Sunday, March 16, 2014

Argeza ~4

Title      :               Argeza
Genre  :               fantasy,action,comedy,life, nano-nano dah pokoknya XDDD
Cast      :              utamanya Gajet yang lain numfang hehehehe..
Eps        :               4 *cieeee sok anime

---------------------------------------------------------------------------------------------//



。゚.(*The GazettE  *) °




Seminggu setelah kejadian Aoi dan Ruki di hari pertama Ruki masuk sekolah, membuat seluruh satu sekolah tahu kalau sekarang Aoi dan Ruki adalah dua siswa yang akan selalu memancarkan aura tidak mengenakkan jika mereka berdua bertemu. Ruki sudah tidak bisa bersabar karena ulah Aoi semenjak mematahkan Coda kesayangannya. Sekarang, Ruki jauh terkenal di antara semua siswa dan sering menyapanya jika bertemu dengannya. Aoi mendadak menjadi pendiam seakan dia punya sesuatu yang tersimpan dan tidak ada yang tahu ada apa dengan Aoi..

Orang yang saat itu menembakkan panah busur sihir ke lengan Ruki adalah Uruha. Uruha dapat merasakan suatu kekuatan besar dan saat itu Uruha segera mencari dimana sumbernya berasal. Dia mendapati Ruki di ruangan itu dalam keadaan di selimuti aura merah dengan kekuatan besar. Dan Uruha buru-buru menghentikan tindakan Ruki yang mungkin akan menyebabkan sesuatu yang fatal nantinya. Sementara Kamijo-sama yang mengetahui hal ini, langsung memanggil Aoi dan menyatakan Aoi dalam peringatan ke tiga yang artinya jika dia sekali lagi melakukan kesalahan, dia akan di drop out dari sekolah ini. Tapi saat Aoi berhadapan dengan Kamijo, Aoi malah terfikirkan kata-kata Ruki..

 “kau tahu? Kamijo-sama mengatakan aku ini tidak boleh membiarkan emosiku sampai tingkat paling atas..kekuatanku bisa menghancurkan sekolah ini bahkan semua nyawa melayang..”

Sampai sekarang Aoi memikirkan hal itu, dia sendiri sekarang sedang tiduran di loteng sekolah dan memandang langit yang teduh. Angin semilir itu membuat suasana semakin sejuk dan Aoi bisa mendinginkan otaknya *plak*.

“di situ kau rupanya..”

Uruha akhirnya menemukan Aoi di loteng sekolah. Kemudian dia dan karpet terbangnya menghampiri Aoi dan kemudian dia turun dari karpet terbang dan menghilangkan karpet tersebut. Uruha duduk di samping Aoi sambil selonjoran kakinya yang terasa pegal.

“aku masih memikirkan hal itu? apa kau juga?” kata Aoi santai.

“kekuatan Ruki waktu itu bisa di sandingkan setara dengan Kai.. tapi kenapa Ruki di kelas level 1? Padahal dia bisa loncat kelas level 4 kalau sudah tahu kekuatannya begitu..” pikir Uruha.

“mungkin dia tidak mau terburu-buru, dia tipe yang ingin mempelajari dulu sampai paham benar..” jawab Aoi. Kemudian Uruha mengeluarkan botol minuman dari balik punggungnya seakan dia menggunakan sihirnya.

“mau? Ada biskuit juga..” kata Uruha sambil mendlosorkan(?) botol minuman dan sebungkus biskuit itu ke wajah Aoi yang sedang tiduran. Aoi kemudian bangun, dan mengambil botol minuman itu. dan Uruha membuka bungkus biskuit berbentuk stick memanjang *ambigu*.

“ah segarnya..ngomong-ngomong hari ini ada pembagian kelompok global ya?” kata Aoi yang sekarang duduk samaan dengan Uruha.

“un..entahlah Kamijo-sama sepertinya punya planning baru~” kata Uruha seraya memakan biskuit bentuk stick itu. dan tiba-tiba saja, ketika Uruha membiarkan stick biskuitnya di mulut,mirip sedang mainan sedotan, Aoi langsung melahap ujung biskuitnya dan Uruha kaget dan melepaskan biskuit itu.

“kebiasaan..” Uruha mendelik.

“biarlah..romantis...heeee..” kata Aoi cengengesan.

PLAK!!

Uruha memukul kepala Aoi dengan pelan namun berasa langsung senut-senut,

“aduhhh..T.T..” Aoi mengeluas kepalanya.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Suasana sekolah saat itu sedang ramai, karena sekarang jam istirahat. Mereka ada yang berkumpul di bawah pohon, dekat kolam, taman sekolah dan juga kafetaria yang penuh dan sesak. Saat itu Ruki ingin membeli roti sandwich yang terkenal sangat enak dan cepat habis di sebuah stand makanan sebelah kiri. Tapi lihatlah sekarang, semuanya berebutan dan sepertinya walaupun Ruki menunggu sampai mereka bubaran, dia tidak akan kebagian roti sandwich itu. Ruki menghela nafas dan memilih untuk membeli lemon tea saja di stand minuman di sebelahnya. Kemudian dia duduk di meja yang kosong dan minum teh itu sendirian. Dan pandangannya kembali melihat ke arah siswa-siswa yang berhasil membeli roti langka itu. sungguh beruntung siswa-siswa itu. huft..

“eh?” Ruki di kagetkan dengan sebuah bungkusan roti langka yang ia mau di depan wajahnya. Kemudian dia menoleh dan melihat Reita tersenyum padanya. Dan kemudian Reita duduk dan menyodorkan roti itu di depan Ruki.

“senpai?” Ruki bingung.

“aku bisa baca pikiranmu, kok..” kata Reita dan ini membuat Ruki tersenyum aneh karena dia malu ingin roti langka ini.

“dapat darimana? Ku lihat Reita-senpai tidak berdesakan disana?” kata Ruki.

“aku pesankan khusus, aku dan si penjualnya lumayan dekat, hehe..” ujar Reita.

“enak sekali..” pikir Ruki sedikit iri.

“makanlah..” kata Reita.

“reita-senpai sudah makan?”

“belum sih, tapi ya duluan saja..”

“duh tidak enak aku makan sendiri, makan berdua saja ya? lagian roti ini ukurannya besar, mana mungkin makan sendiri..”

“tidak apa-apa?”

