Sunday, March 16, 2014

Argeza ~3

Title      :               Argeza
Genre  :               fantasy,action,comedy,life, nano-nano dah pokoknya XDDD
Cast      :              utamanya Gajet yang lain numfang hehehehe..
Eps        :               3 *cieeee sok anime

---------------------------------------------------------------------------------------------//



。゚.(*Hide of Power *) °




Setelah pelantikan itu, Ruki bertemu kembali dengan Gakuto di ruangan khusus yang dimana lantainya sudah terukir gambar lingkaran mantra untuk pengusiran aura hitam yang menganggu siswanya. Nyatanya Ruki memiliki aura hitam semenjak dia lahir, dan itu yang membuat dirinya tidak bisa mempunyai sihir. Dan Gakuto dengan senantiasa membantu menghilangkan aura hitam itu dan sekarang Ruki memiliki sihir standar sama dengan yang lainnya. Betapa beruntungnya Ruki bisa kenal dengan mantan kepala sekolah Mahou Gakuen itu. dan ruki berjanji akan memakai sihir hanya untuk kebaikan saja.

Hari keduanya di Mahou Gakuen membuat dia lebih bangun cepat di pagi hari dan menyiapkan segala sesuatu untuk berangkat ke sekolah. Walau terkadang terbesit dalam dirinya teringat pada ke empat ketua yang menurutnya ia harus berhati-hati. Ruki harus bisa lebih baik dari mereka dan sebisa mungkin tidak membuat kekacauan di awal sekolahnya.

“Ruki, sarapannya sudah siap~” kata Mika teriak dari bawah. Ruki sedang memakai seragam kebanggaannya yang sekarang dia miliki dengan lencana silver bertuliskan namanya kemudian di bawahnya bertuliskan kelas level 1. Senyum itu melengkung manis di bibirnya Ruki dan dia segera bersiap-siap.

Tok tok tok!!

ruki terkejut dengan suara ketukan dari balik jendelanya. Kemudian dia menghampiri jendela itu dan dia cengo melihat Reita dengan sapu terbangnya sedang berada di depan jendelanya.

“Ruki..kenapa tidak ma-“ Mika yang menyusul ke kamar Ruki tak menemukan Ruki dimanapun. Kamarnya sudah rapi, Mika menghela nafasnya mungkin Ruki sudah pergi dengan sapu terbang barunya.

“Reita-senpai, kenapa harus sepagi ini?” Ruki juga terbang dengan sapu terbangnya dan berdampingan dengan Reita yang memakai sapu terbang.

“kau belum bisa mengendalikan sapu terbang, aku takut kau terluka di jalan..” ucap Reita.

“lho ini kan sapu terbang biasa, kita bisa mengendalikannya, kan?” pikir Ruki.

“justru itu yang aku takutkan ketika kau berpikiran begitu. Sapu terbang ini juga  mempunyai jiwa hidup namun tidak terlihat..kau harus menjaganya dengan baik kalau tidak sapu terbangmu akan mengancam keselamatanmu sendiri..anggap saja dia peliharaanmu..” jelas Reita.

“sokka..begitu ya, Coda..” kata Ruki.

“eh, Coda?” bingung Reita.

“aku beri nama dia Coda saat kemarin malam..dan kemudian dia mengeluarkan cahaya dan juga glitter emas..” ungkap Ruki dengan senang.

“dia senang kau memberi nama yang bagus. Itu arti dari cahayanya..” kata Reita tersenyum. Dan kemudian mereka langsung menuju sekolahnya..

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Ruki masuk ke kelasnya dan menjetikkan tangannya untuk mendatangkan karpet terbangnya. Kemudian Ruki menaikinya dan dia terbang menuju barisan belakang teman-temannya. Dia pendiam dan sementara teman-temannya mendekatinya.

“main perang-perangan yuk!” kata siswa lain bernama Shou yang tidak kalah manisnya dengan Ruki yang duduknya di depan Ruki.

