Title : Argeza
Genre : fantasy,action,comedy,life,
nano-nano dah pokoknya XDDD
Cast : utamanya
Gajet yang lain numfang hehehehe..
Eps : 3
*cieeee sok anime
---------------------------------------------------------------------------------------------//
♡。゚.(*♡ Hide of Power ♡*)゚♡ °・
Setelah
pelantikan itu, Ruki bertemu kembali dengan Gakuto di ruangan khusus yang
dimana lantainya sudah terukir gambar lingkaran mantra untuk pengusiran aura
hitam yang menganggu siswanya. Nyatanya Ruki memiliki aura hitam semenjak dia
lahir, dan itu yang membuat dirinya tidak bisa mempunyai sihir. Dan Gakuto
dengan senantiasa membantu menghilangkan aura hitam itu dan sekarang Ruki
memiliki sihir standar sama dengan yang lainnya. Betapa beruntungnya Ruki bisa
kenal dengan mantan kepala sekolah Mahou Gakuen itu. dan ruki berjanji akan
memakai sihir hanya untuk kebaikan saja.
Hari
keduanya di Mahou Gakuen membuat dia lebih bangun cepat di pagi hari dan
menyiapkan segala sesuatu untuk berangkat ke sekolah. Walau terkadang terbesit
dalam dirinya teringat pada ke empat ketua yang menurutnya ia harus
berhati-hati. Ruki harus bisa lebih baik dari mereka dan sebisa mungkin tidak
membuat kekacauan di awal sekolahnya.
“Ruki,
sarapannya sudah siap~” kata Mika teriak dari bawah. Ruki sedang memakai
seragam kebanggaannya yang sekarang dia miliki dengan lencana silver
bertuliskan namanya kemudian di bawahnya bertuliskan kelas level 1. Senyum itu
melengkung manis di bibirnya Ruki dan dia segera bersiap-siap.
Tok
tok tok!!
ruki terkejut dengan suara ketukan dari balik jendelanya. Kemudian dia menghampiri jendela itu dan dia cengo melihat Reita dengan sapu terbangnya sedang berada di depan jendelanya.
ruki terkejut dengan suara ketukan dari balik jendelanya. Kemudian dia menghampiri jendela itu dan dia cengo melihat Reita dengan sapu terbangnya sedang berada di depan jendelanya.
“Ruki..kenapa
tidak ma-“ Mika yang menyusul ke kamar Ruki tak menemukan Ruki dimanapun.
Kamarnya sudah rapi, Mika menghela nafasnya mungkin Ruki sudah pergi dengan
sapu terbang barunya.
“Reita-senpai,
kenapa harus sepagi ini?” Ruki juga terbang dengan sapu terbangnya dan
berdampingan dengan Reita yang memakai sapu terbang.
“kau
belum bisa mengendalikan sapu terbang, aku takut kau terluka di jalan..” ucap
Reita.
“lho
ini kan sapu terbang biasa, kita bisa mengendalikannya, kan?” pikir Ruki.
“justru
itu yang aku takutkan ketika kau berpikiran begitu. Sapu terbang ini juga mempunyai jiwa hidup namun tidak
terlihat..kau harus menjaganya dengan baik kalau tidak sapu terbangmu akan
mengancam keselamatanmu sendiri..anggap saja dia peliharaanmu..” jelas Reita.
“sokka..begitu
ya, Coda..” kata Ruki.
“eh,
Coda?” bingung Reita.
“aku
beri nama dia Coda saat kemarin malam..dan kemudian dia mengeluarkan cahaya dan
juga glitter emas..” ungkap Ruki dengan senang.
“dia
senang kau memberi nama yang bagus. Itu arti dari cahayanya..” kata Reita
tersenyum. Dan kemudian mereka langsung menuju sekolahnya..
---------------------------------------------------------------------------------------------//
Ruki
masuk ke kelasnya dan menjetikkan tangannya untuk mendatangkan karpet
terbangnya. Kemudian Ruki menaikinya dan dia terbang menuju barisan belakang
teman-temannya. Dia pendiam dan sementara teman-temannya mendekatinya.