“sudak tidak apa, lagian Reita-senpai yang membelikan ini untukku..kita makan di loteng sekolah saja yuk, sepertinya angin sepoi di sana lebih enak~”

“un!”

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Kai sedang berada di sebuah ruangan tertutup di ruang bawah tanah sekolah ini. Kai sengaja membuat sebuah ruangan khusus untuk dirinya untuk bisa sendiri dan belajar sihir dan meningkatkan kemampuannya. Dia sedang menguasai sihir barunya dan di gabungkan dengan ketajaman fokusnya. Akhir-akhir ini Kai sangat tidak fokus dan segelintir orang saja yang mengetahui Kai sedikit berbeda..

Dia berdiri tegak di tengah ruangan kosong ini dan merentangkan kedua tangannya lebar sejajar dengan pahanya. Dan kemudian dia memejamkan matanya seakan dia ingin fokus sekali untuk mengeluarkan kekuatannya. Namun saat aura biru mengelilingi tubuhnya, mendadak langsung meredup dan hilang. Keseimbangan tubuh Kai lemah, dan dia terjatuh ke lantai. Kai mengatur nafasnya dan kemudian terduduk di atas lantai sambil memegangi dadanya.

“kenapa aku belum bisa menguasainya? Bagaimana dengan ujian akhir nanti? Aku tidak ingin Uruha tersenyum penuh arti..” kata Kai dalam menahan rasa sakitnya itu.

“sampai kapan kau akan diam di sini, semua sudah berkumpul di lapangan..” kata Tsurugi, teman satu kelas Kai yang sangat menjaga jarak dengan Kai ketika di umum. Tsurugi sebenarnya adalah teman dekat Kai yang mempunyai cara licik naik ke level 4 ini. Dia diam di pintu sambil bersandar di pintu melipatkan tangannya sambil memandang Kai dengan pandangan hina.

“sialan kau! bukannya dukung aku malah pose meremehkan!” kata Kai dengan tatapan kesalnya sambil bangkit. Tsurugi mendekatinya sambil tertawa kecil melihat temannya sedang berusaha keras untuk bisa menjadi yang terbaik di level 5 nantinya.

“kau tidak fokus karena kau terpikirkan dengan bagaimana memiliki kekuatan terbesar, kan?” kata Tsurugi dengan santainya membantu memapah Kai.

“aku harus bisa kekuatan itu, makanya aku terpikirkan terus..” kata Kai.

“jangan pikirkan hal itu, pikirkan bagaimana kau mengetahui siapa yang mempunyai kekuatan besar itu dan mungkin kau bisa memindahkan energinya sebagian pada tubuhmu..” kira Tsurugi dengan tatapan liciknya. Kai dan Tsurugi saling berpandangan.

“aku tidak berharap Uruha yang memilikinya..” ucap Kai dengan nada dinginnya dan pandangan sendu. Kemudian mereka pun keluar dari ruangan itu. dan pintu menutup dengan sendirinya.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Reita berdehem di depan ratusan siswa Mahou Gakuen di dalam sebuah aula yang cukup besar. Semua siswanya berdiri dengan barisan rapi tanpa menggunakan karpet terbang. Semua siswa di kumpulkan di sini karena ada tujuan tersendiri. Kamijo-sama selaku pemimpin sekolah ini berdiri di samping Reita. Reita memegang sebuah kertas yang sebentar lagi akan di umumkan oleh Reita dengan suara lantang. Ke empat ketua kelas level yang seperti biasanya berdiri paling depan saling melirik satu sama lain seakan mereka siap siaga dengan apa yang akan di katakan Reita sebentar lagi. Sementara Ruki yang berdiri dari 3 orang di depannya hanya berwajah datar dan tenang. Yah, Ruki tidak tahu sebagai anak baru hanya bisa mematuhi yang sudah ada..

“hari ini kita semua di kumpulkan karena ada satu kepentingan yang mungkin Kamijo-sama baru menyadarinya.. Kamijo-sama melihat keadaan sekolah kita ini tidak seperti beberapa tahun yang lalu..keadaan sekarang, semua siswa individual dan tidak ada sosialisasi dengan baik. Maka dari itu, Kamijo-sama menyampaikan lewat ini bahwa akan diadakan pengelompokkan global yang artinya gabungan 5 orang dari kelas level 1 sampai kelas level 5..mungkin yang di harapkan dengan begini, dalam pengelompokkan akan saling tolong-menolong dan saling mengasihi..cara pengelompokkannya dengan setiap siswa maju ke depan dan mengambil selembar kertas gulung kecil dari tiap-tiap box yang di sediakan di ujung aula ini, kemudian berkumpul dengan kelompoknya dan memberi nama kelompok itu..mengerti?” kata Reita dengan suara lantang.

“hai!!!” seru semua yang sudah mengerti dengan penjelasannya Reita. Kemudian Aoi menghela nafasnya dan mendelikkan matanya dengan kesal mendengar ini. Kemudian Ruki melihat seluruh siswa berbondong-bondong menuju kotak box yang ada di ujung aula ini. Mereka saling teriak kaget,senang,kesal dan macam-macam ekspresi ketika mengetahui siapa yang menjadi kelompoknya. Kemudian mereka berkumpul kembali dengan kelompoknya di tengah aula dan membicarakan nama kelompoknya.

“aku membuat ini juga ada tujuan ke depannya, untuk itu kerjasama dengan baiklah dengan mereka..” ucap Kamijo-sama yang ada di samping Ruki. Ruki menoleh kemudian dia tersenyum. Ruki melangkah ke kotak box itu, dan persis sekali ke empat ketua kelas level itu berpapasan dengan Ruki menuju ke tengah aula. Entahlah, Ruki merasakan aura aneh di tubuh mereka yang diam tidak berkata bahkan Aoi membuang wajahnya. Ruki menoleh sedikit kenapa ke empat ketua itu berjalan berdua-duaan seperti Aoi dan Reita lalu Uruha dan Kai. Ada yang aneh? Bukannya mereka saling bermusuhan pada kenyataannya?

“Ruki, kau sekelompok dengan siapa? Aku dengan Saga dan Nao, tidak menyangka sekelas dengan 2 siswa kelas level 4..” kata Shou yang menghampiri Ruki dengan mimik senang. Kemudian Ruki membalas itu dengan senyuman.

