Title :: Caffeine -苦い、甘い恋-
Author :: Ikki
Kamiya -Ruru-
Genre ::
rumit (?) *plak!
Chapter:: 2/?
**********************
Drrttt...drrtttt...
“pulang sekolah aku tunggu di parkiran motor
ya..”
Uru membaca
pesannya itu dan kembali tersenyum sendiri. Dia pun segera membereskan semua
buku pelajarannya ke dalam tasnya. Kemudian dia pergi keluar dengan langkah
santai.
Reita menunggu
sambil menyandar pada tiang. Dia mengotak-ngatik ponselnya sembari menunggu
kedatangan Uru. Kebetulan, semua murid2 sudah bubaran dan sekarang terlihat
sepi.
“maaf, lama..” kata
Uru sambil membungkukkan badannya ketika sampai. Reita menoleh ke pinggir. Dia
terkesima dengan Uru. Karena mereka baru pertama kalinya bertemu dan bertatapan
langsung.
Mereka saling
pandang dengan gugup. Entahlah yang jelas mereka berdua menjadi canggung.
Padahal mereka sebelumnya biasa saja.
“kita pergi
sekarang, takut hujan..pakai helm nya..” Reita menyerahkan helm putih pada Uru.
Kemudian Uru memakainya dan naik ke belakang motor Reita. Reita menjalankannya
pelan. Dan secara refleks, Uru memeluk perut Reita dengan pelan..
**********************
Jaraknya memang
jauh sekali. Sesampainya mereka pada sebuah toko di pinggir kota yang lumayan
ramai, mereka terdiam di depannya memandang takjub toko tersebut..
“sudah di renovasi
ya? aku jadi pangling..” ujar Uru.
“kita masuk..”
Kemudian mereka
masuk ke dalam. Berbagai macam scarf mereka temukan di semua sudut. Benar2
surganya scarf..
Uru mendatangi
sebuah rak dan melihat beberapa scarf bagus. Dia mencoba-cobanya dan dia
mencari yang Ruki dulu sukai.
“Uru, ini bagus
tidak?” kata Reita menggunakan scarf di lehernya dengan asal. Uru tertawa
kemudian dia menghampiri Reita.
“bukan begitu cara
pakainya, bagusnya begini..” Uru langsung melingkarkan tangannya ke belakang
leher Reita. Dia membuka ikatan scarf tersebut. Kemudian dia merapikan sedikit
dan kembali melingkarkan tangannya ke belakang leher Reita.
Reita merasa
seperti di peluk Uru. Rambutnya yang pirang itu aromanya tercium wangi dan
lembut. Reita hanya bisa terdiam..
“nah, kan bagus!
Seperti anak bayi yang mau makan sereal biskuit! Hahahaha!” Uru terbahak sangat
kenyang melihat dia menjahili Reita memakaikan scarf mirip anak kecil yang mau
makan.
“Ah, Uru dasar
jahat!” kata Reita sambil manyun. Dan sengajanya, Uru mengambil ponsel dan
mengabadikan Reita seperti itu.
“kyaaAa!! Aku
dapaatttt!! Lucuuuuu!!” Uru sangat girang. Reita hanya bisa bengong. Dirinya
merasa seperti anak kecil.
**********************
“terima kasih..”
Reita menerima scarf dalam bentuk kado dan di bungkus plastik hitam. Kemudian
dengan wajah senang, mereka tos tangan dan tertawa kecil.
“untungnya scarfnya
masih ada, pasti Ruki akan senang sekali..” ujar Uruha yang sedang berjalan
berdampingan dengan Reita di pinggir jalan usai dari toko tersebut. Reita yang
menenteng kantong plastik itu hanya bisa tersenyum-senyum bahagia. Reita melihat
sebuah toko mini yang menjual takoyaki dan makanan lainnya, dia berhenti
sejenak dan melihat toko itu tidak terlalu ramai.
