Title : Argeza
Genre : fantasy,action,comedy,life,
nano-nano dah pokoknya XDDD
Cast : utamanya
Gajet yang lain numfang hehehehe..
Eps : 4
*cieeee sok anime
---------------------------------------------------------------------------------------------//
♡。゚.(*♡ The GazettE ♡*)゚♡ °・
Seminggu
setelah kejadian Aoi dan Ruki di hari pertama Ruki masuk sekolah, membuat
seluruh satu sekolah tahu kalau sekarang Aoi dan Ruki adalah dua siswa yang
akan selalu memancarkan aura tidak mengenakkan jika mereka berdua bertemu. Ruki
sudah tidak bisa bersabar karena ulah Aoi semenjak mematahkan Coda
kesayangannya. Sekarang, Ruki jauh terkenal di antara semua siswa dan sering
menyapanya jika bertemu dengannya. Aoi mendadak menjadi pendiam seakan dia
punya sesuatu yang tersimpan dan tidak ada yang tahu ada apa dengan Aoi..
Orang
yang saat itu menembakkan panah busur sihir ke lengan Ruki adalah Uruha. Uruha
dapat merasakan suatu kekuatan besar dan saat itu Uruha segera mencari dimana
sumbernya berasal. Dia mendapati Ruki di ruangan itu dalam keadaan di selimuti
aura merah dengan kekuatan besar. Dan Uruha buru-buru menghentikan tindakan
Ruki yang mungkin akan menyebabkan sesuatu yang fatal nantinya. Sementara
Kamijo-sama yang mengetahui hal ini, langsung memanggil Aoi dan menyatakan Aoi
dalam peringatan ke tiga yang artinya jika dia sekali lagi melakukan kesalahan,
dia akan di drop out dari sekolah ini. Tapi saat Aoi berhadapan dengan Kamijo,
Aoi malah terfikirkan kata-kata Ruki..
“kau
tahu? Kamijo-sama mengatakan aku ini tidak boleh membiarkan emosiku sampai
tingkat paling atas..kekuatanku bisa menghancurkan sekolah ini bahkan semua
nyawa melayang..”
Sampai
sekarang Aoi memikirkan hal itu, dia sendiri sekarang sedang tiduran di loteng
sekolah dan memandang langit yang teduh. Angin semilir itu membuat suasana
semakin sejuk dan Aoi bisa mendinginkan otaknya *plak*.
“di
situ kau rupanya..”
Uruha
akhirnya menemukan Aoi di loteng sekolah. Kemudian dia dan karpet terbangnya
menghampiri Aoi dan kemudian dia turun dari karpet terbang dan menghilangkan
karpet tersebut. Uruha duduk di samping Aoi sambil selonjoran kakinya yang
terasa pegal.
“aku
masih memikirkan hal itu? apa kau juga?” kata Aoi santai.
“kekuatan
Ruki waktu itu bisa di sandingkan setara dengan Kai.. tapi kenapa Ruki di kelas
level 1? Padahal dia bisa loncat kelas level 4 kalau sudah tahu kekuatannya
begitu..” pikir Uruha.
“mungkin
dia tidak mau terburu-buru, dia tipe yang ingin mempelajari dulu sampai paham
benar..” jawab Aoi. Kemudian Uruha mengeluarkan botol minuman dari balik
punggungnya seakan dia menggunakan sihirnya.
“mau?
Ada biskuit juga..” kata Uruha sambil mendlosorkan(?) botol minuman dan
sebungkus biskuit itu ke wajah Aoi yang sedang tiduran. Aoi kemudian bangun, dan
mengambil botol minuman itu. dan Uruha membuka bungkus biskuit berbentuk stick
memanjang *ambigu*.
“ah
segarnya..ngomong-ngomong hari ini ada pembagian kelompok global ya?” kata Aoi
yang sekarang duduk samaan dengan Uruha.
“un..entahlah
Kamijo-sama sepertinya punya planning
baru~” kata Uruha seraya memakan biskuit bentuk stick itu. dan tiba-tiba saja,
ketika Uruha membiarkan stick biskuitnya di mulut,mirip sedang mainan sedotan,
Aoi langsung melahap ujung biskuitnya dan Uruha kaget dan melepaskan biskuit
itu.
“kebiasaan..”
Uruha mendelik.
“biarlah..romantis...heeee..”
kata Aoi cengengesan.
PLAK!!
Uruha memukul kepala Aoi dengan pelan namun berasa langsung senut-senut,
“aduhhh..T.T..” Aoi mengeluas kepalanya.
Uruha memukul kepala Aoi dengan pelan namun berasa langsung senut-senut,
“aduhhh..T.T..” Aoi mengeluas kepalanya.
---------------------------------------------------------------------------------------------//
Suasana
sekolah saat itu sedang ramai, karena sekarang jam istirahat. Mereka ada yang
berkumpul di bawah pohon, dekat kolam, taman sekolah dan juga kafetaria yang
penuh dan sesak. Saat itu Ruki ingin membeli roti sandwich yang terkenal sangat
enak dan cepat habis di sebuah stand makanan sebelah kiri. Tapi lihatlah
sekarang, semuanya berebutan dan sepertinya walaupun Ruki menunggu sampai
mereka bubaran, dia tidak akan kebagian roti sandwich itu. Ruki menghela nafas
dan memilih untuk membeli lemon tea saja di stand minuman di sebelahnya.
Kemudian dia duduk di meja yang kosong dan minum teh itu sendirian. Dan
pandangannya kembali melihat ke arah siswa-siswa yang berhasil membeli roti
langka itu. sungguh beruntung siswa-siswa itu. huft..
“eh?”
Ruki di kagetkan dengan sebuah bungkusan roti langka yang ia mau di depan
wajahnya. Kemudian dia menoleh dan melihat Reita tersenyum padanya. Dan
kemudian Reita duduk dan menyodorkan roti itu di depan Ruki.
“senpai?”
Ruki bingung.
“aku
bisa baca pikiranmu, kok..” kata Reita dan ini membuat Ruki tersenyum aneh
karena dia malu ingin roti langka ini.
“dapat
darimana? Ku lihat Reita-senpai tidak berdesakan disana?” kata Ruki.
“aku
pesankan khusus, aku dan si penjualnya lumayan dekat, hehe..” ujar Reita.
“enak
sekali..” pikir Ruki sedikit iri.
“makanlah..”
kata Reita.
“reita-senpai
sudah makan?”
“belum
sih, tapi ya duluan saja..”
“duh
tidak enak aku makan sendiri, makan berdua saja ya? lagian roti ini ukurannya
besar, mana mungkin makan sendiri..”
“tidak
apa-apa?”
“sudak
tidak apa, lagian Reita-senpai yang membelikan ini untukku..kita makan di
loteng sekolah saja yuk, sepertinya angin sepoi di sana lebih enak~”
“un!”
