Wednesday, March 5, 2014

Caffeine ~2

Title       ::  Caffeine -苦い、甘い-
Author  ::  Ikki Kamiya -Ruru-
Genre   ::  rumit (?) *plak!
Chapter::  2/?



**********************

Drrttt...drrtttt...
“pulang sekolah aku tunggu di parkiran motor ya..”

Uru membaca pesannya itu dan kembali tersenyum sendiri. Dia pun segera membereskan semua buku pelajarannya ke dalam tasnya. Kemudian dia pergi keluar dengan langkah santai.

Reita menunggu sambil menyandar pada tiang. Dia mengotak-ngatik ponselnya sembari menunggu kedatangan Uru. Kebetulan, semua murid2 sudah bubaran dan sekarang terlihat sepi.

“maaf, lama..” kata Uru sambil membungkukkan badannya ketika sampai. Reita menoleh ke pinggir. Dia terkesima dengan Uru. Karena mereka baru pertama kalinya bertemu dan bertatapan langsung.

Mereka saling pandang dengan gugup. Entahlah yang jelas mereka berdua menjadi canggung. Padahal mereka sebelumnya biasa saja.

“kita pergi sekarang, takut hujan..pakai helm nya..” Reita menyerahkan helm putih pada Uru. Kemudian Uru memakainya dan naik ke belakang motor Reita. Reita menjalankannya pelan. Dan secara refleks, Uru memeluk perut Reita dengan pelan..

**********************

Jaraknya memang jauh sekali. Sesampainya mereka pada sebuah toko di pinggir kota yang lumayan ramai, mereka terdiam di depannya memandang takjub toko tersebut..

“sudah di renovasi ya? aku jadi pangling..” ujar Uru.

“kita masuk..”

Kemudian mereka masuk ke dalam. Berbagai macam scarf mereka temukan di semua sudut. Benar2 surganya scarf..
Uru mendatangi sebuah rak dan melihat beberapa scarf bagus. Dia mencoba-cobanya dan dia mencari yang Ruki dulu sukai.

“Uru, ini bagus tidak?” kata Reita menggunakan scarf di lehernya dengan asal. Uru tertawa kemudian dia menghampiri Reita.

“bukan begitu cara pakainya, bagusnya begini..” Uru langsung melingkarkan tangannya ke belakang leher Reita. Dia membuka ikatan scarf tersebut. Kemudian dia merapikan sedikit dan kembali melingkarkan tangannya ke belakang leher Reita.

Reita merasa seperti di peluk Uru. Rambutnya yang pirang itu aromanya tercium wangi dan lembut. Reita hanya bisa terdiam..

“nah, kan bagus! Seperti anak bayi yang mau makan sereal biskuit! Hahahaha!” Uru terbahak sangat kenyang melihat dia menjahili Reita memakaikan scarf mirip anak kecil yang mau makan.

“Ah, Uru dasar jahat!” kata Reita sambil manyun. Dan sengajanya, Uru mengambil ponsel dan mengabadikan Reita seperti itu.

“kyaaAa!! Aku dapaatttt!! Lucuuuuu!!” Uru sangat girang. Reita hanya bisa bengong. Dirinya merasa seperti anak kecil.

**********************

“terima kasih..” Reita menerima scarf dalam bentuk kado dan di bungkus plastik hitam. Kemudian dengan wajah senang, mereka tos tangan dan tertawa kecil.

“untungnya scarfnya masih ada, pasti Ruki akan senang sekali..” ujar Uruha yang sedang berjalan berdampingan dengan Reita di pinggir jalan usai dari toko tersebut. Reita yang menenteng kantong plastik itu hanya bisa tersenyum-senyum bahagia. Reita melihat sebuah toko mini yang menjual takoyaki dan makanan lainnya, dia berhenti sejenak dan melihat toko itu tidak terlalu ramai.

“kau pasti lapar, makan takoyaki ya.. aku traktir..” kata Reita tersenyum. Uru hanya diam mengangguk. Kemudian dia menghampiri toko makanan tersebut dan segera memesannya. Sambil menunggu matang, Uru merasa ada yang menetes di atas hidung mancungnya. Dia mencoba untuk menyapukan air menetes itu dengan jari telunjuknya. Dia melihat ke langit, di lihatnya sudah sangat gelap dan dia baru menyadarinya karena terlalu asyik bersama Reita.

