Title :: Caffeine -苦い、甘い恋-
Author :: Ikki
Kamiya -Ruru-
Genre ::
rumit (?) *plak!
Chapter:: 1/?
******************
Ruki’s POV~
Kalian suka baca
komik romance, kan? Biasanya tentang siswa terkenal di sekolahnya kemudian
seorang siswi tertarik padanya dan
mengalami pengalaman cinta yang tidak terlupakan..
Atau tentang adik
kelas yang menyukai kakak kelasnya yang seorang dewan murid yang nyaris tampan
di gandrungi semua siswi. Mungkin juga seorang siswa dan siswi yang tidak
pernah akur kemudian tumbuh benih-benih cinta di sela kebencian mereka..
Yap, aku Ruki kelas
3-A yang sosokku kecil mungil. Aku juga sedang mengalami apa yang aku jelaskan
di atas lho,hehehe...
Di sekolahku ada
ketua Dewan Murid bernama Aoi yang berkarisma, dan wakil ketuanya ada Reita
yang menurutku dia tampan namun yah, biasa saja..tidak ada yang istimewa
darinya di banding Aoi yang selalu tebar pesona ingin di puji satu sekolah. Aku
mulai melirik wakilnya ini semenjak dia gabung dengan club theater dan
mendapatkan peran sebagai pemimpin kerajaan dalam suatu cerita. Waktu itu aku
menonton terpaksa karena ujian bahasa perancisku nilainya anjlok, dan sensei
menugaskan padaku untuk menonton drama tersebut dan meringkasnya. Sungguh tugas
yang menyebalkan bukan? Namun di sisi lain setelah ‘hukuman’ itu aku bersyukur.
Bisa di pertemukan dengan wakil dewan ketua yang membuatku penasaran setengah
mati.
Singkatnya, aku
penasaran dengan pribadinya yang tidak begitu mencolok dengan kebanyakan siswa
lain.
Mulanya kedekatanku
dengan ‘wakil’ itu, ketika pulang sekolah aku menyempatkan untuk berbincang
santai dengannya. Yah, aku memang kenal dan kadang saling say-hi jika di pagi
hari masuk sekolah. Selebihnya kami tidak banyak bercakap, karena kami beda
kelas. Dia kelas 3-E yang jaraknya jauh dan jarang sekali bertemu. Makanya di
kesempatan itu aku menghampirinya. Kebetulan dia sedang bosan dengan suasana
sekolah. Kami sepakat pergi ke suatu tempat. Seharian itu kami menghabiskan
waktu.
Semenjak itu,
setelah bertukar nomor telpon, email, akun facebook dan berbagai situs media
yang kami punya, kami saling berbagi dan menjadikan kami..semakin dekat..
******************
Dan kalian tahu? Di
setiap komik,siswi yang mengagumi seorang siswa akan duduk di pojok sebelah
kiri dekat jendela. Hahaha dan aku melakukannya! Kenapa? Karena kaca jendela
ini mengarah ke sebuah lapangan olahraga. Aku tau persis jadwal pelajarannya
karena kami saling memberitahu.
Hari ini, hari
kamis. Aku duduk manis di meja dan mengarah ke jendela melihat pemandangan
kelas 3-E sedang olahraga. Dan kalian tahu? Yang ku perhatikan itu Reita! Siswa
biasa yang tidak banyak tingkah. Dia seperti yang lainnya. Tapi entah lah,
orang ini membuatku bisa tersenyum sendiri kalau sedang memerhatikannya..
“hayoooo...”
Suara itu
mengagetkanku, karena Uruha sahabatku tiba-tiba ada di sampingku sambil
memerhatikan apa yang aku perhatikan saat ini.
“kau ini..”
kesalku.
“sepertinya tidak
ada yang menarik di lapangan itu. Hanya sekumpulan siswa yang sedang bermain
bola..” ujar Uruha sambil mengulum permen lolinya dengan cuek.
“tutup mulutmu.”
Singkatku ingin ku diami saja bocah ini.
“ah, iya..
lapangannya jadi bercahaya di matamu..” kata Uruha sambil menyenggol lenganku
dengan lengannya.
“apa sih?” kilahku.
“tanyakan saja pada
yang bernama... re-i-ta....” kata Uruha jahil kemudian dia lari di situ. Takut
kena pukulan mautku.