“main
perang-perangan yuk!” kata siswa lain bernama Shou yang tidak kalah manisnya
dengan Ruki yang duduknya di depan Ruki.
“perang-perangan?
Oh tidak, aku masih baru tidak mau berulah..” kata Ruki dengan sopan.
“anak
manis..baiklah, kalau begitu sebentar lagi sensei akan masuk..” kata Shou
tersenyum kemudian dia mengalihkan pandangannya ke depan. Dan saat itu pula Aoi
datang dengan karpet terbangnya dan berdiam di posisi sebelah kanan Ruki. Ruki
menelan ludahnya diam-diam seakan dia takut dengan Aoi. Ruki hanya memasang
wajah tenang daripada memperlihatkan kegrogiannya(?) di depan Aoi. Yang ada
nanti akan jadi bahan bully-annya. Aoi tersenyum sinis kembali melihat Ruki dan
mengunyah permen karet kesayangannya.
“semoga
menyenangkan..” kata Aoi setengah berbisik pada Ruki. Ruki tahu itu adalah
ancaman kecil dari Aoi. Bagaimanapun juga Ruki harus berhati-hati sebaik apapun
Aoi padanya.
“omatase...ohayou!!”
Amano Sensei, guru sihir yang sangat tampan ini memukau dengan bingkai kacamata
yang ia gunakan saat ini. Amano sensei juga datang ke kelas dengan mengenakan
karpet terbang dan berada di depan semua murid yang sudah baris dengan rapi.
“ohayou!!”
jawab anak-anak dengan kompak.
“Ah
iya, Ruki selamat datang ya, maaf kemarin aku tidak masuk..aku sedang ada rapat
dewan guru dulu..” kata Amano dengan ramah.
“iie,
daijyobu..yoroshiku..” kata Ruki. Amano senyum dan kemudian dia membuka buku
pelajarannya.
“ok,
untuk hari ini tidak ada kelas sihir..kita akan meninggalkan yang namanya
sihir. Kalian harus bisa kuat tanpa sihir suatu hari..maka dari itu, aku akan
melatih ketangkasan tubuh kalian dan kegesitan tubuh kalian jika di serang
sihir saat sihir kalian tidak bisa di gunakan..” jelas Amano. Dan semuanya
saling membisikkan, kecuali Aoi dan Ruki yang diam.
“baiklah,
semua karpet terbangnya kalian simpan, dan berkumpullah di lapangan..gunakan
kaos olahraga yang tipis supaya mempermudah keringat kalian menjadi kering..”
suruh Amano kemudian dia merendahkan posisinya ke dasar lantai dan turun dari
karpet terbangnya dan menghilangkan karpetnya. Semuanya mengikuti jejak Amano
dan mereka pun menuju ruang ganti baju yang sudah di sediakan di lantai bawah.
Ruki
sekarang menemukan teman pertamanya, Shou dan sekarang mereka bersama-sama
menuju ruangan itu. aoi mendahului Ruki dan pundak Ruki sepertinya di sengaja
Aoi di tabrak dari belakang.
“ups,
sory..” ucap Aoi menoleh ke belakang sambil berjalan ke depan. Tawanya licik
itu tidak bersuara namun ini membuat Shou langsung memegangi tubuh Ruki takut
jatuh karena tubuh Ruki buntet eh mungil *LOL*
“kau
tidak apa-apa?” seru Shou. Ruki mengangguk dan diam.
Ini
adalah awalan Ruki mendapatkan serangan dari Aoi. Namun ia harus bersabar, dia
teringat kata-kata Gakuto saat pengusiran aura hitamnya,
“jagalah kestabilan emosimu, jangan sampai
pada batasnya..kekuatan itu akan muncul..dan membahayakan dirimu juga yang kau
serang..” kata Gakuto saat itu. mengingat itu Ruki memilih untuk menerima
rasa sakit pundaknya yang sekilas daripada meributkan hal yang tidak penting
itu. dan semua siswa sepertinya menyadari itu,
“tenanglah,
semua akan berpihak padamu kok..” kata Shou menenangkan Ruki. Ruki tersenyum
dan berjalan kembali.
