Wednesday, March 5, 2014

Caffeine ~1

Title       ::  Caffeine -苦い、甘い-
Author  ::  Ikki Kamiya -Ruru-
Genre   ::  rumit (?) *plak!
Chapter::  1/?

******************

Ruki’s POV~

Kalian suka baca komik romance, kan? Biasanya tentang siswa terkenal di sekolahnya kemudian seorang siswi  tertarik padanya dan mengalami pengalaman cinta yang tidak terlupakan..
Atau tentang adik kelas yang menyukai kakak kelasnya yang seorang dewan murid yang nyaris tampan di gandrungi semua siswi. Mungkin juga seorang siswa dan siswi yang tidak pernah akur kemudian tumbuh benih-benih cinta di sela kebencian mereka..

Yap, aku Ruki kelas 3-A yang sosokku kecil mungil. Aku juga sedang mengalami apa yang aku jelaskan di atas lho,hehehe...

Di sekolahku ada ketua Dewan Murid bernama Aoi yang berkarisma, dan wakil ketuanya ada Reita yang menurutku dia tampan namun yah, biasa saja..tidak ada yang istimewa darinya di banding Aoi yang selalu tebar pesona ingin di puji satu sekolah. Aku mulai melirik wakilnya ini semenjak dia gabung dengan club theater dan mendapatkan peran sebagai pemimpin kerajaan dalam suatu cerita. Waktu itu aku menonton terpaksa karena ujian bahasa perancisku nilainya anjlok, dan sensei menugaskan padaku untuk menonton drama tersebut dan meringkasnya. Sungguh tugas yang menyebalkan bukan? Namun di sisi lain setelah ‘hukuman’ itu aku bersyukur. Bisa di pertemukan dengan wakil dewan ketua yang membuatku penasaran setengah mati.

Singkatnya, aku penasaran dengan pribadinya yang tidak begitu mencolok dengan kebanyakan siswa lain.

Mulanya kedekatanku dengan ‘wakil’ itu, ketika pulang sekolah aku menyempatkan untuk berbincang santai dengannya. Yah, aku memang kenal dan kadang saling say-hi jika di pagi hari masuk sekolah. Selebihnya kami tidak banyak bercakap, karena kami beda kelas. Dia kelas 3-E yang jaraknya jauh dan jarang sekali bertemu. Makanya di kesempatan itu aku menghampirinya. Kebetulan dia sedang bosan dengan suasana sekolah. Kami sepakat pergi ke suatu tempat. Seharian itu kami menghabiskan waktu.

Semenjak itu, setelah bertukar nomor telpon, email, akun facebook dan berbagai situs media yang kami punya, kami saling berbagi dan menjadikan kami..semakin dekat..


******************

Dan kalian tahu? Di setiap komik,siswi yang mengagumi seorang siswa akan duduk di pojok sebelah kiri dekat jendela. Hahaha dan aku melakukannya! Kenapa? Karena kaca jendela ini mengarah ke sebuah lapangan olahraga. Aku tau persis jadwal pelajarannya karena kami saling memberitahu.

Hari ini, hari kamis. Aku duduk manis di meja dan mengarah ke jendela melihat pemandangan kelas 3-E sedang olahraga. Dan kalian tahu? Yang ku perhatikan itu Reita! Siswa biasa yang tidak banyak tingkah. Dia seperti yang lainnya. Tapi entah lah, orang ini membuatku bisa tersenyum sendiri kalau sedang memerhatikannya..

“hayoooo...”

Suara itu mengagetkanku, karena Uruha sahabatku tiba-tiba ada di sampingku sambil memerhatikan apa yang aku perhatikan saat ini.

“kau ini..” kesalku.

“sepertinya tidak ada yang menarik di lapangan itu. Hanya sekumpulan siswa yang sedang bermain bola..” ujar Uruha sambil mengulum permen lolinya dengan cuek.

“tutup mulutmu.” Singkatku ingin ku diami saja bocah ini.

“ah, iya.. lapangannya jadi bercahaya di matamu..” kata Uruha sambil menyenggol lenganku dengan lengannya.

“apa sih?” kilahku.

“tanyakan saja pada yang bernama... re-i-ta....” kata Uruha jahil kemudian dia lari di situ. Takut kena pukulan mautku.

