Title :: Caffeine -苦い、甘い恋-
Author :: Ikki
Kamiya -Ruru-
Genre ::
rumit (?) *plak!
Chapter:: 5/?
**********************
Acara festival sebentar lagi, anak2 theater benar2 giat.
Reita sekarang lebih fokus karena berkat petunjuk Uru yang berakting dia
seperti membenci Uru. Sudah berjalan lama akting mereka sampai benar2
meyakinkan Ruki itu menganggap antara Reita dan Uru tidak ada hubungan apa-apa.
Dalam kesempatan yang pas, Ruki duduk di kafetaria. Dia menyendiri sambil
membaca komik. Dia melihat Uru membeli minuman dan Ruki menutup wajahnya dengan
komik tersebut. Dia juga melihat Reita membeli minuman dan berjejer bersama
Uru. Mereka tidak bicara sepatah kata pun. Malah saling sinis. Kemudian Reita
lebih dahulu meninggalkan Uru. Ruki di balik komiknya itu dia tersenyum melihat
mereka yang benar2 memang tidak berhubungan lagi..
Uru sendiri tersenyum sambil menunggu minumannya selesai
di buat..
“sepertinya semua
berjalan dengan normal, Ruki sudah tidak membahas masalah kita lagi. Arigatou!!
sudah membantuku Uru ^^..” Reita mengirim pesan itu usai latihan theater.
Ia tersenyum dan menatap langit yang cerah, kemudian dia melihat ada balasan
dari Uru.
“un,douita ^^ aku
turut bahagia rasanya...” balas Uru.
“ano, sebagaimana
rasa terima kasihku aku mau traktir kau makan sore ini bagaimana? Ruki ada
keperluan-lagi- jadi aku ada kesempatan untuk menghirup udara bebas..”
balas Reita.
“sore ini? Hm,
dengan senang hati sekali! Aku tunggu di taman kota saja ya! sekitar jam 5..”.
Balasan itu membuat Reita 100% bahagia sekali. Dia
langsung tersenyum lebar dan melihat ponselnya yang men set wallpaper dirinya
yang memakai syal yang di pakaikan Uru ketika membeli kado untuk Reita.
**********************
Uru menatap langit saat ia berjalan. Warna langit saat ini
jingga, entah sudah berapa kali Uru menengok ke atas dan tersenyum bahagia.
Detak jantungnya pun kembali kencang tidak seperti biasanya. Dia berhenti,
tepat di perbatasan jalan. Di sebrang sana, Reita telah memandangnya cukup
dalam. Perlahan Uru tersenyum dan melambaikan tangannya. Dia melihat traffic
sudah menunjukkan warna hijau. Di menyebrangi dan ketika sampai, seseorang
berjalan terburu-buru hingga menyenggol Uru hampir jatuh ke depan. Untungnya
Reita sudah di depan dan dia langsung memeluk Uru yang hampir jatuh itu. Reita
dan Uru terdiam atas kejadian ini walaupun dalam keadaan berpelukan hangat...
Mereka duduk santai di pinggir pohon yang terdapat sebuah
kursi memanjang terbuat dari kayu.
Duduk bersebelahan mereka terdiam. Dan reita memberanikan
diri untuk bicara..
“aku malah jadi khawatir padamu..” kata Reita.
“eh? Kenapa?” Uru bingung.
“melihat dirimu tadi celaka, aku berpikir kau tidak punya
seseorang yang melindungimu..” kira Reita. Uru memalingkan wajahnya dan mencoba
menahan rasa sedihnya.
“kalau aku yang jadi pelindungmu apa kau keberatan?” ujar
Reita. Dengan cepat Uru menoleh,
“kau..?” Uru bingung.
“selama ini, kau yang mendapatkan masalah karena aku, kau
juga harus bertahan dari hujatan Ruki yang menuduhmu tidak2. Kau mungkin sedikit
rapuh karena kelelahan menghadapi semua ini.. untuk itu, aku sekarang yang
harus bertanggung jawab padamu..aku berhutang budi padamu..kalau saja kau tidak
mengatakan ide itu, entahlah.. berapa banyak ancaman yang akan dia keluarkan
setiap menit nya..dan aku akan seperti di bayangi sosok pembunuh..” jelas
Reita.
“tapi Ruki-“
“ini tidak ada kaitannya dengan Ruki. Ini tentang
membalas jasamu..” sela Reita. Uru tersenyum sambil memandang ke depan.