---------------------------------------------------------------------------------------------//
Kai
sedang berada di sebuah ruangan tertutup di ruang bawah tanah sekolah ini. Kai
sengaja membuat sebuah ruangan khusus untuk dirinya untuk bisa sendiri dan
belajar sihir dan meningkatkan kemampuannya. Dia sedang menguasai sihir barunya
dan di gabungkan dengan ketajaman fokusnya. Akhir-akhir ini Kai sangat tidak
fokus dan segelintir orang saja yang mengetahui Kai sedikit berbeda..
Dia
berdiri tegak di tengah ruangan kosong ini dan merentangkan kedua tangannya
lebar sejajar dengan pahanya. Dan kemudian dia memejamkan matanya seakan dia
ingin fokus sekali untuk mengeluarkan kekuatannya. Namun saat aura biru
mengelilingi tubuhnya, mendadak langsung meredup dan hilang. Keseimbangan tubuh
Kai lemah, dan dia terjatuh ke lantai. Kai mengatur nafasnya dan kemudian
terduduk di atas lantai sambil memegangi dadanya.
“kenapa
aku belum bisa menguasainya? Bagaimana dengan ujian akhir nanti? Aku tidak
ingin Uruha tersenyum penuh arti..” kata Kai dalam menahan rasa sakitnya itu.
“sampai
kapan kau akan diam di sini, semua sudah berkumpul di lapangan..” kata Tsurugi,
teman satu kelas Kai yang sangat menjaga jarak dengan Kai ketika di umum.
Tsurugi sebenarnya adalah teman dekat Kai yang mempunyai cara licik naik ke
level 4 ini. Dia diam di pintu sambil bersandar di pintu melipatkan tangannya
sambil memandang Kai dengan pandangan hina.
“sialan
kau! bukannya dukung aku malah pose meremehkan!” kata Kai dengan tatapan
kesalnya sambil bangkit. Tsurugi mendekatinya sambil tertawa kecil melihat
temannya sedang berusaha keras untuk bisa menjadi yang terbaik di level 5
nantinya.
“kau
tidak fokus karena kau terpikirkan dengan bagaimana memiliki kekuatan terbesar,
kan?” kata Tsurugi dengan santainya membantu memapah Kai.
“aku
harus bisa kekuatan itu, makanya aku terpikirkan terus..” kata Kai.
“jangan
pikirkan hal itu, pikirkan bagaimana kau mengetahui siapa yang mempunyai
kekuatan besar itu dan mungkin kau bisa memindahkan energinya sebagian pada
tubuhmu..” kira Tsurugi dengan tatapan liciknya. Kai dan Tsurugi saling
berpandangan.
“aku tidak berharap Uruha yang memilikinya..” ucap Kai dengan nada dinginnya dan pandangan sendu. Kemudian mereka pun keluar dari ruangan itu. dan pintu menutup dengan sendirinya.
“aku tidak berharap Uruha yang memilikinya..” ucap Kai dengan nada dinginnya dan pandangan sendu. Kemudian mereka pun keluar dari ruangan itu. dan pintu menutup dengan sendirinya.
---------------------------------------------------------------------------------------------//
Reita
berdehem di depan ratusan siswa Mahou Gakuen di dalam sebuah aula yang cukup
besar. Semua siswanya berdiri dengan barisan rapi tanpa menggunakan karpet
terbang. Semua siswa di kumpulkan di sini karena ada tujuan tersendiri. Kamijo-sama
selaku pemimpin sekolah ini berdiri di samping Reita. Reita memegang sebuah
kertas yang sebentar lagi akan di umumkan oleh Reita dengan suara lantang. Ke
empat ketua kelas level yang seperti biasanya berdiri paling depan saling
melirik satu sama lain seakan mereka siap siaga dengan apa yang akan di katakan
Reita sebentar lagi. Sementara Ruki yang berdiri dari 3 orang di depannya hanya
berwajah datar dan tenang. Yah, Ruki tidak tahu sebagai anak baru hanya bisa
mematuhi yang sudah ada..
“hari
ini kita semua di kumpulkan karena ada satu kepentingan yang mungkin Kamijo-sama
baru menyadarinya.. Kamijo-sama melihat keadaan sekolah kita ini tidak seperti
beberapa tahun yang lalu..keadaan sekarang, semua siswa individual dan tidak
ada sosialisasi dengan baik. Maka dari itu, Kamijo-sama menyampaikan lewat ini
bahwa akan diadakan pengelompokkan global yang artinya gabungan 5 orang dari
kelas level 1 sampai kelas level 5..mungkin yang di harapkan dengan begini,
dalam pengelompokkan akan saling tolong-menolong dan saling mengasihi..cara
pengelompokkannya dengan setiap siswa maju ke depan dan mengambil selembar
kertas gulung kecil dari tiap-tiap box yang di sediakan di ujung aula ini,
kemudian berkumpul dengan kelompoknya dan memberi nama kelompok itu..mengerti?”
kata Reita dengan suara lantang.
“hai!!!”
seru semua yang sudah mengerti dengan penjelasannya Reita. Kemudian Aoi
menghela nafasnya dan mendelikkan matanya dengan kesal mendengar ini. Kemudian
Ruki melihat seluruh siswa berbondong-bondong menuju kotak box yang ada di
ujung aula ini. Mereka saling teriak kaget,senang,kesal dan macam-macam
ekspresi ketika mengetahui siapa yang menjadi kelompoknya. Kemudian mereka
berkumpul kembali dengan kelompoknya di tengah aula dan membicarakan nama
kelompoknya.
“aku
membuat ini juga ada tujuan ke depannya, untuk itu kerjasama dengan baiklah
dengan mereka..” ucap Kamijo-sama yang ada di samping Ruki. Ruki menoleh
kemudian dia tersenyum. Ruki melangkah ke kotak box itu, dan persis sekali ke
empat ketua kelas level itu berpapasan dengan Ruki menuju ke tengah aula.
Entahlah, Ruki merasakan aura aneh di tubuh mereka yang diam tidak berkata
bahkan Aoi membuang wajahnya. Ruki menoleh sedikit kenapa ke empat ketua itu
berjalan berdua-duaan seperti Aoi dan Reita lalu Uruha dan Kai. Ada yang aneh?
Bukannya mereka saling bermusuhan pada kenyataannya?
“Ruki,
kau sekelompok dengan siapa? Aku dengan Saga dan Nao, tidak menyangka sekelas
dengan 2 siswa kelas level 4..” kata Shou yang menghampiri Ruki dengan mimik
senang. Kemudian Ruki membalas itu dengan senyuman.
“chotto
matte!” Ruki kemudian memasukkan tangan ke dalam box dan mengambil sebuah
gulungan kertas kecil. Shou yang sangat antusias ini, berdiri di belakang Ruki
agar dia menjadi orang pertama yang tahu dengan siapa Ruki satu kelompok.