“sialan kau! Tunggu
aku!”
Yah, sahabatku
Uruha. Sahabat dari jaman kecil. Kami terus bersama. Beruntungnya selalu satu
sekolah.. dan dia mengetahui kedekatanku dengan Reita. Aku tak pernah
mengakuinya. Tapi jujur memang aku belum mengakui kedekatan maupun perasaanku.
Karena ini belum ‘jadi’....
Ruki’s POV end~
******************
Hari ini club
theater berkumpul di cafe sekolah untuk merayakan kemenangan mereka atas lomba
antar SMA minggu lalu. Mereka berkumpul di satu meja dan mereka sedang menunggu
Reita dan juga ketua dewan murid, Aoi.
Uruha dan Reita
datang ke cafe itu dan duduk di ujung cafe tersebut. Mata Reita tak lepas
memandang satu-satu anak-anak club theater tersebut. Kemudian mereka duduk
berhadapan dan mereka memandang anak-anak tersebut.
“si noseband tidak
ikut kumpul?” kata Uruha pelan sambil menundukkan kepalanya.
“entahlah.., aku
pikir dia- ah! Itu dia! Dengan Aoi datang!!” kata Ruki mengikuti gaya Uruha,
menunduk dan berbicara pelan. Mata mereka berdua langsung tertuju pada Reita
yang di soraki teman satu clubnya.
Kedatangan Reita
dan Aoi membuat Ruki dan Uruha benar-benar intens memandang. Kemudian mereka
bersulang minuman karena keberhasilan mereka..
“kuso! Hanya kita
berdua yang duduk di sini.. yang lainnya di kuasai mereka..” kata Ruki baru
menyadari.
“tidak apa,
setidaknya kau kenyang memandang Rei-mu dari jarak dekat..” jelas Uru dengan
cuek.
“pelankan suaramu,
baka!” kata Ruki sambil menepuk kepala Uru dengan menahan malu.
Uruha hanya
terkekeh melihat Ruki serba bingung antara meninggalkan cafe atau tetap ‘stay’
di sini untuk sekedar memandang Reita-nya itu..
******************
“huft...”
Reita menghela
nafas kemudian dia membereskan beberapa property drama untuk di simpan di
lemari yang ada di sebelahnya. Usai membereskan, dia kembali duduk dan matanya
tidak sengaja melihat dua buah tiket taman hiburan yang tergeletak begitu saja.
“ini hadiahnya spesial, tapi seperti
kekanak-kanakan hahaha.. aku punya beberapa tiket couple..gunakanlah dengan
pasanganmu..”
Reita termenung,
mengingat Aoi membagikan tiket hiburan itu.
“couple? Siapa?”
bingung Reita sambil berpikir.
Tuutttttt
tuttttttt..
“moshi-moshi..”
Ruki mengangkat teleponnya ketika ia pulang sekolah bersama Uruha dan berjalan
di pinggiran kota yang ramai.
“ano, kau sibuk?”
tanya Reita sambil memegang dua tiket itu.
“ah, tidak. Hanya
pulang bersama dengan Uruha..” kata Ruki. Sontak Uruha menduga yang menelpon
adalah Reita. Kemudian Uruha memerhatikan Ruki sambil berjalan bersama.
“nanti malam ada
acara?” tanya Reita dengan kalem.
“tidak. Kenapa?”
jawab Ruki.
“aku punya dua buah
tiket acara hiburan, dan aku bingung mau pergi dengan siapa.. makanya aku mengajakmu..
tidak apa-apa,kan..?” kata Reita. Membuat langkah Ruki terhenti, jantungnya
seperti melompat tinggi.
“bo-boleh, jam
berapa?”
“jam tujuh di taman biasa kita janjian, ya?”
“un~ hai~” Ruki
mengangguk kemudian menutup teleponnya.
“kenapa? Kenapa?
Kenapa?” Uruha antusias ingin tahu.
“dia mengajakku ke
acara hiburan malam ini..” jawabnya santai.
“nani?! Kalian mau
pergi berduaan nanti malam?!” Uruha kaget.
“bukannya aku sudah
sering pergi berduaan dengan dia? Dan kau juga tahu, kan?”
“tapi kali ini
berbeda Ruki...”
“apanya yang
berbeda?”
“kalau kalian mau
pergi bersama, kalian akan bertemu pulang sekolah dan membicarakannya, kan?