“ini takoyakinya..” kata Reita memberikan satu wadah berisikan takoyaki. Kemudian Reita merasakan ada yang menetes ke dahinya. Dia melihat ke arah langit. Dan hujan pun mulai turun..

“gawat, hujan nich, kita mau berteduh dimana?” kata Uru mulai panik. Lalu Reita segera mencari tempat pinggiran.

“ikuti aku!” seru Reita. Mereka berteduh di teras sebuah cafe. Hujan semakin membesar. Reita bingung. Dia membawa dua benda, yang satu kado dan satu lagi satu wadah takoyaki. Uru menyadarinya kemudian dia mengambil takoyaki dari tangan Reita.

“ah, maaf merepotkan.. terima kasih..” kata Reita tidak enak hati.

“aku yang merepotkan,hm..sebentar..” kata Uru sambil celingukan. Dia melihat ada sebuah rumah kaca yang terkenal. Uru dengan tidak sengajanya menarik tangan Reita untuk masuk ke dalam sana.

Benar2 fantastis! Rumah kaca ini seperti tidak berdinding benar2 kaca yang sangat bening sekali. Uru dan Reita duduk dan menatap langit2 rumah kaca tersebut. Ribuan air jatuh ke atap rumah kaca tersebut dengan indah. Ini baru pertama kalinya mereka masuk ke sini.

“indah sekali tempat ini, dan tidak di pungut biaya.. kau lihat, kita seperti berada d suatu tempat yang gelap hanya hanya di cahayai sebuah lampu. Hujan di luar sana sangat keren menurutku!” kata Uru senang.

“i-iya...” Reita hanya bisa tersenyum. Kemudian, perut Reita terdengar keroncongan membuat Uru memandang Reita. Reita malu dan membuang wajahnya. Uru tersenyum, dia membuka bungkus takoyaki dan tangannya satu lagi menepuk-nepuk pundak Reita. Reita menoleh, dan saat itu Uru sudah menusuk bola takoyaki dengan tusukan dan mengarahkan ke arah mulut Reita sambil mengangguk memberi isyarat agar memakannya.

Dengan malu, Reita kemudian melahapnya..

“gomen, aku mengajakmu ke sini..” kata Uru sedih sambil tersenyum. Reita berhenti mengunyah melihat wajah Uru.

“kenapa minta maaf?” kata Reita.

“aku tidak punya hak untuk mengajakmu kemanapun hari ini. Karena hari ini kau yang punya kuasa mau kemanapun..” kira Uru.

“malah aku senang bisa kemari. Tempat yang aku inginkan dari dulu. Dan baru tercapai sekarang. Kata orang, jika sedang duduk di tempat ini, kau akan melihat sesuatu yang tidak bisa kau temui setiap saat dan membuatmu bahagia tanpa di pungut biaya..apalagi kalau duduk di saat matahari terbenam..itu akan sangat indah sekali..” kata Reita.

“yah, aku memang merasa bahagia di tempat ini. Hujan deras yang selalu ku caci maki ternyata indah bila kita lihat dari sini. Rumah kaca ini benar2 tembus pandang. Namun ribuan air itu jatuh tertahan sesuatu yang transparan membuat sangat indah sekali...” tambah Uru. Keduanya kemudian tersenyum lama saling berpandangan.

“ah, kau makan juga donk takoyakinya, masa aku saja..” kata Reita. Uru pun melahapnya dan dia kembali menyuapi Reita dengan tidak canggung. Sebaliknya Reita juga menikmati malam ini, hujan dan hangatnya takoyaki..

**********************

Beberapa hari kemudian, Ruki datang ke sekolah dengan berjalan loncat2 riang mirip anak SD. Dia masuk kelas dan duduk dengan wajah tersenyum2. Uruha saat itu melewati kelas Ruki dan tidak sengaja melihat ke arah Ruki. Dia berhenti sejenak dan mendatangi Ruki dengan bersahaja.

“ada apa pagi2 senyum tidak jelas begitu?” kata Uruha bingung sambil bertolak pinggang di depan Ruki. Ruki hanya kembali tersenyum memandang Uru.

“hari ini umurku bertambah~” kata Ruki kalem. Uru hanya diam terbingung.

“ah, istirahat nanti datang ke taman belakang ya..” kata Uru lalu meninggalkan Ruki. Sekarang giliran Ruki yang bingung dengan perkataan Uru tadi.