“chotto matte!” Ruki kemudian memasukkan tangan ke dalam box dan mengambil sebuah gulungan kertas kecil. Shou yang sangat antusias ini, berdiri di belakang Ruki agar dia menjadi orang pertama yang tahu dengan siapa Ruki satu kelompok. Kemudian saat Ruki membuka kertasnya, senyum Ruki meluntur menjadi bengong.

“NANI!!!!!!!!” Shou teriak cukup keras di dekat telinga Ruki dan Ruki menoleh sedikit dan menutup telinganya. Dahinya berkerut seakan dia kesal dengan tingkah Shou yang berlebihan. Shou merebut kertas dari Ruki dengan sangat terkejut bukan kepalang dan dia menutup mulutnya seperti cewek anggun yang kaget -_-

“tidak mungkin! Kau satu kelompok dengan ke empat ketua level itu!!!!” seru Shou sampai ke seluruh penjuru aula. Semuanya juga kaget dan mata mereka menyorot pada Ruki. Ruki cengengesan aneh seakan dia juga bingung kenapa bisa satu kelompok dengan ‘4 aura aneh’ itu. kemudian Ruki melihat ke empat orang itu. Ruki tersenyum lebar aneh sekali. dia melihat mata ke empat orang itu menjurus ke arahnya dan seakan ada aura sengatan listrik dari sorotan matanya terhadapnya.

“eh???!!” Ruki bahkan memalingkan wajahnya dengan setengah kekuatan.

kenapa bisa aku satu kelompok dengan mereka? Apa yang akan terjadi? Aku punya masalah dengan Aoi, Uruha tidak suka padaku, Kai bisa-bisa nguyel2(?) aku tiap hari sampai badan ini pegal-pegal, tambahkan Reita yang selalu baik dan membuatku tidak enak hati. Ya tuhan, kenapa karakter mereka berbeda 180 derajat? Dan di antara mereka juga ada masalah bukan?haissshhh...” Ruki merutuk dirinya dalam hati. Ketika dia melirik kembali, Uruha sedang saling tatap dengan Kai, Reita dan Aoi. Aura mereka memang tepancar berbeda dari biasanya. Semua siswa juga sedikit menjauh dari ke empat orang itu. saling berbisik membicarakan kelompok aneh itu. dan Ruki menelan ludahnya dan melangkah dengan tidak pasrah menuju mereka.

“o-onegai shimasu..” Ruki melafalkan itu dengan gugup tanpa memandang satu pun dari mereka. Bahkan Reita yang selalu tersenyum baik ke Ruki sekarang berubah samanya dengan yang lain. Ruki pikir Reita berubah begini karena dia berhadapan dengan 3 orang bermasalah ini. Jadi terbawa-bawa dan Ruki seakan memakluminya.

“kata apa yang pantas aku katakan ketika buntelan ini masuk kelompok kita?” kata Uruha dengan lirikan yang sangat menakutkan bagi Ruki. Ruki hanya bisa ber-hehe ria dengan wajah anehnya.

“siapa yang buntelan?” meskipun Ruki takut mereka, dia cukup sensitif di katakan buntelan.

“kau.” singkat Uruha sambil melipatkan tangannya dan membuang wajahnya tidak mau bersatu dengan Ruki. Senyum Ruki simpul seakan dia kesal dengan perkataan Uruha.

sabar Ruki, sabarrrr...” Ruki menenangkan dirinya dengan kata-kata itu dalam hatinya. Sementara Kai mendadak tersenyum pada Ruki dan menghampirinya.

“untung kau di sini, kau bisa jadi penghiburku..ya kaaaaan..” kata Kai kemudian dia menarik kedua pipi Ruki sampai melebar dan membuat semua siswa bengong dengan kelakuannya Kai yang memang punya penyakit ‘suka wajah anak-anak meski sudah umur dewasa’. Ruki kesakitan sementara Reita menutupi sebagian wajahnya  dengan sebelah telapak tangannya seakan dia kecewa kenapa semua ini terjadi. Kemudian Uruha pergi dari situ entah kemana dan membuat semua siswa minggir dengan sendiriny mempersilahkan aura paling dingin ini keluar dari aula. Kamijo-sama tersenyum sinis seakan dia merencanakan segala sesuatu. Dan Ruki menghela nafasnya melihat Uruha pergi keluar. Sama dengan Kai dan Reita melihat Uruha keluar dari aula.

“apa kau masih dendam denganku? Atas kejadian kemarin?” tanya Aoi dengan wajah cueknya. Ruki menatap Aoi dan berpikir sejenak.

“mungkin kita akan bekerja sama nantinya daripada membalas dendam, nee?” kata Ruki dengan wajah polosnya. Dan ini membuat Aoi terdiam memandang Ruki.

“dan bagaimana dengan nama kelompok kita sekarang? Kalau suasananya begini dan di lihati semua siswa dengan sorotan berbeda-beda..” kata Reita makin kebingungan.

“aku yang akan menamainya, Uruha tidak akan peduli dengan nama sebuah kelompok..” kata Kai dengan wajah serius namun santai. Ruki hanya bisa bengong melihat suasana tidak karuan seperti ini.

“saa... semuanya sudah kebagian kelompok,kan? Beri nama untuk nama kelompok kalian..dan tuliskan anggotanya..” kata Kamijo-sama kemudian bersuara membuat seluruh mata tertuju pada Kamijo-sama.

sesuai prediksi sihirku, semuanya berjalan dengan lancar..hanya mereka yang bisa melindungi Argeza nantinya..” ucap Kamijo-sama dalam hatinya kemudian dia pergi meninggalkan aula ini. Semua siswa kembali berbisik-bisik. Tinggal Ruki yang memandangi ketiga ketua yang berbeda karakter ini.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Meja kafetaria penuh dan sesak di penuhi siswa-siswa. Setelah pengelompokkan tadi, mereka menuju kafetaria karena sudah menunjukkan jam istirahat. Beberapa siswa seperti biasa antri untuk beli roti langka, minuman soda dan lain-lain. Tapi lihatlah satu meja yang di kelilingi aura negatif(?) itu. semuanya membicarakan meja ‘angker’ menurut mereka.