“perang-perangan? Oh tidak, aku masih baru tidak mau berulah..” kata Ruki dengan sopan.

“anak manis..baiklah, kalau begitu sebentar lagi sensei akan masuk..” kata Shou tersenyum kemudian dia mengalihkan pandangannya ke depan. Dan saat itu pula Aoi datang dengan karpet terbangnya dan berdiam di posisi sebelah kanan Ruki. Ruki menelan ludahnya diam-diam seakan dia takut dengan Aoi. Ruki hanya memasang wajah tenang daripada memperlihatkan kegrogiannya(?) di depan Aoi. Yang ada nanti akan jadi bahan bully-annya. Aoi tersenyum sinis kembali melihat Ruki dan mengunyah permen karet kesayangannya.

“semoga menyenangkan..” kata Aoi setengah berbisik pada Ruki. Ruki tahu itu adalah ancaman kecil dari Aoi. Bagaimanapun juga Ruki harus berhati-hati sebaik apapun Aoi padanya.

“omatase...ohayou!!” Amano Sensei, guru sihir yang sangat tampan ini memukau dengan bingkai kacamata yang ia gunakan saat ini. Amano sensei juga datang ke kelas dengan mengenakan karpet terbang dan berada di depan semua murid yang sudah baris dengan rapi.

“ohayou!!” jawab anak-anak dengan kompak.

“Ah iya, Ruki selamat datang ya, maaf kemarin aku tidak masuk..aku sedang ada rapat dewan guru dulu..” kata Amano dengan ramah.

“iie, daijyobu..yoroshiku..” kata Ruki. Amano senyum dan kemudian dia membuka buku pelajarannya.

“ok, untuk hari ini tidak ada kelas sihir..kita akan meninggalkan yang namanya sihir. Kalian harus bisa kuat tanpa sihir suatu hari..maka dari itu, aku akan melatih ketangkasan tubuh kalian dan kegesitan tubuh kalian jika di serang sihir saat sihir kalian tidak bisa di gunakan..” jelas Amano. Dan semuanya saling membisikkan, kecuali Aoi dan Ruki yang diam.

“baiklah, semua karpet terbangnya kalian simpan, dan berkumpullah di lapangan..gunakan kaos olahraga yang tipis supaya mempermudah keringat kalian menjadi kering..” suruh Amano kemudian dia merendahkan posisinya ke dasar lantai dan turun dari karpet terbangnya dan menghilangkan karpetnya. Semuanya mengikuti jejak Amano dan mereka pun menuju ruang ganti baju yang sudah di sediakan di lantai bawah.

Ruki sekarang menemukan teman pertamanya, Shou dan sekarang mereka bersama-sama menuju ruangan itu. aoi mendahului Ruki dan pundak Ruki sepertinya di sengaja Aoi di tabrak dari belakang.

“ups, sory..” ucap Aoi menoleh ke belakang sambil berjalan ke depan. Tawanya licik itu tidak bersuara namun ini membuat Shou langsung memegangi tubuh Ruki takut jatuh karena tubuh Ruki buntet eh mungil *LOL*

“kau tidak apa-apa?” seru Shou. Ruki mengangguk dan diam.

Ini adalah awalan Ruki mendapatkan serangan dari Aoi. Namun ia harus bersabar, dia teringat kata-kata Gakuto saat pengusiran aura hitamnya,

jagalah kestabilan emosimu, jangan sampai pada batasnya..kekuatan itu akan muncul..dan membahayakan dirimu juga yang kau serang..” kata Gakuto saat itu. mengingat itu Ruki memilih untuk menerima rasa sakit pundaknya yang sekilas daripada meributkan hal yang tidak penting itu. dan semua siswa sepertinya menyadari itu,

“tenanglah, semua akan berpihak padamu kok..” kata Shou menenangkan Ruki. Ruki tersenyum dan berjalan kembali.