Tapi ini baru pertama kalinya semenjak kau dekat dengannya kau di ajak ke taman
hiburan olehnya secara pribadi, bahkan dia menelponmu.. artinya mungkin saat
itu dia hanya memikirkanmu sehingga dia hanya bisa berbicara terus terang dan
mengajakmu..”
Penjelasan Uruha
ada benarnya juga, Ruki kembali terdiam. Dia malah terlihat sedih.
“kita mampir ke
cafe itu yuk.. aku yang traktir..” kata Uruha.
Mereka pun mampir
ke sebuah cafe yang ada di sebrang jalan. Mereka duduk berdua berhadapan sambil
mengaduk minuman mereka masing-masing.
“sebenarnya kau ini
kenapa, Ruki?” tanya Uruha bingung.
“kenapa apanya?”
Ruki bingung.
“hubunganmu dengan
Reita maksudku..” kemudian Uruha meneguk minumannya.
“hubungan? Seperti
yang kau lihat saja..” kata Ruki cuek kemudian ikutan meneguk minuman.
“aku tidak percaya,
selama kalian dekat kalian tidak mempunyai perasaan masing-masing, yah kau
paham maksudku, kan?”. Ruki kembali terdiam memandang Uruha sebentar, kemudian
kembali mengaduk minumannya dengan sedih.
“kau punya
unek-unek dalam hati, kan?” tebak Uruha. Ruki masih terdiam.
“berapa lama sih
kita ini bersahabat? Haruskah aku menghitung waktu dimana kita selalu
bersama?yah, aku tahu.. sedekatnya kita,
untuk masalah pribadi kita sama-sama tertutup.. tapi, apa itu akan membaik?”
pikir Uruha. Ruki kembali memandang Uruha lumayan lama..
“aku bingung Uru..”
jujur Ruki dengan sedih.
“kenapa? Ceritalah,
aku kan ada untukmu Ruki..” jelas Uruha tersenyum.
“aku duduk di
sebelahmu ya..” kemudian Ruki pindah tempat duduk. Uru mengangguk.
Kemudian Ruki
membuka ponsel flipnya, dia memperlihatkan foto mesranya dengan Reita. Dengan
pose dimana Ruki sedang di rangkul dekat tangan Reita. Mereka foto di saat
bunga sakura bermekaran. Dan itu terlihat indah sekali.
“ini foto kapan?”
tanya Uru.
“ini waktu sakura
berguguran. Dia bilang, dia senang bisa memliki foto bersama orang yang ia
sayangi ketika tepat bunga sakura berguguran. Dan aku bingung.. kenapa sampai
sekarang dia tidak menyatakan perasaannya kalau dia memang sayang padaku?” kata
Ruki hampir menimbun air mata.
“jadi ini alasanmu
kenapa kau tidak mau mengakui kalau kau suka padanya?”
“heh?” Ruki
tercengang.
“karena Reita belum
menembakmu, kau tidak akan pernah mengatakan suka karena menurutmu, jika
mengatakan suka sebelum menembak adalah harapan kosong. Jadi lebih baik tidak
mengakui dan tidak membebani hatimu. Ya, kan?”. Ruki termenung, Uru bisa
menebak keganjalan Ruki selama ini.
“terus menurutmu,
aku harus bagaimana?” kata Ruki merengek.
“datanglah bertemu
dengannya. Lihat gerak-geriknya padamu. Kalau dia mencuri-curi kesempatan,
katakan kalau kalian belum ada hubungan, mungkin dia akan mengatakannya..” kata
Uru senyum.
“Uruuu..” kata Ruki
mau menangis.
“itu gunanya
sahabat Ruki, aku tidak hanya di butuhkan saat berbagi kebahagiaan, tapi aku di
perlukan saat kau merasa sedih..” kata Uru. Ruki langsung memeluk sahabat dari
kecilnya itu.
“percayalah, Reita
hanya butuh waktu agar semuanya tepat dan tidak tergesa-gesa..”. dalam pelukan
itu Uruha mengacak2 rambut halus Ruki dan Ruki tersenyum.
******************
Uruha merebahkan
tubuhnya di atas ranjang kamarnya. Dia menatap langit-langit dan menghela nafas
pendek. Kemudian dia sejenak berpikir..
