa yang jadi pasangan serasi dan juga hadiah menarik itu. Ruki datang dan duduk berjauhan dengan Reita. Sementara Uru duduk persis dua orang sebelah Reita. Reita dan Uru saling berpandangan sebentar dan melihat ke depan bahwa Kai sebagai host acara ini..

“baik teman2 maaf mengganggu aktifitas belajar, dan aku juga sudah meminta ijin pada guru untuk tidak belajar..” kata Kai yang langsung di soraki anak2 yang senang akan tidak belajar.

“hei2 maksudku itu tidak belajar selama 2 mata pelajaran...” lanjut Kai kemudian di soraki riuh kecewa dari siswa2nya. Uru hanya tertawa kecil melihat aksi Kai yang begitu kocak.

“baik langsung aja kita pada pokok intinya, etto.... chotto matte? Di sini kebanyakan memilih pasangan itu dan hampir 90%.. tapi salah satu teman kita berbeda dan dia mengomentari kertas polling ini dengan kata2 ‘ mereka serasi dalam hati dan pemikiran’ yah sedikit aneh tapi yah namanya juga polling bebas menentukan.. baiklah kalau begitu kita umumkan-“ kata2 kai terhenti.

“ano, bisakah sebutkan pasangan yang berbeda itu? Dan siapa yang memilih pasangan yang berbeda dari yang lainnya.. give me the reason, right!” kata salah satu siswa yang ada di sudut kanan panggung. Kai awalnya kebingungan. Dia kemudian mendengar suara riuh siswa yang lainnya yang ingin tahu..

“ba-baiklah, pasangan yang berbeda itu adalah..hmm...Reita dan Uruha..” kata Kai membacakannya.

“EH?????????” semuanya kaget. Kai hanya bisa mengangkat bahu kiri pertanda dia juga tidak mengerti. Reita dan Uruha sendiri terdiam di saksikan ratusan mata memandang mereka.

“tapi Uruha kan berpasangan dengan Aoi dan Reita dengan Ruki??” kata siswa yang lain. Yang lainnya pun mengiyakan.

“baiklah tenang sedikit! Kita tanyakan pada Ruki, yang memberi polling ini. Untuk Ruki, bisa naik ke atas panggung?” kata Kai. Kemudian ruki berdiri dari kursinya dan menuju panggung. Uru dan Reita benar2 tidak menyangka ada apa dengan semua ini..

“aku bisa jelaskan kenapa mereka pasangan serasi.. saat festival malam itu, Reita jatuh pingsan dan Uru senantiasa mengantarkannya ke rumah sakit dengan kimono berlumuran darah karena Reita yang terbatuk-batuk mengeluarkan darah..  hanya sedikit yang tahu kalau Reita dan Uruha berpacaran dan mereka tidak suka memberitahu pada publik dan membiarkan mereka berdua yang tahu hubungan ini. Aku sebagai saksinya, mereka menjalani kisah cinta yang cukup tajam. Demi seorang sahabat, Uru merelakan perasaannya terhadap Reita. Dan membiarkan Reita bersama sahabatnya. Namun sayang, ketika hubungan itu sudah berakhir, si sahabat malah mengekang Reita dengan cara apapun agar dia bersamanya. Uru bersikeras untuk menahan perasaan agar tidak mencintai ulang kembali Reita karena Uru menghargai arti persahabatan. Dia tidak mau merebut mantan si sahabat meskipun ia memendam bathin bahwa dia perlahan mencintai Reita. Pertengkaran semakin menjadi dan si sahabat membenci Uru yang menjadi kekasih Reita secara tiba2. Si sahabat benar2 keras kepala ingin bersama Reita dan tidak ingin melepaskan Reita begitu saja.. hingga suatu ketika kecelakaan itu terjadi dan membuat si sahabat berpikir, dia terlalu egois untuk ingin menang sendiri tidak melihat sekitarnya banyak yang terluka oleh sikap dan perbuatannya.. dan akhirnya..” Ruki mulai menangis kembali.

“si sahabat merelakan Reita untuk Uru agar bahagia, karena kebahagiaan tidak bisa di atur dengan keegoisan.. dari pelajaran ini aku belajar, mencintai seseorang itu harus tulus.. dan tidak bisa egois demi kebahagiaan sepihak. Tidak bisa memaksakan ke hendak karena perasaan itu datangnya murni bukan paksaan.. dan jodoh tuhan yang mengatur..” kata Ruki menangis. Reita juga menangis mendengar itu. Salah seorang siswa berdiri sambil menangis dan bertepuk tangan. Kemudian di ikuti siswa lain hingga semuanya bertepuk tangan riuh.

Kai pun menitiikkan air matanya dan menyekanya dengan segera. Ruki pun memandang Reita dari kejauhan dan menangis sambil tersenyum.