Kemudian saat Ruki membuka kertasnya, senyum Ruki meluntur menjadi bengong.
“NANI!!!!!!!!”
Shou teriak cukup keras di dekat telinga Ruki dan Ruki menoleh sedikit dan
menutup telinganya. Dahinya berkerut seakan dia kesal dengan tingkah Shou yang
berlebihan. Shou merebut kertas dari Ruki dengan sangat terkejut bukan kepalang
dan dia menutup mulutnya seperti cewek anggun yang kaget -_-
“tidak mungkin! Kau satu kelompok dengan ke empat ketua level itu!!!!” seru Shou sampai ke seluruh penjuru aula. Semuanya juga kaget dan mata mereka menyorot pada Ruki. Ruki cengengesan aneh seakan dia juga bingung kenapa bisa satu kelompok dengan ‘4 aura aneh’ itu. kemudian Ruki melihat ke empat orang itu. Ruki tersenyum lebar aneh sekali. dia melihat mata ke empat orang itu menjurus ke arahnya dan seakan ada aura sengatan listrik dari sorotan matanya terhadapnya.
“tidak mungkin! Kau satu kelompok dengan ke empat ketua level itu!!!!” seru Shou sampai ke seluruh penjuru aula. Semuanya juga kaget dan mata mereka menyorot pada Ruki. Ruki cengengesan aneh seakan dia juga bingung kenapa bisa satu kelompok dengan ‘4 aura aneh’ itu. kemudian Ruki melihat ke empat orang itu. Ruki tersenyum lebar aneh sekali. dia melihat mata ke empat orang itu menjurus ke arahnya dan seakan ada aura sengatan listrik dari sorotan matanya terhadapnya.
“eh???!!”
Ruki bahkan memalingkan wajahnya dengan setengah kekuatan.
“kenapa bisa aku satu kelompok dengan mereka?
Apa yang akan terjadi? Aku punya masalah dengan Aoi, Uruha tidak suka padaku,
Kai bisa-bisa nguyel2(?) aku tiap hari sampai badan ini pegal-pegal, tambahkan
Reita yang selalu baik dan membuatku tidak enak hati. Ya tuhan, kenapa karakter
mereka berbeda 180 derajat? Dan di antara mereka juga ada masalah
bukan?haissshhh...” Ruki merutuk dirinya dalam hati. Ketika dia melirik
kembali, Uruha sedang saling tatap dengan Kai, Reita dan Aoi. Aura mereka
memang tepancar berbeda dari biasanya. Semua siswa juga sedikit menjauh dari ke
empat orang itu. saling berbisik membicarakan kelompok aneh itu. dan Ruki
menelan ludahnya dan melangkah dengan tidak pasrah menuju mereka.
“o-onegai
shimasu..” Ruki melafalkan itu dengan gugup tanpa memandang satu pun dari
mereka. Bahkan Reita yang selalu tersenyum baik ke Ruki sekarang berubah
samanya dengan yang lain. Ruki pikir Reita berubah begini karena dia berhadapan
dengan 3 orang bermasalah ini. Jadi terbawa-bawa dan Ruki seakan memakluminya.
“kata
apa yang pantas aku katakan ketika buntelan ini masuk kelompok kita?” kata
Uruha dengan lirikan yang sangat menakutkan bagi Ruki. Ruki hanya bisa ber-hehe
ria dengan wajah anehnya.
“siapa yang buntelan?” meskipun Ruki takut mereka, dia cukup sensitif di katakan buntelan.
“siapa yang buntelan?” meskipun Ruki takut mereka, dia cukup sensitif di katakan buntelan.
“kau.”
singkat Uruha sambil melipatkan tangannya dan membuang wajahnya tidak mau
bersatu dengan Ruki. Senyum Ruki simpul seakan dia kesal dengan perkataan
Uruha.
“sabar Ruki, sabarrrr...” Ruki
menenangkan dirinya dengan kata-kata itu dalam hatinya. Sementara Kai mendadak
tersenyum pada Ruki dan menghampirinya.
“untung
kau di sini, kau bisa jadi penghiburku..ya kaaaaan..” kata Kai kemudian dia
menarik kedua pipi Ruki sampai melebar dan membuat semua siswa bengong dengan
kelakuannya Kai yang memang punya penyakit ‘suka wajah anak-anak meski sudah
umur dewasa’. Ruki kesakitan sementara Reita menutupi sebagian wajahnya dengan sebelah telapak tangannya seakan dia
kecewa kenapa semua ini terjadi. Kemudian Uruha pergi dari situ entah kemana
dan membuat semua siswa minggir dengan sendiriny mempersilahkan aura paling
dingin ini keluar dari aula. Kamijo-sama tersenyum sinis seakan dia
merencanakan segala sesuatu. Dan Ruki menghela nafasnya melihat Uruha pergi
keluar. Sama dengan Kai dan Reita melihat Uruha keluar dari aula.
“apa
kau masih dendam denganku? Atas kejadian kemarin?” tanya Aoi dengan wajah
cueknya. Ruki menatap Aoi dan berpikir sejenak.
“mungkin
kita akan bekerja sama nantinya daripada membalas dendam, nee?” kata Ruki dengan
wajah polosnya. Dan ini membuat Aoi terdiam memandang Ruki.
“dan
bagaimana dengan nama kelompok kita sekarang? Kalau suasananya begini dan di
lihati semua siswa dengan sorotan berbeda-beda..” kata Reita makin kebingungan.
“aku
yang akan menamainya, Uruha tidak akan peduli dengan nama sebuah kelompok..”
kata Kai dengan wajah serius namun santai. Ruki hanya bisa bengong melihat
suasana tidak karuan seperti ini.
“saa...
semuanya sudah kebagian kelompok,kan? Beri nama untuk nama kelompok kalian..dan
tuliskan anggotanya..” kata Kamijo-sama kemudian bersuara membuat seluruh mata
tertuju pada Kamijo-sama.
“sesuai prediksi sihirku, semuanya berjalan
dengan lancar..hanya mereka yang bisa melindungi Argeza nantinya..” ucap
Kamijo-sama dalam hatinya kemudian dia pergi meninggalkan aula ini. Semua siswa
kembali berbisik-bisik. Tinggal Ruki yang memandangi ketiga ketua yang berbeda
karakter ini.
---------------------------------------------------------------------------------------------//
Meja
kafetaria penuh dan sesak di penuhi siswa-siswa. Setelah pengelompokkan tadi,
mereka menuju kafetaria karena sudah menunjukkan jam istirahat. Beberapa siswa
seperti biasa antri untuk beli roti langka, minuman soda dan lain-lain. Tapi
lihatlah satu meja yang di kelilingi aura negatif(?) itu. semuanya membicarakan
meja ‘angker’ menurut mereka.
Saat
itu, Ruki sedang minum lemon tea kesukaannya. Sambil menyeruput dia melirik
kanan-kiri d sebelahnya dengan wajah polos dan seakan dia sedang berusaha
tenang.