“kau pasti lapar,
makan takoyaki ya.. aku traktir..” kata Reita tersenyum. Uru hanya diam
mengangguk. Kemudian dia menghampiri toko makanan tersebut dan segera
memesannya. Sambil menunggu matang, Uru merasa ada yang menetes di atas hidung
mancungnya. Dia mencoba untuk menyapukan air menetes itu dengan jari
telunjuknya. Dia melihat ke langit, di lihatnya sudah sangat gelap dan dia baru
menyadarinya karena terlalu asyik bersama Reita.
“ini takoyakinya..”
kata Reita memberikan satu wadah berisikan takoyaki. Kemudian Reita merasakan
ada yang menetes ke dahinya. Dia melihat ke arah langit. Dan hujan pun mulai
turun..
“gawat, hujan nich,
kita mau berteduh dimana?” kata Uru mulai panik. Lalu Reita segera mencari
tempat pinggiran.
“ikuti aku!” seru
Reita. Mereka berteduh di teras sebuah cafe. Hujan semakin membesar. Reita
bingung. Dia membawa dua benda, yang satu kado dan satu lagi satu wadah
takoyaki. Uru menyadarinya kemudian dia mengambil takoyaki dari tangan Reita.
“ah, maaf
merepotkan.. terima kasih..” kata Reita tidak enak hati.
“aku yang
merepotkan,hm..sebentar..” kata Uru sambil celingukan. Dia melihat ada sebuah
rumah kaca yang terkenal. Uru dengan tidak sengajanya menarik tangan Reita
untuk masuk ke dalam sana.
Benar2 fantastis!
Rumah kaca ini seperti tidak berdinding benar2 kaca yang sangat bening sekali. Uru
dan Reita duduk dan menatap langit2 rumah kaca tersebut. Ribuan air jatuh ke
atap rumah kaca tersebut dengan indah. Ini baru pertama kalinya mereka masuk ke
sini.
“indah sekali
tempat ini, dan tidak di pungut biaya.. kau lihat, kita seperti berada d suatu
tempat yang gelap hanya hanya di cahayai sebuah lampu. Hujan di luar sana
sangat keren menurutku!” kata Uru senang.
“i-iya...” Reita
hanya bisa tersenyum. Kemudian, perut Reita terdengar keroncongan membuat Uru
memandang Reita. Reita malu dan membuang wajahnya. Uru tersenyum, dia membuka
bungkus takoyaki dan tangannya satu lagi menepuk-nepuk pundak Reita. Reita
menoleh, dan saat itu Uru sudah menusuk bola takoyaki dengan tusukan dan
mengarahkan ke arah mulut Reita sambil mengangguk memberi isyarat agar
memakannya.
Dengan malu, Reita
kemudian melahapnya..
“gomen, aku
mengajakmu ke sini..” kata Uru sedih sambil tersenyum. Reita berhenti mengunyah
melihat wajah Uru.
“kenapa minta
maaf?” kata Reita.
“aku tidak punya hak
untuk mengajakmu kemanapun hari ini. Karena hari ini kau yang punya kuasa mau
kemanapun..” kira Uru.
“malah aku senang
bisa kemari. Tempat yang aku inginkan dari dulu. Dan baru tercapai sekarang.
Kata orang, jika sedang duduk di tempat ini, kau akan melihat sesuatu yang
tidak bisa kau temui setiap saat dan membuatmu bahagia tanpa di pungut
biaya..apalagi kalau duduk di saat matahari terbenam..itu akan sangat indah
sekali..” kata Reita.
“yah, aku memang
merasa bahagia di tempat ini. Hujan deras yang selalu ku caci maki ternyata
indah bila kita lihat dari sini. Rumah kaca ini benar2 tembus pandang. Namun
ribuan air itu jatuh tertahan sesuatu yang transparan membuat sangat indah
sekali...” tambah Uru. Keduanya kemudian tersenyum lama saling berpandangan.