Sementara Reita sedang menata sebuah kue di atas sebuah meja kecil yang ia persiapkan di sebuah ruangan latihan drama. Dia kemudian menyalakan lilin. Dan tepatnya Ruki datang membuka pintu itu. Reita melihat dan Ruki sepertinya terdiam mematung melihat cahaya lilin itu. Ruki mendekati, dia melihat Reita tersenyum dengan bahagia..

“happy birthday.. my little angel...” ucap Reita dengan lembut. Ruki dan Reita berhadapan. Kemudian, Reita kembali mendekati dan mencium hangat Ruki. Usai itu, Reita berdiri ke pinggir dan mempersilahkan Ruki untuk ke depan meja kecil itu dan membiarkannya untuk berdoa sejenak untuk di ulang tahunnya ini.

“tuhan, di usiaku sekarang.. aku sudah punya Reita, kekasih dalam suka dan duka.. aku memohon tidak banyak, berikan kesehatan padaku, berikan kesehatan pada Reita juga agar dia bisa melindungiku setiap saat.. dan kumohon, semoga Reita yang pertama dan yang terakhir untukku.. aku mencintainya dan ingin selalu bersamanya sampai mati nanti..” Ruki menatap lilin kecil itu dan berdoa begitu. Genangan air mata Reita tidak terpendam lagi. Dia menitikkan air matanya. Ruki meniup lilin itu. Reita bertepuk tangan riang, kemudian dia menghampiri Ruki. Dan memeluk Ruki dengan erat. Dalam pelukan itu Ruki juga menitikkan air mata bahagia. Reita pun melepas pelukannya dan segera mengeluarkan scarf dan Ruki takjub Reita tahu kesukaannya. Reita pun memasangkannya ke leher Ruki, dan mencium kening Ruki...

**********************

Jam istirahat sekolah sudah lewat  satu setengah jam lalu. Uru, menyiapkan kado indah untuk Ruki. Dia juga menyiapkan kue ultah Ruki-nya di taman belakang. Namun, saat dia melihat jam tangannya semuanya sudah terlalu lama dan terlambat. Uru bingung mesti bagaimana, dan dia pun terpikirkan untuk menghubungi Ruki..

“ruki..”

“iya?”

“kau tidak lupa,kan dengan janjimu untuk datang ke taman belakang?”

“ah, iya! Tapi maaf aku sedang berduaan dengan Reita, aku sedang tidak mau di ganggu..bagaimana sepulang sekolah??”

“oh, begitu ya? ya sudah tidak apa-apa lanjutkan saja acaramu dengan Reita..”

“ok!”

Tuuuttt tuuuttttt....

Uru kembali memandang kue strawbery yang dia letakkan di atas meja dekat pohon. Niatnya ingin mengerjai Ruki di hari ulang tahunnya, dengan memakan kue yang ia benci selama ini, dan mencoba mengoleskan pasta kuenya ke wajah Ruki dan mengabadikannya dalam sebuah foto..

Namun semua itu pudar...

Uru mendengar jelas dia sedang dengan Reita berduaan dan tidak mau di ganggu. Air matanya mengalir begitu saja. Langkahnya kemudian mendekati kue tersebut. Dia merapatkan kedua tangannya untuk berdoa..

“tuhan, meski hari ini aku tidak bisa merayakan bersama Ruki, aku memohon agar Ruki di beri kebahagiaan selalu, di beri kesehatan sepanjang hari...” kata Uru mendoakan sahabat tercintanya kemudian meniup lilinnya. Dia memotong kue itu dan memakannya sendiri..

**********************

Sepulang sekolah pun, Ruki bergandengan tangan mesra dengan Ruki. Uruha berhenti sejenak dari tempatnya dan memandang Ruki yang berjalan jauh darinya. Uruha benar2 terdiam. Ada apa dengan Ruki? Segampang itukah dia melupakan dirinya? Apa dia sudah tidak di butuhkan lagi? Kenapa dia tidak ingin merayakan ultah bersama sahabatnya sendiri??

“doushita?” Uruha membendung air matanya.

“kau kenapa Uru?” tanya Aoi dari belakang. Segera mungkin Uru menghapus airmatanya dan pergi menghindari Aoi. Aoi hanya kebingungan.

Saat itu, sudah mendung. Uruha berjalan di pinggir jalan sambil melamun. Dia tak merasakan rasa sakit di tusuk ribuan air hujan dari langit. Dia membiarkan tubuhnya basah oleh hujan, tidak peduli dengan sekelilingnya yang sibuk mencari tempat berlindung dari hujan. Dia berjalan seakan sedang di padang pasir dengan tidak tahu arah kemana..