Sampai di ruangan sepertinya Aoi ganti baju dengan kilat dan menuju lapangan sendirian. Yah, semenjak Reita mengeluarkan rule bahwa Aoi harus turun kelas menjadikan Aoi sedikit liar dan berantakan sikapnya. Tidak ada yang dapat melawannya, kecuali Uruha yang dekat dengannya yang dapat membentak atau memarahi Aoi sehingga Aoi terdiam, entah ada apa *hayooo mikirnya apaan XDDD*.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Semua siswa berkumpul di lapangan dan kemudian Amano sensei sudah datang dengan membawa papan berjalan yang isinya daftar absen kelas level 1 dan peluitnya yang menggantung di lehernya. Ruki melirik dan melihat Aoi sedang merenggangkan beberapa tubuhnya yang kurus.

“eto~ aku akan membuat kelompok untuk lari mengelilingi gedung ini dan juga dari tangga satu sampai tangga paling atas dan kemudian balik lagi ke bawah..” kata Amano.

“HEEEHHH!!! Itu menyiksa namanya!!” seru Ryouga dari belakang Ruki. Kemudian di susul berbagai dumelan(?) dari siswa yang lain.

“tenanglah, aku tidak akan memberikan timer untuk kalian mengelilingi gedung ini dan juga naik tangga~” kata Amano melambaikan sebuah timer yang selalu dia gunakan.

“baiklah aku akan umumkan, setelah di umumkan kalian berkumpul ya..” kata Amano.

“kelompok pertama, Shou,Ryouga,Ruki,Aoi dan Shin..” sebut Amano dan ini membuat semua siswa tertuju pada Ruki dan bergantian melirik Aoi. Kemudian Ruki dengan kalemnya mendatangi Aoi dan juga yang lainnya.

“tidak ku sangka kita sekelompok..” kata Aoi dengan tampang sok-nya tanpa menoleh pada Ruki dan lebih memilih merenggangkan tubuhnya. Shou dan yang lainnya hanya menghela nafas melihat tingkahnya Aoi yang sudah tidak asing lagi.

“yoroshiku..” Ruki malah menjawab itu dengan kalem dan juga tanpa menoleh padanya. Dan ini membuat Aoi menoleh dengan tatapan tajamnya.    

“kelompok pertama siap??” Amano menempelkan peluitnya di bibir tipisnya yang memikat semua siswa *masa?*. kelompok Ruki mengangguk dan kemudian peluit itu di bunyikan dan mereka berlima berlari dengan tertib. Aoi berada di depan, kemudian di susul Ryouga, Shin dan Shou terakhir Ruki. Ruki berlari dengan santai, namun sepertinya Aoi tidak ingin bersama dengan mereka dan memilih mempercepat larinya meninggalkan mereka dalam hitungan menit.

“Aoi itu, memang seperti itu?” tanya Ruki yang jogging santai menghampiri Shou di depannya.

“ah, iya semenjak dia turun kelas..” jawab Shou.

“apa dia menaruh dendam dengan Reita karena sudah menurunkan kelas levelnya?” pikir Ruki.

“sejahat-jahatnya Aoi, dia tidak akan menyimpan dendam. Dia hanya mencuekkan(?) Reita apabila bertemu. Atau Reita sedang melakukan apapun. Lagipula itu kesalahannya dan banyak yang menyalahkan atas perbuatannya..” timpal Shin yang memperlambat tempo larinya supaya beriringan dengan Shou juga Ruki. Dan Ruki sekarang di apit Shou dan Ryouga *enaknya*.