“ah, kau makan juga
donk takoyakinya, masa aku saja..” kata Reita. Uru pun melahapnya dan dia
kembali menyuapi Reita dengan tidak canggung. Sebaliknya Reita juga menikmati
malam ini, hujan dan hangatnya takoyaki..
**********************
Beberapa hari
kemudian, Ruki datang ke sekolah dengan berjalan loncat2 riang mirip anak SD.
Dia masuk kelas dan duduk dengan wajah tersenyum2. Uruha saat itu melewati
kelas Ruki dan tidak sengaja melihat ke arah Ruki. Dia berhenti sejenak dan
mendatangi Ruki dengan bersahaja.
“ada apa pagi2
senyum tidak jelas begitu?” kata Uruha bingung sambil bertolak pinggang di
depan Ruki. Ruki hanya kembali tersenyum memandang Uru.
“hari ini umurku
bertambah~” kata Ruki kalem. Uru hanya diam terbingung.
“ah, istirahat
nanti datang ke taman belakang ya..” kata Uru lalu meninggalkan Ruki. Sekarang
giliran Ruki yang bingung dengan perkataan Uru tadi.
Sementara Reita
sedang menata sebuah kue di atas sebuah meja kecil yang ia persiapkan di sebuah
ruangan latihan drama. Dia kemudian menyalakan lilin. Dan tepatnya Ruki datang
membuka pintu itu. Reita melihat dan Ruki sepertinya terdiam mematung melihat
cahaya lilin itu. Ruki mendekati, dia melihat Reita tersenyum dengan bahagia..
“happy birthday..
my little angel...” ucap Reita dengan lembut. Ruki dan Reita berhadapan.
Kemudian, Reita kembali mendekati dan mencium hangat Ruki. Usai itu, Reita
berdiri ke pinggir dan mempersilahkan Ruki untuk ke depan meja kecil itu dan
membiarkannya untuk berdoa sejenak untuk di ulang tahunnya ini.
“tuhan, di usiaku
sekarang.. aku sudah punya Reita, kekasih dalam suka dan duka.. aku memohon
tidak banyak, berikan kesehatan padaku, berikan kesehatan pada Reita juga agar
dia bisa melindungiku setiap saat.. dan kumohon, semoga Reita yang pertama dan
yang terakhir untukku.. aku mencintainya dan ingin selalu bersamanya sampai
mati nanti..” Ruki menatap lilin kecil itu dan berdoa begitu. Genangan air mata
Reita tidak terpendam lagi. Dia menitikkan air matanya. Ruki meniup lilin itu.
Reita bertepuk tangan riang, kemudian dia menghampiri Ruki. Dan memeluk Ruki
dengan erat. Dalam pelukan itu Ruki juga menitikkan air mata bahagia. Reita pun
melepas pelukannya dan segera mengeluarkan scarf dan Ruki takjub Reita tahu
kesukaannya. Reita pun memasangkannya ke leher Ruki, dan mencium kening Ruki...
**********************
Jam istirahat
sekolah sudah lewat satu setengah jam
lalu. Uru, menyiapkan kado indah untuk Ruki. Dia juga menyiapkan kue ultah
Ruki-nya di taman belakang. Namun, saat dia melihat jam tangannya semuanya
sudah terlalu lama dan terlambat. Uru bingung mesti bagaimana, dan dia pun
terpikirkan untuk menghubungi Ruki..
“ruki..”
“iya?”
“kau tidak lupa,kan
dengan janjimu untuk datang ke taman belakang?”
“ah, iya! Tapi maaf
aku sedang berduaan dengan Reita, aku sedang tidak mau di ganggu..bagaimana
sepulang sekolah??”
“oh, begitu ya? ya
sudah tidak apa-apa lanjutkan saja acaramu dengan Reita..”
“ok!”
Tuuuttt
tuuuttttt....