“aku memang butuh pelindung..aku tidak bisa berdiri
sendiri seperti ini. Ada saatnya aku ingin meminjam pundak seseorang untuk
menangis sekuat tenaga..” kata Uru. Reita memandang Uru dan dengan tidak sadar,
Reita perlahan memegang tangan Uru dengan hangat. Uru sadar dia melihat tangan
itu dan menatap tulus mata Reita. Keduanya tersenyum,
**********************
Taman kota di sore hari itu memanglah sangat indah.
Dimana banyak pasangan muda menikmati sore senja yang indah. Mereka duduk2 di
taman untuk sekedar mengobrol bercanda, ada pula yang saling mensuapi makanan.
Uru dan Reita berjalan tanpa bergandengan tangan seperti yang lainnya. Mereka
tertawa melihat ada sebuah badut melintas di depan mereka. Uru shock dan
tertawa riang melihat badut itu. Kemudian Reita mengabadikan foto Uru dengan
badut itu. Senyum Uru lebar benar2 bahagia saat itu.
Mereka melihat sekumpulan burung sedang berkumpul memakan
biji-bijian yang di lempar sengaja warga sekitar. Mereka mendekati burung2
cantik itu. Reita mengangkat burung itu dan mengelus2 kepalanya dengan sayang.
Dia memberi makan biji di dalam tangkupan telapak tangannya satu lagi.. dan
kali ini Uru yang mengabadikan foto tersebut.
Lelah bermain, mereka menghampiri sebuah restoran yang
terkenal. Mereka berdua makan dengan romantisnya. Mereka cerita banyak mengenai
diri mereka untuk sekedar tahu sisi satu sama lain. Di selangi tawa canda,
Reita tak tahu kalau ponselnya bergetar beberapa pesan masuk dari Ruki..
**********************
Menuju malam yang cerah, Reita dan Uru berjalan menuju
sebuah perbatasan jalan. Mereka hendak berpisah karena takut kesiangan sekolah
besok harinya. Uru merasa dinginnya malam ini menusuk tubuhnya perlahan.
Dirinya mulai melipatkan tangannya. Menahan dingin yang menggrogoti tubuhnya.
Nafasnya pun terlihat dingin. Dan Reita menyadari kalau Uru mengenakan kemeja
tipis. Reita melepaskan jaket yang sedari tadi ia pakai. Sambil berjalan, Reita
memakaikan jaket itu ke punggung Uru. Uru tersentak dan memandang Reita yang
tersenyum padanya.
“Reitaa..” kata Uru.
“aku kan mau jadi pelindungmu. Pakailah aku tahu kau
kedinginan..aku mau menikmati udara dingin malam ini..” kata Reita menatap
langit. Uru sedikit malu dengan perlakuan Reita. Suara dering terdengar dari
ponsel Reita. Dia berhenti sejenak dan melihat tumpukan pesan dari Ruki.
“aku lupa memberitahu kabarku. Tumpukan pesannya
membuatku jijik..” kata Reita mematikan ponselnya. Dan saat itu Ruki yang ada
di kamarnya yang hendak menghubunginya malah kaget ponsel Reita tidak aktif.
“ano.. apa kau akan kembali pada Ruki..?” tanya Uru
sambil menunduk.
“apa?” Reita kaget.
“sekarang kau masih dekat dengan Ruki karena Ruki tidak
ingin melepaskanmu. Apa suatu saat kau akan kembali mencintainya dan kembali
padanya?” kata Uruha.
“aku sudah putuskan untuk mencari pengganti yang lebih
baik darinya..kau tahu? Aku berharap dia mendapatkan seseorang yang
mengekangnya seperti saat ini. Kurasa itu karma yang indah yang ada di
hidupku..”
Uru tertawa kecil mendengar itu. Mereka pun berjalan
kembali sampai mereka ke perbatasan kota dan naik bus.
Dalam perjalanannya, Reita seperti mengantuk. Matanya pun
merapat. Dan tidak sengaja menjatuhkan kepalanya ke pundak Uru. Uru yang
melihat merasa khawatir padanya. Uru tidak bisa bayangkan betapa sabarnya Reita
menghadapi Ruki yang mengekangnya. Reita sungguh lelaki yang tangguh membuat
Uru tersenyum sendiri. Jaket yang menyandar di punggungnya dia lepas dan dia
pakai untuk menutupi tubuh depan dirinya dan Reita. Kepala Uru pun menyender di
atas kepala Reita dan memejamkan matanya. Benar2 manis...