“memang dia melakukan apa sampai dia turun kelas dan Reita turun tangan menanganinya. Berarti ini masalah serius donk?” kira Ruki. Secara tidak langsung dengan wajah polosnya, Ruki mencari tahu tentang keadaan ke empat ketua itu di sekolah ini. Dan bodohnya yang lainnya menjelaskan detail pada Ruki *duh!*

“sebelum ujian aku nyaris menjadi saksi matanya, saat itu aku melihat Aoi sedang bermain-main sihir api nya di ruangan kosong. Kemudian seseorang lewat dan melihat Aoi bermain-main begitu. Aoi kemudian iseng menembakkan sihir api nya kepada siswa itu dan ternyata siswa itu tidak terima dengan maksud bercandaannya Aoi. Kemudian siswa itu malah mengeluarkan sihirnya dan mereka pun bertengkar hebat di udara dan ini menjadikan semua siswa mengamati apa yang terjadi di langit sampai Reita yang menyaksikannya memisahkan mereka berdua dengan sihirnya..” kata Ryouga yang memperlambat joggingnya menjadi berjalan santai. *yayalah njelasin panjang begitu kok sambil jogging, pengap donk*

“lalu?” Ruki masih kepo.

“aku membawa siswa itu ke ruang kesehatan dengan luka lebam di sekujur tubuhnya tapi tidak parah sih..sementara Aoi di sidang di depan Gakuto-sama dan Reita menjatuhkan vonis(?) kalau Aoi turun kelas, menurut yang ku dengar Aoi membela diri karena siswa itu sempat mengoloknya kalau dia adalah anak sebatang kara yang di tinggal orangtuanya sejak kecil..mungkin itu menjadi emosi tinggi bagi Aoi makanya dia adu duel dengan siswa itu..” lanjut Ryouga.

“dan sekarang perubahan drastis sekali, dia sering menghindari yang nama bersosialisasi dan lebih senang sendiri. Padahal dulunya dia selalu berkumpul dengan kami dan selalu iseng, nah sekarang isengnya malah parah.. Aoi juga mandiri sekali dan sebisa mungkin dia bisa di antara yang lain..” tambah Shin. Mendengar itu Ruki menjadi kasihan dengan keadaan Aoi saat ini.

“dia kesepian ya sepertinya..” kata Ruki.

“tapi dia dekat dengan Uruha yang sifatnya hampir sama dengan Aoi bedanya Uruha jadi jarang senyum bahkan tidak sama sekali bicara dengan siapapun, hanya seperlunya saja..” kata Shin.

“dekat bagaimana?” kata Ruki bingung.

“entahlah yang kami lihat Aoi hanya bisa bersama Uruha seorang dan sebaliknya..Uruha juga punya masa lalu kelam dengan Kai..” sela Shou.

“Kai? Kelas level 4 itu?” kata Ruki. Semuanya menggangguk.

“dulu Uruha dan Kai itu satu kelas dan paling kompak mengerjakan pelajaran yang di berikan Amano-sensei, namun karena ujian akhir sihir 2 tahun lalu semuanya jadi berubah..” kata Ryouga.

“kenapa? Apa yang terjadi?” Ruki terus mengulik.

“saat ujian akhir kenaikan kelas level 2, semua siswa di wajibkan memusnahkan satu monster besar yang sepertinya lebih ke burung elang yang ganas. Saat itu Kai dulu yang maju untuk memusnahkan monster tersebut dengan menggunakan kekuatan air yang sudah di pelajari sebelumnya. Namun Uruha terkejut karena cara Kai memusnahkannya monster itu adalah caranya. Karena sebelumnya mereka berdua pernah berunding untuk latihan bersama. Dan yang ku dengar, Kai ini sengaja menghapal cara Uruha dan kemudian Kai menuduh Uruha telah mencuri ilmunya. Jelas ini membuat Uruha marah, karena dia merasa di khianati teman sendiri. Dan katanya, sebenarnya kemampuan Uruha itu lebih baik di banding Kai, tapi Kai tidak ingin Uruha melangkahinya naik kelas jadi dia melakukan hal itu dan semenjak Kai di tetapkan naik kelas, dia berusaha kelas untuk belajar supaya dia masuk kelas level 5 dan membuktikan pada Uruha kalau dia lebih baik..” jelas Ryouga.