“apa-apaan kau ini?” Aoi langsung memayungi Uru dari samping membuat dirinya menengok dan menyadari keberadaan Aoi.

“kenapa hujan-hujanan? Kau tahu akibatnya, kan?” Aoi sedikit memarahi. Uru memandang dalam Aoi. Dia seperti melihat Ruki yang sedang memarahinya jika hujan2an.

“kenapa kau? Aoi...” kata Uru dengan suara paruh.

“dimana apartemenmu? Ku antar pulang.” Kata Aoi langsung merangkul. Tangan kanannya merangkul dan tangan kirinya memayungi mereka berdua dari hujan deras. Uru hanya bisa berjalan dengan diam seribu bahasa..

**********************

Aoi sedang menuangkan bubur ke dalam mangkuk dan menyiapkan segelas susu hangat. Dia menjadi koki dadakan karena ia tahu kondisi Uru sedang tidak baik. Uru sendiri sedang duduk melamun di ruang tamu. Tubuhnya sudah di ganti dengan baju tidur. Handuknya masih melingkar di lehernya. Rambutnya basah acak-acakan dan tatapannya benar2 kosong. Dia melamun kembali..

“jadi kau tinggal sendirian?” kata Aoi sambil menaruh makanan itu lewat napan dan di taruh di meja.

“iya, begini kehidupanku..orangtuaku sudah tidak ada..” kata Uru sedih sambil tersenyum.

“baiklah, aku mau menjagamu 24 jam. Yah asalkan aku boleh sering main kemari..” kata Aoi bercanda. Uru menatap Aoi yang duduk di sampingnya.

“apa Aoi di takdirkan pengganti Ruki? Tidak, Ruki dan Aoi beda..Ruki sahabatku, sedangkan Aoi sedang masa pendekatan denganku meskipun aku sendiri tidak tau apa aku suka apa tidak padanya..yang jelas Ruki tidak bisa di gantikan. Sekalipun sahabat baru yang bisa menjagaku 24 jam...” jelas Uru dalam hatinya. Dia kembali menghela nafas dan mengambil gelas susunya dan meminumnya.

“boleh..asal buatkan makanan untukku juga..” kata Uru dengan nada males menaruh kembali gelasnya. Aoi tersenyum lebar kemudian mengacak-acak rambut Uru dengan sayang. Uru terdiam, dia merasa ada yang aneh.

“aku mau tanya..” kata Uru.

“apa..”

“kenapa kau ingin dekat denganku?”

“hanya itu? simple saja jawabannya. Aku suka padamu..”

Wajah Uru memanas dan dia membuang wajahnya dengan cepat. Detak jantungnya juga berdegup cepat.

“tapi jangan kau tanyakan kenapa aku suka padamu..perasaan suka yang sebenarnya tidak bisa di jelaskan hanya dengan fisik,, namun memang dari perasaan yang di rasakan. Tulus dan lembut..”

“a-arigatou..” kata Uru malu2, membuat Aoi tersenyum manis.

**********************

Ruki menutup pintu apartemennya kemudian menuju kamarnya dengan wajah bahagia. Dia menuju meja belajarnya kemudian dia meraih bingkai foto dirinya dengan Uru ketika ultah tahun kemarin. Dia mencopot foto dari bingkai tersebut kemudian dia gantikan dengan fotonya dengan Reita tadi siang saat merayakan berduaan. Ruki menaruh kembali bingkai itu, sementara fotonya dengan Uru di simpan dalam selipan buku diary-nya...

Sementara itu Reita,

“iya, halo?” Reita menerima telpon dari seseorang.

“Rei, ini aku Kai..kau besok datang pagi2 ya! pengumuman pemeran utama drama akan di umumkan langsung saat masuk sekolah. Kita berkumpul di theater, jangan terlambat ya!” kata Kai.

“un, wakatta! Arigatou!” Reita menutup telponnya kemudian dia mencoba untuk membaringkan tubuhnya di atas kasurnya. Matanya memandang langit2, mengingat-ngingat kejadian hari ini. Dia tersenyum, lalu dia teringat sesuatu..

Dia membuka ponselnya. Di lihatnya kotak masuk pesan, semuanya dari Ruki. Namun terselip pesan dari Uru, jauh hari saat ia meminta antar membeli kado. Kemudian Reita langsung menghubunginya.

“halo..” Uru menjawabnya dengan suara paruh dan posisinya sedang tiduran di kasurnya.