Saat itu, Ruki sedang minum lemon tea kesukaannya. Sambil menyeruput dia melirik kanan-kiri d sebelahnya dengan wajah polos dan seakan dia sedang berusaha tenang.
Tahukah kalian? Ruki duduk di meja bersama ke empat ketua itu. Ruki duduk di hadapan Aoi dan Reita, kemudian di samping kiri Ruki ada Uruha dan samping kanan Ruki Kai. Mereka saling membuang wajah dan membuat Ruki menghela nafas usai menyeruput minumannya.

sampai kapan akan terus begini.....” Ruki masih pusing memikirkan suasana yang begini.

“eto~ setidaknya kita sudah punya nama kelompok ‘the GazettE’ sekarang,su-sugoi nee? Hehehehe...” Ruki berusaha memecahkan keheningan namun rupanya tidak berhasil. Sorot mata mereka berbeda-beda memandang Ruki. Ruki meringkukkan tubuhnya dan langsung menyeruput minumannya lagi sambil melirik-lirik sekilas melihat mata mereka.

benar-benar sulit..” pikir Ruki sudah menyerah.

“tugas pertama akan di berikan besok untuk kelompok..” kata Reita dengan tenang seakan dia bicara tidak peduli mau di dengar atau tidak.

“cih,aku malas..” sela Uruha dengan wajah juteknya namun terlihat kekanakan *lucu donk?XD*.

“kau bisa tidak, menghilangkan kejutekanmu itu? seperti tersenyum sekali akan lebih baik..” kata Ruki mulai resah dengan sikap Uruha.

“diam kau buntelan!” seru Uruha malah jadi emosi.

“siapa yang buntelan!?” Ruki bangkit dari kursinya dan memandang Uruha dengan tidak terima di katakan buntelan. Lainnya kaget melihat Ruki marah mendadak.

“kau.” singkat Uruha dengan memandang Ruki.

“bibirmu tuh, keriting! Setrika kalau bisa! Atau perlu catok!” amarah Ruki meledak dan ini membuat semua yang ada di kantin hening memandang pertengkaran mereka.

“sialan! Mau aku buntel beneran hah?!” emosi Uruha terpancing dan dia bangkit dari kursinya.

“errrr...” keduanya saling bertatap tajam dan bersuara bergetar seakan mau menyerang satu sama lain.

“aku seperti melihat dua anjing herder akan saling menyerang..” ujar Aoi santai memandang mereka di hadapannya.

“URUSAI!” kompak Ruki dan Uruha menyentak Aoi.

“kenapa kalian menyentakku!” emosi Aoi ikutan bangkit dari kursinya.

“sudah-sudah, kenapa jadi rame begini sih?” Reita melambaikan tangannya berlawanan arah bermaksud menenangkan suasana yang sudah sedikit kisruh(?) ini.

Kemudian mereka bertiga duduk di kursi masing-masing menahan emosi dengan membuang wajah tidak memandang satu sama lain.

“benar-benar suasana yang memanas, aura jahat mengelilingi dan harus di basmi..” ujar Kai cuek memandang mereka.

“KAI!” kompak mereka berempat menyentak Kai karena Kai malah memancing emosi dengan kata-kata itu. kai langsung cengengesan melihat mata mereka seakan mengeluarkan sengatan listrik ke arahnya.

“hah, kelompok itu apa yang bisa di harapkan?” ujar Saga yang sedang duduk lumayan pojok di kafetaria ini bersama Shou. Shou mengangkat bahunya ketika dia melihat ke belakang dan menangkap aura kelompk the gazette memang tidak beres.

“kita taruhan, sampai kapan mereka akan bertahan?” kira Saga.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Kamijo-sama sedang berhadapan dengan laptop berteknologi tinggi di depan meja kerjanya. Di sebuah layar laptopnya, dia mengetik nama ‘Gakuto’ dan kemudian menekan enter. Dan kemudian laptop itu menampilkan sebuah layar yang menghubungkan dirinya dengan laptop Gakuto. Dan mereka pun bertemu secara tidak langsung.

ah,doshita?” tanya Gakuto di laptop itu.

“aku sudah berhasil mempersatukan mereka, rencanaku tidak meleset. Bahkan tidak ada yang tahu aku menggunakan sihir komunikasi tadi. Dan aku harap anak-anak itu akan berkembang dan bisa melindungi Argeza..”

good job Kamijo! Aku tahu, aku tidak akan salah memberikan kewenanganku padamu. Sekarang bagaimana caranya agar mereka benar-benar bersatu sebelum kita mengatakan sesuatu yang berat yang belum pernah hadapi seumur hidup mereka?

“aku sedang memikirkannya, mulai besok aku akan memberikan tugas-tugas pada semua siswa, semoga saja mereka bisa mengatasinya dengan saling tolong-menolong..”

un! Oh ya, sebenarnya aku punya berita sedikit buruk tentang segel Argeza..

“kenapa?!”

sistemnya menurun semenjak seminggu yang lalu,  staff Research sedang menganalisis..doakan tidak terjadi apa-apa..hatiku berkata ada yang tidak beres..”

“Oh sokka?? Baiklah, kalau kau sedang bertugas, kita sudahi saja percakapan ini..ok..”

Gakuto tersenyum kemudian dia mematikan percakapan mereka di laptop dan Kamijo juga menutup laptopnya dan berpikir apa yang telah di ucapkan oleh Gakuto tadi.

“kenapa aku merasakan hal yang sama dengan Gakuto? Walau selalu menyangkal tapi perasaan itu semakin menjadi-jadi..” ucap Kamijo.

“Kamijo-sama..sumimasen..” Reita berteriak sopan dari luar pintu ruangan Kamijo-sama sambil membawa tumpukan kertas berisi nama-nama kelompok.

“ah, Douzo..” Kamijo mempersilahkannya. Reita masuk dan langsung menghadap Kamijo dengan wajah tenang.

“ini data pengelompokkannya..” Reita menyerahkan itu dan Kamijo sekilas melihat-lihatnya.

“unik sekali namanya..bagaimana dengan keadaanmu dan kelompokmu?” kata Kamijo sambil tersenyum.

“ah, sepertinya akan sulit untuk bersatu. Tapi aku akan mencoba berusaha untuk mempersatukan kelompokku ini..” ujar Reita. Kamijo mengangguk dan tersenyum.

“aku bangga padamu bisa mengatasi segala yang ada di sekolah ini..” kata Kamijo. Dan ini membuat Reita tersenyum tersipu.