Sampai
di ruangan sepertinya Aoi ganti baju dengan kilat dan menuju lapangan
sendirian. Yah, semenjak Reita mengeluarkan rule bahwa Aoi harus turun kelas
menjadikan Aoi sedikit liar dan berantakan sikapnya. Tidak ada yang dapat
melawannya, kecuali Uruha yang dekat dengannya yang dapat membentak atau
memarahi Aoi sehingga Aoi terdiam, entah ada apa *hayooo mikirnya apaan XDDD*.
---------------------------------------------------------------------------------------------//
Semua
siswa berkumpul di lapangan dan kemudian Amano sensei sudah datang dengan
membawa papan berjalan yang isinya daftar absen kelas level 1 dan peluitnya
yang menggantung di lehernya. Ruki melirik dan melihat Aoi sedang merenggangkan
beberapa tubuhnya yang kurus.
“eto~
aku akan membuat kelompok untuk lari mengelilingi gedung ini dan juga dari
tangga satu sampai tangga paling atas dan kemudian balik lagi ke bawah..” kata
Amano.
“HEEEHHH!!!
Itu menyiksa namanya!!” seru Ryouga dari belakang Ruki. Kemudian di susul
berbagai dumelan(?) dari siswa yang lain.
“tenanglah,
aku tidak akan memberikan timer untuk
kalian mengelilingi gedung ini dan juga naik tangga~” kata Amano melambaikan
sebuah timer yang selalu dia gunakan.
“baiklah
aku akan umumkan, setelah di umumkan kalian berkumpul ya..” kata Amano.
“kelompok
pertama, Shou,Ryouga,Ruki,Aoi dan Shin..” sebut Amano dan ini membuat semua
siswa tertuju pada Ruki dan bergantian melirik Aoi. Kemudian Ruki dengan
kalemnya mendatangi Aoi dan juga yang lainnya.
“tidak
ku sangka kita sekelompok..” kata Aoi dengan tampang sok-nya tanpa menoleh pada
Ruki dan lebih memilih merenggangkan tubuhnya. Shou dan yang lainnya hanya
menghela nafas melihat tingkahnya Aoi yang sudah tidak asing lagi.
“yoroshiku..”
Ruki malah menjawab itu dengan kalem dan juga tanpa menoleh padanya. Dan ini
membuat Aoi menoleh dengan tatapan tajamnya.
“kelompok
pertama siap??” Amano menempelkan peluitnya di bibir tipisnya yang memikat
semua siswa *masa?*. kelompok Ruki mengangguk dan kemudian peluit itu di
bunyikan dan mereka berlima berlari dengan tertib. Aoi berada di depan,
kemudian di susul Ryouga, Shin dan Shou terakhir Ruki. Ruki berlari dengan
santai, namun sepertinya Aoi tidak ingin bersama dengan mereka dan memilih
mempercepat larinya meninggalkan mereka dalam hitungan menit.
“Aoi
itu, memang seperti itu?” tanya Ruki yang jogging santai menghampiri Shou di
depannya.
“ah,
iya semenjak dia turun kelas..” jawab Shou.
“apa
dia menaruh dendam dengan Reita karena sudah menurunkan kelas levelnya?” pikir
Ruki.
“sejahat-jahatnya
Aoi, dia tidak akan menyimpan dendam. Dia hanya mencuekkan(?) Reita apabila
bertemu. Atau Reita sedang melakukan apapun. Lagipula itu kesalahannya dan
banyak yang menyalahkan atas perbuatannya..” timpal Shin yang memperlambat
tempo larinya supaya beriringan dengan Shou juga Ruki. Dan Ruki sekarang di
apit Shou dan Ryouga *enaknya*.
“memang
dia melakukan apa sampai dia turun kelas dan Reita turun tangan menanganinya.
Berarti ini masalah serius donk?” kira Ruki. Secara tidak langsung dengan wajah
polosnya, Ruki mencari tahu tentang keadaan ke empat ketua itu di sekolah ini.