Uru kembali
memandang kue strawbery yang dia letakkan di atas meja dekat pohon. Niatnya
ingin mengerjai Ruki di hari ulang tahunnya, dengan memakan kue yang ia benci
selama ini, dan mencoba mengoleskan pasta kuenya ke wajah Ruki dan
mengabadikannya dalam sebuah foto..
Namun semua itu
pudar...
Uru mendengar jelas
dia sedang dengan Reita berduaan dan tidak mau di ganggu. Air matanya mengalir
begitu saja. Langkahnya kemudian mendekati kue tersebut. Dia merapatkan kedua
tangannya untuk berdoa..
“tuhan, meski hari
ini aku tidak bisa merayakan bersama Ruki, aku memohon agar Ruki di beri
kebahagiaan selalu, di beri kesehatan sepanjang hari...” kata Uru mendoakan
sahabat tercintanya kemudian meniup lilinnya. Dia memotong kue itu dan
memakannya sendiri..
**********************
Sepulang sekolah
pun, Ruki bergandengan tangan mesra dengan Ruki. Uruha berhenti sejenak dari
tempatnya dan memandang Ruki yang berjalan jauh darinya. Uruha benar2 terdiam.
Ada apa dengan Ruki? Segampang itukah dia melupakan dirinya? Apa dia sudah
tidak di butuhkan lagi? Kenapa dia tidak ingin merayakan ultah bersama
sahabatnya sendiri??
“doushita?” Uruha
membendung air matanya.
“kau kenapa Uru?”
tanya Aoi dari belakang. Segera mungkin Uru menghapus airmatanya dan pergi
menghindari Aoi. Aoi hanya kebingungan.
Saat itu, sudah
mendung. Uruha berjalan di pinggir jalan sambil melamun. Dia tak merasakan rasa
sakit di tusuk ribuan air hujan dari langit. Dia membiarkan tubuhnya basah oleh
hujan, tidak peduli dengan sekelilingnya yang sibuk mencari tempat berlindung
dari hujan. Dia berjalan seakan sedang di padang pasir dengan tidak tahu arah
kemana..
“apa-apaan kau
ini?” Aoi langsung memayungi Uru dari samping membuat dirinya menengok dan
menyadari keberadaan Aoi.
“kenapa
hujan-hujanan? Kau tahu akibatnya, kan?” Aoi sedikit memarahi. Uru memandang
dalam Aoi. Dia seperti melihat Ruki yang sedang memarahinya jika hujan2an.
“kenapa kau?
Aoi...” kata Uru dengan suara paruh.
“dimana
apartemenmu? Ku antar pulang.” Kata Aoi langsung merangkul. Tangan kanannya
merangkul dan tangan kirinya memayungi mereka berdua dari hujan deras. Uru
hanya bisa berjalan dengan diam seribu bahasa..
**********************
Aoi sedang
menuangkan bubur ke dalam mangkuk dan menyiapkan segelas susu hangat. Dia
menjadi koki dadakan karena ia tahu kondisi Uru sedang tidak baik. Uru sendiri
sedang duduk melamun di ruang tamu. Tubuhnya sudah di ganti dengan baju tidur.
Handuknya masih melingkar di lehernya. Rambutnya basah acak-acakan dan
tatapannya benar2 kosong. Dia melamun kembali..
“jadi kau tinggal
sendirian?” kata Aoi sambil menaruh makanan itu lewat napan dan di taruh di
meja.
“iya, begini
kehidupanku..orangtuaku sudah tidak ada..” kata Uru sedih sambil tersenyum.
“baiklah, aku mau
menjagamu 24 jam. Yah asalkan aku boleh sering main kemari..” kata Aoi
bercanda. Uru menatap Aoi yang duduk di sampingnya.
“apa Aoi di
takdirkan pengganti Ruki? Tidak, Ruki dan Aoi beda..Ruki sahabatku, sedangkan
Aoi sedang masa pendekatan denganku meskipun aku sendiri tidak tau apa aku suka
apa tidak padanya..yang jelas Ruki tidak bisa di gantikan. Sekalipun sahabat
baru yang bisa menjagaku 24 jam...” jelas Uru dalam hatinya. Dia kembali
menghela nafas dan mengambil gelas susunya dan meminumnya.