“ha-halo, kok suaramu seperti orang sedang sakit?!” Reita panik sampai bangun dari tidurannya.

“un, daijyoubu.. aku hanya demam biasa..hehe..nanti juga akan baikan kok..” ujar Uru tersenyum lesuh.

“Ruki sudah tahu??” tanya Reita.

“belum, lagipula jangan di beritahu, aku tidak mau merepotkan dia..”

“tapi..”

“dia sedang bahagia denganmu, aku tidak mau dia mencemaskanku..biarkan dia bahagia..”

Reita terdiam begitu saja,

“kalau aku menengokmu, boleh kan?” kata Reita dengan sedih. Uru hanya berlinang mata..

**********************

Cklek!!

“shitsureishimasu...” Reita masuk ke dalam dan melihat Uru sedang duduk di atas kasur. Dia menoleh, dan tersenyum lesuh pada Reita. Cepat2 Reita menutup pintunya dan menghampiri Uru. Reita memegang kening Uru. Suhunya panas.

“siapa yang merawatmu??” tanya Reita khawatir

“aku hujan2an dan bertemu dengan Aoi. Dia mengantarkan aku pulang.. dan biasanya aku mengurus sendirian..” jelasnya.

“Aoi?” Reita sedikit bingung. Uru mengangguk pelan.

“lalu, kau sudah makan?”. Uru menggeleng kepalanya dengan lesuh kembali.

“aku buatkan ya!” dengan sigap Reita berbalik badan, namun Uru menahan tangan kiri Reita. Reita terdiam, dan menoleh ke belakang. Melihat Uru tertunduk.

“kenapa yang khawatir itu kau? Bukan Ruki yang selalu mencemaskan kesehatanku..” kata Uru menangis perlahan. Reita kembali menghadap Uru dan bersujud di depan Uru dengan perasaan bersalah.

“apa karena Ruki selalu bersamaku kau di lupakan dia?” kata Reita sedih. Uru terdiam meneteskan air mata.

“aku tidak punya kuasa menghalangi kebahagiaan seorang sahabat, tapi...aku sakit. Perlahan aku sudah kehilangan....” kata Uru menatap Reita. Dengan pelan, Reita memeluknya.

“aku hanya bisa berdoa dalam hari ini tepat dia ulang tahun, bahagiakan dia dan berikan kebahagiaan yang kekal..” dalam pelukan itu Uru menangis. Reita mengusap2 rambut Uru dengan tulus.

**********************

Beberapa hari kemudian, Uru masuk sekolah. Dia duduk tenang di bangkunya. Namun dia menemukan sebuah kotak kado di pitai ungu manis. Dia melirik kanan kiri lalu membukanya. Dia melihat isi kotaknya itu adalah kipas lipat. Dia ingat, kalau festival kali ini, murid2 berpasangan dan salah satunya harus memakai yukata cantik dan memegang kipas.

mau, kan jadi pasanganku di malam festival nanti?”

Surat yang berisikan itu membuat Uru deg-degan setengah mati. Dia jadi bingung sendiri dan menggaruk kepalanya dengan wajah bingung.

**********************

“tiba saatnya pengumuman! Yang menjadi peran utama adalah REITAAA!!”

Ruangan theater itu bersorak gemuruh ketika di sebut nama Reita. Aoi kalah 2 vote dari pemilihan pemeran utama drama. Reita hanya bisa tertawa-tawa dan bersorak dengan teman2nya. Tinggal Aoi yang manyun2 seperti anak kecil..

“sudahlah Aoi, peran itu memang pantas denganku..” kata Reita merangkul Aoi ketika sedang minum susu kotak di kafetaria duduk bersebelahan dengan Reita.

“seberuntung itukah? berpasangan dengan Kai yang manis..haduhhh, kalah saing macam seperti dirimu itu rasanya aku lompat dari lantai 9 tapi airnya kolamnya semata kaki!” kata Aoi sedikit kesal. Reita hanya tertawa terbahak-bahak mendengar ibarat menurut Aoi.

“sudah jangan marah2, nanti pangkatmu dari dewan murid jadi kakek2! Hahahaha!” Reita masih mengolok2nya. Aoi hanya bisa memandang lurus sambil memanyunkan bibirnya yang tebal itu.

“Reitaaa...” sosok manis bernama Kai itu melambaikan dari jauh. Reita langsung menoleh dan menepuk2 pundak Aoi kemudian meninggalkannya.