**********************
Ruki menunggu di depan apartemen Reita sambil duduk
menekuk kedua lututnya saking dinginnya. Reita yang habis mengantarkan Uru,
melihat Ruki sedang memeluk dirinya sendiri.
“ah, Reita!” Ruki langsung terbangun dan berlari ke arah
Reita dan memeluknya dengan erat.
“kenapa kau tidak ada kabar?” Ruki begitu khawatir. Reita
hanya terdiam mematung seakan dia tidak peduli pada sosok yang sedang
memeluknya ini.
“minggir.” Kata Reita melepaskan pelukan itu kemudian dia
menuju apartemennya. Namun Ruki menahan tangannya dengan cepat membuat Reita
berbalik menghadapnya.
“Reita!” Ruki benar2 kesal. Saat itu pula tamparan
mendarat di pipi halus Ruki. Reita yang melakukannya. Ruki benar2 kaget Reita
melakukan ini sampai bibirnya sedikit berdarah.
“kau bisa, tidak mengintimidasiku sedetik saja?
Membiarkan aku bebas menghirup udara segar?” kata Reita kalem. Ruki masih
memegangi pipinya yang merah itu.
“aku capek Ruki, aku di kekang olehmu. Aku bukan siapa2
dirimu, jadi tolong lepaskan aku..”
“aku tidak mau kehilangan dirimu Rei, tidak mau..tidak
mau..” Ruki menangis.
“apa aku harus mati baru aku lepas darimu?”
“Reita..”
“aku ngantuk, jangan ganggu aku..”. reita masuk ke dalam
dan mengunci pintunya. Ruki menangis dan mematung melihat semua itu.
**********************
Uru yang sudah sampai di kamarnya langsung buru2 menelpon
Reita, setelah di angkat yang terdengar suara batuk2. Uru langsung cemas,
“Rei? Kau tidak apa2?” tanya Uru.
“tidak, aku hanya batuk biasa kok. Ada apa menelponku?”
kata Reita sambil duduk di ranjangnya.
“a-aku.. tidak. Aku hanya mengkhawatirkanmu. Ruki tidak
nekatkan gara2 emailmu tidak di balas olehnya?”
“justru dia nekat dia datang kemari menungguiku. Aku
menamparnya semoga dia sadar..”
“kau..”
“sudahlah jangan bahas dia.. kau cepat tidur ya, semoga
memimpikan aku..hehe..”. uru langsung mengangguk dan menutup telponnya.
Uru rebahan di ranjangnya dia berpikir sejenak..
“aku harus menahannya, yang dulu tidak boleh tumbuh
lagi..situasinya tidak baik..” ujarnya.
**********************
Keesokan harinya adalah h-1 dimana festival akan di
gelar. Semua siswa berhamburan untuk mempersiapkan. Begitu pun Reita dan Kai.
Mereka sibuk latihan dengan keras. Sesekali Uru mengintip latihan mereka dari
balik pintu kelas. Uru merasa sedih kemudian dia pergi.
Seseorang menaruh coklat kitkat di loker Reita beserta
kertas berisi pesan. Dia menutupnya. Dan pergi begitu saja.. tak lama kemudian,
Reita membukanya dan menemukan kitkat dan tulisan,
“aku mencintaimu dari dulu, tapi nyatanya aku tidak boleh
mencintaimu..”
Membaca pesan itu membuat
Reita berfikir keras. Dia menyimpan kembali coklatnya ke dalam loker.
Reita menerima pesan dari Ruki yang berkata “makan siang aku tunggu di
loteng..” katanya. Dengan langkah malas, dia menuju ke sana. Ruki sedang duduk
menyandar pada tembok dan menatap langit dengan sedih. Dan saat itu pula Reita
datang.
“Reita aku-“
“maaf aku sudah kenyang, jadi aku ke sini hanya mampir.
Selamat makan saja..” ujar Reita dingin lalu pergi meninggalkan. Namun Ruki
menahan kembali tangan Reita.
“ada yang ingin aku katakan padamu..” kata Ruki menunduk.
“apa kita bisa balikan lagi? Aku benar2 tidak mampu tidak
bersamamu Reita..” Ruki mulai menjatuhkan air matanya. Namun dengan dinginnya
Reita melepaskan tangan Ruki tapi Ruki malah memeluknya dari belakang dengan
erat.
