Wednesday, March 5, 2014

Caffeine ~5

Title       ::  Caffeine -苦い、甘い-
Author  ::  Ikki Kamiya -Ruru-
Genre   ::  rumit (?) *plak!
Chapter::  5/?

**********************



Acara festival sebentar lagi, anak2 theater benar2 giat. Reita sekarang lebih fokus karena berkat petunjuk Uru yang berakting dia seperti membenci Uru. Sudah berjalan lama akting mereka sampai benar2 meyakinkan Ruki itu menganggap antara Reita dan Uru tidak ada hubungan apa-apa. Dalam kesempatan yang pas, Ruki duduk di kafetaria. Dia menyendiri sambil membaca komik. Dia melihat Uru membeli minuman dan Ruki menutup wajahnya dengan komik tersebut. Dia juga melihat Reita membeli minuman dan berjejer bersama Uru. Mereka tidak bicara sepatah kata pun. Malah saling sinis. Kemudian Reita lebih dahulu meninggalkan Uru. Ruki di balik komiknya itu dia tersenyum melihat mereka yang benar2 memang tidak berhubungan lagi..

Uru sendiri tersenyum sambil menunggu minumannya selesai di buat..


sepertinya semua berjalan dengan normal, Ruki sudah tidak membahas masalah kita lagi. Arigatou!! sudah membantuku Uru ^^..” Reita mengirim pesan itu usai latihan theater. Ia tersenyum dan menatap langit yang cerah, kemudian dia melihat ada balasan dari Uru.

un,douita ^^ aku turut bahagia rasanya...” balas Uru.

ano, sebagaimana rasa terima kasihku aku mau traktir kau makan sore ini bagaimana? Ruki ada keperluan-lagi- jadi aku ada kesempatan untuk menghirup udara bebas..” balas Reita.

sore ini? Hm, dengan senang hati sekali! Aku tunggu di taman kota saja ya! sekitar jam 5..”.

Balasan itu membuat Reita 100% bahagia sekali. Dia langsung tersenyum lebar dan melihat ponselnya yang men set wallpaper dirinya yang memakai syal yang di pakaikan Uru ketika membeli kado untuk Reita.

**********************



Uru menatap langit saat ia berjalan. Warna langit saat ini jingga, entah sudah berapa kali Uru menengok ke atas dan tersenyum bahagia. Detak jantungnya pun kembali kencang tidak seperti biasanya. Dia berhenti, tepat di perbatasan jalan. Di sebrang sana, Reita telah memandangnya cukup dalam. Perlahan Uru tersenyum dan melambaikan tangannya. Dia melihat traffic sudah menunjukkan warna hijau. Di menyebrangi dan ketika sampai, seseorang berjalan terburu-buru hingga menyenggol Uru hampir jatuh ke depan. Untungnya Reita sudah di depan dan dia langsung memeluk Uru yang hampir jatuh itu. Reita dan Uru terdiam atas kejadian ini walaupun dalam keadaan berpelukan hangat...

Mereka duduk santai di pinggir pohon yang terdapat sebuah kursi memanjang terbuat dari kayu.

Duduk bersebelahan mereka terdiam. Dan reita memberanikan diri untuk bicara..

“aku malah jadi khawatir padamu..” kata Reita.

“eh? Kenapa?” Uru bingung.

“melihat dirimu tadi celaka, aku berpikir kau tidak punya seseorang yang melindungimu..” kira Reita. Uru memalingkan wajahnya dan mencoba menahan rasa sedihnya.

“kalau aku yang jadi pelindungmu apa kau keberatan?” ujar Reita. Dengan cepat Uru menoleh,

“kau..?” Uru bingung.

“selama ini, kau yang mendapatkan masalah karena aku, kau juga harus bertahan dari hujatan Ruki yang menuduhmu tidak2. Kau mungkin sedikit rapuh karena kelelahan menghadapi semua ini.. untuk itu, aku sekarang yang harus bertanggung jawab padamu..aku berhutang budi padamu..kalau saja kau tidak mengatakan ide itu, entahlah.. berapa banyak ancaman yang akan dia keluarkan setiap menit nya..dan aku akan seperti di bayangi sosok pembunuh..” jelas Reita.

“tapi Ruki-“

“ini tidak ada kaitannya dengan Ruki. Ini tentang membalas jasamu..” sela Reita. Uru tersenyum sambil memandang ke depan.