“sahabat yang kau maksud siapa?” kata Kai berbisik.

“itu rahasia.. yang penting makna ceritaku bermanfaat..” kata Ruki tersenyum pada Kai.

Semuanya bersorak nama Reita dan Uru dan bertepuk tangan ke arah mereka berdua. Uru pun berdiri dan bertepuk tangan sambil menangis ke arah Ruki.

“maafkan aku, ini persembahan dariku..” kata  Ruki dalam hatinya.

**********************

Aoi menutup pintu ruang theater dan kembali berpikir tentang perkataan Ruki tadi bahwa Uru itu berpacaran dengan Reita. Dia tersenyum kemudian pergi..

mungkin, alasan dia memutuskanku di pinggir jalan waktu itu karena dia mencintai Reita dan tidak ingin menyakitiku lebih dalam..memang, takdir itu sudah ada yang menentukan. Bagaimana pun aku belajar banyak dari Uru. Arigatou Uru..

Aoi melangkah dengan kepala tegap dan memandang ke depan sambil tersenyum penuh harapan..

“kelak suatu saat aku pun akan menemukan seseorang yang lebih baik darinya..” ujar Aoi dalam hatinya.




**********************

Uru dan Reita yang usai dari ruang theater saling berdiam diri mendengarkan pengakuan dari Ruki.. Reita bingung.. karena begitu mendadak.

“sebelumnya kau berbicara dengan apa dengan Ruki?” tanya Reita.




<< flashback ketika Reita masih sakit di rumah sakit.


“ada apa kau memanggilku kemari?” kata Uru yang menghampiri Ruki dari belakang.

Sosok Ruki langsung memeluknya dengan erat dan tenggelam menikmati pelukan itu.

“sudah lama aku tidak memeluk sahabatku ini dengan perasaan tenang..” ujar Ruki tersenyum. Uru hanya diam.

“keadaan Reita bagaimana?”

“dia sudah mendingan..” jawab Uru dengan datar.

“syukurlah, oh iya ini..” Ruki memberikan sepasang syal berwarna putih pada Uru.

“untuk siapa?”

“untukmu dan Reita..”. uru bengong tiba2 karena Ruki tidak seperti biasanya.

“aku tahu, aku melakukan perbuatan yang sangat fatal. Kau dan Reita sudah aku sakiti dan aku bebani hidup kalian.. aku tahu aku tidak bisa di maafkan.. tapi, aku harus meminta maaf bagaimana pun caranya...” jelas Ruki tersenyum sedih. Uru memandangnya dengan sedih.

“kau tahu? Selama beberapa hari ini aku menghilang kemana? Aku sering datang ke gereja untuk berdoa untuk mendapatkan ketenangan hati. Aku sadar, aku tidak bisa memaksakan Reita untukku selamanya.. reita terluka banyak olehku.. terlebih saat dia sampai jatuh sakit seperti sekarang. Miris sekali kalau aku ingat, pertama kali aku curhat aku suka padanya lalu berpacaran dan menikmati masa bahagia selama 8 bulan bersamanya. Dan berakhir dengan begini...aku memang keterlaluan untuk itu..” Ruki menundukkan kepalanya menjatuhkan airmatanya.

“untuk itu apa Ruki?” Uru sedikit iba pada Ruki.

“jujur aku masih mencintai Reita sampai sekarang, aku tidak akan bisa menghapus dia dalam ingatanku.. tapi, aku memohon padamu, jagalah Reita baik2 untukku untuk selamanya, bahagiakan dia karena aku sudah merelakannya padamu.. dan.. aku harap persahabatan kita masih bisa di perbaiki. Aku kangen kita yang dulu. Konyol dan bodoh sekali..” kata Ruki tertawa sedikit.

“Ruki..” Uru menangis.

“ah iya, syal itu maksudnya untukmu dan Reita. Hubungan kalian akan abadi aku doakan dari hatiku yang paling dalam. Maaf aku telah melukaimu Uru..maafkan aku..” kata Ruki kembali menangis. Dengan cepat Uru memeluknya dengan erat. Menangis sejadinya mendengar Ruki meminta maaf..

“Rukiiii....” dalam pelukan itu Uru amat sangat merasa sedih.

“kelak suatu saat, aku pasti mendapatkan yang seperti Reita.. dan aku akan mengenalkannya padamu.. dan kita double date..hehehehe..” Ruki masih sempat bercanda membuat Uru tertawa kecil. Mereka melepaskan pelukan mereka dan saling pandang.

“banyak pelajaran yang aku dapat dari Reita dan dirimu Uru.. aku lebih memilihmu sebagai kakak daripada sahabat..” kata Ruki. “yang mengajariku dari sebuah ketulusan persahabatan dan cinta...”
Lanjut Ruki.

“aku juga minta maaf Ruki, aku telah memiliki Reitamu..” kata Uru.