“sialan kau! Tunggu aku!”

Yah, sahabatku Uruha. Sahabat dari jaman kecil. Kami terus bersama. Beruntungnya selalu satu sekolah.. dan dia mengetahui kedekatanku dengan Reita. Aku tak pernah mengakuinya. Tapi jujur memang aku belum mengakui kedekatan maupun perasaanku. Karena ini belum ‘jadi’....

Ruki’s POV end~


******************

Hari ini club theater berkumpul di cafe sekolah untuk merayakan kemenangan mereka atas lomba antar SMA minggu lalu. Mereka berkumpul di satu meja dan mereka sedang menunggu Reita dan juga ketua dewan murid, Aoi.

Uruha dan Reita datang ke cafe itu dan duduk di ujung cafe tersebut. Mata Reita tak lepas memandang satu-satu anak-anak club theater tersebut. Kemudian mereka duduk berhadapan dan mereka memandang anak-anak tersebut.

“si noseband tidak ikut kumpul?” kata Uruha pelan sambil menundukkan kepalanya.

“entahlah.., aku pikir dia- ah! Itu dia! Dengan Aoi datang!!” kata Ruki mengikuti gaya Uruha, menunduk dan berbicara pelan. Mata mereka berdua langsung tertuju pada Reita yang di soraki teman satu clubnya.

Kedatangan Reita dan Aoi membuat Ruki dan Uruha benar-benar intens memandang. Kemudian mereka bersulang minuman karena keberhasilan mereka..

“kuso! Hanya kita berdua yang duduk di sini.. yang lainnya di kuasai mereka..” kata Ruki baru menyadari.

“tidak apa, setidaknya kau kenyang memandang Rei-mu dari jarak dekat..” jelas Uru dengan cuek.

“pelankan suaramu, baka!” kata Ruki sambil menepuk kepala Uru dengan menahan malu.

Uruha hanya terkekeh melihat Ruki serba bingung antara meninggalkan cafe atau tetap ‘stay’ di sini untuk sekedar memandang Reita-nya itu..


******************

“huft...”

Reita menghela nafas kemudian dia membereskan beberapa property drama untuk di simpan di lemari yang ada di sebelahnya. Usai membereskan, dia kembali duduk dan matanya tidak sengaja melihat dua buah tiket taman hiburan yang tergeletak begitu saja.

ini hadiahnya spesial, tapi seperti kekanak-kanakan hahaha.. aku punya beberapa tiket couple..gunakanlah dengan pasanganmu..

Reita termenung, mengingat Aoi membagikan tiket hiburan itu.

“couple? Siapa?” bingung Reita sambil berpikir.

Tuutttttt tuttttttt..

“moshi-moshi..” Ruki mengangkat teleponnya ketika ia pulang sekolah bersama Uruha dan berjalan di pinggiran kota yang ramai.

“ano, kau sibuk?” tanya Reita sambil memegang dua tiket itu.

“ah, tidak. Hanya pulang bersama dengan Uruha..” kata Ruki. Sontak Uruha menduga yang menelpon adalah Reita. Kemudian Uruha memerhatikan Ruki sambil berjalan bersama.

“nanti malam ada acara?” tanya Reita dengan kalem.

“tidak. Kenapa?” jawab Ruki.

“aku punya dua buah tiket acara hiburan, dan aku bingung mau pergi dengan siapa.. makanya aku mengajakmu.. tidak apa-apa,kan..?” kata Reita. Membuat langkah Ruki terhenti, jantungnya seperti melompat tinggi.

“bo-boleh, jam berapa?”

“jam  tujuh di taman biasa kita janjian, ya?”

“un~ hai~” Ruki mengangguk kemudian menutup teleponnya.

“kenapa? Kenapa? Kenapa?” Uruha antusias ingin tahu.

“dia mengajakku ke acara hiburan malam ini..” jawabnya santai.

“nani?! Kalian mau pergi berduaan nanti malam?!” Uruha kaget.

“bukannya aku sudah sering pergi berduaan dengan dia? Dan kau juga tahu, kan?”

“tapi kali ini berbeda Ruki...”

“apanya yang berbeda?”