---------------------------------------------------------------------------------------------//


 Title      :               Argeza
Genre  :               fantasy,action,comedy,life, nano-nano dah pokoknya XDDD
Cast      :              utamanya Gajet yang lain numfang hehehehe..
Eps        :               4 *cieeee sok anime

---------------------------------------------------------------------------------------------//



。゚.(*The GazettE  *) °




Seminggu setelah kejadian Aoi dan Ruki di hari pertama Ruki masuk sekolah, membuat seluruh satu sekolah tahu kalau sekarang Aoi dan Ruki adalah dua siswa yang akan selalu memancarkan aura tidak mengenakkan jika mereka berdua bertemu. Ruki sudah tidak bisa bersabar karena ulah Aoi semenjak mematahkan Coda kesayangannya. Sekarang, Ruki jauh terkenal di antara semua siswa dan sering menyapanya jika bertemu dengannya. Aoi mendadak menjadi pendiam seakan dia punya sesuatu yang tersimpan dan tidak ada yang tahu ada apa dengan Aoi..

Orang yang saat itu menembakkan panah busur sihir ke lengan Ruki adalah Uruha. Uruha dapat merasakan suatu kekuatan besar dan saat itu Uruha segera mencari dimana sumbernya berasal. Dia mendapati Ruki di ruangan itu dalam keadaan di selimuti aura merah dengan kekuatan besar. Dan Uruha buru-buru menghentikan tindakan Ruki yang mungkin akan menyebabkan sesuatu yang fatal nantinya. Sementara Kamijo-sama yang mengetahui hal ini, langsung memanggil Aoi dan menyatakan Aoi dalam peringatan ke tiga yang artinya jika dia sekali lagi melakukan kesalahan, dia akan di drop out dari sekolah ini. Tapi saat Aoi berhadapan dengan Kamijo, Aoi malah terfikirkan kata-kata Ruki..

 “kau tahu? Kamijo-sama mengatakan aku ini tidak boleh membiarkan emosiku sampai tingkat paling atas..kekuatanku bisa menghancurkan sekolah ini bahkan semua nyawa melayang..”

Sampai sekarang Aoi memikirkan hal itu, dia sendiri sekarang sedang tiduran di loteng sekolah dan memandang langit yang teduh. Angin semilir itu membuat suasana semakin sejuk dan Aoi bisa mendinginkan otaknya *plak*.

“di situ kau rupanya..”

Uruha akhirnya menemukan Aoi di loteng sekolah. Kemudian dia dan karpet terbangnya menghampiri Aoi dan kemudian dia turun dari karpet terbang dan menghilangkan karpet tersebut. Uruha duduk di samping Aoi sambil selonjoran kakinya yang terasa pegal.

“aku masih memikirkan hal itu? apa kau juga?” kata Aoi santai.

“kekuatan Ruki waktu itu bisa di sandingkan setara dengan Kai.. tapi kenapa Ruki di kelas level 1? Padahal dia bisa loncat kelas level 4 kalau sudah tahu kekuatannya begitu..” pikir Uruha.

“mungkin dia tidak mau terburu-buru, dia tipe yang ingin mempelajari dulu sampai paham benar..” jawab Aoi. Kemudian Uruha mengeluarkan botol minuman dari balik punggungnya seakan dia menggunakan sihirnya.

“mau? Ada biskuit juga..” kata Uruha sambil mendlosorkan(?) botol minuman dan sebungkus biskuit itu ke wajah Aoi yang sedang tiduran. Aoi kemudian bangun, dan mengambil botol minuman itu. dan Uruha membuka bungkus biskuit berbentuk stick memanjang *ambigu*.

“ah segarnya..ngomong-ngomong hari ini ada pembagian kelompok global ya?” kata Aoi yang sekarang duduk samaan dengan Uruha.

“un..entahlah Kamijo-sama sepertinya punya planning baru~” kata Uruha seraya memakan biskuit bentuk stick itu. dan tiba-tiba saja, ketika Uruha membiarkan stick biskuitnya di mulut,mirip sedang mainan sedotan, Aoi langsung melahap ujung biskuitnya dan Uruha kaget dan melepaskan biskuit itu.

“kebiasaan..” Uruha mendelik.

“biarlah..romantis...heeee..” kata Aoi cengengesan.

PLAK!!

Uruha memukul kepala Aoi dengan pelan namun berasa langsung senut-senut,

“aduhhh..T.T..” Aoi mengeluas kepalanya.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Suasana sekolah saat itu sedang ramai, karena sekarang jam istirahat. Mereka ada yang berkumpul di bawah pohon, dekat kolam, taman sekolah dan juga kafetaria yang penuh dan sesak. Saat itu Ruki ingin membeli roti sandwich yang terkenal sangat enak dan cepat habis di sebuah stand makanan sebelah kiri. Tapi lihatlah sekarang, semuanya berebutan dan sepertinya walaupun Ruki menunggu sampai mereka bubaran, dia tidak akan kebagian roti sandwich itu. Ruki menghela nafas dan memilih untuk membeli lemon tea saja di stand minuman di sebelahnya. Kemudian dia duduk di meja yang kosong dan minum teh itu sendirian. Dan pandangannya kembali melihat ke arah siswa-siswa yang berhasil membeli roti langka itu. sungguh beruntung siswa-siswa itu. huft..

“eh?” Ruki di kagetkan dengan sebuah bungkusan roti langka yang ia mau di depan wajahnya. Kemudian dia menoleh dan melihat Reita tersenyum padanya. Dan kemudian Reita duduk dan menyodorkan roti itu di depan Ruki.

“senpai?” Ruki bingung.

“aku bisa baca pikiranmu, kok..” kata Reita dan ini membuat Ruki tersenyum aneh karena dia malu ingin roti langka ini.

“dapat darimana? Ku lihat Reita-senpai tidak berdesakan disana?” kata Ruki.

“aku pesankan khusus, aku dan si penjualnya lumayan dekat, hehe..” ujar Reita.

“enak sekali..” pikir Ruki sedikit iri.

“makanlah..” kata Reita.

“reita-senpai sudah makan?”

“belum sih, tapi ya duluan saja..”

“duh tidak enak aku makan sendiri, makan berdua saja ya? lagian roti ini ukurannya besar, mana mungkin makan sendiri..”

“tidak apa-apa?”