Tahukah
kalian? Ruki duduk di meja bersama ke empat ketua itu. Ruki duduk di hadapan
Aoi dan Reita, kemudian di samping kiri Ruki ada Uruha dan samping kanan Ruki
Kai. Mereka saling membuang wajah dan membuat Ruki menghela nafas usai
menyeruput minumannya.
“sampai kapan akan terus begini.....”
Ruki masih pusing memikirkan suasana yang begini.
“eto~
setidaknya kita sudah punya nama kelompok ‘the
GazettE’ sekarang,su-sugoi nee? Hehehehe...” Ruki berusaha memecahkan
keheningan namun rupanya tidak berhasil. Sorot mata mereka berbeda-beda
memandang Ruki. Ruki meringkukkan tubuhnya dan langsung menyeruput minumannya
lagi sambil melirik-lirik sekilas melihat mata mereka.
“benar-benar sulit..” pikir Ruki sudah
menyerah.
“tugas
pertama akan di berikan besok untuk kelompok..” kata Reita dengan tenang seakan
dia bicara tidak peduli mau di dengar atau tidak.
“cih,aku
malas..” sela Uruha dengan wajah juteknya namun terlihat kekanakan *lucu
donk?XD*.
“kau bisa tidak, menghilangkan kejutekanmu itu? seperti tersenyum sekali akan lebih baik..” kata Ruki mulai resah dengan sikap Uruha.
“kau bisa tidak, menghilangkan kejutekanmu itu? seperti tersenyum sekali akan lebih baik..” kata Ruki mulai resah dengan sikap Uruha.
“diam
kau buntelan!” seru Uruha malah jadi emosi.
“siapa
yang buntelan!?” Ruki bangkit dari kursinya dan memandang Uruha dengan tidak
terima di katakan buntelan. Lainnya kaget melihat Ruki marah mendadak.
“kau.”
singkat Uruha dengan memandang Ruki.
“bibirmu
tuh, keriting! Setrika kalau bisa! Atau perlu catok!” amarah Ruki meledak dan
ini membuat semua yang ada di kantin hening memandang pertengkaran mereka.
“sialan!
Mau aku buntel beneran hah?!” emosi Uruha terpancing dan dia bangkit dari
kursinya.
“errrr...”
keduanya saling bertatap tajam dan bersuara bergetar seakan mau menyerang satu
sama lain.
“aku
seperti melihat dua anjing herder akan saling menyerang..” ujar Aoi santai
memandang mereka di hadapannya.
“URUSAI!”
kompak Ruki dan Uruha menyentak Aoi.
“kenapa
kalian menyentakku!” emosi Aoi ikutan bangkit dari kursinya.
“sudah-sudah,
kenapa jadi rame begini sih?” Reita melambaikan tangannya berlawanan arah
bermaksud menenangkan suasana yang sudah sedikit kisruh(?) ini.
Kemudian
mereka bertiga duduk di kursi masing-masing menahan emosi dengan membuang wajah
tidak memandang satu sama lain.
“benar-benar
suasana yang memanas, aura jahat mengelilingi dan harus di basmi..” ujar Kai
cuek memandang mereka.
“KAI!”
kompak mereka berempat menyentak Kai karena Kai malah memancing emosi dengan
kata-kata itu. kai langsung cengengesan melihat mata mereka seakan mengeluarkan
sengatan listrik ke arahnya.
“hah,
kelompok itu apa yang bisa di harapkan?” ujar Saga yang sedang duduk lumayan
pojok di kafetaria ini bersama Shou. Shou mengangkat bahunya ketika dia melihat
ke belakang dan menangkap aura kelompk the gazette memang tidak beres.
“kita
taruhan, sampai kapan mereka akan bertahan?” kira Saga.
---------------------------------------------------------------------------------------------//
Kamijo-sama
sedang berhadapan dengan laptop berteknologi tinggi di depan meja kerjanya. Di
sebuah layar laptopnya, dia mengetik nama ‘Gakuto’ dan kemudian menekan enter.
Dan kemudian laptop itu menampilkan sebuah layar yang menghubungkan dirinya
dengan laptop Gakuto. Dan mereka pun bertemu secara tidak langsung.
“ah,doshita?” tanya Gakuto di laptop itu.
“aku
sudah berhasil mempersatukan mereka, rencanaku tidak meleset. Bahkan tidak ada
yang tahu aku menggunakan sihir komunikasi tadi. Dan aku harap anak-anak itu
akan berkembang dan bisa melindungi Argeza..”
“good job Kamijo! Aku tahu, aku tidak akan
salah memberikan kewenanganku padamu. Sekarang bagaimana caranya agar mereka
benar-benar bersatu sebelum kita mengatakan sesuatu yang berat yang belum
pernah hadapi seumur hidup mereka?”
“aku
sedang memikirkannya, mulai besok aku akan memberikan tugas-tugas pada semua
siswa, semoga saja mereka bisa mengatasinya dengan saling tolong-menolong..”
“un! Oh ya, sebenarnya aku punya berita
sedikit buruk tentang segel Argeza..”
“kenapa?!”
“kenapa?!”
“sistemnya menurun semenjak seminggu yang
lalu, staff Research sedang
menganalisis..doakan tidak terjadi apa-apa..hatiku berkata ada yang tidak beres..”
“Oh
sokka?? Baiklah, kalau kau sedang bertugas, kita sudahi saja percakapan
ini..ok..”
Gakuto
tersenyum kemudian dia mematikan percakapan mereka di laptop dan Kamijo juga
menutup laptopnya dan berpikir apa yang telah di ucapkan oleh Gakuto tadi.
“kenapa
aku merasakan hal yang sama dengan Gakuto? Walau selalu menyangkal tapi
perasaan itu semakin menjadi-jadi..” ucap Kamijo.
“Kamijo-sama..sumimasen..”
Reita berteriak sopan dari luar pintu ruangan Kamijo-sama sambil membawa
tumpukan kertas berisi nama-nama kelompok.
“ah,
Douzo..” Kamijo mempersilahkannya. Reita masuk dan langsung menghadap Kamijo
dengan wajah tenang.
“ini
data pengelompokkannya..” Reita menyerahkan itu dan Kamijo sekilas
melihat-lihatnya.
“unik
sekali namanya..bagaimana dengan keadaanmu dan kelompokmu?” kata Kamijo sambil
tersenyum.
“ah,
sepertinya akan sulit untuk bersatu. Tapi aku akan mencoba berusaha untuk
mempersatukan kelompokku ini..” ujar Reita. Kamijo mengangguk dan tersenyum.
“aku
bangga padamu bisa mengatasi segala yang ada di sekolah ini..” kata Kamijo. Dan
ini membuat Reita tersenyum tersipu.