“latihan di studio saja ya, panggungnya sedang ada perbaikan sedikit..” ujar Reita tersenyum. Saat itu, Ruki yang hendak berlari menghampiri  Reita dengan wajah bahagia mendadak menjadi terdiam dan menghentikan langkahnya ketika melihat Reita berjalan berdampingan dengan Kai.

Ruki hanya bisa menghela nafas dan tidak lama kemudian dia melihat Uru berjalan sambil membaca buku lengkap dengan kacamata bingkainya.

“Ah, Uru..” kata Ruki menghampiri Uru. Sepintas Uru terdiam dan merasakan seseorang mendekatinya.

“lama tidak jumpa! Ku dengar beberapa hari yang lalu kau sakit ya?” kata Ruki mendadak cemas. Uru hanya tersenyum.

“aku sudah baikan kok! Tenang saja.. lagipula aku tidak mau merepotkanmu..” ujar Uru dengan kalem.

“gomen..” Ruki menunduk menyesal. Uru hanya mengacak rambutnya dengan sayang.

“aku mau masuk kelas dulu ya,, bye!” Uru mengacungkan buku yang ia baca. Kemudian dia menuju kelasnya dengan santai.

“ada apa dengan Uru? Dia tidak seperti biasanya kalem begitu.. biasanya dia akan menggodaku dengan umpan Reita..” kata Ruki pelan.

**********************

Berlanjut ke hari-hari berikutnya, seluruh pemain theater berlatih dengan giat, demi tampil maksimal di acara festival sekolah nanti. Aoi, Kai dan Reita yang berperan penting itu sangat menjiwai karakter yang mereka lakoni. Setiap pulang sekolah, Reita menyempatkan untuk mendatangi kelas Kai dan mengajak ke theater bersama. Mereka sudah sering berbarengan karena latihan theater itu. Ruki, sebagai kekasih Reita harus menerima pahit kalau kekasihnya harus selalu bersama dengan Kai. Ruki mengerti posisi Reita bagaimana. Untuk itu dia tidak terlalu cemburu karena Ruki sudah tahu resiko kekasihnya sebagai pemain theater..

Sepulang sekolah Ruki menunggu Reita di gerbang sekolah. Dia menunggu Reita untuk pulang bersama.. lewat sudah 20 menit dari yang d janjikan. Reita belum muncul juga. Ruki kembali membuka ponselnya dan melihat Reita belum kunjung balas pesannya. Kalau di ingat, setelah terpilihnya Reita jadi pemeran utama, pesannya jadi sering terlambat di balas. Jam janjian tidak selalu tepat waktu. Dan acara kencan di malam minggunya pun terkuras untuk latihan Reita. Ruki menghela nafasnya kenapa sekarang semua jadi perlahan berubah. Dia kembali menengok ke kanan-kiri melihat semua siswa sudah meninggalkan kelasnya.

Kemudian nada dering terdengar dan ia cepat2 mengangkatnya..

“iya Reita!” sahut Ruki senang.

“maaf, aku tidak bisa pulang bersama. Aku mau beli peralatan bersama Kai. Tadinya aku menyuruh Aoi tapi dia sedang sibuk menyiapkan design costume, yah terpaksa aku dan Kai yang turun tangan..” jelas Reita dalam ponselnya. Raut wajah yang senang kembali muram mendengar pernyataan itu.

“baiklah, kabari kalau kau sudah pulang ke apartemen..aku mencemaskanmu...” kata Ruki sedih.

“ok.”

Singkat telepon itu benar2 sulit di cerna Ruki. Dia juga jadi hanya bisa mengabari sesingkat mungkin yang harus Ruki pahami secara dadakan. Ruki menghela nafasnya, dan dia teringat Uru. Dia menghubungi ponselnya Uru. Mungkin saja Uru masih di kelasnya. Namun, 2 kali panggilan tidak ada jawabannya. Padahal Uru sendiri sedang ada di cafe pinggir kota langganannya, dia melihat jelas ponselnya bergetar di atas meja. Di mematikan nada deringnya tanpa harus mematikan tanda ‘end’ di ponselnya. Seakan-akan Uru membuat dirinya sedang sibuk dan tidak ingin di ganggu.

“aku tidak mau itu terulang kembali. Datang di saat membutuhkan saja..” ucapnya dalam hati sambil kembali meneguk teh hangat dan membaca komik kesukaannya.

**********************



No comments:

Post a Comment