“sokka..sayang sekali..sepertinya di sekolah sihir ini ketat sekali persaingannya..” Ruki merasa down duluan.

“tidak semuanya begitu hanya mereka berempat saja yang bermasalah dan beruntungnya karena permasalahan rumit yang saling berhubungan itu membuat mereka menjadi ketua masing-masing kelas level..” pikir Shou.

“yah begitulah yang bisa kami jelaskan padamu, jadi jangan kaget kalau mereka berempat tiba-tiba berkumpul dan suasana atmosfirnya berbeda~” kira Shin merangkul Ruki dengan hangat. Ruki mengangguk mengerti sambil masih memikirkan mereka berempat.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Ternyata Aoi sudah sampai di lantai bawah setelah dia sudah menaiki sampai anak tangga paling atas. Nafasnya di atur karena dia terlalu memaksakan diri untuk naik turun anak tangga segitu banyaknya. Dia teringat dengan ocehan siswa yang membuatnya turun kelas waktu itu.

sikapmu ini seperti tidak di asuh orangtua yang benar..oh ya, orangtua? Punya darimana kau? jangan-jangan kau ini hasil hubungan yang tidak di inginkan sampai di buang begitu saja..” kata-kata itu sangat terngiang di kepala Aoi. Dan dia menyandar di dinding dan memejamkan matanya. Seakan dia ingin melupakannya namun sulit sekali untuk move on. Di antara banjir keringat di wajahnya, Aoi sebenarnya meneteskan airmatanya. Kemudian dia menyeka dengan tangannya kemudian dia masuk ke dalam parkiran sapu terbang dan menemukan milik Ruki. Entahlah mungkin ini obat untuk menghilangkan masa lalunya dengan keisengannya. Dia sengaja mengambi sapu terbangnya Ruki kemudian dengan sihirnya dia mematahkan sapu terbang itu menjadi dua di tangannya. Aoi tertawa kecil kemudian dia membuangnya ke sembarangan tempat dan dia berjalan keluar menuju lapangan sekolah.

“semuanya hanya bisa ku permainkan.. seperti mereka yang mempermainkan hidupku..” ucapnya dengan berjalan dengan pandangan yang menyedihkan.

Saat itu, saat Aoi mau melewati anak tangga, dia melihat Ruki sedang menuruni anak tangga dengan pelan-pelan. Aoi dan Ruki pun saling berpandangan sejenak. Kemudian Aoi meninggalkan Ruki di anak tangga itu, namun sesaat kemudian Ruki terpeleset dan dia jatuh tepat sampai bawah anak tangga dengan tubuh kecilnya yang terpontang-panting.

“Ahhh!!!it-tteee...” seru Ruki langsung meringkuk kesakitan dengan dahi yang sedikit berdarah karena mungkin kena benturan. Aoi menoleh ke belakang dan melihat itu. Aoi terkejut dan segera menghampirinya. Namun baru beberap langkah, Aoi terhenti dan teringat sesuatu.

tidak ada yang akan menolongmu setelah kejadian ini..kau sangat menyedihkan dan kesepian..” perkataan siswa itu terngiang kembali. Dan Aoi ingat betul dia mendadak di jauhi setelah kejadian duel dengan siswa itu. dia sendiri dan sampai sekarang..

Ruki yang meringkuk kesakitan pun tidak bisa merubah hati Aoi yang benar-benar sakit. Dia malah mengepalkan tangannya dengan kuat-kuat. Kemudian dengan tatapan benci, dia membalikkan badannya dan meninggalkan Ruki yang meringkuk itu.

“tasukete...” rintih Ruki benar-benar kesakitan.  Namun ternyata beberapa menit kemudian ketika Aoi sudah menghilang entah kemana, Uruha mendapati Ruki yang tengah meringkuk.

“astaga!”