Dan bodohnya yang lainnya menjelaskan detail pada Ruki *duh!*
“sebelum
ujian aku nyaris menjadi saksi matanya, saat itu aku melihat Aoi sedang
bermain-main sihir api nya di ruangan kosong. Kemudian seseorang lewat dan
melihat Aoi bermain-main begitu. Aoi kemudian iseng menembakkan sihir api nya
kepada siswa itu dan ternyata siswa itu tidak terima dengan maksud
bercandaannya Aoi. Kemudian siswa itu malah mengeluarkan sihirnya dan mereka
pun bertengkar hebat di udara dan ini menjadikan semua siswa mengamati apa yang
terjadi di langit sampai Reita yang menyaksikannya memisahkan mereka berdua
dengan sihirnya..” kata Ryouga yang memperlambat joggingnya menjadi berjalan
santai. *yayalah njelasin panjang begitu kok sambil jogging, pengap donk*
“lalu?”
Ruki masih kepo.
“aku
membawa siswa itu ke ruang kesehatan dengan luka lebam di sekujur tubuhnya tapi
tidak parah sih..sementara Aoi di sidang di depan Gakuto-sama dan Reita
menjatuhkan vonis(?) kalau Aoi turun kelas, menurut yang ku dengar Aoi membela
diri karena siswa itu sempat mengoloknya kalau dia adalah anak sebatang kara
yang di tinggal orangtuanya sejak kecil..mungkin itu menjadi emosi tinggi bagi
Aoi makanya dia adu duel dengan siswa itu..” lanjut Ryouga.
“dan
sekarang perubahan drastis sekali, dia sering menghindari yang nama
bersosialisasi dan lebih senang sendiri. Padahal dulunya dia selalu berkumpul
dengan kami dan selalu iseng, nah sekarang isengnya malah parah.. Aoi juga
mandiri sekali dan sebisa mungkin dia bisa di antara yang lain..” tambah Shin.
Mendengar itu Ruki menjadi kasihan dengan keadaan Aoi saat ini.
“dia
kesepian ya sepertinya..” kata Ruki.
“tapi
dia dekat dengan Uruha yang sifatnya hampir sama dengan Aoi bedanya Uruha jadi
jarang senyum bahkan tidak sama sekali bicara dengan siapapun, hanya seperlunya
saja..” kata Shin.
“dekat
bagaimana?” kata Ruki bingung.
“entahlah
yang kami lihat Aoi hanya bisa bersama Uruha seorang dan sebaliknya..Uruha juga
punya masa lalu kelam dengan Kai..” sela Shou.
“Kai?
Kelas level 4 itu?” kata Ruki. Semuanya menggangguk.
“dulu
Uruha dan Kai itu satu kelas dan paling kompak mengerjakan pelajaran yang di
berikan Amano-sensei, namun karena ujian akhir sihir 2 tahun lalu semuanya jadi
berubah..” kata Ryouga.
“kenapa?
Apa yang terjadi?” Ruki terus mengulik.
“saat
ujian akhir kenaikan kelas level 2, semua siswa di wajibkan memusnahkan satu
monster besar yang sepertinya lebih ke burung elang yang ganas. Saat itu Kai
dulu yang maju untuk memusnahkan monster tersebut dengan menggunakan kekuatan
air yang sudah di pelajari sebelumnya. Namun Uruha terkejut karena cara Kai
memusnahkannya monster itu adalah caranya. Karena sebelumnya mereka berdua
pernah berunding untuk latihan bersama. Dan yang ku dengar, Kai ini sengaja
menghapal cara Uruha dan kemudian Kai menuduh Uruha telah mencuri ilmunya.
Jelas ini membuat Uruha marah, karena dia merasa di khianati teman sendiri. Dan
katanya, sebenarnya kemampuan Uruha itu lebih baik di banding Kai, tapi Kai
tidak ingin Uruha melangkahinya naik kelas jadi dia melakukan hal itu dan
semenjak Kai di tetapkan naik kelas, dia berusaha kelas untuk belajar supaya
dia masuk kelas level 5 dan membuktikan pada Uruha kalau dia lebih baik..”
jelas Ryouga.
“sokka..sayang
sekali..sepertinya di sekolah sihir ini ketat sekali persaingannya..” Ruki
merasa down duluan.