“kalau kalian mau pergi bersama, kalian akan bertemu pulang sekolah dan membicarakannya, kan? Tapi ini baru pertama kalinya semenjak kau dekat dengannya kau di ajak ke taman hiburan olehnya secara pribadi, bahkan dia menelponmu.. artinya mungkin saat itu dia hanya memikirkanmu sehingga dia hanya bisa berbicara terus terang dan mengajakmu..”

Penjelasan Uruha ada benarnya juga, Ruki kembali terdiam. Dia malah terlihat sedih.

“kita mampir ke cafe itu yuk.. aku yang traktir..” kata Uruha.

Mereka pun mampir ke sebuah cafe yang ada di sebrang jalan. Mereka duduk berdua berhadapan sambil mengaduk minuman mereka masing-masing.

“sebenarnya kau ini kenapa, Ruki?” tanya Uruha bingung.

“kenapa apanya?” Ruki bingung.

“hubunganmu dengan Reita maksudku..” kemudian Uruha meneguk minumannya.

“hubungan? Seperti yang kau lihat saja..” kata Ruki cuek kemudian ikutan meneguk minuman.

“aku tidak percaya, selama kalian dekat kalian tidak mempunyai perasaan masing-masing, yah kau paham maksudku, kan?”. Ruki kembali terdiam memandang Uruha sebentar, kemudian kembali mengaduk minumannya dengan sedih.

“kau punya unek-unek dalam hati, kan?” tebak Uruha. Ruki masih terdiam.

“berapa lama sih kita ini bersahabat? Haruskah aku menghitung waktu dimana kita selalu bersama?yah, aku tahu..  sedekatnya kita, untuk masalah pribadi kita sama-sama tertutup.. tapi, apa itu akan membaik?” pikir Uruha. Ruki kembali memandang Uruha lumayan lama..

“aku bingung Uru..” jujur Ruki dengan sedih.

“kenapa? Ceritalah, aku kan ada untukmu Ruki..” jelas Uruha tersenyum.

“aku duduk di sebelahmu ya..” kemudian Ruki pindah tempat duduk. Uru mengangguk.

Kemudian Ruki membuka ponsel flipnya, dia memperlihatkan foto mesranya dengan Reita. Dengan pose dimana Ruki sedang di rangkul dekat tangan Reita. Mereka foto di saat bunga sakura bermekaran. Dan itu terlihat indah sekali.

“ini foto kapan?” tanya Uru.

“ini waktu sakura berguguran. Dia bilang, dia senang bisa memliki foto bersama orang yang ia sayangi ketika tepat bunga sakura berguguran. Dan aku bingung.. kenapa sampai sekarang dia tidak menyatakan perasaannya kalau dia memang sayang padaku?” kata Ruki hampir menimbun air mata.

“jadi ini alasanmu kenapa kau tidak mau mengakui kalau kau suka padanya?”

“heh?” Ruki tercengang.

“karena Reita belum menembakmu, kau tidak akan pernah mengatakan suka karena menurutmu, jika mengatakan suka sebelum menembak adalah harapan kosong. Jadi lebih baik tidak mengakui dan tidak membebani hatimu. Ya, kan?”. Ruki termenung, Uru bisa menebak keganjalan Ruki selama ini.

“terus menurutmu, aku harus bagaimana?” kata Ruki merengek.

“datanglah bertemu dengannya. Lihat gerak-geriknya padamu. Kalau dia mencuri-curi kesempatan, katakan kalau kalian belum ada hubungan, mungkin dia akan mengatakannya..” kata Uru senyum.

“Uruuu..” kata Ruki mau menangis.

“itu gunanya sahabat Ruki, aku tidak hanya di butuhkan saat berbagi kebahagiaan, tapi aku di perlukan saat kau merasa sedih..” kata Uru. Ruki langsung memeluk sahabat dari kecilnya itu.

“percayalah, Reita hanya butuh waktu agar semuanya tepat dan tidak tergesa-gesa..”. dalam pelukan itu Uruha mengacak2 rambut halus Ruki dan Ruki tersenyum.

******************

Uruha merebahkan tubuhnya di atas ranjang kamarnya. Dia menatap langit-langit dan menghela nafas pendek. Kemudian dia sejenak berpikir..