“boleh..asal
buatkan makanan untukku juga..” kata Uru dengan nada males menaruh kembali
gelasnya. Aoi tersenyum lebar kemudian mengacak-acak rambut Uru dengan sayang.
Uru terdiam, dia merasa ada yang aneh.
“aku mau tanya..”
kata Uru.
“apa..”
“kenapa kau ingin
dekat denganku?”
“hanya itu? simple
saja jawabannya. Aku suka padamu..”
Wajah Uru memanas
dan dia membuang wajahnya dengan cepat. Detak jantungnya juga berdegup cepat.
“tapi jangan kau
tanyakan kenapa aku suka padamu..perasaan suka yang sebenarnya tidak bisa di
jelaskan hanya dengan fisik,, namun memang dari perasaan yang di rasakan. Tulus
dan lembut..”
“a-arigatou..” kata
Uru malu2, membuat Aoi tersenyum manis.
**********************
Ruki menutup pintu
apartemennya kemudian menuju kamarnya dengan wajah bahagia. Dia menuju meja
belajarnya kemudian dia meraih bingkai foto dirinya dengan Uru ketika ultah
tahun kemarin. Dia mencopot foto dari bingkai tersebut kemudian dia gantikan
dengan fotonya dengan Reita tadi siang saat merayakan berduaan. Ruki menaruh
kembali bingkai itu, sementara fotonya dengan Uru di simpan dalam selipan buku
diary-nya...
Sementara itu
Reita,
“iya, halo?” Reita
menerima telpon dari seseorang.
“Rei, ini aku
Kai..kau besok datang pagi2 ya! pengumuman pemeran utama drama akan di umumkan
langsung saat masuk sekolah. Kita berkumpul di theater, jangan terlambat ya!”
kata Kai.
“un, wakatta!
Arigatou!” Reita menutup telponnya kemudian dia mencoba untuk membaringkan
tubuhnya di atas kasurnya. Matanya memandang langit2, mengingat-ngingat
kejadian hari ini. Dia tersenyum, lalu dia teringat sesuatu..
Dia membuka
ponselnya. Di lihatnya kotak masuk pesan, semuanya dari Ruki. Namun terselip
pesan dari Uru, jauh hari saat ia meminta antar membeli kado. Kemudian Reita
langsung menghubunginya.
“halo..” Uru
menjawabnya dengan suara paruh dan posisinya sedang tiduran di kasurnya.
“ha-halo, kok
suaramu seperti orang sedang sakit?!” Reita panik sampai bangun dari
tidurannya.
“un, daijyoubu..
aku hanya demam biasa..hehe..nanti juga akan baikan kok..” ujar Uru tersenyum
lesuh.
“Ruki sudah tahu??”
tanya Reita.
“belum, lagipula
jangan di beritahu, aku tidak mau merepotkan dia..”
“tapi..”
“dia sedang bahagia
denganmu, aku tidak mau dia mencemaskanku..biarkan dia bahagia..”
Reita terdiam
begitu saja,
“kalau aku
menengokmu, boleh kan?” kata Reita dengan sedih. Uru hanya berlinang mata..
**********************
Cklek!!
“shitsureishimasu...”
Reita masuk ke dalam dan melihat Uru sedang duduk di atas kasur. Dia menoleh,
dan tersenyum lesuh pada Reita. Cepat2 Reita menutup pintunya dan menghampiri
Uru. Reita memegang kening Uru. Suhunya panas.
“siapa yang
merawatmu??” tanya Reita khawatir
“aku hujan2an dan
bertemu dengan Aoi. Dia mengantarkan aku pulang.. dan biasanya aku mengurus
sendirian..” jelasnya.