---------------------------------------------------------------------------------------------//
Title : Argeza
Genre : fantasy,action,comedy,life,
nano-nano dah pokoknya XDDD
Cast : utamanya
Gajet yang lain numfang hehehehe..
Eps : 4
*cieeee sok anime
---------------------------------------------------------------------------------------------//
♡。゚.(*♡ The GazettE ♡*)゚♡ °・
Seminggu
setelah kejadian Aoi dan Ruki di hari pertama Ruki masuk sekolah, membuat
seluruh satu sekolah tahu kalau sekarang Aoi dan Ruki adalah dua siswa yang
akan selalu memancarkan aura tidak mengenakkan jika mereka berdua bertemu. Ruki
sudah tidak bisa bersabar karena ulah Aoi semenjak mematahkan Coda
kesayangannya. Sekarang, Ruki jauh terkenal di antara semua siswa dan sering
menyapanya jika bertemu dengannya. Aoi mendadak menjadi pendiam seakan dia
punya sesuatu yang tersimpan dan tidak ada yang tahu ada apa dengan Aoi..
Orang
yang saat itu menembakkan panah busur sihir ke lengan Ruki adalah Uruha. Uruha
dapat merasakan suatu kekuatan besar dan saat itu Uruha segera mencari dimana
sumbernya berasal. Dia mendapati Ruki di ruangan itu dalam keadaan di selimuti
aura merah dengan kekuatan besar. Dan Uruha buru-buru menghentikan tindakan
Ruki yang mungkin akan menyebabkan sesuatu yang fatal nantinya. Sementara
Kamijo-sama yang mengetahui hal ini, langsung memanggil Aoi dan menyatakan Aoi
dalam peringatan ke tiga yang artinya jika dia sekali lagi melakukan kesalahan,
dia akan di drop out dari sekolah ini. Tapi saat Aoi berhadapan dengan Kamijo,
Aoi malah terfikirkan kata-kata Ruki..
“kau
tahu? Kamijo-sama mengatakan aku ini tidak boleh membiarkan emosiku sampai
tingkat paling atas..kekuatanku bisa menghancurkan sekolah ini bahkan semua
nyawa melayang..”
Sampai
sekarang Aoi memikirkan hal itu, dia sendiri sekarang sedang tiduran di loteng
sekolah dan memandang langit yang teduh. Angin semilir itu membuat suasana
semakin sejuk dan Aoi bisa mendinginkan otaknya *plak*.
“di
situ kau rupanya..”
Uruha
akhirnya menemukan Aoi di loteng sekolah. Kemudian dia dan karpet terbangnya
menghampiri Aoi dan kemudian dia turun dari karpet terbang dan menghilangkan
karpet tersebut. Uruha duduk di samping Aoi sambil selonjoran kakinya yang
terasa pegal.
“aku
masih memikirkan hal itu? apa kau juga?” kata Aoi santai.
“kekuatan
Ruki waktu itu bisa di sandingkan setara dengan Kai.. tapi kenapa Ruki di kelas
level 1? Padahal dia bisa loncat kelas level 4 kalau sudah tahu kekuatannya
begitu..” pikir Uruha.
“mungkin
dia tidak mau terburu-buru, dia tipe yang ingin mempelajari dulu sampai paham
benar..” jawab Aoi. Kemudian Uruha mengeluarkan botol minuman dari balik
punggungnya seakan dia menggunakan sihirnya.
“mau?
Ada biskuit juga..” kata Uruha sambil mendlosorkan(?) botol minuman dan
sebungkus biskuit itu ke wajah Aoi yang sedang tiduran. Aoi kemudian bangun, dan
mengambil botol minuman itu. dan Uruha membuka bungkus biskuit berbentuk stick
memanjang *ambigu*.
“ah
segarnya..ngomong-ngomong hari ini ada pembagian kelompok global ya?” kata Aoi
yang sekarang duduk samaan dengan Uruha.
“un..entahlah
Kamijo-sama sepertinya punya planning
baru~” kata Uruha seraya memakan biskuit bentuk stick itu. dan tiba-tiba saja,
ketika Uruha membiarkan stick biskuitnya di mulut,mirip sedang mainan sedotan,
Aoi langsung melahap ujung biskuitnya dan Uruha kaget dan melepaskan biskuit
itu.
“kebiasaan..”
Uruha mendelik.
“biarlah..romantis...heeee..”
kata Aoi cengengesan.
PLAK!!
Uruha memukul kepala Aoi dengan pelan namun berasa langsung senut-senut,
“aduhhh..T.T..” Aoi mengeluas kepalanya.
Uruha memukul kepala Aoi dengan pelan namun berasa langsung senut-senut,
“aduhhh..T.T..” Aoi mengeluas kepalanya.
---------------------------------------------------------------------------------------------//
Suasana
sekolah saat itu sedang ramai, karena sekarang jam istirahat. Mereka ada yang
berkumpul di bawah pohon, dekat kolam, taman sekolah dan juga kafetaria yang
penuh dan sesak. Saat itu Ruki ingin membeli roti sandwich yang terkenal sangat
enak dan cepat habis di sebuah stand makanan sebelah kiri. Tapi lihatlah
sekarang, semuanya berebutan dan sepertinya walaupun Ruki menunggu sampai
mereka bubaran, dia tidak akan kebagian roti sandwich itu. Ruki menghela nafas
dan memilih untuk membeli lemon tea saja di stand minuman di sebelahnya.
Kemudian dia duduk di meja yang kosong dan minum teh itu sendirian. Dan
pandangannya kembali melihat ke arah siswa-siswa yang berhasil membeli roti
langka itu. sungguh beruntung siswa-siswa itu. huft..
“eh?”
Ruki di kagetkan dengan sebuah bungkusan roti langka yang ia mau di depan
wajahnya. Kemudian dia menoleh dan melihat Reita tersenyum padanya. Dan
kemudian Reita duduk dan menyodorkan roti itu di depan Ruki.
“senpai?”
Ruki bingung.
“aku
bisa baca pikiranmu, kok..” kata Reita dan ini membuat Ruki tersenyum aneh
karena dia malu ingin roti langka ini.
“dapat
darimana? Ku lihat Reita-senpai tidak berdesakan disana?” kata Ruki.
“aku
pesankan khusus, aku dan si penjualnya lumayan dekat, hehe..” ujar Reita.
“enak
sekali..” pikir Ruki sedikit iri.
“makanlah..”
kata Reita.
“reita-senpai
sudah makan?”
“belum
sih, tapi ya duluan saja..”
“duh
tidak enak aku makan sendiri, makan berdua saja ya? lagian roti ini ukurannya
besar, mana mungkin makan sendiri..”
“tidak
apa-apa?”
“sudak
tidak apa, lagian Reita-senpai yang membelikan ini untukku..kita makan di
loteng sekolah saja yuk, sepertinya angin sepoi di sana lebih enak~”
“un!”