“kalau Ruki berpacaran dengan Reita, apa aku akan di lupakan?” kata Uruha pelan. Kemudian dia mendapatkan email masuk ke ponselnya. Dia membuka ponselnya dan melihat pesan tersebut.

“arigatou, Uru-nii.. kau selamanya sahabatku. Ah tidak, kau adalah kakakku yang sangat baik!”

Uru tersenyum membacanya dan kemudian dia menyimpan kembali ponselnya di sebelah kepalanya.

“tidak, dia tidak akan melupakanku. Selamanya...” ucap Uruha.

******************

Malam itu, memang dingin. Tapi, Ruki sudah mempersiapkan semuanya. Dia memakai jaket tebal berwarna merah dan juga syal merah. Yah, Ruki fanatik warna merah. Dia sedang berdiri di depan lampu lalu lintas perempatan jalan. Walaupun janjiannya di taman kota, Ruki tidak pergi ke sana. Dia memilih untuk menunggunya di jalan akses ini. Karena bagaimana pun, Reita akan melewati jalan ini untuk menuju taman tersebut. Tak lama, seorang lelaki berpostur tubuh pas, dan memakai jaket tebal berwarna putih itu menyebrang dan tersenyum ke arah Ruki.

“kenapa menunggu di sini?” kata Reita dengan senyum bingung.

“di sana ramai, aku takut susah mencarimu..” jawab Ruki santai. Reita hanya mengacak-ngacak rambut Ruki dengan tersenyum manis. Membuat Ruki terdiam dan tidak menatap mata Reita.

“ikou..” Reita menggandeng tangan Ruki.

Percayalah, ini adalah pertama kalinya selama mereka berjalan berdua, mereka berpegangan tangan. Hati Ruki bagai ingin melompat dan berteriak kencang. Namun itu semua hanya bisa tersendat dalam hatinya sekarang. Dia menikmati tangan Reita yang hangat bagai syal yang menutupi lehernya itu.

Mereka menuju sebuah panggung konser yang megah yang di  adakan di tengah taman kota. Sayang, jumlah penontonnya meledak. Reita kebingungan karena tidak mungkin mereka berdesakkan untuk maju ke depan. Kemudian mereka hanya bisa terdiam melihat sekeliling mereka..

“bagaimana ini?” kata Ruki bingung.

“sayang kalau tiketnya tidak di gunakan..tapi melihat situasinya tidak mungkin kita nonton paling depan..” kira Ruki. Kemudian mata Reita menatap sebuah bianglala yang sedang beputar. Dia melihat pula hamparan langit yang indah di hiasi bintang.

“aku punya ide.” Kata Reita kemudian mengajak Ruki ke suatu tempat.

“eh?”

Mereka menuju pintu masuk bianglala itu. Kemudian mereka masuk dan duduk saling berhadapan. Ruki masih tidak mengert maksudnya. Hanya saja Ruki melihat Reita tersenyum bahagia melihat pemandangan luar sana.

“maksudmu membawamu ke sini..?” tanya Ruki.

“kau tidak lihat pemandangan di luar sana? Hamparan bintang di langit dan corak cahaya di bawah sana..panggung gemerlap itu indah jika kita lihat dari sini..” kata Reita.

Benar, Ruki baru menyadari semua kesempurnaan malam ini. Di tambah hanya berdua di bianglala. Kemudian Ruki melihat keluar sana sambil tersenyum.

Beberapa saat, Reita menggenggam tangan Ruki. Ruki kaget dan memandang Reita dengan bingung.

“aku boleh jujur?” kata Reita polos.

“a-apa?” Ruki gugup.

“aku bolehkan memilikimu? Dan jadi pendamping suka dan sedih?” pinta Reita. Ruki membulatkan matanya. Dia seperti ingin terjun dari bianglala ini sambil berteriak girang.

“buktinya?” kata Ruki. Dengan tidak asa2, Reita menarik tangan Ruki dan mendekatkan bibirnya sampai benar2 menyentuh dengan lembut. Ruki semakin kaget.. dia hanya bisa terdiam saja..

“daisuki..” kata Reita memandang Ruki. Ruki pun ikut tersenyum.