---------------------------------------------------------------------------------------------//



“arigatou..” ucap Ruki ketika Reita sedang memainkan perban ke bagian bawah sikunya karena ada beberapa luka benturan. Dan dahinya juga di tempeli plester putih. Dan sekarang Ruki persis seperti pasien korban tabrak lari *lha?*. uruha sendiri sedang menyandar di pintu UKS sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana seragamnya. Dan memandang Ruki dengan tatapan dingin khasnya.

“nanti pulangnya aku akan antarkan, bagaimana?” kata Reita menawarkan jasa dirinya *maksud??*.

“jangan, nanti merepotkan..aku akan- erghhh...” Ruki menahan sakit di dahinya yang sekarang mendadak senut-senut tidak karuan.

“daijyobu ini sudah tugasku, kok..” Reita tersenyum pada Ruki. Kemudian Uruha berniat meninggalkan mereka.

“tunggu!!” seru Ruki yang melihatnya dan membuat langkah Uruha terhenti dan menengok ke arah mereka.

“arigatou~ sudah mau menolongku..ternyata kau orang baik ya~” kata Ruki tersenyum manis dan membuat Uruha mendesis melihat itu dan memicingkan pandangannya.

“aku tidak merasa menolongmu, hanya kebetulan! OK!” kata Uruha kemudian dia berbalik badan dan wajahnya memerah setelah berbalik badan dan berjalan menuju kelasnya. Reita juga tertawa sedikit melihat sikap Uruha.

“jarang-jarang dia begitu, kau punya sihir pelet ya? Uruha mendadak jadi begitu..” kata Reita iseng.

“enak saja! Itu murni dari hatinya..dia mengangkat tubuhku sampai ke sini..rasanya memang aneh juga..dia tipe yang dingin..” jelas Ruki.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Pelajaran olahraga berakhir dengan Ruki yang jatuh dari tangga sekarang Ruki di kerumuni teman-temannya di kelas.

“kau tidak apa-apa?” Shou khawatir melihat itu. Ruki menggeleng dan senyum.

“kau ini anak yang kuat sekali..” puji Ryouga.

Namun belum beres masalah Ruki jatuh dari tangga, seorang siswa lain datang terburu-buru ke kelas dan nafas tidak teratur.

“Ruki, sapu terbangmu patah! Dan itu terlempar sembarangan begitu saja!” seru anak itu dan ini membuat Ruki langsung menuju parkiran sapu terbang.

“coda~~” Ruki merasa ingin menjerit menangis, ketika sapu terbang pertamanya yang sudah dia beri namai coda patah menjadi dua dan tergeletak seperti sapu rongsokan. Ruki memungut itu dengan tangisan airmatanya.

“siapa yang melakukan ini?” Ruki memegang sapunya dengan perasaan sedih sekali. kemudian dia teringat saat ia akan menuruni anak tangga, dia bertemu dengan Aoi yang sepertinya dari arah pintu parkiran sapu terbang. Ruki menaruh curiga besar terhadapnya. Tapi Ruki pernah melakukan apa sampai Aoi melakukan ini padanya? Kenal saja tidak, kenapa jadi bahan bully-an begini?

Kemudian Ruki memegangi  kedua sapunya yang patah itu dengan erat dan di rentangkan ke depan. Dia memejamkan matanya membiarkan wajahnya basah karena airmatanya. Kemudian dia mengucapkan mantra dalam hatinya. Keluarlah cahaya kuning keemasan beserta glitter sama seperti pertama kali Ruki memberinya nama Coda tadi malam. Bedanya ini sedikit redup cahayanya dan Ruki membuka matanya. Dan di lihatnya Coda masih terbelah dua dan Ruki pun kembali menangisi *uh lucu kayanya XDa*

“Aoi tidak bisa aku maafkan..” ucap Ruki. Kemudian bola matanya berubah menjadi merah menyala dan aura sekitar tubuhnya juga menjadi merah juga.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



“kenapa kau memanggilku ke ruangan kosong ini?”