---------------------------------------------------------------------------------------------//
Kai
sedang berada di sebuah ruangan tertutup di ruang bawah tanah sekolah ini. Kai
sengaja membuat sebuah ruangan khusus untuk dirinya untuk bisa sendiri dan
belajar sihir dan meningkatkan kemampuannya. Dia sedang menguasai sihir barunya
dan di gabungkan dengan ketajaman fokusnya. Akhir-akhir ini Kai sangat tidak
fokus dan segelintir orang saja yang mengetahui Kai sedikit berbeda..
Dia
berdiri tegak di tengah ruangan kosong ini dan merentangkan kedua tangannya
lebar sejajar dengan pahanya. Dan kemudian dia memejamkan matanya seakan dia
ingin fokus sekali untuk mengeluarkan kekuatannya. Namun saat aura biru
mengelilingi tubuhnya, mendadak langsung meredup dan hilang. Keseimbangan tubuh
Kai lemah, dan dia terjatuh ke lantai. Kai mengatur nafasnya dan kemudian
terduduk di atas lantai sambil memegangi dadanya.
“kenapa
aku belum bisa menguasainya? Bagaimana dengan ujian akhir nanti? Aku tidak
ingin Uruha tersenyum penuh arti..” kata Kai dalam menahan rasa sakitnya itu.
“sampai
kapan kau akan diam di sini, semua sudah berkumpul di lapangan..” kata Tsurugi,
teman satu kelas Kai yang sangat menjaga jarak dengan Kai ketika di umum.
Tsurugi sebenarnya adalah teman dekat Kai yang mempunyai cara licik naik ke
level 4 ini. Dia diam di pintu sambil bersandar di pintu melipatkan tangannya
sambil memandang Kai dengan pandangan hina.
“sialan
kau! bukannya dukung aku malah pose meremehkan!” kata Kai dengan tatapan
kesalnya sambil bangkit. Tsurugi mendekatinya sambil tertawa kecil melihat
temannya sedang berusaha keras untuk bisa menjadi yang terbaik di level 5
nantinya.
“kau
tidak fokus karena kau terpikirkan dengan bagaimana memiliki kekuatan terbesar,
kan?” kata Tsurugi dengan santainya membantu memapah Kai.
“aku
harus bisa kekuatan itu, makanya aku terpikirkan terus..” kata Kai.
“jangan
pikirkan hal itu, pikirkan bagaimana kau mengetahui siapa yang mempunyai
kekuatan besar itu dan mungkin kau bisa memindahkan energinya sebagian pada
tubuhmu..” kira Tsurugi dengan tatapan liciknya. Kai dan Tsurugi saling
berpandangan.
“aku tidak berharap Uruha yang memilikinya..” ucap Kai dengan nada dinginnya dan pandangan sendu. Kemudian mereka pun keluar dari ruangan itu. dan pintu menutup dengan sendirinya.
“aku tidak berharap Uruha yang memilikinya..” ucap Kai dengan nada dinginnya dan pandangan sendu. Kemudian mereka pun keluar dari ruangan itu. dan pintu menutup dengan sendirinya.
---------------------------------------------------------------------------------------------//
Reita
berdehem di depan ratusan siswa Mahou Gakuen di dalam sebuah aula yang cukup
besar. Semua siswanya berdiri dengan barisan rapi tanpa menggunakan karpet
terbang. Semua siswa di kumpulkan di sini karena ada tujuan tersendiri. Kamijo-sama
selaku pemimpin sekolah ini berdiri di samping Reita. Reita memegang sebuah
kertas yang sebentar lagi akan di umumkan oleh Reita dengan suara lantang. Ke
empat ketua kelas level yang seperti biasanya berdiri paling depan saling
melirik satu sama lain seakan mereka siap siaga dengan apa yang akan di katakan
Reita sebentar lagi. Sementara Ruki yang berdiri dari 3 orang di depannya hanya
berwajah datar dan tenang. Yah, Ruki tidak tahu sebagai anak baru hanya bisa
mematuhi yang sudah ada..
“hari
ini kita semua di kumpulkan karena ada satu kepentingan yang mungkin Kamijo-sama
baru menyadarinya.. Kamijo-sama melihat keadaan sekolah kita ini tidak seperti
beberapa tahun yang lalu..keadaan sekarang, semua siswa individual dan tidak
ada sosialisasi dengan baik. Maka dari itu, Kamijo-sama menyampaikan lewat ini
bahwa akan diadakan pengelompokkan global yang artinya gabungan 5 orang dari
kelas level 1 sampai kelas level 5..mungkin yang di harapkan dengan begini,
dalam pengelompokkan akan saling tolong-menolong dan saling mengasihi..cara
pengelompokkannya dengan setiap siswa maju ke depan dan mengambil selembar
kertas gulung kecil dari tiap-tiap box yang di sediakan di ujung aula ini,
kemudian berkumpul dengan kelompoknya dan memberi nama kelompok itu..mengerti?”
kata Reita dengan suara lantang.
“hai!!!”
seru semua yang sudah mengerti dengan penjelasannya Reita. Kemudian Aoi
menghela nafasnya dan mendelikkan matanya dengan kesal mendengar ini. Kemudian
Ruki melihat seluruh siswa berbondong-bondong menuju kotak box yang ada di
ujung aula ini. Mereka saling teriak kaget,senang,kesal dan macam-macam
ekspresi ketika mengetahui siapa yang menjadi kelompoknya. Kemudian mereka
berkumpul kembali dengan kelompoknya di tengah aula dan membicarakan nama
kelompoknya.
“aku
membuat ini juga ada tujuan ke depannya, untuk itu kerjasama dengan baiklah
dengan mereka..” ucap Kamijo-sama yang ada di samping Ruki. Ruki menoleh
kemudian dia tersenyum. Ruki melangkah ke kotak box itu, dan persis sekali ke
empat ketua kelas level itu berpapasan dengan Ruki menuju ke tengah aula.
Entahlah, Ruki merasakan aura aneh di tubuh mereka yang diam tidak berkata
bahkan Aoi membuang wajahnya. Ruki menoleh sedikit kenapa ke empat ketua itu
berjalan berdua-duaan seperti Aoi dan Reita lalu Uruha dan Kai. Ada yang aneh?
Bukannya mereka saling bermusuhan pada kenyataannya?
“Ruki,
kau sekelompok dengan siapa? Aku dengan Saga dan Nao, tidak menyangka sekelas
dengan 2 siswa kelas level 4..” kata Shou yang menghampiri Ruki dengan mimik
senang. Kemudian Ruki membalas itu dengan senyuman.
“chotto
matte!” Ruki kemudian memasukkan tangan ke dalam box dan mengambil sebuah
gulungan kertas kecil. Shou yang sangat antusias ini, berdiri di belakang Ruki
agar dia menjadi orang pertama yang tahu dengan siapa Ruki satu kelompok.