“aku memang butuh pelindung..aku tidak bisa berdiri sendiri seperti ini. Ada saatnya aku ingin meminjam pundak seseorang untuk menangis sekuat tenaga..” kata Uru. Reita memandang Uru dan dengan tidak sadar, Reita perlahan memegang tangan Uru dengan hangat. Uru sadar dia melihat tangan itu dan menatap tulus mata Reita. Keduanya tersenyum,

**********************



Taman kota di sore hari itu memanglah sangat indah. Dimana banyak pasangan muda menikmati sore senja yang indah. Mereka duduk2 di taman untuk sekedar mengobrol bercanda, ada pula yang saling mensuapi makanan. Uru dan Reita berjalan tanpa bergandengan tangan seperti yang lainnya. Mereka tertawa melihat ada sebuah badut melintas di depan mereka. Uru shock dan tertawa riang melihat badut itu. Kemudian Reita mengabadikan foto Uru dengan badut itu. Senyum Uru lebar benar2 bahagia saat itu.

Mereka melihat sekumpulan burung sedang berkumpul memakan biji-bijian yang di lempar sengaja warga sekitar. Mereka mendekati burung2 cantik itu. Reita mengangkat burung itu dan mengelus2 kepalanya dengan sayang. Dia memberi makan biji di dalam tangkupan telapak tangannya satu lagi.. dan kali ini Uru yang mengabadikan foto tersebut.

Lelah bermain, mereka menghampiri sebuah restoran yang terkenal. Mereka berdua makan dengan romantisnya. Mereka cerita banyak mengenai diri mereka untuk sekedar tahu sisi satu sama lain. Di selangi tawa canda, Reita tak tahu kalau ponselnya bergetar beberapa pesan masuk dari Ruki..

**********************



Menuju malam yang cerah, Reita dan Uru berjalan menuju sebuah perbatasan jalan. Mereka hendak berpisah karena takut kesiangan sekolah besok harinya. Uru merasa dinginnya malam ini menusuk tubuhnya perlahan. Dirinya mulai melipatkan tangannya. Menahan dingin yang menggrogoti tubuhnya. Nafasnya pun terlihat dingin. Dan Reita menyadari kalau Uru mengenakan kemeja tipis. Reita melepaskan jaket yang sedari tadi ia pakai. Sambil berjalan, Reita memakaikan jaket itu ke punggung Uru. Uru tersentak dan memandang Reita yang tersenyum padanya.

“Reitaa..” kata Uru.

“aku kan mau jadi pelindungmu. Pakailah aku tahu kau kedinginan..aku mau menikmati udara dingin malam ini..” kata Reita menatap langit. Uru sedikit malu dengan perlakuan Reita. Suara dering terdengar dari ponsel Reita. Dia berhenti sejenak dan melihat tumpukan pesan dari Ruki.

“aku lupa memberitahu kabarku. Tumpukan pesannya membuatku jijik..” kata Reita mematikan ponselnya. Dan saat itu Ruki yang ada di kamarnya yang hendak menghubunginya malah kaget ponsel Reita tidak aktif.

“ano.. apa kau akan kembali pada Ruki..?” tanya Uru sambil menunduk.

“apa?” Reita kaget.

“sekarang kau masih dekat dengan Ruki karena Ruki tidak ingin melepaskanmu. Apa suatu saat kau akan kembali mencintainya dan kembali padanya?” kata Uruha.

“aku sudah putuskan untuk mencari pengganti yang lebih baik darinya..kau tahu? Aku berharap dia mendapatkan seseorang yang mengekangnya seperti saat ini. Kurasa itu karma yang indah yang ada di hidupku..”

Uru tertawa kecil mendengar itu. Mereka pun berjalan kembali sampai mereka ke perbatasan kota dan naik bus.

Dalam perjalanannya, Reita seperti mengantuk. Matanya pun merapat. Dan tidak sengaja menjatuhkan kepalanya ke pundak Uru. Uru yang melihat merasa khawatir padanya. Uru tidak bisa bayangkan betapa sabarnya Reita menghadapi Ruki yang mengekangnya. Reita sungguh lelaki yang tangguh membuat Uru tersenyum sendiri. Jaket yang menyandar di punggungnya dia lepas dan dia pakai untuk menutupi tubuh depan dirinya dan Reita. Kepala Uru pun menyender di atas kepala Reita dan memejamkan matanya. Benar2 manis...