“tidak
semuanya begitu hanya mereka berempat saja yang bermasalah dan beruntungnya
karena permasalahan rumit yang saling berhubungan itu membuat mereka menjadi
ketua masing-masing kelas level..” pikir Shou.
“yah
begitulah yang bisa kami jelaskan padamu, jadi jangan kaget kalau mereka
berempat tiba-tiba berkumpul dan suasana atmosfirnya berbeda~” kira Shin
merangkul Ruki dengan hangat. Ruki mengangguk mengerti sambil masih memikirkan
mereka berempat.
---------------------------------------------------------------------------------------------//
Ternyata
Aoi sudah sampai di lantai bawah setelah dia sudah menaiki sampai anak tangga
paling atas. Nafasnya di atur karena dia terlalu memaksakan diri untuk naik
turun anak tangga segitu banyaknya. Dia teringat dengan ocehan siswa yang
membuatnya turun kelas waktu itu.
“sikapmu ini seperti tidak di asuh orangtua
yang benar..oh ya, orangtua? Punya darimana kau? jangan-jangan kau ini hasil
hubungan yang tidak di inginkan sampai di buang begitu saja..” kata-kata
itu sangat terngiang di kepala Aoi. Dan dia menyandar di dinding dan memejamkan
matanya. Seakan dia ingin melupakannya namun sulit sekali untuk move on. Di
antara banjir keringat di wajahnya, Aoi sebenarnya meneteskan airmatanya.
Kemudian dia menyeka dengan tangannya kemudian dia masuk ke dalam parkiran sapu
terbang dan menemukan milik Ruki. Entahlah mungkin ini obat untuk menghilangkan
masa lalunya dengan keisengannya. Dia sengaja mengambi sapu terbangnya Ruki
kemudian dengan sihirnya dia mematahkan sapu terbang itu menjadi dua di
tangannya. Aoi tertawa kecil kemudian dia membuangnya ke sembarangan tempat dan
dia berjalan keluar menuju lapangan sekolah.
“semuanya
hanya bisa ku permainkan.. seperti mereka yang mempermainkan hidupku..” ucapnya
dengan berjalan dengan pandangan yang menyedihkan.
Saat
itu, saat Aoi mau melewati anak tangga, dia melihat Ruki sedang menuruni anak
tangga dengan pelan-pelan. Aoi dan Ruki pun saling berpandangan sejenak.
Kemudian Aoi meninggalkan Ruki di anak tangga itu, namun sesaat kemudian Ruki
terpeleset dan dia jatuh tepat sampai bawah anak tangga dengan tubuh kecilnya
yang terpontang-panting.
“Ahhh!!!it-tteee...”
seru Ruki langsung meringkuk kesakitan dengan dahi yang sedikit berdarah karena
mungkin kena benturan. Aoi menoleh ke belakang dan melihat itu. Aoi terkejut
dan segera menghampirinya. Namun baru beberap langkah, Aoi terhenti dan
teringat sesuatu.
“tidak ada yang akan menolongmu setelah
kejadian ini..kau sangat menyedihkan dan kesepian..” perkataan siswa itu
terngiang kembali. Dan Aoi ingat betul dia mendadak di jauhi setelah kejadian
duel dengan siswa itu. dia sendiri dan sampai sekarang..
Ruki
yang meringkuk kesakitan pun tidak bisa merubah hati Aoi yang benar-benar
sakit. Dia malah mengepalkan tangannya dengan kuat-kuat. Kemudian dengan
tatapan benci, dia membalikkan badannya dan meninggalkan Ruki yang meringkuk
itu.
“tasukete...”
rintih Ruki benar-benar kesakitan. Namun
ternyata beberapa menit kemudian ketika Aoi sudah menghilang entah kemana,
Uruha mendapati Ruki yang tengah meringkuk.
“astaga!”
---------------------------------------------------------------------------------------------//
“arigatou..”
ucap Ruki ketika Reita sedang memainkan perban ke bagian bawah sikunya karena
ada beberapa luka benturan. Dan dahinya juga di tempeli plester putih. Dan
sekarang Ruki persis seperti pasien korban tabrak lari *lha?*. uruha sendiri
sedang menyandar di pintu UKS sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku
celana seragamnya. Dan memandang Ruki dengan tatapan dingin khasnya.