Kemudian saat Ruki membuka kertasnya, senyum Ruki meluntur menjadi bengong.
“NANI!!!!!!!!”
Shou teriak cukup keras di dekat telinga Ruki dan Ruki menoleh sedikit dan
menutup telinganya. Dahinya berkerut seakan dia kesal dengan tingkah Shou yang
berlebihan. Shou merebut kertas dari Ruki dengan sangat terkejut bukan kepalang
dan dia menutup mulutnya seperti cewek anggun yang kaget -_-
“tidak mungkin! Kau satu kelompok dengan ke empat ketua level itu!!!!” seru Shou sampai ke seluruh penjuru aula. Semuanya juga kaget dan mata mereka menyorot pada Ruki. Ruki cengengesan aneh seakan dia juga bingung kenapa bisa satu kelompok dengan ‘4 aura aneh’ itu. kemudian Ruki melihat ke empat orang itu. Ruki tersenyum lebar aneh sekali. dia melihat mata ke empat orang itu menjurus ke arahnya dan seakan ada aura sengatan listrik dari sorotan matanya terhadapnya.
“tidak mungkin! Kau satu kelompok dengan ke empat ketua level itu!!!!” seru Shou sampai ke seluruh penjuru aula. Semuanya juga kaget dan mata mereka menyorot pada Ruki. Ruki cengengesan aneh seakan dia juga bingung kenapa bisa satu kelompok dengan ‘4 aura aneh’ itu. kemudian Ruki melihat ke empat orang itu. Ruki tersenyum lebar aneh sekali. dia melihat mata ke empat orang itu menjurus ke arahnya dan seakan ada aura sengatan listrik dari sorotan matanya terhadapnya.
“eh???!!”
Ruki bahkan memalingkan wajahnya dengan setengah kekuatan.
“kenapa bisa aku satu kelompok dengan mereka?
Apa yang akan terjadi? Aku punya masalah dengan Aoi, Uruha tidak suka padaku,
Kai bisa-bisa nguyel2(?) aku tiap hari sampai badan ini pegal-pegal, tambahkan
Reita yang selalu baik dan membuatku tidak enak hati. Ya tuhan, kenapa karakter
mereka berbeda 180 derajat? Dan di antara mereka juga ada masalah
bukan?haissshhh...” Ruki merutuk dirinya dalam hati. Ketika dia melirik
kembali, Uruha sedang saling tatap dengan Kai, Reita dan Aoi. Aura mereka
memang tepancar berbeda dari biasanya. Semua siswa juga sedikit menjauh dari ke
empat orang itu. saling berbisik membicarakan kelompok aneh itu. dan Ruki
menelan ludahnya dan melangkah dengan tidak pasrah menuju mereka.
“o-onegai
shimasu..” Ruki melafalkan itu dengan gugup tanpa memandang satu pun dari
mereka. Bahkan Reita yang selalu tersenyum baik ke Ruki sekarang berubah
samanya dengan yang lain. Ruki pikir Reita berubah begini karena dia berhadapan
dengan 3 orang bermasalah ini. Jadi terbawa-bawa dan Ruki seakan memakluminya.
“kata
apa yang pantas aku katakan ketika buntelan ini masuk kelompok kita?” kata
Uruha dengan lirikan yang sangat menakutkan bagi Ruki. Ruki hanya bisa ber-hehe
ria dengan wajah anehnya.
“siapa yang buntelan?” meskipun Ruki takut mereka, dia cukup sensitif di katakan buntelan.
“siapa yang buntelan?” meskipun Ruki takut mereka, dia cukup sensitif di katakan buntelan.
“kau.”
singkat Uruha sambil melipatkan tangannya dan membuang wajahnya tidak mau
bersatu dengan Ruki. Senyum Ruki simpul seakan dia kesal dengan perkataan
Uruha.
“sabar Ruki, sabarrrr...” Ruki
menenangkan dirinya dengan kata-kata itu dalam hatinya. Sementara Kai mendadak
tersenyum pada Ruki dan menghampirinya.
“untung
kau di sini, kau bisa jadi penghiburku..ya kaaaaan..” kata Kai kemudian dia
menarik kedua pipi Ruki sampai melebar dan membuat semua siswa bengong dengan
kelakuannya Kai yang memang punya penyakit ‘suka wajah anak-anak meski sudah
umur dewasa’. Ruki kesakitan sementara Reita menutupi sebagian wajahnya dengan sebelah telapak tangannya seakan dia
kecewa kenapa semua ini terjadi. Kemudian Uruha pergi dari situ entah kemana
dan membuat semua siswa minggir dengan sendiriny mempersilahkan aura paling
dingin ini keluar dari aula. Kamijo-sama tersenyum sinis seakan dia
merencanakan segala sesuatu. Dan Ruki menghela nafasnya melihat Uruha pergi
keluar. Sama dengan Kai dan Reita melihat Uruha keluar dari aula.
“apa
kau masih dendam denganku? Atas kejadian kemarin?” tanya Aoi dengan wajah
cueknya. Ruki menatap Aoi dan berpikir sejenak.
“mungkin
kita akan bekerja sama nantinya daripada membalas dendam, nee?” kata Ruki dengan
wajah polosnya. Dan ini membuat Aoi terdiam memandang Ruki.
“dan
bagaimana dengan nama kelompok kita sekarang? Kalau suasananya begini dan di
lihati semua siswa dengan sorotan berbeda-beda..” kata Reita makin kebingungan.
“aku
yang akan menamainya, Uruha tidak akan peduli dengan nama sebuah kelompok..”
kata Kai dengan wajah serius namun santai. Ruki hanya bisa bengong melihat
suasana tidak karuan seperti ini.
“saa...
semuanya sudah kebagian kelompok,kan? Beri nama untuk nama kelompok kalian..dan
tuliskan anggotanya..” kata Kamijo-sama kemudian bersuara membuat seluruh mata
tertuju pada Kamijo-sama.
“sesuai prediksi sihirku, semuanya berjalan
dengan lancar..hanya mereka yang bisa melindungi Argeza nantinya..” ucap
Kamijo-sama dalam hatinya kemudian dia pergi meninggalkan aula ini. Semua siswa
kembali berbisik-bisik. Tinggal Ruki yang memandangi ketiga ketua yang berbeda
karakter ini.
---------------------------------------------------------------------------------------------//
Meja
kafetaria penuh dan sesak di penuhi siswa-siswa. Setelah pengelompokkan tadi,
mereka menuju kafetaria karena sudah menunjukkan jam istirahat. Beberapa siswa
seperti biasa antri untuk beli roti langka, minuman soda dan lain-lain. Tapi
lihatlah satu meja yang di kelilingi aura negatif(?) itu. semuanya membicarakan
meja ‘angker’ menurut mereka.
Saat
itu, Ruki sedang minum lemon tea kesukaannya. Sambil menyeruput dia melirik
kanan-kiri d sebelahnya dengan wajah polos dan seakan dia sedang berusaha
tenang.