**********************



Ruki menunggu di depan apartemen Reita sambil duduk menekuk kedua lututnya saking dinginnya. Reita yang habis mengantarkan Uru, melihat Ruki sedang memeluk dirinya sendiri.

“ah, Reita!” Ruki langsung terbangun dan berlari ke arah Reita dan memeluknya dengan erat.

“kenapa kau tidak ada kabar?” Ruki begitu khawatir. Reita hanya terdiam mematung seakan dia tidak peduli pada sosok yang sedang memeluknya ini.

“minggir.” Kata Reita melepaskan pelukan itu kemudian dia menuju apartemennya. Namun Ruki menahan tangannya dengan cepat membuat Reita berbalik menghadapnya.

“Reita!” Ruki benar2 kesal. Saat itu pula tamparan mendarat di pipi halus Ruki. Reita yang melakukannya. Ruki benar2 kaget Reita melakukan ini sampai bibirnya sedikit berdarah.

“kau bisa, tidak mengintimidasiku sedetik saja? Membiarkan aku bebas menghirup udara segar?” kata Reita kalem. Ruki masih memegangi pipinya yang merah itu.

“aku capek Ruki, aku di kekang olehmu. Aku bukan siapa2 dirimu, jadi tolong lepaskan aku..”

“aku tidak mau kehilangan dirimu Rei, tidak mau..tidak mau..” Ruki menangis.

“apa aku harus mati baru aku lepas darimu?”

“Reita..”

“aku ngantuk, jangan ganggu aku..”. reita masuk ke dalam dan mengunci pintunya. Ruki menangis dan mematung melihat semua itu.

**********************



Uru yang sudah sampai di kamarnya langsung buru2 menelpon Reita, setelah di angkat yang terdengar suara batuk2. Uru langsung cemas,

“Rei? Kau tidak apa2?” tanya Uru.

“tidak, aku hanya batuk biasa kok. Ada apa menelponku?” kata Reita sambil duduk di ranjangnya.

“a-aku.. tidak. Aku hanya mengkhawatirkanmu. Ruki tidak nekatkan gara2 emailmu tidak di balas olehnya?”

“justru dia nekat dia datang kemari menungguiku. Aku menamparnya semoga dia sadar..”

“kau..”

“sudahlah jangan bahas dia.. kau cepat tidur ya, semoga memimpikan aku..hehe..”. uru langsung mengangguk dan menutup telponnya.

Uru rebahan di ranjangnya dia berpikir sejenak..

“aku harus menahannya, yang dulu tidak boleh tumbuh lagi..situasinya tidak baik..” ujarnya.

**********************



Keesokan harinya adalah h-1 dimana festival akan di gelar. Semua siswa berhamburan untuk mempersiapkan. Begitu pun Reita dan Kai. Mereka sibuk latihan dengan keras. Sesekali Uru mengintip latihan mereka dari balik pintu kelas. Uru merasa sedih kemudian dia pergi.

Seseorang menaruh coklat kitkat di loker Reita beserta kertas berisi pesan. Dia menutupnya. Dan pergi begitu saja.. tak lama kemudian, Reita membukanya dan menemukan kitkat dan tulisan,

“aku mencintaimu dari dulu, tapi nyatanya aku tidak boleh mencintaimu..”

Membaca pesan itu membuat  Reita berfikir keras. Dia menyimpan kembali coklatnya ke dalam loker. Reita menerima pesan dari Ruki yang berkata “makan siang aku tunggu di loteng..” katanya. Dengan langkah malas, dia menuju ke sana. Ruki sedang duduk menyandar pada tembok dan menatap langit dengan sedih. Dan saat itu pula Reita datang.

“Reita aku-“

“maaf aku sudah kenyang, jadi aku ke sini hanya mampir. Selamat makan saja..” ujar Reita dingin lalu pergi meninggalkan. Namun Ruki menahan kembali tangan Reita.

“ada yang ingin aku katakan padamu..” kata Ruki menunduk.

“apa kita bisa balikan lagi? Aku benar2 tidak mampu tidak bersamamu Reita..” Ruki mulai menjatuhkan air matanya. Namun dengan dinginnya Reita melepaskan tangan Ruki tapi Ruki malah memeluknya dari belakang dengan erat.