“aku mencintaimu Rei, aku terlalu padamu, aku mohon
jangan tinggalkan aku!” Ruki menangis sejadi-jadinya. Reita juga ikut menangis.
Saat dia ingin melepaskan tangan Ruki, Ruki malah tambah erat memeluknya.
“jangan lepaskan aku Rei...” Ruki menangis di punggung
Reita.
Ternyata, dari sudut jauh, Uru melihat mereka dari awal
mereka bertemu. Linangan air mata Uru pun jatuh melihat mereka berdua. Uru
kemudian menyandar pada tembok an memejamkan matanya sebentar..
“aku memang tidak bisa..” ujarnya dalam hati. Uru pun
kembali ke kelasnya sambil menyeka air matanya dengan tangannya.
**********************
“cuaca hari ini indah, taman kota sepertinya akan asyik
sekali..”
Pesan itu, di kirim Reita ke ponsel Uru. Reita yang duduk
di kelasnya hanya menunggu jawaban dari Uru..
“tidak, terima
kasih.”
Jawaban singkat itu membuat Reita jadi heran, tidak
biasanya. Dia mulai bingung dan berpikir.
“ada apa?”
“tidak ada
apa-apa..”
Reita benar2 tidak habis pikir kenapa Uru berubah drastis
seperti ini. Dia bingung. Karena kebingungannya itu dia berniat pulang sekolah
mencegat Uru di gerbang sekolah tanpa sepengetahuan Ruki.
Seseorang itu kembali mengirim dia coklat kitkat ke dalam
loker Reita. Lalu menutupnya kembali. Dia berjalan dengan sedih meninggalkan
loker itu.
“jadi dia yang mengirim coklat itu, aku benar2 tidak
menyangka..” Reita melihat sendiri ketika pulang sekolah seseorang mengirim
coklat misterius itu. Reita mengejar orang itu pergi entah kemana. Namun sayang
dia kehilangan jejak orang itu. Dia memilih belok ke lorong kiri dan menuju
kelas Uru.
Di sana Reita melihat Uru tampak sedang membereskan
bukunya dengan tenang dan damai. Saat Uru hendak menggendongkan tasnya, dia
lihat Reita sedang menanti dirinya di pintu. Uru tersentak melihat itu, dia
memilih tidak menganggap Reita ada..
Ketika Uru melewati Reita, Reita menahan Uru dan Uru
terdiam dulu.
“ada apa kau ini? Seharian beda sekali terhadapku?” tanya
Reita.
“bukan urusanmu” kata Uru singkat kemudian melepaskan
tangan Reita dan pergi.
“Uru, dengarkan aku dulu..” Reita mengikuti langkah Uru
pergi.
Reita menghalangi jalan Uru di depannya,
“tolong pergi dari hadapanku!” kesal Uru.
“aku tidak bisa pergi sebelum tahu apa yang sedang terjadi
padamu..”
Uru tidak bisa berkutik Reita mengatakan itu,
**********************
Sementara itu Ruki sedang menuju gereja yang terletak
dekat dengan sekolahnya. Dia memasuki gereja itu dengan linangan air matanya.
Dia berdoa merapatkan kedua telapak tangannya,
“tuhan, kenapa aku begitu mencintai Reita? Kenapa aku
harus memikirkan dia setiap saat? Apa dia adalah pendampingku seumur hidup?
Yakinkan aku Tuhan kalau dia adalah yang terbaik untukku walau saat ini aku
sedang di kelilingi masalah dengannya, cairkan kembali hatinya ya Tuhan kalau
dia memang akan jadi milikku selamanya, aku tidak ingin kehilangan dia.. aku
terlalu mencintainya Tuhan...”
Doa Ruki itu membuat dirinya menangis sejadi-jadinya.
Ruki bingung, apa yang harus dia lakukan agar Reita kembali jadi miliknya. Dia
tahu, dia tidak ingin kehilangan Reita sampai melakukan tindakan bodoh yang
menyakiti diri sendri.
Usai berdoa, Ruki meninggalkan gereja dan menuju tempat
yang membuatnya damai. Dia berjalan seakan dia tidak punya tujuan selain meraih
Reita kembali. Dia hampir sesak dada mengingat semuanya. Kenapa hidupnya jadi
kacau karena menginginkan Reita. Dan langkahnya pun terhenti di sebuah taman
kota.