“kalau Ruki
berpacaran dengan Reita, apa aku akan di lupakan?” kata Uruha pelan. Kemudian
dia mendapatkan email masuk ke ponselnya. Dia membuka ponselnya dan melihat
pesan tersebut.
“arigatou,
Uru-nii.. kau selamanya sahabatku. Ah tidak, kau adalah kakakku yang sangat
baik!”
Uru tersenyum
membacanya dan kemudian dia menyimpan kembali ponselnya di sebelah kepalanya.
“tidak, dia tidak
akan melupakanku. Selamanya...” ucap Uruha.
******************
Malam itu, memang
dingin. Tapi, Ruki sudah mempersiapkan semuanya. Dia memakai jaket tebal
berwarna merah dan juga syal merah. Yah, Ruki fanatik warna merah. Dia sedang
berdiri di depan lampu lalu lintas perempatan jalan. Walaupun janjiannya di
taman kota, Ruki tidak pergi ke sana. Dia memilih untuk menunggunya di jalan
akses ini. Karena bagaimana pun, Reita akan melewati jalan ini untuk menuju
taman tersebut. Tak lama, seorang lelaki berpostur tubuh pas, dan memakai jaket
tebal berwarna putih itu menyebrang dan tersenyum ke arah Ruki.
“kenapa menunggu di
sini?” kata Reita dengan senyum bingung.
“di sana ramai, aku
takut susah mencarimu..” jawab Ruki santai. Reita hanya mengacak-ngacak rambut
Ruki dengan tersenyum manis. Membuat Ruki terdiam dan tidak menatap mata Reita.
“ikou..” Reita
menggandeng tangan Ruki.
Percayalah, ini
adalah pertama kalinya selama mereka berjalan berdua, mereka berpegangan
tangan. Hati Ruki bagai ingin melompat dan berteriak kencang. Namun itu semua
hanya bisa tersendat dalam hatinya sekarang. Dia menikmati tangan Reita yang
hangat bagai syal yang menutupi lehernya itu.
Mereka menuju
sebuah panggung konser yang megah yang di
adakan di tengah taman kota. Sayang, jumlah penontonnya meledak. Reita
kebingungan karena tidak mungkin mereka berdesakkan untuk maju ke depan.
Kemudian mereka hanya bisa terdiam melihat sekeliling mereka..
“bagaimana ini?”
kata Ruki bingung.
“sayang kalau
tiketnya tidak di gunakan..tapi melihat situasinya tidak mungkin kita nonton
paling depan..” kira Ruki. Kemudian mata Reita menatap sebuah bianglala yang
sedang beputar. Dia melihat pula hamparan langit yang indah di hiasi bintang.
“aku punya ide.”
Kata Reita kemudian mengajak Ruki ke suatu tempat.
“eh?”
Mereka menuju pintu
masuk bianglala itu. Kemudian mereka masuk dan duduk saling berhadapan. Ruki
masih tidak mengert maksudnya. Hanya saja Ruki melihat Reita tersenyum bahagia
melihat pemandangan luar sana.
“maksudmu membawamu
ke sini..?” tanya Ruki.
“kau tidak lihat
pemandangan di luar sana? Hamparan bintang di langit dan corak cahaya di bawah
sana..panggung gemerlap itu indah jika kita lihat dari sini..” kata Reita.
Benar, Ruki baru
menyadari semua kesempurnaan malam ini. Di tambah hanya berdua di bianglala.
Kemudian Ruki melihat keluar sana sambil tersenyum.
Beberapa saat,
Reita menggenggam tangan Ruki. Ruki kaget dan memandang Reita dengan bingung.
“aku boleh jujur?”
kata Reita polos.
“a-apa?” Ruki
gugup.
“aku bolehkan
memilikimu? Dan jadi pendamping suka dan sedih?” pinta Reita. Ruki membulatkan
matanya. Dia seperti ingin terjun dari bianglala ini sambil berteriak girang.
“buktinya?” kata
Ruki. Dengan tidak asa2, Reita menarik tangan Ruki dan mendekatkan bibirnya
sampai benar2 menyentuh dengan lembut. Ruki semakin kaget.. dia hanya bisa
terdiam saja..
“daisuki..” kata
Reita memandang Ruki. Ruki pun ikut tersenyum.