“aku mencintaimu Rei, aku terlalu padamu, aku mohon jangan tinggalkan aku!” Ruki menangis sejadi-jadinya. Reita juga ikut menangis. Saat dia ingin melepaskan tangan Ruki, Ruki malah tambah erat memeluknya.

“jangan lepaskan aku Rei...” Ruki menangis di punggung Reita.

Ternyata, dari sudut jauh, Uru melihat mereka dari awal mereka bertemu. Linangan air mata Uru pun jatuh melihat mereka berdua. Uru kemudian menyandar pada tembok an memejamkan matanya sebentar..

“aku memang tidak bisa..” ujarnya dalam hati. Uru pun kembali ke kelasnya sambil menyeka air matanya dengan tangannya.

**********************



“cuaca hari ini indah, taman kota sepertinya akan asyik sekali..”

Pesan itu, di kirim Reita ke ponsel Uru. Reita yang duduk di kelasnya hanya menunggu jawaban dari Uru..

tidak, terima kasih.”

Jawaban singkat itu membuat Reita jadi heran, tidak biasanya. Dia mulai bingung dan berpikir.

“ada apa?”

tidak ada apa-apa..”

Reita benar2 tidak habis pikir kenapa Uru berubah drastis seperti ini. Dia bingung. Karena kebingungannya itu dia berniat pulang sekolah mencegat Uru di gerbang sekolah tanpa sepengetahuan Ruki.

Seseorang itu kembali mengirim dia coklat kitkat ke dalam loker Reita. Lalu menutupnya kembali. Dia berjalan dengan sedih meninggalkan loker itu.

“jadi dia yang mengirim coklat itu, aku benar2 tidak menyangka..” Reita melihat sendiri ketika pulang sekolah seseorang mengirim coklat misterius itu. Reita mengejar orang itu pergi entah kemana. Namun sayang dia kehilangan jejak orang itu. Dia memilih belok ke lorong kiri dan menuju kelas Uru.

Di sana Reita melihat Uru tampak sedang membereskan bukunya dengan tenang dan damai. Saat Uru hendak menggendongkan tasnya, dia lihat Reita sedang menanti dirinya di pintu. Uru tersentak melihat itu, dia memilih tidak menganggap Reita ada..

Ketika Uru melewati Reita, Reita menahan Uru dan Uru terdiam dulu.

“ada apa kau ini? Seharian beda sekali terhadapku?” tanya Reita.

“bukan urusanmu” kata Uru singkat kemudian melepaskan tangan Reita dan pergi.

“Uru, dengarkan aku dulu..” Reita mengikuti langkah Uru pergi.

Reita menghalangi jalan Uru di depannya,

“tolong pergi dari hadapanku!” kesal Uru.

“aku tidak bisa pergi sebelum tahu apa yang sedang terjadi padamu..”

Uru tidak bisa berkutik Reita mengatakan itu,

**********************



Sementara itu Ruki sedang menuju gereja yang terletak dekat dengan sekolahnya. Dia memasuki gereja itu dengan linangan air matanya. Dia berdoa merapatkan kedua telapak tangannya,

“tuhan, kenapa aku begitu mencintai Reita? Kenapa aku harus memikirkan dia setiap saat? Apa dia adalah pendampingku seumur hidup? Yakinkan aku Tuhan kalau dia adalah yang terbaik untukku walau saat ini aku sedang di kelilingi masalah dengannya, cairkan kembali hatinya ya Tuhan kalau dia memang akan jadi milikku selamanya, aku tidak ingin kehilangan dia.. aku terlalu mencintainya Tuhan...”

Doa Ruki itu membuat dirinya menangis sejadi-jadinya. Ruki bingung, apa yang harus dia lakukan agar Reita kembali jadi miliknya. Dia tahu, dia tidak ingin kehilangan Reita sampai melakukan tindakan bodoh yang menyakiti diri sendri.

Usai berdoa, Ruki meninggalkan gereja dan menuju tempat yang membuatnya damai. Dia berjalan seakan dia tidak punya tujuan selain meraih Reita kembali. Dia hampir sesak dada mengingat semuanya. Kenapa hidupnya jadi kacau karena menginginkan Reita. Dan langkahnya pun terhenti di sebuah taman kota.