Tahukah
kalian? Ruki duduk di meja bersama ke empat ketua itu. Ruki duduk di hadapan
Aoi dan Reita, kemudian di samping kiri Ruki ada Uruha dan samping kanan Ruki
Kai. Mereka saling membuang wajah dan membuat Ruki menghela nafas usai
menyeruput minumannya.
“sampai kapan akan terus begini.....”
Ruki masih pusing memikirkan suasana yang begini.
“eto~
setidaknya kita sudah punya nama kelompok ‘the
GazettE’ sekarang,su-sugoi nee? Hehehehe...” Ruki berusaha memecahkan
keheningan namun rupanya tidak berhasil. Sorot mata mereka berbeda-beda
memandang Ruki. Ruki meringkukkan tubuhnya dan langsung menyeruput minumannya
lagi sambil melirik-lirik sekilas melihat mata mereka.
“benar-benar sulit..” pikir Ruki sudah
menyerah.
“tugas
pertama akan di berikan besok untuk kelompok..” kata Reita dengan tenang seakan
dia bicara tidak peduli mau di dengar atau tidak.
“cih,aku
malas..” sela Uruha dengan wajah juteknya namun terlihat kekanakan *lucu
donk?XD*.
“kau bisa tidak, menghilangkan kejutekanmu itu? seperti tersenyum sekali akan lebih baik..” kata Ruki mulai resah dengan sikap Uruha.
“kau bisa tidak, menghilangkan kejutekanmu itu? seperti tersenyum sekali akan lebih baik..” kata Ruki mulai resah dengan sikap Uruha.
“diam
kau buntelan!” seru Uruha malah jadi emosi.
“siapa
yang buntelan!?” Ruki bangkit dari kursinya dan memandang Uruha dengan tidak
terima di katakan buntelan. Lainnya kaget melihat Ruki marah mendadak.
“kau.”
singkat Uruha dengan memandang Ruki.
“bibirmu
tuh, keriting! Setrika kalau bisa! Atau perlu catok!” amarah Ruki meledak dan
ini membuat semua yang ada di kantin hening memandang pertengkaran mereka.
“sialan!
Mau aku buntel beneran hah?!” emosi Uruha terpancing dan dia bangkit dari
kursinya.
“errrr...”
keduanya saling bertatap tajam dan bersuara bergetar seakan mau menyerang satu
sama lain.
“aku
seperti melihat dua anjing herder akan saling menyerang..” ujar Aoi santai
memandang mereka di hadapannya.
“URUSAI!”
kompak Ruki dan Uruha menyentak Aoi.
“kenapa
kalian menyentakku!” emosi Aoi ikutan bangkit dari kursinya.
“sudah-sudah,
kenapa jadi rame begini sih?” Reita melambaikan tangannya berlawanan arah
bermaksud menenangkan suasana yang sudah sedikit kisruh(?) ini.
Kemudian
mereka bertiga duduk di kursi masing-masing menahan emosi dengan membuang wajah
tidak memandang satu sama lain.
“benar-benar
suasana yang memanas, aura jahat mengelilingi dan harus di basmi..” ujar Kai
cuek memandang mereka.
“KAI!”
kompak mereka berempat menyentak Kai karena Kai malah memancing emosi dengan
kata-kata itu. kai langsung cengengesan melihat mata mereka seakan mengeluarkan
sengatan listrik ke arahnya.
“hah,
kelompok itu apa yang bisa di harapkan?” ujar Saga yang sedang duduk lumayan
pojok di kafetaria ini bersama Shou. Shou mengangkat bahunya ketika dia melihat
ke belakang dan menangkap aura kelompk the gazette memang tidak beres.
“kita
taruhan, sampai kapan mereka akan bertahan?” kira Saga.
---------------------------------------------------------------------------------------------//
Kamijo-sama
sedang berhadapan dengan laptop berteknologi tinggi di depan meja kerjanya. Di
sebuah layar laptopnya, dia mengetik nama ‘Gakuto’ dan kemudian menekan enter.
Dan kemudian laptop itu menampilkan sebuah layar yang menghubungkan dirinya
dengan laptop Gakuto. Dan mereka pun bertemu secara tidak langsung.
“ah,doshita?” tanya Gakuto di laptop itu.
“aku
sudah berhasil mempersatukan mereka, rencanaku tidak meleset. Bahkan tidak ada
yang tahu aku menggunakan sihir komunikasi tadi. Dan aku harap anak-anak itu
akan berkembang dan bisa melindungi Argeza..”
“good job Kamijo! Aku tahu, aku tidak akan
salah memberikan kewenanganku padamu. Sekarang bagaimana caranya agar mereka
benar-benar bersatu sebelum kita mengatakan sesuatu yang berat yang belum
pernah hadapi seumur hidup mereka?”
“aku
sedang memikirkannya, mulai besok aku akan memberikan tugas-tugas pada semua
siswa, semoga saja mereka bisa mengatasinya dengan saling tolong-menolong..”
“un! Oh ya, sebenarnya aku punya berita
sedikit buruk tentang segel Argeza..”
“kenapa?!”
“kenapa?!”
“sistemnya menurun semenjak seminggu yang
lalu, staff Research sedang
menganalisis..doakan tidak terjadi apa-apa..hatiku berkata ada yang tidak beres..”
“Oh
sokka?? Baiklah, kalau kau sedang bertugas, kita sudahi saja percakapan
ini..ok..”
Gakuto
tersenyum kemudian dia mematikan percakapan mereka di laptop dan Kamijo juga
menutup laptopnya dan berpikir apa yang telah di ucapkan oleh Gakuto tadi.
“kenapa
aku merasakan hal yang sama dengan Gakuto? Walau selalu menyangkal tapi
perasaan itu semakin menjadi-jadi..” ucap Kamijo.
“Kamijo-sama..sumimasen..”
Reita berteriak sopan dari luar pintu ruangan Kamijo-sama sambil membawa
tumpukan kertas berisi nama-nama kelompok.
“ah,
Douzo..” Kamijo mempersilahkannya. Reita masuk dan langsung menghadap Kamijo
dengan wajah tenang.
“ini
data pengelompokkannya..” Reita menyerahkan itu dan Kamijo sekilas
melihat-lihatnya.
“unik
sekali namanya..bagaimana dengan keadaanmu dan kelompokmu?” kata Kamijo sambil
tersenyum.
“ah,
sepertinya akan sulit untuk bersatu. Tapi aku akan mencoba berusaha untuk
mempersatukan kelompokku ini..” ujar Reita. Kamijo mengangguk dan tersenyum.
“aku
bangga padamu bisa mengatasi segala yang ada di sekolah ini..” kata Kamijo. Dan
ini membuat Reita tersenyum tersipu.
---------------------------------------------------------------------------------------------//
No comments:
Post a Comment