******************

Selang 3 bulan, hubungan mereka sangat lancar. Mereka sangat bahagia menjalani percintaan mereka. Uruha, hanya bisa ikut bahagia tiap kali Ruki menceritakan hubungannya dengan Reita yang sangat manis.

Di sekolah, Ruki dan Reita sering menghabiskan waktu. Entah makan siang, belajar bersama ataupun mengobrol asyik di suatu tempat. Uruha terkadang mengintip mereka yang sedang makan bersama di bawah pohon belakang sekolah. Uruha tersenyum, dalam hatinya ia bahagia melihat sahabatnya menemukan seseorang yang bisa menemaninya setiap saat. Tapi seiringnya waktu, kebersamaannya dengan Ruki sedikit demi sedikit berkurang. Yah mungkin hanya perasaannya saja. Uru tidak menganggap masalah itu. Dia membiarkannya berlalu..

“Uru!”

Seseorang memanggilnya dari kejauhan. Dan itu adalah Aoi.

“Aoi? Ada apa?” Uru berhenti dan berbalik badan melihat Aoi berlari ke arahnya.

“vote aku ya, biar aku jadi pemeran utama drama nanti..hehe..” kata Aoi memberikan selembar kertas. Uru melihat isi selembaran tersebut dan mengangguk-ngangguk.

“kenapa mengangguk? Oh, ya ada waktu? Aku ingin makan siang bersamamu..” kata Aoi tersenyum. Uru hanya bisa terdiam mendengar ajakan Aoi.

“mau ya?” Aoi sedikit memohon. Kemudian Uru mengangguk tanpa memandang Aoi karena ia berdegup kencang jantungnya.

******************

Di cafe itu, Aoi dan Uru menjadi bahan tontonan siswa lainnya. Bagaimana tidak, Aoi sangat di puja semua siswa dan Aoi memang sangat tampan terlebih dia jarang bersama orang lain kecuali dengan Reita, wakilnya sendiri. Uru duduk di hadapan Aoi sambil mengaduk minuman dan menyeruput sedikt demi sedikit. Di mata Aoi yang tajam, terlihat sekali Uru yang gugup berhadapan dengannya. Dan Aoi suka dengan kegugupan Uru yang memang natural..

“kau tahu? Sudah lama aku ingin berduaan denganmu..” kata Aoi terus terang.

“eh?!” Uru kaget menatap bulat mata Aoi.

“kenapa kau terkejut? Memang tidak ada yang dekatku sampai sekarang..tapi ku pikir aku kesepian kalau hanya punya Reita..hehe..” jujur Aoi sambil mengaduk minumannya.

“karena Reita sudah punya Ruki?” sela Uru. Aoi hanya tersenyum manis.

“tadinya mau ku jadikan modus. Eh, malah tertebak olehmu..” kata Aoi geleng2 sambil tertawa kecil.

Uru hanya bisa senyum kaku melihat tingkah Aoi yang sebenarnya.

“maksudmu?” pikir Uru.

“aku boleh mengenalmu lebih jauh?aku ingin mendekatimu..” kata Aoi santai. Kemudian Uru  tidak sengaja Reita masuk ke dalam cafetaria sekolah dan melihat dia tengah memesan sebuah minuman.

“Uru?” Aoi membuyarkan pandangan Uru.

“ah, iya? A-aku..hm...bagaimana ya..apa tidak akan apa2?” Uru sedikit khawatir.

“kau takut seseorang tidak menyukaimu gara2 kau mendekatiku, kan?” tebak Aoi. Uru semakin terdiam.

“kalau ada yang menyentuhmu macam2, aku tak segan2 memberi skors 2 minggu tidak masuk sekolah..” jelas Aoi. Ini membuat Uru menelan ludahnya.

******************

Ruki celingukan mencari Uru di depan kelas. Seusai pulang sekolah, Ruki berniat untuk pergi ke cafe di pinggir kota yang mereka datangi sebelum malamnya Ruki jadian dengan Reita. Dan dia ingin mengajak Uru untuk sekedar berbincang2. Kemudian, dari kebanyakan kerumunan siswa, Uru terselip di antaranya sedang berjalan melamun..

“Uru!” Ruki tiba2 menarik tangan Uru ke pinggir. Uru hanya menarik nafasnya lega karena dia hampir kaget.