“Aoi?” Reita
sedikit bingung. Uru mengangguk pelan.
“lalu, kau sudah
makan?”. Uru menggeleng kepalanya dengan lesuh kembali.
“aku buatkan ya!”
dengan sigap Reita berbalik badan, namun Uru menahan tangan kiri Reita. Reita
terdiam, dan menoleh ke belakang. Melihat Uru tertunduk.
“kenapa yang khawatir
itu kau? Bukan Ruki yang selalu mencemaskan kesehatanku..” kata Uru menangis
perlahan. Reita kembali menghadap Uru dan bersujud di depan Uru dengan perasaan
bersalah.
“apa karena Ruki
selalu bersamaku kau di lupakan dia?” kata Reita sedih. Uru terdiam meneteskan
air mata.
“aku tidak punya
kuasa menghalangi kebahagiaan seorang sahabat, tapi...aku sakit. Perlahan aku
sudah kehilangan....” kata Uru menatap Reita. Dengan pelan, Reita memeluknya.
“aku hanya bisa
berdoa dalam hari ini tepat dia ulang tahun, bahagiakan dia dan berikan
kebahagiaan yang kekal..” dalam pelukan itu Uru menangis. Reita mengusap2
rambut Uru dengan tulus.
**********************
Beberapa hari
kemudian, Uru masuk sekolah. Dia duduk tenang di bangkunya. Namun dia menemukan
sebuah kotak kado di pitai ungu manis. Dia melirik kanan kiri lalu membukanya.
Dia melihat isi kotaknya itu adalah kipas lipat. Dia ingat, kalau festival kali
ini, murid2 berpasangan dan salah satunya harus memakai yukata cantik dan
memegang kipas.
“mau, kan jadi pasanganku di malam festival
nanti?”
Surat yang
berisikan itu membuat Uru deg-degan setengah mati. Dia jadi bingung sendiri dan
menggaruk kepalanya dengan wajah bingung.
**********************
“tiba saatnya
pengumuman! Yang menjadi peran utama adalah REITAAA!!”
Ruangan theater itu
bersorak gemuruh ketika di sebut nama Reita. Aoi kalah 2 vote dari pemilihan
pemeran utama drama. Reita hanya bisa tertawa-tawa dan bersorak dengan
teman2nya. Tinggal Aoi yang manyun2 seperti anak kecil..
“sudahlah Aoi,
peran itu memang pantas denganku..” kata Reita merangkul Aoi ketika sedang
minum susu kotak di kafetaria duduk bersebelahan dengan Reita.
“seberuntung
itukah? berpasangan dengan Kai yang manis..haduhhh, kalah saing macam seperti
dirimu itu rasanya aku lompat dari lantai 9 tapi airnya kolamnya semata kaki!”
kata Aoi sedikit kesal. Reita hanya tertawa terbahak-bahak mendengar ibarat
menurut Aoi.
“sudah jangan
marah2, nanti pangkatmu dari dewan murid jadi kakek2! Hahahaha!” Reita masih
mengolok2nya. Aoi hanya bisa memandang lurus sambil memanyunkan bibirnya yang
tebal itu.
“Reitaaa...” sosok
manis bernama Kai itu melambaikan dari jauh. Reita langsung menoleh dan
menepuk2 pundak Aoi kemudian meninggalkannya.
“latihan di studio
saja ya, panggungnya sedang ada perbaikan sedikit..” ujar Reita tersenyum. Saat
itu, Ruki yang hendak berlari menghampiri
Reita dengan wajah bahagia mendadak menjadi terdiam dan menghentikan
langkahnya ketika melihat Reita berjalan berdampingan dengan Kai.
Ruki hanya bisa menghela
nafas dan tidak lama kemudian dia melihat Uru berjalan sambil membaca buku
lengkap dengan kacamata bingkainya.
“Ah, Uru..” kata
Ruki menghampiri Uru. Sepintas Uru terdiam dan merasakan seseorang
mendekatinya.