“nanti
pulangnya aku akan antarkan, bagaimana?” kata Reita menawarkan jasa dirinya
*maksud??*.
“jangan,
nanti merepotkan..aku akan- erghhh...” Ruki menahan sakit di dahinya yang
sekarang mendadak senut-senut tidak karuan.
“daijyobu
ini sudah tugasku, kok..” Reita tersenyum pada Ruki. Kemudian Uruha berniat
meninggalkan mereka.
“tunggu!!”
seru Ruki yang melihatnya dan membuat langkah Uruha terhenti dan menengok ke
arah mereka.
“arigatou~
sudah mau menolongku..ternyata kau orang baik ya~” kata Ruki tersenyum manis
dan membuat Uruha mendesis melihat itu dan memicingkan pandangannya.
“aku
tidak merasa menolongmu, hanya kebetulan! OK!” kata Uruha kemudian dia berbalik
badan dan wajahnya memerah setelah berbalik badan dan berjalan menuju kelasnya.
Reita juga tertawa sedikit melihat sikap Uruha.
“jarang-jarang
dia begitu, kau punya sihir pelet ya? Uruha mendadak jadi begitu..” kata Reita
iseng.
“enak
saja! Itu murni dari hatinya..dia mengangkat tubuhku sampai ke sini..rasanya
memang aneh juga..dia tipe yang dingin..” jelas Ruki.
---------------------------------------------------------------------------------------------//
Pelajaran
olahraga berakhir dengan Ruki yang jatuh dari tangga sekarang Ruki di kerumuni
teman-temannya di kelas.
“kau
tidak apa-apa?” Shou khawatir melihat itu. Ruki menggeleng dan senyum.
“kau
ini anak yang kuat sekali..” puji Ryouga.
Namun
belum beres masalah Ruki jatuh dari tangga, seorang siswa lain datang
terburu-buru ke kelas dan nafas tidak teratur.
“Ruki,
sapu terbangmu patah! Dan itu terlempar sembarangan begitu saja!” seru anak itu
dan ini membuat Ruki langsung menuju parkiran sapu terbang.
“coda~~”
Ruki merasa ingin menjerit menangis, ketika sapu terbang pertamanya yang sudah
dia beri namai coda patah menjadi dua dan tergeletak seperti sapu rongsokan.
Ruki memungut itu dengan tangisan airmatanya.
“siapa
yang melakukan ini?” Ruki memegang sapunya dengan perasaan sedih sekali.
kemudian dia teringat saat ia akan menuruni anak tangga, dia bertemu dengan Aoi
yang sepertinya dari arah pintu parkiran sapu terbang. Ruki menaruh curiga
besar terhadapnya. Tapi Ruki pernah melakukan apa sampai Aoi melakukan ini
padanya? Kenal saja tidak, kenapa jadi bahan bully-an begini?
Kemudian
Ruki memegangi kedua sapunya yang patah
itu dengan erat dan di rentangkan ke depan. Dia memejamkan matanya membiarkan
wajahnya basah karena airmatanya. Kemudian dia mengucapkan mantra dalam
hatinya. Keluarlah cahaya kuning keemasan beserta glitter sama seperti pertama
kali Ruki memberinya nama Coda tadi malam. Bedanya ini sedikit redup cahayanya
dan Ruki membuka matanya. Dan di lihatnya Coda masih terbelah dua dan Ruki pun
kembali menangisi *uh lucu kayanya XDa*
“Aoi
tidak bisa aku maafkan..” ucap Ruki. Kemudian bola matanya berubah menjadi
merah menyala dan aura sekitar tubuhnya juga menjadi merah juga.
---------------------------------------------------------------------------------------------//
“kenapa
kau memanggilku ke ruangan kosong ini?”
Aoi
bingung ketika dia berhadapan dengan Ruki dan
jaraknya sedikit jauh di antara mereka. Ruki kali ini tidak main-main,
bola matanya kembali menghitam namun auranya berbeda dari tadi. Aoi juga
merasakan sebuah aura kekuatan besar sedang menyelimuti tubuhnya Ruki. Aoi
tidak tahu apa maunya, jadi membiarkan dia berhadapannya.