******************
Selang 3 bulan,
hubungan mereka sangat lancar. Mereka sangat bahagia menjalani percintaan
mereka. Uruha, hanya bisa ikut bahagia tiap kali Ruki menceritakan hubungannya
dengan Reita yang sangat manis.
Di sekolah, Ruki
dan Reita sering menghabiskan waktu. Entah makan siang, belajar bersama ataupun
mengobrol asyik di suatu tempat. Uruha terkadang mengintip mereka yang sedang
makan bersama di bawah pohon belakang sekolah. Uruha tersenyum, dalam hatinya
ia bahagia melihat sahabatnya menemukan seseorang yang bisa menemaninya setiap
saat. Tapi seiringnya waktu, kebersamaannya dengan Ruki sedikit demi sedikit
berkurang. Yah mungkin hanya perasaannya saja. Uru tidak menganggap masalah
itu. Dia membiarkannya berlalu..
“Uru!”
Seseorang memanggilnya
dari kejauhan. Dan itu adalah Aoi.
“Aoi? Ada apa?” Uru
berhenti dan berbalik badan melihat Aoi berlari ke arahnya.
“vote aku ya, biar
aku jadi pemeran utama drama nanti..hehe..” kata Aoi memberikan selembar
kertas. Uru melihat isi selembaran tersebut dan mengangguk-ngangguk.
“kenapa mengangguk?
Oh, ya ada waktu? Aku ingin makan siang bersamamu..” kata Aoi tersenyum. Uru
hanya bisa terdiam mendengar ajakan Aoi.
“mau ya?” Aoi
sedikit memohon. Kemudian Uru mengangguk tanpa memandang Aoi karena ia berdegup
kencang jantungnya.
******************
Di cafe itu, Aoi
dan Uru menjadi bahan tontonan siswa lainnya. Bagaimana tidak, Aoi sangat di
puja semua siswa dan Aoi memang sangat tampan terlebih dia jarang bersama orang
lain kecuali dengan Reita, wakilnya sendiri. Uru duduk di hadapan Aoi sambil
mengaduk minuman dan menyeruput sedikt demi sedikit. Di mata Aoi yang tajam,
terlihat sekali Uru yang gugup berhadapan dengannya. Dan Aoi suka dengan
kegugupan Uru yang memang natural..
“kau tahu? Sudah
lama aku ingin berduaan denganmu..” kata Aoi terus terang.
“eh?!” Uru kaget
menatap bulat mata Aoi.
“kenapa kau
terkejut? Memang tidak ada yang dekatku sampai sekarang..tapi ku pikir aku
kesepian kalau hanya punya Reita..hehe..” jujur Aoi sambil mengaduk minumannya.
“karena Reita sudah
punya Ruki?” sela Uru. Aoi hanya tersenyum manis.
“tadinya mau ku
jadikan modus. Eh, malah tertebak olehmu..” kata Aoi geleng2 sambil tertawa
kecil.
Uru hanya bisa
senyum kaku melihat tingkah Aoi yang sebenarnya.
“maksudmu?” pikir
Uru.
“aku boleh
mengenalmu lebih jauh?aku ingin mendekatimu..” kata Aoi santai. Kemudian
Uru tidak sengaja Reita masuk ke dalam
cafetaria sekolah dan melihat dia tengah memesan sebuah minuman.
“Uru?” Aoi
membuyarkan pandangan Uru.
“ah, iya?
A-aku..hm...bagaimana ya..apa tidak akan apa2?” Uru sedikit khawatir.
“kau takut
seseorang tidak menyukaimu gara2 kau mendekatiku, kan?” tebak Aoi. Uru semakin
terdiam.
“kalau ada yang
menyentuhmu macam2, aku tak segan2 memberi skors 2 minggu tidak masuk
sekolah..” jelas Aoi. Ini membuat Uru menelan ludahnya.
******************
Ruki celingukan
mencari Uru di depan kelas. Seusai pulang sekolah, Ruki berniat untuk pergi ke
cafe di pinggir kota yang mereka datangi sebelum malamnya Ruki jadian dengan
Reita. Dan dia ingin mengajak Uru untuk sekedar berbincang2. Kemudian, dari
kebanyakan kerumunan siswa, Uru terselip di antaranya sedang berjalan melamun..
“Uru!” Ruki tiba2
menarik tangan Uru ke pinggir. Uru hanya menarik nafasnya lega karena dia
hampir kaget.