“lama tidak jumpa!
Ku dengar beberapa hari yang lalu kau sakit ya?” kata Ruki mendadak cemas. Uru
hanya tersenyum.
“aku sudah baikan
kok! Tenang saja.. lagipula aku tidak mau merepotkanmu..” ujar Uru dengan
kalem.
“gomen..” Ruki
menunduk menyesal. Uru hanya mengacak rambutnya dengan sayang.
“aku mau masuk
kelas dulu ya,, bye!” Uru mengacungkan buku yang ia baca. Kemudian dia menuju
kelasnya dengan santai.
“ada apa dengan
Uru? Dia tidak seperti biasanya kalem begitu.. biasanya dia akan menggodaku
dengan umpan Reita..” kata Ruki pelan.
**********************
Berlanjut ke
hari-hari berikutnya, seluruh pemain theater berlatih dengan giat, demi tampil
maksimal di acara festival sekolah nanti. Aoi, Kai dan Reita yang berperan
penting itu sangat menjiwai karakter yang mereka lakoni. Setiap pulang sekolah,
Reita menyempatkan untuk mendatangi kelas Kai dan mengajak ke theater bersama.
Mereka sudah sering berbarengan karena latihan theater itu. Ruki, sebagai
kekasih Reita harus menerima pahit kalau kekasihnya harus selalu bersama dengan
Kai. Ruki mengerti posisi Reita bagaimana. Untuk itu dia tidak terlalu cemburu
karena Ruki sudah tahu resiko kekasihnya sebagai pemain theater..
Sepulang sekolah
Ruki menunggu Reita di gerbang sekolah. Dia menunggu Reita untuk pulang
bersama.. lewat sudah 20 menit dari yang d janjikan. Reita belum muncul juga.
Ruki kembali membuka ponselnya dan melihat Reita belum kunjung balas pesannya.
Kalau di ingat, setelah terpilihnya Reita jadi pemeran utama, pesannya jadi
sering terlambat di balas. Jam janjian tidak selalu tepat waktu. Dan acara
kencan di malam minggunya pun terkuras untuk latihan Reita. Ruki menghela
nafasnya kenapa sekarang semua jadi perlahan berubah. Dia kembali menengok ke
kanan-kiri melihat semua siswa sudah meninggalkan kelasnya.
Kemudian nada
dering terdengar dan ia cepat2 mengangkatnya..
“iya Reita!” sahut
Ruki senang.
“maaf, aku tidak
bisa pulang bersama. Aku mau beli peralatan bersama Kai. Tadinya aku menyuruh
Aoi tapi dia sedang sibuk menyiapkan design costume, yah terpaksa aku dan Kai
yang turun tangan..” jelas Reita dalam ponselnya. Raut wajah yang senang
kembali muram mendengar pernyataan itu.
“baiklah, kabari
kalau kau sudah pulang ke apartemen..aku mencemaskanmu...” kata Ruki sedih.
“ok.”
Singkat telepon itu
benar2 sulit di cerna Ruki. Dia juga jadi hanya bisa mengabari sesingkat
mungkin yang harus Ruki pahami secara dadakan. Ruki menghela nafasnya, dan dia
teringat Uru. Dia menghubungi ponselnya Uru. Mungkin saja Uru masih di
kelasnya. Namun, 2 kali panggilan tidak ada jawabannya. Padahal Uru sendiri
sedang ada di cafe pinggir kota langganannya, dia melihat jelas ponselnya
bergetar di atas meja. Di mematikan nada deringnya tanpa harus mematikan tanda
‘end’ di ponselnya. Seakan-akan Uru membuat dirinya sedang sibuk dan tidak
ingin di ganggu.
“aku tidak mau itu
terulang kembali. Datang di saat membutuhkan saja..” ucapnya dalam hati sambil
kembali meneguk teh hangat dan membaca komik kesukaannya.
**********************
No comments:
Post a Comment