“sudak tidak apa, lagian Reita-senpai yang membelikan ini untukku..kita makan di loteng sekolah saja yuk, sepertinya angin sepoi di sana lebih enak~”

“un!”

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Kai sedang berada di sebuah ruangan tertutup di ruang bawah tanah sekolah ini. Kai sengaja membuat sebuah ruangan khusus untuk dirinya untuk bisa sendiri dan belajar sihir dan meningkatkan kemampuannya. Dia sedang menguasai sihir barunya dan di gabungkan dengan ketajaman fokusnya. Akhir-akhir ini Kai sangat tidak fokus dan segelintir orang saja yang mengetahui Kai sedikit berbeda..

Dia berdiri tegak di tengah ruangan kosong ini dan merentangkan kedua tangannya lebar sejajar dengan pahanya. Dan kemudian dia memejamkan matanya seakan dia ingin fokus sekali untuk mengeluarkan kekuatannya. Namun saat aura biru mengelilingi tubuhnya, mendadak langsung meredup dan hilang. Keseimbangan tubuh Kai lemah, dan dia terjatuh ke lantai. Kai mengatur nafasnya dan kemudian terduduk di atas lantai sambil memegangi dadanya.

“kenapa aku belum bisa menguasainya? Bagaimana dengan ujian akhir nanti? Aku tidak ingin Uruha tersenyum penuh arti..” kata Kai dalam menahan rasa sakitnya itu.

“sampai kapan kau akan diam di sini, semua sudah berkumpul di lapangan..” kata Tsurugi, teman satu kelas Kai yang sangat menjaga jarak dengan Kai ketika di umum. Tsurugi sebenarnya adalah teman dekat Kai yang mempunyai cara licik naik ke level 4 ini. Dia diam di pintu sambil bersandar di pintu melipatkan tangannya sambil memandang Kai dengan pandangan hina.

“sialan kau! bukannya dukung aku malah pose meremehkan!” kata Kai dengan tatapan kesalnya sambil bangkit. Tsurugi mendekatinya sambil tertawa kecil melihat temannya sedang berusaha keras untuk bisa menjadi yang terbaik di level 5 nantinya.

“kau tidak fokus karena kau terpikirkan dengan bagaimana memiliki kekuatan terbesar, kan?” kata Tsurugi dengan santainya membantu memapah Kai.

“aku harus bisa kekuatan itu, makanya aku terpikirkan terus..” kata Kai.

“jangan pikirkan hal itu, pikirkan bagaimana kau mengetahui siapa yang mempunyai kekuatan besar itu dan mungkin kau bisa memindahkan energinya sebagian pada tubuhmu..” kira Tsurugi dengan tatapan liciknya. Kai dan Tsurugi saling berpandangan.

“aku tidak berharap Uruha yang memilikinya..” ucap Kai dengan nada dinginnya dan pandangan sendu. Kemudian mereka pun keluar dari ruangan itu. dan pintu menutup dengan sendirinya.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Reita berdehem di depan ratusan siswa Mahou Gakuen di dalam sebuah aula yang cukup besar. Semua siswanya berdiri dengan barisan rapi tanpa menggunakan karpet terbang. Semua siswa di kumpulkan di sini karena ada tujuan tersendiri. Kamijo-sama selaku pemimpin sekolah ini berdiri di samping Reita. Reita memegang sebuah kertas yang sebentar lagi akan di umumkan oleh Reita dengan suara lantang. Ke empat ketua kelas level yang seperti biasanya berdiri paling depan saling melirik satu sama lain seakan mereka siap siaga dengan apa yang akan di katakan Reita sebentar lagi. Sementara Ruki yang berdiri dari 3 orang di depannya hanya berwajah datar dan tenang. Yah, Ruki tidak tahu sebagai anak baru hanya bisa mematuhi yang sudah ada..

“hari ini kita semua di kumpulkan karena ada satu kepentingan yang mungkin Kamijo-sama baru menyadarinya.. Kamijo-sama melihat keadaan sekolah kita ini tidak seperti beberapa tahun yang lalu..keadaan sekarang, semua siswa individual dan tidak ada sosialisasi dengan baik. Maka dari itu, Kamijo-sama menyampaikan lewat ini bahwa akan diadakan pengelompokkan global yang artinya gabungan 5 orang dari kelas level 1 sampai kelas level 5..mungkin yang di harapkan dengan begini, dalam pengelompokkan akan saling tolong-menolong dan saling mengasihi..cara pengelompokkannya dengan setiap siswa maju ke depan dan mengambil selembar kertas gulung kecil dari tiap-tiap box yang di sediakan di ujung aula ini, kemudian berkumpul dengan kelompoknya dan memberi nama kelompok itu..mengerti?” kata Reita dengan suara lantang.

“hai!!!” seru semua yang sudah mengerti dengan penjelasannya Reita. Kemudian Aoi menghela nafasnya dan mendelikkan matanya dengan kesal mendengar ini. Kemudian Ruki melihat seluruh siswa berbondong-bondong menuju kotak box yang ada di ujung aula ini. Mereka saling teriak kaget,senang,kesal dan macam-macam ekspresi ketika mengetahui siapa yang menjadi kelompoknya. Kemudian mereka berkumpul kembali dengan kelompoknya di tengah aula dan membicarakan nama kelompoknya.

“aku membuat ini juga ada tujuan ke depannya, untuk itu kerjasama dengan baiklah dengan mereka..” ucap Kamijo-sama yang ada di samping Ruki. Ruki menoleh kemudian dia tersenyum. Ruki melangkah ke kotak box itu, dan persis sekali ke empat ketua kelas level itu berpapasan dengan Ruki menuju ke tengah aula. Entahlah, Ruki merasakan aura aneh di tubuh mereka yang diam tidak berkata bahkan Aoi membuang wajahnya. Ruki menoleh sedikit kenapa ke empat ketua itu berjalan berdua-duaan seperti Aoi dan Reita lalu Uruha dan Kai. Ada yang aneh? Bukannya mereka saling bermusuhan pada kenyataannya?

“Ruki, kau sekelompok dengan siapa? Aku dengan Saga dan Nao, tidak menyangka sekelas dengan 2 siswa kelas level 4..” kata Shou yang menghampiri Ruki dengan mimik senang. Kemudian Ruki membalas itu dengan senyuman.