“lama sekali keluar
kelasnya? Ayo kita pergi ke cafe.. aku mau traktir kau..” kata Ruki dengan
riang.
“baguslah, aku
sedang ingin pancake strawberry..” kata Uru sambil mengelus perutnya.
“jangan sebut nama
buah setan itu!” kesal Ruki.
“ah manisnya~” Uru
menggoda sambil mencolek dagu Ruki kemudian dia sedikit berjalan cepat
meninggalkan Ruki.
“sialan kau
Uru..awas kau yaaaaaaaa....” kata Ruki mengejarnya.
******************
“selamat makan!”
Uru kemudian melahap pancake strawbery dengan lahapnya. Tinggal Ruki yang
terbengong-bengong melihat Uru yang menggilai makanan manis ini.
“ada apa kau
mengajakku kemari? Pasti mau cerita ya?” pikir Uru mengunyah hingga pipinya
gemuk seperti anak kecil.
“ah, tidak.. aku
Cuma kangen tempat ini.. tempat sebelum aku berhubungan pasti dengan Reita..”
jawab Ruki sambil memandang keluar jendela.
“oh..” Uru kembali
melahap pancakenya.
“ngomong2, kau
sedang dekat Aoi ya?” sela Ruki. Dan Uru langsung tersedak dan bergegas untuk
minum. Ruki ikut panik melihat itu.
“Uru, baik2 saja
??” Ruki khawatir melihatnya.
“tahu darimana?”
tanya Uru curiga.
“sewaktu Reita ke
cafe, ia melihatmu berduaan dengan Aoi lho..” kata Ruki. Uru diam seribu
bahasa, ketika Ruki berkata begitu.
“Reita? Kenapa dia melihatku? Di saat aku
berduaan dengan Aoi?”
“Oy!” Ruki
membuyarkan lamunan Uru.
“ah, tidak juga.
Aku dekat baru tadi saja. Dia memintaku untuk voting dirinya menjadi pemeran
utama drama nanti di festival sekolah..” kata Uru santai.
“Hooo.. tapi
langkah bagus, kan... jarang2 Aoi mendekati seseorang dengan intens begitu..”
pikir Ruki.
“belum tentu.”
Singkat Uru sambil menyeruput jus yang lagi2 rasa strawbery.
“hei, kau jaim
banget deh..” kata Ruki yang menggodanya sambil tersenyum nakal.
“lha, memang
kenyataannya barusan kok apanya yang di jaimkan?” pikir Uru.
“hah,
dasar..lupakanlah..” kata Ruki menyandar pada kursinya.
Drrtttt.. drtttt..
“pesan?” kata Uru
pelan. Dia kemudian melihat ponselnya dan melihat nomor tidak di kenal.
“kenapa?” Ruki
melihat keanehan pada Uru.
“ah, aku ke toilet
dulu ya!”. Uru segera menuju toilet dan dia bersandar pada dinding untuk
membuka pesannya.
“Uru, ini aku Reita. Kau sedang bersama Ruki,
kan? Aku hanya ingin tahu benda kesukaannya apa dan warnanya..sebentar lagi dia
akan ulang tahun. Kau pasti ingat, kan?”
“ulang tahun? Ah
iya sebentar lagi!!” Uru baru menyadarinya. Kemudian dia melihat kembali pesan
itu. Dia masih tidak percaya Reita menghubunginya. Darimana dia tau nomor
ponsel Uru?
******************
Drtttt... drtttt...
“dia suka scarf warna merah, apa kau akan
membelikannya?”
Reita membaca pesan
dari Uru ketika dia sedang tiduran santai di atas sofa ruang tamunya. Reita
sedikit berfikir, kemudian dia membalas pesan tersebut.
“tahu tempat fave nya?”
“ya, aku tahu.Waktu itu dia ingin scarf merah
dengan corak aneh. Tapi menurutku bagus sekali..”
“bisa antarkan aku ke tempat itu? Aku ingin
memberikan kejutan padanya..”
“boleh,kapan?”
“besok sepulang sekolah, bagaimana?”
“oh, baiklah kalau begitu..semoga cuaca
mendukung..^^”
Percakapan singkat
itu membuat Uru terdiam. Antara senang, bingung, aneh dan entahlah semuanya
campur aduk. Dia tidak akan menyangka kalau Reita akan menghubunginya...
******************
No comments:
Post a Comment