Aoi bingung ketika dia berhadapan dengan Ruki dan  jaraknya sedikit jauh di antara mereka. Ruki kali ini tidak main-main, bola matanya kembali menghitam namun auranya berbeda dari tadi. Aoi juga merasakan sebuah aura kekuatan besar sedang menyelimuti tubuhnya Ruki. Aoi tidak tahu apa maunya, jadi membiarkan dia berhadapannya.

“usai ini, kau mau melakukan apa lagi?” kata Ruki bertanya dingin.

“melakukan apa? Pertanyaanmu aneh tahu..”kata Aoi mengacuhkannya.

“kau selalu melakukan hal ini supaya kau tidak kesepian,kan? Dan mendapatkan perhatian lebih??” seru Ruki yang sedang menahan emosinya. Aoi membuka matanya lebar mendengar itu dan mendadak dadanya menyesak mendengar itu.

“aku sudah tahu ceritamu di sekolah ini bagaimana..kau ini kesepian Aoi..”

“CUKUP! Tahu apa kau tentang diriku?!”

“kau butuh teman untuk saling berbagi, tapi nyatanya kau terlanjur sakit hati karena siswa yang membuatmu jadi turun kelas. dan kau menjadi liar dan semaumu melakukan apa..tidak kah kau berfikir kalau kau kesepian?” jelas Ruki. Ini membuat Aoi mengepalkan tangannya. Kesal.

“sampai kapanpun kau tidak akan puas melakukan hal ini terhadap siapapun! Kau akan semakin kesepian!” seru Ruki sudah mulai melepas emosinya.

“kau tahu apa? Yang merasakan itu AKU bukan KAU!” seru Aoi dengan mata berapi-api(?).

“aku merasakannya! Aku juga penyendiri sama sepertimu, bahkan aku tidak punya teman satu pun. Dan Shou adalah teman pertamaku dalan hidupku. Tapi kau membalas kesepian itu dengan tingkahmu yang meresahkan!”

“ocehanmu tidak berguna, aku malas mendengarnya..” kata Aoi sambil berbalik badan.

“tunggu, masalahnya bukan di situ saja..” mata Ruki mendadak menjadi merah dan aura merah itu kembali menyelimutinya. Saat Aoi berbalik badan dia kaget dengan keadaan Ruki yang anak polos sekarang sorot matanya bagaikan seorang hunter yang ingin memangsa.

“aku tidak bisa maafkan kau karena sudah mematahkan sapu yang baru ku dapatkan kemarin..” kata Ruki mengepalkan tangannya. Dalam kepalan itu ada cahaya di sekitar kepalan tangannya berwarna merah membara dan ini membuat Aoi semakin terkejut.

“aku tidak akan segan-segan membalikkan apa yang kau lakukan padaku..” ucap Ruki seraya mengulurkan tangannya yang mengepal itu ke depan. Dan dia membuka telapak tangannya dan merenggangkannya sehingga terbuka lebar. Bulatan bola cahaya berwarna putih ke merahan membuat Aoi bingung apa yang mau di lakukan oleh Ruki.

“kau tahu? Gakuto-sama mengatakan aku ini tidak boleh membiarkan emosiku sampai tingkat paling atas..kekuatanku bisa menghancurkan sekolah ini bahkan semua nyawa melayang..” kata Ruki dengan mimik wajah yang berubah sadis mengatakan itu.

“rasakan ini!!” Ruki menembakkan cahaya itu ke arah Aoi dengan segera.

“TIDAK!!” seseorang melepaskan panah busur dari samping dan panah itu menancap di lengan kanan Ruki dan cahaya yang hampir menyerang Aoi itu hilang seketika ketika panahnya menancap di lengannya. Ruki pun seketika pingsan dan lemas tidak berdaya. Aoi yang melihat itu benar-benar kaget. Dia bahkan tidak bisa berkedip sedikit pun melihat amarah Ruki kemudian kekuatan yang Ruki katakan.

---------------------------------------------------------------------------------------------//





No comments:

Post a Comment