“usai
ini, kau mau melakukan apa lagi?” kata Ruki bertanya dingin.
“melakukan
apa? Pertanyaanmu aneh tahu..”kata Aoi mengacuhkannya.
“kau
selalu melakukan hal ini supaya kau tidak kesepian,kan? Dan mendapatkan
perhatian lebih??” seru Ruki yang sedang menahan emosinya. Aoi membuka matanya
lebar mendengar itu dan mendadak dadanya menyesak mendengar itu.
“aku
sudah tahu ceritamu di sekolah ini bagaimana..kau ini kesepian Aoi..”
“CUKUP!
Tahu apa kau tentang diriku?!”
“kau butuh teman untuk saling berbagi, tapi nyatanya kau terlanjur sakit hati karena siswa yang membuatmu jadi turun kelas. dan kau menjadi liar dan semaumu melakukan apa..tidak kah kau berfikir kalau kau kesepian?” jelas Ruki. Ini membuat Aoi mengepalkan tangannya. Kesal.
“kau butuh teman untuk saling berbagi, tapi nyatanya kau terlanjur sakit hati karena siswa yang membuatmu jadi turun kelas. dan kau menjadi liar dan semaumu melakukan apa..tidak kah kau berfikir kalau kau kesepian?” jelas Ruki. Ini membuat Aoi mengepalkan tangannya. Kesal.
“sampai
kapanpun kau tidak akan puas melakukan hal ini terhadap siapapun! Kau akan
semakin kesepian!” seru Ruki sudah mulai melepas emosinya.
“kau
tahu apa? Yang merasakan itu AKU bukan KAU!” seru Aoi dengan mata
berapi-api(?).
“aku
merasakannya! Aku juga penyendiri sama sepertimu, bahkan aku tidak punya teman
satu pun. Dan Shou adalah teman pertamaku dalan hidupku. Tapi kau membalas
kesepian itu dengan tingkahmu yang meresahkan!”
“ocehanmu
tidak berguna, aku malas mendengarnya..” kata Aoi sambil berbalik badan.
“tunggu,
masalahnya bukan di situ saja..” mata Ruki mendadak menjadi merah dan aura
merah itu kembali menyelimutinya. Saat Aoi berbalik badan dia kaget dengan
keadaan Ruki yang anak polos sekarang sorot matanya bagaikan seorang hunter
yang ingin memangsa.
“aku
tidak bisa maafkan kau karena sudah mematahkan sapu yang baru ku dapatkan
kemarin..” kata Ruki mengepalkan tangannya. Dalam kepalan itu ada cahaya di
sekitar kepalan tangannya berwarna merah membara dan ini membuat Aoi semakin
terkejut.
“aku
tidak akan segan-segan membalikkan apa yang kau lakukan padaku..” ucap Ruki
seraya mengulurkan tangannya yang mengepal itu ke depan. Dan dia membuka
telapak tangannya dan merenggangkannya sehingga terbuka lebar. Bulatan bola
cahaya berwarna putih ke merahan membuat Aoi bingung apa yang mau di lakukan
oleh Ruki.
“kau
tahu? Gakuto-sama mengatakan aku ini tidak boleh membiarkan emosiku sampai
tingkat paling atas..kekuatanku bisa menghancurkan sekolah ini bahkan semua
nyawa melayang..” kata Ruki dengan mimik wajah yang berubah sadis mengatakan
itu.
“rasakan
ini!!” Ruki menembakkan cahaya itu ke arah Aoi dengan segera.
“TIDAK!!”
seseorang melepaskan panah busur dari samping dan panah itu menancap di lengan
kanan Ruki dan cahaya yang hampir menyerang Aoi itu hilang seketika ketika
panahnya menancap di lengannya. Ruki pun seketika pingsan dan lemas tidak
berdaya. Aoi yang melihat itu benar-benar kaget. Dia bahkan tidak bisa berkedip
sedikit pun melihat amarah Ruki kemudian kekuatan yang Ruki katakan.
---------------------------------------------------------------------------------------------//
No comments:
Post a Comment