“kau tidak usah minta maaf, karena kau adalah orang yang tepat untuk Reita. Bukan aku.”

“aku janji aku akan menjaganya demimu juga!” kata Uru. Ruki mengangguk dengan cepat.

“aku minta doanya aku mau pindah sekolah keluar negeri sore ini..” kata  Ruki tiba2.

“eh? Kenapa mendadak? Ada apa??” Uru cemas.

“tidak ada. Hanya saja ayah sedang kerja sama dengan perusahaan luar, dan sepertinya lulus kuliah aku baru ke Jepang lagi..” kata Ruki.

“kau tega Ruki! Meninggalkan aku! Nanti aku curhat tentang Reita pada siapa??” kata Uru merengek.

“hey, sekarang jaman sudah canggih.. kita chatting saja. Hahahaha..” Ruki tertawa lepas dengan Uru. Kemudian mereka berpelukan kembali. Menjadi bunga yang bermekar di musim panas...

<< flashback end ~

**********************



Beberapa tahun kemudian Reita tersenyum melihat foto yang dimana dirinya Uruha dan Ruki berfoto bersama dengan wajah konyol. Reita kini sedang di bandara menunggui seseorang. Di sampingnya, Uruha ikut melihat foto itu.

“kita sudah lulus kuliah ya, tidak terasa.. dan rasanya aku kangen dengan bocah yang bernama Ruki ini..” kata Uru menunjuk foto Ruki.

“hm, aku juga.. aku tidak tahu bagaimana perubahannya sekarang, apa dia akan menjadi bule? Hehehe..” kata Reita iseng.

“hey, kau jangan jahil ya..!” Uru mencubit pinggang Reita dan Reita tertawa. Sebuah pengumuman dimana sebuah pesawat sudah datang membuat Uruha dan Reita segera bergegas.

Namun dari kejauhan, Uru menyipitkan matanya melihat seseorang membawa kopernya dan melambaikan tangannya pada Uru.

“Ruki?!” sontak Uru kaget. Ruki berubah. Rambutnya pirang, kulitnya semakin putih pucat dan dia sedikit kurus sekarang.

“Uruhaaaaaa.....” Ruki langsung menghampiri Uruha dan memeluknya dan Reita hanya terbengong.

“Reitaaaa...” Ruki pun bergantian memeluk Reita dan Uru tertawa kecil.

“kau banyak berubah sekali...” kata Reita takjub.

“kuliah di sana menyita waktuku sampai kurus begini..hehe..” kata Ruki menggaruk kepalanya.

“hahahaha.. baiklah kalau begitu aku mau jemput Aoi dan Kai. Kalian pergi duluan saja ke cafe. Booking tempat duduk. Ok??” kata Uru. Reita dan Ruki saling berpandangan.

“tapi-“ sela Ruki.

“alah, sudah ya...sampai ketemu di cafe nanti!” kata Uruha berteriak sambil meninggalkan mereka yang mematung.

“jadi canggung ya..hahaha..” kata Ruki dan ikutin gelak tawa Reita.

“kita lihat2 sekolah kita yang dulu yuk, aku kangen...” kata Ruki.

“boleh.. aku mau lihat perkembangan sekolah kita bagaimana sekarang..”



**********************


Setibanya Ruki dan Reita di depan gerbang sekolah, mereka tidak terkejut sama sekali. Tidak ada perubahan pada sekolah ini. Mereka tersenyum melihat sekolah ini.

“sekolah ini banyak kenangannya ya..” kata Ruki.

“iya, kenangan kita juga..” jawab Reita yang membuat Ruki menoleh sekilas dan tersenyum. Mereka pun berjalan menyelusuri sekolah tersebut yang sudah tidak di huni siswa karena sudah jam pulang sekolah..

“kau ingat? Di lorong ini kita bertengkar karena Uru mengaku bernama Kei, aku menangis dan bilang tidak mau kehilangan dirimu, hahaha tragis sekali kalau aku ingat...” ujar Ruki sambil berhenti di sebuah lorong dan mengingat masa lalunya.

“dan taman sekolah ini aku menamparmu keras.. dan kembali bertengkar..” kata Reita saat sampai di taman sekolah.

“di sini pula kau jatuh pingsan karena batuk darah..” sedih Ruki.

“kenangan buruk itu masih melekat pada ingatan kita..” tambah Reita.

“tapi semuanya sudah berubah.. kehidupan kita berbeda. Lebih tenang dan bahagia..” ujar Ruki.

“yah, dan kita bertemu lagi..” Reita tersenyum pada Ruki.

“huum, ah iya kelas itu!” kata Ruki langsung menunjuk kelasnya yang berada di lantai dua. Ruki berlari menuju kelasnya dan masuk ke dalam. Tempat duduknya yang dulu itu dia hampiri. Dia tersenyum dan melihat kaca jendela di samping bangkunya itu.