“chotto matte!” Ruki kemudian memasukkan tangan ke dalam box dan mengambil sebuah gulungan kertas kecil. Shou yang sangat antusias ini, berdiri di belakang Ruki agar dia menjadi orang pertama yang tahu dengan siapa Ruki satu kelompok. Kemudian saat Ruki membuka kertasnya, senyum Ruki meluntur menjadi bengong.

“NANI!!!!!!!!” Shou teriak cukup keras di dekat telinga Ruki dan Ruki menoleh sedikit dan menutup telinganya. Dahinya berkerut seakan dia kesal dengan tingkah Shou yang berlebihan. Shou merebut kertas dari Ruki dengan sangat terkejut bukan kepalang dan dia menutup mulutnya seperti cewek anggun yang kaget -_-

“tidak mungkin! Kau satu kelompok dengan ke empat ketua level itu!!!!” seru Shou sampai ke seluruh penjuru aula. Semuanya juga kaget dan mata mereka menyorot pada Ruki. Ruki cengengesan aneh seakan dia juga bingung kenapa bisa satu kelompok dengan ‘4 aura aneh’ itu. kemudian Ruki melihat ke empat orang itu. Ruki tersenyum lebar aneh sekali. dia melihat mata ke empat orang itu menjurus ke arahnya dan seakan ada aura sengatan listrik dari sorotan matanya terhadapnya.

“eh???!!” Ruki bahkan memalingkan wajahnya dengan setengah kekuatan.

kenapa bisa aku satu kelompok dengan mereka? Apa yang akan terjadi? Aku punya masalah dengan Aoi, Uruha tidak suka padaku, Kai bisa-bisa nguyel2(?) aku tiap hari sampai badan ini pegal-pegal, tambahkan Reita yang selalu baik dan membuatku tidak enak hati. Ya tuhan, kenapa karakter mereka berbeda 180 derajat? Dan di antara mereka juga ada masalah bukan?haissshhh...” Ruki merutuk dirinya dalam hati. Ketika dia melirik kembali, Uruha sedang saling tatap dengan Kai, Reita dan Aoi. Aura mereka memang tepancar berbeda dari biasanya. Semua siswa juga sedikit menjauh dari ke empat orang itu. saling berbisik membicarakan kelompok aneh itu. dan Ruki menelan ludahnya dan melangkah dengan tidak pasrah menuju mereka.

“o-onegai shimasu..” Ruki melafalkan itu dengan gugup tanpa memandang satu pun dari mereka. Bahkan Reita yang selalu tersenyum baik ke Ruki sekarang berubah samanya dengan yang lain. Ruki pikir Reita berubah begini karena dia berhadapan dengan 3 orang bermasalah ini. Jadi terbawa-bawa dan Ruki seakan memakluminya.

“kata apa yang pantas aku katakan ketika buntelan ini masuk kelompok kita?” kata Uruha dengan lirikan yang sangat menakutkan bagi Ruki. Ruki hanya bisa ber-hehe ria dengan wajah anehnya.

“siapa yang buntelan?” meskipun Ruki takut mereka, dia cukup sensitif di katakan buntelan.

“kau.” singkat Uruha sambil melipatkan tangannya dan membuang wajahnya tidak mau bersatu dengan Ruki. Senyum Ruki simpul seakan dia kesal dengan perkataan Uruha.

sabar Ruki, sabarrrr...” Ruki menenangkan dirinya dengan kata-kata itu dalam hatinya. Sementara Kai mendadak tersenyum pada Ruki dan menghampirinya.

“untung kau di sini, kau bisa jadi penghiburku..ya kaaaaan..” kata Kai kemudian dia menarik kedua pipi Ruki sampai melebar dan membuat semua siswa bengong dengan kelakuannya Kai yang memang punya penyakit ‘suka wajah anak-anak meski sudah umur dewasa’. Ruki kesakitan sementara Reita menutupi sebagian wajahnya  dengan sebelah telapak tangannya seakan dia kecewa kenapa semua ini terjadi. Kemudian Uruha pergi dari situ entah kemana dan membuat semua siswa minggir dengan sendiriny mempersilahkan aura paling dingin ini keluar dari aula. Kamijo-sama tersenyum sinis seakan dia merencanakan segala sesuatu. Dan Ruki menghela nafasnya melihat Uruha pergi keluar. Sama dengan Kai dan Reita melihat Uruha keluar dari aula.

“apa kau masih dendam denganku? Atas kejadian kemarin?” tanya Aoi dengan wajah cueknya. Ruki menatap Aoi dan berpikir sejenak.

“mungkin kita akan bekerja sama nantinya daripada membalas dendam, nee?” kata Ruki dengan wajah polosnya. Dan ini membuat Aoi terdiam memandang Ruki.

“dan bagaimana dengan nama kelompok kita sekarang? Kalau suasananya begini dan di lihati semua siswa dengan sorotan berbeda-beda..” kata Reita makin kebingungan.

“aku yang akan menamainya, Uruha tidak akan peduli dengan nama sebuah kelompok..” kata Kai dengan wajah serius namun santai. Ruki hanya bisa bengong melihat suasana tidak karuan seperti ini.

“saa... semuanya sudah kebagian kelompok,kan? Beri nama untuk nama kelompok kalian..dan tuliskan anggotanya..” kata Kamijo-sama kemudian bersuara membuat seluruh mata tertuju pada Kamijo-sama.

sesuai prediksi sihirku, semuanya berjalan dengan lancar..hanya mereka yang bisa melindungi Argeza nantinya..” ucap Kamijo-sama dalam hatinya kemudian dia pergi meninggalkan aula ini. Semua siswa kembali berbisik-bisik. Tinggal Ruki yang memandangi ketiga ketua yang berbeda karakter ini.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Meja kafetaria penuh dan sesak di penuhi siswa-siswa. Setelah pengelompokkan tadi, mereka menuju kafetaria karena sudah menunjukkan jam istirahat. Beberapa siswa seperti biasa antri untuk beli roti langka, minuman soda dan lain-lain. Tapi lihatlah satu meja yang di kelilingi aura negatif(?) itu. semuanya membicarakan meja ‘angker’ menurut mereka.