Saat itu pula, Uru dan Reita sedang berbicara di taman
kota berduaan. Uru tetap bungkam tidak mau bicara apapun terhadap Reita. Reita
kebingungan sampai dia memegang kepalanya.
“kau bisa jelaskan apa masalahnya, kan?” kata Reita.
“ini bukan masalah! Tapi-“ sayangnya Uru bisa tidak jujur.
“baiklah, pertanyaan terakhir.. untuk apa kau mengirim
kitkat padaku dan memberi kata2 itu?”
Uru sontak kaget mendengar itu. Menatap mata Reita dengan
bulatnya..
“kau tidak perlu bohong, aku tahu.. aku melihatnya dan
kau dengan cepat menuju kelas seakan semuanya orang lain yang mengirim bukan dirimu..”
kata Reita menatap Uru.
Uru benar2 terdiam bingung mau menjawab apa.. semuanya
sudah ketahuan....
“kau benar2 mencintaiku Uru?” tanya Reita sambil memegang tangan Uru. Uru melihat tangan
itu menyentuh kembali membuat detak jantungnya kembali berdebar kencang.
“sejak kapan? Kenapa aku baru tahu sekarang..” kiranya.
“percuma rei..” kata Uru sambil menjauhkan tangan yang di
pegang Reita.
“aku harus menguburnya..” Uru menahan tangisannya.
“doushite?”
“Rei!” Uru memberanikan menatap mata Reita.
“kau ingat apa yang terjadi sekarang?? Apa kau tahu
posisiku dimana dan dirimu?” jelas Uru.
“tapi aku merasa kau tulus di banding dengan Ruki..”
“tapi aku merasa kau tulus di banding dengan Ruki..”
“kau-“
“aku tahu alasannya, karena kau bersahabat dengan Ruki,
kan? Kau tidak mau mencintaiku karena ada Ruki. Lalu apa kau tersiksa menyimpan
perasaan padaku? apa yang mau kau lakukan kalau orang yg kau cintai mulai
nyaman dan mencintai balik dengan hangat?”
Airmata itu jatuh begitu saja menatap Reita yang
mengatakan isi hatinya..
“kau takut kalau kau adalah seseorang yang menusuk dari
belakang dari seorang sahabat,kan? Kalau aku masih berpacaran, mungkin itu iya.
Tapi kau tahu, kan aku tidak ada hubungan apa2 lagi sekarang?”
“tapi Ruki tidak mau melepaskanmu Rei!” seru Uru.
Reita meraih kedua tangan Uru dan menggenggamnya.
Reita meraih kedua tangan Uru dan menggenggamnya.
“untuk itu bantu aku..melepaskanku dari Ruki, agar orang
yang kau cintai ini bahagia..” Reita juga menahan airmatanya.
“aku bingung Rei, aku tidak tahu harus bagaimana...” Uru
menunduk dan menangis. Saat itu pula Reita memeluknya.
“jauh sebelum Ruki menyukaimu, aku sudah sering
memerhatikanmu. Tapi aku mengalah karena Ruki ternyata memendam perasaan
padamu.. aku ingin Ruki bahagia..” kata Uru dalam tangisannya dalam peluk
Reita.
“andai saat itu aku tak memilih Ruki dan harusnya memilikimu..”
Reita memeluknya dengan erat.
“kenapa jadi begini?” Uru pun memeluk pinggang Reita
perlahan. Reita mencium rambut Uru dengan hangat dan kembali memeluk dengan
erat merasakan dadanya yang basah akibat airmata Uru.
“apa kau mau menjadi kekasihku? Sebelum semuanya
terlambat? Apa kau mau aku bahagia terlepas dari Ruki?” Reita melepaskan
pelukannya dan menangkup wajah Uru yang menangis.
Perlahan, Reita mencium bibir Uru dengan hangat. Mereka
saling memejamkan mata merasakan hangatnya bibir satu sama lain. Sore senja ini
menjadi saksi hubungan mereka yang sedang di liputi banyak masalah.
Ketika mata Uru terbuka perlahan, dia melihat dari
kejauhan dari samping kanan Reita, Ruki berdiri mematung melihat mereka
berciuman. Ketika sadar, Reita melepaskan
ciuman itu dan melihat apa yang Uru lihat..
Ruki mengepalkan tangannya. Wajahnya hanya diam tenang..
entah ekspresi marah atau apapun tidak bisa tertebak sama sekali..
“Ru-Ruki...” Uru benar2 kaget.
**********************
No comments:
Post a Comment