“kau tahu tidak, aku selalu memperhatikanmu di sini ketika kau sedang jam olahraga..” jujur Ruki.

“yah aku menyadarinya ketika sedang olahraga, hanya saja aku cuek pura2 tidak tahu..” kata Reita sambil tersenyum datar

“Ah, rei curang!” kata Ruki mencubit pinggang Reita. Reita hanya terkekeh.

“tapi, dulu aku di bawah pohon itu mengirim pesan pada Uru mengajak pergi saat hubungan kita sedang renggang..” sela Reita. Ruki perlahan berhenti tertawa.

“kita baru jujur saat kita sudah pisah lama ya..” ujar Ruki.

“dan menurutmu, apa cerita cinta kita ini bagus untuk novel?” goda Reita.

“bagus sekali! Dan aku akan membuatnya sampai semua pembaca terharu..hahaha..” kata Ruki. Reita pun tertawa. Dan kemudian perlahan mereka saling berpandangan.

“kau tahu, aku masih memendam perasaan itu sampai sekarang..” kata Ruki membuat Reita menatapnya dengan serius.

“tapi..” Ruki menunduk. Reita merasa sedikit sedih mendengarkan itu.

“tapi,,” Ruki mengulanginya kembali. “tapi kenapa..?” Reita penasaran.

“itu semua hanya bohong!! Hahahahah!” kemudian Ruki lari dari kelas itu dan meninggalkan Reita yang merah padam karena malu.

“Rukiiiii!!!!!!”




**********************



“tadaima..” kata Ruki. Reita dan Ruki sudah sampai di cafe yang mereka janjikan untuk reunian.

“RUKIIIIII!!!!!!!!!!” Aoi dan Kai langsung memeluk Ruki dengan erat benar2 kangen rasanya.

“kau sudah jadi orang luar sekarang...hahaha tapi aku masih mengenalimu karena kau masi ada bekas chubby nya hahaha..” kata Kai.

“ya ampun, Kai dasar hahaha..”. kemudian mereka duduk melingkar dan memesan apa yang mereka inginkan.. salah satu pelayan datang dan menuliskan pesan mereka. Ruki yang duduk di hadapan Reita dan Uruha mencuri pandang melihat Reita yang sedang memilih makanan bersama Uru. Ruki tersenyum melihat mereka yang bertengkar kecil karena masalah makanan.

“ini tidak apa2 tahu!” kata Reita. “pokoknya tidak boleh!” kata Uruha kesal.


“sudah2 kalian! Bertengkarnya di simpan saja, sekarang saatnya reunian!! Yeahhhhhh!!!! banyak hal ingin ku ceritakan!!” seru Aoi dengan berbinar2.

“hey, sepertinya pasangan ini semakin mesra saja setelah aku tinggal keluar negeri..” ledek Ruki. Reita hampir tersedak ketika sedang minum

“apa sih..” Reita mengelak seperti anak ababil.

“tahu tidak, seminggu yang lalu ada yang curhat padaku lewat telpon katanya mereka sedang marahan, dan lalu Uru minta maaf dengan sebuah coklat kitkat.. yang tambah parahnya saat Reita memaafkan, Reita malah sakit gigi!hahahaha..” ledek Ruki membuat Uru terdiam memerah malu.

“cieeeeeeee..ehem..ehemmmm..” Aoi dan Kai menggodanya. Reita hanya bisa menghela nafasnya.

“ah sudah-sudah jangan di bahas lagi, nanti ngilu gigiku..” kata Reita yang membuat mereka terbahak-bahak.

Sambil menunggu pesanan datang, mereka menceritakan kehidupan mereka setelah lulus dari sekolah. Banyak pengalaman yang mereka tukar sebagai pelepas rasa kangen. Mereka bercanda tawa dan saling meledek. Padahal hujan mulai turun, tapi mereka tidak merasa dingin. Karena hangatnya kebersamaan. Uru sesekali melihat keluar jendela dan tersenyum..

‘terima kasih tuhan, aku bahagia pada hari ini..’

Mereka pun larut dalam canda tawa dan guyuran air hujan pada hari itu~~


**********************








Well tamat juga ff ini!!!
Sankyuu,arigatou yang sudah comment dari awal sampe akhir dan sampe ngerasa terbawa dengan ceritanya ini.. sankyuu mou ichidou..!!!
Gomen akhirnya tak terduga begini*Plakkkk pasti garing ya TT^TT/

Gomen kalo semisal cerita ini nyindir kalian atau yang merasa, tidak bermaksud deh ciyusan~~!!
sekali lagi terima kasih banget ya,,,huhuhuhu,,*berasa mau pindahan* *eh?*XDDDa...

No comments:

Post a Comment