Saat itu pula, Uru dan Reita sedang berbicara di taman kota berduaan. Uru tetap bungkam tidak mau bicara apapun terhadap Reita. Reita kebingungan sampai dia memegang kepalanya.

“kau bisa jelaskan apa masalahnya, kan?” kata Reita.

“ini bukan masalah! Tapi-“ sayangnya Uru bisa tidak jujur.

“baiklah, pertanyaan terakhir.. untuk apa kau mengirim kitkat padaku dan memberi kata2 itu?”

Uru sontak kaget mendengar itu. Menatap mata Reita dengan bulatnya..

“kau tidak perlu bohong, aku tahu.. aku melihatnya dan kau dengan cepat menuju kelas seakan semuanya orang lain yang mengirim bukan dirimu..” kata Reita menatap Uru.

Uru benar2 terdiam bingung mau menjawab apa.. semuanya sudah ketahuan....

“kau benar2 mencintaiku Uru?” tanya Reita  sambil memegang tangan Uru. Uru melihat tangan itu menyentuh kembali membuat detak jantungnya kembali berdebar kencang.

“sejak kapan? Kenapa aku baru tahu sekarang..” kiranya.

“percuma rei..” kata Uru sambil menjauhkan tangan yang di pegang Reita.

“aku harus menguburnya..” Uru menahan tangisannya.

“doushite?”

“Rei!” Uru memberanikan menatap mata Reita.

“kau ingat apa yang terjadi sekarang?? Apa kau tahu posisiku dimana dan dirimu?” jelas Uru.

“tapi aku merasa kau tulus di banding dengan Ruki..”

“kau-“

“aku tahu alasannya, karena kau bersahabat dengan Ruki, kan? Kau tidak mau mencintaiku karena ada Ruki. Lalu apa kau tersiksa menyimpan perasaan padaku? apa yang mau kau lakukan kalau orang yg kau cintai mulai nyaman dan mencintai balik dengan hangat?”

Airmata itu jatuh begitu saja menatap Reita yang mengatakan isi hatinya..

“kau takut kalau kau adalah seseorang yang menusuk dari belakang dari seorang sahabat,kan? Kalau aku masih berpacaran, mungkin itu iya. Tapi kau tahu, kan aku tidak ada hubungan apa2 lagi sekarang?”

“tapi Ruki tidak mau melepaskanmu Rei!” seru Uru.

Reita meraih kedua tangan Uru dan menggenggamnya.

“untuk itu bantu aku..melepaskanku dari Ruki, agar orang yang kau cintai ini bahagia..” Reita juga menahan airmatanya.

“aku bingung Rei, aku tidak tahu harus bagaimana...” Uru menunduk dan menangis. Saat itu pula Reita memeluknya.

“jauh sebelum Ruki menyukaimu, aku sudah sering memerhatikanmu. Tapi aku mengalah karena Ruki ternyata memendam perasaan padamu.. aku ingin Ruki bahagia..” kata Uru dalam tangisannya dalam peluk Reita.

“andai saat itu aku tak memilih Ruki dan harusnya memilikimu..” Reita memeluknya dengan erat.

“kenapa jadi begini?” Uru pun memeluk pinggang Reita perlahan. Reita mencium rambut Uru dengan hangat dan kembali memeluk dengan erat merasakan dadanya yang basah akibat airmata Uru.

“apa kau mau menjadi kekasihku? Sebelum semuanya terlambat? Apa kau mau aku bahagia terlepas dari Ruki?” Reita melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Uru yang menangis.

Perlahan, Reita mencium bibir Uru dengan hangat. Mereka saling memejamkan mata merasakan hangatnya bibir satu sama lain. Sore senja ini menjadi saksi hubungan mereka yang sedang di liputi banyak masalah.

Ketika mata Uru terbuka perlahan, dia melihat dari kejauhan dari samping kanan Reita, Ruki berdiri mematung melihat mereka berciuman.  Ketika sadar, Reita melepaskan ciuman itu dan melihat apa yang Uru lihat..

Ruki mengepalkan tangannya. Wajahnya hanya diam tenang.. entah ekspresi marah atau apapun tidak bisa tertebak sama sekali..

“Ru-Ruki...” Uru benar2 kaget.

**********************






No comments:

Post a Comment