Saat itu, Ruki sedang minum lemon tea kesukaannya. Sambil menyeruput dia melirik kanan-kiri d sebelahnya dengan wajah polos dan seakan dia sedang berusaha tenang.
Tahukah kalian? Ruki duduk di meja bersama ke empat ketua itu. Ruki duduk di hadapan Aoi dan Reita, kemudian di samping kiri Ruki ada Uruha dan samping kanan Ruki Kai. Mereka saling membuang wajah dan membuat Ruki menghela nafas usai menyeruput minumannya.

sampai kapan akan terus begini.....” Ruki masih pusing memikirkan suasana yang begini.

“eto~ setidaknya kita sudah punya nama kelompok ‘the GazettE’ sekarang,su-sugoi nee? Hehehehe...” Ruki berusaha memecahkan keheningan namun rupanya tidak berhasil. Sorot mata mereka berbeda-beda memandang Ruki. Ruki meringkukkan tubuhnya dan langsung menyeruput minumannya lagi sambil melirik-lirik sekilas melihat mata mereka.

benar-benar sulit..” pikir Ruki sudah menyerah.

“tugas pertama akan di berikan besok untuk kelompok..” kata Reita dengan tenang seakan dia bicara tidak peduli mau di dengar atau tidak.

“cih,aku malas..” sela Uruha dengan wajah juteknya namun terlihat kekanakan *lucu donk?XD*.

“kau bisa tidak, menghilangkan kejutekanmu itu? seperti tersenyum sekali akan lebih baik..” kata Ruki mulai resah dengan sikap Uruha.

“diam kau buntelan!” seru Uruha malah jadi emosi.

“siapa yang buntelan!?” Ruki bangkit dari kursinya dan memandang Uruha dengan tidak terima di katakan buntelan. Lainnya kaget melihat Ruki marah mendadak.

“kau.” singkat Uruha dengan memandang Ruki.

“bibirmu tuh, keriting! Setrika kalau bisa! Atau perlu catok!” amarah Ruki meledak dan ini membuat semua yang ada di kantin hening memandang pertengkaran mereka.

“sialan! Mau aku buntel beneran hah?!” emosi Uruha terpancing dan dia bangkit dari kursinya.

“errrr...” keduanya saling bertatap tajam dan bersuara bergetar seakan mau menyerang satu sama lain.

“aku seperti melihat dua anjing herder akan saling menyerang..” ujar Aoi santai memandang mereka di hadapannya.

“URUSAI!” kompak Ruki dan Uruha menyentak Aoi.

“kenapa kalian menyentakku!” emosi Aoi ikutan bangkit dari kursinya.

“sudah-sudah, kenapa jadi rame begini sih?” Reita melambaikan tangannya berlawanan arah bermaksud menenangkan suasana yang sudah sedikit kisruh(?) ini.

Kemudian mereka bertiga duduk di kursi masing-masing menahan emosi dengan membuang wajah tidak memandang satu sama lain.

“benar-benar suasana yang memanas, aura jahat mengelilingi dan harus di basmi..” ujar Kai cuek memandang mereka.

“KAI!” kompak mereka berempat menyentak Kai karena Kai malah memancing emosi dengan kata-kata itu. kai langsung cengengesan melihat mata mereka seakan mengeluarkan sengatan listrik ke arahnya.

“hah, kelompok itu apa yang bisa di harapkan?” ujar Saga yang sedang duduk lumayan pojok di kafetaria ini bersama Shou. Shou mengangkat bahunya ketika dia melihat ke belakang dan menangkap aura kelompk the gazette memang tidak beres.

“kita taruhan, sampai kapan mereka akan bertahan?” kira Saga.

---------------------------------------------------------------------------------------------//



Kamijo-sama sedang berhadapan dengan laptop berteknologi tinggi di depan meja kerjanya. Di sebuah layar laptopnya, dia mengetik nama ‘Gakuto’ dan kemudian menekan enter. Dan kemudian laptop itu menampilkan sebuah layar yang menghubungkan dirinya dengan laptop Gakuto. Dan mereka pun bertemu secara tidak langsung.

ah,doshita?” tanya Gakuto di laptop itu.

“aku sudah berhasil mempersatukan mereka, rencanaku tidak meleset. Bahkan tidak ada yang tahu aku menggunakan sihir komunikasi tadi. Dan aku harap anak-anak itu akan berkembang dan bisa melindungi Argeza..”

good job Kamijo! Aku tahu, aku tidak akan salah memberikan kewenanganku padamu. Sekarang bagaimana caranya agar mereka benar-benar bersatu sebelum kita mengatakan sesuatu yang berat yang belum pernah hadapi seumur hidup mereka?

“aku sedang memikirkannya, mulai besok aku akan memberikan tugas-tugas pada semua siswa, semoga saja mereka bisa mengatasinya dengan saling tolong-menolong..”

un! Oh ya, sebenarnya aku punya berita sedikit buruk tentang segel Argeza..

“kenapa?!”

sistemnya menurun semenjak seminggu yang lalu,  staff Research sedang menganalisis..doakan tidak terjadi apa-apa..hatiku berkata ada yang tidak beres..”

“Oh sokka?? Baiklah, kalau kau sedang bertugas, kita sudahi saja percakapan ini..ok..”

Gakuto tersenyum kemudian dia mematikan percakapan mereka di laptop dan Kamijo juga menutup laptopnya dan berpikir apa yang telah di ucapkan oleh Gakuto tadi.

“kenapa aku merasakan hal yang sama dengan Gakuto? Walau selalu menyangkal tapi perasaan itu semakin menjadi-jadi..” ucap Kamijo.

“Kamijo-sama..sumimasen..” Reita berteriak sopan dari luar pintu ruangan Kamijo-sama sambil membawa tumpukan kertas berisi nama-nama kelompok.

“ah, Douzo..” Kamijo mempersilahkannya. Reita masuk dan langsung menghadap Kamijo dengan wajah tenang.

“ini data pengelompokkannya..” Reita menyerahkan itu dan Kamijo sekilas melihat-lihatnya.

“unik sekali namanya..bagaimana dengan keadaanmu dan kelompokmu?” kata Kamijo sambil tersenyum.

“ah, sepertinya akan sulit untuk bersatu. Tapi aku akan mencoba berusaha untuk mempersatukan kelompokku ini..” ujar Reita. Kamijo mengangguk dan tersenyum.

“aku bangga padamu bisa mengatasi segala yang ada di sekolah ini..” kata Kamijo. Dan ini membuat Reita tersenyum tersipu.

---------------------------------------------------------------------------------------------//








No comments:

Post a Comment