“lama sekali keluar kelasnya? Ayo kita pergi ke cafe.. aku mau traktir kau..” kata Ruki dengan riang.

“baguslah, aku sedang ingin pancake strawberry..” kata Uru sambil mengelus perutnya.

“jangan sebut nama buah setan itu!” kesal Ruki.

“ah manisnya~” Uru menggoda sambil mencolek dagu Ruki kemudian dia sedikit berjalan cepat meninggalkan Ruki.

“sialan kau Uru..awas kau yaaaaaaaa....” kata Ruki mengejarnya.

******************

“selamat makan!” Uru kemudian melahap pancake strawbery dengan lahapnya. Tinggal Ruki yang terbengong-bengong melihat Uru yang menggilai makanan manis ini.

“ada apa kau mengajakku kemari? Pasti mau cerita ya?” pikir Uru mengunyah hingga pipinya gemuk seperti anak kecil.

“ah, tidak.. aku Cuma kangen tempat ini.. tempat sebelum aku berhubungan pasti dengan Reita..” jawab Ruki sambil memandang keluar jendela.

“oh..” Uru kembali melahap pancakenya.

“ngomong2, kau sedang dekat Aoi ya?” sela Ruki. Dan Uru langsung tersedak dan bergegas untuk minum. Ruki ikut panik melihat itu.

“Uru, baik2 saja ??” Ruki khawatir melihatnya.

“tahu darimana?” tanya Uru curiga.

“sewaktu Reita ke cafe, ia melihatmu berduaan dengan Aoi lho..” kata Ruki. Uru diam seribu bahasa, ketika Ruki berkata begitu.

“Reita? Kenapa dia melihatku? Di saat aku berduaan dengan Aoi?”

“Oy!” Ruki membuyarkan lamunan Uru.

“ah, tidak juga. Aku dekat baru tadi saja. Dia memintaku untuk voting dirinya menjadi pemeran utama drama nanti di festival sekolah..” kata Uru santai.

“Hooo.. tapi langkah bagus, kan... jarang2 Aoi mendekati seseorang dengan intens begitu..” pikir Ruki.

“belum tentu.” Singkat Uru sambil menyeruput jus yang lagi2 rasa strawbery.

“hei, kau jaim banget deh..” kata Ruki yang menggodanya sambil tersenyum nakal.

“lha, memang kenyataannya barusan kok apanya yang di jaimkan?” pikir Uru.

“hah, dasar..lupakanlah..” kata Ruki menyandar pada kursinya.

Drrtttt.. drtttt..

“pesan?” kata Uru pelan. Dia kemudian melihat ponselnya dan melihat nomor tidak di kenal.

“kenapa?” Ruki melihat keanehan pada Uru.

“ah, aku ke toilet dulu ya!”. Uru segera menuju toilet dan dia bersandar pada dinding untuk membuka pesannya.

“Uru, ini aku Reita. Kau sedang bersama Ruki, kan? Aku hanya ingin tahu benda kesukaannya apa dan warnanya..sebentar lagi dia akan ulang tahun. Kau pasti ingat, kan?”

“ulang tahun? Ah iya sebentar lagi!!” Uru baru menyadarinya. Kemudian dia melihat kembali pesan itu. Dia masih tidak percaya Reita menghubunginya. Darimana dia tau nomor ponsel Uru?

******************

Drtttt... drtttt...

“dia suka scarf warna merah, apa kau akan membelikannya?”

Reita membaca pesan dari Uru ketika dia sedang tiduran santai di atas sofa ruang tamunya. Reita sedikit berfikir, kemudian dia membalas pesan tersebut.

“tahu tempat fave nya?”

“ya, aku tahu.Waktu itu dia ingin scarf merah dengan corak aneh. Tapi menurutku bagus sekali..”

“bisa antarkan aku ke tempat itu? Aku ingin memberikan kejutan padanya..”

“boleh,kapan?”

“besok sepulang sekolah, bagaimana?”

“oh, baiklah kalau begitu..semoga cuaca mendukung..^^”

Percakapan singkat itu membuat Uru terdiam. Antara senang, bingung, aneh dan entahlah semuanya campur aduk. Dia tidak akan menyangka kalau Reita akan menghubunginya...

******************



No comments:

Post a Comment